Kelebihan Analisis Regresi Logistik (skripsi dan tesis)

Kuncoro (2001) mengatakan bahwa regresi logistik memiliki beberapa kelebihan dibandingkan teknik analisis lain yaitu: 1. Regresi logistik tidak memiliki asumsi normalitas dan heteroskedastisitas atas variabel bebas yang digunakan dalam model sehingga tidak diperlukan uji asumsi klasik walaupun variabel independen berjumlah lebih dari satu. 2. Variabel independen dalam regresi logistik bisa campuran dari variabel kontinu, distrik, dan dikotomis. 3. Regresi logistik tidak membutuhkan keterbatasan dari variabel independennya. 4. Regresi logistik tidak mengharuskan variabel bebasnya dalam bentuk interval.

Pengamatan (Observasi) (skripsi dan tesis)

Pengamatan (observasi) adalah suatu proses yang kompleks yang
tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis, dua diantaranya
yang terpenting adalah proses – proses pengamatan dan ingatan.62 Atau
alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan
mencatat secara sistematik gejala – gejala yang diteliti.63
Observasi merupakan pengamatan yang didasari oleh kegiatankegiatan pemilihan, pengubahan, pencatatan, dan pengkodean terhadap
serangkaian perilaku dan suasana yang berkenaan dengan organisme
(naturalistik), sesuai dengan tujuan-tujuan empiris. Pengamatan untuk
memperoleh data dalam penelitian memerlukan ketelitian untuk
mendengarkan dan perhatian yang hati-hati dan terperinci pada apa yang
dilihat.64 Dengan menggunakan teknik pengumpulan data ini diharapkan
nantinya akan diperoleh data yang lengkap, tajam, dan sampai mengetahui
pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak. Dalam penelitian ini
nantinya peneliti akan melihat kegiatan yang ada didalamnya untuk
mendapat data yang selengkap-lengkapnya dan data yang dihimpun dapat
terjaga kevalidannya

Desain MMR (skripsi dan tesis)

Dalam bagian ini akan diberikan tiga desain MMR yang hemat penulis
rancangan tersebut sangat terbuka untuk diaplikasikan dalam konteks
olahraga serta tidak sukar menggunakannya. Ketiga desain tersebut akan
penulis ambil dari karya Steckler at al., (1992), Tashakkori & Teddlie
(2010), Creswell (1999; 2010), Morse (2010) serta Creswell at al (2010).
Di samping itu, penulis juga akan berusaha untuk memberikan contoh
aplikasi setiap desain yang diberikan dalam konteks olahraga.
Desain I: Mengembangkan Instrumen kuantitatif
Rancangan pertama yang diberikan di sini adalah sebuah desain
yang digunakan dengan tujuan untuk mengembangkan instrumen
penelitian kuantitatif. Steckler at al., (1992: 5) menyebut model
pertamanya dengan “qualitative methods are used to help develop
quantitative measures and instruments”. Tidak berbeda, Creswell (1999:
463) menyebut modelnya dengan “instrument-building model”.
Dengan menggunakan desain di atas maka terdapat dua tahap
penelitian. Pada tahap pertama, metode kualitatif diarahkan untuk
mendapatkan konstruk-konstruk aitem pertanyaan atau pernyataan yang
nantinya menjadi dasar dalam pengembangan instrumen penelitian.
Dalam tahap inipeneliti menggunakan teknik wawancara mendalampada
responden. Wawancara tersebut ditujukan untuk mengungkap
karakteristik kepribadian dan/atau fenomena yang menjadi cikal bakal
penyusunaninstrumen kuantitatif.
Setelah hasil dari tahap pertama didapat maka penelitian
dilanjutkanke tahap kedua, yaitumemanfaatkan metode kuantitatif. Dalam
tahap kedua tersebut peneliti akan melakukan pengujian validitas dan
reliabilitas instrumen pada subjek yang luas. Creswell at al (2010)
menyarankan untuk melakukan pengujian pada 500 individu. Meskipun
sudah divisualisasikan seperti di atas, hal ini dianggap kurang begitu
membantu dalam memahami desain tersebut. Dibutuhkan penjelasan
lebih lanjut berkaitan dengan prosedur rancangan di atas

Desain II: Kualitatif sebagai komplementar dari kuantitatif
Desain yang kedua digunakan ketika peneliti menghendaki agar
metode kualitatif dimanfaatkan untuk membantu memberikan penjelasan
dalam penemuan metode kuantitatif. Oleh Morse (2010) rancangan
demikian dinotasikan dengan . Tanda anak panah
menunjukan penelitian dilakukan secara berurutan (sequential) sedangkan
huruf besar (KUAN yang akronim dari kuantitatif) mengindikasikan
prioritas atau bobot yang lebih dominan. Tashakkori & Teddlie (2010)
membuat notasi dominan-kurang dominan yang berurutan (sequential)
sebagai berikut KUAN/KUAL

Rancangan di atas (Mores, 2010; Tashakkori & Teddlie, 2010;
Steckler at al., 1992; Creswell, 1999; 2010; dan Creswell at al., 2010)
menjadidesain yang cukup populer dalam penelitian MMR dan acapkali
digunakan oleh para peneliti yang lebih condong pada proses kuantitatif.
Menurut Tashakkori & Teddlie (2010) desain ini terkenal di kalangan
mahasiswa tingkat sarjana dan peneliti pemula yang ingin menggunakan
dua pendekatan dalam pekerjaan mereka tetapi tidak ingin mendapatkan
banyak kesulitan ketika menggunakan dua pendekatan secara bersama.
Creswell (2012: 542) menjelaskan “this design…perhaps the most popular
form of mixed methods design in educational research”
Dalam rancangan di atas penelitian pertama dilakukan dengan
metode kuantitatif dan kemudian dilanjutkan menggunakan metode
kualitatif. Oleh karena itu, Creswell (2010; 2012) dan Creswell at al., 2010)
menyebut rancangan tersebut sebagai desain dua tahap. Desain dua
tahap merupakan yang paling sederhana dari desain MMR berurutan
(Tashakkori & Teddlie, 2010). Rancangan bertahap merupakan prosedur
penelitian di mana peneliti berusaha menggabungkan atau memperluas
penemuan yang diperoleh dari satu metode dengan penemuan dari
metode yang lain (Creswell, 2010).
Prosedur yang digunakan oleh peneliti dalam rancangan ini adalah
mengumpulkan data dan menganalisisnya menggunakan metode
kuantitatif kemudian diikuti oleh pengumpulan data serta analisis
datasecara kualitatif yang dibangun berdasarkan temuan awal (kuantitatif).
Bobot atau prioritas lebih diberikan pada data kuantitatif (Creswell at al,
2012). Meskipun demikian dua jenis data ini tidak terpisah dan tetap
berhubungan (Creswell, 2010).
Contoh penerapan desain tersebut dapat dilihat dalam
penelitiannya Maksum (2010) yang menyelidiki akar masalah dan pola
kekerasan suporter sepakbola Surabaya atau yang dikenal dengan
Bonek. Dalam tahap pertama peneliti menggunakan metode survei untuk
mendapat data tentang status sosial ekonomi para suporter, yang
mencakup tingkat pendidikan, status pekerjaan, jenis pekerjaan, tingkat
pendapatan dan kondisi orangtua. Mengingat menggunakan metode
kuantitatif maka subjek yang diselidiki jumlahnya cukup besar, yaitu 500
suporter yang diambil secara acak ketika menyaksikan persebaya
bertanding di kandang. Pengumpulan data dalam tahap tersebut dilakukan
menggunakan angket.
Setelah penelitian tahap pertama selesai dilakukan maka
dilanjutkanstudi tahap kedua dengan metode kualitatif. Tujuan dalam
penelitian tahap kedua ini adalah untuk mengungkap karakteristik dasar
dari kerusuhan suporter, faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya
kerusuhan dan pola terjadinya kerusuhan suporter. Ada dua fase dalam
metode kualitatif yang digunakan, yaitu preliminary study dan field study.
Observasi lapangan serta Focus Group Discussion (FGD) menjadi pilihan
strategi untuk mengumpulkan data bertalian dengan tindak kerusuhan
suporter sepakbola.
Pada kesempatan ini penulis akan mencoba menganalisis prosedur
penelitian di atas. Dalam desain penelitiannya, Maksum (2010)
menyatakan bahwa peneliti menggunakan sequential explanatory design
dari Creswell (2003) yang bersifat dominan-kurang dominan, yaitu
menempatkan metode kualitatif lebih menonjol dibanding kuantitatif.
Prosedur tersebut akan sedikit berbeda dari tujuan awal pengembangan
sequential explanatory design dari Creswell (2010). Ilmuan yang
mengembangkan model tersebut menyatakan bahwa dalam sequential
explanatory design tersebut prioritas lazimnya diberikan pada data
kuantitatif (Creswell, 2010; Creswell at al, 2010). Namun, penelitian
Maksum (2010) melakukan sebaliknya, yaitu memberikan bobot dan
prioritas pada kualitatif. Apa yang dilakukan oleh Maksum (2010) dalam
penelitiannya patut diapresiasi karena ia melakuan perubahan bobot atau
prioritas untuk dapat menjawab secara mendalam masalah yang ada di
lapangan.
Desain III: Kuantitatif sebagai komplementar kualitatif
Desain tersebut merupakan kebalikan dari desain sebelumnya
(desain II). Desain III digunakan ketika peneliti menghendaki agar metode
kuantitatif dimanfaatkan untuk menguji secara luas penemuan yang
dihasilkan dari metode kualitatif. Morse (2010) memberikan notasi seperti
berikut . Penjelasan tanda anak panah dan huruf besar atau
kecil sama seperti pada desain sebelumnya. Tashakkori & Teddlie (2010)
membuat notasi dominan-kurang dominan yang berurutan (sequential)
sebagai berikut KUAL/KUAN. Steckler at al., (1992: 5) mengajukan model
3 yang ia sebut dengan “quantitative methods are used to embellish a
primarily qualitative study”
Rancangan yang lebih lengkap diberikan oleh Creswell (1999;
2010) dan Creswell at al (2010). Pakar mixed methods tersebut menyebut
rancangannya dengan istilah sequential exploratory design
Berbeda dengan sequential explanatory design yang lebih tepat
untuk menjelaskan dan menginterpretasikan hubungan, fokus utama
sequential exploratory design adalah untuk mengeksplorasi fenomena
(Creswell, 2010; Creswell at al, 2010). Meski begitu, desain di atas juga
melalui dua tahap penelitian, yang prioritas atau bobot lebih besar
diberikan pada kualitatif.Itu sebabnya data kuantitatif dimanfaatkan untuk
membantu dalam menginterpretasikan temuan-temuan kualitatifdalam
tahap pertama.
Rancangan ini lebih bermanfaat ketika seorang peneliti tidak hanya
ingin mengeksplorasi sebuah fenomena namun juga ingin memperluas
temuan-temuan kualitatifnya. Morgan (1998) menyatakan rancangan ini
cocok digunakan ketika menguji elemen-elemen sebuah teori baru yang
muncul dari tahap kualitatif dan bahwa desain ini juga dapat digunakan
untuk mengeneralisasikan temuan kualitatif pada sampel-sampel yang
lebih luas serta berbeda. Creswell (1999) dan Creswell at al (2010)
menjelaskan bahwa sequential exploratory design sering kali dibahas
sebagai desain yang digunakan ketika peneliti membuat dan menguji
instrumen.
Menganalisis prosedur penelitian Maksum (2007) di bagian
sebelumnya serta mempertimbangkan pendapat Morgan (1998), Creswell
(1999) dan Creswell at al (2010) maka apa yang dilakukan oleh pakar
psikologi olahraga tersebut sejatinya adalah aplikasi dari sequential
exploratory design. Meskipun secara eksplisit, jika membaca artikelnya,
iatidak menuliskan mengunakan rancangan sequential exploratory dalam
penelitiannya namun prosedur yang ia gunakan sesuai dengan desain
tersebut.

Tujuan Penggunaan Desain Mix Method Research (skrispi dan tesis)

Terkait dengan pertanyaan di atas, Creswell (2010) menjelaskan
MMR akan berguna ketika metode kuantitatif atau kualitatif secara sendirisendiri kurang mumpuni untuk memahami permasalahan penelitian.
Sebaliknya, di sisi yang lain, penggunaan MMR diyakini dapat
memperoleh pemahaman yang lebih baik dibanding dengan hanya
menggunakan metode tunggal.
Bila mencermati sejarahnya maka tampak bahwa MMR
dikembangkan dengan semangat untuk mendapatkan hasil penelitian
yang lebih memuaskan dibandingkan dengan hanya menggunakan
metode tunggal. Malina (2010: 6) menyatakan “mixed methods research
employ both approaches iteratively or simultaneously to creat a research
outcome stronger than either method individually”. Oleh kerena itu,
penelitian ini secara keseluruhan lebih powerful daripada metode tunggal
(Creswell, 2010).
Creswell (2012: 535) memberikan petunjuk yang mencerahkan
bahwa “You conduct a mixed methodss study when you have both
quantitative and qualitative data and both types of data, together, provide
a better understanding of your research problem than either type by itself.
Mixed methodss research is a good design to use if you seek to build on
the strengths of both quantitative and qualitative data….You also conduct
a mixed methodss study when one type of research (qualitative or
quantitative) is not enough to address the research problem or answer the
research questions”.

Kelebihan Dan Kelemahan Mixed Methods (skripsi dan tesis)

Seperti halnya metode kuantiatif serta kualitatif yang memiliki
kelebihan disatu sisi dan kekurangan di sisi yang lain, MMRpun demikian.
Dengan kesadaran seperti ini maka peneliti dapat mempertimbangkan
saran dari Jones (1997) yang menyatakan bahwa ketika
mengkombinasikan metode maka kita ambil kelebihan atau kekuatan yang
terdapat dalam setiap metode. Pertanyaannya kemudian, apakah
kelebihan dari MMR?
Menurut Teddlie & Tashakkori (2010) MMR memiliki kelebihan
antara lain (1) sanggup menjawab pertanyaan yang tidak mampu dijawab
oleh metodologi yang lain, (2) memberikan proses pengambilan simpulan
yang lebih baik atau akurat, (3) memberikan peluang untuk menyajikan
beragam pandangan yang komprehensif. Tidak berbeda jauh Putra (2017)
menyebutkan bahwa beberapa kelebihan MMR antara lain (1)
dimungkinkan mengajukan pertanyaan penelitian yang kompleks, (2)
didapat data yang lebih kaya dan komprehensif, (3) hasil penelitian akan
memliki kredibilitas yang tinggi karena adanya triangulasi.
Meskipun memiliki banyak kelebihan dibanding penggunaan
metode tunggal, Putra (2017) menyatakan bahwa penggunaan MMR juga
memiliki kelemahan. Terkait dengan itu, Morse (2010) memberikan
catatan yang membantu kita. Menurutnya, pada sisi lain, kekuatan
komprehensivitas penggunaan MMR juga dapat dipandang sebagai
kelemahan. Dalam praktiknya peneliti dapat kurang ketat menerapkan
prosedur-prosedur yang ada sehingga data yang diperolehnya menjadi
dipertanyakan.
Penulis yang menganalisis penggunaan MMR menemukan bahwa
terdapat tiga kelemahaan dalam metode tersebut, antara lain (1)
dibutuhkan pengetahuan prasayarat yang baik dan mendalam terkait
dengan metode kuantitatif serta kualitatif karena keduanya digunakan
dalam satu penelitian, (2) diperlukan pengambilan banyak data dalam
penelitiannya, (3) menghabiskan banyak waktu dan tenaga dalam proses
penelitiannya. Morse (2010) mengingatkan bahwa menggunakan MMR
menimbulkan ancaman serius terhadap validitas penelitian karena asumsiasumsi dasar dari kedua metode rawan dilanggar ketika memadukan atau mengkombinasikannya

Prinsip Rancangan MMR (skripsi dan tesis)

Ilmuwan berpengaruh, Morse (2010), mengeluarkan empat prinsip
dalam MMR. Namun dalam bagian ini, penulis hanya memberikan dua
prinsip yang kemudian penulis kaitkan dengan konteks olahraga. Pertama,
mengenali arah teoretis proyek penelitian. Semua proyek penelitian
memiliki tujuan akhir berupa penemuan ataupun pengujian. Cara utama
yang ditempuh peneliti dalam mengkaji secara tuntas tema penelitian di
sebut dengan arah teoretis. Arah teoretis tersebut dapat berciri induktif
(untuk tujuan penemuan) atau deduktif (untuk tujuan pengujian).

Arah teoretis induktif adalah ketika peneliti bekerja dengan tujuan
untuk menemukan jawaban, misalnya, Kenapa pelatih yang satu lebih
sukses dibanding dengan pelatih yang lain? Apakah yang membuat
seorang atlet lebih berprestasi dibanding dengan atlet lainnya? Faktor apa
yang menyebabkan itu terjadi? Seluruh arah induktif tidak berubahah
meskipun terdapat bagian-bagian kecil dalam penelitian yang berusaha
untuk melakukan konfirmatoris seperti dalam arah deduktif.
Jikalau semangat utama penelitiannya adalah untuk menguji suatu
teori atau hipotesis, untuk menjawab seberapa besar, untuk menentukan
hubungan dan tujuan sejenis lainnya maka arah teoretisnya berciri
deduktif. Pertanyaan yang biasa diajukan dengan arah teoretis seperti ini
antara lain: Apakah ada perbedaan kemampuan motorik antara anak yang
tinggal di daerah pesisir dengan di gunung? Apakah terdapat hubungan
antara gaya kepemimpinan pelatih dengan disiplin atlet? Sekali lagi,
meskipun arah utama teoretisnya adalah berciri deduktif namun dalam
penelitianya, seorang peneliti dapat memasukkan arah induktif untuk
mendapat pemahaman yang lebih komprehensif. Misalnya, bertalian
dengan budaya hidup masyarakat, kebiasaan masyarakat dalam
beraktivitas fisik, dan konstruk-konstruk lain yang relevan.
Kedua, menyadari akan dominasi yang ada dalam proyek
penelitian. Dalam rancangan mixed methods kita akan menemui istilah
dominan (dominant) seperti yang digunakan Morse (2010) serta
Tashakkori & Teddlie (2010) atau prioritas (priority) dari Morgan (1998)
yang menunjukkan tentang kadar atau bobot dalam desain penelitian.
Kesadaran akan bobot tersebut menjadi penting agar proyek penelitian
dapat berjalan dengan lancar dan tidak menimbulkan kerancuan dalam
praktiknya.
Morse (2010), Creswell (2010; 2012), dan Creswell at al (2010)
memberikan notasi huruf besar dan kecil untuk menunjukkan metode
mana yang lebih dominan atau yang memiliki bobot (weighting) lebih
tinggi. Ketika peneliti menggunakan metode kualitatif lebih dominan
sedangkan kuantitatif sebagai suplementer maka peneliti dapat
memberikan notasi KUAL + kuan atau . Sebaliknya, ketika
metode kuantitatif lebih dominan dibanding dengan kualitatif maka kita
dapat memberikan notasi KUAN + kual atau .

Mixed Methods Research (MMR) (skripsi dan tesis)

Mixed Methods Research (MMR) yang berlandaskan paradigma
pragmatism mempunyai penyebutan istilah yang sangat beragam.
Banyaknya istilah yang diberikan oleh pakar membuktikan bahwa metode
tersebut mengalami perkembangan. Putra (2017) yang menganalisis dan
mensintesiskan penggunaan istilah metode ini menemukan delapan istilah
berbeda yang digunakan oleh ilmuwan. Misalnya, mixing methods, mixed
methods research or called mixed research, blending quantitativequalitative, multimethods, convergence, integrated, andcombined.
Meskipun sangat beragam namun MMR dipandang lebih umum
digunakan oleh peneliti. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh
Collins, Onwuegbuzie, and Jiao (dalam Johnson, Onwuegbuzie & Turner,
2007: 118) yang menyelidiki 496 artikel dari lintas disiplin ilmu dan
menemukan bahwa “Mixed methods research has become the most
popular term used to describe this movement”.Dengan dasar itu maka
istilah yang digunakan dalam artikel ini adalah Mixed Methods Research
(MMR). Pertanyaannya sekarang, apakah yang dimaksud dengan MMR?
Brannen (2005: 4) menyatakan “mixed methods research means
adopting a research strategy employing more than one type of research
methods.” Pakar yang lain, Creswell (2010) menyebutkan MMR
merupakan pendekatan yang mengkombinasikan atau mengasosiasikan
bentuk kualitatif dan bentuk kuantitatif. Johnson (2014: 1) memberikan
definisi yang komprehensif bahwa “Mixed methods research (also mixed
research or mixed methodology) is the type of research in which a
researcher or team of researchers mixies or combines qualitative and
quantitative research, philosphie/paradigms, methodologies, methods,
techniques, approaches, concepts or language into a single research
study”. Johnson, Onwuegbuzie & Turner (2007: 129) dalam tulisannya
yang mengupas tentang definisi MMRsampai pada simpulan “mixed
methods research is an intellectual and practical synthesis based on
qualitative and quantitative research”.
Putra (2017) yang menganalisis dari karakteristik MMR
mendefinisikannya sebagai penerapan dua metode (kuantitatif dan
kualitatif) dalam satu penelitian yang dilakukan secara berurutan maupun
bersamaan dengan tujuan untuk memahami lebih mendalam tentang
fenomena yang dikaji. Dalam artikel ini penulis akan merevisi definisi
sebelumnya dan mengaitkannya dengan konteks olahraga. MMR dalam
tulisan ini dipahami sebagai pengabungan dua metode (kuantitatif dan
kualitatif) dalam satu proses penelitian yang dilakukan secara berurutan
atau bersamaan dengan tujuan untuk memahami lebih komprehensif serta
mendalam tentang fenomena keolahragaan yang dikaji

Sifat dan Definisi Penelitian Kualitatif (skripsi dan tesis)

Bagi beberapa peneliti, penelitian kualitatif terkadang sulit didefinisikan. Argumentasi yang paling banyak digunakan adalah bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang tidak memanfaatkan angka-angka, berlawanan dengan penelitian kuantitatif. Pendapat ini tidak dapat disalahkan mengingat datadata yang diperoleh dalam penelitian kualitatif lebih bersifat kata-kata atau informasi. Namun demikian, penelitian kualitatif dapat diidentifikasi dan dipahami dengan melihat cakupan atau feature yang terdapat pada penelitian kualitatif.
Flick (2007) berpendapat bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang diperuntukkan untuk memahami, menguraikan, dan bahkan menjelaskan fenomena sosial yang ada dengan cara-cara sebagai berikut:
 Dengan menganalisis pengalaman dari individu-individu atau kelompok (misalnya masyarakat). Pengalaman ini dapat berkaitan dengan sejarah hidup seseorang, pengetahuannya ataupun cerita yang berkaitan dengan hidupnya.
 Dengan menganalisis interaksi dan komunikasi setiap individu atau kelompok.
 Dengan menganalisis dokumendokumen (misalnya teks, gambar, film atau musik).
Penelitian kualitatif mencoba menguraikan realita ataupun fenomena yang ada di masyarakat dari sudut pandang informan atau orang yang berpartisipasi dalam penelitian tersebut (Baez, 2002; Flick, Kardorffdan Steinke, 2004; Maykut dan Morehouse, 1994). Realita atau fenomena tersebut dapat dipahami melalui pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara (termasuk wawancara mendalam), observasi (termasuk participant observation, diskusi kelompok terfokus dan analisis dokumen (Belsky, 2004; Snape dan Spencer, 2003).
Sesungguhnya, realitas sosial yang ada di masyarakat memiliki makna sehingga penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami apa yang terjadi baik dilihat dari prosesnya maupun pola-pola makna yang terjadi di masyarakat. “The way in which people being studied understand and interpret their social reality is one of the central motifs of qualitative research” (Bryman, 1998:8). Cara peneliti memahami dan menginterpretasi realitas sosial masyarakat, komunitas atau orang merupakan tujuan utama dari penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif senantiasa melihat realitas sosial dalam konteks apa yang terjadi dan mengapa sesuatu terjadi di masyarakat. Selanjutnya, penelitian kualitatif memberikan solusi, pendekatan ataupun strategi yang dapat ditempuh berdasarkan fenomena yang sedang dipelajari atau diteliti.
Denzin dan Lincoln (2003:3) memberikan defenisi penelitian kualitatif sebagai berikut: “Qualitative research is a situated activity that locates the observer in the world. It consists of a set of interpretive, material practices that makes the world visible. These practices… turn into a series of representation including fieldnotes, interviews, conversations, photographs, recordings and memos to the self. At this level, qualitative research involves an interpretive naturalistic approach to the world. This means that qualitative researchers study things in their nautral settings, attempting to make sense of, or to interpret, phenomena in terms of the meanings people bring to them”. Menurut Denzin dan Lincoln, penelitian kualitatif menempatkan peneliti atau pengamat suatu fenomena sebagai bagian yang tak terpisahkan dari fenomena tersebut. Penelitian kualitatif terdiri dari perangkat atau rangkaian kegiatan yang bersifat interpretatif yang membuat apa yang ada di dunia ini menjadi nampak. Rangkaian kegiatan tersebut dapat terdiri dari catatan lapangan, wawancara, percakapan, fotografi, rekaman, dan catatan pribadi (memo). Mengingat penelitian kualitatif menerapkan pendekatan interpretasi data, maka peneliti kualitatif akan mengkaji suatu realita ataupun fenomena dalam konteks alami, memberikan makna atau menginterpretasi suatu data berdasarkan makna dari suatu studi.

Penyelidikan dan Penetapan dalam Wawancara (skripsi dan tesis)

Ketika melakukan wawancara peneliti bisa menggunakan pertanyaan prompts atau probing. Dengan menggunakan itu dapat mmengurangi kecemasan dari pihak peneliti maupun partisipan. Probes bertujuan untuk penelusuran untuk menguraikan arti maupun alasan. Seidman (1991 dalam Holloway & Wheeler, 1996) lebih suka dengan istilah menjelajahi dari pada istilah probe/ menyelidiki sebab menekankan posisi kemampuan pewawancara dan merupakan nama untuk instrumen yang dipakai dalam investigasi medis. Mungkin untuk pertanyaan eksplorasi bisa digunakan, seperti apa pengelaman anda yang menyenangkan? Bagaimanakah perasaan anda mengenai hal tersebut? Bisakah anda bercerita lebih rinci lagi tentang hal itu? Menarik sekali, kenapa anda melakukan itu?.
Pewawancara bisa melakukan tindak lanjut poin tertentu atau dengan kata-kata tertentu yang diungkapkan oleh partisipan. Partisipan menjadi lancar jika dimintai untuk menceritakan mmengenai sebuah kisah, merekonstruksi pengalaman yang mreka alami, speerti hari, perasaan, atau insiden mreka mengenai sebuah penyakit.
Mungkin Prompt non-verbal lebih bermanfaat. Dari cara berdiri peneliti, condeng kedepan, kontak mata akan mendorong refleksi. Sebetulnya ketrampilan yang didapat dalam konseling yang dipunyai seorang perawat akan memudahkan dalam melaksanakan hal ini.
Penggunaan prompt atau probe yaitu supaya wawancara dapat berjalan dengan lancar dan bisa memberikan rasa yang nyaman baik dari peneliti maupun dari partisipan tanpa keluar dari tujuan awal penelitian. Hal ini tak lepas dari kemampuan yang dimiliki pewawancara sendiri.
(Byrne, 2001) Sebagai pewawancara yang baik harus memiliki keterampilan komunikasi yang baik dan mumpuni. Keterampilan yang dimiliki meliputi keterampilan menyusun kata (paraphrasing), mmendengarkan, probing dan juga meringkas.

Jenis Pertanyaan Dalam Wawancara dan Hal yang Terkait (skripsi dan tesis)

pewawancara pada saat menanyakan sebuah pertanyaan, memakai bermacam teknik komunikasi dan cara bertanya. Seperti inilah daftar jenis pertanyaan yang telah dibuat Patton (1990 dalam Holloway & Wheeler, 1996): Pertanyaan pengalaman (“Bisakah anda menceritakan mengenai pengalaman anda merawat pasien?”), pertanyaan perasaan (“Bagaimanakah perasaan anda jika pasien yang pertama kali anda rawat meninggal?”), pertanyaan pengetahuan (“Pelayanan apa yang disediakan untuk kelompok pasien tersebut?”).
Menurut Spradley (1979 dalam Holloway & Wheeler, 1996) pertanyaan dibedakan menjadi grand-tour dan mini-tour. Pertanyaan grand-tour merupakan pertanyaan yang lebih luas, sedangkan pertanyaan mini-tour adalah pertanyaan yang lebih spesifik. Pertanyaan grand-tour contohnya: Bisakah anda menjabarkan kekhususan hari di bangsal? Apa yang akan anda lakukan apabila pasian menanyakan kondisinya?. Pertanyaan mini-tour contohnya: Bisakah anda menjabarkan apa yang terjadi apabila kolega menanyakan keputusan anda?.
Dalam penelitian kualitatif pertanyaan sebisa mungkin tidak bersifat mengarahkan namun masih berpedoman dengan area yang diteliti. Seorang peneliti menyampaikan pertanyaan sejalas-jelasnya dan menyesuaikan dengan tingkat pemahaman dari partisipan. Jika pertanyaan ambigu akan menghasilkan jawaban yang ambigu juga. Untuk pertanyaan dobel sebaiknya dihindari; seperti pertanyaan yang kurang tepat, misalnya berapa banyak kolega yang anda miliki, dan apa ide mmereka menganai hal ini?.
Devers & Frankel (2000) mengemukakan kalau beberapa faktor mempengaruhi jenis instrumentasi dan derajat struktur yang dipakai dalam penelitian kualitatif. Yang menajdi faktor pertamma yaitu tujuan penelitian. Jika penelitian sifatnya lebih eksplorasi atau pengujian untuk menghaluskan atau menemukan teori dan konsep, yang tepat untuk dijadikan pertimbangan yaitu protokol yang sangat berakhiran open-ended (terbuka). Kemudian faktor kedua yaitu luasnya sebuah pengetahuan yang telah ada sebelumnya mengenai sebuah subjek, contohnya sebuah konsep yang sudah ada dan dipakai secara meluas di dunia,sampai sejauh mmanakah penerapannya di Indonesia. Lalu faktor ketiga yaitu sumber yang tersedia, terutama mengenai  waktu subjek dan jumlah serta kompleksitas kasus. Faktor yang terakhir yaitu persetujuan dengan yang mempunyai wewenanag dan yang menyandang dana. Instrumen yang memerlukan waktu lama untuk melakukan analisa tertentu perlu untuk dipertimbangkan yang menyandang dana.

Lama dan Pemilihan Waktu Wawancara (skripsi dan tesis)

 Wawancara harus selesai dalam jangka waktu satu jam menurut saran Field & Morse (1985 dalam Holloway & Wheeler, 1996). Sebetulnya waktu wawancara tergantung dari partisipan. Seorang peneliti harus melakukan kontrak waktu dengan partisipan, dengan begitu maka mereka bisa membuat rencana kegiatan pada hari tersebut tanpa terganggu wawancara. Partisipan pada umumnya memang menginginkan waktunya hanya satu jam. Untuk partisipan yang usianya lanjut, yang mengalamai kelemahan fisik, ataupun sakit mungkin memerlukan istirahat setelah 30 menit atau 20 menit.
Untuk partisipan yang masih anak-anak juga tidak dapat berkonsentrasi dalam waktu yang cukup lama. Sehingga peneliti harus melakukan penilaian mereka sendiri, mengikuti apa yang diinginkan partisipan, dan dengan penggunaan waktu yang sesuai kebutuhan dari topik penelitian. Lamanya wawancara pada umumnya tidak lebih dari 3 jam. Apabila lebih dari 3 jamm, maka konsentrasi tidak akan didapatkan bahkan kalau wawancara tersebut dilakukan oleh seorang peneliti yang berpengelaman pun. Apaila dalam waktu yang maksimal data masih belum didapatkan, maka wawancara dapat diulangi sekali lagi atau lebih di waktu yang berbeda. Wawancara singkat berulang kali lebih efektif jika dibandingkan dengan wawancara sekali dalam waktu yang panjang.

Teknik Analisis Komparatif Konstan (Constant Comparative Analysis) (skripsi dan tesis)

Teknik Analisis Komparatif adalah teknik yang dipakai dalam membandingkan kejadian-kejadian yang telah terjadi ketika seorang peneliti melakukan analisa kejadian tersebut dan secara terus-menerus dilakukan sepanjang penelitian tersebut dilakukan. Anselm L. Strouss dan Berney G. Galaser mengemukakan tentang beberapa Teknik Komparatif Konstan yakni: melakukan perbandingan kejadian yang bisa diterapkan dalam setiap kategori, tahap memperpadukan kategori-kategori dan juga ciri-cirinya, tahap pembatasan ruang lingkup teori dan juga tahap penulisan teori. (lihatlah Berney G. Galaser dan Anselm L. Strouss, The Discovery of Grounded Theory, Ichicago: Aldeline Publishing Company, tt, yang telah diterjemahkan Machrus Syamsuddin dan Abdul Syukur Ibrahim, Surabaya: Usaha Nasional, tt, hl.66, dikutip Burhan Bungin, 2003:101).
1.Tahap melakukan perbandingan kejadian yang bisa diterapkan di setiap kategori.
Dalam tahap ini terdapat 2 kegiatan yang perlu dilakukan oleh seorang peneliti, yakni mencatat kejadian dan memberikan komentar mengenai catatan tersebut. Dalam proses penelitian setiap kejadian yang releven dengan masalah penelitian baiknya dicatat oleh peneliti, meskipun kejadian itu terjadi berulang kali. Dari hasil pencatatan itu peneliti bisa melakukan perbandingan (dimensi, kondisi ketika berlangsungnya kejadian, konsekuensi, serta hubungan dengan kategori yang lain) secara terus menerus sampai peneliti bisa menemukan ciri-ciri kategori teoritis.
Dengan hasil pencatatan peneliti tersebut, maka akan mengalami atau menemukan berbagai konflik dalam taraf pemikiran, dengan begitu maka peneliti akan tertarik dengan hal-hal yang sifatnya teoritis. Dari sinilah seorang peneliti akan memulai membuat komentar mengenai gagasan tema yang sedang diteliti. Dalam tahap ini hal yang menonjol ialah bagaimana peneliti bisa menangkap kategori-kategori dan ciri-cirinya dalam tiap kejadian, setelah itu akan dianalisa dengan teori sehingga bisa menunjang analisis selanjutnya.
2. Tahap Memadukan kategori dan Ciri-cirinya.
Dalam tahap inilah peneliti memperbandingkan kejadian-kejadian yang telah ada lalu dari kejadian itu muculah kategori-kategori. Contohnya seorang peneliti menemukan kategori penolakan tentang program KB kepada masyarakat pedesaan, sedangkan untuk kategori penerimmaan program KB terdapat di masyarakat perkotaan. Lalu selanjutnya peneliti memaddukan ciri tiap-tiap kategori, contohnya penolakan masyarakat desa yang mempunyai tingkat pendidikan rendah, kelompok agamis, pasangan yang baru saja menikah, sedangkan kelompok masyarakat desa yang kerjanya sebagai pegawai dan guru cenderung dapat menerima KB. Itu artinya pada tahap inilah peneliti dituntuk mencari ciri-ciri kategori secara rinci sehingga data yang diperoleh dalam penelitian bisa dianalisa lebih mendalam.
3. Tahap Membatasi Lingkup Teori
Dalam tahap ini lebih banyak dilihat dari bagaimanaya peneliti membatasi lingkup sekian banyaknya teori sederhana yang terbentuk melalui tahap sebelumnya, lalu digeneralisasikan ke dalam arus teori yang relevensinya lebih besar.
4. Tahap Menulis Teori
Jika seorang peneliti sudah yakin kalau kerangka analisisnya bisa membentuk teori subtantif yang sistemmatik, maka hal itu merupakan pernyataan yang akurat dengan alasan mengenai permasalahan-permasalahan yang dikaji dan bisa dipahami oleh orang lain yang mempunyai minat dengan hasil penelitian tersebut.

Teknik Analisis Taksonomik (Taksonomic Analysis) (skrispi dan tesis)

Model teknik analisis domain menghasilkan analisis yang sifatnya umum, namun belumm terperinci dan sifatnya masih menyeluruh. Jika yang dimau adalah sebuah hasil analisis yang berfokus pada suatu domain ataupun sub-domain tertentu maka suatu penelitian akan menjadi lebih tepat jika memakai analisis Taksonomik. Melalui Analisis Taksonomik, maka analisis akan berfokus pada domain tertentu, setelah itu memilih domain tersebut untuk dijadikan sub-domain dan bagian-bagian yang lebih terperinci dan khusus yang memiliki rumpun yang serup

Teknik Analisis Komparatif Konstan (Constant Comparative Analysis) (skripsi dan tesis)

Teknik Analisis Komparatif adalah teknik yang dipakai dalam membandingkan kejadian-kejadian yang telah terjadi ketika seorang peneliti melakukan analisa kejadian tersebut dan secara terus-menerus dilakukan sepanjang penelitian tersebut dilakukan. Anselm L. Strouss dan Berney G. Galaser mengemukakan tentang beberapa Teknik Komparatif Konstan yakni: melakukan perbandingan kejadian yang bisa diterapkan dalam setiap kategori, tahap memperpadukan kategori-kategori dan juga ciri-cirinya, tahap pembatasan ruang lingkup teori dan juga tahap penulisan teori. (lihatlah Berney G. Galaser dan Anselm L. Strouss, The Discovery of Grounded Theory, Ichicago: Aldeline Publishing Company, tt, yang telah diterjemahkan Machrus Syamsuddin dan Abdul Syukur Ibrahim, Surabaya: Usaha Nasional, tt, hl.66, dikutip Burhan Bungin, 2003:101).
1.Tahap melakukan perbandingan kejadian yang bisa diterapkan di setiap kategori.
Dalam tahap ini terdapat 2 kegiatan yang perlu dilakukan oleh seorang peneliti, yakni mencatat kejadian dan memberikan komentar mengenai catatan tersebut. Dalam proses penelitian setiap kejadian yang releven dengan masalah penelitian baiknya dicatat oleh peneliti, meskipun kejadian itu terjadi berulang kali. Dari hasil pencatatan itu peneliti bisa melakukan perbandingan (dimensi, kondisi ketika berlangsungnya kejadian, konsekuensi, serta hubungan dengan kategori yang lain) secara terus menerus sampai peneliti bisa menemukan ciri-ciri kategori teoritis.
Dengan hasil pencatatan peneliti tersebut, maka akan mengalami atau menemukan berbagai konflik dalam taraf pemikiran, dengan begitu maka peneliti akan tertarik dengan hal-hal yang sifatnya teoritis. Dari sinilah seorang peneliti akan memulai membuat komentar mengenai gagasan tema yang sedang diteliti. Dalam tahap ini hal yang menonjol ialah bagaimana peneliti bisa menangkap kategori-kategori dan ciri-cirinya dalam tiap kejadian, setelah itu akan dianalisa dengan teori sehingga bisa menunjang analisis selanjutnya.
2. Tahap Memadukan kategori dan Ciri-cirinya.
Dalam tahap inilah peneliti memperbandingkan kejadian-kejadian yang telah ada lalu dari kejadian itu muculah kategori-kategori. Contohnya seorang peneliti menemukan kategori penolakan tentang program KB kepada masyarakat pedesaan, sedangkan untuk kategori penerimmaan program KB terdapat di masyarakat perkotaan. Lalu selanjutnya peneliti memaddukan ciri tiap-tiap kategori, contohnya penolakan masyarakat desa yang mempunyai tingkat pendidikan rendah, kelompok agamis, pasangan yang baru saja menikah, sedangkan kelompok masyarakat desa yang kerjanya sebagai pegawai dan guru cenderung dapat menerima KB. Itu artinya pada tahap inilah peneliti dituntuk mencari ciri-ciri kategori secara rinci sehingga data yang diperoleh dalam penelitian bisa dianalisa lebih mendalam.
3. Tahap Membatasi Lingkup Teori
Dalam tahap ini lebih banyak dilihat dari bagaimanaya peneliti membatasi lingkup sekian banyaknya teori sederhana yang terbentuk melalui tahap sebelumnya, lalu digeneralisasikan ke dalam arus teori yang relevensinya lebih besar.
4. Tahap Menulis Teori
Jika seorang peneliti sudah yakin kalau kerangka analisisnya bisa membentuk teori subtantif yang sistemmatik, maka hal itu merupakan pernyataan yang akurat dengan alasan mengenai permasalahan-permasalahan yang dikaji dan bisa dipahami oleh orang lain yang mempunyai minat dengan hasil penelitian tersebut.

Model Analisis Interaktif Miles & Huberman (skripsi dan tesis)

Model analisis interaktif menurut miles dan huberman yaitu dalam penelitian kualitatif memungkinkan dilakukan analisis data ketika peneliti berada di lapangan ataupun sesudah kembali dari lapangan baru di adakan analisis. Dalam penelitian ini analisis data telah dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Miles dan Huberman (1984: 23) alur analisis mengikuti model analisis interaktif. Dalam penelitian proses analisis ini dilakukan melalui 4 tahap, berikut ini:
– Pengumpulan Data
Data yang didapat dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi dicatat pada catatan lapangan yang terdiri atas 2 bagian yaitu bagian deskriptif dan bagian reflektif. Pengertian catatan deskriptif yaitu catatan alami, (merupakan catatan mengenai apa yang disaksikan, didengar, dilihat dan dialammmi sendiri oleh peneliti tanpa  adanya penafsiran dan pendapat dari peneliti terhadap fenomena yang dialaminya). Catatan reflektif adalah catatan yang isinya kesan, pendapat, komentar serta tafsiran peneliti mengenai apa penemuan yang dijumpai. Selain itu merupakan  bahan rencana  pengumpulan data untuk tahap selanjutnya.
– Reduksi Data
Selanjutnya sesudah data terkumpul dibuat reduksi data, untuk menentukan data yang relevan dan mempunyai maka, memfokuskan data yang mengarah pada pemecahan masalah, penemuan, pemaknaan atau untuk menjawab pertanyaan penelitian. Selanjutnya melakukan penyederhanaan serta menyususn secara sistematis dan menjabarkan hal-hal penting mengenai hasil penemuan dan maknanya. Dalam proses reduksi data, hanya temuan data atau temuan yang berkaitan dengan permasalahan penelitian yang direduksi. Sedangkan untuk data yang tidak ada kaitannya dengan masalah penelitian dibuang. Atau dengan kata lain reduksi data dipakai untuk analisis yang mengarahkan, menggolongkan, menajamkan dan membuang yang tidak penting danmengorganisasikan data. Dengan begitu maka akan mempermudahkan peneliti untuk menarik sebuah kesimpulan.
– Penyajian Data
Penyajian data bisa berbentuk tulisan, gambar, tabel dan grafik. Tujuan penyajian data untuk menggabungkan informasi sehingga bisa memberikan gambaran terhadap keadaan yang terjadi. Dalam hal ini, supaya peneliti tidak mengalami kesulitan dalam penguasaan informasi secara baik dan menyeluruh dan juga bagian-bagian tertentu dari hasil peneltian. Maka dari itulah peneliti harus membuat naratif, grafik atau matrik untuk mempermudah penguasaan data atau informasi tersebut.  Dengan cara seperti itu maka peneliti bisa tetap menguasai data dan tidak tenggelam dalam kesimpulan informasi yang bisa membosankan. Hal seperti ini dilakukan karena data yang tersususun kurang baik dapat mempengaruhi peneliti dalam mengambil kesimpulan yang memihak dan dalam bertindak secara ceroboh, dan tidak mendasar. Mengenai display data harus dissadari sebagai bagian di dalam analisis data.
– Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan dilakukan selama berlangsungnya penelitian, seperti halnya proses reduksi data, sesudah data telah terkummpul memadai maka akan dapat diperoleh kesimpulan sementara, dan sesudah data benar-benar lengkap maka dapat diperoleh kesimpulan akhir.
Mulai  dari awal penelitian, peneliti selalu ingin berusaha menemukan makna data yang terkumpul. Oleh sebab itu perlu untuk menemukan tema, pola, persamaan, hubungan, hipotesis, hal-hal yang sering muncul dan lain-lain. Awalnya kesimpulan yang diperoleh bersifat kabur, tentatif dan diragukan namun dengan bertambahnya data baik itu dari hasil observasi maupun wawancara dan dari diperolehnya keseluruhan data hasil penelitian. Maka kesimpulan-kesimpulan tersebut harus diklarifikasikan dan diverifikasikan selama berlangsungya penelitian.
Selanjutnya data-data yang ada disatukan ke dalam unit-unit informasi yang menjadi rumusan kategori-kategori dengan berpegang pada prinsip holistik dan bisa ditafsirkan tanpa adanya informasi tambahan. Data tentang informasi yang dirasa sama disatukan dalam satu kategori, sehingga memberikan kemungkinan munculnya kategori baru dari kategori yang telah ada.

Model (skripsi dan tesis)

Pemodelan (Santosa, 2005) Model dapat digunakan untuk menampilkan,
mengeksplorasi, dan menjelaskan data proyek. Menciptakan sebuah model adalah untuk menunjukkan hubungan antara berbagai item dalam
sebuah proyek, misalnya: menggunakannya untuk mendemonstrasikan teori yang sedang dibangun, isu permasalahan dalam sebuah kerja tim, atau
bagaimana mendukung data dengan dugaan/hipotesa awal. Model yang diperoleh merupakan visualisasi dari konsep-konsep yang hubungannya dicari dan akan makin jelas setelah dianalisis

Analisis N Vivo (skripsi dan tesis)

Analisis data kualitatif dapat dilakukan dengan cara manual atau menggunakan bantuan komputer. Cara manual umumnya dipakai sebelum
personal computer menyebar secara luas pada 1980an. Richards (2009) menyatakan analisis data kualitatif dengan cara manual adalah pekerjaan
yang melelahkan, berat,dan menyita banyak waktu. Setelah personal computer menyebar luas, perangkat lunak wordprocessing mulai digunakan
untuk membantu analisis data kualitatif. Program inisebenarnya ditujukan untuk menulis dan menyunting kata-kata namun dalam penelitian
kualitatif, program ini dapat dipakai untuk mengetik, mengedit, dan menyimpan data penelitian. Di kemudian hari, program wordprocessing
juga dapatdigunakanuntuk membuat grafik, mencari kata atau frase, menambahkan komentar, hingga membuat link dengan file lain, yang mana
fungsi-fungsi tersebut dapat mendukung analisis data kualitatif. Walaupun dilengkapi fungsi-fungsi itu, perangkat lunak wordprocessing tetaplah
tidak setangguh computer-assisted qualitative data analysis software (CAQDAS) (Lindlof dan Taylor, 2002). CAQDAS dapat dipahami sebagai suatu
perangkat lunak yang dilengkapi dengan alat-alat untuk memfasilitasi analisis data kualitatif
Suatu software dikategorikan sebagai CAQDAS jika memiliki kemampuan mencari, menghubungkan item-item, mengkode, melakukan query,
membuat anotasi, dan memetakan data penelitian. Dalam pemilihan CAQDAS, Earl Babbie (2010) memberikan saran untuk menggunakan NVivo karena program ini tergolong cukup populer di kalangan peneliti. Berdasarkan website resmi QSR International, perusahaan pembuat NVivo-
software ini dipakai sekitar 400.000 peneliti di 150 negara. Penggunaan NVivo juga didukung oleh Walsh(2003) yang mengatakan bahwa NVivo
merupakan software bekerja seperti map-map dalam teknik analis data kualitatif manual hanya saja map tersebut jauh lebih cerdas. Dampaknya
peneliti yang terbiasa memakai cara manual dalamanalisisdata kualitatif tidak akan merasa asing dengan software ini. Dengan pertimbangan tersebut maka dalam tulisan ini akan dibahas lebih jauh mengenai penggunaan NVivo.
NVivo merupakan software analisis data kualitatif yang dikembangkan oleh Qualitative Solution and Research (QSR) international. QSR sendiri adalah
perusahaan pertama yang mengembangkan software analisis data kualitatif. NVivo bermula dari kemunculan software NUD*IST (Nonnumeric
Unstructured Data, Index Searching, and Theorizing) pada tahun 1981 (Bazeley, 2007). NUD*IST awalnya diciptakan oleh seorang programer bernama Tom Richards untuk mem bantuistrinya, LynRichards, yangberprofesi
sebagai sosiolog.

DEFINISI PENGUMPULAN DATA (skripsi dan tesis)

Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Sebelum melakukan penelitian, seorang peneliti biasanya telah memiliki dugaan berdasarkan teori yang ia gunakan, dugaan tersebut disebut dengan hipotesis (Baca juga: Pengertian Hipotesis dan Langkah Perumusan Hipotesis). Untuk membuktikan hipotesis secara empiris, seorang peneliti membutuhkan pengumpulan data untuk diteliti secara lebih mendalam.

Proses pengumpulan data ditentukan oleh variabel-variabel yang ada dalam hipotesis. Pengumpulan data dilakukan terhadap sampel yang telah ditentukan sebelumnya. Data adalah sesuatu yang belum memiliki arti bagi penerimanya dan masih membutuhkan adanya suatu pengolahan. Data bisa memiliki berbagai wujud, mulai dari gambar, suara, huruf, angka, bahasa, simbol, bahkan keadaan. Semua hal tersebut dapat disebut sebagai data asalkan dapat kita gunakan sebagai bahan untuk melihat lingkungan, obyek, kejadian, ataupun suatu konse

Jenis Wawancara (skripsi dan tesis)

Terdapat dua jenis wawancara, yakni: 1). wawancara mendalam (in-depth
interview), di mana peneliti menggali informasi secara mendalam dengan cara terlibat langsung dengan kehidupan informan dan bertanya jawab secara bebas tanpa pedoman pertanyaan yang disiapkan sebelumnya sehingga suasananya hidup, dan dilakukan berkalikali; 2). wawancara terarah (guided interview) di mana peneliti menanyakan kepada informan hal-hal yang telah disiapkan sebelumnya. Berbeda dengan wawancara mendalam, wawancara terarah memiliki kelemahan, yakni suasana tidak hidup, karena peneliti terikat dengan pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. Sering terjadi pewawancara atau peneliti lebih memperhatikan daftar pertanyaan yang diajukan daripada bertatap muka dengan informan, sehingga suasana terasa kaku.

Wawancara (skripsi dan tesis)

Wawancara merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa wawancara (interview) adalah suatu kejadian atau suatu proses interaksi antara pewawancara (interviewer) dan sumber informasi atau orang yang di wawancarai (interviewee) melalui komunikasi langsung (yusuf, 2014).
Metode wawancara/interview juga merupakan proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden/ orang yang di wawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara. Dalam wawancara tersebut biasa dilakukan secara individu maupun dalam bentuk
kelompok, sehingga di dapat data informatik yang orientik.
Wawancara bertujuan mencatat opini, perasaan, emosi, dan hal lain berkaitan dengan individu yang ada dalam organisasi. Dengan melakukan interview, peneliti dapat memperoleh data yang lebih banyak sehingga peneliti dapat memahami budaya melalui bahasa dan ekspresipi hak yang diinterview; dan dapat melakukan klarifikasi atas hal‐ hal yang tidak diketahui. Pertanyaan pertama yang perlu diperhatikan dalam interview adalah Siapa yang
harus diinterview ? Untuk memperoleh data yang kredibel makain terview harus dilakukan dengan Know ledgeable Respondent yang mampu menceritakan dengan akurat fenomena yang diteliti. Isu yang kedua adalah Bagaimana membuat responden mau bekerjasama? Untuk merangsang pihak lain mau meluangkan waktu untuk diinterview, maka perilaku
pewawancara dan responden harus selaras sesuai dengan perilaku yang diterima secara sosial sehingga ada kesan saling menghormati. Selain itu, interview harus dilakukan dalam waktu dan tempat yang sesuai sehingga dapat menciptakan rasa senang, santai dan bersahabat.
Kemudian, peneliti harus berbuat jujur dan mampu meyakinkan bahwa identitas responden tidak akan pernah diketahui pihak lain kecuali peneliti dan responden itu sendiri. Data yang diperoleh dari wawancara umumnya berbentuk pernyataan yang menggambarkan pengalaman, pengetahuan, opini dan perasaan pribadi. Untuk memperoleh data ini peneliti dapat menggunakan metode wawancara standar yangt erskedul (Schedule Standardised
Interview), interview standart akterskedul (Non‐Schedule Standardised Interview) atau interview informal (Non Standardised Interview). Ketiga pendekatan tersebut dapat dilakukan dengan teknik sebagai berikut: a) Sebelum wawancara dimulai, perkenalkan diri dengan sopan untuk menciptakan hubungan baik b) Tunjukkan bahwa responden memiliki kesan
bahwa dia orang yang “penting” c) Peroleh data sebanyak mungkin d) Jangan mengarahkan jawaban e) Ulangi pertanyaan jika perlu f) Klarifikasi jawaban g) Catat interview (Chairi, 2009).
Teknis pelaksanaan wawancara dapat dilakukan secara sistematis atau tidak sistematis. Yang dimaksud secara sistematis adalah wawancara dilakukan dengan terlebih dahulu peneliti menyusun instrument pedoman wawancara. Disebut tidak sistematis, maka peneliti meakukan wawancara secara langsung tanpa terlebuh dahulu menyusun instrument pedoman wawancara. Saat ini. dengan kemajuan teknologi informasi, wawancara bisa saja dilakukan
tanpa tatap muka, yakni melalui media telekomunikasi. Pada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian. Atau merupakan proses pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang telah diperoleh lewat teknik yang lain sebelumnya. Dalam wawancara harus direkam, wawancara yang direkamakn memberikan nilai tambah. Karena, pembicaraan yang di rekam akan menjadi bukti otentik bila terjadi salah penafsiran. Dan setelah itu data yang direkam selanjutnya ditulis kembali dan diringkas. Dan peneliti memberikan penafsiran atas data yang diperoleh lewat wawancara. Susunan wawancara itu dapat dimulai dengan sejarah kehidupan, tentang gambaran umum situasi pertisipan. Pertanyaan yang diajukan juga berupa hasil pengalaman. Dalam mengajukan pertanyaan, peneliti harus memberikan penekanan kepada arti dari pengalaman
tersebut. Prinsip umum pertanyaan dalam wawancara adalah ; harus singkat, open ended, singular dan jelas. Peneliti harus menyadari istilah-istilah umum yang dimengerti partisipan. Dan sebaiknya wawancara tidak lebih dari 90 menit. Bila dibutuhkan, peneliti dapat meminta waktu lain untuk wawancara selanjutnya (Semiawan, 2010). Wawancara mendalam adalah
interaksi/pembicaraan yang terjadi antara satu orang pewawancara dengan satu orang informan (Manzilati, 2017).
Pada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian. Atau, merupakan proses pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang telah diperoleh lewat teknik yang lain sebelumnya. Karena merupakan proses pembuktian, maka bisa saja hasil wawancara
sesuai atau berbeda dengan informasi yang telah diperoleh sebelumnya. Agar wawancara efektif, maka terdapat berapa tahapan yang harus dilalui, yakni ; 1). mengenalkan diri, 2). menjelaskan maksud kedatangan, 3). menjelaskan materi wawancara, dan 4). mengajukan pertanyaan (Yunus, 2010: 358).

Teknik Pengumpulan Data Metode Kualitatif (skripsi dan tesis)

Dalam penelitian kualitatif, kualitas riset sangat tergantung pada kualitas dan kelengkapan  data yang dihasilkan. Pertanyaan yang selalu diperhatikan dalam pengumpulan data adalah apa, siapa, dimana, kapan, dan bagaimana. Penelitian kualitatif bertumpu pada triangulation data
yang dihasilkan dari tigametode : interview, participan to bservation, dan telaah catatan organisasi (document records)
Dalam penelitian kualitatif pengumpulan data lazimnya menggunakan metode observasi, dokumentasi dan wawancara. Juga tidak diabaikan kemungkinan menggunakan sumbersumber non-manusia (non-human source of information), seperti dokumen, dan rekaman (record) yang tersedia. Pelaksanaan pengumpulan data ini juga melibatkan berbagai aktivitas pendukung lainnya, seperti menciptakan rapport, pemilihan informan, pencatatan data/informasi hasil pengumpulan data. Karena itu dalam bagian ini akan dibahas secara berturut-turut; Penciptaan rapport, Pemilihan informan, Pengumpulan data dengan metode observasi, dokumentasi, wawancara, Pengumpulan data dari sumber non-manusia dan
Pencatatan data/ informasi hasil pengumpulan data.
a. Penciptaan Rapport
Menurut Faisal (1990) penciptaan rapport ini merupakan prasyarat yang amat penting. Peneliti tidak akan dapat berharap untuk memperoleh informasi secara produktif dari informan apabila tidak tercipta hubungan harmonis yang saling mempercayai antara pihak peneliti dengan pihak yang diteliti.Terciptanya hubungan harmonis satu dengan yang lain
saling mempercayai, tanpa kecurigaan apapun untuk saling membuka diri, merupakan permasalahan yang berkaitan dengan penciptaan rapport. Untuk mencapai tingkat rapport yang membuat informan bisa menjadi semacam co-reseacher (sejawat atau pasangan bagi seorang peneliti), menurut Faisal, lazimnya ia mengalami proses 4 (empat) tahap, yaitu; (1)
apprehension (2) exploration (3) cooperation, dan (4) participation.
b. Pemilihan Informan
Pemilihan informan dengan sendirinya perlu dilakukan secara purposif (bukan secara acak) yaitu atas dasar apa yang diketahui tentang variasi-variasi yang ada atau elemenelemen yang ada atau sesuai kebutuhan penelitian. Dengan kata lain jika suatu penelitian sudah tidak ada informasi yang dibutuhkan lagi (data yang diperoleh sudak dianggap cukup) maka peneliti tak perlu lagi melanjutkannya dengan mencari informasi atau informan lain (sample baru). Artinya jumlah sample/ informan bisa sangat sedikit, tetapi bisa juga sangat
banyak. Itu sangat tergantung pada; (1) memilihan informannya itu sendiri, dan (2) kompleksitas/keragaman fenomena yang di kaji (pokok masalah penelitian). Jadi yang penting dalam penelitian kualitatif adalah tuntasnya perolehan informasi bukan jumlah sample atau informannya. Oleh karena itu terdapat tiga tahap yang biasa dilakukan dalam pemilihan sample/informan, yaitu: (1) pemilihan sample/informan awal, apakah informan (untuk diwawancarai) ataukah suatu situasisosial (untuk diobservasi). (2) pemilihan sample/informan lanjutan, guna memperluas informasi dan melacak seganap variasi
informasi yang mungkin ada, dan (3) menghentikan pemilihan sample/informan lanjutan sekiranya sudah tidak muncul lagi informasi- informsi baru (Subadi, 2006)
Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan oleh peneliti untuk
mengumpulkan data-data penelitian dari sumber data (subyek maupun sampel penelitian). Teknik pengumpulan data merupakan suatu kewajiban, karena teknik pengumpulan data ini
nantinya digunakan sebagai dasar untuk menyusun instrumen penelitian. Instrument penelitian merupakan seperangkat peralatan yang akan digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data-data penelitian (Kristanto, 2018). Pengumpulan data merupakan tahapan yang sangat
penting dalam sebuah penelitian. Teknik pengumpulan data yang benar akan menghasilkan data yang memiliki kredibilitas tinggi, dan sebaliknya. Oleh karena itu, tahapan ini tidak boleh salah
dan harus dilakukan dengan cermat sesuai prosedur dan ciri-ciri penelitian kualitatif. Sebab, kesalahan atau ketidaksempurnaan dalam metode pengumpulan data akan berakibat fatal, yakni berupa data yang tidak credible, sehingga hasil penelitiannya tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta(participant observaction), wawancara mendalam (in depth interview), dan dokumentasi (Sugiono, 2017). Pada dasarnya kegunaan data (setelah diolah dan dianalisis)
ialah sebagai dasar yang objektif didalam proses pembuatan keputusan–keputusan/kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam rangka ntuk memecahkan persoalan oleh pengambil keputusan (Situmorang, 2010).
Misalnya, jika peneliti ingin memperoleh informasi mengenai persepsi guru terhadap kurikulum yang baru, maka teknik yang di pakai ialah wawancara, bukan observasi. Sedangkan, jika peneliti ingin mengetahui bagaimana guru menciptakan suasana kelas yang
hidup, maka teknik yang dipakai adalah observasi. Begitu juga jika, ingin diketahui mengenai kompetensi siswa dalam mata pelajaran tertentu, maka teknik yang dipakai adalah tes, atau bisa juga dokumen berupa hasil ujian. Dengan demikian, informasi yang inin di peroleh menentukan
jenis teknik yang di pakai (materials determine a means) (Rahardjo, 2011).
Namun, masih di perlukan kecakapan peneliti menggunakan teknik-teknik tersebut.
Karena bisa jadi jika belum berpengalaman atau belum memiliki pengetahuan yang memadai, peneliti tidak berhasil menggali informasi yang dalam, sebagaimana karakteristik data dalam penelitian kualitatif, karena kurang cakap menggunakan teknik tersebut, walaupun teknik yang dipilih sudah tepat. Solusinya terus belajar dan membaca hasil-hasil penelitian sebelumnya
yang sejenis akan sangat membantu menambah kecakapan peneliti.
Penggunaan istilah „data‟ sebenarnya meminjam istilah yang lazim dipakai dalam metode penelitian kualitatif yang biasanya berupa tabel angka. Namun, dalam metode penelitian kualitatif yang dimaksudkan dengan data adalah segala informasi baik lisan maupun tulis, bahkan bisa berupa gambar atau foto, yang berkontribusi untuk menjawab masalah penelitian
sebagaimana dinyatakan di dalam rumusan masalah atau focus penelitian.
Dalam bahasa teknik pengumpulan data untuk penelitian kualitatif akan dibagi menjadi dua kegiatan belajar belajar yakni : kegiatan belajar 1) tentang teknik wawancara dan observasi, kegiatan belajar 2) tentang teknik dokumentasi dan trialungasi (Suwendra, 2018). Dan di dalam metode penelitian kualitatif juga lazimnya data di kumpulkan dengan beberapa teknik pengumpulan data kualitatif, yaitu ; 1) wawancara, 2) observasi, 3) dokumentasi, dan 4) diskusi terfokus (Focus Group Discussion). Sebelum masing-masing teknik tersebut diuraikan secara rinci, perlu ditegaskan di sini bahwa hal sangat penting yang harus dipahami oleh setiap peneliti adalah alasan mengapa masing-masing teknik tersebut dipakai, untuk memperoleh informasi apa, dan pada bagian focus masalah mana yang memerlukan teknik wawancara, mana yang memerlukan teknik observasi, dst. Pilihan teknik tergntung pada jenis informasi yang di peroleh.
Keberhasilan dalam pengumpulan data banyak ditentukan oleh kemampua n peneliti menghayati situasi sosial yang dijadikan fokus penelitian. Ia dapat melakukan wawancara dengan subjek yang ia teliti, ia harus mampu mengamati situasi sosial, yang terjadi dalam konteks yang sesungguhnya, ia dapat memfoto fenomena, symbol, dan tanda yang terjadi, ia mungkin pula merekam dialog yang terjadi. Peneliti tidak akan mengakhiri fase pengumpulan data, sebelum ia yakin bahwa data yang terkumpul dari berbagai sumber yang berbeda dan terfokus pada situasi sosial yang di teliti telah mampu menjawab tujuan penelitian. Dalam konteks ini validitas, reabilitas, dan triangulasi (triangulation) telah dilakukan dengan benar, sehingga ketepatan (accuracy) dan kredibilitas (credibility) tidak diragukan lagi oleh siapapun (yusuf, 2014).
Data penelitian kualitatif biasanya berbentuk teks, foto, cerita, gambar, artifacts, dan bukan berupa angka-angka hitung-hitungan. Data dikumpulkan bilamana arah dan tujuan penelitian sudah jelas dan juga bila sumber data yaitu informan atau partisipan sudah diidentifikasi, dihubungi serta sudah mendapatkan persetujuan atas keinginan mereka untuk memberikan informasi yang dibutuhkan. Jadi, data penelitian kualitatif diperoleh dengan berbagai macam cara : wawancara, observasi, dan dokumen. Perolehan data dengan berbagai macam cara ini disebut triangulasi (triangulation). Alasan menggunakan trangulasi adalah bahwa tidak ada metode pengumpulan data tunggal yang sanga cocok dan dapat benar-benar sempurna. Dalam banyak penelitian kualitatif, peneliti umumya menggunakan teknik triangulasi dalam arti menggunakan interview dan observasi (Semiawan, 2010).

Triangulasi Kualitatif (skripsi dan tesis)

Triangulasi adalah menguji keabsahan data dengan mencocokkan atau membandingkannya dengan sesuatu yang lain (di luar data yang mau diuji keabsahannya). Katakan saja bahwa anda mau menguji keabsahan data anda maka yang perlu dan segera dilakukan adalah mencari data atau sesuatu yangrelevan dengan data anda.

Dua cara yang bisa anda lakukan saat anda melakukan triangulasi:

Triangulasi dengan sumber yang sama tetapi dengan cara atau metode yang berbeda

Triangulasi dengan cara atau metode yang sama tetapi dengan sumber yang berbeda

Dari dua cara triangulasi di atas ternyata yang paling banyak digunakan adalah pencocokkan dengan sumber yang berbeda. Triangulasi sumber data adalah  mengecek kembali data-data yang sudah anda dapatkan dari informan utama dengan cara menanyakan kebenaran data kepada informan tambahan (bisa satu atu lebih).

Sedangkan triangulasi metode adalah mengecek kembali data dengan cara yang berbeda.

Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk melahirkan sebuah teori baru atau mengembangkan sebuah teori lama yang dihasilkan oleh peneliti sebelumnya. Jika anda tidak menemukan sebuah teori (baru) maka bisa dikatakan bahwa penelititan yang anda lakukan nihil hasilnya. Melahirkan sebuah teori baru tentunya bukan sembarang teori tetapi sebuah teori yang akan bisa dan dapat diterima oleh orang banyak. Oleh karena itu perlu dilakukan triangulasi teori sebelum teori anda dipublikasikan yaitu dengan mencocokkan teori anda dengan teori yang relevan bertujuan untuk menghindari penyimpangan individual.

Karakteristik Penelitian Kualitatif (skripsi dan tesis)

Creswell (2007, p. 45-47) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian kualitatif yang baik, antara lain:

  1. peneliti menggunakan prosedur mendapatkan data yang tepat.
  2. Peneliti membatasi penelitian di dalam asumsi dan karakteristik dari pendekatan kualitatif.
  3. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dalam penelitiannya.
  4. Peneliti memulai penelitian dengan satu fokus.
  5. Penelitian berisi metode yang rinci, pendekatan yang tepat dalam pengumpulan data, analisis data, dan penulisan laporan.
  6. Peneliti menganalisis data menggunakan pemisahan analisis dalam beberapa level.
  7. Peneliti menulis secara persuasif, sehingga pembaca dapat merasakan pengalaman yang sama.
  8. Proses penelitian dengan pendekatan kualitatif

Penelitian kualitatif dimulai dengan ide yang dinyatakan dengan pertanyaan penelitian (research questions). Pertanyaan penelitian tersebut yang nantinya akan menentukan metode pengumpulan data dan bagaimana menganalisisnya. Metode kualitatif bersifat dinamis, artinya selalu terbuka untuk adanya perubahan, penambahan, dan penggantian selama proses analisisnya (Srivastava, A. & Thomson, S.B., 2009).

Alasan memilih metode kualitatif (skripsi dan tesis)

Sale, et al. (2002) menyatakan bahwa penggunaan metode dipengaruhi oleh dan mewakili paradigma yang merefleksikan sudut pandang atas realitas. Lebih lanjut, Kasinath (2013) mengemukakan ada tiga alasan untuk menggunakan metode kualitatif, yaitu (a) pandangan peneliti terhadap fenomena di dunia (a researcher’s view of the world), (b) jenis pertanyaan penelitian (nature of the research question), dan (c) alasan praktis berhubungan dengan sifat metode kualitatif (practical reasons associated with the nature of qualitative methods).

Sementara itu, menurut McCusker, K., & Gunaydin, S. (2015), pemilihan penggunaan metode kualitatif dalam hal tujuan penelitiannya adalah untuk memahami bagaimana suatu komunitas atau individu-individu dalam menerima isu tertentu. Dalam hal ini, sangat penting bagi peneliti yang menggunakan metode kualitatif untuk memastikan kualitas dari proses penelitian, sebab peneliti tersebut akan menginterpretasi data yang telah dikumpulkannya.

Metode kualitatif membantu ketersediaan diskripsi yang kaya atas fenomena. Kualitatif mendorong pemahaman atas substansi dari suatu peristiwa. Dengan demikian, penelitian kualitatif tidak hanya untuk memenuhi keinginan peneliti untuk mendapatkan gambaran/penjelasan, tetapi juga membantu untuk mendapatkan penjelasan yang lebih dalam (Sofaer, 1999). Dengan demikian, dalam penelitian kualitatif, peneliti perlu membekali dirinya dengan pengetahuan yang memadai terkait permasalahan yang akan ditelitinya.

Definisi penelitian kualitatif (skripsi dan tesis)

Definisi penelitian kualitatif dapat ditemukan pada banyak literatur. Antara lain, Ali dan Yusof (2011) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai:

Any investigation which does not make use of statistical procedures is called “qualitative” nowdays, as if this were a quality label in itself.

Definisi dari Ali dan Yusof tersebut, menekankan pada ketidakhadiran penggunaan alat-alat statistik dalam penelitian kualitatif. Hal ini tentunya untuk mempermudah dalam membedakan penggunaan metode kualitatif dengan penggunaan metode kuantitatif. Karena metode kuantitatif bergantung pada penggunaan perhitungan dan prosedur analisis statistika.

Sementara itu, metode kualitatif lebih menekankan pada pengamatan fenomena dan lebih meneliti ke subtansi makna dari fenomena tersebut. Analisis dan ketajaman penelitian kualitatif sangat terpengaruh pada kekuatan kata dan kalimat yang digunakan. Oleh karena itu, Basri (2014) menyimpulkan bahwa fokus dari penelitian kualitatif adalah pada prosesnya dan pemaknaan hasilnya. Perhatian penelitian kualitatif lebih tertuju pada elemen manusia, objek, dan institusi, serta hubungan atau interaksi di antara elemen-elemen tersebut, dalam upaya memahami suatu peristiwa, perilaku, atau fenomena (Mohamed, Abdul Majid & Ahmad, 2010).

Pengertian Metode Penelitian (skripsi dan tesis)

Secara umum metode penelitian didefinisikan sebagai suatu
kegiatan ilmiah yang terencana, terstruktur, sistematis dan
memiliki tujuan tertentu baik praktis maupun teoritis. Dikatakan sebagai ‘kegiatan ilmiah’ karena penelitian dengan aspek
ilmu pengetahuan dan teori. ‘Terencana’ karena penelitian
harus direncanakan dengan memperhatikan waktu, dana dan
aksesibilitas terhadap tempat dan data.
Sekaran (2003) mendefinisikan penelitian sebagai suatu
kegiatan yang terorganisir, sistematis, berdasarkan data,
dilakukan secara kritis, objektif, ilmiah untuk mendapatkan
jawaban atau pemahaman yang lebih mendalam atas suatu
masalah. Intinya, menurut beliau, yaitu memberikan masukan
Pengertian, Tujuan, dan Latar Belakang Penelitian 5
yang dibutuhkan oleh pengambil kebijakan untuk membuat
suatu keputusan. Masukan tersebut rnerupakan hasil
penelahaan dan analisis data yang dibuat secara seksarna.
Ditambahkannya pula bahwa data dapat berupa angka atau
teks, baik kuantitatif rnaupun kualitatif.
John Creswell (2008) rnendefinisikan penelitian sebagai
suatu proses bertahap bersiklus yang dirnulai dengan
identifikasi masalah atau isu yang akan diteliti. Setelah masalah
teridentifikasi kernudian diikuti dengan rnereviewbahan bacaan
atau kepustakaan. Sesudah itu rnenentukan dan rnernperjelas
tujuan penelitian. Dilanjutkan dengan pengurnpulan dan
analisa data. Kernudian rnenafsirkan (interpretation) data
yang diperoleh. Penelitian ini berpuncak pada pelaporan hasil
penelitian. Pembaca atau audience akan rnengevaluasi dan
selanjutnya rnenggunakannya. Dari identifikasi rnasalah hingga
pelaporan, sernuanya berlangsung dalarn suatu proses yang
bertahap yang berurutan secara teratur dan sistematis

Triangulasi Dalam Kualitatif (skripsi dan tesis)

Triangulasi adalah teknik pemeriksanaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.

Menurut Patton (1980) ini bisa dicapai dengan membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi, membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu, membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan yang lain, serta membandingkan hasil wawancara dengan isu suatu dokumen yang berkaitan.

Beberapa cara yang diusulkan Patton (1980) untuk meningkatkan transferabilitas penelitian adalah dengan melakukan konsep trianggulasi, yang meliputi empat hal :

  1. Trianggulasi data : menggunakan sumber data yang beranekaragam.
  2. Trianggulasi peneliti : menggunakan beberapa peneliti atau evaluator yang berbeda untuk mengecek penelitian.
  3. Trianggulasi teori : menggunakan perspektif yang berbeda untuk menginterpretasi data yang sama.
  4. Trianggulasi metodologis : menggunakan beberapa metode yang berbeda untuk meneliti hal yang sama.

Teknik triangulasi lebih mengutamakan efektivitas proses dan hasil yang diinginkan. Oleh karena itu, triangulasi dapat dilakukan dengan menguji apakah proses dan hasil metode yang digunakan sudah berjalan dengan baik. Seperti (1) peneliti menggunakan wawancara mendalam dan observasi partisipasi untuk pengumpulan data. (2) dilakukan uji silang terhadap materi catatan-catatan harian itu untuk memastikan tidak adainformasi yang bertentangan antara catatan harian wawancara dan catatan harian observasi. (3) hasil konfirmasi itu perlu diujikan lagi dengan informasi sebelumnya karena bisa jadi konfirmasi itu bertentangan dengan informasi yang telah dihimpun sebelumnya.

Kredibilitas Dalam Analisis Kualitatif (skripsi dan tesis)

Upaya untuk menjaga kredibilitas dalam penelitian
adalah melalui langkah-langkah sebagai berikut
(Sugiyono, 2012 :270)
a.Perpanjangan pengamatan
Peneliti kembali ke lapangan untuk melakukan
pengamatan untuk mengetahui kebenaran data yang
diperoleh maupun menemukan data baru.
b. Meningkatkan ketekunan
Melakukan pengamatan secara lebih cermat.
Dengan meningkatakan ketekunan, peneliti dapat
melakukan pengecekan kembali apakah data yang
ditemukan benar atau salah.
c. Triangulasi
Pengecekan data sebagai sebagai sumber dengan
berbagai cara dan berbagai waktu.
d. Analisis kasus negatif
Peneliti mencara data yang berbeda dengan data
yang ditemukan. Apabila tidak ada data yang berbeda
maka data yang ditemukan sudah dapat dipercaya.
e. Menggunakan bahan referensi
Bahan referensi yang dimaksud adalah sebagai
pendukung data yang ditemukan, sebagai contoh data
hasil wawancara perlu didukung adanya rekaman
wawancara.
f. Menggunakan member check
Mengadakan kesepakatan dengan informan bahwa
data yang telah diterima sudah sesuai dengan hasil
wawancara. Apabila data sudah benar maka data
sudah dianggap valid, maka peneliti perlu melakukan
diskusi dengan pemberi data agar penafsiran akan data
yang diperoleh dapat disepakati

KARAKTERISTIK PENELITIAN ILMIAH (skripsi dan tesis)

 

 

Penelitian ilmiah didasarkan atas logika, terorganisasi, dan teliti dalam identifikasi masalah, pengumpulan data, analisis data dan penarikan kesimpulan yang valid. Kadar (tinggi-rendahnya) mutu ilmiah suatu penelitian ilmiah dapat diukur dengan dua kriteria, yaitu:

  1. Kemampuannya untuk memberikan pengertian tentang masalah yang diteliti sehingga jelas.
  2. Kemampuannya untuk meramalkan, artinya sampai di mana kesimpulan yang sama dapat dicapai, apabila data yang sama ditemukan di tempat waktu lain.

Ciri-ciri penelitian ilmiah, adalah sebagai berikut:

  1. Purposiveness, memiliki fokus tujuan yang jelas.
  2. Rigor, teliti dan memiliki dasar teori dan desain metodologi yang baik.
  3. Testability, prosedur pengujian hipotesis jelas.
  4. Replicability, pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau kasus sejenis lainnya.
  5. Objectivity, berdasarkan atas fakta dari data actual, bukan penilaian yang subjektif dan emosional.
  6. Generalizability, semakin luas ruang lingkup penggunaan hasil penelitian semakin berguna.
  7. Precision, mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi dapat dilihat.
  8. Parsimony, kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode penelitiannya.

 

JENIS PENELITIAN BERDASARKAN KEILMIAHANNYA (skripsi dan tesis)

Hasan (2004;5-6) menyatakan bahwa berdasarkan keilmiahannya, penelitian dibedakan atas dua yaitu sebagai berikut:

1)   Penelitian Ilmiah

Penelitian ilmiah adalah penelitian yang dalam pelaksanaannya menggunakan kaidah-kaidah ilmiah, artinya pokok pikiran yang dikemukakan disimpulkan melalui suatu prosedur yang sistematis dengan mempergunakan pembuktian yang meyakinkan (ilmiah).

2)   Penelitian Nonilmiah

Penelitian non ilmiah adalah penelitian yang dalam  pelaksanaannya tidak menggunakan metode atau kaidah-kaidah yang ilmiah

 

JENIS PENELITIAN BERDASARKAN TEMPAT PENELITIAN (skripsi dan tesis)

 

Hasan (2004;5) menyatakan bahwa berdasarkan tempat penelitian, penelitian dibedakan atas tiga yaitu sebagai berikut:
1) Penelitian lapangan (Field Research)
Penelitian lapangan adalah penelitian yang langsung dilakukan di lapangan atau pada responden.
2) Penelitian kepustakaan (Library Research)
Penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan leteratur (kepustakaan), baik berupa buku, catatan, maupun laporan hasil penelitian dari peneliti terdahulu.
3) Penelitian Laboratorium (Laboratory Research)
Penelitian laboratorium adalah penelitian yang dilaksanakan pada tempat tertentu (laboratorium) dan biasanya bersifat eksperimen atau percobaan

JENIS PENELITIAN BERDASARKAN SIFAT PERMASALAHANNYA (skripsi dan tesis)

 

Margono (2009;6) menyatakan bahwa tugas penelitian yaitu untuk memberikan, menerangkan dan meramalkan dan  mengatasi permasalahan atau persoalan-persoalan, maka penelitian dapat digolongkan pula dari sudut pandang ini. Berdasarkan penggolongan dapat dipilih rencana penelitian yang sesuai. Ada 8 jenis penelitian itu, yakni:

1)   Penelitian Historis

Penelitian ditunjukan kepada rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif memahami peristiwa-peristiwa masa lampau itu. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini sukar dikendalikan. Maka tingkat  kepastian pemecahan dengan metode ini pasti rendah. Data yang dikumpulkan biasanya berupa hasil pengamatan orang, seperti surat-surat, arsip dan dokumen-dokumen masa lalu. Penelitian seperti ini bila ditunjukan kepada kehidupan pribadi seseorang maka penelitian disebut penelitian biografi. Kekhususan penelitian ini adalah:

  1. Data yang dikumpulkan diambil dari hasil observasi orang lain.
  2. Data yang baik adalah data yang otentik, tepat dan dari sumber-sumber penting.
  3. Penelitian dilakukan dengan tertib, sistematis, objektif dan tuntas.
  4. Data yang dikumpulkan dari sumber primer, yaitu langsung melakukan observasi atas peristiwa-peristiwa yang dilaporkan.
  5. Data yang berbobot adalah data yang diuji secara eksternal dan internal.

2)   Penelitian Deskripsi

Penelitian deskripsi berusaha memberikan dengan sistematis dan cermat serta fakta-fakta aktual dan sifat populasi tertentu. Kekhususan penelitian ini adalah:

  1. Bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah aktual yang dihadapi sekarang.
  2. Bertujuan untuk mengumpulkan data atau informasi untuk disusun, dijelaskan dan dianalisis.

3)   Penelitian Perkembangan

Penelitian ini menyelidiki pola dan proses pertumbuhan dan perubahan sesuai dengan fungsi waktu. Kekhususan penelitian ini adalah:

  1. Memusatkan perhatian pada ubahan-ubahan tertentu dan perkembangannya selama jangka waktu tertentu.
  2. Penelitian ini biasanya memakai waktu yang panjang atau bersifat longitudinal.

4)   Penelitian Kasus atau Penelitian Lapangan

Penelitian kasus memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan terperinci mengenai latar belakang keadaan sekarang yang dipermasalahkan. Kekhususan penelitian ini adalah:

  1. Subjek yang diteliti terdiri dari suatu kesatuan (unit) secara mendalam, sehingga hasilnya merupakan suatu gambaran lengkap atas kasus pada unit itu.
  2. Selain penelitian hanya pada suatu unit, ubahan-ubahan yang diteliti juga terbatas, dari ubahan-ubahan yang lebih besar jumlahnya, yang berpusat pada aspek yang menjadi kasus.

5)   Penelitian Korelasional

Penelitian ini bertujuan melihat hubungan antara dua gejala atau lebih. Misalnya, apakah ada hubungan antara status sosial orang tua siswa dengan prestasi anak mereka. Kekhususan penelitian ini adalah:

  1. Gejala-gejala yang diteliti pelik, tidak dapat dikontrol sehingga tidak dapat dieksperimenkan.
  2. Ubahan-ubahan yang akan diukur ada hubungannya serentak muncul dalam kenyataan.
  3. Korelasi yang akan diukur adalah tingkat tinggi rendahnya hubungan bukan ada tidaknya hubungan.

6)   Penelitian Hubungan Sebab-Akibat

Penelitian untuk menyelidiki hubungan sebab-akibat antara faktor tertentu yang mungkin menjadi penyebab gejala yang diselidiki.

Misalnya: sikap santun siswa dalam kegiatan belajar, mungkin dikarenakan banyaknya lulusan tertentu yang tidak mendapakkan lapangan kerja. Kekhususan penelitian ini adalah:

  1. Penelitian bersifat ex post fakto.
  2. Suatu gejala yang diamati diusut kembali dari suatu faktor atau beberapa faktor pada masa lampau.

7)   Penelitian Eksperimen

Penelitian ini dilakukan dengan melakukan percobaan terhadap kelompok-kelompok eksperimen. Kepada tiap kelompok eksperimen dikenakan perlakuan tertentu dengan kondisi-kondisi yang dapat dikontrol. Kekhususan penelitian ini adalah:

  1. Di dalam eksperimen terdapat kelompok yang dikenal perlakuan eksperimental dan kelompok yang dikenal perlakuan pembanding.
  2. Menggunkan sedikitnya dua kelompok eksperimen.
  3. Harus memperhatikan benar-benar perbedaan pengaruh yang diakibatkan oleh perlakuan eksperimental dengan perlakuan pembanding.
  4. Menggunakan agar pengaruh perlakuan eksperimen maksimal dan pengaruh ubahan penyangga menjadi minimal.

 

8)   Penelitian Tindakan

Penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan baru untuk mengatasi kebutuhan dalam dunia kerja atau bidang praktis lain. Misalnya: penelitian  keterampilan  kerja yang sesuai bagi siswa yang putus sekolah di suatu daerah. Kekhususan penelitian ini adalah:

  1. Disiapkan untuk kebutuhan praktis yang berkaitan dangan dunia kerja.
  2. Penelitian didasarkan pada pengamatan aktual dan data tingkah laku.
  3. Bersifat fleksibel.

 

 

 

 

JENIS PENELITIANNYA BERDASARKAN  TINGKAT KEDALAMAN ANALISIS DATA PENELITIAN (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan tingkat kedalaman analisis data penelitian, dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:

1) Penelitian Deskriptif

Penelitian yang analisis datanya hanya sampai pada deskripsi variabel satu demi satu. Deskripsi berarti pemberian secara sistematik dan faktual tentang sifat-sifat tertentu populasi tertentu (Hadeli, 2006;11).

2) Penelitian Eksplanatori

Penelitian yang analisis datanya sampai pada menentukan  hubungan variabel dengan variabel lainnya.

 

JENIS PENELITIANNYA BERDASARKAN TINGKAT EKSPLANASI (skripsi dan tesis)

 

Menurut tingkat ekplanasi (penjelasannya) penelitian dapat dibedakan menjadi:

1)   Penelitian Deskriptif

Penelitian deskriptif adalah penelitian yang mengumpulkan data untuk menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan penelitian mengenai status terakhir dari subyek penelitian. Penelitian deskriptif berusaha untuk memperoleh deskriptif lengkap dan akurat dari suatu situasi. Kelemahan utama penelitian deskriptif adalah kurangnya tanggapan subyek penelitian. Contoh: Penelitian disiplin kerja pegawai negeri setelah otonomi daerah, penelitian profit guru yang profesional, penelitian, kesiapan sekolah melaksanakan manajemen berbasis sekolah, kesiapan  sekolah melaksanakan KBK, dan lain-lain.

2)   Penelitian Korelasional (Hubungan)

Penelitian korelasional (hubungan) adalah penelitian yang bertujuan untuk menemukan  apakah  terdapat hubungan antara dua variabel atau lebih, serta seberapa besar korelasi dan yang ada diantara variabel yang diteliti. Penelitian korelasional tidak  menjawab sebab akibat, tetapi hanya menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antara variabel yang diteliti.

3)   Penelitian Komparatif

Penelitian komparatif adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan. Contoh: penelitian  tentang adakah  perbedaan kemampuan kerja antara lulusan SMK dengan lulusan SMU, penelitian tentang adakah perbedaan hasil belajar antara strategi belajar A dengan strategi belajar B, penelitian tentang tingkat kesiapan sekolah negeri dan sekolah swasta dalam melaksanakan manajemen berbasis sekolah.

 

 

MANFAAT PENELITIAN TINDAKAN KELAS (skripsi dan tesis)

sejumlah manfaat PTK antara lain sebagai berikut.

  1. Menghasilkan laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan bagi para pendidik (guru) untuk meningkatkan kulitas pembelajaran. Selain itu hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat dijadikan sebagai bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan antara lain disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah.
  2. Menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, dan atau tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah di kalangan pendidik. Hal ini ikut mendukung professionalisme dan karir pendidik.
  3. Mewujudkan kerja sama, kaloborasi, dan atau sinergi antarpendidik dalam satu sekolah atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah dalam pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran.
  4. Meningkatkan kemampuan pendidik dalam upaya menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal, sekolah, dan kelas. Hal ini turut memperkuat relevansi pembelajaran bagi kebutuhan peserta didik.
  5. Memupuk dan meningkatkan keterlibatan, kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, dan kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Di samping itu, hasil belajar siswa pun dapat meningkat.
  6. Mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menantang, nyaman, menyenangkan, serta melibatkan siswa karena strategi, metode, teknik, dan atau media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara sungguh-sungguh.

 

JENIS PENELITIAN  BERDASARKAN JENIS DATA DAN ANALISISNYA (skripsi dan tesis)

1)   Penelitian Kualitatif

Penelitian Kualitatif adalah penelitian yang datanya adalah data kualitatif sehingga analisisnya juga analisis kualitatif (deskriptif). senada dengan pendapat tersebut sukmadinata (2009;18) berpendapat bahwa data kualitatif adalah data dalam bentuk kata, kalimat, dan gambar. Data kualitatif dapat diubah menjadi data kuantitatif dengan jalan diskoring. Contoh data kualitatif adalah manis, pahit, rusak, gagal, baik sekali, baik, kurang baik, tidak baik, atau  sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju, selalu, sering, kadang-kadang, jarang, dan  tidak pernah.

2)   Penelitian Kuantitatif

Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang datanya merupakan data kuantitatif sehingga analisis datanya menggunakan analisis kuantitatif (inferensi). Data kuantitatif adalah dalam bentuk angka, atau data kualitatif yang diangkakan seperti: 1, 2, 3, 4, … dst, atau skor 5 = selalu, skor 4 = sering, skor 3 = kadang-kadang, skor 2 = jarang, dan skor 1 = tidak pernah

Data kuantitatif dibedakan menjadi data diskrit atau nominal dan data kontinum. Data nominal adalah data dalam bentuk kategori atau diskrit.

3)   Penelitian Gabungan Kualitatif dan Kuantitatif

Penelitian gabungan kualitatif dan kuantitatif adalah penelitian yang datanya terdiri dari data kualitatif dan data kuantitatif sehingga analisis datanya pun menggunakan analisis data kualitatif dan analisis data kuantitatif.

 

JENIS PENELITIAN BERDASARKAN PENGGUNAANNYA (skripsi dan tesis)

 Jenis penelitian bila dilihat dari segi penggunaannya dapat digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu:

1)   Penelitian Dasar atau Penelitian Murni

LIPI memberi definisi penelitian dasar adalah setiap penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan ilmiah atau untuk menemukan  bidang penelitian baru tanpa suatu tujuan praktis tertentu. Artinya kegunaan hasil penelitian tidak segera dipakai, namun untuk waktu jangka panjang akan segera dipakai.

Gay (dalam Sugiyono, 2009) menyatakan bahwa penelitian dasar bertujuan untuk mengembangkan teori dan tidak memperhatikan kegunaan yang langsung bersifat praktis. Senada dengan pendapat tersebut, Suriasumantri (dalam Sugiyono, 2009;9) berpendapat bahwa penelitian dasar atau murni adalah  penelitian yang bertujuan  menemukan  pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diketahui.

2)   Penelitian Terapan

Batasan yang diberikan LIPI bahwa setiap penelitian  terapan  adalah setiap penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ilmiah dengan suatu tujuan praktis. Berarti hasilnya diharapkan segera dapat dipakai untuk keperluan praktis. Misalnya penelitian untuk menunjang kegiatan pembangunan yang sedang berjalan, penelitian untuk melandasi kebijakan pengambilan keputusan atau administrator.

Senada dengan pendapat tersebut, Gay (dalam Sugiyono, 2009;9) berpendapat bahwa penelitian terapan adalah penelitian yang dilakukan dengan tujuan menerapkan, menguji dan mengevaluasi kemampuan suatu teori yang diterapkan dalam memecahkan masalah-masalah praktis. Suriasumantri (dalam Sugiyono, 2009;9) menyatakan bahwa penelitian terapan bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan praktis. Sehingga, hubungan penelitian murni dan penelitian terapan sangat erat, karena penelitian murni/dasar berkenaan dengan penemuan dan pengembangan ilmu, setelah ilmu tersebut digunakan untuk memecahkan masalah, maka penelitian tersebut akan menjadi penelitian terapan.

Koefisien determinasi (R2) (skripsi dan tesis)

Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel independen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.
Kelemahan mendasar penggunaan koefisien determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. Setiap tambahan satu variabel independen, maka R2 akan meningkat, tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan Adjusted R2.
Dengan menggunakan nilai Adjusted R2, dapat dievaluasi model regresi mana yang terbaik. Tidak seperti nilai R2, nilai Adjusted R2 dapat naik atau turun apabila satu variabel independen ditambahkan ke dalam model. Dalam kenyataan, nilai Adjusted R2 dapat bernilai negatif, walaupun yang dikehendaki harus bernilai positif. Menurut Gujarati (dikutip oleh Ghozali, 2005), jika dalam uji empiris didapatkan nilai Adjusted R2 negatif, maka nilai Adjusted R2 dianggap bernilai nol. Secara matematis jika nilai R2 = 1, maka Adjusted R2 = R2 = 1 sedangkan jika nilai R2 = 0, maka adjusted R2 = (1 – K)/(n – k). Jika k >1, maka adjusted R2 akan benilai negatif.

Uji statistik t (skripsi dan tesis)

Uji t digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh secara linier antara variabel bebas dan variabel terikat.
1. Jika t hitung < t tabel maka Ho ditolak dan menerima Ha, artinya tidak ada pengaruh antara variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat.
2. Jika t hitung > t tabel maka Ho ditolak dan menerima Ha, artinya ada pengaruh antara variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat. Uji t dapat dilakukan hanya dengan melihat nilai signifikansi t masing-masing variabel yang terdapat pada output hasil analisis regresi yang menggunakan versi 13.0. jika angka signifikansi t lebih kecil dari α (0,05) maka dapat dikatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara variable bebas terhadap variabel terikat.

Uji statistik F (skripsi dan tesis)

Uji F digunakan untuk menguji signifikasi koefisien regresi secara keseluruhan dan pengaruh variabel bebas secara bersama-sama.
1. Apabila F hitung < F tabel maka Ha diterima dan Ho ditolak artinya tidak ada pengaruh antara variabel bebas secara simultan terhadap variabel terikat.
2. Apabila Fhitung > F tabel maka Ha diterima dan Ho ditolak artinya ada pengaruh antara variabel bebas secara simultan terhadap variabel
terikat. Uji F dapat dilakukan hanya dengan melihat nilai signifikansi F yang terdapat pada output hasil analisis regresi yang menggunakan versi 17.0. jika angka signifikansi F lebih kecil dari α (0,05) maka dapat dikatakan bahwa adapengaruh yang signifikan antara variabel bebas terhadap variabel terikat secara simultan.

Uji Heterokedastisitas (skripsi dan tesis)

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas.
Untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas akan dilakukan melalui penglihatan grafik plot antar nilai prediksi variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID. Deteksi dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED. Dasar pengambilan keputusan sebagai berikut (Ghozali, 2005) :
1. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka) pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
Analisis dengan menggunakan plots memiliki kelemahan yang cukup signifikan oleh karena jumlah pengamatan mempengaruhi hasil ploting. Semakin sedikit jumlah pengamatan semakin sulit menginterpretasikan hasil grafik plot. Oleh sebab itu diperlukan uji statistik yang dapat menjamin keakuratan hasil.
Salah satu uji statistik yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas adalah Uji Park. Jika variabel independen signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen, maka ada indikasi terjadi Heteroskedastisitas. Apabila probabilitas signifikansinya diatas tingkat kepercayaan 5%, maka tidak ada satupun variabel independen yang signifikan secara statistik mempengaruhi variabel nilai Absolut Ut (AbsUt) (Gozali, 2005)

Uji Normalitas (skripsi dan tesis)

Uji normalitas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel bebas dan variabel terikat keduanya memiliki distribusi normal atau tidak (Ghozali, 2005). Model regresi yang baik adalah memiliki data berdistribusi normal. Untuk menguji apakah terdapat distribusi yang normal atau tidak dalam model regresi maka digunakanlah uji Kolmogorof Smirnov dan analisis grafik.
Dasar pengambilan keputusan analisis statistik dengan Kolmogorov-Smirnov Z (1-Sample K-S) adalah (Ghozali, 2005):
1. Apabila nilai Asymp. Sig. (2-tailed) kurang dari 0,05, maka Ho ditolak. Hal ini berarti data residual terdistribusi tidak normal.
2. Apabila nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih besar dari 0,05, maka Ho diterima. Hal ini berarti data residual terdistribusi normal.
Dasar pengambilan keputusan dengan analisis grafik adalah (Ghozali, 2005):
1. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2. Jika data menyebar jauh dari diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya tidak menunjukkan pola
distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas

Pengertian Rumusan Masalah (skripsi dan tesis)

 Rumusan masalah dalam sebuah proposal penelitian adalah hal paling mendasar. Rumusan masalah akan menjadi penentu apa bahasan yang akan dilakukan dalam penelitian tersebut. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam perumusan masalah, kemudian akan dijawab dalam proses penelitian dan tertuang secara sistematis dalam laporan penelitian. Semua bahasan dalam laporan penelitian, termasuk juga semua bahasan mengenai kerangka teori dan metodologi yang digunakan, semuanya mengacu pada perumusan masalah. Oleh karena itu, ia menjadi titik sentral. Disinilah fokus utama yang akan menentukan arah penelitian (Yenrizal, 2012).
Ada beberapa para ahli mendefinisikan tentang rumusan masalah, diantaranya:
  • Menurut Pariata Westra (1981 : 263 ) bahwa “Suatu masalah yang terjadi apabila seseorang berusaha mencoba suatu tujuan atau percobaannya yang pertama untuk mencapai tujuan itu hingga berhasil.”
  • Menurut Sutrisno Hadi ( 1973 : 3 ) “Masalah adalah kejadian yang menimbulkan pertanyaan kenapa dan kenapa”.

Rumusan masalah itu merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data bentuk-bentuk rumusan masalah penelitian ini berdasarkan penelitian menurut tingkat eksplanasi (Sugiyono).

Tujuan Rumusan Masalah (skripsi dan tesis)

 

Prosesi penyelesaian dalam rumusan masalah berkaiatan erat dengan keapikan yang ada dalam karya tulis. Rumusan ini sendiri memiliki fungsi dan tujuan, diantarnya;

 

Menjadi Alasan

Tujuan pembuatan dalam perumusan masalah ialah menjadi alasan mengapa penelitian dilakukan, dengan bentuk sejumlah pertanyaan secara langsung menjadi  alasa para pembaca mengentai gagasan yang disampaikannya, meskipun singkat.

 

Pedoman

Tujuan batasan rumusan masalah ialah menjadi pedoman yang dilakukan oleh penulis dalam menyelesaikan karya tulisnya. Baik skripsi ataupun makalah proses ini berkaiatan erat dengan jawaban yang akan disampaikan dalam bab selanjutnya, yakni pembahasan atau isi.

 

Menentukan Jenis Data

Langkah pembuatan rumusan masalah yang lainnya bertujuan untuk mentukan instrumen penelitian, selain itu pertanyaan dalam rumusan masalah juga akan bisa memilah dan meilih antar teknik analisis data yang diperlukan, misalnya menggunakan penelitian kualitataif ataupun mempergunakan penelitian kualitataif.

 

Mempermudah Penetuan Populasi dan Sempel

Manfaat yang di dapakan dari perumusan masalah ialah mampu memberikan penentuan populasi dan sempel. Hal ini berhubungan erat dengan keadaan dan kondisi penelitian yang akan dilakukan, oleh karena itulah bagi siapapun yang ingin menyelesaikan penelitian haruslah menyertakan rumusan masalah.

 

Dari sejumlah pembahasan mengenai pengertian, jenis, dan tujuan rumusan masalah secara umum dapat disimpukan bahwa pembuatan rumusan permasalahan ini sangat diperlukan bagi siapapun yan ingin membuat karya tulis, baik dalam skripsi, essay, makalah, proposal penelitian, ataupun dalam contoh karya tulis lainnya.

Pengertian Rumusan Masalah (skripsi dan tesis)

Pengertian rumusan masalah adalah tulisan singkat yang berada di bagian pembukaan karya tulis, bagian ini menjelaskan secara terperinci mengenai fenomena sosial yang terjadi dalam sejumlah pertanyaan-pertanyaan tertentu.

Dalam definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwanya proses pembuatan  rumusan masalah berkaitan erat dengan pembahasan dalam karya tulis, tidak boleh ada penyimpangan, hal ini di dasarkan untuk mempermudah pembaca makalah atau laporan penelitian untuk menemukan garis besar karya yang akan diselesaikan.

Fungsi Rumusan Masalah (skripsi dan tesis)

Perumusan masalah memiliki fungsi sebagai berikut:

  1. Sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat dilakukan.
  2. Sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian. Perumusan masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat berkembang dan berubah setelah peneliti sampai di lapangan.
  3. Sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang tidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena melalui perumusan masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya.
  4. Dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian.

Rumusan Masalah Penelitian yang Baik (skripsi dan tesis)

 

Rumusan masalah penelitian yang baik, antara lain:

  1. Bersifat orisinil, belum ada atau belum banyak orang lain yang meneliti masalah tersebut.
  2. Dapat berguna bagi kepentingan ilmu pengetahuan dan terhadap masyarakat.
  3. Dapat diperoleh dengan cara-cara ilmiah.
  4. Jelas dan padat, jangan ada penafsiran yang lain terhadap masalah tersebut.
  5. Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya.
  6. Bersifat etis, artinya tidak bertentangan atau menyinggung adat istiadat, ideologi, dan kepercayaan agama.
  7. Masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.
  8. Rumusan masalah harus jelas, padat, dan dapat dipahami oleh orang lain.
  9. Rumusan masalah harus mengandung unsure data yang mendukung pemecahan masalah penelitian.
  10. Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam membuat kesimpulan sementara (hipotesis).
  11. Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian

LANGKAH – LANGKAH DALAM MEMBUAT SUATU RUMUSAN MASALAH (skripsi dan tesis)

 

Adapun langkah – langkah dalam membuat suatu rumusan masalah adalah sebagai berikut :

 

Menulis Rumusan Masalah Sendiri. Jelaskan keadaan “ideal”. Ada banyak cara yang berbeda untuk menulis rumusan masalah — beberapa sumber referensi merekomendasikan untuk langsung membahas masalah itu sendiri, sementara sumber lainnya merekomendasikan memberikan konteks latar belakang terlebih dahulu agar masalah (dan solusinya) lebih mudah untuk dipahami oleh pembaca. Jika Anda begitu tidak yakin bagaimana harus memulai, pilihlah opsi kedua. Walaupun keringkasan adalah sesuatu yang harus ditujukan oleh setiap tulisan yang praktis, pemahaman yang baik lebih penting lagi. Mulailah dengan menjelaskan bagaimana seharusnya hal-hal bekerja. Sebelum Anda menyebutkan masalah Anda, jelaskan dalam beberapa kalimat bagaimana berlangsungnya hal-hal jika tidak ada masalah.

Pertanggungjawabkan pernyataan Anda. Tidak peduli berapa banyak uang yang Anda klaim dikuras masalah Anda terhadap perusahaan Anda, jika Anda tidak dapat mempertanggungjawabkan klaim Anda dengan bukti yang masuk akal, Anda mungkin tidak dianggap serius. Segera setelah Anda mulai membuat klaim spesifik tentang seberapa serius masalah Anda, Anda harus mulai mendukung pernyataan Anda dengan bukti. Dalam beberapa kasus, ini mungkin dari penelitian Anda sendiri, dari data dari penelitian atau proyek terkait, atau bahkan dari sumber pihak ketiga terkemuka.

Usulkan solusi. Ketika Anda sudah menjelaskan apa masalahnya dan mengapa begitu penting, lanjutkan menjelaskan bagaimana Anda mengusulkan untuk mengurusnya. Seperti dengan pernyataan awal dari masalah Anda, penjelasan solusi Anda harus ditulis agar sejelas dan seringkas mungkin. Tetaplah pada konsep-konsep besar, penting, konkret dan tinggalkan rincian kecil untuk nanti — Anda akan memiliki banyak kesempatan untuk masuk ke setiap aspek kecil dari solusi yang Anda usulkan dalam badan proposal Anda.

Jelaskan manfaat dari solusi. Sekali lagi, sekarang Anda sudah memberitahu pembaca Anda apa yang harus dilakukan soal masalah ini, ide yang sangat baik adalah menjelaskan mengapa solusi ini adalah ide yang baik. Karena bisnis selalu berusaha untuk meningkatkan efisiensi dan mendapatkan lebih banyak uang, Anda akan ingin fokus terutama pada dampak keuangan dari solusi Anda — biaya yang mana yang akan terkurangi, bentuk-bentuk baru dari pendapatan yang bagaimana yang akan dihasilkan, dan sebagainya. Anda juga bisa menjelaskan manfaat non-nyata, seperti kepuasan pelanggan yang meningkat, tetapi penjelasan total tidak boleh lebih panjang dari beberapa kalimat untuk satu paragraf.

Simpulkan dengan meringkas masalah dan solusi. Setelah Anda telah mempresentasikan visi ideal untuk perusahaan Anda, mengidentifikasi masalah yang menhalangi Anda dari mencapai idealisme ini, dan menyarankan solusi, Anda hampir selesai. Yang tersisa untuk dilakukan adalah menyimpulkan dengan ringkasan argumen utama Anda yang memungkinkan Anda dengan mudah transisi ke dalam tubuh utama dari proposal Anda. Tidak perlu untuk membuat kesimpulan ini lagi daripada yang seperlunya — cobalah untuk menyatakan, hanya dalam beberapa kalimat, inti dasar dari apa yang telah dijelaskan dalam pernyataan masalah Anda dan pendekatan yang Anda niatkan untuk diambil dalam badan artikel.

Ingat “lima W”. Rumusan masalah harus seinformatif mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin, tetapi tidak harus menyelidiki rincian kecil. Jika Anda pernah ragu-ragu tentang apa yang harus disertakan dalam rumusan masalah Anda, ide yang cerdas adalah mencoba untuk menjawab lima W (siapa/who, apa/what, di mana/where, kapan/when, dan mengapa/why), plus bagaimana/how. Mengatasi lima W memberikan pembaca Anda pengetahuan tingkat dasar yang baik untuk memahami masalah dan solusi tanpa merantau ke tingkat detail yang tidak perlu.

Selalu mengoreksi kesalahan. Ini merupakan keharusan untuk semua bentuk tulisan yang serius — tidak ada draft pertama sepanjang sejarah yang tidak bisa memperoleh keuntungan dari mata yang hati-hati dan dari pengkoreksi yang baik. Setelah Anda menyelesaikan rumusan masalah Anda, bacalah dengan cepat. Apakah “alurnya” tampak benar? Apakah menyajikan ide-idenya dengan koheren? Apakah tampaknya teratur dengan logis? Jika tidak, buat perubahan ini sekarang. Saat Anda akhirnya puas dengan struktur rumusan masalah Anda, periksa ejaan, tata bahasa, dan kesalahan format.

JENIS RUMUSAN MASALAH (skripsi dan tesis)

  1. Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri). Jadi dalam penelitian ini peneliti tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel yang lain dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel yang lain.
  2. Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda.
  3. Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Terdapat tiga bentuk hubungan yaitu: hubungan simetris, hubungan kausal, dan interaktif.

Pengertian Rumusan Masalah (skripsi dan tesis)

Rumusan masalah adalah tulisan singkat berupa pertanyaan yang biasanya terletak di awal laporan atau proposal dan biasanya terletak setelah latar belakang yang dijelaskan dalam laporan tersebut. Rumusan masalah digunakan untuk menjelaskan masalah atau isu yang dibahas dokumen tersebut kepada para pembaca. Secara umum, suatu rumusan masalah akan menggarisbawahi fakta-fakta dasar dari masalahnya, menjelaskan alasan masalah itu penting, dan menentukan solusi secepat dan selangsung mungkin. Rumusan masalah sering digunakan di dunia bisnis untuk kepentingan perencanaan tapi dapat juga diperlukan dalam situasi akademis sebagai bagian dari laporan yang bergaya seperti laporan atau proyek tulisan.

Analisis Faktor (skripsi dan tesis)

 

Analisis faktor adalah analisis untuk menyederhanakan variabel-variabel observasi yang kompleks dan saling berhubungan menjadi faktor bersama (common factor). (Dillon dan Goldstein, 1984) Sedangkan menurut Simamora (2005), analisis faktor menganalisis interaksi antar variabel. Semua variabel berstatus sama, tidak ada variabel dependen yang menjadi perdiktor bagi variabel dependen. Variabel-variabel yang di observasi disebut sebagai variabel manifes dan faktor-faktor bersama yang didapatkan disebut sebagai variabel laten

Semisal suatu obyek penelitian memiliki 9 (X1-Xn) variabel atau dimensi yang mejelaskannya, maka analisis faktor akan meringkas informasi yang mempunyai banyak variabel menjadi beberapa kelompok faktor atau dimensi. Dalam Gambar 3.4. dicontohkan dirangkum menjadi 3 kelompok faktor. Selain itu analisis faktor juga digunakan untuk mengurangi korelasi tinggi antar variabel, sehingga variabel-variabel yang dianalisis adalah variabel yang tidak saling berkorelasi.

Kegunaan analisis faktor adalah: (Simamora, 2005)

  1. Mengidentifikasi struktur hubungan antar variabel maupun antar responden.
  2. Mengurangi data atau reduksi data sehingga yang dimunculkan adalah dimensi-dimensi dominan saja dari suatu variable.
  3. Dapat dikombinasikan dengan analisis lain seperti analisis klaster.

Sehingga analisis fakor dirumuskan sebagai berikut:

Semisal ada beberapa variabel Y1,Y2,Y3, dan seterusnya

Y1 = X11F1 + X12F2 + . . . + X1mFm,

Y2 = X21F1 + X22F2 + . . . + X2mFm,

Y3 = X31F1 + X32F2 + . . . + X3mFm,

. . .

. . .

Yn = n1F1 + n2F2 + . . . + nmFm,

Dimana:

Y = adalah variabel dengan data yang diketahui

X = sebuah konstanta

F = Fungsi dari variabel yang tidak diketahui.

Hal yang harus diingat adalah bahwa dalam analisis faktor F adalah fungsi tertentu dan bukanya variabel tertentu. Melalui analisis faktor dengan data yang dipunyai oleh variabel Y maka kita dapat mendefinisikan fungsi-fungsi F yang tidak diketahui. Loading faktor (X) adalah sebuah konstanta yang menggambarkan seberapa besar hubungan fungsi F terhadap Y. Secara umum persamaan analisis faktor adalah: (Simamora, 2005)

Y = X1F1 + X2F2 + . . . + XmFm,

Dimana:

Y                   = adalah variabel dengan data yang diketahui

X1,X2,…Xm  = sebuah konstanta

F1,F2,…. Fm = Fungsi dari variabel yang tidak diketahui.

Aplikasi analisis faktor terhadap kasus nyata dapat diilustrasikan sebagai berikut, misalkan seorang psikolog mengajukan sebuah teori bahwa terdapat dua jenis kecerdasan, yaitu kecerdasan verbal dan kecerdasan matematis. Oleh karena itu dilakukan penelitian terhadap 1000 orang siswa pada 10 bidang studi yang berbeda. Jika setiap resonden siswa dipilih secara acak dari populasinya, maka setiap skor 10 siswa adalah merupakan variabel acak. Psikolog tersebut dapat berkesimpulan bahwa untuk setiap 10 subyek, skor mereka merupakan rata-rata dari seluruh populasi yang memiliki kombinasi nilai yang sama dari kecerdasan verbal dan matematis dalam bentuk suatu persamaan linear dengan beberapa konstanta.(www.wikipedia.org)

Angka (konstanta) yang digunakan untuk dikalikan dengan nilai kecerdasan verbal dan matematis untuk mendapatkan skor yang diinginkan disebut sebagai  factor loadings (faktor pembeban) untuk subyek tersebut. Sebagai contoh, teori yang diajukan psikolog ini dapat saja berkesimpulan bahwa kemampuan rata-rata siswa dalam bidang biologi adalah:

{ 10 × kecerdasan verbal siswa} + { 6 × kecerdasan matematis siswa}.

Angka 10 dan 6 inilah yang merupakan factor loadings yang berkaitan dengan kemampuan Biologi siswa, sedangkan bidang studi lain akan memiliki factor loading yang berbeda.

Salah satu statistik kunci yang relevan dengan analisis faktor adalah Kaiser Meyer Olkin (KMO) measure of sampling adequacy (MSA), merupakan suatu indeks yang dipergunakan untuk meneliti keteoatan analisis faktor. Nilai tinggi antara 0,5-1,0 berarti analisis faktor tepat, kalau kurang dari 0,5 analisis faktor dikatakan tidak tepat (Supranto, 2004)

Measure of Sampling Adequacy (MSA) digunakan untuk menyeleksi variabel dalam analisis faktor sehingga variabel dengan nilai MSA dibawah 0.5 (memiliki korelasi yang lemah dengan variabel lainnya) harus dikeluarkan satu persatu dari analisis faktor. (Santoso, 2004)

 

Komponen Dalam Analisis Kualitatif (skripsi dan tesis)

Komponen-komponen yang perlu ada dalam analisis data antara lain:

  1. Pemrosesan Satuan

Pemrosesan satuan terdiri atas tipologi satuan dan penyusunan satuan.

  1. Tipologi satuan, satuan suatu latar social yang berfungsi untuk menentukan dan mendefinisikan kakegori. Patton membedakan jenis tipe satuan menjadi tipe asli yang menggunakan perspektif emik dalam antropologi, dan tipe hasil konstruksi analis yang digunakan subyek untuk merinci kompleksitas kenyataan dalam bagian- bagian.
  2. Penyusunan satuan,yaitu pemasukan data ke dalam kartu indeks dan hendaknya dapat dipahami oleh orang lain.   
  3. Kategorisasi
  4. Fungsi dan prinsip kategorisasi, tugas pokoknya adalah mengelompokkan, merumuskan dan menjaga agar setiap kategori yang disusun mengikuti prinsip taat asas.
  5. Langkah-langkah kategorisasi, metode yang digunakan berdasar atas metode analisis komperatif.
  6. Penafsiran Data
  7. Tujuannya meliputi tujuan deskriptif semata-mata (menerima dan menggunakan teori yang sudah ada), tujuan deskriptif analitik (pengembangan kategori dan hubungan yang muncul dari data) dan tujuan teoti substantive (gabungan teori untuk mendapat teori yang baru).
  8. Proses umum dan penafsiran data, yaitu menuliskan teori dengan bahasa disiplin sendiri dengan metode tertentu.
  9. Peranan hubungan kunci dalan pehafsiran data,yaitu suatu metafora, model, kerangka umum, pola yang menolak atau garis riwayat sebagai aturan untuk digunakan sebagai criteria inklusi-ekslusi.
  10. Peranan interogasi terhadap data, yaitu mengajukan seperangkat pertanyaan pada data sehingga terungkaplah banyak persoalan dari data itu sendiri.
  11. Langkah-langkah penafsiran data dengan menggunakan metode analisis komparatif dalam rangka penyusunan teori substantif.

Cara Pengodean (coding) Dalam Kualitatif (skripsi dan tesis)

Menurut Mc Millian dan Schumacher (2001:467-468), seorang peneliti
ketika melakukan pengodean menggunakan salah satu sistem pengklasifikasian sebagai berikut :
1.Membagi-bagikan data pada muatan unit-unit yang disebut topik (kurang lebih 25-30) dan mengelompokkan topik-topik ke dalam kumpulan data yang
lebih besar untuk membentuk kategori; atau
2.Memulai dengan kategori-kategori
yang ditentukan sebelumnya (tidak lebih dari 4-5) lalu memecah
kategori menjadi sukategori yang lebih kecil; atau
3. Mengombinasikan strategi-strategi dengan
menggunakan beberapa kategori yang ditentukan sebelumnya dan
menambahkan kategori-kategori yang baru ditemukan.

Batasan Pengodean (coding) (skripsi dan tesis)

Setelah data lapangan kita telaah dan analisis awal, maka proses yang
juga seiringan dilakukan adalah pengodean (coding). Pengodean menurut Mc
Millian dan Schumacher (2001:467) adalah proses membagi data ke dalam
bagian-bagian sistem klasifikasi. (Coding is a process of dividing data into parts by classification system). Sedangkan menurut Miles dan Huberman,1994:65) dalam Alwasilah (2002:230), kode adalah “efficient data-labelling and data-retrieval devices”.
Menurut Lofland (1977) dalam Alwasilah(2002:230), ada enam fenomena
yang dapat dijadikan kode dalam penelitian kualitatif :
1. Tindakan (acts), yaitu hal yang terjadi pada waktu relatif singkat seperti
memulai pelajaran, mengucapkan salam, atau memanggil siswa.
2. Aktivitas (activities), yaitu hal yang terjadi dalam satu periode dan
merupakan unsur penting dalam partisipasi sosial, misalnya diskusi
kelas, presentasi di depan kelas,dll.
3. Makna (meanings), yaitu produk ucapan (verbal) dari responden yang
membatasi atau mengarahkan kegiatan.
4. Partisipasi (patisipation), yaitu keterlibatan responden secara
keseluruhan dalam situasi yang sedang diteliti.
5. Hubungan (relationship), yaitu hubungan-hubungan antara berbagai
orang secara simultan dalam satu latar.
6. Latar (settings), yaitu latar dalam suatu studi dan dianggap sebagai satu
unit analisis.
Sedangkan menurut Bogdan dan Biklen (1992) dalam Alwasilah
(2002:230-231), batasan pengodean berkisar :
1. Setting/contex, yaitu informasi umum ihwal latar studi peneliti.
2. Definition of the situation, yaitu bagaimana responden memahami,
mendefinisikan, dan memersepsi satu latar atau topik yang sedang
peneliti pelajari.
3. Perspectives, yaitu bagaimana persepsi responden ihwal sesuatu yang
sedang peneliti pelajari.
4. Ways of thinking about people and objects, yaitu pemahaman responden
satu sama lain, orang luar, dan objek (lebih spesifik dari perspekstif di
atas).
5. Process, yaitu urutan kejadian, terutama sesuatu yang tidak terjadi.
6. Activities, yaitu jenis-jenis perilaku yang terjkadi secara rutin.
7. Events, yaitu kegiatan khusus, terutama yang tidak sering terjadi.
8. Strategies, yaitu cara melaksanakan sesuatu, taktik, dan metode yang
ditempuh responden untuk mencapai cita-citanya.
9. Relationship and social structures, yaitu pola-pola yang terdefinisikan
secara tidak resmi seperti klik, koalisi, hubungan asrama, persahabatan,
atau perseteruan.
10. Methods, yaitu problem, kesenangan, dan dilema dalam proses
penelitian—khususnya yang terkait dengan komentar dari pengamat
lapangan.
Semua data-data di atas dapat dijadikan kode, hanya saja tidak bisa
dipaksakan untuk beberapa kategori yang memang tidak cocok. Pada
kenyataannya, semakin banyak data yang diperoleh makan proses pengodean
akan semakin banyak. Oleh karena itu, semakin besar pula kemungkinan terjadi recoding atau pengode-ulangan. Selan itu, pengodean yang telah peneliti tetapkan memiliki kemungkinan akan memiliki anak kode atau sub-kode. Kode akan terus menerus digunakan sampai analisis selesai. Pengodean dihentikan jika terjadi kejenuhan dan telah terjadi keteraturan kategori (Miles dan Huberman (1994:62) dalam Alwasilah, (2002:231))

Strategi Pembuatan Nodes (skripsi dan tesis)

Apabila Anda tidak yakin, jenis Nodes apa yang seharusnya dibuat, ajukan beberapa pertanyaan tentang tujuan yang Anda ingin representasikan dalam proyek Anda lewat Nodes:

Anda sebagai hasil dari investigasi Anda sebelumnya terhadap literatur atau area utama dalam pertanyaan-pertanyaan interview Anda. Saat Anda mengelola data sumber, Anda dapat menemukan sejumlah tema atau topik yang Anda ingin tampilkan sebagai berikut:

  • Apakah Node Anda merepresentasikan sebuah entity dalam riset Anda, seperti orang atau institusi?
  • Apakah Node Anda bertujuan untuk merepresentasikan sebuah topik, tema atau kategori dalam data sumber Anda? Jika demikian, apakah ia berhubungan dengan topik, tema dan kategori lain dalam proyek Anda?
  • Apabila demikian, pertimbangkan pembuatan sebuah Tree Node; dan apabila tidak, sebaiknya Anda menggunakan Free Node.

Apakah Node Anda merepresentasikan sebuah koneksi atara item dalam proyek Anda? Apailan demikian, gunakan fasilitas ‘Relationship’ antara item-item tersebut.

http://nvivo-online.blogspot.com/2008/04/training-nvivo-4-penggunaan-nodes-dalam.html

 

Jenis-Jenis Nodes dalam N Vivo (skripsi dan tesis)

NVivo menyediakan jenis-jenis node yang berbeda-beda yang disesuaikan dengan jenis-jenis ide dan konsep yang akan Anda representasikan dalam proyek Anda:

Free Nodes dapat digunakan sebagai kontainer untuk ide-ide yang belum matang (loose ideas) yang secara konseptual tidak berhubungan dengan nodes lain dalam proyek Anda. Pada saat proyek Anda semakin berkembang, ini dapat dipindahkan ke dalam sebuah tempat dimana konsep tersusun secara sistematis dan logis dalam Tree Nodes.

Tree Nodes dapat digunakan untuk merepresentasikan konsep dan kategori dalam proyek Anda yang berhubungan secara logis sebab mereka dapat diatur dalam struktur secara hirarkis, yaitu kategori dan sub-kategori. Cases merepresentasikan entiti yang ada dalam penelitian Anda, yaitu orang, sekolah, institusi, keluarga dan lain-lain. Ini juga dapat memiliki ‘Attributes’ untuk mencatatat karakteristik entiti ini, yaitu entiti yang akan Anda pertanyakan.

Cases, sama dengan Tree Nodes, dapat disusun secara hirarkis.

Matrices dapat digunakan untuk menunjukkan bagaimana konten Nodes yang berbeda saling berhubungan satu sama lain. Matriks ini dibuat dengan cara me-querying data Anda menggunakan ‘matrix coding queries’ dan dipresentasikan dalam format tabel.

Relationships merepresentasikan hubungan yang Anda tahu atau temukan antara item dalam proyek Anda. Bisa jadi, Anda telah menentukan beberapa tema atau topik yang Anda ingin tampilkan sebagai Nodes dalam proyek Anda sebelum mengeksplorasi data sumber Nodes.

http://nvivo-online.blogspot.com/2008/04/training-nvivo-4-penggunaan-nodes-dalam.html

Pengertian Pemodelan (skripsi dan tesis)

Model dapat digunakan untuk menampilkan, mengeksplorasi, dan menjelaskan data proyek. Menciptakan sebuah model adalah untuk
menunjukkan hubungan antara berbagai item dalam sebuah proyek, misalnya: menggunakannya untuk mendemonstrasikan teori yang sedang dibangun,
isu permasalahan dalam sebuah kerja tim, atau bagaimana mendukung data dengan dugaan/hipotesa awal. Model yang diperoleh merupakan visualisasi dari konsep-konsep yang hubungannya dicari dan akan makin jelas setelah
dianalisis

Pendekatan Fenomenologi (skripsi dan tesis)

Secara harfiah, fenomenologi berasal dari kata pahainomenon dari bahasa Yunani yang berarti gejala atau segala sesuatu yang menampakkan diri. Istilah fenomena dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu fenomena itu selalu menunjuk keluar dan fenomena dari sudut pandang kesadaran kita. Oleh karena itu, dalam memandang suatu fenomena kita harus terlebih dulu melihat penyaringan atau ratio, sehingga menemukan kesadaran yang sejati.
Sejarah awal mula munculnya filsafat fenomenologi berkembang pada abad ke-15 dan ke-16. Pada masa itu, terjadi perubahan besar dalam diri manusia tentang perspektif dirinya di dunia ini. Pada abad sebelumnya, manusia selalu memandang segala hal dari sudut pandang Ketuhanan. Selanjutnya, terjadilah gelombang besar modernitas pada kala itu yang mengubah sudut pandang pemikiran tersebut. Para filsuf banyak yang menolak doktrin-doktrin Gereja dan melakukan gerakan reformasi yang disebut sebagai masa pencerahan.
Paradigma ini muncul karena timbulnya pemikiran manusia terhadap subjektivitas. Yang dimaksud dengan subjektivitas di sini bukanlah antonim dari kata objektivitas. Subjek yang dimaksud merupakan makna “aku” yang ada dalam diri manusia yang menghendaki, bertindak, dan mengerti. Menurut Suseno dikutib Mujib (2015) manusia hadir ke dunia sebagai subjek yang memiliki kesadaran diri, tak hanya hadir sebagai benda di dunia ini,
melainkan sebagai subjek yang berpikir, berefleksi, dan bertindak secara kritis dan bebas. Fenomenologi ini berasal dari filsafat yang mengelilingi kesadaran manusia yang dicetuskan oleh Edmund Husserl (18591938) seorang filsuf Jerman. Pada awalnya teori ini digunakan pada ilmu-ilmu sosial. Menurut Husserl ada beberapa definisi fenomenologi, yaitu: (1) pengalaman subjektif atau fenomenologikal, dan (2) suatu studi tentang kesadaran
dari perspektif pokok dari seseorang. Teori ini merupakan hasil dari perlawanan teori sebelumnya yang memandang sesuatu dari paradigma ketuhanan. Jadi secara sederhana, fenomenologi diartikan sebagai sebuah studi yang berupaya untuk menganalisis secara deskriptif dan introspektif tentang segala kesadaran bentuk manusia dan pengalamannya
baik dalam aspek inderawi, konseptual, moral, estetis, dan religius. Lebih lanjut, Martin Heidegger berpendapat tentang fenomenologi Husserl (dalam Mujib: 2015) bahwa manusia tidak mungkin memiliki “kesadaran” jika tidak ada “lahan kesadaran”, yaitu suatu tempat, panorama atau dunia agar “kesadaran” dapat terjadi di dalamnya yang berujung pada eksistensi yang bersifat duniawi.
Fenomenologi adalah pendekatan yang dimulai oleh Edmund Husserl dan
dikembangkan oleh Martin Heidegger untuk memahami atau mempelajari pengalaman hidup manusia. Pendekatan ini berevolusi sebuah metode penelitian kualitatif yang matang dan dewasa selama beberapa dekade pada abad ke dua puluh. Fokus umum penelitian ini untuk memeriksa/meneliti esensi atau struktur pengalaman ke dalam kesadaran manusia (Tuffour: 2017).
Definisi fenomenologi juga diutarakan oleh beberapa pakar dan peneliti dalam
studinya. Menurut Alase (2017) fenomenologi adalah sebuah metodologi kualitatif yang mengizinkan peneliti menerapkan dan mengaplikasikan kemampuan subjektivitas dan interpersonalnya dalam proses penelitian eksploratori. Kedua, definisi yang dikemukakaoleh Creswell dikutip Eddles-Hirsch (2015) yang menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah sebuah penelitian yang tertarik untuk menganalisis dan mendeskripsikan
pengalaman sebuah fenomena individu dalam dunia sehari-hari.
Ada hal yang harus diperhatikan dalam penelitian kualitatif, khususnya yang
menggunakan pendekatan fenomenologi. Banyak peneliti kontemporer yang mengklaim menggunakan pendekatan fenomenologi tetapi mereka jarang menghubungkan metodtersebut dengan prinsip dari filosofi fenomenologi (Sohn dkk: 2017). Hal ini perlu digarisbawahi agar kualitas penelitian fenomenologi yang dihasilkan memiliki nilai dan hasil standar yang tinggi. Untuk menuju ke hasil tersebut, penelitian fenomenologi harus
memperhatikan ciri-ciri yang melingkupinya, yaitu: (1) mengacu pada kenyataan, (2) memahami arti peristiwa dan keterkaitannya dengan orang-orang yang berada dalam situasi tertentu, dan (3) memulai dengan diam.
Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi juga memiliki karakteristik yang melekat di dalamnya.

Tahapan Dalam Penelitian Kualitatif (skripsi dan tesis)

Secara umum, ada beberapa tahapan yang harus dilalui dalam melakukan penelitian kualitatif. Dalam beberapa referensi, mungkin terdapat sedikit perbedaan tahapan namun pada dasarnya memliki prosedur yang sama. Menurut Newman (2014) ada beberapa tahapan dalam melakukan penelitian kualitatif, yaitu: (1) menyeleksi topik, (2) menyempitkan fokus pertanyaan artinya tahapan ini merupakan langkah krusial yang harus dilakukan agar topik yang masih luas dapat disempitkan dan lebih terfokus, (3) mendesain
penelitian, (4) mengumpulkan data, (5) menganalisis data, (6) menginterpretasi data, dan (7) publikasi atau memberikan laporan penelitian kepada orang lain.

karakteristik penelitian kualitatif (skrispi dan tesis)

Ada beberapa ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki oleh penelitian kualitatif. Menurut Litchman dikutip Putra dan Dwilestari (2016) ada sepuluh ciri-ciri penelitian kualitatif, (1) yaitu description, understanding, and interpretation, (2) dynamic, (3) no single way of doing something, (4) inductive thinking, (5) holistic, (6) variety of data in natural setting, (7) role of the researcher. (8) in-depth study, (9) words, themes, and writing, dan
(10) nonliniear. Di sisi lain, Bogdan & Biklen dikutip Putra dan Dwilestari (2016) menyebut karakteristik penelitian kualitatif adalah naturalistic, descriptive data, concern with process, inductive, dan meaning

Definisi Metode Kualitatif (skripsi dan tesis)

Ada beberapa definisi tentang metode penelitian kualitatif yang dikemukakan oleh para ahli. Penelitian kualitatif didefinisikan sebagai metodologi yang menyediakan alat-alat dalam memahami arti secara mendalam yang berkaitan dengan fenomena yang kompleks dan prosesnya dalam praktik kehidupan sosial (Denzin dan Lincoln dikutip Brady: 2015). Definisi lain juga diutarakan oleh Strauss dan Corbin (2017) bahwa penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang hasil temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik
atau bentuk hitungan lainnya. Lebih lanjut, Oun dan Bach (2014) menyebut metode kualitatif merupakan metode untuk menguji dan menjawab pertanyaan tentang bagaimana, dimana, apa, kapan, dan mengapa seseorang bertindak dengan cara-cara tertentu pada permasalahan yang spesifik.
Selanjutnya, metode kualitatif juga diartikan sebagai metode penelitian dalam
mendeskrispsikan fenomena berdasarkan sudut pandang para informan, menemukan realita yang beragam dan mengembangkan pemahaman secara holistik tentang sebuah fenomena dalam konteks tertentu (Hilal dan Alabri: 2013). Senada dengan pendapat tersebut, Rovai dikutip Almalki (2016) menyebut metode kualitatif sebagai metode yang biasanya digunakan dalam menggambarkan secara induktif, dengan asumsi yang didasarkan pada konstruk realitas sosial, variabel yang sulit diukur, kompleks dan saling
terkait, dan data yang dikumpulkan berisi tentang sudut pandang yang mendalam dari informan.
Hal senada juga dikemukakan oleh Burns dan Grove dikutip Khan (2014) yang
menyebut definisi penelitian kualitatif sebagai sebuah sistem dan pendekatan subjektif untuk menjelaskan dan menyoroti pengalaman hidup sehari-hari. Menurutnya, setelah proses tadi maka dilanjutkan dengan tahapan memberi makna pada data yang ditemukannya. Dengan pendekatan kualitatif ini, peneliti dapat mengeksplorasi secara mendalam sikap-sikap manusia, perbedaan perspektif, dan pengalaman hidup untuk menemukan kompleksitas dalam situasi melalui kerangka secara menyeluruh (holistik).
Dari berbagai definisi di atas, secara umum dapat disimpulkan bahwa tujuan penelitian kualitatif untuk mendeskripsikan sebuah fenomena tertentu. Hal ini dikuatkan oleh pendapat Nassaji (2015) yang menyebut bahwa penelitian kualitatif atau penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan sebuah fenomena dengan berbagai karakter yang melingkupinya. Lebih lanjut, Nassaji juga menyebut bahwa penelitian ini lebih mementingkan apa daripada bagaimana dan mengapa sesuatu itu terjadi. Tujaun penelitian kualitatif juga dikemukakan oleh Sani, Manurung, Suswanto, dan Sudiran (2017) yang
menyebut metode kualitatif bertujuan mengungkap fenomena yang ada serta memahami makna di balik fenomena tersebut

Penggunaan Penelitian Kualitatif (skripsi dan tesis)

Metode seharusnya dipilih berdasarkan permasalahan yang akan diteliti. Bukan dipilih pada tahap awal sebelum permasalahan penelitian ditetapkan. Metode tersebut harus dipakai karena permasalahan/fenomena tersebut harus membutuhkan pendekatan kualitatif. Bukan karena peneliti sekedar ingin menggunakan penelitian dengan metode kualitatif. Kualitatif terkait cara yang digunakan oleh peneliti dalam mendekati-memahami, menggali, mengungkap fenomena tertentu dari responden penelitiannya. Sejak awal, peneliti harus mampu menentukan metode yang akan digunakan (metode idealnya bersifat tetap, teknik yang bersifat situasional atau fleksibel). .

Perkembangan Analisis Kualitatif N Vivo (skripsi dan tesis)

Nvivo pada mulanya dikembangkan pada tahun 1981 oleh
programer Tom Richards dengan nama Non-Numerical Unstructured Data Indexing Searching and Theorizing (NUD‟IST). Sejak tahun 2002, NUD‟IST diganti dengan Nvivo. „N‟ adalah singkatan dari NUD‟IST dan „Vivo‟ diambil dari „in-vivo‟ yang berarti melakukan koding berdasarkan data yang hidup (nyata) dialami partisipan di lapangan. Penamaan Nvivo menunjukkan fungsi utama software untuk melakukan koding data dengan efektif dan efisien. Dengan demikian, kunci untuk mendapatkan presentasi data dalam bentuk tabel, grafik, diagram, dan model bagi peneliti kualitatif yang menggunakan Nvivo ialah bagaimana melakukan koding terhadap sumber data penelitian.
Langkah-langkah dalam Nvivo adalah sebagai berikut : (1). memasukkan
dokumen ke dalam Nvivo, (2). memasukkan dokumen PDF ke dalam Nvivo, (3).
memasukkan dokumen audio dan video ke Nvivo, (4). Memasukkan foto-foto ke dalam Nvivo, (5). memasukkan data yang berasal dari databases ke Nvivo, dan (6). memasukkan isi website dan jejaring media sosial ke Nvivo.
Dalam Nvivo sumber data yang dianalisis dapat dibagi menjadi: sumber data
penelitian internal (internals), sumber data penelitian eksternal (eksternals),
catatan-catatan penelitian selama pengumpulan data (memos) dan kerangka matriks (framework matrices). Internal sources dalam konteks ini adalah semua sumber data penelitian kualitatif yang dapat dimasukkan dalam Nvivo, misalnya rekaman, wawancara, transkrip wawancara, catatan selama melakukan penelitian, foto, tabel data survei, isi website tertentu, data bases dan video. External sources merupakan materi penelitian yang tidak dapat dimasukkan secara langsung dalam Nvivo, misalnya buku referensi dari perpustakaan/ jurnal versi cetak. Memos adalah sumber data penelitian berupa catatan peneliti selama melakukan penelitian. Framework matrices merupakan ringkasan hasil observasi terhadap partisipan tertentu dan tema dalam proyek yang sudah dibuat dalam tabel matriks (Bandur, 2016).

Analisis Kualitatif Melalui N Vivo (skripsi dan tesis)

Analisis data kualitatif dapat dilakukan dengancara manual atau menggunakan bantuan komputer. Cara manual umumnya dipakai sebelum
 personal  computer  menyebar secara luas pada1980an. Richards (2009) menyatakan analisis datakualitatif dengan cara manual adalah pekerjaanyang melelahkan, berat, dan menyita banyakwaktu. Setelah  personal  
computer  menyebar luas,perangkat lunak word  processing 
 mulai digunakanuntuk membantu analisis data kualitatif. Program ini sebenarnya ditujukan untuk menulis danmenyunting kata-kata namun dalam penelitian kualitatif, program ini dapat dipakai untuk mengetik, mengedit, dan menyimpan data penelitian. Di kemudian hari, program word  processing 
  juga dapat digunakan untuk membuat grafik,mencari kata atau frase, menambahkan komentar,hingga membuat link  dengan  file lain, yang mana fungsi-fungsi tersebut dapat mendukung analisis data kualitatif. Walaupun dilengkapi fungsi-fungsi itu, perangkat lunak word  processing   tetaplah tidak setangguh computer-assisted qualitative data analysis software (CAQDAS ) (Lindlof dan Taylor,2002).
CAQDAS  dapat dipahami sebagai suatuperangkat lunak yang dilengkapi dengan alat-alat untuk memfasilitasi analisis data  kualitatif(http://caqdas.soc.surrey.ac.uk/caqdasdefinition.html).Suatu
software  dikategorikan sebagai CAQDAS    jika memiliki kemampuan mencari, menghubung-kan item-item, mengkode, melakukan query ,membuat anotasi, dan memetakan data penelitian. Dalam pemilihan  CAQDAS,
 Earl Babbie(2010) memberikan saran untuk menggunakanNVivo karena program ini tergolong cukup populerdi kalangan peneliti. Berdasarkan
website  resmi QSInternational, perusahaan pembuat NVivo-
software  ini dipakai sekitar 400.000 peneliti di 150negara. Penggunaan NVivo juga didukung olehWalsh (2003) yang mengatakan bahwa NVivo
merupakan software  bekerja seperti map-mapdalam teknik analis data kualitatif manual hanyasaja map tersebut jauh lebih cerdas. Dampaknyapeneliti yang terbiasa memakai cara manual dalam analisis data kualitatif tidak akan merasaasing dengan software

 ini. Dengan pertimbangantersebut maka dalam tulisan ini akan dibahaslebih jauh mengenai penggunaan NVivo.NVivo merupakan software
 analisis data kualitatifyang dikembangkan oleh Qualitative  
Solution andResearch (QSRinternational QS sendiri adalahperusahaan pertama yang mengembangkan software  analisis data kualitatif. NVivo bermula dari kemunculan software NUD*IST(NonnumericUnstructured Data, Index Searching, andTheorizing ) pada tahun 1981 (Bazeley, 2007).
NUD*IST  awalnya diciptakan oleh seorang  programer  bernama Tom Richards untuk membantu istrinya, Lyn Richards, yang berprofesi sebagai
sosiolog 

Analisis Kualitatif Menggunakan N Vivo (skripsi dan tesis)

NVivo adalah perangkat lunak yang diproduksi oleh QSR International, dan dirancang untuk para peneliti kualitatif yang bekerja menggunakan informasi berbasis teks dan atau multimedia. NVivo pertama dikembangkan oleh Tom Richards pada tahun 1999, yang pada awalnya disebut NUD*IST.

Sejak dirilis sampai saat ini, NVivo telah digunakan oleh para akademisi/peneliti di berbagai bidang, termasuk ilmu sosial. Intinya adalah, NVivo digunakan untuk membantu peneliti mengatur dan menganalisis data non-numerik atau data yang sifatnya tidak terstruktur.

Pengolahan data kualitatif melalui NVIVO (skripsi dan tesis)

NVIVO adalah suatu software yang biasa digunakan untuk penelitian kualitatif. Biasanya penelitian kualitatif bertujuan untuk eksplorasi dan pemahaman data secara lebih mendalam (Bandur 2014, p.16). Data kualitatif bersifat mendalam dan rinci, sehingga juga bersifat panjang-lebar. Akibatnya analisis data kualitatif bersifat spesifik, terutama untuk meringkas data dan menyatukannya dalam suatu alur analisis yang mudah dipahami pihak lain. Sifat data ini berbeda dari data kuantitatif yang relatif lebih sistematis, terbakukan, dan mudah disajikan dalam format ringkas.

Data kualitatif disimpan dalam catatan harian. Catatan harian atau catatan lapangan merupakan instrumen utama yang melekat pada beragam teknik pengumpulan data kualitatif. Isi catatan fakta tidak boleh berupa penafsiran pribadi peneliti, melainkan fakta-fakta apa adanya dan telah teruji kesahihannya. Peneliti mencatat fakta selengkap dan serinci mungkin. Catatan haruslah berisi hal-hal kongkrit. Hal-hal yang bersifat abstrak hanya bisa dimasukkan ketika benar-benar dapat dipercaya atau diandalkan. Setiap fakta mewakili peristiwa penting yang akan dimasukkan ke dalam proposisi-proposisi yang nanti hendak disusun, atau sebagai konteks dari suatu kegiatan.

Terdapat tiga jalur analisis data kualitatif, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles dan Huberman, 1992). Proses ini berlangsung terus menerus selama penelitian berlangsung, bahkan sebelum data benar-benar terkumpul sebagaimana terlihat dari kerangka konseptual penelitian, permasalahan studi, dan pendekatan pengumpulan data yang dipilih peneliti.

Nud.Ist Vivo (Nvivo) merupakan salah satu serial software analisis data kualitatif Nud.Ist yang paling menarik digunakan. Serial ini sendiri merupakan software terkemuka dan paling banyak digunakan peneliti kualitatif di dunia saat ini. Kemampuannya tergolong tinggi, sejak pencarian data, kompilasi, hingga penyusunan teori. Kemampuan grafis ditunjukkan dalam penyusunan diagram dari teori yang terbangun.

Manajemen Strategis (skripsi dan tesis)

Menurut David (2012:5) manajemen strategis (strategic management) dapat
didefinisikan sebagai seni dan ilmu untuk memformulasikan, mengimplementasikan dan mengevaluasi keputusan lintas fungsi yang memungkinkan organisasi dapat mencapai tujuannya. Manajemen strategis atau manajemen strategik adalah keterampilan (seni), teknik, dan ilmu dalam merumuskan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi serta mengawasi berbagai keputusan-keputusan fungsional sebuah organisasi (perusahaan bisnis ataupun non bisnis) yang selalu terpengaruhi oleh lingkungan eksternal dan internal dengan kondisi yang selalu berubah sehingga bisa
memberi kemampuan pada perusahaan dalam pencapaian sasaran atau tujuan yang sudah ditetapkan.
Menurut Hunger dan Wheelen (2011:4) manajemen strategis adalah serangkaian keputusan dan tindakan manajerial yang menentukan kinerja perusahaan dalam jangka panjang. Manajemen strategis meliputi pengamatan lingkungan, perumusan strategi (perencanaan strategis atau perencanaan jangka panjang), implementasi strategi dan evaluasi serta pengendalian. Ada tiga tingkat strategi yang membentuk hirarki strategi dalam suatu perusahaan besar. Strategi tersebut berinteraksi erat dan berkelanjutan dan harus diintegrasikan dengan baik demi kesuksesan perusahaan, yang dapat digambarkan dalam suatu hirarki strategi.

Manajemen strategi merupakan bidang ilmu yang melihat pengelolaan
perusahaan secara menyeluruh dan berusaha menjelaskan mengapa beberapa perusahaan berkembang dan maju secara pesat, sedangkan yang lainnya tidak maju dan akhirnya mengalami kerugian. Manajemen strategi lebih menekankan pada pengambilan keputusan strategis. Keputusan strategis berhubungan dengan masa yang akan datang dalam jangka panjang untuk organisasi secara keseluruhan. Manajemen strategi lebih menekankan pada pengambilan keputusan strategis. Keputusan strategis berhubungan dengan masa yang akan datang dalam jangka panjang untuk organisasi secara keseluruhan.
Menurut Pearce dan Robinson (1997:20) manajemen strategik didefinisikan
sebagai sekumpulan keputusan dan tindakan yang menghasilkan perumusan
(formulasi) dan pelaksanakan (implementasi) rencana-rencana yang dirancang untuk mencapai sasaran-sasaran perusahaan yang terdiri dari sembilan tugas penting:
a. Merumuskan misi perusahaan meliputi rumusan umum tentang maksud
keberadaan (purpose), filosofi (philosophy) dan tujuan (goal).
b. Mengembangkan profit yang mencerminkan kondisi intern dan kapabilitasnya.
c. Menilai lingkungan eksternal perusahaan, meliputi baik pesaing maupun faktorfaktor konstektual umum.
d. Menganalisis opsi perusahaan dengan menyesuaikan sumber dayanya dengan lingkungan eksternal

. e. Mengidentifikasi opsi yang paling dikehendaki berdasarkan misi perusahaan.
f. Memilih seperangkat sasaran jangka panjang dan strategi utama (grand strategy) yang akan mencapai pilihan yang paling dikehendaki.
g. Mengembangkan sasaran tahunan dan strategi jangka pendek yang sesuai dengan
sasaran jangka panjang dan strategi umum yang dipilih.
h. Mengimplementasikan pilihan strategik dengan cara mengalokasikan sumber daya anggaran yang menekankan pada kesesuaian antara tugas, SDM, struktur, teknologi, dan sistem imbalan.
i. Mengevaluasi keberhasilan proses strategik sebagai masukan bagi pengambilan keputusan yang akan datang.
Pearce dan Robinson (1997:23) menjelaskan juga bahwa lingkungan eksternal
perusahaan terdiri dari tiga perangkat faktor yang saling berkaitan yang memainkan peran penting dalam menentukan peluang, ancaman, dan kendala yang dihadapi perusahaan. Lingkungan jauh terdiri dari faktor-faktor yang terdiri dari luar, dan biasanya tidak berkaitan dengan situasi operasi suatu perusahaan tertentu seperti faktor ekonomi, sosial, politik, teknologi, dan ekologi. Lingkungan operasional terdiri dari faktor-faktor yang mempengaruhi situasi persaingan perusahaan seperti posisi bersaing, profil pelanggan, pemasok, kreditor, dan pasar tenaga kerja.

DEA (Data Envelopment Analysis) (skripsi dan tesis)

DEA merupakan metodologi non-parametrik yang didasarkan pada linear
programming. Pada awalnnya dikembangkan untuk pengukuran kinerja, dan sekarang aplikasi DEA telah dipakai sebagai pengukuran pada berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan berbagai kegiatan operasional (Cooper, Seiford dan Tone, 2000). Metodologi ini berhasil diterapkan untuk mengukur kinerja relatif dari sekumpulan perusahaan yang menggunakan beragam input identik untuk menghasilkan beragam output identik (Hadinata, Manurung, 2007).
Data Envelopment Analysis merupakan suatu metode untuk mengevaluasi dan memecahkan masalah dengan cara mengintegrasikan beberapa masukan dan keluaran. DEA yang dirancang oleh Cooper, Seiford dan Tone (2000) bertujuan untuk mengukur efisiensi atau produktivitas dari DMU (Decision Making Unit) tertentu (Ramanathan, 2003). DMU atau unit pengambil keputusan dapat termasuk manufaktur, departemen organisasi besar seperti universitas, sekolah, bank, rumah sakit, pembangkit listrik, kantor
polisi, kantor pajak, penjara, basis pertahanan, satu set perusahaan atau bahkan individu terlatih seperti praktisi medis. DEA telah berhasil diterapkan untuk mengukur kinerja efisiensi semua jenis DMU.
Jadi, secara singkat, berbagai keunggulan dan kelemahan metode DEA adalah
1. Keunggulan DEA:
a. Bisa menangani banyak input dan output
b. Tidak butuh asumsi hubungan fungsional antara variabel input dan
output.
c. Unit Kegiatan Ekonomi dibandingkan secara langsung dengan
sesamanya.
d. Dapat membentuk garis frontier fungsi efisiensi terbaik atas variabel
input-output dari setiap sampelnya.
e. Input dan output dapat memiliki satuan pengukuran yang berbeda.
2. Keterbatasan DEA ;
a. Bersifat simple specific
b. Merupakan extreme point technique, kesalahan pengukuran bisa
berakibat fatal.
c. Hanya mengukur produktivitas relatif dari unit kegiatan ekonomi bukan
produktivitas absolut.
d. Uji hipótesis secara statistik atas hasil DEA sulit dilakukan.

Efisiensi Kinerja (skripsi dan tesis)

Efisiensi adalah kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan benar atau dalam pandangan matematika didefinisikan sebagai perhitungan rasio output (keluaran) dan atau input (masuk) atau jumlah keluaran yang dihasilkan dari satu input yang digunakan. Suatu perusahaan dikatakan efisien apabila:
1. Menggunakan jumlah input yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan
jumlah unit input yang digunakan oleh perusahaan lain dengan menghasilkan
output yang sama.
2. Menggunakan jumlah unit input yang sama dapat menghasilkan jumlah
output yang lebih besar.
Pengukuran efisiensi dengan menggunakan metode DEA membutuhkan adanya variabel input dan output. Menurut Purwantoro (2004) identifikasi pengukuran perbandingan efisiensi kinerja merupakan langkah pertama dan terpenting karena hasil evaluasi kinerja nantinya akan sangat bergantung pada pemilihan variabel input output yang dipakai. Dalam pendekatan intermediasi, variabel input ditransformasikan menjadi berbagai bentuk output yang dihasilkan dari input-input yang ada sebelumnya. Pengukuran efisiensi dengan menggunakan metode DEA yang berasumsi Variabel return to scale (VRS) mengasumsikan bahwa setiap penambahan satu unit
variabel input dapat diikuti variabel output yang tidak sama (bisa lebih bisa kurang). Sehingga hanya variabel input yang mempengaruhi variabel output, sedangkan variabel output tidak dapat mempengaruhi variabel input. Selain itu terdapat asumsi Constant return to scale (CRS) yang mengasumsikan bahwa setiap penambahan satu unit input diikuti penambahan satu unit output.
Perusahaan membutuhkan sumber daya dalam melaksanakan setiap aktivitasnya untuk mencapai tujuan perusahaan. Salah satu cara untuk mengetahui apakah perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasinya telah sesuai dengan rencana yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuannya adalah dengan mengetahui dari kinerja perusahaan tersebut. Kinerja perusahaan juga tercemin dari penggunaan dan pengelolaan sumber daya perusahaan. Laporan keuangan sebagai sumber informasi kinerja perusahaan haruslah mencerminkan kondisi sebenarnya perusahaan dalam periode tertentu.

Konsep Efisiensi (skripsi dan tesis)

Efisiensi merupakan salah satu parameter kinerja yang secara teoritis mendasari seluruh kinerja sebuah organisasi [8]. Pengukuran parameter kinerja diharapkan dapat menghasikan output yang maksimal dengan input yang ada. Pada saat pengukuran efisiensi dilakukan, perusahaan dihadapkan pada kondisi bagaimana mendapatkan tingkat output yang optimal dengan tingkat input yang ada, atau menemukan tingkat input yang minimum dengan capaian tingkat output tertentu. Dengan diidentifikasikannya alokasi input dan output, dapat dianalisis lebih jauh untuk melihat penyebab ketidakefisiensian.

Data Envelopment Analysis (skripsi dan tesis)

DEA adalah sebuah teknik pemrograman matematis berdasarkan pada linier programming yang digunakan untuk mengevaluasi efisiensi dari suatu unit pengambilan keputusan (unit kerja) yang bertanggung jawab menggunakan sejumlah input untuk memperoleh suatu output yang ditargetkan.
Metode DEA diciptakan sebagai alat evaluasi kinerja suatu aktivitas di sebuah unit entitas (organisasi) yang selanjutnya disebut Decision Making Unit (DMU). Secara sederhana, pengukuran ini dinyatakan dengan rasio: output/input, yang
merupakan suatu pengukuran efisiensi atau produktivitas Dalam pengukuran efisiensi dengan menggunakan DEA terdapat dua model yang sering digunakan, yaitu Constant Return to Scale (CRS) dan Variable Return to Scale (VRS). Namun, pada penelitian ini menggunakan CRS. Model DEA ini berorientasi pada input berdasarkan asumsi constant return to
scale sehingga dikenal dengan model CCR. Dalam model constant return to scale setiap DMU akan dibandingkan dengan seluruh DMU yang ada di sampel dengan asumsi bahwa kondisi internal dan eksternal DMU adalah sama. Kritik
terhadap asumsi ini adalah bahwa asumsi constant return to scale hanya sesuai untuk kondisi dimana seluruh DMU beroperasi pada skala optimal. Namun, dalam kenyataannya meskipun DMU tersebut beroperasi dengan sumber daya (input) yang sama dan menghasilkan output yang sama pula
tetapi kondisi internal dan eksternalnya mungkin berbeda sehingga dapat mengakibatkan sebuah DMU tidak beroperasi pada skala optimal. Menurut Charnes, Cooper, dan Rhodes model ini dapat menunjukkan technical efficiency secara keseluruhan atau nilai dari profit efficiency untuk setiap
DMU. Pengukuran berorientasi input menunjukkan sejumlah input
dapat dikurangi secara proporsional tanpa mengubah jumlah output yang dihasilkan. Dengan menggunakan model berorientasi input, maka model tersebut akan menghitung pengurangan input yang diperlukan untuk menghasilkan kinerja yang efisien dengan output yang tetap. Fethi & Pasiouras [mengungkapkan bahwa industri perbankan yang menggunakan
pendekatan berorientasi input memiliki asumsi bahwa manajer bank akan memiliki pengawasan atau kontrol yang lebih tinggi atas input (seperti: beban–beban, karyawan, dan lain–lain) daripada output (seperti: kredit, pendapatan, dan lain–lain). Beberapa studi cenderung memilih pendekatan berorientasi
input karena jumlahinput menjadi keputusan utama dalam pengambilan variabel, walaupun alasan ini tidak berlaku untuk semua industr

Konsep Data Envelopment Analysis (DEA)

Menurut Zhu dan Cook DEA pertama kali diperkenalkan oleh Charnes, Cooper dan Rhodes (CCR) pada tahun 1978 (Hidayah 2014). (Muharam & Pusvitasari 2007) menjelaskan DEA adalah sebuah metode optimasi program matematika yang mengukur efisiensi teknik suatu unit kegiatan ekonomi (UKE)/Decision Making Unit (DMU) dan membandingkan secara relatif terhadap DMU yang lain. Menurut Kusumawardani dalam DEA efisiensi relative suatu DMU didefinisikan sebagai ratio dari total output terboot dibagi total input terbobot (total weighted output/total weighted input) yaitu (Adilho 2013):
Terdapat dua model yang sering digunakan dalam pendekatan DEA Zhu dan Cook dalam (Hidayah 2014) yaitu:
a) Charnes-Cooper-Rhodes
Model ini mengasumsikan adanya Constant Return to Scale (CRS), yaitu rasio antara penambahan input dan output adalah sama. Hal ini berarti, apabila ada tambahan sebesar 1% maka output akan meningkat sebesar 1% juga. Asumsi lain dari model ini adalah setiap DMU beroperasi pada skala optimal.
b) Bankers-Charnes-Cooper
Model ini dikembangkan oleh Bankers-Charnes-Cooper (BCC) ini merupakan
pengembangan dari moder CCR. Moder ini mengasumsikan adanya Variable Return to Scale (VRS). Model ini beranggapan bahwa perusahaan beroperasi pada skala yang optimal. Asumsi dari model ini adalah bahwa rasio antara penambahan input dan output tidak sama. Artinya, penambahan input sebesar 1% tidak akan menyebabkan perubahan output sebesar 1% pula, namun bisa jadi lebih besar atau lebih kecil

Metode Data Envelopment Analysis (DEA)(skripsi dan tesis)

Data Envelopment Analysis (DEA) diperkenalkan oleh Charnes, Cooper, dan Rhodes. Metode ini merupakan salah satu alat bantu evaluasi untuk meneliti kinerja dari dari suatu aktifitas dalam sebuah unit entitas. Nugroho dan Erwinta (2006) mengemukakan DEA adalah sebuah teknik pemrograman matematis yang digunakan untuk mengevaluasi efisiensi relative dari suatu kumpulan unit-unit pembuat keputusan (Decision Making Unit/DMU) dalam mengelola sumber daya (input) dengan jenis yang sama sehingga menjadi hasil (output) dengan jenis yang sama pula, dimana hubungan bentuk fungsi dari input ke output diketahui. Kemudian menurut Sitompul (2004), DEA adalah alat evaluasi atas aktivitas proses disuatu sistem atau unit kerja. Evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi komparatif atau relative antara satu unit dengan unit yang lain pada satu organisasi. Pengukuran secara relative ini menghasilkan dua atau lebih unit kerja yang memiliki efisiensi 100% yang dijadikan tolok ukur bagi unit kerja lain untuk menentukan langkah-langkah perbaikan.

Dari pernyataan-pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa metode DEA ini digunakan untuk mengevaluasi kinerja suatu unit yang mana dengan menggunakan analisa ini dapat diketahui unit mana dan faktor apa yang harus ditingkatkan dalam unit tersebut. Menurut Kurnia (2006), analisis DEA didesain secara spesifik untuk mengukur efisiensi relatif suatu unit produksi dalam kondisi terdapat banyak input dan banyak output, yang mana seringkali sulit untuk disiasati secara sempurna oleh teknis analisis pengukuran efisiensi lainnya.

Secara prinsip metode DEA ini menganut pendekatan non-parametrikyang pada dasarnya merupakan teknik berbasis pemrograman linier. Beberapa software yang dapat digunakan untuk analisis DEA adalah Banxia Frontier Analysis (BFA), Warwick for Data Envelopment Analysis (WDEA) (Kurnia, 2004), LINDO (Adhi, 2012), STATA, dan lain sebagainya.

Manfaat DEA

Ada 3 manfaat yang diperoleh dari pengukuran efisiensi dengan DEA:

  • Sebagai tolok ukur untuk memperoleh efisiensi relatif yang berguna untuk mempermudah perbandingan antara unit ekonomi yang sama.
  • Mengukur berbagai informasi efisien antar Unit Kegiatan Ekonomi (UKE) untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebabnya.
  • Menentukan implikasi kebijakan sehingga dapat meningkatkan tingkat efisiensinya.

Karakteristik, Kelebihan dan Kelemahan DEA

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyusun penelitian dengan perhitungan menggunakan metode DEA adalah karakteristik umum dari DEA itu sendiri, dan setiap metode analisa pasti memiliki kelebihan maupun kekurangan begitu pula dengan metode DEA ini. Karakteristik umum DEA adalah:

  • Input dan output yang digunakan haruslah positif (lebih besar dari 0).
  • Isotonicity, yaitu diasumsikan bahwa peningkatan input akan menghasilkan peningkatan output, dan tidak menyebabkan penurunan output.
  • Jumlah DMU yang digunakan dalam analisis setidaknya terdiri dari tiga unit untuk memastikan tersedianya cukup data bagi analisis.
  • DMU yang akan dianalisis haruslah relatif homogeny.
  • Bobot Uj, Vi ditentukan pada saat menentukan model DEA. Bobot ini dihitung sedemikian sehingga unit yang sedang dievaluasi ditempatkan pada posisi yang sesuai terhadap unit yang lain di dalam set data analisis.

Kelebihan teknik evaluasi ini adalah:

  • Dapat menangani multipler inputs dan multiple outputs.
  • Tidak perlu mengetahui hubungan antara input dan outputnya.
  • Dapat digunakan dengan data input dan output yang berbeda unit.
  • Hal yang diperbandingkan dapat terlihat secara langsung dari output olahan yang dihasilkan.

Sedangkan kelemahan dari analisa DEA ini adalah:

  • Untuk mengukur tingkat kesalahan dipengaruhi oleh tingkat signifikasi.
  • Dalam DEA tidak mengukur tingkat efisiensi mutlak.
  • Uji statistik yang digunakan harus secara manual (not applicable).

Tujuan dan Fungsi/Kegunaan mixed methods research (skripsi dan tesis)

Metode penelitian campuran kuantititatif-kualitatif (mixed methods research)adalah sebuah metode yang berfokus pada pengumpulan dan analisis data serta memadukan antara data kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan metode penelitian campuran ini adalah untuk menemukan hasil penelitian yang lebih baik dibandingkan dengan hanya menggunakan salah satu pendekatan saja, misalnya menggunakan pendekatan kuantitatif saja atau dengan pendekatan kualitatif saja). Dengan menggunakan metode ini akan diperoleh data yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. 

Meode ini digunakan untuk menangani tingkatan yang berbeda dalam satu sistem. Temuan dari setiap tingkatan dipadukan untuk merumuskan interpretasi menyeluruh.

Prosedur Analisis Mixed (skripsi dan tesis)

Ada beberapa aspek penting yang harus dipertimbangkan terlebih dahulu dalam merancang prosedur-prosedur mixed methods research, yaitu sebagai berikut:

  1. Timing (waktu)

Peneliti harus mempertimbangkan waktu dalam pengumpulan data kualitatif dan kuantitatifnya. Apakah data akan dikumpulkan secara bertahap (sekunsial) atau dikumpulkan pada waktu yang sama (konkuren). Ketika data dikumpulkan secara bertahap, peneliti perlu menentukan apakah data kuantitatif atau kualitatif yang akan dikumpulkan terlebih dahulu. Hal ini tergantung pada tujuan awal peneliti. Bila data kualitatif dikumpulkan pertama, tujuannya adalah untuk mengeksplorasi topik dengan cara mengamati partisipan di lokasi penelitian. Setelah itu peneliti memperluas pemahamannya melalui tahap kedua, yaitu data kuantitatif, di mana data dikumpulkan dari sejumlah besar partisipan (biasanya sampel dari populasi). Ketika data dikumpulkan secara konkuren, berarti data kuantitatif dan kualitatif dikumpulkan pada waktu yang sama dan pelaksanaannya simultan (serempak). Pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif secara bersaman dianggap paling efektif karena tidak membutuhkan waktu lama dalam proses pengumpulannya.

  1. Weighting (bobot)

Bobot yang dimaksud dalam merancang prosedur mixed methods adalah prioritas yang diberikan antara metode kuantitatif atau kualitatif. Dalam studi tertentu bobot dapat sama atau seimbang. Dalam beberapa penelitian lain mungkin lebih menekankan pada satu metode. Penekanan pada satu metode tergantung dari kepentingan peneliti, keinginan pembaca (seperti pihak kampus, organisasi profesional) dan hal apa yang ingin diutamakan oleh peneliti. Dalam kerangka yang lebih praktis, bobot dalam mixed methods bisa dipertimbangkan melalui beberapa hal, antara lain apakah data kualitatif dan kuantitatif yang akan diutamakan terlebih dahulu, sejauh mana treatment terhadap masing-masing dari kedua data tersebut atau apakah metode induktif (seperti, membangun tema-tema dalam kualitatif) atau metode deduktif (seperti, menguji suatu teori) yang akan diprioritaskan.

  1. Mixing (pencampuran)

Mencampur (mixing) berarti bahwa data kualitatif dan kuantitatif benar-benar dileburkan dalam satu end of continuum, dijaga keterpisahannya dalam end of continuum yang lain atau dikombinasikan dengan beberapa cara. Dua data bisa saja ditulis secara terpisah namun keduanya tetap dihubungkan (connecting) satu sama lain selama tahap-tahap penelitian. bahwa peneliti mengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif secara konkuren dan menggabungkan (integrating) database keduanya dengan mentransformasikan tema-tema kualitatif menjadi angka-angka yang bisa dihitung (secara statistik) dan membandingkan hasil penghitungan ini dengan data kuantitatif deskriptif. Dalam hal ini, pencampuran menggabungkan dua database dengan meleburkan secara utuh data kuantitatif dengan data kualitatif. Atau dalam hal lain, peneliti tidak menggabungkan dua jenis metode penelitian yang berbeda tetapi sebaliknya peneliti justru tengah menancapkan (embedding) jenis data sekunder (kualitatif) ke dalam jenis data primer (kuantitatif) dalam satu penelitian. Database sekunder memeinkan peran pendukung dalam penelitian ini.

  1. Teorizing (teorisasi)

Faktor terakhir yang perlu diperhatikan dalam merancang mixed method adalah perspektif teori apa yang akan menjadi landasan bagi keseluruhan prosesw/tahap penelitian perspektif ini bisa berupa teori ilmu-ilmu sosial atau perspektif-perspektif teori lain yang lebih luas. Dalam mixed methods research, teori biasanya muncul dibagian awal penelitian untuk membentuk rumusan masalah yang diajukan, siapa yang berpartisipasi dalam penelitian, bagaimana data dikumpulkan dan implikasi-implikasi apa yang diharapkan dari penelitian

Konsep dan landasan penelitian Mix-Method (skripsi dan tesis)

Mixed Methods Research (Creswell, John W. and Clarck Vicki : 2008) adalah suatu disain penelitian yang didasari asumsi seperti halnya metoda inkuiri. Metode ini memberikan asumsi bahwa dalam menunjukkan arah atau memberi petunjuk tentang cara pengumpulan dan menganalisis data serta perpaduan pendekatan kuantitatif dan kualitatif melalui beberapa fase proses penelitian. Mixed methods research berfokus pada pengumpulan dan analisis data serta memadukan antara data kuantitatif dan data kualitatif, baik dalam single study (penelitia tunggal) maupun series study (penelitian berseri). Nana Syaodih Sukmadinata (2009 : 95) mengemukakan, bahwa penelitian kuantitatif menggunakan instrumen-instrumen formal, standar dan bersifat mengukur. Sementara penelitian kualtatif menggunakan peneliti sebagai instrumen.

 Premis sentral yang dijadikan dasar mixed methods research adalah menggunakan kombinasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk menemukan hasil penelitian yang lebih baik dibanding menggunakan salah satu pendekatan saja (misalnya dengan pendekatan kuantitatif saja atau dengan pendekatan kualitatif saja). 

Perbedaan Mixed Methods Research dibandingkan dengan Quantitative danQualitative Research adalah sebagai berikuit :

  1. Ditinjau dari sudut pandang filosofis
  1. Penelitian kuantitatif didasari oleh pandangan pospositivisme. Menurut pandangan ini bahwa peneliti mengklaim pengetahuan didasarkan pada : 1) determinasi atau pemikiran sebab-akibat; 2) reduksionisme, dengan cara mempersempit dan memusatkan pada variabel yang akan dihubungkan; 3) mengobservasi secara detail dan melakukan pengukuran terhadap variabel; 4) melakukan testing teori yang secara kontinyu diperbaiki. 
  1. Penelitian kualitatif dipengaruhi oleh filsafat konstruktivisme, dimana konstruktivisme ini memiliki pandangan yang berbeda. Pemahaman atau makna suatu fenomena terbentuk oleh partisipan dan pandangan-pandangan subjektif dari partisipan. Pada saat partisipan memberikan pemahamannya atau jawabannya, maka mereka berbicara sesuai dengan makna yang dialami selama berinteraksi sosial dengan orang lain dan apa yang mereka bicarakan juga berasal dari latar belakang pribadinya. Penemuan penelitian dibentuk dari pola bottom up, yakni dari perspektif individu untuk dijadikan pola yang lebih luas yang pada akhirnya membentuk teori. 
  1. Penelitian mixed methods research dipengaruhi oleh pandangan filsafat pragmatisme. Fokus utamanya berpusat pada pertanyaan mendasar dalam penelitian dan bukan semata-mata berorientasi pada metode penelitian. Multi metoda untuk pengumpulan data dilakukan dalam rangka memperoleh jawaban tentang masalah yang diteliti. Dengan kata lain pragmatisme ini bersifat pluralistik dan berorientasi pada pekerjaan apa serta bersifat praktis.
  1. Ditinjau dari sudut pandang metodologi
  1. Dalam penelitian postpositivisme peneliti bekerja secara top down, dari sebuah teori dirumuskan hipotesis, pengumpulan data, dan dari data dikontradiksikan dengan teori. 
  1. Penelitian konstruktivisme, pendekatan yang ditempuh adalah bottom up,menggunakan pandangan-pandangan partisipan untuk membentuk tema-tema yang lebih luas dan menggeneralisasikan suatu teori berdasarkan interkoneksi atau menghubungkan antara tema-tema yang terbentuk. 
  1. Pragmatisme, pendekatan penelitian dikombinasikan antara berfikir deduktif dan berfikir induktif. Peneliti mixes (memadukan) data kuantitatif dandata kualitatif. 
  1. Ditinjau dari pengumpulan dan analisis data

 

  1. Kuantitatif

1)  Data kuantitatif berasal dari informasi yang bersifat close-ended (jawaban tertutup). Misalnya : pengukuran sikap, perilaku, atau instrument pengukuran perilaku yang lain.

2)  Koleksi data kuantitatif menggunakan instrument daftar check list close-ended, yang dapat dilakukan peneliti dengan cara memberi tanda check (√ ) pada perilaku yang terlihat.

3)  Kadang-kadang informasi/data kuantitatif diperoleh dari dokumen, catatan hasil sensus, catatan kehadiran.

4)  Analisis data kuantitatif menggunakan analisis statistic berdasarkan skor yang terkumpul dari instrument (checklist, dokumen, hipotesis )

  1. Kualitatif

1)  Data kualitatif bersumber dari informasi yang bersifat open-ended (jawaban terbuka) yang dikumpulkan oleh peneliti melalui interview dengan partisipan.

2)  Pada umumnya pertanyaan-pertanyaan open ended disampaikan pada saat berlangsungnya interviu dan sepenuhnya memberi kesempatan kepada partisipan untuk menjawab dengan menggunakan kata/kalimat/bahasanya sendiri.

3)  Data kualitatif dikumpulkan melalui observasi kepada partisipan atau subyek penelitian, memperoleh dokumen pribadi partisipan (misal : catatan harian(diary), dokumen yang bersifat umum (lamanya suatu pertemuan), atau mengumpulkan dokumen individual (video, artefaks).

4)  Analisis data kualitatif (kata, kalimat, image, pendapat) dikelompokkan sesuai jenisnya menurut kelompok informasi (kategori kata atau image) atau kelompok berbagai ide yang diperoleh selama pengumpulan data. 

  1. Mix-method research

1)   Data kualitatif bersumber dari informasi yang bersifat open-ended (jawaban terbuka) yang dikumpulkan oleh peneliti melalui interview dengan partisipan.

2)   Pada umumnya pertanyaan-pertanyaan open ended disampaikan pada saat berlangsungnya interviu dan sepenuhnya memberi kesempatan kepada partisipan untuk menjawab dengan menggunakan kata/kalimat/bahasanya sendiri.

3)   Data kualitatif dikumpulkan melalui observasi kepada partisipan atau subyek penelitian, memperoleh dokumen pribadi partisipan (misal : catatan harian(diary), dokumen yang bersifat umum (lamanya suatu pertemuan), atau mengumpulkan dokumen individual (video, artefaks).

4)   Analisis data kualitatif (kata, kalimat, image, pendapat) dikelompokkan sesuai jenisnya menurut kelompok informasi (kategori kata atau image) atau kelompok berbagai ide yang diperoleh selama pengumpulan data. 

Berangkat dari titik-titik kelemahan kuantitatif dan kualitatif maka muncullahMixed Methods Research, dengan kelebihan sebagai berikut : 

  1. Mixed method research menghasilkan fakta yang lebih komprehensif dalam meneliti masalah penelitian, karena peneliti memiliki kebebasan untuk menggunakan semua alat pengumpul data sesuai dengan jenis data yang dibutuhkan. Sedangkan kuantitatif atau kualitatif hanya terbatas pada jenis alat pengumpul data tertentu saja. 
  1. Mixed method research dapat menjawab pertanyaan penelitian yang tidak dapat dijawab oleh penelitian kuantitatif atau kualitatif. Contoh : apakah pendapat partisipan yang diperoleh dari wawancara dan hasil pengukuran dengan instrument tertentu harus dipisah ? (pertanyaan inilah yang akan dijawab olehmixed method research, bahwa alat pengumpul data tidak hanya terbatas pada satu alat saja. “Apa yang dapat menerangkan atau memperjelas hasil penelitian kuantitatif ? (mixed method research menjawab, data kualitatif menerangkan/memperjelas hasil penelitian kuantitatif). 
  1. Mixed method research mendorong peneliti untuk melakukan kolaborasi, yang tidak banyak dilakukan oleh penelitian kuantitatif maupun kualitatif. Kolaborasi dimaksud adalah kolaborasi social, behavioral, dan kolaborasi humanistic. 
  1. Mixed method research mendorong untuk menggunakan berbagai pandangan atau paradigma. 
  1. Mixed method research itu “praktis” karena peneliti memiliki keleluasaaan menggunakan metoda untuk meneliti masalah. 

Pengertian  Pendekatan Mix-method (skrispi dan tesis)

Mix-method penelitian adalah metode yang memadukan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dalam hal metodologi (seperti dalam tahap pengumpulan data), dan kajian model campuran memadukan dua pendekatan dalam semua tahapan proses penelitian (Abbas, 2010: Viii). Sedangkan menurut Creswell (2014: 5) mix- methods merupakan pendekatan penelitian yang mengkombinasikan atau mengasosiasikan bentuk kualitatif dan kuantitatif. Sedangkan menurut Johnson dan Cristensen (2007)Mix-Methods atau metode penelitian kombinasi merupakan pendekatan dalam penelitian yang mengkombinasikan atau menghubungkan antara metode penelitian kualitatif dan kuantitatif  (mencakup landasan filosofis, penggunaan pendekatan dan mengkombinasikan kedua pendekatan dalam penelitian). Sehingga dari berbagai definisi para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa Mix-method penelitian adalah penelitian yang memadukan atau mengkombinasikan pendekatan penelitian kualitatif dan kuantitatif.

Jenis Multi Dimensional Scalling Berdasarkan Pendekatan (skripsi dan tesis)

Pendekatan dalam membuat Perceptual Map

MDS dikenal sebagai pemetaan persepsi data non atribut.

Berdasarkan pendekatannya, MDS dibedakan atas:

  1. Pendekatan turunan

Pendekatan yang mengumpulkan data persepsi dengan pendekatan berbasis

pada atribut.

Keuntungannya:

-Untuk mengidentifikasi atau mengenali responden dengan persepsi yang

homogen.

-Responden dikelompokkan berdasarkan penilaian atribut.

-Memudahkan pembuatan nama pada dimensi.

Kelemahannya:

-Peneliti harus mengidentifikasi semua atribut yang penting

-Peta spasial yang diperoleh tergantung pada atribut yang dikenali.

  1. Pendekatan Langsung

Pendekatan yang mengumpulkan data persepsi dengan pendekatan berbasis

pada non atribut.

Keuntungannya:

-Peneliti tidak harus mengenali/mengidentifikasi suatu set atribut yang

penting.

-Responden membuat pertimbangan kemiripan dengan kriterianya sendiri,

seperti dalam situasi normal.

Kelemahannya:

-Kriteria tersebut sangat dipengaruhi oleh merek atau stimulus yang sedang

dievaluasi.

-Sulit dalam pemberian nama pada dimensi peta spasial.

Pendekatan langsung lebih sering dipergunakan daripada pendekatan berbasis atribut. Namun demikian, mungkin lebih baik menggunakan keduanya sebagai suatau komplemen (Supranto,2004)

Konsep Multi Dimensional Scalling/MDS (skripsi dan tesis)

 

MDS atau penetapan skala multidimensi merupakan sebuah kelas prosedur untuk merepresentasikan persepsi dan preferensi responden secara spasial dengan menggunakan sebuah tampilan visual. MDS juga dikenal sebagai pemetaan persepsi, yaitu berhubungan dengan pembuatan map untuk menggambarkan posisi sebuah obyek dengan obyek lainnya berdasarkan kemiripan obyek–obyek tersebut. MDS dapat juga diaplikasikan ke dalam rating subyektif dalam perbedaan (dissimilarity) antara obyek atau konsep. Lebih lanjut teknik ini dapat mengolah data yang berbeda dari berbagai sumber yang berasal dari responden. Teknik MDS dapat digunakan untuk mengidentifikasi dimensi-dimensi yang menggambarkan persepsi konsumen (Malhotra, 2004).

Analisis multidimensional scaling (MDS) adalah suatu kelas prosedur untuk menyajikan persepsi dan preferensi pelanggan secara spasial dengan menggunakan tayangan yang biasa dilihat. Analisis penskalaan multidimensional scaling dipergunakan di dalam pemasaran untuk mengenali (mengidentifikasi) hal-hal berikut(Supranto,2004):

  1. Banyaknya dimensi dan sifat/cirinya yang dipergunakan untuk mempersepsikan merek yang berbeda di pasar.
  2. Penempatan (positioning) merek yang diteliti dalam dimensi ini.
  3. Penempatan merek ideal dari pelanggan dalam dimensi ini.

Informasi sebagai hasil analisis penskalaan MDS telah dipergunakan untuk berbagai aplikasi pemasaran, antara lain sebagai berikut:

  1. Ukuran citra (image measurement).

Membandingkan persepsi pelanggan dan bukan pelanggan dari perusahaan dengan persepsi perusahaan sendiri.

  1. Segmentasi pasar (market segmentation).
  2. Pengembangan produk baru (new product development). Melihat adanya celah (gap) dalam peta spasial yang menunjukkan adanya peluang untuk penempatan produk baru.
  3. Menilai keefektifan iklan (assesing advertising effectiveness).

Peta spasial digunakan untuk menentukan apakah iklan/advertensi telah berhasil di dalam mencapai penempatan merek yang diinginkan.

  1. Analisis harga (pricing analysis).

Peta spasial dikembangkan dengan dan tanpa informasi harga dapat dibandingkan untuk menentukan dampak yang ditimbulkan harga.

  1. Keputusan saluran (channel decisions).

Pertimbangan pada kecocokan dari merek toko dengan eceran yang berbeda dapat mengarah ke peta spasial yang berguna untuk keputusan saluran.

  1. Pembentukan skala sikap (attitude scale construction).

Teknik MDS dapat dipergunakan untuk mengembangkan dimensi yang cocok dan pengaturan ruang sikap.

 

SUMBER HIPOTESIS (skripsi dan tesis)

 

Hipotesis dapat bersumber dari dua hal (Hines dan Montgomery, 1990), yakni:

  1. Hasil pengalaman masa lalu atau pengetahuan atau sering dari percobaan sebelumnya. Tjuan pengujian hipotesis biasanya untuk menentukan apakah situasi percobaan telah berubah
  2. Teori atau model. Tujuannya untuk membuktikan kebenaran suatu teori atau model.

 

 

Juliandi dkk, 2014

HIPOTESIS PENELITIAN (skripsi dan tesis)

Hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara dari pertanyaan yang ada pada perumusan masalah penelitian. Dikatakan jawaban sementara oleh karena jawaban yang ada adalah jawaban yang berasal dari teori. Dengan kata lain, jika teori menyatakan bahwa A berpengaruh terhadap B maka hipotesis adalah sesuai dengan apa yang dikatakan teori tersebut yakni A berpengaruh terhadap B. jawaban sesungguhnya hanya bari akan ditemukan apabila peneliti telah melakukan pengumpulan data dan analisis data penelitian.

 

Juliandi dkk, 2014

SUMBER TEORI (skripsi dan tesis)

 

Teori dan penelitian harus bersama-sama berfungsi dalam menambah pengetahuan ilmiah dan seorang peneliti tidak boleh menilai teori terlepas dari penelitian empiris melainkan harus menghubungkan satu dengan lainnya, jika kita melakukan penelitian adalah yang paling tepat jika kita mendasarkan diri pada teori yang telah ada, dan hasil dari penelitian dapat memperluas, memperbaharui atau mengkoreksinya teori tersebut (Vredenberg, 1978).

Kuncoro (2003) menyatakan bahwa tinjauan pustaka atau studi literature merupakan langkah penting di dalam penelitian. Langkah ini meliputi identifikasi, lokasi dan analisis dari dokumen yang berisi informasi yang berhubungan dengan permasalahan penelitian secara sistematis. Dokumen ini meliputi jurnal, abstrak, tinjauan buku, data statistic dan laporan penelitian yang relevan. Melalui langkah ini penyusunan hipotesis juga lebih baik karena pemahaman permasalahan yang diteliti akan lebih mendalam. Dengan mengetahui berbagai peneltiian yang sudah ada, peneltii akan menjadi lebih tajam dalam melakukan interprestasi hasil penelitian

Juliandi dkk, 2014

MASALAH PENELITIAN (skripsi dan tesis)

 

Definisi masalah penelitian dapat dilihat dari berbagai pendapat. Masalah penelitian adalah hasil dari suatu proses penalaran yang dilakukan oleh peneliti dalam rangka untuk menerjemahkan fenomena untuk diuji melalui penelitian (Jonker dan Pennink, 2010). Biasanya masalah penelitian adalah suatu masalah tetapi dapat juga berarti peluang. Masalah diartikan sebagai sitausi dimana suatu fakta yang dapat terjadi sudah menyimpang dari batas toleransi yang diharapkan (Umar, 2002). Tetapi suatu masalah sebuah masalah penelitian tidak selalu berarti bahwa ada sesuatu yang secara serius adalah salah namun suatu masalah bisa saja merupakan minat, ketretarikan, rasa penasaran terhadap sesuatu (Sekaran, 2006)

 

Juliandi dkk, 2014

FUNGSI TEORI (skripsi dan tesis)

 

  • Mengidentifikasi permasalahan penelitian

Proses adalah penelitian adalah menetapkan permasalahan. Peneliti mengamati bahwa ada permaslaah tertentu di bidang ilmunya. Untuk memahami tersebut tidak cukuphanya dengan mengamati permasalah yang ada, peneliti perlu membaca teori untuk dapat memahami bagaimana pentingnya bagaimana pentingnya permasalahan itu untuk ditelitik, hal-hal apa saja yang menjadi faktor penyebab timbulnya permasalahan dan bagaimana menilai dan menyelesaikan permasalahan yang ada

  • Menjelaskan hakikat variable penelitian

Variable penelitian yang telah dipilih oleh peneliti dalam penelitiannya akan dapat lebih dipercaya secara ilmiah apabila variable tersebut didukung oleh suatu konsep sehingga isi teori bukan sekedar pendapat atau pemikiran peneliti. Konsep teori yang diperlukan untuk menjelaskan hakikat variable sebaiknya berisi mengenai apa, mengapa dan bagimana:

  1. Apa definisi suatu variable (definisi, pengertian)
  2. Apa saja faktor-faktor yang membentuk suatu variable
  3. Mengapa variable tersebut penting atau bermanfaat
  4. Bagaimana cara mengukur suatu variable
  5. Bagaimana hubungan satu variable dengan variable lainnya
  • Landasan untuk menyusun hipotesis penelitian

Teori dapat berfungsi sebagai landasan untuk menyusun suatu  variable yang berasal dari teori-teori yang ada

  • Dasar untuk menyusun instrument penelitian

Instrument penelitian (alat pengumpulan data penelitian) yang akan digunakan untuk mengukur suatu variable berasal dari teori-teori yang ada. Misalnya instrument yang digunakan peneliti adalah angket maka angket dapat dirancang atau atau dibangun dari teori, khususnya pada bagian yang mengemukakan mengenai ukuran atau indicator suatu variable

  • Acuan untuk membahas hasil penelitian

Teori juga berfungsi sebgai landasan bagi si peneliti ketika ia melakukan pembahasan atau analisis yang akan dilakukan. Apabila peneliti memperoleh suatu temua dari penelitiannya maka ia dapat membandingkannya dengan teori yang telah disusunnya, apakah temuan penelitiannya tersebut sama atau mungkin berbeda dengan teori yang ada

 

Juliandi dkk, 2014

 

MAKNA TEORI (skripsi dan tesis)

 

Teori adalah seperangkat konsep, konstruk dan preposisi tentang suatu objek penelitian (Dul dan Hak, 2008). Konsep dan kontruks memiliki makna yang berdekatan. Pertama konsep adalah abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasi hal-hal khusus (Kerlinger, 2000). Konsep dalam pengertian tersebut bermakna suatu ide atau pengertian yang dabstrakkan dari sesuatu yang nyata. Kedua, konstruk adalah konsep yang dapat diukur. Konsep dapat diontohkan dengan intelegensi yang didefiniskan dan dispesifikasikan dengan cara tertentu yang memungkinkan untuk diamati dan dilakukan pengukuran terhadapnya. Terakhir, presposisi adalah pernyataan yang berkaitan dengan hubungan antara suatu konsep dengan konsep lain.

Juliandi dkk, 2014

PERBEDAAN VARIABEL MODERATOR DAN  INTERVENING (skripsi dan tesis)

Perbedaan antara variable moderator dengan intervening bahwa variable moderator adalah mengenai “it depends” sedangkan variable intervening adalah mengenai “why and how”. Variable moderator menangani keadaan yang akan mngubah hubungan sederhana antara variable independen dan dependen sementar vaiabel intervening menyangkut masalah memahami mengapa dan bagaimana relasi/hubungan ada dan bisa terjadi serta bisa berhubungan secara kuat (Bennert, 2000). Varbel moderator menjelaskan keadaan yang menyebabkan hubungan yang lemah atau ambigu/tidak jelas antara dua variable yang diharapkan memiliki hubungan yang kuat

 

Juliandi dkk, 2014

JENIS-JENIS PENELITIAN (skripsi dan tesis)

 

  1. Penelitian Eksperimen

Penelitian yang melibatkan kelompok-kelompok yang berbeda. Kelompok-kelompk yang ada dibandingkan satu sama lain. Dalam penelitian ini ada dua kelompok yang menjadi penelitian, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok control (Kaufman dan Kaufman, 2005). Kelompok eksperimen adalah kelompok yang

  1. Penelitian Survey

Penelitian survey adalah penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan data dengan menelaah sampel dari suatu populasi yang tersedia. Penelitian survey biasanya tidak dilakukan secara mendalam tentang fenomena yang diteliti.

  1. Penelitian Korelasional, Kausal dan Kausal Komparatif

Penelitian korelasional tujuannya adalah untukmemahami hubungan antar variable (kaufan dan Kaufan, 2005). Dalam hal lain, menyebutkan bahwa penelitian kausal adalah enelitian yang ingin melihat apakah suatu variable yang berperan sebagai variable bebas berpengaruh terhadap variable lain yang menjadi variable terikat

  1. Penelitian sejarah/historis

Penelitian sejarah atau historis adalah penelitian yang berawal dari hal-hal yang tidak diketahui. Penelitian ini berupaya untuk menemukan fakta-fakta atau kejadian di masa lalu (Sreedheran,2007). Data masa lalu dikumpulkan dari berbagai rekaman sejarah yang bertujuan untuk menemukan kebenaran tentang apa yang dipermasalahkan dalam penelitian.

  1. Penelitian studi kasus

Penelitian studi kasus bertujuan untuk mengeksplorasi mengkaji suatu kasus yang spesifik, khas dan unik (smons, 2009). Kasus digali secara mendalam untuk mendapatkan informasi dan fakta yang sebenarnya mengenai sutu kejadian. Apa dan mengapa sseseuatu kasus bisa terjadi. Penelitian studi kasus ini bermaksud hanya untuk mengeksplorasi sesuatu, bukan untuk menguji hipotesis tetapi justru untuk mengembangkan hipotesis

  1. Penelitian tindakan

Penelitian tindakan adalah pendekatan untuk memcahan masalah dengan melakukan tindakan atau aksi tertentu dengan melibatkan peneliti dan partisipasi objek yang diteliti serta melihat hasil yang terjadi dari penerapan tersebut dan mengevaluasi kelebihan kekurangannya.

  1. Penelitian grounded theory

Penelitian ini adalah penelitia yang berkaitan dengan teori. Dimana teori diibangun dari data-data yang dikumpulkan dan dianalisis secara kuantitatif untuk membangun konsep atau teori . teori dibangun karena ketiadaan atau keterbatasan teori yang ada, keterbatasan memahami suatu fenomena tertentu. Tujuan lainnya bisa juga untuk menyempurnakan atau memperbaiki teori yang sudah usah atau tidak lagi sesuai dengan kondisi saat ini

  1. Penelitian etnografi

Penelitian etnografi adalah pendekatan sistematis untuk mempelajari kehidupan budaya dan social masyarakat, institusi. Lebih jelas lagi penelitian ini adalah mempelajari apa yang orang pikirkan, percayai meraka lakukan pada suatu tempat dan waktu tertentu dan bertahan dari waktu ke waktu (Le Compte dan Schensui, 2010)

 

Juliandi dkk, 2014

CIRI-CIRI PENELITIAN ILMIAH (skripsi dan tesis)

 

Penelitian dapat dikatakan sebagai suatu prosespencarian atau penemuan. Setiap orang dapat melakukan pencarian. Hanya saja aktivitas pencarian belum tentu dapat dikatakna ilmiah. Pencarian atau penelitian boleh diakatakan ilmiah jika memiliki bebebrapa karakteristik tertantu.

  1. Sistematis

Ada langkah-langkah tertentu yang ditata sedemikian rupa dalam proses penemuan jawaban atas permasalahan. Umumnya penelitian diawali dengan penemuan permasalahan, penelaahan teori, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, mengolah dan menganlisis data dan diakhiri dengan penarikan kesimpulan.

  1. Logis

Proses penemuan dilakukan dengan cara logis atau sesuatu yang bisa dicerna oleh akal sehat manusia. Suatu proses penemuan yang tidak bisa masuk akal seperti proses pencarian dalam kegiatan mistik, klenik bukanlah termasuk dalam penelitian ilmiah

  1. Kritis

Penelitian perlu mengedepankan sikap kritis, tidak mudah percaya tanpa adanya bukti nyata yang jelas. Fakta diperoleh dari sumber ilmiah dan fakta terpercaya

  1. Objektif

Penelitian harus memandang sesuatu apa adanya, tidak berorientasi kepada sikap subjektif atau emosional peneliti. Apabila suatu penelitian menukan fakta yang mungkin bertentangan dengan kebiasaan, maka suatu fakta tersebut harus diterima sebagai suatu kenyataan yang memang terjadi.

Juliandi dkk, 2014

 

Lumpur Minyak (oily sludge) (skripsi dan tesis)

Lumpur minyak merupakan kotoran yang tidak diharapkan dan terbentuk dari proses produksi minyak. Lumpur (sludge) merupakan material yang berpotensi dapat mencemari lingkungan terutama bila mengandung logam-logam berat yang berbahaya, bila cara-cara dan prosedur penanganan dan penaggulangannya tidak dilakukan dengan cara yang baik dan benar.

Dalam industri Migas, dikenal dua jenis lumpur. Yaitu lumpur pengeboran (mud) dan lumpur proses atau lumpur minyak (oily sludge). Pada umumnya lumpur pengeboran menggunakan fasa cair berupa air (water base mud) karena lebih ramah terhadap lingkungan dan biayanya relatif lebih murah. Fungsi dari lumpur pemboran antara lain untuk (Buntoro, 1998 dalam Wisnu, 2005).

  1. Mengangkat serbuk bor (cutting) ke permukaan.
  2. Mengontrol tekanan didalam formasi.
  3. Mendinginkan serta melumasi pahat dan drill string.
  4. Membersihkan dasar lubang bor.
  5. Membantu dalam evaluasi formasi.
  6. Melindungi formasi produktif.
  7. Membantu stabilitas formasi.

Lumpur (sludge) sendiri merupakan kotoran minyak yang terkumpul dan terbentuk dari proses pengumpulan dan pengendapan kontaminan minyak, baik yang terdiri dari kontaminan yang sudah ada dalam minyak, maupun kontaminan yang terkumpul dan terbentuk dalam penanganan dan pemrosesan minyak tersebut. Kontaminan tersebut dapat berbentuk padat (pasir,lumpur) maupun cair. Sludge merupakan kotoran minyak yang tersusun dari campuran air, minyak dan padatan yang berbentuk cairan kental (viscous) dan padatan lunak yang sifatnya sangat stabil, sukar dipecah menjadi unsur-unsurnya (Mustamin, 1994 dalam Suhartati, 2001).

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut diatas dapat diambil kesimpulan bahwa lumpur (sludge) adalah kotoran minyak yang tidak mempunyai nilai teknis maupun ekonomis sebagai minyak atau produknya, sehingga keberadaannya tidak diharapkan dalam kegiatan MIGAS dan termasuk dalam limbah industri. (Anonim, 1992 dalam Supriani, 2003). Panduan  pelaksanaan pengelolaan lumpur (sludge) Pertamina 1992, pengolahan sludge dalam produksi minyak bumi meliputi:

  1. Inventarisasi
  • Dengan menghitung kualitas sludge tersebut : kadar minyak, kadar lumpur atau pasir, kadar air dan logam berat serta kuantitas dari sludge yang diproduksi
  • Inventarisasi hukum dan perundang-undangan yang berlaku
  • Cara pengolahan yang dilakukan
  • Cara pembuangan yang dilakukan
  • Sumber-sumber dari sludge
  1. Pretreatment (Pengolahan Pendahuluan)

Proses Deolling yaitu dengan memisahkan minyak dari lumpur terlebih dahulu. Minyak hasil pemisahan dari Sludge tersebut dikumpul didalam tangki penampung selanjutnya dapat diproses kembali atau dicampur dengan minyak mentah atau minyak slop dan keperluan lainnya. Deolling dapat dilakukan :

  • Proses pemanasan dengan steam pada suhu 600C diatas pour pointnya. Bila minyak tidak terpisah dengan air maka ditambahkan dengan bahan kimia demulsifer.
  • Proses Pressurized filtration yaitu proses dengan menggunakan filtrasi yang bertekanan.
  • Proses Solvent Extraction yaitu deolling dengan cara menggunakan zat pelarut (Solvent)
  • Centrifugation yaitu proses pemisahan minyak, air dan sludge dengan menggunakan gaya centrifugal.
  1. Treatment (Pengolahan lebih Lanjut)

Bila sludge megandung logam-logam yang berbahaya dapat dilakukan :

  • Land treatment yaitu suatu metoda pengolahan lumpur minyak secara biologis yang berdasarkan pada optimalisasi kemampuan alamiah mikroorganisme dilapisan tanah untuk menguraikan hidrokarbon menjadi karbon dioksida, air dan sel mikroba. (Anonim, 2002)
  • Incenerator yaitu sludge dimusnahkan dengan menggunakan cara insinerasi.

Bila sludge mengandung logam berat yang berbahaya dilakukan :

Solidifikasi atau Chemical Fixation dengan menggunakan semen atau resin. Tempat pembuangan akhir dari sludge ini adalah land fill (Anonim, 1992 dalam Suhartati, 2001).

Karakter umum dari lumpur minyak yang diolah dilokasi bio treatment/land treatment pada dasarnya mencerminkan karakter dari minyak mentah yang dihasilkan di lapangan. API Gravity dari minyak mentah tersebut merupakan prediksi kasar untuk mengetahui kemampuan terolah lumpur minyak yang tidak dikondisikan sebelumnya. (Anonim, 1998). Sedangkan karakter minyak yang diolah dilapangan minyak merupakan minyak yang ringan, dengan angka API gravity minyak mentah sekitar 41-43. (Anonim, 2002). Praktek lapangan yang telah ada menyarankan sebagai aturan umum, bahwa konsentrasi awal minyak di dalam unit pengolahan supaya terjadi pengolahan yang efektif harus memiliki angka dibawah 5% (Anonim, 1998), sedangkan persyaratan limbah yang akan diolah menurut KLH adalah tidak lebih dari 15% (Anonim, 2003).

Sebagai akibat dari tingginya konsentrasi TPH di dalam lumpur minyak, maka tidak diperkenankan untuk langsung mengolah lumpur minyak tersebut langsung ke unit bio treatment. Pencampuran lumpur minyak dengan tanah untuk mengencerkan kandungan TPH sampai pada konsentrasi tertentu yang dapat diterima, akan berakibat pada penggunaan bahan pencampur yang jumlahnya sangat besar dan dengan demikian akan meningkatkan volume bahan yang akan diolah. Oleh karena itu, pencampuran langsung lumpur minyak ke tanah adalah suatu praktek yang tidak dianjurkan dan tidak memenuhi petunjuk bio treatment yang diberikan oleh pemerintah (KLH).

Hidrokarbon Aromatik (Aromatic Hydrocarbons) (skripsi dan tesis)

  • Hidrokarbon Aromatik (Aromatic Hydrocarbons) terdiri dari

Mono Aromatik, yaitu BTEX (Benzene, Toluene, Ethylbenzene, Xylenes) BTEX adalah termasuk jenis hidrokarbon Organik yang mudah menguap (VOHs/ Volatile Organic Hydrocarbons). Sebagian dari senyawa aromatik yang mempunyai satu cincin (single-ring) biasanya digunakan sebagai pelarut pada proses-proses industri. Sebagai contoh, ethylbenzene adalah pelarut yang digunakan untuk membuat styrene (Howard, 1989). Bentuk gabungan dari senyawa aromatik yang mempunyai satu cincin (single- ring) ini juga banyak digunakan pada proses industri seperti untuk pengolahan resin, antioxidan, plastik, logam, kulit, karet dan lain-lain. Selain banyak kegunaan diatas, BTEX  juga sangat terkenal dalam kaitan pencemaran lahan dan air tanah (ground water). Pencemaran BTEX kebanyakan terjadi pada lokasi-lokasi industri yang menghasilkan minyak dan gas bumi, pada area-area dengan tangki penyimpanan bawah tanah (Underground Storage Tanks/USTs). Tidak hanya pencemaran terhadap lahan, senyawa aromatik hidrokarbon juga adalah senyawa yang bersifat karsinogen (pembentuk sel-sel kanker), dapat menghambat pembentukan sel-sel darah, serta mempengaruhi system syaraf pusat(http://www.wikipedia.org,2007).

Struktur bangun dari BTEX antara lain:

  1. Benzene(C6H6)

Benzene (Gambar 2.1) adalah senyawa hidrokarbon aromatik dengan bentuk yang paling sederhana, memiliki enam atom karbon pada satu planar. Benzena yang telah kehilangan satu atom H disebut gugus fenil (C6H5-). Gugus ini mampu mengikat atom atau gugus atom lain sehingga terbentuklah bermacam-macam senyawa turunan benzene. Sebagai senyawa hidrokarbon, benzene bersifat non polar dan tidak larut dalam air. Struktur molekul yang datar dan simetris menyebabkan gaya tarik menarik antar molekul pada benzene lebih kuat daripada alkana, sehingga titik didih benzene relatif lebih tinggi. Kegunaan benzene yang terpenting sebagai pelarut dan bahan baku pembuat senyawa-senyawa aromatik lainnya. Benzene mudah terbakar dan penghisapan uap benzene terlalu banyak akan menghambat pembentukan sel-sel darah. Selain itu benzene juga merupakan senyawa penyebab kanker (karsinogen).

  1. Toluene/Methylbenzene (C7H8)

     Toluene juga dikenal sebagai Methylbenzene atau phenylmethane, merupakan cairan yang  jernih dan tidak larut dalam air, sedikit berbau harum, karena berasal dari senyawa benzene, yang merupakan aromatik hidrokarbon. Toluene digunakan sebagai pelarut dalam industri. Seperti paint thinners, karet, tinta print dan lain-lain. Toluene memang tidak beracun, tetapi jika terhirup dalam dosis yang banyak, akan menyebabkan masalah pernafasan kronik. Jika terjadi untuk periode yang cukup lama, akan menyebabkan kerusakan otak. Meski racun toluene memiliki tingkat kelarutan dalam air yang rendah. Racun toluene tidak bisa dikeluarkan dari tubuh dengan cara metabolisme secara biasa (melalui urine, tinja atau keringat). Ini harus dimetabolisme atau dipecah terlebih dahulu untuk bisa dikeluarkan.Ethylbenzene (C8H10)


Xylene (C
8H10)
Ethylbenzene
adalah senyawa kimia organik yang bersifat aromatik hidrokarbon. Ethylbenzene dominan digunakan pada industri petrokimia sebagai senyawa lanjutan yang memproduksi styrene, yang akhirnya akan digunakan untuk membuat polystyrene, yang biasa digunakan sebagai material plastik.

      Xylene adalah kata lain dari 3 grup turunan dari benzene, yang meliputi ortho-, meta- dan para- isomer dari dimethyl benzene. 0-,m- dan p- isomer ini dibedakan atas dimana dua grup methyl ditempatkan pada atom karbon secara berdampingan. Posisi ortho- yaitu kedua gugus berdampingan, posisi meta- yaitu kedua gugus terpisah oleh satu atom C, posisi para- yaitu kedua gugus terpisah oleh dua atom C. Xylenes, seperti jenis benzene lainnya. Memiliki struktur planar yang sangat stabil. Xylenes hanya dapat larut dalam alcohol dan ether, hampir tidak bisa larut dalam air. Xylenes sangat dapat berdampak pada otak. Pada penggunaan Xylene untuk tingkat tinggi pada periode yang lama (lebih dari satu tahun) dapat menyebabkan sakit kepala, ketidak seimbangan pada otak dan otot, serta kebingungan bahkan dapat menyebabkan kematian. Sedangkan untuk penggunaan pada periode yang singkat (<14 hari) dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata, hidung dan tenggorokan, kesulitan pada pernafasan, kerusakan hati dan ginjal.

  • Poli Aromatik/ Polynuclear Aromatic Hydrocarbons (PAHs).

PAHs adalah senyawa-senyawa kimia yang terdiri dari gabungan dari beberapa cincin aromatik dan tidak memiliki atom-atom yang berbeda (heteroatoms). Banyak diantara senyawa-senyawa ini dikenal sebagai penyebab kanker (carcinogens). PAHs terbentuk oleh pembakaran karbon dari bahan bakar seperti kayu, batubara, diesel atau tembakau yang tidak sempurna. Bentuk PAH yang paling sederhana adalah benzocyclobutene (C8H6). PAH yang terdiri sampai 4 gabungan cincin benzene lebih mempunyai daya larut rendah didalam air serta tekanan uap air yang rendah. Hal ini disebabkan karena semakin meningkat bobot molekulernya, maka semakin rendah daya larut didalam air dan tekanan uap airnya. PAH yang memiliki 2 gabungan cincin benzene lebih dapat cepat dalam air serta lebih cepat menguap. Karena sifat-sifat yang seperti inilah PAH hanya dapat ditemukan didalam soil dan padatan/sediment, dan jarang sekali ditemukan di air maupun udara. Namun demikian sering juga ditemukan dalam bentuk partikel yang memenjarakan air dan udara didalamnya. Akibat dari semakin meningkatnya bobot moleculer, maka sifat carcinogens-nya akan semakin meningkat tetapi kadar toxicitas akutnya akan berkurang.

 

Hidrokarbon (skripsi dan tesis)

 

            Hidrokarbon didefinisikan sebagai senyawa dengan molekul yang hanya mengandung atom karbon dan hidrogen. Senyawa karbon dan hidrogen mempunyai banyak variasi yang terdiri dari hidrokarbon rantai terbuka yang meliputi hidrokarbon jenuh dan tak jenuh. Serta hidrokarbon dengan rantai tertutup yang meliputi hidrokarbon siklik aliphatik dan hidrokarbon aromatik (http://www.wikipedia.org,2007).

Struktur hidrokarbon yang ditemukan dalam minyak mentah terdiri dari tiga senyawa hidrokarbon, yaitu senyawa hidrokarbon Alkana (paraffin/ CnH2n+2 yaitu senyawa hidrokarbon yang memiliki rantai lurus dan bercabang, fraksi ini merupakan yang terbesar didalam minyak mentah), siklo alkana (naften/ CnH2n yaitu ada yang memiliki cincin 5 yaitu siklopentana dan ada yang memiliki cincin 6 yaitu sikloheksana) dan aromatic/ CnH2-n -6. Ketiga tipe hidrokarbon sangat tergantung pada sumber dari minyak bumi. Pada umumnya alkana merupakan hidrokarbon terbanyak, tetapi terkadang disebut sebagai crude napthenic, karena mengandung siklo alkana sebagai komponen yang paling sedikit (Zuhra, 2003). Petroleum hidrokarbon merupakan istilah yang umumnya digunakan untuk senyawa organik yang terdapat pada minyak mentah (crude oil) dan produk-produk pengilangannya  jenis hidrokarbon.

Confirmatory Factor Analysis (skripsi dan tesis)

Hair et al (2010) mengemukakan bahwa Confirmatory Factor Analysis (CFA) merupakan bagian dari SEM (Structural Equation Modeling) untuk menguji cara variabel terukur atau indikator yang baik dalam menggambarkan atau mewakili suatu bilangan dari suatu faktor. Pada CFA faktor disebut juga sebagai konstruk. Teori pengukuran digunakan untuk menentukan bagaimana variabel terukur, menggambarkan secara sistematik dan logis suatu konstruk yang ditampilkan dalam suatu model.

Ghozali (2005) mengemukakan bahwa Confirmatory Factor Analysis adalah salah satu metode analisis multivariat yang digunakan untuk menguji atau mengkonfirmasikan model yang dihipotesiskan. Model yang dihipotesiskan terdiri dari satu atau lebih variabel laten, yang diukur oleh satu atau lebih variabel indikator. Variabel laten adalah variabel yang tidak terukur atau tidak dapat diukur secara langsung dan memerlukan variabel indikator untuk mengukurnya, sedangkan variabel indikator adalah variabel yang dapat diukur secara langsung.

Uji Statistik Parametrik (skripsi dan tesis)

Statistik Parametrik; yaitu teknik yang didasarkan pada asumsi bahwa data yang diambil mempunyai distribusi normal dan menggunakan data interval dan rasio.[6]

  1. Uji-t

Uji-digunakan untuk menentukan apakah 2 kelompok skor memiliki perbedaan yang signifikan di tingkat probabilitas pilihan. Contohnya, Uji-tdapat digunakan untuk membandingkan skor membaca pada laki-laki dan skor membaca pada perempuan di sekolah A.

Strategi dasar Uji-adalah membandingkan perbedaan nyata antara mean kelompok (X1-X2) menentukan apakah ada perbedaan yang diharapkan berdasarkan peluang.

Uji-terdiridari:

Uji-t untuk sampel independen digunakan untuk menentukan apakah ada perbedaan yang signifikan antara dua sampel independen. Sampel independen ditentukan tanpa adanya pemadanan jenis apapun. Software SPSS dapat digunakan untuk uji-t.

Uji-t untuk sampel non-independen digunakan untuk membandingkan dua kelompok terpilih berdasarkan beberapa kesamaan. Uji ini juga digunakan untuk membandingkan performansi kelompok tunggal dengan pretest danposttest atau dengan dua perlakuan berbeda.[7]

  1. Analisis Varians (ANOVA)

Dalam Educational Research (2008), Cresswell mengartikan ANOVA sebagai teknik statistik yang digunakan untuk perbedaan yang ada pada lebih dari dua kelompok data. Adapun jenis analisis varians, yakni:

  1. ANOVA sederhana (satu arah) digunakan untuk menentukan apakah skor dari dua kelompok atau lebih memiliki perbedaan secara signifikan pada tingkat probabilitasnya. Misalnya,  pengukuran prestasi siswa berdasarkan tingkat ekonominya (tinggi, sedang, dan rendah), dimana tingkat ekonomi sebagai variabel kelompok dan tingkat ekonomi sebagai variabel dependennya.
  2. Multi comparison adalah pengujian yang melibatkan perhitungan bentuk istimewa dari uji-t. Setiap kali uji signifikansi dilakukan, tingkat probabilitasnya kita terima. Misalnya, kita setuju kalau hasil yang akan didapatakan muncul hanya 5 kali kesempatan pada setiap 100 sampel. Hasil tersebut dikatakan bermakna dan bukan sekedar karena peluang semata.
  3. ANOVA Multifaktor

Seperti pembahasan kelompok sebelumnya, desain factorial digunakan untuk meneliti dua variabel bebas atau lebih serta hubungan di antara variabel tersebut, maka ANOVA multifaktor adalah jenis analisis statistik yang paling sesuai. Hasilan alisisnya adalah rasioterpisah untuk setiap variabel bebas dan satu rasio untuk interaksi. Misalnya, kita ingin mengetahui apakah gender dan tingkat ekonomi (tinggi, sedang, dan rendah) mempengaruhi prestasi mahasiswa. ANOVA multifaktor memungkinkan kita untuk menghitung kedua variabel bebas (gender dan tingkat ekonomi) dan variabel terikat (prestasi; IPK, skor bahasa, skor matematika, dsb)

  1. Analysis of Covariance (ANCOVA)

Analisis ini model ANOVA yang digunakan dengan cara berbeda dimana variabel bebas dihitung dengan memperhatikan rancangan penelitian. Bila penelitian memiliki 2 variabel bebas atau lebih, maka uji jenis inilah yang cocok digunakan melalui dua cara yakni: (1) sebagai teknik pengendalian variabel luar (extraneous variable) serta sebagai alat untuk meningkatkan kekuatan uji statistik. ANCOVA bisa digunakan pada penelitian kausal komparatif maupun penelitian ekperimental yang melibatkan kelompok yang sudah ada dan kelompok yang dibentuk secara acak, dan (2) ANCOVA digunakan untuk memperkuat uji statistic dengan memperkecil varians dalam kelompok (error). Kekuatan yang dimaksudkan adalah kemampuan uji signifikansi untuk mengenali temuan riset sebenarnya, yang memungkinkan penguji menolak hipotesis 0 (nol) yang salah.[8]7

  1. Regresi Jamak

Regresi jamak digunakan pada data berbentuk rasio dan interval. Regresi jamak menggabungkan variabel yang diketahui secara terpisah untuk memprediksi (misalnya, hubungan antara) criteria dalam persamaan (rumus) prediksi atau dikenal dengan  Multiple Regression Equation. Regresi jamak merupakan prosedur analisis untuk penelitian eksperimental, kausal komparatif, dan korelasional karena teknik ini tidak hanya untuk menentukan apakah ada hubungan antar variable tetapi juga untuk mengetahui besar (kuatnya) hubungan tersebut. Salah satu jenis regresi jamak adalah step-wise analysis yang memungkinakn kita memasukkan atau mengeluarkan variabel utama (predicator) ke dalam persamaan regresi tahap demi tahap. Regresi jamak juda menjadi dasar analisis jalur yang bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat interaksi variabel utama satu sama lain dan berkontribusi pada variabel terikat.[9]

Sementara dalam Emzir (2011) dikatakan bahwa regresi jamak merupakan perluasan dari regresi dan prediksi sederhana dengan penambahan beberapa variabel. Kekuatan prediksi akan semakin terdukung dengan penambahan variabel.[10]

  1. Korelasi

Menurut Cohen, dkk., Teknik korelasi digunakan untuk mengetahui tiga hal pada dua variabel atau dua set data. Pertama, “Apakah ada hubungan antara dua variabel atau set data”. Bila jawabannya “ya”, maka dua hal berikutnya perlu kita cari yakni; “Bagaimana arah hubugan tersebut”; dan “Apa yang menjadi ukurannya?” Hubungan yang dimaksudkan adalah kencenderungan dua variabel atau set data berbeda secara konsisten.[11] Dalam Solusi Mudah dan Cepat Menguasai SPSS 17.0 unruk Pengolahan Data Statistik (Wahana Komputer, 2009) dikatakan analisis korelasi dilakukan untuk menunjukkan keeratan hubungan kausal antara variabel-variabel. Jenis-jenis analisis korelasi, yaitu: Korelasi sederhana, yaitu , korelasi parsial, dan uji distance

yaitu teknik yang didasarkan pada asumsi bahwa data yang diambil mempunyai distribusi normal dan menggunakan data interval dan rasio.[6]

  1. Uji-t

Uji-digunakan untuk menentukan apakah 2 kelompok skor memiliki perbedaan yang signifikan di tingkat probabilitas pilihan. Contohnya, Uji-tdapat digunakan untuk membandingkan skor membaca pada laki-laki dan skor membaca pada perempuan di sekolah A.

Strategi dasar Uji-adalah membandingkan perbedaan nyata antara mean kelompok (X1-X2) menentukan apakah ada perbedaan yang diharapkan berdasarkan peluang.

Uji-terdiridari:

Uji-t untuk sampel independen digunakan untuk menentukan apakah ada perbedaan yang signifikan antara dua sampel independen. Sampel independen ditentukan tanpa adanya pemadanan jenis apapun. Software SPSS dapat digunakan untuk uji-t.

Uji-t untuk sampel non-independen digunakan untuk membandingkan dua kelompok terpilih berdasarkan beberapa kesamaan. Uji ini juga digunakan untuk membandingkan performansi kelompok tunggal dengan pretest danposttest atau dengan dua perlakuan berbeda.[7]

  1. Analisis Varians (ANOVA)

Dalam Educational Research (2008), Cresswell mengartikan ANOVA sebagai teknik statistik yang digunakan untuk perbedaan yang ada pada lebih dari dua kelompok data. Adapun jenis analisis varians, yakni:

  1. ANOVA sederhana (satu arah) digunakan untuk menentukan apakah skor dari dua kelompok atau lebih memiliki perbedaan secara signifikan pada tingkat probabilitasnya. Misalnya,  pengukuran prestasi siswa berdasarkan tingkat ekonominya (tinggi, sedang, dan rendah), dimana tingkat ekonomi sebagai variabel kelompok dan tingkat ekonomi sebagai variabel dependennya.
  2. Multi comparison adalah pengujian yang melibatkan perhitungan bentuk istimewa dari uji-t. Setiap kali uji signifikansi dilakukan, tingkat probabilitasnya kita terima. Misalnya, kita setuju kalau hasil yang akan didapatakan muncul hanya 5 kali kesempatan pada setiap 100 sampel. Hasil tersebut dikatakan bermakna dan bukan sekedar karena peluang semata.
  3. ANOVA Multifaktor

Seperti pembahasan kelompok sebelumnya, desain factorial digunakan untuk meneliti dua variabel bebas atau lebih serta hubungan di antara variabel tersebut, maka ANOVA multifaktor adalah jenis analisis statistik yang paling sesuai. Hasilan alisisnya adalah rasioterpisah untuk setiap variabel bebas dan satu rasio untuk interaksi. Misalnya, kita ingin mengetahui apakah gender dan tingkat ekonomi (tinggi, sedang, dan rendah) mempengaruhi prestasi mahasiswa. ANOVA multifaktor memungkinkan kita untuk menghitung kedua variabel bebas (gender dan tingkat ekonomi) dan variabel terikat (prestasi; IPK, skor bahasa, skor matematika, dsb)

  1. Analysis of Covariance (ANCOVA)

Analisis ini model ANOVA yang digunakan dengan cara berbeda dimana variabel bebas dihitung dengan memperhatikan rancangan penelitian. Bila penelitian memiliki 2 variabel bebas atau lebih, maka uji jenis inilah yang cocok digunakan melalui dua cara yakni: (1) sebagai teknik pengendalian variabel luar (extraneous variable) serta sebagai alat untuk meningkatkan kekuatan uji statistik. ANCOVA bisa digunakan pada penelitian kausal komparatif maupun penelitian ekperimental yang melibatkan kelompok yang sudah ada dan kelompok yang dibentuk secara acak, dan (2) ANCOVA digunakan untuk memperkuat uji statistic dengan memperkecil varians dalam kelompok (error). Kekuatan yang dimaksudkan adalah kemampuan uji signifikansi untuk mengenali temuan riset sebenarnya, yang memungkinkan penguji menolak hipotesis 0 (nol) yang salah.[8]7

  1. Regresi Jamak

Regresi jamak digunakan pada data berbentuk rasio dan interval. Regresi jamak menggabungkan variabel yang diketahui secara terpisah untuk memprediksi (misalnya, hubungan antara) criteria dalam persamaan (rumus) prediksi atau dikenal dengan  Multiple Regression Equation. Regresi jamak merupakan prosedur analisis untuk penelitian eksperimental, kausal komparatif, dan korelasional karena teknik ini tidak hanya untuk menentukan apakah ada hubungan antar variable tetapi juga untuk mengetahui besar (kuatnya) hubungan tersebut. Salah satu jenis regresi jamak adalah step-wise analysis yang memungkinakn kita memasukkan atau mengeluarkan variabel utama (predicator) ke dalam persamaan regresi tahap demi tahap. Regresi jamak juda menjadi dasar analisis jalur yang bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat interaksi variabel utama satu sama lain dan berkontribusi pada variabel terikat.[9]

Sementara dalam Emzir (2011) dikatakan bahwa regresi jamak merupakan perluasan dari regresi dan prediksi sederhana dengan penambahan beberapa variabel. Kekuatan prediksi akan semakin terdukung dengan penambahan variabel.[10]

  1. Korelasi

Menurut Cohen, dkk., Teknik korelasi digunakan untuk mengetahui tiga hal pada dua variabel atau dua set data. Pertama, “Apakah ada hubungan antara dua variabel atau set data”. Bila jawabannya “ya”, maka dua hal berikutnya perlu kita cari yakni; “Bagaimana arah hubugan tersebut”; dan “Apa yang menjadi ukurannya?” Hubungan yang dimaksudkan adalah kencenderungan dua variabel atau set data berbeda secara konsisten.[11] 

Dikatakan analisis korelasi dilakukan untuk menunjukkan keeratan hubungan kausal antara variabel-variabel. Jenis-jenis analisis korelasi, yaitu: Korelasi sederhana, yaitu , korelasi parsial, dan uji distance

 Pengujian Hipotesis (skripsi dan tesis)

Pengujian hipotesis adalah proses pengambilan keputusan dimana peneliti mengevaluasi hasil penelitian terhadap apa yang ingin dicapai sebelumnya. Misalnya, kita ingin menerapkan program baru dalam pelajaran membaca. Pada rencana penelitian dikemukanan hipotesis penelitian yang memprediksi perbedaan skor siswa yang menjalni program baru tadi dengan proglam lama, dan hipotesis nol (0), yang memprediksikan skor kedua kelompok tidak akan berbeda. Setelah data dihitung mean dan standar deviasinya dan hasilnya menunjukkan skor siswa dengan program baru lebih tinggi (berbeda secara signifikan) daripada siswa yang mengikuti program lama, maka hipotesis penelitian diterima dan hipotesis nol ditolak. Yang berarti bahwa program baru tersebut efektif untuk diterapkan pada program membaca. Intinya, pengujian hipotesis adalah proses evaluasi hipotesis nol, apakah diterima tau ditolak

Standard Error (skripsi dan tesis)

Peluang setiap sampel sangat identik dengan populasinya sangat kecil (nill) meskipun inferensi populasi didapat dari informasi sampel.Penerapan random sampling tidak menjamin karakteristik sampel sama persis dengan populasi. Variasi prediksi antara mean disebut sampling errorSampling error ini tidak bisa dihindari dan ini bukan kesalahan peneliti. Yang menjadi persoalah adalah apakah error tersebut semata-mata hasil sampling error atau merupakan perbedaan yang bermakna yang akan pula ditemukan pada papulasi yang lebih besar.

Ciri standard error adalah bahwa error yang terjadi bisaanya berdistribusi normal yang besarnya berbeda-bedadan error tersebut cenderung membentuk kurva normal yang menyerupai lonceng.

Faktor utama yang mempengaruhi standard error adalah jumlah sampel. Semakin banyak sampelnya, semakin kecil standard  errornya. Ini menunjukkan bahwa sampel penelitian semakin akurat bila banyak sampelnya.

Faktor utama yang mempengaruhi standard error adalah jumlah sampel. Semakin banyak sampelnya, semakin kecil standard error meannya yang berarti bahwa semakin kecil standard error-nya, semakin akurat mean sampel untuk dijadikan estimator untuk mean populasiny

Statistik inferensial (skripsi dan tesis)

Statistik inferensial adalah teknik analisis data yang digunakan untuk menentukan sejauh mana kesamaan antara hasil yang diperoleh dari suatu sampel dengan hasil yang akan didapat pada populasi secara keseluruhan. Jadi statistik inferensial membantu peneliti untuk mencari tahu apakah hasil yang diperoleh dari suatu sampel dapat digeneralisasi pada populasi.[1] Sejalan dengan pengertian statistik inferensial menurut Creswell, Muhammad Nisfiannoor berpendapat bahwa statistik inferensial adalah metode yang berhubungan dengan analisis data pada sampel untuk digunakan untuk penggeneralisasian pada populasi. Penggunaan statistic inferensial didasarkan pada peluang (probability) dan sampel yang dipilih secara acak (random). [2]

Statistik inferensial terdiri atas dua jenis yaitu statistik parametris dan statistik nonparametris. Statistik parametris digunakan untuk menguji parameter populasi melalui statistik, atau menguji ukuran populasi melalui data sampel. Sedangkan, statistik nonparametris tidak menguji parameter populasi, tetapi menguji distribusi. Penggunaan statistik parametris dan statistik nonparametris tergantung pada asumsi dan jenis data yang akan dianalisis. Statistik parametris kebanyakan digunakan untuk untuk menganalisis data interval dan rasio, sedangkan statistik nonparametris kebanyakan digunakan untuk menganalisis data nominal, ordinal (Sugiyono, 2013).

PENGUJIAN HIPOTESIS UNTUK ANALISIS DATA RISET (skripsi dan tesis)

Pengujian hipotesis merupakan suatu asumsi atau anggapan yang bisa benar atau bisa salah mengenai suatu hal dan dibuat untuk menjelaskan suatu hal tersebut sehingga memerlukan pengecekan lebih lanjut. Bila hipotesis yang dibuat itu secara khusus berkaitan dengan parameter populasi, maka hipotesis itu disebut hipotesis statistik. Jadi hipotesis statistik adalah suatu asumsi atau anggapan atau pernyataan atau dugaan mengenai satu atau lebih populasi. Untuk suatu hipotesis yang dibuat, hanya dua kemungkinan yang akan kita putuskan, yaitu kita akan menolak hipotesis atau kita akan menerima hipotesis, setelah kita manghitung statistik dari sampel. Menolak hipotesis artinya kita menyimpulkan bahwa hipotesis tidak benar, sedangkan menerima hipotesis artinya tidak cukup informasi/bukti dari sampel untuk menyimpulkan bahwa hipotesis harus kita tolak. Artinya walaupun hipotesis itu kita terima, tidak berarti bahwa hipotesis itu benar. Sehingga dalam membuat rumusan pengujian hipotesis, hendaknya selalu membuat pernyataan hipotesis yang diharapkan akan diputuskan untuk ditolak. Hipotesis yang dirumuskan dengan harapan untuk ditolak disebut hipotesis nol yang ditulis Ho. Penolakan hipotesis nol akan menjurus pada penerimaan hipotesis alternatif atau hipotesis tandingan yang ditulis H1 atau Ha

Pengertian Analisis Data (skripsi dan tesis)

Pengertian Analisis Data adalah suatu proses atau upaya pengolahan data menjadi sebuah informasi baru agar karakteristik data tersebut menjadi lebih mudah dimengerti dan berguna untuk solusi suatu permasalahan, khususnya yang berhubungan dengan penelitian.

Analisis data juga dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengubah data hasil dari penelitian menjadi sebuah informasi baru yang dapat digunakan dalam membuat kesimpulan.

Secara umum, tujuan analisis data adalah untuk menjelaskan suatu data agar lebih mudah dipahami, selanjutnya dibuat sebuah kesimpulan. Suatu kesimpulan dari analisis data didapatkan dari sampel yang umumnya dibuat berdasarkan pengujian hipotesis atau dugaan.

Dalam hal lain, analisis data adalah upaya atau cara untuk mengolah data menjadi informasi sehingga karakteristik data tersebut bisa dipahami dan bermanfaat untuk solusi permasalahan, tertutama masalah yang berkaitan dengan penelitian. Atau definisi lain dari analisis data yaitu kegiatan yang dilakukan untuk menubah data hasil dari penelitian menjadi informasi yang nantinya bisa dipergunakan dalam mengambil kesimpulan.

Adapun tujuan dari analisis data ialah untuk mendeskripsikan data sehingga bisa di pahami, lalu untuk membuat kesimpulan atau menarik kesimpulan mengenai karakteristik populasi berdasarkan data yang didapatkan dari sampel, biasanya ini dibuat berdasarkan pendugaan dan pengujian hipotesis. Itulah penjelasan mengenai analisis data semoga dapat dipahami.

Validitas (skripsi dan tesis)

Validitas adalah istilah penting dalam penelitian yang mengacu pada konseptual dan kesehatan ilmiah dari sebuah studi penelitian (Graziano & Raulin, 2004).  Untuk menghasilkan kesimpulan yang valid, konsep yang sangat penting dan berguna dalam segala bentuk  metodologi penelitian. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan akurasi dan kegunaan temuan dengan menghilangkan atau mengendalikan banyak pengganggu variabel mungkin, yang memungkinkan untuk kepercayaan yang lebih besar dalam temuan  sebuah studi yang diberikan.Membicarakan validitas sebagai terminologi penelitian, setidak-tidaknya akan sampai pada dua pengertian , yakni berkaitan dengan pengukuran dan yang kedua berkaitan dengan penelitian itu sendiri. validitas berkaitan dengan tiga unsur; alat ukur,metode ukuran dan pengukur (peneliti). Validitas ukur adalah suatu keadaan dimana alat ukur yang di gunakan untuk mengukur karakteristik seperti yang diinginkan oleh peneliti untuk di ukur. Validitas penelitian mempunyai pengertian yang berbeda dengan validitas pengukuran ,walaupun untuk termencapai validitas penelitian syarat validitas pengukuran harus terpenuhi pula. Ada empat jenis yang berbeda dari validitas (validitas internal, eksternal validitas, validitas konstruk, dan validitas kesimpulan statistik) yang berinteraksi  untuk mengendalikan dan meminimalkan dampak dari berbagai asing  faktor yang dapat mengacaukan studi dan mengurangi akurasi yang  kesimpulan. Namun yang akan di bahas sekarang ialah yang di kenal demngan validitas eksternal dan internal yang di kemukakan oleh Sugiyono membagi validitas menjadi dua jenis, yaitu validitas internal dan validitas eksternal

Rancangan sama subjek (within-subject design) (skripsi dan tesis)

Rancangan sama-subjek merupakan rancangan yang melibatkan subjek yang
sama dalam semua kondisi perlakuan. Dengan perkataan lain setiap subjek akan mendapatkan semua kondisi perlakuan atau semua level variabel independen yang ada dalam eksperimen. Dalam rancangan ini subjek mendapatkan lebih dari satu kondisi perlakuan dan diukur
variabel dependennya sesudah mendapatkan setiap kondisi perlakuan sehingga disebut rancangan amatan ulangan (repeated measures design). Rancangan sama subjek dapat dilakukan dengan melibatkan satu variabel independen.