Dampak Limbah Kopi (skripsi dan tesis)

Limbah kopi mengandung beberapa zat kimia beracun seperti alkaloids, tannins, dan polyphenolics. Hal ini membuat lingkungan degradasi biologis terhadap material organik lebih sulit. Limbah kopi yang berupa kulit termasuk limbah organik sehingga mudah terdegradasi oleh lingkungan. Limbah hasil pengolahan kopi yaitu berupa daging buah yang secara fisik komposisi mencapai 48%, terdiri dari kulit buah 42% dan kulit biji 6% (Zainuddin et al, 1995).

Dampak sederhana yang ditimbulkan adalah bau busuk yang cepat muncul. Hal ini karena kulit kopi masih memiliki kadar air yang tinggi, yaitu 75-80% (Simanihuruk et al., 2010) sehingga sangat mudah ditumbuhi oleh mikroba pembusuk. Tentunya, hal ini akan menggangu lingkungan sekitar jika dalam jumlah besar karena dapat mencemari udara. Selain itu, kulit kopi yang terbengkalai juga dapat menjadi media tumbuh bakteri pathogen mengingat kandungan nutrisinya yang masih cuku tinggi. Akibatnya, penyakit yang ditimbulkan dapat menjadi wabah karena dibawa angin atau lalat yang hinggap.

Dampak lingkungan berupa polusi organik limbah kopi yang paling berat adalah pada perairan di mana effluen kopi dikeluarkan. Dampak itu berupa pengurangan oksigen karena tingginya BOD dan COD. Substansi organik terlarut dalam air limbah secara amat lamban dengan menggunakan proses mikrobiologi dalam air yang membutuhkan oksigen dalam air. Karena terjadinya pengurangan oksigen terlarut, permintaan oksigen untuk menguraikan organik material melebihi ketersediaan oksigen sehingga menyebabkan kondisi anaerobik. Kondisi ini dapat berakibat fatal untuk makhluk yang berada dalam air dan juga bisa menyebabkan bau, lebih jauh lagi, bakteri yang dapat menyebabkan masalah kesehatan  dapat meresap ke sumber air minum.

Limbah (skripsi dan tesis)

I

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), definisi limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan. Definisi secara umum, limbah adalah bahan sisa atau buangan yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi, baik pada skala rumah tangga, industri, pertambangan, dan sebagainya. Bentuk limbah tersebut dapat berupa gas dan debu, cair atau padat. Di antara berbagai jenis limbah ini ada yang bersifat beracun atau berbahaya dan dikenal sebagai Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B3).

Mahida dan Bennet dalam Zain (2005) menyatakan bahwa limbah adalah buangan cair dari suatu lingkungan masyarakat baik domestik, perdagangan maupun industri yang mengandung bahan organik dan non organik. Bahan organik yang terkandung dalam limbah umumnya terdiri dari bahan nitrogen, lemak, karbohidrat dan sabun. Limbah cair itu sendiri merupakan gabungan atau campuran dari air dan bahan-bahan pencemar yang terbawa oleh air, baik dalam keadaan terlarut maupun tersuspensi yang terbuang dari sumber pertanian, sumber industri, sumber domestik (perumahan, perdagangan dan perkantoran),dan pada saat tertentu tercampur dengan air tanah, air permukaan ataupun air hujan .

Limbah cair yang bersumber dari pertanian (sawah) terdiri dari air yang bercampur dengan bahan-bahan pertanian seperti pestisida dan pupuk yang mengandung nitrogen, fosfor, sulfur, kalsium dan kalium. Limbah yang bersumber 8 dari kegiatan industri umumnya memiliki karakterisasi yang bervariasi antara satu jenis industri dengan industri lainnya. Bahan polutan yang terkandung dalam limbah industri yaitu zat organik terlarut, padatan tersuspensi, bahan terapung, minyak, lemak logam berat serta senyawa toksik. Untuk limbah domestik itu sendiri merupakan semua bahan limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi, toilet, tempat cuci pakaian, dan peralatan rumah tangga (Mahida, dalam Zain, 2005)

Potensi pengembangan (skripsi dan tesis)

      Menurut seed dkk (1962) dalam Hardiyatmo (2002) mendefinisikan potensi pengembangan (swell potential) adalah persentase pengembangan dibawah tekanan 6,9 kPa pada contoh tanah yang terbebani secara terkekang pada arah lateral dengan contoh tanah yang dipadatkan pada kadar air optimum sehingga mencapai berat volume kering maksimumnya.

      Menurut Victorine dkk (1997) dalam Syawal (2004) mengukur potensi kembang susut tanah diperlukan dua metoda yaitu pengukuran langsung dan tidak langsung.Metoda langsung dengan mengadakan pengujian sebenarnya terhadap pengembangan, metoda tidak langsung melibatkan klasifikasi dan sifat-sifat fisik tanah untuk memperediksi potensi kembang susut.

a.Metoda langsung ( direct method )

      Dalam menentukan besarnya potensi pengembangan (swell potential) untuk tanah ekspansif  dilakukan pengujian dilaboratorium dengan menngunakan alat type konsolidometer. Pengembangan yang diukur adalah pengembangan arah vertikal setelah tanah sampel digenangi air, ratio dari tinggi awal sampel kedeformasi didefinisikan sebagai persen pengembangan.

b.Metoda tidak langsung (indirect method)

      Seed dkk (1962) dalam Hardiyatmo (2002) memberikan klasifikasi nilai potensi pengembangan yang diperoleh dilaboratorium, dapat diperlihatkan pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Klasifikasi potensi pengembangan (Seed dkk,1962)

Derajat ekspansif Potensi pengembangan, S(%)
Rendah

Sedang

Tinggi

Sangat tinggi

0 – 1,5

1,5 – 5

5 – 25

> 25

       Menurut Mechan and Karp (1994) dalam Day (1999) potensial mengembang dapat diketahui berdasarkan nilai prosentasi lempung (ukuran butir < 0,002 mm) dan indeks plastisitas seperti Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Hubungan potensial mengembang dengan IP (Day,1999)

No. %d<0,002 mm Indeks Plastisitas Potensial mengembang
1 0-10 0% – 10% Sangat rendah
2 10-15 10% – 15% Rendah
3 15-25 15% – 25% Medium
4 25-35 25% – 35% Tinggi
5 >35 >35 Sangat tinggi

Tanah Ekspansif (skripsi dan tesis)

Tanah ekspansif adalah tanah berlempung yang mempunyai ciri-ciri yaitu mengalami perubahan volume yang besar dalam merespon langsung  perubahan  kadar air. Tanah ekspansif cenderung mengalami peningkatan volume yaitu akan mengembang (swell) ketika kadar air pada tanah meningkat dan mengalami penyusutan (shrink) ketika kadar air pada tanah menurun.Walaupun potensi ekspansif dapat dihubungkan dengan banyak faktor seperti susunan dan struktur tanah, kondisi lingkungan, dan lain sebagainya, semua itu yang menjadi kontrol utamanya adalah mineralogi tanah lempung.Tanah yang mengandung kaolinite yang berplastisitas rendah cenderung untuk memperlihatkan suatu potensi kembang susut yang lebih rendah dibandingkan tanah yang mengandung montmorillonite yang berplastisitas tinggi.(Syawal,2004).

Tanah Lempung (skripsi dan tesis)

      Tanah lempung adalah tanah yang berbutir sangat halus berbentuk pipih dan panjang yang apabila dalam keadaan kering sangat keras, terjadi retak retak dibeberapa tempat sedangkan apabila dalam keadaan basah menjadi lunak dan lengket bahkan apabila kadar airnya berlebih berubah menjadi lumpur yang tidak mempunyai kuat dukung sama sekali.(Soekoto,1984).

      Partikel lempung mempunyai diameter efektif sama atau kurang dari 0,002 mm, sehingga ukuran partikel belum dapat untuk menentukan mineral lempung, tetapi masih harus dilihat dari kandungan komposisi mineralnya Chen (1975) dalam Hardiyatmo (2002).

      Partikel lempung dalam kondisi asli selalu dikelilingi oleh air dan ikatan antara air dan permukaan padat mineral lempung disebut Adsorbed water (Das-Mochtar,1993).

       Derucher dkk (1998) mengemukakan bahwa ada tiga jenis mineral yang dominan dalam mineral lempung yaitu : Kaolinite, illite, dan Montmorillonite.

      Mineral lempung dapat didefinisikan sebagai hasil pelapukan tanah akibat reaksi kimia yang menghasilkan susunan kelompok partikel berukuran koloid dengan diameter butiran lebih kecil dari 0,002 mm.(Hardiyatmo,2002).

      Hampir semua mineral lempung berbentuk lempengan sehingga sifat partikel sangat dipengaruhi oleh gaya permukaan.(Craig – Susilo,1991).

      Bentuk partikel tanah lempung adalah mungkin berbentuk bulat, bergerigi maupun bentuk diantaranya dan mempunyai spesifik gravity antara 2,58 – 2,75. (Hardiyatmo,2002).

      Untuk menghasilkan kekuatan tertentu, tanah berbutir halus seperti lempung membutuhkan semen yang lebih banyak, hal ini karena permukaan partikel yang harus ditutup memberikan sementasi pada titik kontak antar partikelnya lebih besar dibandingkan dengan tanah dengan butiran yang lebih besar.(Soekoto,1984).

Pengertian Tanah (skripsi dan tesis)

Bowles (1984) menuliskan bahwa tanah merupakan campuran dari partikel partikel yang terdiri dari salah satu atau seluruh jenis sebagai berikut :

  1. Berangkal atau boulders yaitu potongan batuan yang besar dengan ukuran 250 mm sampai 300 mm.
  2. Kerakal (cobbles) atau pebbles yaitu batuan yang berukuran 150 mm sampai 250 mm.
  3. Kerikil atau gravel merupakan partikel batuan yang berukuran 5 mm sampai 150 mm
  4. Pasir atau sand merupakan batuan yang berukuran antara 0,074 mm sampai 5 mm
  5. Lanau atau silt merupakan batuan berukuran antara 0,002 mm sampai 0,074 mm
  6. Lempung atau clay adalah partikel mineral yang berukuran lebih kecil dari 0,002 mm
  7. Koloid (colloids) adalah partikel mineral yang berukuran lebih kecil dari 0,001 mm.

      Faktor utama yang mempengaruhi kualitas campuran tanah semen adalah macam tanah, kadar semen, pemadatan, waktu pemeraman, cara pencampuran (Hardiyatmo,2006).

      Ruktiningsih (2002) melakukan penelitian tentang stabilisasi tanah lempung menggunakan semen. Hasil penelitian menunjukan penambahan semen pada tanah lempung terjadi kenaikan batas cair, batas plastis, menurunkan indeks plastisitas dan menaikan berat volume kering tanah, menurunkan kadar air optimum, menaikan nilai CBR, menurunkan nilai swelling.

      Wesley (1977) menyatakan pada tanah berbutir halus diketahui tidak ada hubungan langsung antara sifat-sifatnya dengan ukuran butir-butirnya,maka untuk menyatakan sifat dan mengklasifikasikannya dipakai metoda lain terutama percobaan batas Atterberg.

       Tanah yang baik untuk konstruksi perkerasan jalan adalah tanah dasar (Subgrade) yang berasal dari lokasi sendiri atau didekatnya yang telah dipadatkan sampai tingkat kepadatan tertentu sehingga mempunyai kekuatan daya dukung yang baik serta berkemampuan mempertahankan perubahan volume selama masa pelayanan walaupun terdapat perbedaan kondisi lingkungan dan jenis tanah setempat.(Sukirman,1995).

      Sifat tanah yang akan dipergunakan sebagai bahan tanah dasar jalan , tanah itu dikelompokan berdasarkan sifat plastisitas dan ukuran butirnya, serta kuat dukung tanah dasar yang dapat diperkirakan dengan mempergunakan hasil klasifikasi tanah ataupun dengan mencari nilai CBR dan dinyatakan dalam persen (Sukirman,1995).

Dampak Bencana Banjir (skripsi dan tesis)

Benson and Clay (2004) membagi dampak dari bencana alam menjadi tiga bagian. Pertama, dampak langsung dari bencana. Dampak langsung meliputi kerugian finansial dari kerusakan aset-aset ekonomi (misalnya rusaknya bangunan seperti tempat tinggal dan tempat usaha, infrastruktur, lahan pertanian, dan sebagainya). Dalam istilah ekonomi, nilai kerugian ini dikategorikan sebagai stock value. Dampak langsung juga meliputi kerusakan fisik, atau berubahnya lingkungan fisik.

Kedua, dampak tidak langsung. Dampak tidak langsung meliputi terhentinya proses produksi, hilangnya output dan sumber penerimaan. Dalam istilah ekonomi, nilai kerugian ini dikategorikan sebagai flow value. Dampak tidak langsung juga berkaitan dengan dampak sosial ekonomi bencana alam.

Ketiga, dampak sekunder (secondary impact) atau dampak lanjutan. Contoh dari dampak sekunder bisa berwujud terhambatnya pertumbuhan ekonomi, terganggunya rencana-rencana pembangunan yang telah disusun, meningkatnya defisit neraca pembayaran, meningkatnya utang publik dan meningkatnya angka kemiskinan.

Dampak langsung akibat bencana alam lebih mudah untuk dihitung kerugiannya dibandingkan dengan dampak tidak langsung dan dampak sekunder. Konsekuensinya sangat sulit untuk secara tepat menghitung total kerugian ekonomi akibat bencana alam. Untuk menentukan skala bantuan yang optimum dibutuhkan perhitungan kerugian yang tepat.

Coppola (2007) mengidentifikasikan konsekuensi bencana yang merugikan masyarakat dan mengurangi kualitas hidup individu dalam masyarakat adalah sebagai berikut:

  1. Kurangnya kemampuan untuk bergerak atau melakukan perjalanan karena infrastruktur transportasi yang rusak dan hancur;
  2. Terganggunya kesempatan pendidikan karena kerusakan sekolah atau guru dan siswa yang cedera atau cacat karena adanya tekanan, seperti trauma;
  3. Hilangnya warisan budaya, fasilitas keagamaan, dan sumber daya masyarakat;
  4. Hilangnya pasar dan kesempatan berdagang yang disebabkan oleh gangguan bisnis jangka pendek akibat hilangnya konsumen, pekerja, fasilitas, persediaan atau peralatan;
  5. Hilangnya kepercayaan investor yang mungkin berpotensi menarik kembali investasi (penanaman modal) mereka dan ini di kemudian hari akan menciptakan pengangguran karena pemotongan kerja dan kerusakan di tempat kerja;
  6. Sulitnya komunikasi karena kerusakan dan kehilangan infrastruktur;
  7. Adanya tunawisma yang disebabkan oleh hilangnya rumah dan harta benda;
  8. Kelaparan karena terputusnya rantai suplai makanan yang menyebabkan kekurangan suplai makanan dan meningkatnya harga;
  9. Kehilangan, kerusakan, dan pencemaran lingkungan akibat kerusakan bangunan dan infrastruktur yang rusak dan belum diperbaiki, serta deformasi dan hilangnya kualitas tanah;

Kerusuhan publik ketika respons pemerintah tidak memadai

Mitigasi Banjir (skripsi dan tesis)

Definisi mitigasi menurut UU No. 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana banjir adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana banjir, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Mitigasi bencana sebagaimana dimaksud dalam UU No. 24 tahun 2007 dilakukan untuk mengurangi risiko bencana bagi masyarakat yang berada pada kawasan rawan bencana. Kegiatan mitigasi sebagaimana dilakukan melalui:

  1. pelaksanaan penataan tata ruang;
  2. pengaturan pembangunan, pembangunan infrastruktur, tata bangunan;
  3. penyelenggaraan pendidikan, penyuluhan, dan pelatihan baik secara konvensional maupun modern.

Coburn,dkk. (dalam Harjono, 2012) juga mendefinisikan mitigasi bencana sebagai pengambilan tindakan-tindakan untuk mengurangi pengaruh-pengaruh suatu bahaya sebelum bahaya itu terjadi.

Bencana Banjir (skripsi dan tesis)

     Banjir adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan manuasia yang disebabkan oleh meluapnya air sungai oleh faktor alamiah akibat rusaknya kawasan penyangga pada daerah aliran sungai (DAS) yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (Paimin et al.,2009, Hermon,2012, dalam Hermon, 2015:37).  Untuk mengurangi dampak kerusakan dan kerugian yang diakibatkan banjir maka dilakukan kegiatan mitigasi banjir, baik yang melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan mengahdapi ancaman banjir.

Beberapa penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa pada dasarnya secara umum bencana banjir  disebabkan oleh tiga hal. Pertama, aktifitas manusia yang menyebabkan terjadinya perubahan tata ruang dan berdampak pada perubahan alam, misalnya, pembangunan hunian di bantaran sungai telah mempersempit badan sungai sehingga memicu terjadinya banjir karena sungai tidak lagi menampung aliran air. Kedua, peristiwa alam seperti curah hujan yang tinggi dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan air sungai meluber. Ketiga, degradasi lingkungan seperti hilangnya tumbuhan penutup tanah pada daerah resapan airpendangkalan sungai akibat sedimentasi, penyempitan alur sungai dan sebagainya (Bappenas, 2010).

Banjir yang terjadi di wilayah Indonesia pada umumnya disebabkan gabungan antara buruknya kondisi jaringan drainase mikro dan makro karena berbagai sebab (kurang memadainya dimensi dan kemiringan saluran drainase karena sampah dan sedimentasi, dan sebagainya) dengan meluapnya aliran sungai melebihi palung sungai karena tingginya intensitas hujan dan pendangkalan sungai karena sedimentasi dan sumbatan sampah atau sebab lainnya (air laut pasang). Perubahan tata guna lahan  yang merupakan faktor yang paling banyak dijumpai pada kasus-kasus banjir di Indonesia. Penggundulan hutan di bagian hulu DAS, pendirian bangunan, serta berbagai bentuk alih fungsi lahan lainnya telah menyebabkan berkurang atau hilangnya daerah resapan air. Kurangnya daerah resapan air menyebabkan aliran air hujan di permukaan (run off) akan makin besar, dan volume air yang masuk ke saluran air atau sungai juga bertambah, yang pada akhirnya menimbulkan banjir ketika badan sungai sungai tidak lagi mampu menampung air tersebut

Kualitas air limbah (skripsi dan tesis)

Kualitas air limbah pada umumnya mengandung banyak kotoran-kotoran yang tersuspensi maupun terlarut dalam air yang secara alami dapat mengganggu penggunaan air untuk tujuan-tujuan tertentu. Parameter-parameter yang digunakan untuk pengukuran kualitas air, meliputi parameter kimia, fisika dan biologi. Parameter fisika merupakan parameter kualitas air yang dapat diamati secara langsung, seperti kekeruhan, warna air, bau dan suhu. Parameter kimia meliputi, alkalinitas, keasaman, karbohidroksida, kesadahan, ammonia, nitrat, fosfor dan

nitrogen. Sedangkan parameter biologi pada air limbah dilakukan dengan pengamatan populasi organisme mikro, seperti tumbuhan perintis, bakteri, protozoa dan ganggang hijau (Ayuwanjani, 2008).

Sumber dan jenis air limbah (skripsi dan tesis)

Menurut Ayuwanjani (2008), berdasarkan sumbernya air limbah dibagi menjadi 3, yaitu:

a. Air limbah rumah tangga (domestik), adalah air limbah yang berasal dari kegiatan hunian, seperti rumah tinggal, hotel, sarana pendidikan, perkantoran, pasar dan fasilitas pelayanan. Air limbah domestik dapat dikelompokan menjadi, air buangan kamar mandi, air buangan WC dan air buangan dapur atau cucian.

b. Air limbah industri, adalah air limbah yang berasal dari kegiatan industri, seperti pabrik kertas logam, tekstil, kulit, pangan (makanan dan minuman), industri kimia, perikanan dan lainnya.

c. Air limbah atau rembesan air hujan, adalah air limbah yang melimpas di atas permukaan tanah dan meresap ke dalam tanah sebagai akibat terjadinya hujan.

Klasifikasi limbah (skripsi dan tesis)

Menurut Ayuwanjani (2008), klasifikasi air limbah berdasarkan tingkat penguraian dan kandungan nitrogennya, adalah sebagai berikut:

a. Limbah rendah penguraian dan rendah nitrogen, yang termasuk kelompok ini adalah limbah-limbah berserat tinggi dan limbah-limbah tanaman tua, diantaranya seperti jerami, sekam, serat sawit, kulit buah coklat dan kulit luar biji-bijian.

8

b. Limbah rendah penguraian tetapi tinggi kandungan nitrogen. Limbah industri pangan sering menghasilkan limbah dengan kategori ini seperti limbah kopi.

c. Limbah tinggi kandungan energi tetapi rendah nitrogen. Limbah industri gula (molase) dan limbah industri hortikultura termasuk kategori limbah dengan kandungan energi tinggi tetapi rendah kandungan nitrogen.

d. Limbah tinggi kandungan energi dan tinggi kandungan nitrogen. Limbah yang termasuk kategori ini mayoritas lebih cenderung sebagai bahan pakan ternak monogasterik seperti tepung darah, limbah pemotong ternak, tepung ikan, bungkil dan beberapa limbah sayuran.

Air Limbah (skripsi dan tesis)

Cairan buangan yang berasal dari rumah tangga dan industri serta tempat-tempat umum lainnya dan mengandung bahan atau zat yang dapat membahayakan kesehatan manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan hidup (Kusnoputranto, 1985). Limbah dapat berwujud padat, gas maupun cair. Dalam dunia perikanan, limbah cair merupakan wujud limbah yang paling mudah mencemari lingkungan terutama pada kegiatan budidaya. Hal ini di karenakan dalam kegiatan budidaya perikanan, air merupakan media hidup organisme yang akan dibudidayakan, sehingga limbah dalam wujud cair akan lebih cepat menyebar dan memiliki efek langsung terhadap organisme budidaya (peraturan daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali, 1988 dalam Darmawan, 2010).

Dimensi dan Mobilitas Kebutuhan Hunian (skripsi dan tesis)

2.1.1   Dimensi dan Mobilitas Kebutuhan Hunian

Turner (1968) mengemukakan 4 macam dimensi yang bergerak paralel dengan mobilitas tempat tinggal yakni :

  1. Dimensi lokasi, mengacu pada tempat – tempat tertentu yang oleh seseorang dianggap cocok untuk tempat tinggal dalam kondisi dirinya. Kondisi ini lebih ditekankan pada penghasilan dan siklus kehidupannya. Sebagai contoh, seseorang pada struktur ekonomi menengah ke bawah akan lebih memilih lokasi tempat tinggal yang dekat dengan lingkungan kerjanya agar menimimalisir biaya transportasi.
  2. Dimensi perumahan, berkaitan dengan penguasaan (tenure) yang erat kaitannya dengan pemilihan karakteristik tempat tinggalnya. Semakin tinggi tingkat penguasaan maka akan semakin flexible pula pilihan atribut tempat tinggalnya. Aspek penguasaan pada umumnya bergerak paralel pada tingkat penghasilan dan siklus kehidupannya. Seseorang yang berpenghasilan rendah misalnya, akan memilih menyewa atau mengontrak rumah saja daripada memilikinya dikarenakan adanya kebutuhan primer yang lebih dianggap mendesak untuk dipenuhi.
  3. Dimensi siklus kehidupan, membahas tahap – tahap seseorang menapaki kehidupannya. Dimensi ini serupa dengan teori yang diungkapkan oleh Maslow (1970), dimana terdapat lima hirarki kebutuhan yakni,

 

Seseorang harus terlebih dahulu memenuhi kebutuhan primernya dalam hal ini kebutuhan fisiologis manusia sebelum beranjak kepada tingkatan – tingkatan kebutuhan tertinggi. Berdasarkan gambar 2.1, dijelaskan tentang tahapan seseorang dalam memenuhi kebutuhannya yang menurut Turner berbanding lurus dengan penghasilannya. Secara umum, semakin tinggi tingkat penghasilan seseorang maka semakin tinggi pula tingkatan kebutuhan yang akan dipenuhinya. Lebih lanjut Turner (1968) menyimpulkan tiga kebutuhan dasar manusia yakni opportunity (kesempatan), identity (identitas), dan security (keamanan).   

  1. Dimensi penghasilan, menekankan pembahasannya pada besar kecilnya penghasilan yang diperoleh persatuan waktu. Seiring dengan meningkatnya jumlah penghasilan seseorang, maka semakin tinggi pula prioritas dari kebutuhan perumahan dan siklus kehidupan yang diperolehnya. Oleh karena itu, Turner (1972) mengkaitkan hubungan antara penghasilan dengan prioritas kebutuhannya sebagai berikut :

 

Dlam dimensi siklus kehidupan, dimensi lokasi, dan dimensi perumahan terdapat korelasi yang sangat erat. Seseorang dengan penghasilan yang rendah cenderung memprioritaskan kebutuhan dasar (opportunity) tanpa melihat keamanan dan status sosialnya sehingga prioritas dalam bertempat tinggalpun cenderung memilih untuk menyewa tempat tinggal yang kualitas fisiknya terbilang kurang memadai. Dari segi lokasipun, seseorang dengan tingkat penghasilan yang rendah lebih memilih tempat tinggal yang berdekatan dengan sesamanya. Lain halnya dengan seseorang yang penghasilannya tinggi dimana prioritas kebutuhan utamanya yakni meningkatkan strata sosial di masyarakat. Seseorang pada tahap ini cenderung ingin memiliki tempat tinggal yang secara kualitas fisiknya modern.

Untuk menilik pada klasifikasi objek yang berkaitan dengan dimensi kebutuhan tempat tinggal, maka dilakukan pembagian golongan penduduk berdasarkan strata sosial yang berkenaan dengan lama bertempat tinggal di suatu wilayah. Dengan asumsi bahwa semakin lama seseorang menetap di sesuatu wilayah, maka semakin mantap posisi pekerjaannya sehingga semakin tinggi pula tingkat penghasilannya. Turner (1968) mengemukakan tiga golongan yakni :

  1. Bridgeheaders, golongan yang baru bertempat tinggal di suatu daerah yang dengan segala keterbatasannya belum mampu mengangkat dirinya ke jenjang sosial ekonomi yang lebih tinggi.
  2. Consolidators, golongan yang agak lama tinggal di suatu daerah yang telah mapan terhadap posisi pekerjaannya.
  3. Status seekers, golongan yang telah lama tinggal di suatu daerah yang telah mapan dalam hal kemampuan ekonominya. Kemampuan ekonomi tersebut mengubah perilaku seseorang dimana ia menginginkan pengakuan dalam status sosial oleh lingkungan sosialnya.

 

Seseorang dalam golongan bridgeheaders pada umumnya termasuk pada golongan kategori penghasilan rendah sehingga kemampuan ekonominya belum mampu untuk membangun rumah sendiri. Oleh karena lokasi pekerjaan pada umumnya terletak di pusat kota, maka golongan ini cenderung lebih senang tinggal di lokasi yang dekat dengan tempat kerjanya dengan maksud supaya pengeluaran untuk transportasi dapat dihemat.

Seiring dengan berjalannya waktu, golongan bridgeheaders yang telah mapan dari segi kemampuan ekonominya kemudian memasuki pada jenjang consolidators. Dalam jenjang ini, pemilihan lokasi tempat tinggal yang dekat dengan lokasi kerjanya akan turun skala prioritasnya karena dirasa tempat tinggal di pusat kota sudah tidak memberikan kenyamanan. Golongan ini mulai mengalihkan perhatiannya pada daerah pinggiran kota yang menurutnya menjanjikan kenyamanan bertempat tinggal. Hal ini wajar, karena penghasilannya sudah cukup tinggi sehingga mampu mengusahakan untuk membeli alat transportasi pribadi.

Dengan meningkatnya kemapanan ekonomi seseorang, kebutuhan hunian pun sudah tidak lagi berdasar pada sisi perlindungan. Pandangan tempat tinggal bagi golongan lanjut yakni status seekers, mulai menapaki fungsi hunian sebagai alat investasi. Pada tahap ini, seseorang akan lebih cenderung untuk membeli rumah yang mewah dari segi kualitas fisiknya dengan jumlah yang banyak. Hal ini merupakan upayanya untuk mendapatkan keuntungan ekonomi yang lebih dan pengakuan dari segi status sosial di lingkungan masyarakatnya.

Kebutuhan Hunian (skripsi dan tesis)

Hunian atau tempat tinggal secara umum disebut permukiman dan secara khusus disebut sebagai bangunan rumah. Setiap manusia membutuhkan tempat tinggal baik di daerah bersuhu dingin maupun daerah bersuhu udara panas sebagai tempat perlindungannya. Dalam Undang – Undang Nomor 4 tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman, dijelaskan bahwa rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Sedangkan perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Sementara itu Sa’idah (1999) berpendapat bahwa rumah (hunian) selain menjadi tempat berlindung, juga mempunyai peranan lain yaitu sebagai tempat berlangsungnya proses penghidupan manusia. Kebutuhan hidup ini sesuai dengan peradaban manusia yang semakin tinggi tidak saja terbatas pada kebutuhan untuk mempertahankan diri tetapi juga meningkat pada kebutuhan yang lebih tinggi nilainya, misalnya kebutuhan untuk bergaul dengan manusia lain, kebutuhan akan harga diri, kebutuhan meningkatkan sumber pendapatan, dan kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Berdasarkan hal tersebut, maka disimpulkan bahwa hunian sebagai sarana dalam pemenuhan kebutuhan kehidupan yakni :

  1. Secara fisik, sebagai shelter atau tempat berlindung dari cuaca dan ancaman nyawa manusia yang tidak dihendaki.
  2. Secara ekonomi, sebagai investasi atau modal bagi pemiliknya. Rumah sebagai produk yang memiliki nilai ekonomis dan untuk kegiatan berekonomi.
  3. Secara sosial, sebagai tempat bersosialisasi serta pemenuhan kepuasan dalam pencerminan taraf hidup di lingkungan sosialnya.
  4. Secara psikologis, sebagai sarana edukasi dan pemenuhan cita rasa estetika.

PERGESERAN GUNA LAHAN (skripsi dan tesis)

Menurut Lestari (2009) mendefinisikan perubahan atau pergeseran guna lahan atau lazimnya disebut sebagai konversi lahan adalah perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya semula (seperti yang direncanakan) menjadi fungsi lain yang menjadi dampak negatif (masalah) terhadap lingkungan dan potensi lahan itu sendiri.

Winoto (2005) mengemukakan bahwa lahan yang paling rentan terhadap alih fungsi adalah sawah. Hal tersebut disebabkan oleh:

  1. Kepadatan penduduk di pedesaan yang mempunyai agroekosistem dominan sawah pada umumnya jauh lebih tinggi dibandingkan agroekosistem lahan kering, sehingga tekanan penduduk atas lahan juga lebih inggi.
  2. Daerah persawahan banyak yang lokasinya berdekatan dengan daerah perkotaan.
  3. Akibat pola pembangunan di masa sebelumnya. Infrastruktur wilayah persawahan pada umumnya lebih baik dari pada wilayah lahan kering.
  4. Pembangunan prasarana dan sarana pemukiman, kawasan industri, dan sebagainya cenderung berlangsung cepat di wilayah bertopografi datar, dimana pada wilayah dengan topografi seperti itu (terutama di Pulau Jawa) ekosistem pertaniannya dominan areal persawahan.

Menurut Wahyunto (2001), perubahan penggunaan lahan dalam pelaksanaan pembangunan tidak dapat dihindari. Perubahan tersebut terjadi karena dua hal, pertama adanya keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin meningkat jumlahnya dan kedua berkaitan dengan meningkatnya tuntutan akan kebutuhan hidup yang lebih baik. Menurut Irawan (2005), ada dua hal yang mempengaruhi alih fungsi lahan. Pertama, sejalan dengan pembangunan kawasan perumahan atau industri di suatu lokasi alih fungsi lahan, maka aksesibilitas di lokasi tersebut menjadi semakin kondusif untuk pengembangan industri dan pemukiman yang akhirnya mendorong meningkatnya permintaan lahan oleh investor lain atau spekulan tanah sehingga harga lahan di sekitarnya meningkat. Kedua, peningkatan harga lahan selanjutnya dapat merangsang petani lain di sekitarnya untuk menjual lahan.

Menurut Lestari (2009) proses alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan non pertanian yang terjadi disebabkan oleh beberapa faktor. Ada tiga faktor penting yang menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan sawah yaitu:

  1. Faktor Eksternal.

  Merupakan faktor yang disebabkan oleh adanya dinamika pertumbuhan perkotaan, demografi maupun ekonomi. Pertumbuhan perkotaan didorong oleh pertumbuhan jumlah penduduk perkotaan yang ada baik dari kelahiran maupun urbanisasi, hal ini menyebabkan kebutuhan ruang untuk tempat tinggal juga akan meningkat sementara lahan perkotaan sangatlah terbatas. Selain itu, pertumbuhan perekonomian kota seperti kebutuhan penyediaan fasilitas umum, maupun infrastrutur untuk bisnis dan perdagangan juga samakin membutuhkan ketersediaan lahan yang besar.

  1. Faktor Internal.

Faktor ini lebih melihat sisi yang disebabkan oleh kondisi sosial ekonomi rumah tangga pertanian pengguna lahan. Kebutuhan sosial ekonomi masyarakat petani semakin tinggi sehingga seringkali kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi dari usaha pertanian saja dan pada akhirnya hanya dapat dipenuhi dengan cara menjual lahan pertanian yang mereka miliki dan beralih profesi ke non pertanian.

  1. Faktor Kebijakan

  Yaitu aspek regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat maupun daerah yang berkaitan dengan perubahan fungsi lahan pertanian. Kelemahan pada aspek regulasi atau peraturan itu sendiri terutama terkait dengan masalah kekuatan hukum, sanksi pelanggaran, dan akurasi objek lahan yang dilarang dikonversi. Pemrintah harus membuat kebihakan yang dapat menyeimbangkan kebutuhan lahan dan kebutuhan pangan masyarakat.

Perubahan penggunaan lahan tersebut juga bukannya tanpa ada sebab, terdapat empat faktor utama yang menyebabkan terjadinya perubahan penggunaan lahan (Bourne, 1982), yaitu:

  1. Perluasan batas kota;
  2. Peremajaan pusat kota;
  3. Perluasan jaringan infrastruktur khususnya jaringan transportasi;
  4. Tumbuh dan hilangnya pemusatan aktivitas tertentu.

Dalam perencanaan penggunaan lahan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, factor-faktor tersebut antara lain manusia, aktivitas, serta lokasi kegiatan (Catanese, 1986:317).

Sebagai contoh dari keterkaitan tersebut yakni keunikan sifat lahan akan mendorong pergeseran aktifitas penduduk perkotaan ke lahan yang terletak di pinggiran kota yang mulai berkembang, tidak hanya sebagai barang produksi tetapi juga sebagai investasi terutama pada lahan-lahan yang mempunyai prospek akan menghasilkan keuntungan yang tinggi.

Hubungan antara ketiga faktor tersebut sangat berkaitan sehingga dapat disebut sebagai siklus perubahan penggunaan lahan. Dari hubungan dinamik ini akan timbul bentuk aktivitas yang akan menimbulkan beberapa perubahan (Bintarto, 1989: 73-74). Beberapa perubahan yang akan terbentuk adalah sebagai berikut:

  1. Perubahan Lokasi (Locational Change)
  2. Perubahan Perkembangan (Developmental Change)
  3. Perubahan Tata Laku (Behavioral Change)

DAMPAK SOSIAL EKONOMI PEMBANGUNAN PRASARANA JALAN (skripsi dan tesis)

1.

Sosial ekonomi yaitu lingkungan yang terdiri dari manusia baik secara individu maupun kelompok yang saling berhubungan, sehingga terbentuklah komunitas- komunitas sosial dan kegiatan-kegiatan perekonomian. Komunitas sosial dan kehidupan ekonomi akan sangat berpengaruh terhadap kualitas lingkungan kehidupan dimana manusia tersebut berada. Kualitas lingkungan sosial ekonomi yang baik yaitu jika kehidupan manusia yang ada di lingkungan tersebut secara ekonomi terpenuhi, tidak kekurangan pangan dan sandang, memiliki rumah, berpendidikan, merasa aman dan nyaman, terpenuhinya sarana dan prasarana yang dibutuhkan dan lain sebagainya. Semua kebutuhan tersebut akan dapat terpenuhi dengan cara mereka harus memiliki pekerjaan dan pendapatan yang tepat dan memadai (Sunarko, 2007).

Sementara itu, menurut Soekanto (2002), sosial ekonomi adalah posisi seseorang dalam masyarakat yang berkaitan dengan orang lain dalam arti lingkungan pergaulan, prestasinya, dan hak-hak serta kewajibannya dalam hubungannya dengan sumberdaya. Kondisi sosial ekonomi masyarakat akan selalu mengalami perubahan, melalui proses sosial dan interaksi sosial yaitu suatu proses hubungan dan saling mempengaruhi, yang terjadi antar individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok

Pembangunan dan penataan lingkungan buatan akan berdampak pada aspek Sumber Daya Alam (SDA) baik air, udara dan tanah. Semua itu akan memberikan dampak pada aspek sosial, baik perubahan ke arah negatif maupun ke arah positif. Namun sebagian besar perubahan yang ditimbulkan dari berubahnya lingkungan alam dan buatan telah memberikan perubahan sosial ke arah negatif (Reksohadiprodjo, 1997).

Akibat dari perubahan kualitas lingkungan alam, manusia sebagai makhluk yang berada di dalamnya akan memberikan reaksi penyesuaian diri. Reaksi tersebut diawali dengan stress yang mana aspek ini diakibatkan oleh suatu keadaan dimana lingkungan mengancam atau membahayakan keberadaan atau kesejahteraan atau kenyamanan diri seseorang. Ada dua macam tindakan manusia dalam menghadapi stress ini, pertama adalah tindakan langsung dan yang kedua adalah penyesuaian mental. Migrasi atau berpindah tempat adalah contoh tindakan langsung akibat perubahan lingkungan.

Menurut Roucek dan Warren aspek sosial ekonomi pada suatu masyarakat umumnya dipengaruhi oleh aspek lingkungan alam dimana masyarakat tersebut berdomisili. Aspek sosial ekonomi memberikan gambaran mengenai tingkat pendapatan masyarakat, jenis atau keragaman mata pencaharian yang ditekuni, aspek perumahan serta hubungan atau interaksi antara individu maupun kelompok masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya. Aspek sosial ekonomi seseorang dapat ditentukan lewat kegiatan ekonomi yang dilakukan, jumlah pendapatan yang diperoleh, jenis pekerjaan yang ditekuni, pendidikan formal, pemilikan barang dan pemilikan rumah.

Menurut Hagul (1985) pendekatan sosial ekonomi pembangunan terbatasi atas tiga berdasarkan manusianya, yaitu: Universitas Sumatera Utara

  1. The Trickle Down Theory, yaitu suatu pendekatan program percepatan pembangunan dan hasilnya dinikmati baik secara langsung atau tidak oleh masyarakat.
  2. Basic Needs Approach, yaitu pendekatan yang meliputi upaya secara langsung menanggulangi masalah kebutuhan pokok misalnya: Gizi, kesehatan, kebersihan, pendidikan, dll.
  3. Development From Within, yaitu pendekatan yang dilakukan dengan mengembangkan potensi kepercayaan dan kemampuan masyarakat itu sendiri serta membangun sesuai tujuan yang mereka kehendaki.

Selanjutnya Reksohadiprodjo (1997) mengemukakan bahwa pembangunan kota akan mempunyai dampak social ekonomi yang bernilai positif maupun negatif. Berbagai masalah kota muncul seperti kemiskinan akibat terbatasnya mata pencaharian dan tingkat pendapatan, masalah kesehatan yang akan berakibat terhadap produktivitas, masalah pendidikan yang akan berakibat terhadap sumber daya manusia, masalah lingkungan hidup yang akan berakibat terhadap daya dukung kota.

Salah satu konsep tentang dampak suatu pembangunan infrastruktur jalan bertolak dari pemikiran bahwa masyarakat itu dipandang sebagai suatu bagian dari ekosistem. Perubahan dari salah satu subsistem akan mempengaruhi subsistem yang lain. Di dalam masyarakat terdapat tiga subsistem yang saling interaktif yakni (Sudharto P. Hadi, 2005):

  1. sistem social,

Secara sosial pembangunan infrastruktur transportasi menyediakan berbagai kemudahan, diantaranya (Prapti, 2015): a) Pelayanan untuk perorangan atau kelompok, b) Pertukaran atau penyampaian informasi, c) Perjalanan untuk bersantai, d) Memendekkan jarak, e) Memencarkan penduduk Di samping itu ada manfaat lain

  1. sistem ekonomi,

J’afar M. (2007) menyatakan bahwa, infrastruktur memiliki peranan positif terhadap pertumbuhan ekonomi dengan jangka pendek menciptakan lapangan kerja sektor konstruksi dan jangka menengah dan panjang akan mendukung peningkatan efisiensi dan produktivitas sektor-sektor terkait. Infra- struktur sepertinya menjadi jawaban dari kebutuhan negara- negara yang ingin mendorong pertumbuhan ekonomi, dengan membantu penanggulangan kemiskinan, meningkatkan kualitas hidup, mendukung tumbuhnya pusat ekonomi dan meningkatkan mobilitas barang dan jasa serta merendahkan biaya aktifitas investor dalam dan luar negeri

  1. sistem fisik atau lingkungan fisik.

Meskipun membawa dampak positif, pembangunan infrastruktur jalan juga membawa dampak negatif diantaranya (Kementrian Pekerjaan Umum RI, 2010): 1. Berkurangnya lahan produktif pertanian. 2. Adanya pengurangan luasan lahan terbuka hijau. 3. Rusaknya lingkungan hidup di sekitar pembangunan infrastruktur jalan.

Dampak muncul ketika terdapat aktivitas: proyek, program atau kebijaksanaan yang akan diterapkan pada suatu masyarakat. Bentuk intervensi ini (karena aktivitas biasanya selalu datang dari luar masyarakat) mempengaruhi keseimbangan pada suatu sistem (masyarakat). Pengaruh itu bisa positif, bisa pula negatif (Sudharto P. Hadi, 2005)

PERKEMBANGAN KOTA (skripsi dan tesis)

1.

Batas fisik kota selalu mengalami perubahan, sehingga batas fisik kota tidak selalu berada didalam batas administrasi kota. Northam dalam Yunus (1994) mengatakan terdapat tiga macam kemungkinan hubungan antara eksistensi batas fisik kota dengan batas administrasi kota, yaitu

  1. Batas fisik kota yang ditunjukkan areal terbangun berada jauh diluar batas administrasi kota (Under Bound City).
  2. Batas fisik kota berada didalam batas administrasi kota (Over Bounded City).
  3. Batas fisik kota berimpitan dengan batas administrasi kota (True Bounded City).

Menurut Branch (1995) beberapa unsur yang mempengaruhi perkembangan kota, antara lain: keadaan geografis, lokasi site, fungsi kota, sejarah, serta kebudayaan yang melatar belakanginya. Sedangkan pertumbuhan kota lebih cenderung dianalisis dari pertumbuhan penduduk perkotaan. Semua unsur tersebut saling berkaitan dan saling mempengaruhi, dan dalam tampilan fisik tercermin dari bentukan fisik perkotaan yang mengalami fungsi – fungsi tertentu. Keadaan topografi dan perkembangan sosial ekonomi akan mengakibatkan perkembangan pola kota yaitu:

  1. Pola menyebar, pada keadaan topografi yang seragam dan kegiatan ekonomi yang homogen di suatu wilayah akan menyebabkan perkembangan dengan pola menyebar.
  2. Pola sejajar, terjadi akibat adanya perkembangan kota mengikuti jalur jalan, lembah, sungai, atau pantai.
  3. Pola merumpun, berkembang karena adanya sumberdaya alam tertentu yang menonjol.

Sedangkan menurut Jayadinata (1999), pola – pola perkembangan kota yang terdapat di atas lahan yang bertopografi datar dapat menjadi bentuk – bentuk radial menerus, radial tidak menerus, gridion menerus, radial menerus atau linear menerus. Kota terbentuk dari berbagai aspek yaitu aspek fisik, ekonomi, sosial, serta kebudayaan. Perkembangan aspek – aspek tersebut secara otomatis akan mempengaruhi perkembangan kota satu dengan lainnya tidak sama, ada kota yang tumbuh pesat namun adapula yang sulit berkembang. Hal ini disebabkan setiap kota memiliki ciri atau kondisi aspek yang beragam satu sama lainnya. Dengan didasari perkembangan tersebut suatu kota memiliki pendorong maupun penarik perkembangan yang beragam pula.

Apabila dicermati, berkembangnya suatu kawasan tidak akan terlepas dari berkembangnya pusat kota. Terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan proses perkembangan kawasan kota, yaitu:

  1. Proses Perkembangan Fisik Wilayah

Proses ini adalah proses perkembangan fisik wilayah ke arah “mengkota”. Perubahan bentuk fisik wilayah ini tentunya terjadi pada wilayah yang secara administrasi dekat dengan kota.

  1. Proses Aglomerasi Penduduk

Proses perkembangan penduduk di suatu kawasan pusat kota sangat dipengaruhi oleh aglomerasi penduduk yang memiliki tujuan untuk meningkatkan taraf kehidupannya dan mendapat akses yang lebih mudah untuk menjangkau pusat kota.

  1. Proses Urbanisasi Penduduk

Aktivitas identik dengan manusia, sehingga semakin banyak aktivitas mengindikasikan banyaknya manusia yang ada di kawasan tersebut. Hal ini erat kaitannya dengan proses urbanisasi, karena disuatu kawasan terdapat sebuah pusat aktivitas baru yang menyebabkan orang-orang berdatangan kedalam kawasan tersebut.

  1. Pemanfaatan Lahan dengan Kepadatan Tinggi

Adanya minat yang tinggi dari masyarakat untuk bermukim di lahan perkotaan menjadikan perluasan wilayah perkotaan secara fungsional di wilayah pinggiran menjadi solusinya. Akan tetapi perlu dicermati pula bahwa keseimbangan wilayah harus tetap terjaga antara wilayah perkotaan dan non-perkotaan agar kontinuitas wilayah dapat berjalan dalam waktu yang panjang. Berkaitan dengan hal tersebut maka wilayah perkotaan juga harus bisa dibatasi, salah satu caranya adalah dengan memaksimalkan lahan secara vertikal. Perluasan bangunan tidak lagi dilakukan melebar, namun memanfaatkan ruang kosong yang ada diatas.

PENGERTIAN JALAN TOL (skripsi dan tesis)

1

Jalan sebagai salah satu prasarana transportasi yang merupakan urat nadi kehidupan masyarakat mempunyai peranan penting dalam usaha pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara, utamanya untuk mewujudkan sasaran pembangunan seperti pemerataan pembangunan, pertumbuhan ekonomi, dan perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, mendefinisikan jalan sebagai prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori dan jalan kabel.

Jalan sesuai dengan peruntukannya terdiri atas jalan umum dan jalan khusus. Jalan umum adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum, sedangkan jalan khusus adalah jalan yang dibangun oleh instansi, badan usaha, perseorangan atau kelompok masyarakat untuk kepentingan sendiri. Jalan umum menurut fungsinya dikelompokkan ke dalam jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal dan jalan lingkungan. Sementara itu, menurut statusnya jalan umum dikelompokkan ke dalam jalan nasiomal, jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota dan jalan desa.

Undang-Undang Nomor 38 tahun 2004 tentang jalan, menyebutkan bahwa jalan tol adalah jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan jalan dan sebagai jalan nasional yang penggunanya diwajibkan membayar tol. Sedangkan tol adalah sejumlah uang tertentu yang dibayarkan untuk penggunaan jalan tol. Tarif tol dihitung berdasarkan kemampuan bayar pengguna jalan, besar keuntungan biaya operasi kendaraan dan kelayakan investasi.

Adapun tujuan dari adanya tariff tol yaitu untuk pengembalian investasi, pemeliharaan dan pengembangan jalan tol itu sendiri. Penyelenggaraan jalan tol dimaksudkan untuk :

  1. memperlancar lalu lintas di daerah berkembang,
  2. meningkatkan hasil guna dan daya guna pelayanan distribusi barang dan jasa guna menunjang peningkatan pertumbuhan ekonomi,
  3. meringankan beban dana Pemerintah melalui partisipasi pengguna jalan, dan
  4. meningkatkan pemerataan hasil pembangunan dan keadilan

Teori Pusat Kegiatan Banyak (skripsi dan tesis)

            Menurut Harris and Ulmann pada tahun 1945 yang menyebutkan bahwa pusat kegiatan tidak selalu berada pada posisi di tengah-tengah suatu wilayah (center). Lokasi-lokasi keruangan yang terbentuk tidak ditentukan dan dipengaruhi oleh factor jarak dari CBD sehingga membentuk persebaran zona-zona yang teratur namun berasosiasi dengan sejumlah faktor yang akan menghasilkan pola-pola keruangan yang khas. Dimana wilayah yang tercakup adalah

  1. Central business district
  2. Wholesale light manufacturing
  3. Low class residential
  4. Medium class residential
  5. High class residential
  6. Heavy manufacturing
  7. Outlying business district
  8. Residential suburb
  9. Industrial suburb

Teori Poros (skripsi dan tesis)

Menurut babcock pada tahun 1932, Teori ini mendasarkan penggunaan lahan pada peranansektor transportasi. Keberadaan jalur transportasi akan menyebabkan distorsi padapola konsentris, sehingga daerah yang dilalui oleh jalur transportasi akan memilikiperkembangan fisik yang berbeda dengan daerah yang tidak dilalui oleh jalur transportasi. dimana wilayah yang tercakup adalah

  1. Pusat Kegiatan (CBD)
  2. Transistion Zone: Major Roads
  3. Low Income Housing: Railways
  4. Middle Income Housing

Teori Sektor (skripsi dan tesis)

Secara konsepsual, model teori sector yang di kembangakan oleh Hoyt, dalam beberapa hal masih menunjukan persebaran zona – zona konsentrisnya. Terlihat jelas bahwa yang menghubugkan pusat kota ke bagian –bagian yang lebih jauh di beri peran yang besar dalam pembentukan pola struktur internal kotanya.

             Keterangan :

  1. CBD ( Daerah Pusat Kegiatan )

Deskripsinya sama dengan zona pertama dalam teori konsentris.

  1. Woleshale Light Manufacturing

Apa bila dalam teori konsentris, zona 2 berada pada lingkaran konsentris, berbatasan langsung dengan zona 1 maka pada teori sector zona ke 2 pula seperti taji ( wedge ) dan menjari kea rah luar menembus lingkaran – lingkaran konsentris sehingga gambaran konsentris mengabur adanya.

  1. Pemukiman Kelas Rendah

Zona ini adalah suatu zona yang di huni oleh penduduk yang mempunyai kemampuan ekonomi lemah.

  1. Pemukiman Kelas Menengah

Zona ini menurut Hoyt memang agak menyimpang khususnya dalam pembentukan sektornya. Tidak seperti zona 2, 3 dan 5 dimana sifat radiating sector yang sangat mencolok.

  1. Pemukiman Kelas Tinggi

Zona 5 ini merupakan tahap terakhir dari pada residential mobilelity penduduk kota. Daerah ini menjanjikan kepuasan, kenyamanan bertempat tinggal.

Teori Ketinggian Bangunan (skripsi dan tesis)

Menurut bergel, (1995) mengusulkan untuk memperhatikan variable ketinggian bangunan. Variable ini memang menjadi perhatian yang cukup besar untuk negara – negara maju, karena menyangkut antara hak seorang untuk menikmati sinar matahari, hak seorang untuk menikmati keindahan alam dari tempat  tertentu batas kepadatan bangunan, kepadatan penghuni dan pemanfaatan lahan dengan aksesbilitas yang tinggi.

Secara garis besar dapat dikatakan bahwa pada daerah pusat kegiatan harga lahan sangat mahal, aksesbilitas sangat tinggi dan ada kecendrungan membangun struktur perkotaan secara vertical. Oleh karena pada hakikatnya, ruang yang menikmati aksesbilitas paling tinggi yang sesungguhnya adalah pada ground floor maka ruang –ruangnya akan di tempati oleh fungsi yang paling kuat ekonominya.

Pada ruang yang  terletak pada tingkat yang lebih tinggi, walaupun berada pada pusat kota ( aksesbilitas tertinggi secara horizontal, namun karena letaknya paling atas menjadi menurun nilai akesbilitasnya ) dan mungkin hanya akan laku bila di peruntukan untuk tempat tinggal sementara.

Teori Konsentris (skripsi dan tesis)

Menurut E.W. Burgess dalam analisisnya pada tahun 1925 di kota Chicago dengan analogi dari dunia hewan dimana suatu daerah akan di dominasi oleh suatu spesies tertentu. Seperti halnya dalam wilayah perkotaan akan terjadi pengelompokan tipe dalam penggunaan lahan tertentu. Pembagian wilayah dalam teori kosentris

  1. Daerah pusat kegitan/ Central

Dareah ini merupakan pusat dari segala kegiatan kota antara lain politik, social budaya, ekonomi dan teknologi.

  1. Daerah peralihan/ Transisi Zone

Zona ini merupakan daerah yang mengalami penurunan kualitas lingkungan permukiman yang terus menerus dan makin lama makin hebat. Penyebabnya antara lain karena adanya pengaruh fungsi yang berasal dari zona pertama sehingga perbauran permukiman dengan bangunan bukan untuk permukiman seperti gudang, kantor dll sangat mempercepat terjadinya kemunduran dan penurunan mutu lingkungan permukiman.

  1. Zona perumahan para pekerja yang bebas

Zona ini paling banyak di tempati oleh perumahan pekerja – pekerja baik perkerja pabrik, industry dan sebagainya.

  1. Zona permukiman yang lebih baik

Zona ini di huni oleh penduduk yang berstatus ekonomi menengah ke atas, walaupun tidak berstatus ekonomi sangat baik namun mereka mengusahakan sendiri dengan bisnis kecil-kecilan, para professional, para pegawai dan lain sebagainya. Fasilitas permukiman terencana dengan baik sehingga kenyamanan pada tepat tinggal di rasakan pada zona ini.

  1. Zona penglaju

Zona ini di huni oleh para pekerja yang jarak tempat tinggalnya cukup jauh dari tempat bekerjanya.

Teori Konsentris Burgess memiliki beberapa kelemahan antara lain:

  1. Pada kenyataannya gradasi antar zona tidak terlihat dengan jelas.
  2. Bentuk daerah pusat kegiatan kebanyakan memiliki bentuk yang tidak teratur.
  3. Perkembangan kota cenderung mengikuti rute strategis.
  4. Homogenitas internal yang tidak sesuai dengan kenyataan.
  5. Area perumahan menengah kebawah tidak selalu berada di area pusat kota.

Pengertian Lahan (skripsi dan tesis)

Lahan adalah suatu daratan / permukaan tanah yang dapat di manfaatkan oleh manusia untuk keberlangsungan kehidupan. Tata guna lahan (land use) adalah suatu upaya dalam merencanakan penggunaan lahan dalam suatu kawasan yang meliputi pembagian wilayah untuk pengkhususan fungsi-fungsi tertentu. Tata guna lahan merupakan salah satu faktor penentu utama dalam pengelolaan lingkungan. Keseimbangan antara kawasan budidaya dan kawasan konservasi merupakan kunci dari pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Tata guna lahan dan pengembangan lahan dapat meliputi :

a.Kota, merupakan kawasan pemukiman yang secara fisik ditunjukkan oleh kumpulan rumah-rumah yang mendominasi tata ruangnya dan memiliki berbagai fasilitas untuk mendukung kehidupan warganya secara mandiri.

b.Kawasan perkotaan (urban), merupakan wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

c.Wilayah, merupakan sebuah daerah yang memiliki batasan yang jelas sesuai dengan pengamatan administrative pemerintah.

d.Kawasan, merupakan daerah tertentu yang mempunyai ciri tertentu, seperti tempat tinggal, pertokoan, industri, dan sebagainya.

e.Perumahan, merupakan kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal.

f.Permukiman, merupakan lingkungan tempat tinggal berupa kawasan perkotaan maupun kawasan pedesaan yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kehidupan.

Pelet (skripsi dan tesis)

 

Istilah pelet digunakan untuk menyatakan bentuk yang tidak berbutir, bukan pula tepung, melainkan potongan-potongan pipa seperti bentuk obat nyamuk yang dibakar itu. Panjang pelet biasanya 1-2 cm. Jadi pelet tidak merupakan tepung dan juga tidak berupa batang. Pelet mudah diperoleh, kandungan gizinya tinggi antara lain :

Tabel 5. Kandungan Gizi Dalam Pelet

No Kandungan Jumlah
1. Protein 25
2. Lemak 10-25
3. Karbohidrat 10-20
4. Vitamin dan mineral 1

(Mudjiman, 1992)

Selain itu pelet mempunyai bentuk dan kemasan yang ideal sehingga sangat disukai ikan dan tidak mudah hancur  didalam air. Untuk meramu pelet itu, pertama-tama harus disusun persennya dulu berdasarkan kadar protein yang diinginkan dan nilai masing-masing jenis makanan yang diramu, untuk itu setelah diketahui daftar komposisi masing- masing bahan makanan sudah dapat dibuat rekaan diatas kertas bahan-bahan apa saja yang akan digunakan dalam pembuatan pelet yang kesemuanya harus berjumlah 100 bagian. Banyaknya bahan penyusun ditentukan oleh kandungan proteinnya (Siregar, 1999).

Menurut Djajadiredja, dan Anvin, (1977) untuk meramu bahan makanan pelet itu, pertama-tama harus disusun resepnya dulu, berdasarkan kadar proteinnya yang diinginkan, dan nilai masing-masing bahan makanan yang diramu itu.

Sifat-sifat penting yang harus diperhatikan dalam pembuatan pelet adalah bentuk bahan baku makanan harus berupa tepung halus dan daya malayangnya dalam air juga harus diperhatikan. Makanan berupa pelet ini harus melayang beberapa lama sebelum akhirnya tenggelam. Pelet yang bermutu harus dapat melayang dekat permukaan air paling sedikit 5 menit, sebelum ia menghisap air dan tenggelam kedasar (Mudjiman, 1992).

Dedak Sebagai Bahan Campuran Pakan Ikan (skripsi dan tesis)

Dedak merupakan bahan nabati yang merupakan sisa proses produksi yang biasanya dinamakan dedak padi. Ada 2 macam dedak yaitu, dedak halus (bekatul) dan dedak kasar.

Dedak halus merupakan produk samping penggilingan gabah (rice mill). Bahan ini di pedesaan dapat diperoleh setiap kali menumbuk padai. Kulit gabah yang mengelupas dan hancur beserta selaput beras disaring dengan ayakan lembut untuk dipisahkan dari ampasnya. Dedak halus ini dalam pembuatan pakan ikan digunakan sebagai sumber karbohidrat (Widayati, 1996).

Dedak padi merupakan sumber energi bagi ternak, disamping sebagai sumber vitamin B yang dukup baik. Penggunaan dedak dalam makanan bertujuan sebagai bahan pengisi agar makanan bersifat bulky (menggumpal) dan tidak memiliki kepadatan yang terlalu tinggi.(BPPT, 2000)

Dedak yang bermutu baik, kandungan gizinya adalah sebagai berikut :

Tabel 4. Kandungan Gizi Dalam Dedak.

No. Kandungan gizi Jumlah (%)
1. Karbohidrat 28,62
2. Serat kasar 24,46
3. Lemak 12,15
4. Protein 11,35
5. Air 10,15
6. Abu 10,5
7. Nilai ubah 8

(Widayati, 1996).

Dalam menggunakan dedak halus untuk campuran makanan ikan, diharapkan berhati-hati dalam memilihnya. Sebab besar sekali kemungkinan dedak itu banyak campurannya, seperti campuran sekam, pasir, batu kapur, tepung batu dll. Selain itu, dedak yang sudahterlalu lama disimpan (sampai 3 bulan atau lebih), mutunya juga sudah merosot vitaminnya, sudah rusak dan baunyapun tengik (Widayati, 1996).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih dedak antara lain

  1. Memperhatikan baunya. Untuk itu perlu dicium dedaknya dan dirasakan apakah berbau enak atau tidak (bila berbau tengik, berbau jamur yang apek atau berbau obat berarti jelek).
  2. Memperhatikan kelembabannya. Untuk itu perlu diraba dedaknya dengan tangan. Dedak yang baik akan melekat pada seluruh tangan.
  3. Bentuk luarnya perlu dihancurkan, apakah berbentuk kapur halus, kasar atau lembut.
  4. Dibandingkan dengan sejumlah dedak yang diamati dengan dedak yang sudah jelas bermutu baik dalam jumlah yang sama, untuk mengetahui adanya bahan-bahan campuran.
  5. Warnanya harus sesuai dengan warna berasnya. Ada yang kuning, keabu-abuan, kuning muda, kecoklatan dll (Mudjiman, 1992).

 

Pemanfaatan Limbah Darah Unggas Sebagai Bahan Pakan Ikan (skripsi dan tesis)

Berbagai macam bahan pakan dapat digunakan sebagai bahan alternatif pengganti tepung ikan dengan memperhatikan nilai gizinya yang tinggi, harganya lebih murah dan mudah didapat. Salah stu bahan alternatif yang dapat digunakan adalah limbah peternakan berupa darah ayam. Limbah peternakan berupa darah ayam memiliki kandungan protein tinggi. Darah ayam dapat diperoleh dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang terdapat diseluruh Indonesia. Berat darah ayam sebagai hasil samping penyembelihan hewan antara 2-3% berat badan hewan (Mudjiman, 1995).

Tepung darah berasal dari darah segar dan bersih yang biasanya diperoleh dari rumah pemotongan hewan (RPH). Darah segar hanya mengandung bahan kering ± 20% berarti sebelum dijadikan tepung diperlukan proses penguapan air atau pengeringan yang membutuhkan waktu cukup lama. Pengeringan darah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengeringan biasa atau melalui pemanasan (vat drying) dan dengan menggunakan freeze drying untuk menguapkan air pada temperatur rendah. Metode pengolahan yang digunakan tentu akan mempengaruhi kualitas tepung darah yang dihasilkan. Kandungan zat makanan dengan menggunakan cara vat drying adalah bahan kering 94,0%, protein kasar 81,1%, lemak kasar 1,6%, dan serat kasar 0,5% sedangkan dengan cara lain didapatkan bahan kering 93,0%, protein kasar 88,9%, lemak kasar 1,0%, dan serat kasar 0,6%.(BPPT,2000)

Menurut Mudjiman (1995), darah ayam mengandung jenis protein yang sukar dicerna, sehingga penggunaanya perlu dibatasi. Supaya darah ayam lebih mudah dicerna oleh tubuh ikan maka perlu diolah dulu sebelum digunakan. Salah satu cara pengolahannya adalah dibuat tepung darah. Darah yang dibuat tepung memiliki kandungan ferrum (Fe) tinggi, kadar protein kasar 80% dan lisin yang cukup tinggi juga tetapi mempunyai kandungan kalsium dan fosfor yang rendah. Tepung darah kaya akan kandungan asam amino arginin, metionin, sisitin dan leusin tetapi mempunyai kekurangan yaitu miskin akan asam amino isoleusin,dan dibandingkan dengan tepung ikan, tepung daging bekicot dan tepung tulang daging, tepung darah mengandung sedikit glisin (Nesheim., 1979).

Darah ayam tersebut dipanaskan sampai 100ºC sehingga membentuk gumpalan, kemudian dikeringkan dan diproses (tekanan tinggi) untuk mengeluarkan serum yang tersisa. Setelah itu dikeringkan dengan pemanasan lagi dan akhirnya digiling. Tepung darah hewan ini biasanya berwarna coklat gelap dengan bau yang khas. Tepung ini mengandung Lysine, Arginine,Methiorine, Cystine dan Leucine, tetapi sedikit mengandung Ileucine dan Glycine (Darmono, 1993).

Baik buruknya tepung darah yang digunakan sebagai bahan baku dari segi kesehatan, tergantung pada bagaimana bahan itu diperoleh dari rumah potong hewan. Bila berasal dari penampungan yang bercampur kotoran, tentu bahan ini tidak layak digunakan, tapi bila berasal dari penampungan yang bersih, maka tepung ini memenuhi syarat sebagai bahan baku pakan. Kelemahan dari tepung darah adalah miskin isoleucin dan rendah kalsium dan fosfor, juga bila dipakai lebih dari 5% akan menimbulkan efek “bau darah” pada ikan. Oleh karena itu penggunaanya harus dicampurkan dengan bahan lain.(Musyamsir, 2001)

 

Limbah Rumah Pemotongan Hewan (skripsi dan tesis)

Limbah ternak adalah sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha pemeliharaan ternak, rumah potong hewan, pengolahan produk ternak, dll. Limbah tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses, urine, sisa makanan, embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku, tulang, tanduk, isi rumen, dll (Sihombing, 2000).  Semakin berkembangnya usaha peternakan, limbah yang dihasilkan semakin meningkat. Dikhususkan pada kegiatan rumah pemotongan ayam maka  paling banyak menghasilkan limbah berupa manure, bulu dan darah.

Proses usaha produk daging unggas dimulai dengan memotong leher kemudian mengeluarkan daging unggas dan dicelupkan ke air panas untuk melonggarkan atau melepaskan bulunya. Pelepasan bulu bisa dilakukan secara mekanis atau manual. Isi perut dikeluarkan kemudian unggas tersebut dipotong-potong atau dibiarkan utuh lalu didinginkan dan dikemas untuk dijual

Penanganan limbah ternak akan spesifik pada jenis/spesies, jumlah ternak, tatalaksana pemeliharaan, areal tanah yang tersedia untuk penanganan limbah dan target penggunaan limbah. Salah satunya adalah dengan pemanfaatan kembali produk limbah tersebut. Pelbagai manfaat dapat dipetik dari limbah ternak, apalagi limbah tersebut dapat diperbaharui (renewable) selama ada ternak.   Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk dimanfaatkan.  Limbah ternak kaya akan nutrient (zat makanan) seperti protein, lemak, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), vitamin, mineral, mikroba atau biota, dan zat-zat yang lain (unidentified subtances).  Limbah ternak dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan ternak, pupuk organik, energi dan media pelbagai tujuan (Sihombing, 2002).

Dalam operasi pemrosesan daging unggas, biasanya darah, bulu dan kotoran diperoleh kembali dan dijual kepada perusahaan yang mengubah bahan tersebut menjadi makanan hewan dan pupuk. Limbah cair yang dihasilkan dari pencucian peralatan, lantai dan unggas dari pencelupan  di dalam air panas untuk melonggarkan bulu akan mengandung darah, bulu, gemuk dan daging.  Untuk mengolah kembali limah tersebut maka terdapa dua macam olahan yaitu rendering basahdan rendering kering.

Rendering biasanya dibagi antara produk yang dapat dimakan dan tidak dapat dimakan. Bahan-bahan tersebut digiling kemudian menjadi bagian-bagian yang halus lalu dimasak. Rendering basah dilakukan dalam tangki bertekanan menggunakan injeksi uap langsung, menghasilkan produk berupa lemak, padatan dan cairan yang biasanya diuapkan untuk menghasilkan zat pemerkaya protein untuk makanan hewan. Sedangkan rendering kering dilakukan dalam tangki terbuka atau dalam udara hampa. Pemasakan dilanjutkan sampai uap teruapkan lalu padatan sisa disaring untuk memisahkan lemak dari bahan padatan yang kaya protein. Lemak dan gemuk diendapkan sebelum disimpan dan di kemas. Makanan tersebut digiling, disaring dan dicampur. Rendemen kering menghasilkan produk kering.

Kontak Khlorin (skripsi dan tesis)

 

            Pembunuhan mikroorganisme dalam desinfeksi dibutuhkan waktu yang merupakan periode tertentu untuk interaksi antara desinfektan dengan konstituen (zat pencemar) di dalam air, biasa disebut waktu kontak dan sangat penting dirancang alat ini dalam sistem desinfeksi untuk pengolahan air minum, biasa disebut bak kontak khlorin. Waktu kontak minimum yang dibutuhkan untuk khlorinasi adalah 10 – 15 menit, agar desinfeksi dapat berjalan secara efektif. Secara umum dilapangan, kontak khlorin dilakukan di dalam pipa distribusi utama sebelum sampai ke pelanggan pertama. Apabila kontak seperti itu tidak dimungkinkan, maka harus digunakan bak kontak khlorin (Schulz dan Okun,1984).

Desinfeksi (skripsi dan tesis)

 

            Air bersih sebelum ditampung di dalam reservoir harus dilakukan desinfeksi untuk membunuh organisme patogenik apapun yang terdapat di dalam air. Desinfeksi yang umum digunakan adalah menggunakan khlorin. Khlorin terlarut di dalam air akan mengoksidasi bahan organik, termasuk organisme patogenik. Adanya sisa khlorin aktif di dalam air merupakan indikator bahwa tidak terdapat lagi organisme yang perlu dioksidasi dan dapat dianggap bahwa air sudah terbebas dari penyakit yang disebabkan oleh organisme patogenik. Air yang dialirkan di dalam sistem distribusi harus mengandung sisa khlor untuk menjaga terhadap kontaminasi selama dalam distribusi. Inilah mengapa air dari jaringan distribusi air minum sering berbau khlorin (Vesilind, 1997).

Menurut Sanropie (1984), menyatakan bahwa Desinfeksi adalah suatu proses untuk membunuh bakteri patogen (bakteri penyebab penyakit) yang ada didalam air dengan menggunakan bahan desinfektan. Desinfeksi secara kimia antara lain dapat dilakukan dengan penambahan bahan kimia seperti Cl2, Br2, I2, O3, KMnO4, O2, Cl2, CuSO4  dan ZnSO4. Bahan kimia yang paling banyak digunakan adalah senyawa khlorin yang disebut proses khlorinasi atau desinfeksi. Di Indonesia kebanyakan digunakan kaporit karena mudah didapat dan mudah penggunaannya. Disinfeksi merupakan bagian dari proses pengolahan air terakhir yang penting dan merupakan teknologi bersih. Disinfektan senyawa khlorin, dapat digunakan untuk menghilangkan bakteri patogen, meminimalkan gangguan mikroorganisme dan sebagai oksidator.  Sebagai oksidan, khlorin  dapat juga digunakan untuk menghilangkan zat besi, mangan, menghilangkan rasa air dan  senyawa berbau serta meminimalkan amonia nitrogen. Terminologi disinfeksi yang berarti menghilangkan atau menghancurkan seluruh mikroorganisme yang hidup termasuk didalamnya spora disebut sterilisasi. Namun istilah disinfeksi tidak seluruhnya benar karena ada beberapa spora bakteri yang lebih tahan terhadap disinfeksi dibanding bentuk vegetatif, seperti halnya organisme tuberculosis lebih tahan dibanding dengan negatif-gram sel coliform.  Dalam proses dan operasi pengolahan air, pada pra disinfeksi seperti sedimentasi, koagulasi, flokulasi dan penyaringan, telah dapat mengurangi mikroorganisme yang tahan (resisten) terhadap disinfeksi.

Kecepatan proses yang kompleks ini tergantung pada :

  1. Fisika kimia dari disinfektan;
  2. Kelakuan cyto kimia dan sifat fisik dan patogen;
  3. Interaksi dari (1) dan (2);
  4. Efek kuantitatif dari faktor media reaksi seperti : Suhu, pH, Elektrolit, Kondisi Gas dan Kondisi Fisika (panas, ultra violet, radiasi, ionisasi, pH).

Khlorin dalam senyawa kimia terdapat pada :

  1. Asam Hipokhlorit (HOCl).
  2. Kalsium Hipokhlorit, Ca(OCl)2 , diperdagangkan disebut kaporit.
  3. Sodium Hipokhlorit, (NaOCl).

Kaporit dalam kemasan yang baik berupa kristal atau tablet mengandung khlorin sampai dengan 90 persen dan mudah larut dalam air.  Sodium hipokhlorit dapat diperoleh dalam bentuk cair dengan konsentrasi khlorin  5-15  persen.

Dari reaksi berikut :

Cl2 + H2O  à  HCl + HOCl                       H+ + OCl            (P.VII-1)

 

dapat dijelaskan bahwa khlorin dengan air akan menjadi asam khlorida dan asam hipokhlorit dengan kondisi keseimbangan reaksi menjadi ion H dan OCl.

Pada pH > 8 HOCl tetap tidak terionisassi  sedang pada pH < 7  HOCl akan terionisasi menjadi OCl yang bersifat oksidator.

Selanjutnya,

Ca(OCl)2 + H2O   à      Ca++  +  2OCl  + H2O                     (P.VII-2)

HOCl sangat reaktif terhadap amonia menurut reaksi berikut :

HOCl + NH3     à     NH2 + NH2Cl  (Monochloroamin)       (P.VII-3)

HOCl + NH2     à     H2O + NHCl2  (Dichloroamin)            (P.VII-4)

HOCl + NHCl2  à    H2 O + NCl3 (Trichloroamin)               (P.VII-5)

Reaksi reaksi diatas tergantung pada keadaan pH, Suhu, Waktu Reaksi dan Kemurnian Chlorin.

Reaksi pada (P.VII-3) dengan  (P.VII-4)  berjalan pada  pH 4,5 –8,5 sedang diatas pH 8,5 monochloroamin akan bereaksi. Pada pH dibawah 4,4 akan terjadi reaksi (P.VII-5)

Dengan  desinfektan yang digunakan adalah Kaporit, Ca(OCl)2, maka :

  1. Konsentrasi larutan 5-10%.
  2. Waktu kontak 15-30
  3. DPC 1,18-1,22 mg/l
  4. Sisa Chlor 0,1-0,5 mg/l
  5. Dosis klorin : 30 – 40 mg/l
  6. Untuk kapasitas pengolahan dalam satuan liter/menit,
  7. Dosis Chlor Total = DPC + Sisa Chlor ( Degremont, 1979 ).

Menurut Berthouex (1998), dikatakan bahwa desinfeksi diperlukan pada akhir pengolahan air bersih/minum. Desinfeksi menggunakan klorin akan dapat membunuh 99% bakteri dalam waktu 10 menit pada suhu 50C dan pH sekitar 7-8. Untuk suhu yang lebih tinggi , waktu kontak minimum yang dibutuhkan adalah 30 menit untuk kadar Colitinja minimum 400 MPN/100 ml.  Pada umumnya indikator coliform akan lebih besar dibanding dengan colitinja, maksimum jumlah rata-rata colitinja 75 % dari coliform. Kebutuhan konsentrasi klorin yang mampu membunuh 99% bakteri dalam waktu 10 menit pada suhu 50C, seperti terlihat pada Tabel 2.2 di bawah ini :

 

Tabel 2.2. Konsentrasi Klorin Yang Mampu Membunuh 99% Bakteri Dalam Waktu 10 menit pada Suhu 50C.

 

 

Mikroorganisme

Konsentrasi dibutuhkan; mg/l
Cl2 bebas pH 7 Cl2 bebas

pH 8

HOCl OCl
Enteric bacteria 0,04 0,1 0,02 2
Virus > 8 > 2 0,002 – 0,4 > 20
E. hystolytica 20 50 10 10
Bacterial Spores 20 50 10 1000

Sumber : Berthouex (1998)

 

Menurut Schulz dan Okun (1984), Senyawa khlorin mempunyai kemampuan untuk membunuh organisme patogenik dan memberikan sisa khlor pada sistem distribusi secara baik dengan biaya relatif murah, sehingga digunakan secara luas untuk desinfeksi. Pemakaian secara terbatas sebagai pengganti khlorin adalah ozonisasi, dan sudah dugunakan di kota-kota besar di negara Eropa dan Amerika dalam penyediaan air minum. Penggunaan ozon tidak secara umum direkomendasikan untuk kota-kota di negara berkembang, oleh karena tingginya biaya instalasi dan kebutuhan akan tenaga listrik serta perawatannya. Disamping itu membutuhkan juga penyediaan tenaga listrik yang menerus dan peralatan maupun suku cadang proses ozonisasi masih harus impor dari negara maju. Adapun keputusan menggunakan desinfektan gas khlorin (Cl2) atau larutan hipokhlorit dipengaruhi beberapa faktor yaitu : 1) Kuantitas air yang diolah, 2) Biaya dan ketersediaan bahan kimia, 3) Peralatan yang dibutuhkan untuk aplikasinya, dan 4) Ketrampilan (skill) yang dibutuhkan untuk operasi dan kontrol. Larutan hipokhlorit lebih banyak digunakan dibanding gas khlorin, oleh karena pengumpan (feeder) dapat dibuat secara lokal dan relatif tidak membutuhkan skill untuk pengoperasiannya.

Sumber Khlorin yang banyak digunakan saat ini adalah jenis kaporit tablet dengan kemurnian 90% yang mampu menyuntikkan dosis khlorin sebesar 40 mg/l berupa tablet kaporit ukuran 200 gram sebanyak 2 tablet untuk debit aliran antara 1 – 5 liter per detik (Anonim, 1993).

Penyakit bawaan Air (skripsi dan tesis)

Adanya penyebab penyakit di dalam air dapat menyebabkan efek langsung terhadap kesehatan. Penyebab penyakit yang ditularkan melalui air dapat dikelompokan menjadi dua bagian (seomirat, 1994), yaitu:

  1. Penyebab hidup, yang menyebabkan penyakit menular
  2. Penyebab tidak hidup, yang menyebabkan penyakit tidak menular.

Tabel 2.3 : Beberapa penyakit bawaan air dan Agentnya.

Agent Penyakit
Virus :

Rota Virus

Virus Hepatitis A

Virus Poliomielitis

 

Diare pada anak-anak

Hepatitis A

Polio

Bakteri:

Vibrio Cholerae

Escherichia Coli enteropatogenik

Salmonella typhi

Salmonella paratyphi

Shigella dysentrieae

 

Cholera

Diare Dysentri

Thypus Abdominalis

Paratyphus

Dysentri

Protozoa :

Entamoeba Histolytica

Balantidia coli

Giardia lamblia

 

Dysentri Amoeba

Balantidiasis

Giardiasis

Metazoa:

Ascaris lumbricoides

Clonorchis sinensis

Dyphylobothrium latum

Taenia saginata/solium

Schistosoma

 

Ascariasis

Clonorchisasis

Dyphylobothriasis

Taeniasis

Schistosomiasis

Sumber : Soemirat, J. Slamet, 1994

Peranan air di dalam penularan penyakit adalah (1) Aie sebagai penyebar mikroba patogen, (2) Air sebagai sarang insekta penyebar penyakit, (3) Air sebagai sarang hospes penular penyakit dan (4) Air sebagai media bagi pencemaran dan bahan-bahan kimia.

Penyakit menular yang disebarkan melalui air di sebut penyakit bawaan air (water borne diseases), penyakit-penyakit tersebut hanya dapat menular apabila mikroorganisme penyebabnya dapat masuk ke dalam sumber air yang dipakai masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jenis mikroba yang dapat disebarkan melalui air, yaitu virus, bakteri, protozoa dan metazoa.

 

Kualitas Air (skripsi dan tesis)

Kualitas air dapat di definisikan sebagai kondisi kualitatif yang dicerminkan sebagai kategori fisik, kimia, biologi, dan radiologis sesuai dengan peruntukannya. (Soemirat J., 2004).  Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan RI  No.416 tahun 1990 maka kualitas air bersih  harus memenuhi beberapa syarat yaitu kualitas fisik, kimia, dan kualitas mikrobiologis. Namun untuk penelitian ini berdasarkan hanya ditekankan pada standar kualitas mikrobiologis saja yaitu Colitinja dengan batas syarat kadar maksimum yang diperbolehkan adalah 50 MPN colitinja per 100 ml sampel (Permenkes, 416 Tahun 1990).  Khususnya pada air minum persyaratan mikrobiologis sangat ditekankan, selain syarat fisik dan kimia. Sebab di dalam air dimungkinkan terdapatnya mikro pathogen atau penyebab penyakit misalnya kolera, disentri, demam thypoid dan lain-lain. Karena dan isolasi mikro tersebut sangat sulit dan mikroorganismenya tersebut berasal dari perut penderita yang dikeluarkan bersama kotorannya (facces), maka untuk keperluan praktis adanya kontaminasi dalam air ditandai dengan adanya bakteri yang terdapat dalam kotoran manusia atau hewan (Supardi,1990). Coli  adalah  organisme yang ditemukan dalam saluran pencernaan manusia dan hewan, dimana keberadaanya dalam air menandakan adanya pencemaran kuman yang berbahaya. Dalam teknologi pengelolaan kualitas air, parameter mikrobiologis secara umum merupakan indikator potensi water- borne dieseases terbatas untuk penyakit yang di sebabkan oleh virus, bakteri dan protozoa pathogen (Brock dan Brock).

Colitinja dijadikan sebagai indikator, karena parameter ini sebagai petunjuk kehadiran parameter lain yang dimungkinkan lebih sulit dideteksi secara langsung. Parameter ini umumnya secara langsung tidak menimbulkan bahaya akan tetapi kahadirannya menandakan adanya bahaya yang patut diperhatikan. Sistem indikator ini dimaksud sebagai sistem peringatan dini terhadap kemungkinan terjadinya pencemaran secara efektif (Wuryadi,1991).

Menurut Sutrino dan Suciastuti (1991), menyatakan bahwa air minum boleh mengandung bakteri paatogen tetapi tidak boleh mengandung bakteri jenis Eschericia Coli melebihi batas yang telah ditentukan yaitu 1 individu 100 ml air. Sehingga apabila telah melebihi batas tersebut berarti air telah tercemar oleh tinja.

Penyaluran Air Limbah Domestik (skripsi dan tesis)

 

Menurut Tjokrokusumo (1995), bahan yang umumnya di pakai untuk pipa saluran air limbah domestik adalah :

  1. Pipa asbes semen (Asbestos cement pipe)

Pipa asbes semen tahan terhadap korosi akibat asam, tahan terhadap kondisi limbah yang sangat septik dan pada tanah yang alkalis.

 

 

  1. Pipa beton (Concrete pipe)

Pipa beton sering digunakan untuk saluran air limbah berukuran kecil dan sedang (berdiameter 600 mm). Penanganannya cukup mudah karena secara langsung dapat dibuat di lapangan, hanya saja umumnya tidak tahan terhadap asam.

  1. Pipa besi cor (Cast iron pipe)

Keuntungan pipa ini adalah umur penggunaan yang cukup lama, kuat menahan beban, dan karakteristik pengaliran yang baik. Hanya saja secara ekonomis tidak menguntungkan karena mahal, sulit untuk penggunaan secara khusus (misalnya untuk sifon, saluran yang melewati daerah rawa).

  1. Pipa tanah liat (Vetrified clay pipe)

Pipa ini sudah digunakan sejak zaman Babylonia dan sampai saat ini masih digunakan. Pipa tanah liat ini pada umumnya berdiameter antara 450 mm sampai 600 mm. pipa ini terbuat dari tanah yang dicampur dengan air, dibentuk kemudian dijemur dan dipanaskan dalam suhu tinggi. Keuntungan penggunaan pipa ini adalah tahan korosi akibat produksi H2S air limbah. Selain itu, kelemahan pipa ini mudah pecah dan umumnya dicetak dalam ukuran pendek.

  1. PVC (Polyvinyl chloride)

Pipa ini banyak digunakan karena mempunyai keunggulan, antara lain mudah dalam penyambungan, ringan, tahan korosi, tahan asam, fleksibel dan karakteristik aliran sangat baik. Sambungan pipa penyalur air limbah dapat berupa adukan semen, aspal, karet penyekat (rubber gasket), atau serat goni. Hal yang perlu diperhatikan adalah sambungan tersebut harus tahan rembesan, terhadap pertumbuhan akar pohon yang melewatinya, korosi dan mudah dalam penanganannya, serta hemat.

            Perencanaan pemipaan air Limbah domestik dimulai dari penataan pipa persil menuju pipa servis dan selanjutnya penempatan pipa servis yang tepat di ruas jalan yang berada disekitar perumahan atau pemukiman. Dimungkinkan pipa dipasang di sisi jalan atau di tengah jalan. Pada prinsipnya air limbah harus dapat mengalir cepat dan tidak meninggalkan lumpur di dalam perjalanan sampai di tempat air limbah domestik berakhir. Agar terpenuhi itu, maka perlu dipenuhi faktor lain yaitu diameter pipa, kekasaran pipa, kemiringan pipa, jarak manholes, guna melayani besar dan kecilnya arus aliran air limbah dari rumah-rumah penduduk.

 

 

 

 

Pencemaran Air Tanah Akibat Perilaku Manusia (skripsi dan tesis)

 

Pencemaran oleh karena perilaku manusia pada wilayah perkotaan terjadi akibat tingginya kepadatan dan aktivitas penduduk, terutama bila sistem buangan limbah cair dan padat, sampah, dan sanitasi tidak memadai akan menjadi potensi pencemaran air tanah (Sutrisno, 2002).

Menurut Berthouex (1998), menyatakan bahwa bakteri patogen analog dengan bahan kimia beracun, karena dapat menyebabkan penyakit apabila melebihi batas toleransi yang diperbolehkan untuk manusia. Bakteri Coliform adalah group bakteri yang sering ditemukan didalam tanah, tinja manusia, burung dan binatang berdarah panas. Adanya coliform menunjukkan adanya bakteri patogen, sehingga digunakan sebagai indikator kualitas higienis air bersih/ minum. Secara praktis apabila indikator bakteri tidak muncul di dalam air bersih/ minum, maka bakteri patogen juga tidak ada (negatif) dan air aman untuk diminum. Air dapat berfungsi pembawa penyakit (water borne disease), sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan dari kontaminasi bakteri. Kontaminasi bakteri patogen pada air bersih/minum sering berasal dari septic tank dan air buangan domestik melalui tanah, sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan. Pencegahan kontaminasi bakteri patogen dari septic tank maupun air buangan domestik dapat dilakukan dengan cara pengolahan dan pada akhir pengolahan dilakukan proses desinfeksi menggunakan klorin, ultra violet maupun ozon.

 

Pencemaran Air Tahan Oleh Penyebab Alamiah (skripsi dan tesis)

            Menurut Khumyahd (1991), struktur kimia tanah yang termasuk di dalam struktur pegunungan berapi di daerah tropis dengan curah hujan sedang dan tinggi pada ketinggian hingga 900 m dari permukaan laut (dpl) banyak mengandung mineral besi (Fe) dan mangan (Mn), oleh karena didominasi oleh jenis tanah regosol, litosol dan latosol. Warna jenis tanah ini adalah berwarna kuning kecoklatan, coklat kemerahan, coklat, coklat kehitaman dan hitam. Besi (Fe), Mangan (Mn) dan Kalsium (Ca) adalah konstituen alam yang terdapat pada tanah dan batuan yang terdapat pada bahan induk vulkanik berupa tufa ataupun batuan beku. Besi salah satu unsur yang sering didapati lebih besar kandungannya dibanding mangan. Besi terdapat dalam mineral silikat pada batuan beku, sedangkan mangan sering terdapat di dalam batuan metamorphik dan batuan sedimen. Unsur kimia Fe dan Mn dapat berupa mineral terlarut dan presipitat pada kondisi tertentu seperti dalam tabel di bawah ini :

 

 

 

 

 

Tabel 2.1. Unsur Kimia Fe dan Mn

Unsur Presipitat Kondisi
Fe2+ Fe(OH)2 Tidak adanya O2 dan CO32 (pH  10)
Fe2+ FeCO3 Tidak adanya O2 dan S2 (pH  8, alk > 10-2 eq/L)
Fe2+  Fe3+ Fe(OH)3 1.     4 Fe2+ + 2H+ + O2 4Fe3+ + 2OH atau 7 mg Fe/mg O2

2.     2Fe2+ + Cl2 2Fe3+ + 2Cl atau 1,6 mg Fe/mg Cl2

3.     3Fe2+ + MnO4 + 4 H+ 3Fe3+ + MnO2 + 2H2O atau 1,06 mg Fe/mg MnO4

Mn2+ Mn4+ MnOOH 1.   2H+ + Mn2+ + ½ O2 Mn4+ + H2O atau 3,5 mg Mn/mg O2

2.   Mn2+ + Cl2 Mn4+ + 2Cl atau 1,3 mg Mn/mg Cl2

3.   3Mn2+ + 2Mn7+ 5Mn4+ atau 0,52 mg Mn/mg MnO4

Sumber : Khumyahd (1991).

 

Menurut Berthouex (1998), pencemaran alamiah terjadi karena pelapukan biogeokimia di dalam tanah akibat proses pencucian (leaching) bahan organik dari top soil pada proses perkolasi. Proses oksidasi biokimia akan menipiskan oksigen tanah dan memproduksi karbondioksida (CO2) yang semakin lama menghabiskan oksigen terlarut di dalam air dan akan digantikan oleh proses anaerobik (reduksi) atau proses fermentasi biokimia. Dalam kondisi yang demikian ini CO2 akan bereaksi dengan senyawa-senyawa karbonat pada batuan alam seperti CaCO3 (Calcite), FeCO3 (Siderit) dan MnCO3 (Rhodochrosite) menghasilkan mineral-mineral terlarut. Hal ini akan dipercepat lagi apabila terjadi keronggaan lapisan tanah dalam dan pergeseran lapisan tanah oleh gempa, sehingga dapat menyebabkan kandungan mineral besi, mangan dan kalsium di dalam air tanah menjadi meningkat seperti terlihat dalam reaksi di bawah ini :

 

 

Air Sumur (skripsi dan tesis)

         Menurut Ahmad (1995) menyatakan bahwa air sumur merupakan sumber air bersih bagi sebagian besar penduduk dan dikenal ada dua macam air sumur yaitu :

  1. Air sumur dangkal (Sumur gali)

Yang termasuk dalam sumber air ini apabila kedalamannya kurang dari 50 meter. Kualitas sumber air ini sama dengan air permukaan tanah, sehingga sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia terutama aktivitas domestik apabila tidak dilakukan upaya sanitasi dengan baik.

  1. Air sumur dalam (Sumur bor/Deep well)

Yang termasuk dalam sumber air ini apabila kedalamannya lebih dari 50 meter. Kualitas air ini dipengarui oleh struktur geografis dan geologis wilayah setempat, sehingga sangat dipengarui oleh proses biogeokimia yang merupakan proses pelapukan mineral tanah secara alamiah

 

Air Sumur (skripsi dan tesis)

 

         Menurut Ahmad (1995) menyatakan bahwa air sumur merupakan sumber air bersih bagi sebagian besar penduduk dan dikenal ada dua macam air sumur yaitu :

  1. Air sumur dangkal (Sumur gali)

Yang termasuk dalam sumber air ini apabila kedalamannya kurang dari 50 meter. Kualitas sumber air ini sama dengan air permukaan tanah, sehingga sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia terutama aktivitas domestik apabila tidak dilakukan upaya sanitasi dengan baik.

  1. Air sumur dalam (Sumur bor/Deep well)

Yang termasuk dalam sumber air ini apabila kedalamannya lebih dari 50 meter. Kualitas air ini dipengarui oleh struktur geografis dan geologis wilayah setempat, sehingga sangat dipengarui oleh proses biogeokimia yang merupakan proses pelapukan mineral tanah secara alamiah

 

Air Tanah Wilayah Perkotaan (skripsi dan tesis)

 

            Menurut Sutrisno (2002), menyatakan bahwa wilayah perkotaan biasanya ditandai dengan luasan wilayah yang terbatas dengan jumlah penduduk yang besar, kepadatan yang tinggi, serta tingkat laju pertumbuhan penduduk yang tajam dan menerus, dengan perilaku sosial yang sangat heterogen. Juga ditandai dengan aktivitas yang tinggi dari pergerakan orang, barang dan jasa, sehingga perubahan penggunaan lahan yang cepat, dari lahan terbukan menjadi lahan tertutup bangunan. Akibat yang ditimbulkan adalah volume limbah padat, cair dan gas yang besar dan meningkat dari kegiatan domestik, jasa dan industri, dimana kegiatan jasa, industri, pendidikan, dan pariwisata lebih menonjol dibandingkan pertanian.

Keterdapatan air tanah di wilayah perkotaan harus dipahami dari senua aspeknya seperti pembentukan, wadah (aquifer), penyebarannya, baik vertikal maupun horizontal terutama dikaitkan dengan kewenangan pengelolaan. Dengan ciri-ciri wilayah perkotaan yang demikian, memberikan konsekuensi terhadap keberadaan sumberdaya air/air tanah, dikarenakan kebutuhan pasokan air yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan air minum, air bersih dan air industri, mengakibatkan terjadi perubahan jumlah limpasan permukaan (surface run-off ) dan imbuhan (recharge) dan ancaman pencemaran terutama terhadap air permukaan dan air tanah tak tertekan, terutama bila sistem buangan limbah cair dan padat, sampah dan sanitasi tidak memadai.

Air Tanah (skripsi dan tesis)

 

Menurut Tirtomihardjo (2003), Air tanah menunjukkan sumber daya alam yang ketersediaannya, baik kuantitas (jumlah) maupun kualitas (mutu) air tanahnya tergantung pada kondisi lingkungan di mana proses pengimbuhan, pengaliran dan pelepasan air tanah tersebut berlangsung pada suatu wadah yang disebut cekungan air tanah. Cekungan airtanah Merapi – Yogyakarta terletak pada lereng selatan Gunung Merapi yang dibatasi oleh Sungai Progo di sebalah barat dan Sungai Opak di sebelah timur dan di sebelah selatan dibatasi oleh Samudera Indonesia. Cekungan ini memiliki luas kurang lebih 1200 km2, dan meliputi tiga wilayah Kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketiga wilayah kabupaten tersebut adalah Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul. Sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, wilayah lindung resapan air di cekungan ini terletak di Kabupaten Sleman, namun dalam kenyataannya implementasi rencana ini tidak berlaku sehingga semakin banyak aktivitas penduduk mengganti lahan pertanian dan hutan di daerah resapan menjadi perumahan dan pemukiman,  hotel, sekolah, industri dan kegiatan lainnya. Akibat dari kegiatan ini dapat dipastikan bahwa siklus air di cekungan airtanah ini akan terganggu dan salah satu akibatnya adalah penurunan volume resapan air ke dalam airtanah dan  perubahan kebutuhan air yang akan meningkatkan eksploitasi sumber-sumber air. Disinilah diperlukan perhitungan kembali potensi sumber daya air dan memperkirakan efek dari perubahan lahan terhadap kesetimbangan air di wilayah ini.

Menurut Soemarto (1995), Air tanah adalah air yang menempati rongga-rongga dalam lapisan geologi. Lapisan tanah yang terletak di bawah permukaan air tanah dinamakan daerah jenuh (saturated zone), sedangkan daerah tidak jenuh terletak di atas daerah jenuh sampai ke permukaan tanah, yang rongga-rongganya berisi air dan udara. Karena air tersebut meliputi lengas tanah (soil moisture) dalam daerah perakaran (root zone), maka air mempunyai arti yang sangat penting bagi pertanian, botani dan ilmu tanah. Amtara daerah jenuh dengan tidak jenuh tidak ada garis batas yang tegas, karena keduanya mempunyai batas yang indipenden, dimana air dari kedua daerah tersebut dapat bergerak ke daerah yang lain atau sebaliknya. Beberapa pengetahuan yang menyangkut tanah seperti geologi, hidrologi, meteorologi dan oceanografi sangat berkepentingan dengan air tanah. Tetapi hidrologi air tanah dapat dipandang sebagai pengetahuan khusus yang merangkum unsur-unsur geologi, hidrologi dan mekanika fluida.

Geologi mempengaruhi distribusi air tanah, hidrologi menentukan pemasokan

(supply) air ke dalam tanah, dan mekanika fluida menjelaskan mengenai gerakannya. Ketersediaan air tanah di bumi tidak dapat terlepas dari siklus hidrologi dan komponen-komponen siklus tersebut. Bagi air tanah, komponen yang berpengaruh terhadap ketersediaannya adalah jumlah air hujan yang mengalami proses infiltrasi (peresapan ke dalam lapisan tanah) dan perkolasi (peresapan air ke dalam batuan di bawah permukaan) sebagai imbuhan air tanah. Pada proses infiltrasi dan perkolasi, tata guna lahan memiliki peranan yang sangat penting bahwa distribusi hujan setelah bersentuhan dengan bumi akan menaikkan imbuhan air tanah dan menurunkan limpasan (over land flow) atau sebaliknya. Komponen yang tidak kalah pentingnya memberikan pengaruh terhadap ketersediaan air tanah adalah ekstraksi (pengambilan air tanah), evaporasi (penguapan) air permukaan dan evapotranpirasi yang merupakan penguapan oleh sebab proses photosintesis tanaman.

Permukiman (skripsi dan tesis)

 

            Menurut Soemarwoto (2003) menyatakan bahwa permukiman merupakan kumpulan rumah tinggal penduduk yang didukung oleh sarana prasarana dan infrastruktur pendukung kehidupan. Dalam perkembangannya permukiman penduduk sangan dipengaruhi oleh komponen lingkungan seperti geofisikkimia, biologi, sosial budaya maupun ekonomi, politik dan kesehatan masyarakat.

Dikaitkan dengan keadaan kesehatan lingkungan permukiman, permasalahan yang menonjol yang akan dihadapi adalah sebagai berikut.

Pertama, pertumbuhan penduduk yang cepat di daerah perkotaan akibat urbanisasi yang didorong oleh pesatnya kegiatan industrialisasi dan kegiatan perekonomian yang lainnya, akan membawa dampak samping yaitu tumbuhnya kawasan permukiman kumuh dan daerah rawan pencemaran dan penyakit menular. Disamping itu perpindahan penduduk antar pulau, pertumbuhan permukiman baru yang pesat juga dapat berperan terhadap penyebaran beberapa penyakit menular tertentu terutama yang ditularkan dengan perantaraan vektor, seperti penyakit malaria, filariasis, dan demam berdarah dengue (DBD).

Kedua, peningkatan kegiatan intervensi terhadap permukiman untuk berbagai kepentingan dalam kaitannya dengan proses pembangunan juga berpengaruh terhadap kualitas permukiman. Kemungkinan besar masalah yang timbul adalah meningkatnya kasus pencemaran yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat akibat pembuangan limbah industri dan domestik, hasil buang dari sarana transportasi, timbul dan berkembangnya vektor penyakit, penggunaan bahan kimia (produk pestisida) dan sebagainya.

Ketiga, meningkatnya perkembangan teknologi dan tuntutan manusia serta pola hidup dan kerja, menyebabkan perubahan gaya hidup sehari-hari, khususnya terhadap konsumsi makanan/minuman. Diperkirakan kasus keracunan cengderung meningkat dan kasus-kasus penyakit akibat kerja juga akan semakin meningkat.

Keempat, sebagai dampak negatip dari globalisasi dan makin eratnya hubungan antar bangsa, memungkinkan penyakit-penyakit sosial seperti “sexually transmitted diseases” (AIDS, penyakit kelamin, dsb) akan cenderung meningkat pula dan semakin sulit untuk dicegah.

Kelima, masih belum terselesaikannya permasalahan lama dalam rangka penyediaan sarana dan fasilitas sanitasi dasar yang sehat seperti air bersih, sarana pembuangan kotoran dan limbah, perumahan yang sub standar, dan sebagainya juga akan berpengaruh terhadap upaya pemberantasan penyakit menular akibat buruknya sanitasi. Dengan demikian beberapa penyakit menular seperti diare, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), tuberculosa paru, malaria, dan demam berdarah dengue diperkirakan menjadi masalah kesehatan masyarakat meskipun angka kematiannya berhasil ditekan.

Ciri- ciri permukiman padat penduduk menurut Soemarwoto, adalah sebagai berikut:

  1. Jalan berupa gang kecil, dan
  2. Berada dipusat kota

Pengertian Sanitasi (skripsi dan tesis)

 

Sanitasi adalah suatu upaya memelihara dan mencegah terjadinya penyakit, sehingga dapat memperbaki dan meningkatkan derajad kesehatan. Pada awalnya sanitasi didifinisikan sabagai usaha menyangkut pemberantasan dan pencegahan penyakit  (Purdom, 1971).

Semua pengertian mengenai pemeliharaan kesehatan masyarakat adalah tergabung dalam ilmu suatu ilmu khusus yang disebut ilmu pemeliharaan kesehatan atau yang lazim disebut Ilmu Kesehatan masyarakat (Public Health). Istilah sanitasi mempunyai tujuan yaitu mengusahakan cara hidup sehat, sehingga seseorang terhindar dari suatu penyakit. Usaha sanitasi adalah merupakan usaha mencegah penyakit yang dititik beratkan pada penghindaran penyakit yang disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan hidup, seperti makan, minum, perumahan, penyediaan air minum, kebersihan individu, pembuatan WC yang memenuhi syarat dan lain sebagainya (Ahmad, 1995).

Departemen Kesehatan merupakan salah satu instansi teknis yang ikut bertanggung jawab dalam upaya pengelolaan lingkungan hidup yang terkait erat dengan masalah kesehatan, melalui upaya peningkatan kesehatan lingkungan. Oleh karena itu peningkatan kesehatan lingkungan yang dikembangkan oleh sektor kesehatan bertujuan untuk mewujudkan kondisi lingkungan yang mampu mendorong derajad kesehatan masyarakat dan keluarga yang lebih baik, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan produktivitas masyarakat sebagai bagian dari perwujudan pengembangan sumber daya manusia. Pada dasarnya upaya peningkatan kesehatan lingkungan yang dilaksanakan oleh sektor kesehatam merupakan rangkaian proses kegiatan guna meningkatkan kemampuan manusia untuk hidup serasi dengan lingkungannya, mempengaruhi cara interaksi manusia dengan lingkungannya, dan mengawasi serta mengembangkan unsur-unsur lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan berdasarkan permasalahan yang dihadapi, tuntutan dan kebutuhan masyarakat, serta kemampuan yang ada (DepKes, 1992)

Usaha kesehatan masyarakat (public health) mempunyai dua usaha pokok yaitu :

  1. Usaha Kesehatan Preventif

Termasuk dalam kesehatan preventif adalah :

1)   Sanitasi Lingkungan (Environmental Sanitation)

2)   Hygiene Perorangan (Individual Hygiene)

3)   Kedokteran Preventif (Preventive Medicine)

  1. Usaha Kesehatan Kuratif

Termasuk dalam usaha ini adalah :

1)   Pengobatan (Curative Medicine)

2)   Perawatan (Nursing)

3)   Rehabilitasi (Rehabilitation)

Dalam dunia modern, usaha kesehatan masyarakat lebih mementingkan usaha kesehatan preventif, walaupun kedua usaha tersebut di atas sama pentingnya dan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Hal ini disebabkan karena ada suatu faham yang mengatakan bahwa “Prevention is Better than Cure” yang artinya “Pencegahan lebih baik dari pengobatan”. Pendapat ini berlandaskan pemikiran, bahwa usaha kesehatan preventif lebih menguntungkan secara sosial ekonomi, sebab biaya yang dikeluarkan untuk pencegahan lebih sedikit dibanding setelah orang jatuh sakit (biaya dokter, perewatan di rumah sakit, obat-obatan dan lain-lain) (Ahmad, 1995)

Pengolahan Air Limbah (skripsi dan tesis)

 

Tujuan utama pengolahan air limbah adalah untuk mengurangi BOD, partikel tercampur, serta membunuh organisme patogen. Selain itu diperlukan juga tambahan pengolahan untuk menghilangkan bahan nutrisi, komponen beracun, serta bahan yang tidak dapat didegradasikan agar konsentrasi yang ada menjadi rendah (Sugiharto, 1987). Untuk itu diperlukan pengolahan secara bertahap agar bahan tersebut di atas dapat dikurangi.

Beberapa cara prngolahan air limbah yang telah diterapkan dan terus dikembangkan secara umum dibagi menjadi tiga metode pengolahan (Ginting, 1995), antara lain pengolahan secara fisik, kimia dan biologis.

  1. Pengolahan Fisik

Maksud dilakukan pengolah fisik adalah untuk mengurangi sifat – sifat fisik air limbah seperti zat – zat padat baik pasir atau zat padat kasar terapung maupun terlarut. Yang termasuk dalam pengolahan fisik / fisika adalah Screen, Comunitor, Grid Chamber, Sedimentasi, Flotasi, Filtrasi.

  1. Screen, biasanya merupakan tahap awal pada proses pengolahan air limbah. Proses ini bertujuan untuk memisahkan potongan – potongan kayu, plastik dan sebagainya.
  2. Comunitor, bertujuan untuk memecahkan benda – benda kasar dalam air limbah kasar yang masih lolos dari unit screen.
  3. Grid Chamber, bertujuan untuk menghilangkan kerikil, pasir dan partikel – partikel lain yang dapat mengendap di dalam saluran dan pipa – pipa serta untuk melindungi pompa – pompa dan peralatan lain dari penyumbatan, abrasi dan overloading.
  4. Sedimentasi, adalah pemisahan partikel dari air dengan memanfatkan gaya gravitasi. Proses ini bertujuan untuk memperoleh air buangan yang jernih dan mempermudah proses penanganan lumpur.
  5. Flotasi, berfungsi untuk memisahkan benda – benda terapung atau yang mempunyai berat jenis lebih kecil dari berat jenis air. Salah satu caranya adalah dengan menyuplai oksigen bertekanan sehingga partikel mengapung di permukaan air limbah.
  6. Filtrasi, berfungsi untuk memisahkan sisa suspended solid yang tertinggal setelah pengolahan biologis atau kimia. Filtrasi dapat menggunakan media pasir dan kerikil. Filtrasi biasanya ditempatkan pada pengolahan tingkat ketiga apabila pengolahan pertama dan kedua masih kurang bagus kualitasnya.
  7. Pengolahan Kimia

Pengolahan secara kimia pada air limbah, lazimnya digunakan untuk menghilangkan partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam – logam berat, senyawa phosphor dan organik beracun. Prinsip pengolahan secara kimia adalah dengan membubuhkan bahan kimia tertentu pada air limbah, sehingga terjadi perubahan sifat pada air limbah, yaitu; perubahan dari tak dapat mengendap menjadi dapat mengendap (koagulasi dan flokulasi), serta dari air limbah yang beracun menjadi tak beracun (netralisasi) dan dengan cara – cara lainnya.

  1. Pengolahan Biologis

Unit proses biologi adalah proses – proses pengolahan air limbah yang memanfaatkan aktifitas kehidupan mikroorganisme untuk memindahkan polutan. Dalam unit proses pengolahan air limbah secara biologis, diharapkan terjadi proses penguraian secara alami untuk membersihkan air sebelum dibuang. Perbedaan mendasar antara proses alami dan artifisial adalah dalam hal intensitas proses. Dibandingkan dengan proses alami, proses biologi biasanya berlangsung lebih cepat dan membutuhkan tempat yang lebih sedikit. Hal ini merupakan keuntungan utama dalam proses biologi. Namun peningkatan intensitas menyebabkan proses lebih sensitif sehingga memerlukan proses kontrol yang intensif dan teliti. (Siregar, 2005)

 

 

Pengaruh Buruk Air Limbah (skripsi dan tesis)

 

Air limbah sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia mengingat banyak penyakit yang ditularkan melalui air limbah. Air limbah ini ada yang berfungsi sebagai pembawa penyakit saja seperti kolera, radang usus, hepatitis, tetapi air limbah juga mengandung banyak organisme patogen penyebab penyakit seperti virus, vibrio kolera, salmonella spp., Shigella spp., Basillus anthraksis, dan jenis mikroorganisme patogen lainnya. Air limbah juga mengandung bahan beracun penyebab iritasi, bau, dan suhu yang tinggi serta bahan mudah terbakar (Udin et al., 1991).

Air limbah mempunyai sifat fisik, kimiawi dan bakteriologi yang dapat menjadi sumber pengotoran lingkungan. Apabila tidak dikelola dengan baik akan dapat menimbulkan pencemaran air permukaan, air tanah atau lingkungan hidupnya. Disamping itu kadang – kadang menimbulkan bau yang tidak enak serta pemandangan yang tidak menyenangkan. Dalam Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran pada Pasal 4 ayat (2) dinyatakan bahwa pengendalian pencemaran air dilakukan untuk menjamin kualitas air agar sesuai dengan baku mutu air melalui upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air serta pemulihan kualitas air. Sehingga perlu dilakukan upaya untuk mengurangi dampak buruk air limbah terhadap lingkungan.

Air Limbah Domestik (skripsi dan tesis)

  

            Yang dimaksud dengan air limbah domestik adalah air limbah yang berasal dari kegiatan rumah tangga, yang terdiri dari bahan buangan tubuh manusia dan pembersih tubuh, pakaian, dan peralatan rumah tangga. Air limbah domestik yang berasal dari bahan buangan manusia dari tinja dan air kemih, sedang yang berasal dari penyiapan bahan makanan dan pembersihan misalnya : sisa bahan makanan, bahan pencuci, bahan pembersih, dan lain – lain.

Air limbah domestik berwarna abu-abu keruh dan tidak begitu merangsang baunya ketika masih baru. Air limbah domestik terdiri dari air dan padatan terapung dan tersuspensi, koloid dan terlarut (Mara, 1976). Di daerah tropik air limbah domestik akan segera kehilangan oksigen sehingga menyebabkan bau busuk yang sangat menyengat.

Padatan dalam air limbah terdiri dari fraksi anorganik dan fraksi organik. Fraksi anorganik meliputi butiran kasar, garam dan logam. Fraksi organik meliputi protein, karbohidrat, lemak, dan minyak (Reynolds, 1995). Di samping senyawa kimia, tinja dan air kemih juga mengandung  berjuta bakteri usus an sejumlah organisme lain. Sebagian besar bakteri tidak berbahaya, bahkan bermanfaat, tetapi sebagian kecil mampu menimbulkan penyakit. Senyawa organik terutama protein dan karbohidrat adalah makanan yang paling disukai oleh bakteri, sehingga dapat dimanfaatkan untuk penogolahan air limbah secara biologi.

Sumber utama air limbah domestik berasal dari perumahan dan daerah perdagangan, sementara sumber lainnya adalah perkantoran atau lembaga serta dari tempat rekreasi. Untuk daerah perumahan, air limbah domestik biasanya diperhitungkan melalui jumlah kepadatan penduduk dan rata – rata tiap orang dalam membuang air limbahnya. Semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk di suatu permukiman,  maka semakin besar jumlah air limbah yang dihasilkan (Metcalf dan Eddy, 1991 ).

 

Karakteristik Air Limbah (skripsi dan tesis)

 

            Karakteristik air limbah dapat dibedakan menurut kualitas dan kuantitasnya. Yang dimaksud dengan kualitas karakteristik air buangan adalah ditinjau dari segi fisik, kimia, dan biologi; sedangkan kuantitasnya adalah besarnya kapasitas atau debit air buangan yang dihitung berdasarkan pemakaian dalam memenuhi kebutuhan sehari – hari baik itu domestik maupun non domestik.

Secara umum karakteristik kualitas air buangan dapat ditentukan oleh dua faktor yaitu: kadar Suspended Solid (SS) dari air buangan dan kadarBiological Oxygen Demand (BOD) air buangan. Karakteristik air buangan menurut kualitasnya terdiri dari :

  1. Sifat Fisik
  • Warna

Warna air buangan dipengaruhi oleh umur, komposisi zat yang terdapat dalam air buangan dari proses dekomposisi yang dilakukan mikroorganisme terhadap zat yang terkandung dalam air buangan tersebut. Perubahan warna dimulai dari warna kuning, coklat tua, kelabu, yang akhirnya menjadi hitam dimana pada saat itu kadar oksigen yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk proses dekomposisi mendekati nol.

  • Bau

Bau yang dihasilkan dari dekomposisi zat organik diantaranya berupa gas H2S, NH3 dan CH4. Bau yang timbul ditentukan oleh umur air buangan, bau yang tajam biasanya dimulai pada saat proses penguraian yang menghasilkan gas.

  • Temperatur

Temperatur merupakan parameter yang dapat mempengaruhi kehidupan di dalam air yaitu mengubah reaksi kimia dan mempengaruhi penggunaan sumber daya air. Temperatur air buangan biasanya lebih tinggi dari temperatur air bersih, hal ini disebabkan adanya panas dari aktivitas domestik dan industri. Temperatur dapat mempengaruhi proses penguraian, aktifitas dan perkembangan mikroorganisme serta berpengaruh pada kelarutan oksigen (dissolved oxygent) menjadi lebih kecil. Hal ini mengakibatkan timbulnya bau lebih cepat dan perubahan komposisi zat organik serta viskositas cairan akan bertambah.

  • Kekeruhan

Kekeruhan disebabkan oleh adanya zat padat yang tidak terlarut dalam air. Zat padat dibedakan menjadi zat padat yang tersisa setelah pemanasan pada temperatur 600°C.

  1. Sifat Kimia
  • Zat Organik

Zat organik berasal dari tumbuhan, hewan dan aktivitas manusia yang tersusun dalam komposisi ikatan karbon, H2O, O2 bersama N2. Unsur lain yang biasanya terdapat dalam air buangan adalah sulfur, fosfor dan besi. Dalam air buangan domestik terkandung 40-60 % protein, 25-50 % karbohidrat dan 10 % lipida.

  • Zat Anorganik

Beberapa komponen zat anorganik dari air buangan adalah sangat penting untuk meningkatkan dan pengawasan kualitas air minum. Pemeriksaan zat anorganik biasanya dilakukan terhadasp pH, logam berat, nitrogen, fosfor, dan zat-zat beracun. Pendekatan komposisi air buangan domestik menurut T.H.Y Tebbut (1970), adalah sebagai berikut :

  • Gas – Gas

Gas-gas dihasilkan oleh aktifitas biologis dan reaksi kimia yang terdapat dalam air buangan. Gas-gas ini berasal dari atmosfer (N2, O2, CO2) dan dekomposisi zat organik (H2S, NH3, CH4).

  1. Sifat Biologi

Bakteri – bakteri yang berada dalam air buangan berupa bakteri aerobik, anaerobik dan fakultatif, macam – macam bakteri tersebut adalah :

–     Bakteri patogen berasal dari buangan manusia yang sifatnya sangat berbahaya.

–     Bakteri Coli sebagai indikatorpencemaran karena coli mudah dikembangbiakkan dan selalu ada di dalam tinja manusia.

 

 

Bakteri Acetobacter xylinum (skripsi dan tesis)

 

Acetobacter adalah sebuah genus bakteri penghasil asam asetat, ditandai dengan kemampuannya mengubah etanol (alkohol) menjadi asam asetat (asam cuka) dengan bantuan udara. Ada beberapa bakteri dari golongan lain yang mampu menghasilkan asam asetat dalam kondisi tertentu, namun semua anggota genus Acetobacter dikenal memiliki kemampuan ini.

Bakteri-bakteri Acetobacter dikenal penting secara komersial, antara lain karena dapat digunakan dalam produksi cuka (dengan sengaja mengubah etanol pada anggur menjadi asam asetat namun dapat juga merusak anggur, dengan menghasilkan asam asetat atau etil asetat, yang merusak rasa anggur tersebut. Pertumbuhan Acetobacter pada anggur dapat dicegah dengan sanitasi yang efektif, pemisahan udara dari anggur secara sempurna, maupun penggunaan secukupnya sulfur dioksida sebagai pengawet pada anggur. Di laboratorium, Acetobacter dikenali dengan mudah dengan pertumbuhan koloninya di medium yang mengandung 7% etanol, dan ditambahi kalsium karbonat secukupnya untuk memburamkan medium sebagian. Ketika koloni tersebut membentuk asam asetat yang cukup, kalsium karbonat kemudian melarut sehingga terbentuk daerah bening yang jelas pada medium. (Martinko, 2005)

Salah satu spesies acetobacter yang banyak dikenal adalah Acetobacter xylinum. Spesies ini adalah bakteri gram negatif yang memiliki kemampuan sintesis prolific selulosa yang unik yaitu dengan mensekresikan kristal-kristal mini yang bersatu membentuk microfibrils. Material ini kemudian membentuk senyawa yang lebih besar yang disebut sebagai pita. Pita inilah yang secara langsung dapat kita lihat dengan mikroskop cahaya biasa.  (Bergey’s, 1984)

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan       : Bacteria

Filum           : Proteobacteria

Kelas           : Alpha Proteobacteria

Ordo            : Rhodospirillales

Familia        : Pseudomonadaceae

Genus          : Acetobacter

Spesies         : xilynum

Gambar 2. Acetobacter Xilynum (Sdumber: Bergey’s, 1984)

Keterangan:

  1. Dinding sel
  2. Membran sel
  3. Kapsul
  4. Citoplasma

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBUATAN  NATA (skripsi dan tesis)

 

Untuk menghasilkan produksi nata yang maksimal perlu diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :

 

 

  1. Jenis dan konsentrasi medium

Medium fermentasi ini harus banyak mengandung karbohidrat (gula) disamping vitamin dan mineral, karena pada hakekatnya nata tersebut adalah slime ( menyerupai kapsul) dari sel bakteri yang kaya selulosa yang diproduksi dari glukosa oleh bakteri Acetobacter xylinum.

Pembentukan nata terjadi karena proses pengambilan glukosa dari larutan gula kemudian digabungkan dengan asam lemak membentuk precursor (penciri nata) pada membrane sel. Precursor ini selanjutnya dikeluarkan dalam bentuk ekskresi dan bersama enzim mempolimerisasi glukosa menjadi selulosa yang merupakan bahan dasas pembentukan slime (Palungkun,1993).

Menurut Rahman (1992) nata ini merupakan hasil fermentasi dari Acetobacter xylinum, bakteri ini dapat tumbuh dan berkembang dalam medium gula dan akan mengubah gula menjadi selulosa. Kadar karbohidrat optimum untuk berlangsungnya produksi nata adalah 10%.

  1. Jenis dan konsentrasi starter

Pada umumnya Acetobacter xylinum merupakan starter yang lebih produktif dari jenis starter lainnya, sedang konsentrasi 5-10% merupakan konsentrasi yang ideal (Rahman, 1992).

 

 

  1. Lama fermentasi

lama fermentasi yang digunakan dalam pembuatan nata pada umumnya 2-4 minggu. Minggu ke-4 dari waktu fermentasi merupakn waktu maksimal produksi nata, yang berarti lebih dari 4 minggu prodfuksi nata akan menurun (Awang, 1991).

  1. Suhu fermentasi

pada umumnya suhu untuk pertumbuhan bakteri pembuat nata adalah suhu kamar (280C). suhu yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi akan menggangu pertumbuhan bakteri pembuat nata yang akhirnya juga akan menghambat produksi nata.

  1. pH fermentasi

derajat keasaman yang dibtuhkan dalam pembuatan nata adalah 3-5 atau dalam suasan asam. Pada kedua sisi pH optimum, aktifitas enzim seringkali menurun dengan tajam. Penurunan pH bisa terjadi akibat fermentasi karbohidrat menjadi asam, sehingga semakin lam fermentasinya maka akan semakin cenderung terjadi penurunan pH medium.

  1. Jenis dan konsentrasi suplemen

kandungan karbohidrat dalam bahan untuk membuat nata merupakan bahan yang terpenting. Limbah dengan kadar karbohidrat rendah jika ingin digunakan sebagai medium pembuatan nata perlu ditambahkan gula pasir.

 

  1. Tempat fermentasi

Tempat fermentasi sebaiknya tidak terbuat dari unsur logam karena mudah korosif yang dapat mengganggu pertumbuhan mikroorganisme pembuat nata, yang akhirnya dapat mengganggu pembuatan nata. Disamping itu tempat fermentasi diupayakan untuk tidak mudah terkontaminasi, tidak terkena cahaya matahari  secara langsung, jauh dari sumber panas, dan jangan sampai langsung berhubungan dengan tanah. Hasil penelitian Hubeis dkk (1996) tempat fermentasi yang mempunyai permukaan lebih luas akan menghasilkan nata lebih tebal dari pada tempat fermentasi yang mempunyai permukaan sempit.

UREA (skripsi dan tesis)

 

Urea merupakan senyawa organic yang terdiri dari karbon, nitrogen, oksigen, dan hidrogen, dengn rumus CON2H4 atau (NH2)2CO. Urea juga dikenal dengan karbamid, khususnya dalam penggunaannya di Eropa. Urea merupakan senyawa organic pertama yang dapat disintesa secara buatan dari material inorganik.

Urea diproduksi secara komersial dari dua material, yaitu ammonia dan karbon dioksida. Karbon dioksida sendiri merupakan hasil produksi dari pembuatan Amonia dari hidrokarbon. Produksi Urea terjadi pada reaksi kimia yang setimbang pda konversi tertentu.

Dua reaksi yang menjadi pronsip sinteas urea adalah

Reaksi pertama bersifat eksotermis:

2NH3 + CO2 → H2N-COONH4 (ammonium carbamate)

Sedangkan reaksi kedua bersifat endotermis

H2N-COONH4 → (NH2)2CO + H2O

Namun secara keseluruhan reaksi bersifat eksotermis.

Urea merupakan denaturant protein yang sangat kuat. Sifat ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kelarutan dari beberapa jenis protein. Menurut Adi (2006), Urea adalah sumber nutrisi bagi bakteri yang melakukan fermentasi sari kelapa atau whey menjadi nata. Fungsi utamanya sebagai penyedia nitrogen, dng adanya suplai nitrogen tambahan, bakteri akan berkembang  biak  secara cepat. Sebenarnya di dalam air kelapa atau whey sudah ada nitrogen, namun dalam bentuk organik, sehingga tidak dapat langsung dimanfaatkan oleh bakteri karena bakteri hanya dapat menggunakan nitrogen dalam bentuk inorganik: – nitrate [NO3] atau ammonium [NH4+].

PEPTON (skripsi dan tesis)

 

Pepton pada dasarnya adalah salah satu jenis peptida yang dihasilkan dari daging hewan yang dicerna oleh enzim proteolases. Sedangkan peptida adalah sebuah molekul yang tersusun dari berbagai macam asam amino yang mengandung Nitrogen (N). Dalam bentuk yang lebih besar, molekul petida bergabung satu sama lain menjadi sebuah protein.

Pemanfaatan peptone dalam proses mikrobiologi khususnya proses fermentasi adalah sebagai sumber protein (N) dalam media nutrient untuk perkembangan bakteri dan jamur. Pepton dapat diformulasikan dalam bentuk padat maupun cair untuk kultur jaringan selektif maupun non selektif. Kandungan peptone dapat dilihat pada tabel berikut: (Krisno, 2000)

EKSTRAK YEAST (skripsi dan tesis)

 

Yeast adalah jamur unicellular. Klasifikasi yeast secara tepat didasarkan pada karakteristik dari selnya, koloninya serta secara fisiologis untuk mengidentifikasi spesiesnya. Salah satu kemampuan yeast yang paling banyak dikenal adalah kemampuannya dalam memfermentasi gula menjadi etanol. Yeast berkuncup adalah jamur sejati dari dilum  Ascomycetes, kelas Saccharomycetes (juga dikenal dengan Hemiascomycetes). Yeasts sejati dibagi menjadi satu ordo utama yaitu Saccharomycetales (Skinner et al, 1980).

Yeast berkembang biak dalam satu sel yang terdiri dari kuncup-kuncup (contohnya Saccharomyces) atau dalam bentuk utuh (contohnya Schizosaccharomyces), atau bahkan ada yang tumbuh sebagai filament sederhana (mycelium). Salah satu spesies yeast yang paling dikenal dan banyak dipakai adalah Saccharomyces cerevisiae. Organisme ini telah banyak digunakan dalam proses fermentasi gula dari nasi, terigu, anggur, dan jagung untuk memproduksi minuman beralkohol dan juga digunakan dalam industri pembuatan roti untuk mengembangkan adonan. Yeast seringkali digunakan sebagai sumber vitamin, karena terdiri dari 50 persen protein dan kaya akan vitamin B,  dan asam folat. (Skinner et al, 1980)

Menurut Sikyla (1983) yeast sebagai substansi organik yang mengandung protein, dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk pertumbuhan mikroba, sehingga dapat disimpulkan bahwa fungsi yeast dalam proses fermentasi nata de soya adalah sebagai sumber nitrogen bagi perkembangan Acetobacter.

 

KARAKTERISTIK AIR LIMBAH TAHU (skripsi dan tesis)

 

Limbah cair tahu sangat potensial untuk mencemari badan air. Karakteristik limbah cair tahu, meliputi :

  1. Temperature

Temperature yang digunakan dalam proses pembuatan tahu yaitu sekitar 600 – 800C, inilah yang menyebabkan temperature limbah cair tahu lebih tinggi dibanding dengan temperature normal badan air.

  1. Warna

Warna air buangan transparan hingga kekuningan muda, disertai dengan suspensi warna putih. Jika air buangan tersebut mengalami penguraian maka akan berubah warna menjadi hitam dan bau. Hal ini dikarenakan kadar O2 dalam air buangan menjadi nol.

  1. Bau

Disebabkan terjadinya proses pemecahan protein dan karbohidrat oleh mikrobia alam, sehingga timbul bau busuk dari gas H2S.

  1. Kekeruhan

Disebabkan zat organik terlarut yang terpecah sehingga air limbah berubah seperti emulsi keruh.

  1. pH (derajat keasaman)

Dalam limbah cair tahu banyak mengandung bahan-bahan organik, apabila limbah cair tersebut dibuang ke perairan maka pH dapat menjadi asam, hal ini disebabkan pertumbuhan bahan-bahan organik yang kemudian membebaskan CO2 jika mengurai (Sastrawijaya, 1991).

  1. BOD (Biochemical Oxygen Demand)

Menunjukan jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk aktifitas mikrobia dalam memecah zat organik biodegradasi dalam air buangan. Untuk mengetahui besarnya jumlah zat organik yang terlarut dalam air buangan dapat diketahui dengan melihat besarnya angka BOD. Angka BOD dalam satuan mg/l dan biasanya dinyatakan dalam beban yaitu gram atau kilogram persatuan waktu.

  1. COD (Chemical Oxygen Demand)

COD adalah parameter yang menunjukkan zat organik non biodegradasi, selain itu juga zat yang dapat dioksidasi oleh zat kimia K2Cr2O7 dalam asam, seperti SO3, NO2 kadar tinggi dan zat-zat reduktor lainnya. Besarnya angka COD biasanya lebih besar dari angka BOD sampai 2-3 kali.

  1. DO ( Demand Oxygen)

Angka DO pada air limbah tahu biasanya sangat rendah sekitar 0.1 mg/l.

  1. Logam

Logam pada limbah cair tahu biasanya berasal dari peralatan masak yang digunakan, atau dapat juga dari air yang digunakan selama proses.

  1. SS (suspended Solid)

Suspended solid yaitu berat atau banyaknya partikel-partikel zat padat yang tersuspensi dalam 1 liter zat cair (Sutjipto, 1983).

Suspended solid yang sebagian besar terdiri atas senyawa organic mengalami dekomposisi yang memerlukan banyak oksigen sehingga dapat menurunkan kadar oksigen terlarut dalam air. Suspended solid yang mengendap dibadan air akan mengganggu kehidupan organisme dan dapat menyebabkan bau busuk (Sastrawijaya, 1991).

 

 

PROSES PEMBUATAN TAHU (skripsi dan tesis)

 

Prinsip dasar pengolahan tahu sebenarnya sangat sederhana. Setelah kedelai yang menjadi bahan utama dilumatkan hasilnya diekstrak sehingga diperoleh sari (susu) kedelai. Kemudian ditambahkan zat penggumpal dan diendapkan. Hasil endapan dicetak dan dipres.proses pembuatan tahu

 

  1. Pemilihan bahan

Memilih kedelai yang baik yaitu kedelai yang baru dan belum tersimpan lama di gudang, sebab kedelai baru dapat menghasilkan tahu yang baik

  1. Pencucian dan perendaman

Kedelai dicuci dan direndam dalam air bersih selama 2-3 jam, setiap saat air diganti dengan air bersih sambil dicuci

  1. Penggilingan

Kedelai setelah direndam, dicuci kembali, selanjutnya dilakukan penggilingan dengan alat yaitu berupa mesin. Pada saat penggilingan ditambahkan air agar susu tahu keluar

  1. Pemasakan

Bubur kedelai diberi air 10 kali berat kedelai dan didihkan dalam pemasakan dengan kompor sampai mendidih, biarkan sampai lima menit

  1. Penyaringan

Dalam keadaan panas, bubur tahu disaring dengan kain blacu sambil dibilas dengan air hangat sehingga susu kedelai dapat terekstrak keluar semua

  1. Penggumpalan

Filtrat yang diperoleh, ditampung dalam bak dalam keadaan hangat pelan-pelan diaduk sambil diberi asam cuka. Pemberian asam cuka dihentikan apabila  sudah terlihat gumpalan dan berwarna putih, hingga gumpalan mengendap semua.

  1. Pengepresan

Cairan bening diatas gumpalan tahu dibuang sebagian dan sisanya untuk air asam. Gumpalan diambil kemudian dituang dalam cetakan yang telah dialasi dengan kain dan diisi penuh. Selanjutnya kain ditutupkan keseluruh gumpalan tahu dan dipres. Semakin  berat benda yang digunakan untuk mengepres semakin keras, tahu yang dihasilkan semakin baik. Setelah dirasa cukup dan tahu sudah dingin, lalu tahu dipotong-potong.

TAHU (skripsi dan tesis)

 

Tahu merupakan suatu produk makanan berbentuk padat dengan tekstur lunak, dibuat melalui proses pengolahan kedelai dengan cara pengendapan protein, dengan atau tanpa penambahan bahan lain yang diizinkan ( BPOM, 1992 ).

Ditinjau dari segi kesehatan, tahu juga memiliki kandungan zat yang sangat diperlukan untuk memperbaiki gizi masyarakat hal ini dikarenakan tahu terbuat dari kedelai yang memiliki  nilai biologis protein yang mendekati nilai protein hewani, serta mengandung karbohidrat  dan mineral seperti kalium, phosphor, magnesium serta vitamin, disamping itu juga mengandung asam amino yang dibutuhkan tubuh manusia misalnya nitrogen (Santosa, 1993).

Komposisi tahu bermacam-macam, hal ini tergantung dari jenis kedelai sebagai bahan baku serta proses pembuatannya. Menurut Smith (1972) didalam tahu terdapat :

  1. Air 88%
  2. Protein 6-8%
  3. Lemak 3,5%
  4. Abu 0,6%

 

Air buangan industri tahu (skripsi dan tesis)

 

Pada umumnya industri tahu menggunakan air untuk proses maupun untuk pencucian alat dan kedelai. Sebagian besar air yang telah digunakan dibuang kelingkungan. Disamping dalam bentuk cair, limbah tahu juga keluar dalam bentuk padat. Buangan padat pada umumnya tidak menimbulkan masalah, karena setelah diperam, ampasnya dapat

dipergunakan sebagai makanan ternak. Sedangkan buangan cair berasal dari campuran :

  1. Air bekas masak kedelai pertama (kulit pecah)
  2. Air pencuci kupas kulit
  3. Air sisa proses koagulasi dan pemasakan
  4. Air bekas cucian saringan dan bilasan peralatan

Sifat-sifat air buangan industri tahu menurut Hanafi(1982) adalah:

  1. Warna keruh karena tingginya kandungan tersuspensi
  2. Bau kecut berasal dari amoniak dan hidrogen sulfida yang merupakan hasil dekomposisi senyawa protein didalam air buangan tersebut
  3. pH rendah, karena menggunakan asam cuka dalam pembuatan tahu
  4. bahan organik tinggi

Karakteristik Meter (skripsi dan tesis)

Setiap meter air mempunyai beberapa karakteristik yaitu karakteristik fisik, operasional dan performance. Karakteristik berkaitan dengan ukuran dan berat meter untuk setiap diameter. Karakteristik performance meliputi kapasitas nominal, maksimal, minimal, trasisi, serta tingkat ketelitian pengukuran terhadap aliran ( Flow ) tertentu. Sedangkan karakteristik operasional berhubungan dengan kemampuan mulai menditeksi aliran kecil, satuan kemampuan pencatatan maksimum dan minimum serta tekanan kerja. Karakteristik ini diperoleh dengan melakukan pengujian laboratorium yang sesuai.

Dengan belum adanya  standar yang baku maka setiap produsen meter akan menawarkan meter dengan karakteristik tertentu yang ada kalanya berbeda satu sama lainnya. misalnya dalam hal ukuran badan meter, poin pencatat maksimum dan minimum starting-flow, kurva performance dan lain- lain. Dalam tabel 2.1 dapat dilihat beberapa perbedaan karakteristik  tersebut untuk diameter 13/15mm antara beberapa merk.

 

Tabel 2. 1        Contoh perbedaan karakteristik antara beberapa merk meter.

Karakteristik Merk Meter
PAM

Puji

Line – Flow

Saeseoul

B & R
Panjang tanpa coupling 165 163 165 165 165
Panjang dengan coupling 253 260 279 245
Starting – flow (L/jam) 8 18 12 15
Maksimum – Flow (m3/jam) 3 3 3 2 3
Maksimum kecepatan (m3) 105 105 104 104 105
Minimum Pencatatan (L) 0,1 1 1 1 0,1

Kurva Performance    :  PAM (a), Puji (b),Line-Flow (c) Saeseoul (d), Bopp dan Reuther (e).

Sumber                        : Brosur Spesifikasi meter.

 

 

  • Karakteristis

Dalam membicarakan karakteristik meter air khususnya karakteristik performance, ada beberapa besaran debit (Q) yang harus diperhatikan sehubungan dengan kemampuan ukur meter air.

  1. Qmax, adalah debit terbesar yang dapat berlangsung pada meter air selama periode tertentu tanpa mengalami kerusakan, melampaui kesalahan maksimum yang di izinkan, atau melampaui nilai kehilangan tekanan maksimum.
  2. Qn ( Kemampuan ukur nominal ) merupakan besaran yang dipakai sebagai petunjuk tingkat kemampuan ukur meter air, yaitu ½ Qmax
  3. Batas peralihan (Qt) adalah debit yang merupakan batas antara rentang aliran dengan kesalahan ukur maksimum yang diizinkan sebesar + 5 % dan rentang aliran dengan kesalahan ukur maksimum sebesar + 2 %.
  4. Qmin adalah debit terkecil yang harus dipenuhi meter air dalam batas kesalahan maksimum yang diizinkan
  5. Kepekaan / Starting-flow (Qst) adalah debit terkecil yang diperlukan untuk menggerakkan komponen penghitung meter air.

 

Standar yang berlaku di banyak negara memberikan batas toleransi kesalahan pengukuran yang di izinkan sebagai berikut:

  • + 5 % s/d –  5% Untuk aliran di bawah Qt
  • + 2 % s/d – 2 % untuk aliran diatas Qt

 


  • Pengaruh Gangguan Terhadap Performan.
  • Udara

Udara yang terdapat pada meter air dapat menyebabkan gangguan. Gangguan ini akan terlihat terutama pada waktu dilakukan pengujian terhadap meter tersebut.

Pengaruh gangguan udara tersebut ada 2 macam:

  • Pada fluktuasi tekanan yang kecil, pemampatan udara mengakibatkan terjadinya gelombang yang seiring dengan aliran air, sehingga menyebabkan bertambahnya kesalahan positif ( Q meter > Q air ).
  • Adanya gelembung udara pada “gear-wheel” merupakan hambatan sehingga menyebabkan penambahan kesalahan negatif ( Q air > Q meter).

Kedua pengaruh diatas terutama dirasakan pada aliran yang kecil (Q min). pada aliran yang lebih besar, tidak ada terlihat pengaruh yang berarti.

  • Gangguan suplai

Dalam hal ini gangguan yang dimaksud adalah gangguan yang terdapat pada sistem perpipaan, seperti belokan, distribusi kecepatan yang tidak simetris (merata). Hal ini dapat diatasi dengan mengusahakan agar pipa lurus yang berhubungan langsung dengan

Pengenalan Jenis Jenis Meter Air (skripsi dan tesis)

  • Jenis meter Vane – Wheel.

Meter jenis ini mempunyai suatu kincir yang terdiri atas sudu – sudu berjarak antara 30 sampai dengan 90 derajat dengan tujuan menghindari putaran yang terlalu cepat. Air yang masuk akan diukur dengan sudut singgung 45 derajat untuk menghindari titik mati sehingga bagaimanapun posisinya, setiap sudu-sudu selalu dalam keadaan sensitif terhadap aliran air. Untuk itu meter dilengkapi dengan lubang-lubang yang terdapat disekeliling dinding tabung dengan arah tangensial terhadap dinding tabung tersebut. Air yang mengalir masuk kedalam meter akan menggerakkan kincir ynag berhubungan dengan suatu mekanisme penghitungan.

Meter jenis vane ini dapat dibagi lagi menjadi single – jet dan multi jet meter. Masing masing mempunyai dua tipe, yaitu tipe basah dan tipe kering.

  • Single jet

Lubang pemasukan dan pengeluaran  air hanya satu sehingga tekanan yang terjadi pada sudu – sudu kuat dan tidak merata. Hal ini menyebabkan umur teknis lebih pendek karena itu harganya relatif lebih murah.

  • Multi Jet.

Lubang pemasukan dan pengeluaran air lebih dari satu sehingga tekanan yang terjadi pada sudu – sudu lebih lemah dan merata. Hal ini menyebabkan umur teknis lebih lama dan harganya pun relatif lebih mahal.

  • Tipe Basah

Air membasahi sudu – sudu, roda gigi dan dial.

Keuntungan    :  Starting Flow lebih rendah

Kerugian         : Jika kualitas air tidak baik, pembacaan angka meter tersebut jadi terganggu.

  • Tipe Kering

Air membasahi sudu-sudu, tapi tidak membasahi roda gigi dan dial. Mekanisme meter menggunakan trasmisi magnetik .

Keuntungan    :  Pembacaan angka meter tersebut tidak terganggu dengan kualitas air.

  • Jenis Meter Turbin / Propeller.

Pada dasarnya kedua meter ini hampir sama. Perbedaanya kalau meter turbin sudu – sudunya mulai berputar bila ada aliran air yang menggerakkan  sedangkan Propeller bila sudu – sudunya digerakkan maka air di sekelilingnya melaju. Jenis meter tersebut mula-mula ditemukan oleh : Tn. Renhard Woltman. Kegunaanya untuk mengukur udara maupun cairan. Dengan menghitung jumlah putaran pada satu satuan waktu dan dengan diketahui diameter pipa maka dapat dihitung besar discharge.

Untuk diameter yang sama dibandingkan dengan jenis meter vane, meter woltman mempunyai kapasitas yang lebih besar dengan kehilangan tekanan yang lebih rendah tetapi kepekaanya kurang.

Ada dua jenis tipe woltman ini, yaitu :

  • Woltman Tipe horizontal
    • Posisi Propeller Horizontal
    • Dapat dipasang pada pipa horizontal dan Vertikal.
    • Aliran air diteruskan secara garis lurus.
    • Kehilangan tekanan lebih rendah.
    • Harga relatif lebih rendah, umumnya digunakan untuk keperluan domestik.


  • Woltman Type Vertikal.
    • Hanya dipasang pada pipa Vertikal.
    • Posisi Propeller
    • Aliran air mengalami pemisahan beberapa kali
    • Kehilangan tekanan lebih besar.
    • Harga relatif lebih mahal, umumnya digunakan untuk meter Industri.
    • Batasan pengukuran Minimum lebih baik.
  • Jenis Meter Venturi

Jenis meter ini mula-mula ditemukan oleh Ir Venturi dari Italia. Prinsip kerjanya menggunakan Hukum Bernauli, yaitu selisih tekanan maksimum dan minimum sebagai fungsi dari kecepatan air. Jenis meter Venturi ini banyak dipakai untuk pengukuran besar, seperti pada unit-unit produksi yang dilengkapi dengan alat remote sehingga dapat dicatat pada tempat yang berjarak dari alat venturi tersebut. Secara umum, jenis meter venturi mempunyai karakteristik yang hampir sama dengan jenis Meter Woltman.

  • Jenis Meter Orifice.

Jenis meter ini adalam modifikasi dari meter venturi dengan bentuk yang lebih kecil dan praktis. Prinsip kerjanya sama, hanya mempunyai kehilangan tekanan yang lebih besar dari meter jenis venturi.

  • Jenis Meter

Jenis meter ini disebut Piston displacement, rotary piston, atau volumetric piston type. Prinsipnya dengan adanya aliran air maka piston jalan. Ciri dari meter ini mempunyai ketelitian yang tinggi namun kehilangan tekanan cukup besar.

  • Jenis Nutating – Disc – Meter.

Prinsip kerja dan kualitasnya hampir sama dengan meter piston. Jenis meter ini banyak digunakan untuk keperluan Domestik di USA.

  • Jenis Meter Coumpound.

Meter ini sebenarnya gabungan antara meter-meter kecil dengan meter besar, disatukan dan dilengkapi dengan katub – katub yang peka terhadap kecepatan aliran. Pada aliran kecil, katub – katub tertutup sehingga aliran air diteruskan lewat by-pass yang berupa meter kecil. Sedangkan untuk aliran besar, katub terbuka dan aliran dapat masuk ke meter besar. Dengan coumpound meter ini ketelitian jauh lebih baik dari pada meter tunggal.

  • Jenis Induction meter.

Dasar kerjanya menggunakan prinsip medan magnet yang dapat dipotong oleh aliran air yang akan diukur volumenya. Untuk kecepatan yang berbeda-beda maka medan magnet yang dipotong juga berbeda, dan perbedaan ini dapat diikuti oleh alat perasa (sensing device). Signal – signal ini kemudian dikuatkan lalu besarnya perubahan dikalibrasi terhadap aliran fluidanya sehingga didapat hubungan antara perubahan medan magnet dengan kecepatan aliran air untuk mengetahui volume air.

Klasifikasi Meter Air (skripsi dan tesis)

Untuk dapat mengukur jumlah air yang diproduksi, yang didistribusikan dan yang sampai kepada masing – masing pelanggan, diperlukan alat ukur air ( meter air ) . ada banyak jenis meter air yang dapat digunakan , pada dasarnya dapat dibagi dalam dua kelompok :

  • Displacement meter.
  • Velocity meter.

Displacement meter disebut juga Volumetric meter, terutama digunakan untuk aliran yang relatif kecil. Biasanya digunakan pada konsumen dengan pemakaian air kecil sampai sedang. Prinsip kerja meter kelompok ini adalah dengan melewatkan air sebagian – sebagian, setelah memenuhi suatu bagian penampang dalam meter (kontainer) yang diketahui volumenya. Banyaknya aliran (flow) diketahui dengan mencatat beberapa kali kontainer tersebut penuh dan kosong. Jenis meter air yang termasuk kedalam kelompok ini adalah  jenis Nutating – Disk Meter, Rotary dan Reciprocating.

 

 

Velocity meter atau pengukuran dengan kecepatan, mengukur aliran (Flow) dengan melewatkan air tersebut melalui suatu penampang yang diketahui luasnya. Kelompok meter ini biasanya digunakan untuk mengukur aliran dalam jumlah besar. Jenis meter yang termasuk kelompok ini adalah  Jenis Meter Turbin  / Propeller, Venturi, Orifice  dan Vane – Wheel Meters.

Secara umum kelompok displacement meter mempunyai ketelitian yang tinggi namun dengan kehilangan tekanan yang cukup besar dan velocity meter mempunyai kehilangan tekanan yang lebih kecil akan tetapi kepekaan/ ketelitian ukuran juga lebih rendah.