AHP (Analytical Hierarchy Process) (skripsi dan tesis)

 

Analytical Hierarchy Process (AHP) dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 1970-an. Menurut Saaty (1993:203), metode AHP merupakan salah satu model pengambilan keputusan multi kriteria yang dapat membantu kerangka berpikir manusia di mana faktor logika, pengalaman, pengetahuan, emosi, dan rasa dioptimasikan ke dalam suatu proses sistematis. Saaty (1993:206) AHP adalah metode pengambilan keputusan yang dikembangkan untuk pemberian prioritas beberapa alternatif ketika beberapa kriteria harus
dipertimbangkan, serta mengijinkan pengambil keputusan (decision makers)
untuk menyusun masalah yang kompleks ke dalam suatu bentuk hirarki
atau serangkaian level yang terintegrasi. Pada dasarnya, AHP merupakan metode yang digunakan untuk memecahkan masalah yang kompleks dan tidak terstruktur ke dalam kelompokkelompoknya, dengan mengatur
kelompok tersebut ke dalam suatu hirarki, kemudian memasukkan nilai
numerik sebagai pengganti persepsi manusia dalam melakukan
perbandingan relatif. Dengan suatu sintesis maka akan dapat ditentukan
elemen mana yang mempunyai prioritas tertinggi.

Keuntungan Analisis Hirarki Proses (AHP)

Metode Saaty (Analisis Hirarki Proses) yang digunakan dalam studi ini dikarenakan metode ini mempunyai keuntungan antara lain (Saaty, 1993:27):

  1. Mekanisme pendekatan, yaitu suatu konsep operasional guna menyelesaikan studi proyek ini secara terarah dan sesuai dengan kerangka acuan kerja. Termasuk dalam pola dan konsep operasional tersebut adalah cara yang digunakan dalam menggali dan menemukan permasalahan yang ada. Selanjutnya setiap data dan fakta yang masuk dianalisis dengan metode standar dan berbagai pemanfaatan ilmiah lainnya, serta standar perencanaan tata ruang yang berlaku. Metode ini adalah suatu cara praktis untuk menangani secara kualitatif bermacam hubungan fungsional dalam suatu jaringan yang kompleks.
  2. mempunyai kemampuan memadukan perencanaan ke depan (yang diproyeksikan) dan perencanaan ke belakang (yang diinginkan) dengan cara yang interaktif, yang mencerminkan pertimbangan dari semua staf manajerial yang berkepentingan.
  3. Merupakan cara baru untuk menganalisa suatu permasalahan dengan kemampuan antara lain:
  • Memadukan data yang sudah ada dengan pertimbangan subyektif tentang faktor-faktor tak wujud
  • Memasukkan pertimbangan beberapa orang dalam memecahkan konfliks.
  • Melakukan analisis sensitivitas dan revisi biaya murah
  • Menggunakan prioritas marginal maupun prioritas rata-rata untuk membimbing pengalokasian
  • Meningkatkan kemampuan manajemen untuk melakukan pertimbangan secara eksplisit.
  1. Suatu teknik yang melengkapi berbagai teknik lain, prioritas (meminimaumkan resiko) untuk memilih proyek atau aktivitas.
  2. Suatu pengganti tunggal untuk aneka ragam skema untuk memproyeksikan masa depan dan melindungi terhadap resiko dan ketidakpastian.

PENGERTIAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS/ AHP

AHP digunakan dalam pengamatan tentang sifat manusia, analisis pemikiran dan pengukuran yang berguna untuk memecahkan persoalan kualitatif maupun kuantitatif. Ahp merupakan metode yang luwes, yang berarti dalam memecahkan persoalan, AHP memberikan pertimbangan secara intuitif selain pertimbangan ilmiah sehingga dapat menampung sifat alamiah manusia ketimbang memaksa kita ke cara berfikir yang mungkin justru berlawanan dengan hati nurani.

Penilaian yang diberikan dalam penggunaan metode AHP ini memberikan kita keluwuesan dalam menilai, yaitu AHP menunjukkan pertimbangan dan nilai-nilai pribadi secara logis (Saaty, 1993:23). Proses ini bergantung pada imajinasi, pengalaman dan pengetahuan untuk memberi pertimbangan. Selain itu AHP menunjukkan bagaimana menghubungkan elemen-elemen dari satu bagian masalah dengan elemen-elemen dari bagian lain untuk memperoleh hasil gabungan. Prosesnya adalah mengidentifikasi, memahami dan menilai interaksi dari suatu sistem secara keseluruhan.

Langkah-Langkah Penggunaan Analytical Hierarchy Process/AHP (skripsi dan tesis)

  1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.

Tahapan ini menuntut kita untuk berusaha menentukan permasalahan yang akan kita pecahkan secara jelas, detail dan juga mudah dipahami oleh orang lain. Kita coba menentukan solusi yang mungkin cocok untuk menyelesaikan permasalahan yang sudah kita tentukan tersebut. Solusi dari permasalahan mungkin berjumlah lebih dari satu solusi. Solusi tersebut nantinya akan kita kembangkan lebih lanjut dalam tahap berikutnya.

2. Membuat struktur hierarki yang diawali dengan tujuan utama.

  • Tujuan utama merupakan level teratas dalam hirarki kemudian disusul oleh level hirarki yang berada di bawahnya yaitu semua kriteria yang cocok untuk mempertimbangkan atau membuat penilaian terhadap alternatif yang kita berikan dan menentukan apa saja alternatif tersebut.
  • Tiap kriteria mempunyai intensitas yang berbeda antara satu dengan lainnya. Hirarki dilanjutkan dengan menambahkan subkriteria (jika mungkin diperlukan).

3. Membuat matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap tujuan atau kriteria yang setingkat di atasnya.

Pendekatan menggunakan matriks mencerminkan aspek ganda yang ada dalam prioritas yaitu mendominasi dan didominasi. Perbandingan berdasar pada judgment dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dengan elemen-elemen lainnya yang ada dalam hirarki. Untuk memulai proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah kriteria dari level paling atas hirarki misalnya K dan kemudian dari level di bawahnya diambil elemen yang akan dibandingkan misalnya E1,E2,E3, dan seterusnya.

4. Melakukan Mendefinisikan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh jumlah penilaian seluruhnya sebanyak t = n x [(n-1)/2] buah, dimana n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan.

Hasil perbandingan dari elemen-elemen yang ada akan berupa angka dari 1 sampai 9 yang menunjukkan suatu perbandingan tingkat kepentingan masing-masing elemen. Apabila suatu elemen dalam matriks dibandingkan dengan elemen itu sendiri maka hasil perbandingannya diberi nilai 1. Skala 9 telah terbukti bisa diterima dan dapat membedakan intensitas antar elemen. Hasil perbandingan tersebut diisikan pada kolom dan baris yang bersinggungan dengan elemen yang dibandingkan. Skala perbandingan  berpasangan dan makna tiap nilai yang diperkenalkan oleh Saaty bisa dilihat di bawah. Intensitas Kepentingan 1 = Kedua elemen yang sama pentingnya, Dua elemen dengan pengaruh yang sama besar dalam pengambilan keputusan. 3 = Elemen yang satu sedikit lebih penting dari pada elemen yang lainnya, Pengalaman dan penilaian sedikit menyokong satu elemen dibandingkan elemen yang lainnya. 5 = Elemen yang satu lebih penting daripada yang lainnya, Pengalaman dan penilaian sangat kuat menyokong satu elemen dibandingkan elemen yang lainnya. 7 = Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen lainnya, Satu elemen yang kuat disokong dan dominan terlihat dalam praktek. 9 = Satu elemen mutlak penting daripada elemen lainnya, Bukti yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen lainmemeliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan. 2,4,6,8 = Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan-pertimbangan yang berdekatan, Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi di antara 2 pilihan.

Kebalikan = Jika untuk aktivitas i mendapat satu angka dibanding dengan aktivitas j , maka j mempunyai nilai kebalikannya dibanding dengan i. Mengulangi langkah 3 dan 4 untuk seluruh tingkat hirarki. Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan. Vektor eigen adalah bobot setiap elemen yang digunakan untuk penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah hingga mencapai tujuan, yaitu pada tingkat paling atas (satu elemen). Penghitungan dilakukan dengan cara menjumlahkan semua nilai setiap kolom dalam matriks, membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks, dan menjumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk mendapatkan rata-rata. Memeriksa konsistensi hirarki. Yang diukur dalam AHP adalah rasio konsistensi dengan melihat index konsistensi. Konsistensi yang diharapkan adalah yang mendekati sempurna agar menghasilkan keputusan yang mendekati valid. Walaupun sulit untuk mencapai yang sempurna, rasio konsistensi diharapkan kurang dari atau sama dengan 10 %.

Dasar Analytical Hierarchy Process/AHP (skripsi dan tesis)

1. Dekomposisi

Dalam tahapan ini struktur masalah yang terbilang kompleks dibagi menjadi bagian-bagian dalam sebuah hierarki. Tujuannya adalah mendefinisikan dari yang umum sampai yang khusus. Dalam bentuk yang paling sederhana struktur berfungsi sebagai sarana untuk membandingkan antara tujuan, kriteria dan level alternatif. Masing-masing himpunan alternatif memungkinkan untuk dibagi lebih jauh untuk menjadi tingkatan yang lebih detail, mencakup lebih banyak kriteria yang lain. Level paling atas dari hirarki merupakan tujuan dari penyelesaian masalah dan hanya ada satu elemen. Level berikutnya mungkin memiliki beberapa elemen sebagai kriteria, di mana masing-masing elemen tersebut bisa dibandingkan antara satu dan lainnya, memiliki kepentingan yang tergolong hampir sama atau tidak memiliki perbedaan yang terlalu mencolok pada masing-masing elemen. Jika perbedaannya terlalu besar harus dibuatkan level yang baru.

2. Perbandingan penilaian/pertimbangan (comparative judgments)

Dalam tahapan ini akan dibuat sebuah perbandingan berpasangan dari semua elemen yang ada dalam hirarki dengan tujuan menghasilkan sebuah skala kepentingan relatif dari masing-masing elemen. Penilaian akan menghasilkan sebuah skala penilaian yang berupa angka. Perbandingan berpasangan dalam bentuk matriks jika dikombinasikan akan menghasilkan sebuah prioritas.

3. Sintesa Prioritas

Sintesa prioritas didapat dari hasil perkalian prioritas lokal dengan prioritas dari kriteria bersangkutan yang ada pada level atasnya dan menambahkannya ke masing-masing elemen dalam level yang dipengaruhi oleh kriteria. Hasilnya berupa gabungan atau lebih dikenal dengan istilah prioritas global yang kemudian dapat digunakan untuk memberikan bobot prioritas lokal dari elemen yang ada pada level terendah dalam hirarki sesuai dengan kriterianya.

Kelebihan Analitycal Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Kelebihan-kelebihan analisis ini adalah :
 Kesatuan (Unity)
AHP membuat permasalahan yang luas dan tidak terstruktur menjadi suatu model yang fleksibel dan mudah dipahami.
 Kompleksitas (Complexity)
AHP memecahkan permasalahan yang kompleks melalui pendekatan sistem dan pengintegrasian secara deduktif.
 Saling ketergantungan (Inter Dependence)
AHP dapat digunakan pada elemen-elemen sistem yang saling bebas dan tidak memerlukan hubungan linier.
 Struktur Hirarki (Hierarchy Structuring)
AHP mewakili pemikiran alamiah yang cenderung mengelompokkan elemen sistem ke level-level yang berbeda dari masing-masing level berisi elemen yang serupa.
 Pengukuran (Measurement)
AHP menyediakan skala pengukuran dan metode untuk mendapatkan prioritas.
 Konsistensi (Consistency)
AHP mempertimbangkan konsistensi logis dalam penilaian yang digunakan untuk menentukan prioritas.
 Sintesis (Synthesis)
AHP mengarah pada perkiraan keseluruhan mengenai seberapa diinginkannya masing-masing alternatif.
 Trade Off
AHP mempertimbangkan prioritas relatif faktor-faktor pada sistem sehingga orang mampu memilih altenatif terbaik berdasarkan tujuan mereka.
 Penilaian dan Konsensus (Judgement and Consensus)
AHP tidak mengharuskan adanya suatu konsensus, tapi menggabungkan hasil penilaian yang berbeda.
 Pengulangan Proses (Process Repetition)
AHP mampu membuat orang menyaring definisi dari suatu permasalahan dan mengembangkan penilaian serta pengertian mereka melalui proses pengulangan.

Pengertian Analitycal Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Analitycal Hierarchy Process (AHP) Adalah metode untuk memecahkan suatu situasi yang komplek tidak terstruktur kedalam beberapa komponen dalam susunan yang hirarki, dengan memberi nilai subjektif tentang pentingnya setiap variabel secara relatif, dan menetapkan variabel mana yang memiliki prioritas paling tinggi guna mempengaruhi hasil pada situasi tersebut.

Proses pengambilan keputusan pada dasarnya adalah memilih suatu alternatif yang terbaik. Seperti melakukan penstrukturan persoalan, penentuan alternatif-alternatif, penenetapan nilai kemungkinan untuk variabel aleatori, penetap nilai, persyaratan preferensi terhadap waktu, dan spesifikasi atas resiko. Betapapun melebarnya alternatif yang dapat ditetapkan maupun terperincinya penjajagan nilai kemungkinan, keterbatasan yang tetap melingkupi adalah dasar pembandingan berbentuk suatu kriteria yang tunggal.
Peralatan utama Analitycal Hierarchy Process (AHP) adalah memiliki sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia. Dengan hirarki, suatu masalah kompleks dan tidak terstruktur dipecahkan ke dalam kelomok-kelompoknya dan diatur menjadi suatu bentuk hirarki.

Analisis Untuk Semantik Diferensial (skripsi dan tesis)

Analisis data untuk semantic differential yang khas adalah analisis faktor
(Sytsma, 2006: 2). Analisis faktor menunjukkan berbagai macam teknik statistik yang memiliki tujuan umum menyajikan seperangkat ubahan dalam sejumlah kecil ubahan hipotetik (Kim dan Mueller, 1978: 8-12). Menurut Garson (2006: 2), ada dua jenis analisis faktor, yaitu analisis faktor eksploratori dan analisis faktor konfirmatori. Analisis faktor eksploratori berusaha menemukan struktur dasar yang melandasi sejumlah besar ubahan. Di sini tidak diperlukan teori sebelumnya dan muatan faktor digunakan untuk menentukan secara intuitif stuktur faktor dari data yang dianalisis. Analisis faktor konfirmatori bertujuan menetapkan apakah jumlah faktor dan muatan faktor dari ubahan-ubahan indikator pada faktor-faktor tersebut sesuai dengan apa yang diharapkan, berdasarkan teori yang ditentukan sebelumnya.

Pengertian Semantik Diferensial (skripsi dan tesis)

Semantic differential adalah salah satu bentuk instrumen pengukuran yang
berbentuk skala, yang dikembangkan oleh Osgood, Suci, dan Tannenbaum.
Instrumen ini juga digunakan untuk mengukur reaksi terhadap stimulus, kata-kata, dan konsep-konsep dan dapat disesuaikan untuk orang dewasa atau anak-anak dari budaya manapun juga (Heise, 2006: 1). Semantic differential digunakan untuk dua tujuan: (1) untuk mengukur secara objektif sifat-sifat semantik dari kata atau konsep dalam ruang semantik tiga dimensional dan (2) sebagai skala sikap yang memusatkan perhatian pada aspek afektif atau dimensi evaluatif (Issac dan Michael, 1984: 144-145). Osgood dkk (Issac dan Michael, 1984: 145) menemukan tiga dimensi atau faktor utama, yaitu dimensi evaluatif (evaluative) misalnya “bagus-jelek”, dimensi potensi misalnya “keras-lunak”, dan dimensi aktivitas misalnya “cepat-lambat

Validitas dan Reliabilitas Semantic Differential (Skripsi dan tesis)

 

Suatu alat ukur harus memenuhi syarat validitas dan reliabilitas. Menurut Allen dan Yen (1979: 95), suatu tes dikatakan valid jika dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Secara umum terdapat tiga macam validitas, yaitu validitas isi (content validity), validitas kriteria (creterion-related validity), dan validitas konstruk (construct validity) (Kerlinger, 1986: 417). Untuk menguji validitas instrumen pengukuran afektif, dapat digunakan salah satu atau semua jenis validitas berikut: validitas isi, validitas konstruk, dan validitas kriteria (Fernandes, 1984: 73-74).

Validitas isi dinilai melalui analisis rasional terhadap isi suatu tes dan penentuannya didasarkan pada penilaian subjektif dan individual (Allen dan Yen 1979: 95). Validitas isi biasanya diuji dengan penilaian personal oleh ahli di bidangnya. Validitas isi didasarkan pada keputusan penilaian (bersifat judgmental). Validitas kriteria diteliti dengan membandingkan suatu tes atau skala dengan satu atau lebih ubahan-ubahan eksternal, atau kriteria yang dianggap mengukur kualitas yang diteliti (Kerlinger, 1986: 418). Validitas konstruk (construct validity) suatu tes adalah sejauh mana tes tersebut mengukur konstruk atau trait teoretik yang ingin diukur. Menurut Kerlinger (1986: 427) metode yang digunakan untuk meneliti validitas konstruk adalah analisis faktor.

Reliabilitas juga disebut sebagai dependabilitas, stabilitas, konsistensi, prediktabilitas, atau akurasi. Reliabilitas dan dependabilitas menunjukkan suatu pengukuran yang dapat diandalkan atau dapat dipercaya. Stabilitas, konsistensi, dan prediktabilitas menunjukkan pengukuran yang tidak relatif berubah-ubah, sehingga dapat diprediksi hasilnya. Prediktabilitas menunjukkan pengukuran yang dapat diduga (Kerlinger, 1986: 407).

Salah satu pendekatan dasar untuk mengukur reliabilitas adalah stabilitas. Stabilitas diperoleh dengan mengkorelasikan skor siswa dari dua kali pelaksanaan tes, dengan korelasi intraklas (interclass correlation). Estimasi reliabilitas didefinisikan sebagai perbandingan (rasio) antara true score variance dengan observed variance (Nachmias & Nachmias, 1981: 148). Menurut Borg dan Gall (1983: 284), reliabilitas tes-retes disebut koefisien stabilitas (coefficient of stability). Reliabilitas tes-retes sangat cocok untuk tes yang mengukur trait (sifat), misalnya tes untuk mengukur ketajaman pengamatan visual dan auditori (Allen dan Yen, 1979: 76-77). Jika digunakan untuk keputusan individual, batas minimum reliabilitas adalah 0,9, sedangkan untuk menarik kesimpulan tentang kelompok 0,5 (Fernandes, 1984: 73)

Pengertian Dokumentasi (skripsi dan tesis)

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen berbentuk gambar misalnya foto, sketsa, dll. Dokumen berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film, dll. Dalam penelitian kualitatif studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara.

Hasil penelitian dari observasi dan wawancara akan lebih kredibel jika didukung sejarah pribadi kehidupan di masa kecil, di sekolah, di tempat kerja, di masyarakat dan autobiografi. Penelitian juga semakin kredibel jika didukung oleh foto-foto atau karya tulis akademik.

Dokumetasi dapat digunakan pada penelitian kuantitatif, kualitatif dan pengembangan. Dokumentasi sering digunakan pada penelitian kualitatif sebagai pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara. Akan tetapi, dokumentasi juga digunakan dalam penelitian kuantitatif dan pengembangan, dalam hal mengumpulkan data awal yang dapat menunjang latar belakang dan pentingnya penelitian.

Jenis-Jenis Observasi (skripsi dan tesis)

Berdasarkan proses pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi:

  1. Observasi Berperanserta

Peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Peneliti ikut melakukan apa uang dikerjakan oleh sumber data. Dengan observasi ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap,tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak.

  1. Observasi Nonpartisipan

Peneliti hanya sebagai pengamat independen. Data yang dikumpulkan tidak mendalam, tidak sampai pada tingkat makna. Makna adalah nilai-nilai dibalik perilaku yang tampak, yang terucapkan dan yang tertulis.

Berdasarkan instrumen yang digunakan, observasi dibedakan menjadi:

  1. Observasi terstruktur

Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang diamati, kapan dan di mana tempatnya. Observasi ini dilakukan apabila peneliti telah tahu dengan pasti tentang variabel apa yang diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti menggunakan instrumen penelitian yang yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya.

  1. Observasi tidak terstruktur

Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati. Peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya rambu-rambu pengamatan.

.

Observasi (pengamatan) (skripsi dan tesis)

 

Pengertian observasi menurut Satori & Komariah (2011: 105) adalah pengamatan terhadap suatu objek yang diteliti baik secara langsung maupun tidak langsung untuk memperoleh data yang harus dikumpulkan dalam penelitian. Secara langsung dengan terlibat ke lapangan dengan melibatkan seluruh pancaindera. Sedangkan tidak langsung dengan dibantu mediavisual/audiovisual.

Observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek alam yang lain. Teknik observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam, dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.

Observasi dapat digunakan pada penelitian kuantitatif, kualitatif dan pengembangan. Observasi untuk penelitian kualitatif menurut Satori dan Komariah (2011: 105) adalah pengamatan langsung terhadap objek untuk mengetahui keberadaan objek, situasi, konteks, dan maknanya dalam upaya mengumpulkan data penelitian. Dalam penelitian kuantitatif biasanya menggunakan observasi terstruktur. Sedangkan pada penelitian kualitatif, observasi yang sering dilakukan adalah observasi berperanserta, dengan instrumen observasi tidak terstruktur.

Pada observasi eksperimental dimana tingkah laku yang diharapkan muncul karena perlakuan atau suatu kondisi tertentu, maka observasi memerlukan perencanaan dan persiapan yang benar-benar matang, sedangkan observasi yang dilaksanakan dalam situasi yang wajar, pelaksanaannya jauh lebih sederhana, karena observasi semacam ini dapat dilakukan sepintas lalu saja (Sudijono dalam Taniredja dan Mustafidah, 2011: 48-49).Oleh karena itu sebelum melakukan penelitian, peneliti telah mempersiapkan terlebih dahulu blanko/lembar observasi yang berisi perilaku yang dapat diamati oleh peneliti, yang sebelumnya dirancang/disusun dalam sebuah kisi-kisi. Peneliti dapat meminta bantuan orang lain sebagai observer untuk dapat membantu peneliti dalam melakukan observasi.

Jenis Kuesioner (skripsi dan tesis)

Dalam Arikunto (2006: 152) , kuesioner dapat dibedakan atas beberapa jenis, tergantung pada sudut pandangan:

  1. Dipandang dari cara menjawab

Dibedakan menjadi kuesioner terbuka dan kuesioner tertutup. Kuesioner terbuka memberi kesempatan kepada responden untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri. Sedangkan kuesioner tertutup sudah disediakan jawabannya, sehingga responden tinggal memilih.

  1. Dipandang dari jawaban yang diberikan

Ada dua jenis kuesioner, yaitu kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung. Kuesioner langsung yaitu responden menjawab tentang dirinya. Sedangkan kuesioner tidak langsung yaitu jika responden menjawab tentang orang lain.

  1. Dipandang dari bentuknya.

Menurut bentuknya, kuesioner dibedakan menjadi kuesioner pilihan ganda, kuesioner isian, check list, dan rating-scale.

Pengertian Kuesioner (angket) (skripsi dan tesis)

 

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2010: 199). Kuesioner efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang diharapkan dari responden. Kuesioner cocok digunakan apabila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. Kuesioner dapat berupa pertanyaan/pernyataan tertutup atau terbuka.

Kuesioner dapat digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian kuantitatif, kualitatif, dan pengembangan. Kuesioner lebih sering digunakan dalam penelitian kuantitatif dan pengembangan. Tetapi ada juga penelitian kualitatif yang menggunakan bantuan angket sebagai teknik pengumpulan datanya

Jenis Wawancara (skripsi dan tesis)

  1. Wawancara Terstruktur

Wawancara ini digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Dalam melakukan wawancara, pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan. Setiap responden diberi pertanyaan sama, dan pengumpul data mencatatnya. Dalam melakukan wawancara, selain harus membawa instrumen sebagai pedoman untuk wawancara, maka pengumpul data juga dapat menggunakan alat bantu seperti tape recorder, gambar, brosur dan material lain yang dapat membantu pelaksanaan wawancara menjadi lancar.

  1. Wawancara Tidak Terstruktur

Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Jenis wawancara ini sering digunakan dalam penelitian pendahuluan atau penelitian yang lebih mendalam tentang responden. Dalam penelitian pendahuluan, peneliti berusaha mendapatkan informasi awal tentang berbagai isu atau permasalahan yang ada pada obyek, sehingga peneliti dapat menentukan secara pasti permasalahan atau variabel apa yang harus diteliti. Dalam wawancara tidak terstruktur, peneliti belum mengetahui secara pasti data apa yang akan diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan ceritera responden.

Pengertian Wawancara (skripsi dan tesis)

 

Wawancara menurut Satori & Komariah (2011: 130) adalah suatu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali dari sumber data langsung melalui percakapan atau tanya jawab. Sugiyono (2010: 194) menjelaskan bahwa wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya kecil/sedikit. Teknik pengumpulan data mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Dalam Sugiyono (2010: 194), wawancara dibedakan menjadi wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur.

Teknik pengumpulan data dengan wawancara biasa digunakan pada penelitian kuantitatif, kualitatif, dan pengembangan. Wawancara lebih sering digunakan dalam penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, wawancara lebih sering digunakan untuk studi pendahuluan dalam menemukan permasalahan yang akan diteliti. Dalam penelitian kualitatif, wawancara bersifat mendalam, karena ingin mengeksplorasi informasi secara holistik dan jelas dari informan.

Wawancara dalam penelitian kualitatif meliputi wawancara mendalam dan wawancara bertahap. Wawancara mendalam dilakukan dalam konteks observasi partisipasi. Peneliti terlibat secara intensif dengan setting penelitian terutama pada keterlibatannya dengan kehidupan informan (Satori & Komariah, 2011: 130). Selanjutnya Satori dan Komariah juga menjelaskan bahwa wawancara bertahap adalah wawancara yang mana peneliti melakukannya dengan sengaja dating berdasarkan jadwal yang ditetapkan sendiri untuk melakukan wawancara dengan informan dan peneliti tidak sedang observasi partisipasi. Sifat wawancara tetap mendalam, tetapi dipandu oleh pertanyaan-pertanyaan pokok.

Format Kuesioner (skripsi dan tesis)

Emory (1995) dalam bukunya Husein Umar (2005) komponen inti kuesioner menurut Emory, ada 4 komponen inti dari sebuah kuesioner yaitu :
a. Adanya subyek, yaitu individu atau lembaga yang melaksanakan riset
b. Adanya ajakan, yaitu permohonan dari peneliti kepada responden untuk turut serta mengisi secara aktif dan obyektif pertanyaan maupun pernyataan yang tersedia. Dalam kata pengantar, peneliti harus menjelaskan secara ringkas tujuan dan kegunaan penelitian, serta harapan atau permintaan
yang khusus ditujukan kepada responden.
c. Adanya petunjuk pegisian kuesioner, dimana petunjuk yang tersedia harus mudah di mengerti.
d. Adanya pertanyaan maupun pernyataan dan tempat mengisi jawaban, baik secara tertutup, semi tertutup ataupun terbuka. Dalam membuat pertanyaan yang berkaitan dengan variabel utama penelitian dan jangan lupa memberikan isian untuk identitas responden agar peneliti mengetahui karakteristik biografik, demografik, atau social responden penelitian . Walau pada awalnya hanya sekedar bersifat informatif, namun seringkali bisa digunakan sebagai bahan analisis

Jenis Skala Kuisioner (skripsi dan tesis)

1 Skala Likert
Skala Likert adalah suatu skala psikometrik yang umum digunakan dalam kuesioner, dan
merupakan skala yang paling banyak digunakan dalam riset berupa survei. Sewaktu menanggapi
pertanyaan dalam skala Likert, responden menentukan tingkat persetujuan mereka terhadap suatu
pernyataan dengan memilih salah satu dari pilihan yang tersedia.Ada dua bentuk pertanyaan yang
menggunakan Likert yaitu pertanyaan positif untuk mengukur minat positif , dan bentuk pertanyaan
negatif untuk mengukur minat negatif. Pertanyaan positif diberi skor 5, 4, 3, 2, dan 1; sedangkan bentuk
pertanyaan negatif diberi skor 1, 2, 3, 4, dan 5. Biasanya disediakan lima pilihan skala dengan format
seperti:
1. Sangat Tidak Setuju (STS)
2. Tidak Setuju (TS)
3. Netral atau Biasa (B)
4. Setuju (S)
5. Sangat setuju (SS)
Penskalaan ini apabila dikaitkan dengan jenis data yang dihasilkan adalah data Ordinal. Selain
pilihan dengan lima skala seperti contoh di atas, kadang digunakan juga skala dengan tujuh atau
sembilan tingkat. Suatu studi empiris menemukan bahwa beberapa karakteristik statistik hasil kuesioner
dengan berbagai jumlah pilihan tersebut ternyata sangat mirip.

2 Skala Guttman
Skala Guttman yaitu skala yang menginginkan jawaban tegas seperti jawaban benar-salah, yatidak, pernah – tidak pernah.Untuk jawaban positif seperti setuju, benar, pernah dan semacamnya diberi
skor 1; sedangkan untuk jawaban negatif seperti tidak setuju, salah, tidak, tidak pernah, dan
semacamnya diberi skor 0. Dengan skala ini, akan diperoleh jawaban yang tegas yaitu Ya – Tidak,
Benar – Salah dan lain-lain. Skala ini dapat pula dibentuk dalam bentuk checklist atau pilihan
ganda.Skor 1 untuk skor tertinggi dan skor 0 untuk terendah.

3 Skala Rating
Skala rating adalah data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam
pengertian kualitatif.
Contoh :
Seberapa baik televisi merek X?
Berilah jawaban angka :
4 bila produk sangat baik
3 bila produk cukup baik
2 bila produk kurang baik
1 bila produk sangat tidak baik
1.3.4 Skala Semantik Defferensial
Skala defferensial yaitu skala untuk mengukur sikap dan lainnya, tetapi bentuknya bukan pilihan
ganda atau checklist tetapi tersusun dalam satu garis kontinum.Skala Semantik defferensial disusun
dalam suatu garis dimana jawaban sangat positif terletak dibagian kanan garis, sedangkan jawaban
sangat negatif terletak dibagian kiri garis atau sebaliknya.
Data yang diperoleh adalah data interval dan baisanya skala ini digunakan untuk mengukur
sikap/karakteristik tertentu yang dipunyai oleh seseorang.Responden dapat memberi jawaban pada
rentang jawaban yang positif sampai dengan negatif

Kelebihan dan Kekurangan Kuesioner Dengan Jawaban Tertutup (skripsi dan tesis)

Salah satu keuntungannya untuk kuesioner ini adalah sebagai berikut:
i. Jawaban-jawaban bersifat standar dan bisa dibandingkan dengan jawaban orang lain;
ii. Jawaban-jawabannya jauh lebih mudah dikoding dan dianalisis, bahkan sering secara langsung dapat dikoding dari pertanyaan yang ada, sehingga hal ini dapat menghemat tenaga dan waktu;
iii. Responden lebih merasa yakin akan jawaban-jawabannya, terutama bagi mereka yang sebelumnya tidak yakin;
iv. Jawaban-jawaban relatif lebih lengkap karena sudah dipersiapkan sebelumnya oleh peneliti; dan
v. Analisis dan formulasinya lebih mudah jika dibandingkan dengan model kuesioner dengan
jawaban terbuka
Meskipun demikian, ada juga kelemahannya, yakni:
i. Sangat mudah bagi responden untuk menebak setiap jawaban, meskipun sebetulnya mereka tidak memahami masalahnya;
ii. Responden merasa frustrasi dengan sediaan jawaban yang tidak satu pun yang sesuai dengan keinginannya;
iii. Sering terjadi jawaban-jawaban yang terlalu banyak sehingga membingungkan responden untuk memilihnya;
iv. Tidak bisa mendeteksi adanya perbedaan pendapat antara responden dengan peneliti karena responden hanya disuruh memilih alternatif jawaban yang tersedia.

Jenis-Jenis Variabel (skripsi dan tesis)

Sekaran (1992) membagi variabel menjadi 4 jenis berdasarkan hubungan antar variabelnya sebagai berikut :
1) Variabel dependen (variabel kriteria): merupakan variabel yang menjadi fokus utama untuk menjelaskan atau memprediksikan variabilitas variabel dependen. Melalui analisis terhadap variabel dependen, dapat ditemukan jawaban atau solusi dari suatu masalah.
2) Variabel independen (variabel penduga): merupakan variabel yang mempengaruhi variabel dependen secara negatif ataupun positif. Apabila variabel independen muncul, maka variabel dependen juga akan muncul. Naik turunnya nilai variabel independen akan menyebabkan naik
turunnya nilai variabel dependen.
3) Variabel moderator: merupakan variabel yang memiliki pengaruh kontingen yang kuat terhadap hubungan variabel independen – variabel dependen. Keberadaan variabel moderator akan memodifikasi hubungan yang diharapkan dari variabel independen dan variabel dependen. Pada
kasus lain, hubungan antara variabel independen dan variabel dependen akan terjadi dengan adanya variabel moderator.
4) Variabel intervening: merupakan variabel yang muncul diantara waktu munculnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Variabel intervening merupakan fungsi dari variabel independen, yang membantu menjelaskan pengaruh variabel independen terhadap variabel
dependen.

Perceptual Mapping (Pemetaan Persepsi) (skripsi dan tesis)

Pemetaan persepsi adalah salah satu cara untuk menampilkan atau
membuat grafik, dalam dua atau lebih dimensi, dari lokasi-lokasi produk, merekmerek atau kelompok-kelompok produk dalam benak pelanggan. Pemetaan persepsi adalah diagram yang menggambarkan persepsi konsumen, biasanya dalam dua dimensi dan tiga dimensi sehingga manajer dapat dengan mudah mengetahui dimana mereknya diposisikan dalam benak konsumen dan dalam hubungannya dengan merek lain.
Menurut Ratnawati (2004:37), pemetaan persepsi (perceptual mapping)
menunjukan tempat dimana konsumen lebih suka menempatkan produk sesuai dengan yang mereka rasakan. Dengan peta persepsi, tiap-tiap merek atau produk menempati tempat (titik) khusus. Produk atau merek yang memiliki kesamaan akan saling berdekatan, sedangkan yang memiliki banyak perbedaan akan berjauhan. Schiffman dan Kanuk (2002:165) berpendapat, “ Suatu teknik pemetaan persepsi dapat membantu pemasar untuk mengetahui produk atau jasa yang ditawarkan pada konsumen dalam hubungannya untuk suatu persaingan merek atau karakteristik lain yang lebih relevan”.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa dari masing-masing persepsi
dipilah-pilah dalam suatu peta untuk dapat dilihat apa yang mempengaruhi
kapasitas penjualan dan peluang terjadinya persaingan yang sangat menonjol atau ketat.

Macam-Macam Atribut Produk (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan amstrong (1997:279) dalam permanasari (2009),
manfaat suatu produk disampaikan dan dikomunikasikan oleh atribut produk dan keputusan mengenai atribut tersebut amat mempengaruhi reaksi konsumen terhadap suatu produk. Atribut-atibut produk yang dimaksud adalah :
a. Mutu Produk
Mutu adalah salah satu alat penting bagi pemasar untuk menetapkan posisi.
Mutu mempunyai dua dimensi, yaitu tingkat dan konsistensi. Ketika
mengembangkan suatu produk, pemasar mula-mula harus memilih tingkat
mutu yang akan mendukung posisi produk di pasar sasaran. Di sini, mutu
produk berarti kemampuan produk untuk melaksanakan fungsinya. Termasuk
didalamnya keawetan, keandalan, ketepatan, kemudahan dipergunakan dan
diperbaiki, serta atribut bernilai yang lain. Walaupun beberapa dari atribut ini
dapat diukur secara obyektif dari sudut pandang pemasaran, mutu harus diukur dari persepsi pembeli.
b. Sifat-Sifat Produk
Suatu produk dapat disampaikan dengan berbagai sifat. Sebuah model
“polos”, produk tanpa tambahan apapun, merupakan titik awal. Perusahaan
dapat menciptakan model dari tingkat lebih tinggi dengan menambahkan
beberapa sifat. Sifat adalah alat bersaing untuk membedakan produk
perusahaan dengan produk pesaing. Menjadi produsen pertama yang
memperkenalkan sifat baru yang dibutuhkan dan dinilai tinggi oleh pelanggan
adalah salah satu cara paling efektif untuk bersaing.
c. Rancangan Produk
Cara lain menambah nilai bagi pelanggan adalah lewat rancangan produk yang
membedakan. Perusahaan yang tidak memberikan “sentuhan desain” pada
produknya akan membuat produk tersebut tidak menarik atau terlihat biasa
dibandingkan produk-produk pesaing dengan rancangan yang lebih baik.
Berdasarkan wujudnya, atribut produk terdiri dari 2 jenis, yaitu :
a. Atribut yang berwujud (tangiable)
Adalah sesuatu ciri produk yang bewujud, contohnya harga, kemasan,
kualitas, desain produk,label dan warna.
b. Atribut yang tidak berwujud (intangiable)
Adalah ciri suatu produk yang tidak berwujud, contohnya nama baik dan
popularitas dari perusahaan penghasil produk tersebut. Seringkali atribut yang
tidak berwujud juga terdapat pada pandangan atau image konsumen terhadap
merek yang diberikan perusahaan.

Definisi Atribut Produk (skripsi dan tesis)

Kotler (2002:72) menyatakan bahwa “atribut produk adalah suatu
komponen yang merupakan sifat-sifat produk yang menjamin agar produk
tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan yang diterapakan oleh
pembeli”. Dengan adanya atribut yang melekat pada suatu produk, konsumen dapat menilai dan mengukur kesesuaian karakteristik produk dengan kebutuhan dan keinginan. Bagi perusahaan, dengan mengetahui atribut-atribut apa saja yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian maka dapat ditentukan strategi untuk mengembangkan dan menyempurnakan produk agar lebih memuaskan konsumen.

Kesalahan-kesalahan Positioning (skripsi dan tesis)

 

Menurut Kotler (2004:343) kesalahan-kesalahan dalam melakukan positioning adalah sebagai berikut :

  1. Penentuan posisi yang kurang (Underpositioning)

Produk tersebut tidak memiliki posisi yang jelas sehingga di anggap sama saja

dengan kerumunan produk lainnya di pasar. Masalahnya konsumen tidak bisa

membedakan dengan merek lainnya.

  1. Penentuan posisi yang berlebihan (Overpositioning)

Pemasar terlalu sempit memposisikan produknya sehingga mengurangi minat

konsumen yang masuk dalam segmen pasarnya.

  1. Penentuan posisi yang membingungkan (Confused Positioning)

Pemasar terlalu banyak menekankan atribut yang terlalu banyak pada

produknya sehingga konsumen mengalami keraguan.

  1. Penentuan posisi yang meragukan (Doubtful Positioning)

Positioning diragukan kebenarannya karena tidak didukung bukti yang

memadai. Konsumen tidak percaya karena selain tidak didukung bukti yang

kuat atau marketing mix yang ditetapkan tidak konsisten dengan keberadaan

produk.

 

Dasar Positioning (skripsi dan tesis)

Perusahaan menggunakan berbagai dasar dalam melakukan positioning,
antara lain : (Lamb, et.al. 2003:309).
a. Atribut. Sebuah produk dikaitkan dengan satu atribut, ciri produk atau
manfaatnya bagi konsumen. Sepatu Rocksport selalu diposisikan sebagai
merek sepatu yang menyenangkan, yang tersedia dalam bermacam – macam
merek, mulai dari sepatu bekerja sampai ke sepatu santai.
b. Harga dan kualitas. Dasar positioning dapat menekankan pada harga yang
tinggi sebagai tanda kualitas atau menekankan pada harga yang rendah
sebagai indikasi nilai. Neimus Marcus menggunakan strategi harga tinggi;
22
Kmart sukses mengikuti harga rendah dan nilai. Cunard yaitu perusahaan
Inggris yang bergerak di bidang pelayaran yang mengalami kegagalan pada
masa – masa sulit ini, telah mampu bangkit kembali dengan mereposisi
mereknya untuk bersaing dalam pasar kelas atas. Perusahaan tersebut
meliputi identitas perusahaan yang baru, serangkaian iklan yang elegan, dan
peningkatan jasa pelanggan.
c. Pemakaian atau implikasi. Selama beberapa tahun yang lalu, perusahaan jasa telepon AT&T dalam iklannya menekankan pada komunikasi dengan orang yang dikasihi, dengan kata – kata “Menjangkau dan Menyentuh Seseorang”. Penekanan pada pemakaian atau implikasi dapat efektif dalam memposisikan produk tersebut pada pembeli. Slogan iklan “Jus Jeruk tidak hanya untuk sarapan saja” merupakan suatu upaya untuk mereposisi produk, dalam pengertian waktu dan tempat pemakaian, sebagai minuman di segala suasana.
d. Pemakai produk. Dasar positioning terletak kepribadian atau tipe para
pemakai. Zale Corporation memiliki beberapa konsep toko perhiasannya,
masing – masing diposisikan untuk pemakai yang berbeda – beda. Toko Zale
membidik konsumen menengah dengan gaya tradisional. Toko Gordon milik
mereka menampilkan gaya kontemporer untuk menarik para pelanggannya
yang berumur lebih tua. Guild diposisikan untuk konsumen kelas atas dengan
usia lima puluh tahunan.
e. Kelas produk. Tujuan disini adalah untuk memposisikan produk tersebut
sebagai produk yang berkaitan dengan kategori produk tertentu. Misalnya,
memposisikan merek margarin dengan mentega.
f. Pesaing. Positioning terhadap para pesaing merupakan bagian dari setiap
strategi positioning. Avis, perusahaan penyewaan mobil, memposisikan
dirinya sebagai nomor dua untuk menjelaskan posisinya di hadapan para
pesaing tertentu.

Posisi Produk (Product Positioning) (skripsi dan tesis)

Banyaknya informasi yang ada mengenai suatu produk dan jasa tertentu
membuat konsumen tidak dapat mengevaluasi ulang produk setiap mereka harus membuat keputusan untuk membeli. Maka untuk menyederhanakan proses pembelian konsumen mengorganisasikan produk menjadi kategori dengan memposisikan produk, jasa dan perusahaan dalam ingatan mereka. Menurut Kotler (2004:184), “Product positioning (posisi produk) adalah cara produk ditetapkan oleh konsumen berdasarkan beberapa atribut penting dan tempat yang diduduki produk dalam ingatan konsumen dalam hubungannya dengan produk pesaing”.
Posisi suatu produk adalah perangkat kompleks dari persepsi, kesan dan
perasaan yang diingat konsumen untuk suatu produk dibandingkan dengan produk pesaing. Dan pemasar harus dapat merencanakan posisi produk agar memberikan manfaat besar bagi produknya. Menurut Kotler (2004:184), ada tiga langkah dalam memposisikan suatu produk, yaitu :
a. Perusahaan harus menentukan perbedaan produk, jasa dan citra terhadap
pesaingnya.
Diferensiasi produk, misalnya desain dan rancangan produk, keawetan produk,
kinerja, sifat produk. Contohnya Volvo menawarkan keamanan yang baru dan
lebih baik. Diferensiasi jasa, misalnya waktu penyerahan yang cepat, jasa
pemasangan dan perbaikan yang bermutu tinggi dan juga jasa konsultasi
gratis. Contohnya adalah GE (General Electric) tidak hanya menjual dan
memberikan jasa pemasangan produk tetapi juga memberikan jasa pelatihan
kepada pelanggan untuk mengoperasikan produknya.Diferensiasi personil,
misalnya keramahan, kehormatan, kesopanan, pengetahuan yang luas, dan
profesional dari karyawan. Contohnya pramugari dan pramugara Singapore
Airlines terkenal dengan keramahannya, dan juga IBM mempunyai karyawan
yang professional dan berpengetahuan luas. Diferensiasi citra, misalnya
simbol atau logo, mutu produk,promosi, dan mutu kemasan. Contohnya citra
darisuatu produk makanan beku hilang karena produknya sering diobral.
b. Memilih keunggulan bersaing yang tepat, dimana untuk itu perlu mengetahui
berapa banyak perbedaan yang akan dipromosikan dan perbedaan mana yang
akan dipromosikan. Suatu perbedaan dikatakan bernilai bila memenuhi kriteria
berikut :
1) Penting : perbedaan memberikan suatu manfaat yang sangat bernilai bagi
pembeli sasaran.
2) Khas : pesaing tidak menawarkan perbedaan itu, atau perusahaan dapat
menawarkan dengan cara yang lebih khas.
3) Superior : perbedaan itu superior terhadap cara lain yang mungkin
memberikan manfaat yang sama kepada pelanggan.
4) Dapat dikomunikasikan : perbedaan itu dapat dikomunikasikan dan dapat
dilihat oleh pembeli.
5) Mendahului : pesaing tidak dapat meniru perbedaan itu.
6) Terjangkau harganya : pembeli dapat membayar perbedaan itu.
Mendatangkan laba : perusahaan dapat memperkenalkan produk itu dan
meraih laba.
c. Mengkomunikasikan kepada pasar sasarannya, bagaimana perusahaan
berbeda dari pesaingnya. Untuk dapat menghasilkan strategi pemosisian yang
baik memang lebih mudah dibandingkan dengan pelaksanaannya. Menetapkan
suatu posisi atau mengubah posisi biasanya membutuhkan waktu yang cukup
lama, sebaiknya posisi yang sudah dibina bertahuntahun dapat hilang dengan
cepat. Maka dari itu, setelah perusahaan berhasil membangun posisi yang
dikehendaki, perusahaan harus mampu mempertahankan, menjaga posisi itu
lewat prestasi dan komunikasi yang konsisten

Proses Positioning (Positioning Process) (skripsi dan tesis)

Setelah pemasar memutuskan untuk menawarkan produk pada pasar sasaran maka ada beberapa tahapan positioning yang diterapkan. Menurut Walker, Boyd dan Larrache (dalam Kasali Rhenald ,2005:199), terdapat delapan tahapan untuk melakukan positioning yang dapat dilakukan, yaitu :
a. Mengidentifikasi hal-hal yang berhubungan dengan produk-produk yang
bersaing (Identifying a relevant set of competitive products).
Tahap ini berkaitan dengan mengidentifikasi himpunan produk yang relevan.
Analisis penentuan posisi dilakukan pada kategori produk (product category)
atau tingkat merek (level brand). Jika kategori produk, analisis ini menelaah
persepsi konsumen mengenai jenis-jenis produk yang mereka anggap sebagai
subtitusi untuk memuaskan kebutuhan dasar yang sama. Jika tingkat merek,
pemasar perlu mengetahui bagaimana mereknya dilihat dibandingkan merek
pesaing. Analisis tingkat merek ini sangat berguna bagi pemasar untuk
memahami kekuatan dan kelemahan kompetitif merek dan untuk menentukan apakah merek itu seharusnya diposisikan kembali untuk mendeferensiasi dan memperkuat posisi.
b. Mengidentifikasi atribut penentu (Identify a set of determinant attribute)
Pemasar seharusnya menggunakan atribut penentu untuk mendefinisikan
ruang produk dalam analisis penentuan posisi. Pertanyaannya adalah,
bagaimana pemasaran dapat mengetahui dimensi produk manakah yang
merupakan atribut penentu. Hal ini tergantung pada teknik analisis yang
digunakan pemasar. Memilih teknik statistik yang tepat dapat membantu
pemasar menentukan apakah atribut yang penting benar-benar merupakan
penentu dalam membimbing pilihan pelanggan.
c. Menentukan persepsi konsumen (Determining consumers perception)
Para pemasar bisa menggunakan beberapa teknik untuk mengumpulkan dan
menganalisis persepsi pelanggan tentang penentuan posisi kompetitif produk
atau merek alternatif. Ini mencakup analisis faktor, analisis diskriminan,
model-model gabungan multiatribut dan penentuan skala multidimensi.
d. Menganalisis intensitas posisi produk sekarang (Analyzing the intensity of a
product’s current position)
Posisi suatu merek lenyap dari benak konsumen atau bervariasi dalam
intensitasnya. Merek yang tidak diketahui konsumen tidak dapat menempati
posisi dalam benak konsumen. Jadi langkah awal dalam memperoleh posisi
kuat dalam sebuah merek adalah membangun kesadaran merek (brand
awareness). Selain itu, merek perlu dikaitkan dengan beberapa konsep yang
berhubungan dengan keputusan pembelian. Posisi yang paling kuat dan paling
baik dicapai yaitu dengan cara mengembangkan hubungan yang kuat antara
merek dengan jumlah atributnya. Terdapat bermacam-macam tingkatan brand awareness berkaitan dengan posisi-posisi yang berbeda, yang dinilai dengan cara-cara berikut ini :
1) Unaided brand recall
Dilakukan dengan memberikan pertanyaan dengan menyebutkan merekmerek yang diketahui konsumen dalam kategori produk dengan
pembatasan dan pengendalian waktu.
2) Aided brand recall
Pengukuran ini dilakukan dengan memberikan daftar merek dan
menanyakan kepada konsumen tentang merek yang ada.
3) Spontanity of brand recall
Konsumen diminta menyebutkan nama merek yang pertama kali diingat
secara spontan.
e. Menentukan posisi produk sekarang (Analyzing the product’s current relative position)
Bagaimana seorang pemasar mengetahui apakah sebuah merek menempati
posisi yang kuat pada atribut tertentu ?. Satu-satunya cara untuk mengetahui
adalah mengumpulkan informasi melalui riset pemasaran dan menganalisisnya dengan menggunakan teknik analisis statistik. Melalui analisis atribut tersebut dapat diketahui posisi relatif suatu produk terhadap produk lain. Namun masih terdapat masalah yang belum terjawab, yaitu posisi yang bagaimana yang paling menarik konsumen. Untuk menjawab permasalahan ini dapat menggunakan market positioning analysis.
f. Menentukan kombinasi atribut yang paling disukai pelanggan
(Determining customers most preferred combination of attributes)
Pemasar bisa mengukur preferensi pelanggan dan memasukannya dalam
analisis penentuan posisi dalam beberapa cara. Sebagai contoh, respondenresponden survei dapat diminta untuk memikirkan produk atau merek ideal di dalam kategori produk. Pendekatan alternatif adalah meminta respoden tidak hanya menilai tingkat kesamaan di antara pasangan merek-merek yang ada tapi juga menunjukan preferensinya masing-masing.
g. Mendefinisikan penentuan posisi pasar dan segmentasi pasar (Defining
market positioning and market segmentation)
Kriteria yang penting dalam mendefinisikan segmen-segmen pasar adalah
perbedaan dalam manfaat yang dicari oleh pelanggan yang berbeda.Karena
perbedaan-perbedaan antara titik ideal pelanggan mencerminkan variasi dalam
manfaat yang mereka cari. Analisis penentuan posisi pasar dapat secara
simultan mengidentifikasi segmen-segmen pasar yang unik seperti halnya
posisi-posisi yang dilihat dari merek-merek yang berbeda.
h. Memilih strategi penentuan posisi (Selecting positioning strategies)
Keputusan akhir tentang di mana memposisikan merek atau memposisikan
kembali merek yang ada seharusnya didasarkan pada analisis penentuan pasar
sasaran. Posisi yang telah dipilih seharusnya sesuai dengan preferensi segmen
pasar tertentu dan memperhitungkan posisi sekarang dari setiap merek-merek
pesaing. Posisi yang telah dipilih seharusnya juga mencerminkan daya tarik
sekarang juga masa depan pasar sasaran (ukuran, prospek pertumbuhan dan
hambatan lingkungan) dan kekuatan dan kelemahan relatif pesaing.

Pendekatan-Pendekatan Dalam Melakukan Positioning (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler (2004:345) terdapat tujuh pendekatan dalam melakukan
positioning, yaitu :
a. Penentuan posisi berdasarkan atribut
Penempatan dilakukan dengan jalan perusahaan memposisikan diri menurut
atribut, seperti ukuran, lama keberadaannya. Disney dapat mengiklankan
dirinya sebagai taman hiburan yang terbesar di dunia.
b. Penentuan posisi menurut manfaat
Produk diposisikan sebagai pemimpin pasar dalam suatu manfaat tertentu.
Misalnya, Knotts Berry Farm dapat memposisikan diri sebagai taman hiburan
16
bagi orang-orang yang mencari pengalaman fantasi seperti hidup di jaman
koboi.
c. Penentuan posisi menurut penggunaan/penerapan
Memposisikan produk sebagai yang terbaik untuk sejumlah penggunaan atau
penerapan. Misalnya, Japanese Deer Park memposisikan dirinya untuk
wisatawan yang hanya mempunyai waktu satu jam dan ingin memperoleh
hiburan singkat.
d. Penentuan posisi menurut pemakai
Memposisikan produk sebagai yang terbaik dari sejumlah kelompok pemakai.
Taman Safari dapat mengiklankan diri sebagai taman tempat rekreasi
keluarga.
e. Penentuan posisi menurut pesaing
Produk memposisikan dirinya lebih baik dari pesaing. Misalnya, Honda
menyatakan dirinya lebih baik dari Suzuki.
f. Penentuan posisi menurut kategori produk
Produk diposisikan sebagai pemimpin suatu kategori produk. Teh Botol Sosro
sebagai pemimpin pasar minuman teh dalam kemasan botol.
g. Penentuan posisi berdasarkan mutu/harga
Produk diposisikan menawarkan nilai terbaik. Komputer IBM diposisikan
sebagai produk berkualitas dengan harga mahal.
Untuk membangun suatu positioning yang tepat menurut Kartajaya
(2004:4), ada empat hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
a. Positioning harus dapat dipersepsisecara positif oleh para konsumen sehingga
akan menjadi reason to buy (alasan untuk membeli) konsumen.
b. Positioning seharusnya mencerminkan kekuatan dan keunggulan kompetitif
perusahaan.
c. Positioning haruslah bersifat unik sehingga dapat dengan mudah
mendiferensiasikan diri dari para pesaing.
d. Positioning harus berkelanjutan dan selalu relevan dangan berbagai perubahan
dalam lingkungan bisnis

Pengertian Hipotesis (skripsi dan tesis)

Hipotesis Penelitian adalah jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian. Oleh karena itu, perumusan hipotesis sangat berbeda dari perumusan pertanyaan penelitian. Perumusan hipotesis penelitian yang benar harus memenuhi ciri-ciri hipotesis berikut :
1. Hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan deklaratif (declarative statements), bukan kalimat pertanyaan.
2. Hipotesis berisi pernyataan mengenai hubungan antara paling sedikit dua variabel.
3. Hipotesis harus dapat diuji (testable). Hipotesis yang dapat diuji akan secara spesifik menunjukkan bagaimana variabel-variabel penelitian itu diukur dan bagaimana prediksi hubungan antar variabel-variabel termaksud

Langkah-Langkah Dalam Analisis Analytical Hierarchy Process/AHP (skripsi dan tesis)

Menurut Suryadi and Ramdhani (2002) langkahlangkah dalam metode AHP adalah sebagai berikut: 1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi/tujuan yang diinginkan

2. Membuat struktur hierarki, yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan dengan sub-sub tujuan, kriteria dan kemungkinan alternatif pada tingkatan kriteria yang paling bawah.

3. Membuat matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan kriteria yang setingkat diatasnya. Perbandingan dilakukan berdasarkan “judgment” dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya.

4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh judgment seluruhnya sebanyak n x [(n1)/2] buah dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan.

5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya, jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi.

6. Mengulangi langkah 3, 4 dan 5 untuk seluruh tingkat hierarki.

7. Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan. Nilai vektor eigen merupakan bobot setiap elemen. Langkah ini untuk mensintesis judgment dalam penetapan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai pencapaian tujuan.

8. Menguji konsistensi hierarki. Jika nilainya lebih dari 10% maka penilaian data judgment harus diperbaiki.

Suatu matriks yang dihasilkan dari perbandingan yang dilakukan secara acak merupakan suatu matriks yang mutlak tak konsisten. Dari matriks acak tersebut didapatkan pula nilai Consistency Index (CI), yang disebut dengan Random Index (RI). Dengan membandingkan CI dengan RI maka didapatkan acuan untuk menentukan tingkat konsistensi suatu matriks, yang disebut dengan Consistency Ratio (CR), melalui persamaan (1): ………… (1) Saaty (1995) menerapkan bahwa suatu matriks perbandingan adalah konsisten bila nilai CR tidak lebih dari 0,1 atau 10%. Dengan naluri, manusia dapat memperkirakan besaran sederhana melalui inderanya. Proses yang mudah adalah dengan membandingkan dua hal dengan keakuratan perbandingan yang dapat dipertanggungjawabkan. Untuk menilai perbandingan tingkat kepentingan elemen, Saaty (1995) menetapkan skala kuantitatif 1 (satu) sampai 9 (sembilan)

Pelaksanaan Tahapan Survei (skripsi dan tesis)

Secara umum tahapan survei yang perlu dilakukan untuk mendapat kualitas data yang baik adalah sebagai berikut:

1. Perumusan tujuan pelaksanaan survei

Hal yang pertama kali dilakukan dalam survei adalah menyusun tujuan dan topik yang akan diteliti. Dari kejelasan tujuan tersebut dapat diketahui sasaran/objek dari survei serta data-data apa saja yang ingin diketahui dari responden untuk mencapai tujuan survei, sehingga proses survei yang akan dilakukan dapat lebih terarah.

2.  Pemilihan metode survei

Metode survei yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan dari survei. Terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan dalam survei, yaitu melalui metode pengisian kuesioner secara langsung, wawancara personal, wawancara melalui telepon, surat, email, atau internet. Dengan adanya pemilihan metode survei, maka dapat diestimasi berapa jumlah responden sehingga dapat diestimasi pula berapa orang pelaksana survei dan berapa biaya yang dikeluarkan. Hal-hal yang dijadikan pertimbangan dalam pemilihan metode survei adalah ketersediaan sumber daya, sensitivitas pertanyaan, banyaknya waktu yang diperlukan, kompleksitas pertanyaan, dan karakteristik responden.

3. Pelaksanaan survei awal

Pelaksanaan survei awal dilakukan untuk mengetahui kondisi umum daerah penyebaran kuesioner sehingga dapat mengefektifkan pelaksanaan survei. Beberapa hal yang perlu diketahui pada survei awal ini adalah waktu yang dapat digunakan responden untuk pengisian kuesioner/wawancara, tingkat ekonomi dan pendidikan responden, bahasa yang digunakan responden, kebiasaan atau karakter responden yang terkait dengan survei, serta mencari orang yang berpengaruh pada populasi responden sehingga mempermudah perizinan pelaksanaan survei dan pelaksanaan surveinya.

4. Pembuatan design kuesioner

Terdapat tiga jenis pertanyaan dalam kuesioner, yaitu multiple choice, numeric open end, dan text open end. [16] Untuk jenis multiple choice, terdapat pertanyaan yang mengandung skala, yaitu skala kualitas dan skala pernyataan kesetujuan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam men-design kuesioner adalah:

  • Pertanyaan yang diajukan terurut sesuai grup topik pertanyaan dengan memposisikan grup terpenting pada posisi awal setelah penjelasan survei.
  • Kuesioner dilengkapi dengan penjelasan mengenai tujuan survei sehingga responden dapat memfokuskan jawaban sesuai dengan tujuan.
  • Untuk jenis pertanyaan pilihan ganda, berikan pilihan jawaban dengan jelas dan singkat serta memuat pilihan bebas (contoh: dan lain-lain, tidak tahu) sehingga memudahkan responden dalam mengisi.
  • Design kuesioner dibuat semenarik mungkin dengan jenis, ukuran, dan spasi tulisan yang tidak menimbulkan rasa enggan responden untuk mengisinya.
  • Setiap jenis pertanyaan diberikan petunjuk cara pengisian secara jelas.
  • Pertanyaan dan pilihan jawaban tidak memuat kata yang sulit dimengerti dan atau memiliki makna ganda (ambigu).
  • Setiap pertanyaan bebas, tidak terkait dengan pertanyaan selanjutnya.
  • Rentang waktu maksimal pengisian kuesioner antara 10-15 menit.
  • Berikan ucapan terima kasih pada akhir kuesioner.

5. Pelaksanaan dan evaluasi pilot survei (pre-test)

Pilot survei dilakukan untuk melihat apakah responden dapat memahami isi dari kuesioner sesuai dengan yang diharapkan peneliti. Sampel yang digunakan dalam pilot survei tidak harus banyak tetapi cukup dianggap mewakili karakteristik responden. Selain itu, pilot survei pun dapat dijadikan bahan masukan bagi tim survei mengenai bagaimana karakteristik responden. Dari pilot survei yang telah dilakukan, harus dievaluasi untuk melihat apakah kuesioner yang telah dibuat dapat dipahami responden sesuai dengan tujuan peneliti sehingga menghasilkan data yang valid. Jika terdapat hal-hal yang menyebabkan perbedaan persepsi maka harus dilakukan pengubahan isi kuesioner agar dapat dipahami. Setelah itu, dilakukan kembali pilot survei untuk memastikan kuesioner yang digunakan menghasilkan data yang valid.

6. Pembekalan tim survei

Sebelum melakukan survei, tim survei hendaknya diberi pembekalan mengenai teknik-teknik melakukan survei, seperti bagaimana cara berkomunikasi terhadap responden, sopan santun dan etika bertanya, penjelasan mengenai isi wawancara/kuesioner, dan hal-hal teknis lain yang terkait dengan pelaksanaan survei di lapangan.

7. Pelaksanaan survei

8. Entri dan pengolahan data

Hasil data yang didapat dari survei kemudian di-entri dan diolah dengan metode pengolahan data yang tepat sehingga dapat dihasilkan interpretasi data yang jelas sesuai dengan tujuan survei.

9. Analisis data

Melakukan analisis terhadap hasil pengolahan data sehingga dapat diperoleh informasi yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan survei.

10.  Penyajian hasil survei

Hal terakhir yang dilakukan dalam survei adalah menyajikan hasil pengolahan data beserta analisisnya kepada pihak-pihak terkait agar dapat dijadikan referensi data untuk mengambil suatu kebijakan atau solusi pada masalah yang terkait dengan survei.

Penelitian Kualitatif (skripsi dan tesis)

Pendekatan penelitian kualitatif sering disebut dengan naturalistic inquiry (inkuiri alamiah). Apapun macam, cara atau corak analisis data kualitatif suatu penelitian, perbuatan awal yang senyatanya dilakukan adalah membaca fenomena. Setiap data kualitatif mempunyai karakteristiuknya sendiri. Data kualitatif berada secara tersirat di dalam sumber datanya. Sumber data kualitatif adalah catatan hasil observasi, transkrip interviu mendalam (depth interview), dan dokumen-dokumen terkait berupa tulisan ataupun gambar.

Karakteristik Penelitian Kualitatif

Setting/latar alamiah atau wajar dengan konteks utuh (holistik).

  1. Instrumen penelitian berupa manusia (human instrument).
  2. Metode pengumpulan data observasi sebagai metode utama.
  3. Analisis data secara induktif.
  4. Proses lebih berperanan penting daripada hasil.
    1. Penelitian dibatasi oleh fokus.
    2. Desain penelitian bersifat sementara.
    3. Laporan bernada studi kasus.
    4. Interpretasi ideografik.

Metode Pengumpulan Data

  1. Pengamatan dengan berpartisipasi (Participant Observation)
  2. Wawancara Mendalam (Indepth Interview)
  3. Penyelidikan Sejarah Hidup (Life Historical Investigation)
  4. Analisis Konten (Content Analysis

Ukuran Sampel Untuk Uji Validitas (skripsi dan tesis)

Salgado (1998) dalam kajiannya menyebutkan bahwa ukuran sampel merupakan masalah pertama dalam melakukan proses validasi karena kesulitan dalam memperoleh sampel dengan jumlah yang sesuai. Nunnally (1994) merekomendasikan 10 x jumlah item untuk penggunaan analisis faktor.  Sapnas dan Zeller (2002) berpendapat bahwa ukuran sampel 50 cukup memadai untuk mengevaluasi sifat psikometrik pada ukuran konstruk sosial. Thompson, (2004) menyebutkan bahwa setidaknya 200 responden yang dijadikan  sampel untuk mencapai stabilitas melalui analisis faktor. Meyers, Gamst, Guarino, (2006) menunjukkan bahwa ukuran sampel yang sesuai tergantung pada jumlah item yang tersedia yaitu untuk 10 item diperlukan 200 sampel, 25 item diperlukan 250 sampel, 90 item dibutuhkan 400 sampel, dan seterusnya.

Review yang dilakukan oleh Anthoine, dkk (2014) pada sebuah instrumen di bidang kesehatan menyebutkan bahwa Validitas isi, validitas konstruk, validitas kriteria dan konsistensi internal yang paling umum digunakan dalam studi validasi. Dari 114 artikel yang direview,  sekitar 92% dari artikel melaporkan rasio sampel dan jumlah variabel lebih besar dari atau sama dengan 2, sedangkan 25% memiliki rasio lebih besar dari atau sama dengan 20. Sekitar 90% dari artikel memiliki ukuran sampel yang lebih besar dari atau sama dengan 100, sedangkan 7% memiliki ukuran sampel yang lebih besar dari atau sama dengan 1000

Tahap perancangan kuesioner (skripsi dan tesis)

Dalam pengumpulan data primer dengan menggunakan kuesioner, pertanyaan sama pentingnya dengan jawaban/tanggapan. Pertanyaan yang salah dapat menyebabkan jawaban yang tidak diinginkan. Pertanyaan yang ambigu atau tidak jelas dapat menyebabkan jawaban yang tidak tepat. Pertanyaan yang bersifat pribadi, bila diajukan dengan tidak tepat, dapat menyebabkan keengganan untuk menjawab. Pertanyaan yang bias, dapat menyebabkan jawaban yang terarah atau tidak netral. Untuk mencegah hal-hal tersebut, kuesioner perlu dirancang dengan baik. Berikut lima tahap perancangan kuesioner:

  1. Materi: Penentuan apa yang ditanyakan. Pertimbangan utama dalam hal ini adalah relevansi dan akurasi. Relevansi berarti tidak memasukkan pertanyaan yang tidak perlu, sedangkan akurasi berarti penggunaan kata-kata yang tepat dan tidak mengarahkan untuk menyampaikan pesan yang tepat kepada responden.
  2. Kalimat: Penentuan kalimat pertanyaan yang tepat. Pertanyaan dapat diajukan baik sebagai pertanyaan terbuka maupun pilihan ganda. Pertanyaan terbuka digunakan untuk eksplorasi gagasan, tapi biasanya sulit untuk disimpulkan. Di sisi lain, pertanyaan pilihan ganda hanya sedikit memberikan peluang eksplorasi, tetapi mudah untuk disimpulkan.
  3. Urutan: Disarankan untuk mencantumkan pertanyaan yang menarik pada bagian awal untuk mendorong responden mengisi kuesioner.
  4. Tata letak: Usahakan untuk membuat tata letak yang rapi dan sederhana. Dalam bentuk cetak, usahakan agar kuesioner tidak melebihi panjang 7 halaman.
  5. Pengujian: Lakukan pengujian untuk mendapatkan masukan tentang relevansi, akurasi, kalimat, urutan, dan tata letak.

PENELITIAN KUANTITATIF (skripsi dan tesis)

 

Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang dimaksud untuk mengungkapkan gejala secara holistik-konstektual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian kuantitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif lebih menonjol disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan ciri-ciri naturalistik yang penuh dengan nilai-nilai otentik.

Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menitikberatkan pada pengukuran dan analisis hubungansebab-akibat antara bermacam-macam variabel, bukan prosesnya, penyelidikan dipandang berada dalam kerangka bebas nilai

Tujuan Penelitian (skripsi dan tesis)

Apapun jenis penelitian pastinya memiliki sebuah tujuan penelitian, penelitian tanpa adanya sebuah tujuan maka tidak ada hasil dan juga kesimpulan. Jadi, tujuan dari penelitian merupakan rumusan hasli dari penelirian yang sudah di rumuskan oleh para peneliti sejak awal, dengan cara analisis latar belakang permasalahan di dalam penelitian.

Tujuan- tujuan secara umum dari penelitian:

  • Agar bisa mendapatkan sebuah pengetahuan maupun penemuan yang baru.
  • Untuk bisa membuktikan dan menuji dari kebenaran dari bidang ilmu yang telah ada.
  • Supaya dapat mengembangkan ilmu yang telah ada.

Untuk tiga poin di atas memang sudah di ulas pada paragraph sebelumnya, sedangkan untuk tujuan dari penelitian yang lebih rinci lagi terbagi menjadi 2 bagian. yakni:

  • Tujuan penelitian secara teoritis

Tujuan penelitian secara teoritis adalah sebuah usaha agar dapat mengetahui suatu hal. Namun, pengetahuan yang di dapatkan dari sebuah penelitian tidak akan di gunakan secara langsung dan secara praktis. Penelitian juga memiliki nama lain yakni pure research dan basic research.

  • Tujuan penelitian secara praktis

Tujuan penelitian secara praktis ialah mencari serta menemukan ilmu yang bisa di gunakan langsung di dalam kehidupan. Penelitian yang sepert ini sering di sebuat dengan applied research. Tujuan penelitian secara parktis juga ada beberapa hal yang di perlu di ketahui, yakni:

  • Tujuan eksploratif, yakni merupakan kegiatan dari penelitian yang di lakukan karena memiliki tujuan agar bisa menemukan pengetahuan yang baru dan juga belum ada penelitian sebelumnya.
  • Tujuan verifikatif, maksudnya adalah kegiatan penelitian ini memiliki sebuah tujuan untuk menguji dan membuktikan dari sebuah kebenaran ilmu pengetahuan yang telah ada.
  • Tujuan pengembangan, yaitu kegiatan penelitian yang di laksanakan dengan tujuan agar bisa mengembangkan dan menggali lebih dalam dari sebuah penelitian dan pengetahuan yang sudah di lakukan sebelumnya

Ciri Metode Penelitian (skripsi dan tesis)

Berikut beberapa ciri khas berbagai metode penelitian:

Ciri Metode Penelitian Kualitatif

  1. Proses pengumpulan data menggunakan kondisi real atau alamiah.
  2. Proses pengumpulan data dilakukan langsung oleh peneliti sendiri, sehingga dalam hal ini peneliti terlibat langsung ketika melakukan pengumpulan data, baik itu ketika proses pengamatan maupun wawancara.
  3. Bukan hasil melainkan proses merupakan hal yang diutamakan dalam metode peneltian kualitatif.

Ciri Metode Penelitian Kuantitatif

  1. Umumnya digunakan untuk menguji teori yang sebelumnya telah ada.
  2. Instrumen yang digunakan umumnya menggunakan kuisioner juga angket.
  3. Topik yang diangkat umunya tentang keterkaitan antara satu hal dengan lainnya. Oleh karenanya metode penelitian kuantitatif bekerja dengan basis variable atau membutuhkan parameter sebagai objek penelitiannya.

Jenis Metode Penelitian (skripsi dan tesis)

Jenis Metode Penelitian : Kualitatif

Metode Penelitian Kualitatif adalah suatu metode penelitian yang berfokus pada pemahaman terhadap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Pada metode penelitian ini, peneliti menggunakan perspektif dari partisipan masyarakat sebagai gambaran yang diutamakan dalam memperoleh hasil penelitian.

Perlu diketahui bahwa penelitian ini berangkat dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas dan berakhir dengan sebuah teori. Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menjelaskan suatu fenomena dengan sedalam – dalamnya dengan cara pengumpulan data yang sedalam – dalamnya juga, yang menunjukkan pentingnya kedalaman serta detail suatu data yang akan diteliti.

Pada penelitian ini, semakin mendalam, teliti, dan tergali suatu data yang didapatkan, maka dapat diartikan bahwa semakin baik kualitas pada penelitian tersebut. Maka dari itu segi besarnya responden atau objek penelitian dengan menggunakan metode ini memiliki objek yang lebih sedikit dibandingkan dengan penelitian kuantitatif, karena lebih mengedepankan kedalaman data, bukan kuantitas data.

Jenis Metode Penelitian : Kuantitatif

Sedangkan pada penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang bersifat sistematis dan menggunakan model – model yang bersifat matematis. Teori – teori yang digunakan serta hipotesis yang diajukan juga biasanya berkaitan dengan fenomena alam.

Bisa juga penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat menganalisis keterangan mengenai apa yang ingin diketahui.
Kebalikan dengan kualitatif, penelitian dengan menggunakan metode ini memiliki objek yang lebih banyak dibandingkan dengan penelitian kualitatif, karena lebih mengedepankan kuantitas data, bukan kualitas data.

Pengertian Abstrak (skripsi dan tesis)

Pengertian abstrak adalah tulisan singkat yang berisi gambaran secara menyeluruh mengenai aktivitas / kegiatan penelitian yang dilakukan. Abstrak biasanya diletakkan di bagian awal sebuah karya ilmiah atau pun laporan hasil penelitian sebagai informasi awalan bagi para pembaca.

Abstrak biasanya dibuat dalam dua bahasa yaitu bahasa Inggris (bahasa general) dan bahasa ibu tempat laporan penelitian atau pun karya ilmiah tersebut dibuat. Penggunaan dua bahasa ini dimaksudkan agar karya ilmiah atau pun laporan penelitian dapat digunakan baik oleh orang-orang yang berasal dari negara tempat laporan penelitian tersebut dibuat, maupun oleh orang-orang yang berasal dari negara di luar tempat laporan penelitian tersebut dibuat

Fungsi Abstrak (skripsi dan tesis)

 

Dalam dunia penelitian, abstrak memiliki beberapa fungsi dasar sebagai berikut :

  1. Komponen Utama Laporan Hasil Penelitian

Dalam setiap laporan hasil penelitian, abstrak berfungsi sebagai salah satu komponen yang harus ada di bagian awal laporan hasil penelitian. Tanpa keberadaan abstrak, sebuah laporan hasil penelitian menjadi tidak lengkap sehingga sulit lebih sulit untuk dipelajari.

  1. Gambaran Umum Mengenai Isi Laporan Penelitian

Fungsi abstrak dalam penelitian yang kedua adalah sebagai gambaran umum mengenai isi laporan penelitian. Seperti yang telah dijelaskan di atas, abstrak merupakan tulisan singkat yang isinya adalah gambaran umum mengenai isi laporan penelitian. Tanpa abstrak, sebuah laporan penelitian menjadi lebih sulit untuk dipelajari (untuk mempelajarinya harus melihat seluruh bagian isi laporan penelitian terlebih dahulu).

  1. Bahan Pertimbangan bagi Pembaca

Fungsi abstrak yang ketiga adalah sebagai bahan pertimbangan bagi para pembaca laporan penelitian. Sebelum membaca keseluruhan isi, pembaca laporan penelitian dapat membaca abstrak terlebih dahulu untuk mengetahui apakan isi atau pun bahasan laporan penelitian sesuai atau tidak dengan apa yang dicari oleh pembaca.

Jenis-Jenis Observasi (skripsi dan tesis)

Jenis-jenis obervasi berdasarkan pelaksanaanya terbagi ke dalam dua jenis yaitu:

Observasi Partisipasi
Observasi Pastisipasi merupakan observasi dimana peneliti atau observer turut terlibat langsung dalam kegiatan observasi di tempat kejadian. peneliti bertindak menjadi observer dan menjadi komponen dari kelompok yang ditelitinya.
Kelebihan dari jenis ini ialah peneliti menjadi komponen integral dari berbagai keadaan yang dipelajari dilapangan, alhasil kehadirannya juga tidak mempengaruhi keadaan di tempat kejadian.

Observasi Non Partisipasi
observasi Non partisipasi merupakan observasi yang saat pelaksanaannya tidak melibatkan peneliti selaku observer atau kelompok yang diteliti, penelitian jenis ini banyak dilakukan di masa sekarang, hanya saja kelemahannya ialah keberadaan pengamat dikhawatirkan bisa mempengaruhi tingkah laku atau perilaku orang yang diamati.

Karakteristik Karya Ilmiah (skripsi dan tesis)

Sebuah karya tulis disebut sebagai karya ilmiah apabila karya tersebut memenuhi beberapa karakteristik. Davis dan Cosenza (1993) menyebutkan enam karakteristik yang meliputi: (1) logis, (2) konseptual-teoritis, (3) kritis-analitis, (4) obyektif, (5) empiris, dan (6) sistematis. Sedangkan Sekaran (2003) mengidentifikasikan delapan karakteristik, terdiri dari (1) kejelasan tujuan (purposiveness), (2) tingkat kehati-hatian (rigor), (3) teruji (testability), (4) kemampuan untuk diulang (replicability), (5) ketepatan dan kepercayaan (precision and confidence), (6) objektif (objectivity), (7) kemampuan untuk digeneralisasi (generalizability) dan (8) penyederhanaan (parsimony).

Definisi Karya Ilmiah (skripsi dan tesis)

Penelitian menurut Sekaran (2003) didefinisikan sebagai upaya yang terorganisir dan sistematis untuk menginvestigasi masalah spesifik yang membutuhkan suatu solusi. Penulis lainnya mendefinisikan penelitian sebagai sebuah proses investigasi ilmiah terhadap sebuah masalah yang dilakukan secara terorganisir, sistematik, berdasarkan pada data yang terpercaya, bersifat krtikal dan objektif yang memiliki tujuan untuk menemukan jawaban atau pemecahan atas satu atau beberapa masalah yang diteliti. Hasil dari penelitian tersebut dituangkan dalam karya tulis ilmiah. Karya tulis ilmiah atau tulisan akademik atau tulisan argumentasi merupakan gabungan narasi, deskripsi, dan eksposisi yang penulisannya didasarkan pada suatu penalaran atau logika tertentu, didukung bukti (evidence), dan disertai dengan argumen. Penalaran atau logika berhubungan dengan keabsahan penarikan kesimpulan, sedangkan argumen berhubungan dengan kebenaran premis yang digunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan. Tulisan argumentasi bertujuan untuk mengubah sikap dan pendapat orang lain dengan menggunakan prinsip-prinsip logika sebagai alat bantu utama. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh penulis dalam membuat tulisan argumentasi: (1) mendasarkan pada fakta/informasi, bukti, dan konstelasi faktual/informasi; (2) mempertimbangkan pandangan-pandangan atau pendapat-pendapat yang bertentangan; (3) mengemukakan pokok persoalan dengan jelas; (4) menyelidiki persyaratan-persyaratan yang masih diperlukan; (5) mengandung kebenaran; (6) menghindari penggunaan istilah yang dapat menimbulkan prasangka; (7) memberikan batasan pada istilah yang dapat menimbulkan ketidaksepakatan.

Pengertian Tujuan Penelitian (skripsi dan tesis)

Tujuan penelitian adalah suatu indikasi ke arah mana penelitian itu dilakukan atau data-data serta informasi apa yang ingin dicapai dari penelitian itu. Tujuan penelitian dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang konkret, yang dapat diamati dan dapat di ukur. Jadi bukan kalimat tanya.

Tujuan penelitian ini ada tiga macam. Penelitian pada umumnya bertujuan untuk menemukan ilmu yang baru, mengembangkan pengetahuan yang sudah ada dan yang terakhir untuk menguji pengetahuan yang ada.

Sedangkan menurut beberapa ahli mengatakan bahwa tujuan penelitian di bedakan menjadi:

  1. Eksploratif ialah penelitian yang bertujuan untuk menemukan suatu pengetahuan baru yang belum pernah ada.
  2. Verifikasi yaitu penelitian yang bertujuan untuk menguji suatu teori yang sudah ada. Sehingga di temukannya suatu hasil penelitian yang dapat menggugurkan atau memperkuat pengetahuan atau teori yang sudah ada.
  3. Development yaitu penelitian yang memiliki tujuan untuk mengembangkan penelitian yang sudah ada.

Biasanya juga tujuan penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum adalah tujuan penelitian secara keseluruhan dari yang ingin dicapai dalam penelitian itu sendiri. Tujuan khusus adalah tujuan yang lebih spesifik. Umumnya tujuan khusus menggunakan kata-kata operasional sehingga lebih jelas untuk dicapai. Dan tujuan khusus pada hakikatnya penjabaran dari tujuan umum. Apabila tujuan umum suatu penelitian tidak bisa atau tidak perlu di spesifikasikan lagi maka tidak perlu adanya tujuan umum dan tujuan khusus, cukup dibuat tujuan penelitian saja.

Dalam merumuskan suatu tujuan penelitian, kita harus berpedoman pada rumusan masalahnya. Tujuan yang keluar dari rumusan masalah dapat menyesatkan kita dalam membuat penelitian. Karena rumusan masalah dapat berbentuk deskriptif, komparatif dan asosiatif, maka tujuan umum dan khusus penelitian harus berbentuk dan sesuai dengan rumusan masalah tadi. Meskipun seperti itu dalam sebuah penelitian atau penulisan karya tulis ilmiah tidak harus ada tujuan umum dan tujuan khusus. Jika tujuan umum yang dibuat sudah spesifik maka tidak perlu membuat tujuan khususnya. Begitu pun sebaliknya jika kita sudah membuat tujuan yang spesifik maka tidak perlu membuat tujuan umum. Cukup menuliskan dengan tujuan penelitian saja.

Pengertian penelitian survey (skripsi dan tesis)

Penelitian Survey adalah jenis penelitian yang mengumpulkan informasi tentang karakteristik, tindakan, pendapat dari sekelompok responden yang representative yang dianggap sebagai populasi. Penelitian Survei adalah suatu penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok, lazimnya dengan menguji hipotesis..

Karakteristik Ilmiah Penelitian Survei (skripsi dan tesis)

Logic. Dilandasi dengan kerangka pikiran yang nalar, runtut, dan sistematis

Deterministic. Bukan saja melukiskan fakta secara deskriptif, namun dapat pula melalui analisis ausalitas.

General. Hasilnya dapat digeneralisasikan pada wilayah yang lebih luas

Parsimonious. Dalam waktu singkat, dapat menghasilkan banyak informasi dan dapat dimanfaatkan untuk banyak tujuan.

Spesifik. Berasal dari permasalahan yang dipilih secara spesifik.

Proses penelitian survey (skripsi dan tesis)

Penjelasan bahwa penelitian semestinya dimulai dengan niat dan minat adalah penjelasan untuk memotivasi peneliti agar selalu konsisten dalam penelitiannya. Dari minat, proses penelitian berkembang ke munculnya gagasan, kemudian teori, memilih metode atau bagaimana penelitian dilakukan, dan seterusnya. Proses tersebut memang normatif. Saya tidak perlu menjelaskan secara panjang lebar. Pembaca bisa menemukan motivasinya dari dalam diri.

Apa yang tidak kalah penting tentu saja proses teknis penelitian ilmiah, khususnya penelitian survey. Beberapa langkah teknis sederhana namun ideal yang bisa ditempuh dalam metode penelitian survey, antara lain:

1)      Merumuskan masalah penelitian dan menuliskan tujuan penelitian survey.

2)      Menuliskan manfaat penelitian survey secara akademik dan atau secara praktis.

3)      Menentukan konsep dan hipotesis penelitian jika diperlukan.

4)      Mengumpulkan informasi dari hasil penelitian-penelitian terkait yang sudah dilakukan sebelumnya.

5)      Menentukan sampel penelitian.

6)      Membuat angket atau kuesioner.

7)      Mengumpulkan data, termasuk pula memberi penjelasn pada asisten peneliti yang mengumpulkan data bila punya asisten peneliti.

8)      Mengolah dan menganalisis data secara manual atau dengan komputer.

9)      Melaporkan hasil penelitian secara tertulis.

Jenis-jenis metode penelitian survey (skripsi dan tesis)

Metode eksplorarif

Metode ini bisa disebut pula metode penjajagan. Artinya, survey dilakukan untuk mencari informasi awal yang masih samar-samar. Peneliti menerapkan metode survey eksploratif karena pengetahuan tentang masalah yang hendak diteliti masih dangkal. Sebagai contoh, penelitian tentang partisipasi politik anak muda. Oleh karena peneliti belum memiliki cukup informasi untuk melakukan studi secara komprehensif, maka pertanyaan yang diajukan dalam metode ini seperti: ”menurut Anda, seperti apa tingkat partisipasi politik anak muda saat ini?”

Metode deskriptif

Metode ini dilakukan untuk melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial tertentu, kemudian dijelaskan secara deskriptif atau naratif. Misalnya, penelitian tentang menyebarluasnya berita hoax di media sosial. Peneliti melakukan survey untuk mengetahui apakah pengguna sosmed yang dijadikan sampel selalu tabayyun atau menguji terlebih dahulu keberanan setiap berita yang diterimanya melalui sosmed. Penyebarluasan hoax bisa diukur dengan berapa jumlah berita palsu yang menyebar dalam kurun waktu tertentu, berapa share dalam satu postingan, dan sebagainya.

Metode penjelasan atau eksplanatori

Metode ini hampir sama dengan metode deskriptif. Bedanya, metode survey eksplanatori menekankan pada pencarian hubungan kausalitas atau sebab-akibat antara variabel-variabel yang diteliti. Ambil contoh yang sama dengan sebelumnya, yaitu penyebarluasan berita hoax di sosmed. Peneliti menerapkan metode penjelasan ketika ingin menguji hipotesisnya yang mengatakan bahwa penyebarluasan berita hoak disebabkan oleh minimnya upaya untuk menguji kebenaran berita yang diterima melalui sosmed. Di sini kita bisa membedakan antara metode deskriptif dan metode penjelasan. Metode deskripsi menekankan pada deskripsi hasil analisis datanya. Sedangkan metode eksplanatori menekankan pada hubungan kausalitas dari hasil analisis datanya.

Metode evaluasi

Metode ini digunakan untuk penelitian evaluatif. Umumnya, metode survey evaluasi diterapkan pada riset untuk evaluasi program. Pertanyaan penelitian yang bisa dirumuskan misalnya, apakah program yang dilaksanakan sudah mencapai target? Penelitian survey untuk tujuan evaluasi umumnya adalah rangkaian dari penelitian yang lebih komprehensif atau bagian dari program tertentu.

Metode prediksi

Metode ini dilakukan untuk memprediksi tren fenomena sosial ke depan. Contoh mudah dari metode survey prediksi adalah penelitian yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survey menjelang pemilu atau pilkada. Hasil penelitian metode survey preditif selalu menunjukkan tren atau gambaran masa depan yang mungkin terjadi. Misalnya, elektabilitas bakal calon presiden baru lebih tinggi daripada incumbent.

Metode operasional

Metode survey operasional digunakan untuk mendeteksi variabel-variabel operasional dari suatu program yang diteliti. Sebagai contoh, mengapa implementasi program ’satu orang satu suara’ dalam pelaksanaan pilkada serentak berbeda tiap daerah. Variabel operasional diteliti satu-persatu untuk mendeteksi apa yang mendorong munculnya perbedaan hasil tersebut. Misalnya, hasilnya adalah di beberapa daerah, pemimpin informal seperti ketua adat lebih dihormati ketimbang pemimpin formal seperti pejabat daerah.

Metode pengembangan

Metode survey untuk pengembangan umumnya dilakukan untuk mengembangkan indikator-indikator sosial. Contoh penyelenggaraan penelitian menggunakan metode survey ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Biro Pusat Statistik (BPS). Secara berkala, BPS melakukan survey tentang angkatan kerja, kondisi sosial ekonomi, bahkan sensus penduduk untuk mengetahui indikator-indikator sosial yang bisa dikembangakan ke depan

Langkah-Langkah Dalam Penelitian Survei (skripsi dan tesis)

Scott (1967) menyatakan bahwa terdapat sepuluh langkah yang perlu diperhatikan agar suvai dapat dilakukan dengan baik. Kesepuluh langkah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Mempelajari situasi dan masalah

Sebelum menentukan tujuan yang pasti mengenai survei yang akan dilakukan, peneliti perlu mempertimbangkan berbagai faktor yang terkait dengan situasi local dan mempelajari masalah yang kemungkinan terjadi pada lokasi dimana survei akan dilaksanakan.

  1. Menetapkan tujuan

Penetapan tujuan survasi dilakukan dalam rangka menunjukkan focus perhatian dan upaya yang akan dilakukan. Dalam tahap ini juga perlu diperhatikan sumber informasi, arahan terhadap laporan yang akan dibuat, dasar interprestasi, dan sifat rekomendasi yang akan diberikan.

  1. Mempertimbangkan tipe, ruang lingkup dan karakteristik komunitas

Peneliti perlu memahami secara mendalam tentang tipe, ruang lingkup dan karakteristik komunitas yang akan menjadi lokasi survei. Hal ini diperlukan sebagai pertimbangan peneliti dalam rangka mengatasi masalah yang akan dihadapi dan persiapan teknik operasional kegiatan survei menyangkut personil, keuangan, perlengkapan, akomodasi, dan sebagainya. Perencanaan yang akurat mengenai berbagai aspek tersebut akan sangat membantu peneliti dan memperlancar survei yang akan dilaksanakan.

  1. Menggalang kerjasama

Sebagaimana jenis penelitian lainnya, survei juga memerlukan kerjasama dengan sejumlah orang. Selain perlu melibatkan para pakar atau tenaga ahli dari luar lokasi, alangkah baiknya jika dalam kegiatan survei dilibatkan pula personil dari lokasi setempat yang memenuhi syarat kualifikasi tertentu sesuai dengan kebutuhan penelitian.

  1. Menyeleksi personil yang akan dilibatkan dalam kegiatan survei

Personil yang akan dilibatkan dalam kegiatan survei perlu diseleksi sesuai dengan tingkat kepakaran yang dimilikinya. Misalnya kemampuan dan pengalaman mereka mengenai teknik survei, penguasaan teknik pengumpulan data dari lokasi survei melalui wawancara, observasi dan sebagainya. Untuk personil lokasi, selain perlu memiliki kemampuan juga harus dapat diterima oleh orang-orang setempat.

  1. Mencari sumber data

Peneliti perlu mencari sumber data yang akurat, otentik dan sesuai dengan kebutuhan penelitian yang dilakukan. Penelitian survei terkadang memerlukan sumber data atau informasi yang begitun luas mencakup sumber dokumen (arsip, laporan, film, dokumen tercetak), manusia (siswa, pengajar, pimpinan), fasilitas dan perlengkapan, serta unsur alami (topografi, iklim, tanah, air, dan sebagainya).

  1. Mengumpulkan data

Jika sumber data untuk penelitian survei sudah ditetapkan maka selanjutnya perlu dipilih teknik yang tepat untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Teknik pengumpulan data mungkin bisa melalui observasi, studi dokumen, wawancara, kuesioner, tes, pengujian, analisis kerja, studi kasus, dan teknik lainnya. Dalam kaitan pengumpulan data ini, peneliti harus mengupayakan agar instrumen yang digunakan sebagai alat pengumpulan data adalah instrumen yang tepat, valid dan reliebel.

  1. Menafsirkan data

Salah satu langkah kunci dalam kegiatan survei adalah menafsirkan temuan yang diperoleh dan survei tersebut. Pemilihan sumber data dan teknik pengumpulan data memang penting, namun penafsiran data dari hasil survei itu merupakan hal yang lebih penting lagi karena disinilah terjadi proses pemaknaan suatu hasil penelitian. Proses menafsirkan temuan penelitian survei dapat dimulai dan langkah mengklasifikasi data, diperlukan statistik, menguji hipotesis, menganalisis hasil temuan, menyimpulkan, menyusun implikasi hasil temuan dan menyusun rekomendasinya.

  1. Menyiapkan laporan survei

Apabila data hasil penelitian survei telah dianalisis maka selanjutnya peneliti perlu menyiapkan laporan hasil tersebut agar dapat dipublikasikan ke berbagai pihak yang berkepentingan. Hasil penelitian yang dipublikasikan diharapkan dapat memotivasi pihak lain untuk mengkaji dan menindaklanjuti hasil penelitian tersebut.

  1. Mengestimasi efektifitas survei

survei yang telah berlangsung sebaiknya dievaluasi oleh peneliti. Evaluasi terhadap survei yang telah dilakukan antara lain mencakup kesesuaian dan pencapaian tujuan yang diperoleh, efektifitas pelaksanaan survei, dampak hasil survei terhadap penerapan atau aplikasi di lapangan, dan berbagai hal lainnya yang terkait.

Jenis-Jenis Penelitian Survei (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya, survei dapat dikelompokkan menjadi dua macam yaitu sensus dan survei sampel. Sensus adalah survei yang meliputi seluruh populasi yang diinginkan. Sedangkan survei sampel adalah dilakukan hanya pada sebagian kecil dari suatu populasi. Kita dapat menggunakan survei untuk mentabulasi objek-objek nyata atau untuk mengukur hal-hal yang tidak nyata seperti pendapat atau pencapaian prestasi tertentu.

Berdasarkan lingkup dan pokok permasalahannya, survei dapat digolongkan menjadi empat kategori yaitu : (1) sensus objek nyata, (2) sensus hal-hal yang tidak nyata, (3) survei sampel objek nyata, dan (4) survei sampel hal-hal yang tidak nyata (Ary et al, 1979). Masing-masing jenis kategori tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Sensus hal-hl yang nyata (tangible)

Sensus hal-hal yang nyata meliputi jumlah populasi yang kecil dimana variabel-variabelnya adalah konkret (nyata). Oleh karenanya, jawaban yang diperoleh cukup sederhana dan akurat. Data kurang mengandung kontradiksi, karena variabel yang diukur telah jelas dan didefinisikan dengan baik.

  1. Sensus hal-hal yang tidak nyata (intangible)

Sensus ini mengukur konstruk-konstruk berdasarkan atas pengukuran yang tidak langsung.

  1. survei sampel hal-hal yang nyata

Bila penelitian kita membutuhkan data kelompok besar, maka dalam hal seperti ini sensus tidak disarankan untuk diterapkan, dan kita sebaiknya menggunakan teknik pengambilan sampel (sampling). Melalui survei sampel terhadap hal-hal yang nyata kita dapat memperoleh informasi dari kelompok besar dimana variabel-variabelnya adalah nyata. Inilah yang dapat kita lakukan bila tujuannya adalah membandingkan ukran kelas, sarana fisik, dan kualifikasi guru pada sejumlah sekolah disuatu negara tertentu. Kegunaan metode ini ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu kesesuaian prosedur pengambilan sampel, akuratnya metode pengumpulan data, dan relevannya informasi yang dikumpulkan untuk pemecahan masalah yang dihadapi.

  1. survei sampel hal-hal yang tidak nyata

Bila survei kita menyangkut pengukuran konstruk psikologis atau sosiologis, serta membandingkan anggota-anggota populasi yang besar dimana variabelnya tidak langsung diamati, maka kita harus melakukan survei sampel hal-hal yang tidak nyata. Jenis penelitian ini akan mengandung banyak kesulitan sebab kita akan memerlukan banyak keahlian untuk melaksanakannya. Keahlian yang diperlukan antara lain keahlian melakukan sampling yang cocok, keahlian merinci dan membuat instrumen yang sesuai untuk mengukur konstruk, juga keahlian dalam menghitung dan menafsirkan nilai. Keahlian menghitung dan menafsirkan nilai adalah perlu untuk membantu kita membuat pernyataan yang berarti tentang variabel-variabel yang diliputi dalam penelitian.

Ciri-Ciri Penelitian Survei (skripsi dan tesis)

Riyanto ( 2001 ) menyebutkan bahwa ciri-ciri penelitian survei antara lain :

(1) data survei dapat dikumpulkan dari sellluruh populasi, atau dapat pula dari haya sebagian saja dari populasi ;

(2) untuk suatu hal data yang sifatnya nyata ;

(3) hasil survei dapat dimanfaatkan untuk kepentingan yang sifatnya terbatas, karena data yang dikumpulkan dibatasi oleh waktu dan saat data itu dikumpulkan ;

(4) bisaanya untuk memecahkan masalah yang sifatnya insidental ;

(5) pada dsasarnya survei dapat merupakan metode cross-sectional dan longitudinal ;

(6) cenderung mengadalkan data kuantitatif ;

(7) mengandalkan teknik pengumpulan data yang berupa kuesioner dan wawancara berstruktur.

Sementara itu, Sevilla et al, ( 1993 ) menyatakan bahwa jika kita bermaksud melakukan suatu kegiatan penelitian dengan mengumpulkan data yang relatif terbatas dari sejumlah kasus yang relatif besar jumlahnya, maka metode penelitian yang dapat digunakan adalah metode survei. Pemilihan metode survei dalam hal ini dianggap lebih tepat karena metode ini lebih menekankan pada penentuan informasi tentang variabel dari pada informasi tentang individu. survei digunakan untuk mengukur gejala-gejala yang ada tanpa menyelidiki kenapa gejala-gejala tersebut terjadi. Didalam penelitian yang demikian ini, kita tidak perlu memperhitungkan hubungan antara variabel-variabel. Tujuan pokok kita adalah menggunakan data yang kita peroleh utuk memecahkan masalah, dari pada untuk menguji hipotesis.

Pengertian penelitian survei (skripsi dan tesis)

Penelitian survei merupakan penelitian yang mengumpulkan informasi dari suatu sampel dengan menanyakan melalui angket atau interview supaya nantinya menggambarkan berbagai aspek dari populasi (Faenkel dan Wallen, 1990 ). survei merupakan salah satu jenis penelitian yang banyak dilakukan oleh peneliti dalam bidang sosiologi, bisnis, politik, pemerintahan dan pendidikan.

Survei dibedakan dari percobaan (eksprimen) yang lebih banyak dilakukan dalam peneliti ilmu – ilmu pengetahuan alam (natural sciencies). Kalau dalam percobaan si peneliti dapat mengatur atau memberikan perlakuan (treatment) tertentu pada variabel, maka dalam penelitian survei si peneliti hanya bertindak sebagai pengamat dan tidak boleh sama sekali mempengaruhi terjadinya data atau variabel yang dikerjakan oleh pelaksana survei hanyalah mencatat data seperti apa adanya dan kemudian berusaha menganalisis dan menginterpretasikan data tersebut untuk kemudian mengambila kesimpulan dari padanya.

Kelebihan dan Kelemahan Penelitian Korelasional (skripsi dan tesis)

Penelitian korelasional mengandung kelebihan-kelebihan antara lain: kemampuanya untuk menyelidiki hubungan antara beberapa variabel secara bersama-sama (simultan); dan penelitian korelasional juga dapat memberikan informasi tentang derajat kekuatan hubungan antara variabel-variabel yang diteliti (Abidin, 2010). Selanjutnya, Sukardi menambahkan kelebihan penelitian ini adalah penelitian ini berguna untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan bidang 23 pendidikan, ekonomi, sosial. Dengan penelitian ini juga memungkinkan untuk menyelidiki beberapa variabel untuk diselidiki secara intensif dan penelitian ini dapat melakukan analisis prediksi tanpa memerlukan sampel yang besar. Sedangkan, kelemahan penelitian korelasional, antara lain: hasilnya cuma mengidentifikasi apa sejalan dengan apa, tidak mesti menunjukkan saling hubungan yang bersifat kausal; jika dibandingkan dengan penelitian eksperimental, penelitian korelasional itu kurang tertib-ketat, karena kurang melakukan kontrol terhadap variabel-variabel bebas; pola saling hubungan itu sering tak menentu dan kabur; sering merangsang penggunanya sebagai semacam short-gun approach, yaitu memasukan berbagai data tanpa pilih-pilih dan menggunakan setiap interpretasi yang berguna atau bermakna. (Abidin,2010).

Kesalahan dalam Penelitian Korelasional

Kesalahan-kesalahan yang kadang-kadang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian korelasional adalah sebagai berikut.

a. Peneliti berasumsi bahwa korelasi merupakan bukti sebab akibat

b. Peneliti bertumpu pada pendekatan sekali tembak (shotgun approach)

c. Peneliti memilih statistik yang tidak tepat d. Peneliti menggunakan analisis bivariat ketika multivariat yang lebih tepat

e. Peneliti tidak melakukan studi validitas silang

f. Peneliti menggunakan analisis jalur atau LISER tanpa peninjauan asumsiasumsi (teori)

g. Peneliti gagal menentukan suatu variabel kausal penting dalam perencanaan suatu analisis jalur

h. Peneliti salah tafsir terhadap signifikansi praktis atau statistik dalam suatu studi

Rancangan Penelitian Korelasional (skripsi dan tesis)

Penelitian korelasional mempunyai bermacam jenis rancangan, yaitu (1) korelasi bivariat, (2) regresi dan prediksi (3) regresi jamak, (4) analisis faktor, dan (5) rancangan korelasi yang digunakan untuk membuat kesimpulan kausal. (Shaughnessy & Zechmeister,2000:2-5).

a. Korelasi Bivariat

Rancangan penelitian korelasi bivariat adalah suatu rancangan penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara dua variabe;. Hubungan antara dua variabel diukur. Hubungan tersebut mempunyai tingkatan dan arah. Tingkat hubungan (bagaimana kuatnya hubungan) biasanya diungkapkan dalam angka antara -1 dan +1, yang dinamakan koefisien korelasi. Korelasi zero (0) mengindikasikan tidak ada hubungan. Koefisiensi korelasi yang bergerak ke arah -1 atau +1, merupakan korelasi sempurna pada kedua ekstrem. Arah hubungan diindikasikan bahwa semakin tinggi skor pada suatu variabel, semakin tinggi pula skor pada variabel lain atau sebaliknya. 20 Hubungan antara motivasi dan prestasi belajar merupakan contoh korelasi positif. Hubungan antara sres dan sehat merupakan contoh korelasi negatif.

b. Regresi dan Prediksi

Jika terdapat korelasi antara dua variabel, dan kita mengetahui skor pada salah satu variabel, skor pada variabel kedua dapat diprediksikan. Regresi merujuk pada seberapa baik kita dapat membuat prediksi ini. Sebagaimana pendekatan koefisien korelasi baik -1 maupun +1, prediksi kita dapat lebih baik. Sebagai contoh, terdapat hubungan antara stres dan kesehatan. Jika kita mengetahui skor stres kita, kita dapat memprediksikan skor kesehatan kita dimasa yang akan datang.

c. Regresi Jamak (Multiple Regression)

Regresi jamak merupakan perluasan regresi dan prediksi sederhana dengan penambahan beberapa variabel. Kombinasi beberapa variabel ini memberikan lebih banyak kekuatan kepada kita untuk membuat prediksi yang akurat. Apa yang kita prediksikan disebut variabel kriteria (criterion variabel). Apa yang kita gunakan untuk membuat prediksi, variabel-variabel yang sudah diketahui, disebut variabel prediktor (predictor variables).

d. Analisis faktor

Prosedur statistik ini mengidentifikasi pola variabel yang ada. Sejumlah besar variabel dikorelasikan dan terdapatnya antarkorelasi yang tinggi mengindikasikan suatu faktor penting yang umum.

e. Rancangan Korelasional yang Digunakan untuk Menarik Kesimpulan Kausal

Terdapat dua rancangan yang dapat digunakan untuk membuat pernyataanpernyataan tentang sebab dan akibat menggunakan metode korelasional. Rancangan tersebut adalah rancangan analisis jalur (path analysis design) dan rancangan panel lintas-akhir (cross-lagged panel design).

f. Analisis Sistem (System Analysis)

Desain ini melibatkan penggunaan prosedur matematik yang kompleks/rumit untuk menentukan proses dinamik, seperti perubahan sepanjang waktu, jerat umpan balik, serta unsur dan aliran hubungan.

Manfaat Penggunaan Metode Korelasional (skripsi dan tesis)

Metode korelasional memungkinkan para peneliti menganalisis hubungan antara sejumlah besar variabel dalam suatu studi tunggal. Koefisien korelasi memberikan ukuran tingkat dan arah hubungan. Penggunaan metode korelasional ditujukan (1) untuk mengungkapkan hubungan antarvariabel dan (2) untuk memprediksi skor subjek pada suatu variabel melalui skor pada variabel lain.

Macam Studi Korelasional Studi Hubungan(skripsi dan tesis)

 a. Studi hubungan 

Studi korelasional dilakukan dalam suatu usaha memperoleh pemahaman faktor-faktor atau variabel yang berhubungan dengan variabel yang kompleks, Variabel yang diketahui tidak berhubungan dapar dieliminasi dari perhatian/pertimbangan selanjutnya. Identifikasi variabel berhubungan membantu beberapa tujuan utama. Dengan demikian studi  ini dapat memberikan arah untuk melanjutkan studi kausal-komparatif atau eksperimental. Studi eksperimental mahal dalam lebih dari satu cara; studi korelasional merupakan cara yang efektif mengurangi studi eksperimental yang tidak menguntungkan dan menyarankan sesuatu yang secara potensial produktif. Dalam studi kausal-komparatif dan eksperimental, peneliti juga berkonsentrasi terhadap pengontrolan variabel selain variabel bebas yang mungkin berhubungan dengan variabel terikat dan menyingkirkan pengaruhnya yang tidak akan bercampur dengan variabel bebas. Studi hubungan membantu peneliti mengidentifikasi variabel-variabel seperti itu untuk mengontrol, dan selanjutnya menyelidiki pengaruh variabel yang sesungguhnya.

 b. Studi Prediksi

Jika variabel mempunyai hubungan yang signifikan, skor pada satu variabel dapat digunakan untuk memprediksikan skor pada variabel yang lain. Studi prediksi sering ilakukan untuk memudahkan pengambilan kesimpulan mengenai individu atau membantu pemilihan individu. Studi prediksi juga dilakukan untuk menguji hipotesis teoretis mengenai variabel yang dipercaya menjadi pediktor suatu kriteria, dan untuk menentukan validitas prediktif instrumen pengukuran individual. Sebagai contoh,hasil studi prediksi digunakan untuk memprediksikan level kesuksesan yang mungkin dicapai individu dalam mata pelajaran tertentu, seperti aljabar pada tahun pertama untuk memprediksikan individu mana yang mungkin berhasil di perguruan tinggi atau dalam suatu program pelatihan kerja. Dan untuk memprediksikan dalam bidang studi mana seseorang individu mungkin paling sukses. Dengan demikian, hasil studi prediksi digunakan oleh sejumlah kelompok disamping para peneliti, seperti konsultan dan personil perizinan. Jika beberapa variabel prediktor masing-masing mempunyai hubungan dengan suatu variabel kriteria, prediksi yang didasarkan pada kombinasi dari variabel tersebut akan lebih akurat daripada didasarkan pada salah satu darinya.

c. Korelasi dan Kausalitas

Penelitian korelasional mengacu pada studi yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan antarvariabel melalui penggunaan statistik korelasional (r). Kuadrat dari koefisien korelasi menghasilkan varians yang dijelaskan (r-square). Suatu hubungan korelasional antara dua variabel kadang-kadang merupakan hasil dari sumber lain, jadi kita harus hati-hati dan ingat bahwa korelasi tidak harus menjelaskan sebab dan akibat. Jika suatu hubungan yang kuat ditemukan antara dua variabel, kausalitas dapat diuji melalui penggunaan pendekatan eksperimental (LaMar,2004;1). Berbagai rancangan penelitian korelasional didasarkan pada asumsi bahwa realitas lebih baik dideskripsikan sebagai suatu jaringan timbal balik dan 19 penginteraksian daripada hubungan kausal. Sesuatu memengaruhi -dan dipengaruhi oleh- sesuatu yang lain. Jaringan hubungan ini tidak linier, seperti dalam penelitian eksperimental (Davis, 1997:1). Dengan demikian, dinamika suatu sistem-bagaimana setiap bagian yang lainlebih penting kausalitas. Sebagai suatu kaidah, rancangan korelasional seperti analisis jalur (path analysis) dan rancangan panel lintas-akhir (cross-lagged panel designs) membolehkan pernyataan-pernyataan kausal.

Proses Dasar Penelitian Korelasional (skripsi dan tesis)

Menurut Gay (1981) sementara studi hubungan dan studi rediksi mempunyai karakteristik unik yang membedakan keduanya, proses dasar keduanya sama. Lebih lanjut ia menjelaskan prosedur dasar penelitian korelasional sebagai berikut.

a. Pemilihan Masalah

Studi korelasional dapat dirancang untuk menentukan variabel mana dari suatu daftar yang mungkin berhubungan maupun untuk menguji hipotesis mengenai hubungan yang diharapkan. Variabel yang dilibatkan harus diseleksi berdasarkan penalaran deduktif dan penalaran induktif. Dengan kata lain, hubungan yang akan diselidiki harus didukung oleh teori atau diturunkan dari pengalaman.

b. Sampel dan Pemilihan Instrumen

Sampel untuk studi korelasional dipilih dengan menggunakan metode sampling yang dapat diterima, dan 30 subjek dipandang sebagai ukuran sampel minimal yang dapat diterima. Sebagaimana suatu studi, adalah penting untuk memilih dan mengembangkan pengukuran yang valid dan reliabel terhadap variabel yang akan diteliti. Jika variabel tidak memadai dikumpulkan, koefisien korelasi yang dihasilkan akan mewakili estimasi tingkat korelasi yang tidak akurat. Selanjutnya, jika pengukuran yang digunakan tidak secara nyata mengukur variabel yang diinginkan, koefisien yang dihasilkan tidak akan mengindikasikan hubungan yang diinginkan.

c. Desain dan Prosedur

Desain korelasional dasar tidaklah rumit; dua atau lebih skor yang diperoleh dari setiap jumlah sampel yang dipilih,satu skor untuk setiap variabel yang diteliti, dan skor berpasangan kemudian dikorelasikan. Koefisien korelasi yang dihasilkan mengindikasikan tingkatan/derajat hubungan antara kedua variabel tersebut. Studi yang berbeda menyelidiki sejumlah variabel,dan beberapa penggunaan prosedur statistik yang kompleks, namun desin dasar tetap sama dalam semua studi korelasional d. Analisis Data dan Interpretasi Bila dua variabel dikorelasikan hasilnya adalah koefisien korelasi. Suatu koefisien korelasi angka desimal, antara 0,00 dan + 1,00, atau 0,00 dan – 1,00, yang mengindikasikan derajat hubungan dua variabel. Jika koefisien mendekati + 1,00; kedua variabel tersebut mempunyai hubungan positif. Hal ini berarti bahwa seseorang dengan skor yang tinggi pada suatu variabel akan memiliki skor yang tinggi pula pada variabel yang lain, suatu peningkatan pada suatu variabel berhubungan/diasosiasikan dengan peningkatan pada variabel lain. Jika koefisien korelasi tersebut mendekati 0,00 kedua variabel tidak berhubungan. Hal ini berarti bahwa skor seseorang pada suatu variabel tidak mengindikasikan skor orang tersebut pada variabel lain. Jika koefisien tersebut mendekati -1,00, kedua variabel memiliki hubungan yang sebaliknya(negatif). Hal ini berarti bahwa seseorang dengan skor tinggi pada suatu variabel akan memiliki skor yang rendah pada variabel lain; peningkatan pada suatu akan diasosiasikan dengan penurunan pada variabel lain, dan sebaliknya (Gay, 1981 : 185).

Interpretasi suatu koefisien korelasi tergantung pada bagaimana ia akan digunakan. Dengan kata lain, seberapa besar ia diperlukan agar bermanfaat tergantung pada tujuan perhitunganya. Dalam studi yang dirancang untuk menyelidiki atau hubungan yang dihipotesiskan, suatu koefisien korelasi diinterprestasikan dalam istilah signifikansi statistiknya. Dalam studi prediksi, signifikansi statistik merupakan nilai kedua dari koefisien dalam memudahkan prediksi yang akurat. Signifikansi statistik mengacu pada apakah koefisiensi yang diperoleh berbeda secara nyata dari zero (0) dan mencerminkan suatu hubungan yang benar, bukan suatu kemungkinan hubungan, keputusan berdasarkan signifikansi statistik dibuat pada suatu level kemungkinan (probability) yang diberikan. Dengan kata lain, berdasarkan ukuran sampel yang diberikan, anda tidak dapat menentukan secara positif apakah ada atau tidak ada hubungan yang benar antara dua variabel,tetapi anda dapat mengatakan secara probabilitas ada atau tidak ada hubungan. Untuk menentukan signifikansi statistik, anda hanya mengonsultasikanya pada tabel yang dapat mengatakan pada anda seberapa besar koefisiensi anda diperlukan untuk menjadi signifikan pada level probabilitas yang diberikan.

Untuk level probabillitas yang sama, atau level signifikansi yang sama, koefisien yang besar diperlukan bila sampel yang lebih kecil dilibatkan. Kita secara umum memiliki lebih banyak bukti dalam koefisien yang berdasarkan pada 100 subjek daripada 10 subjek. Dengan demikian, sebagai contoh, pada level bukti 95% dengan 10 kasus, anda akan memerlukan sekurangnya koefisien 0,6319 agar dapat menyimpulkan eksistensi suatu hubungan; di pihak lain, dengan kasus anda hanya memerlukan koefisiensi 0,1946.

Konsep ini berarti bahwa anda memerhatikan kasus tersebut ketika anda akan mengumpulkan data pada setiap anggoa populasi, bukan hanya sampel. Dalam kasus ini, tidak ada kesimpulan yang dilibatkan, dan tanpa memerhatikan seberapa kecil koefisiensi korelasi yang ada, itu akan mewakili derajat korelasi yang benar antara variabel untuk populasi tersebut. Ketika penginterprestasian suatu koefisien korelasi, anda harus selalu ingat bahwa anda hanya berbicara tentang suatu hubungan, bukan hubungan sebab-akibat. Koefisiensi korelasi yang signifikan mungkn menyarankan hubungan sebab-akibat tetapi tidak menetapkanya. Hanya ada satu cara untuk menetapkan hubungan sebabakibat, yaitu eksperimen. Bila seseorang menemukan hubungan yang dekat antara dua variabel, hal itu sering sekali menggoda untuk menyimpulkan bahwa satu menyebabkan lain. Dalam kenyataan, itu mungkin tidak saling memengaruhi; mungkin terdapat variabel ketiga yang memengaruhi kedua variabel

Pengertian Penelitian Korelasional (skripsi dan tesis)

Correlational research is a research study that involves collecting data in order to determine whether and to what degree a relationship exists between two or more quantifiable variables (Gay, 1982:430) dalam Sukardi (2008:166).

Penelitian korelasi adalah suatu penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna menentukan, apakah ada hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih. Penelitian ini dilakukan, ketika kita ingin mengetahui tentang ada tidaknya dan kuat lemahnya hubungan variabel yang terkait dalam suatu objek atau subjek yang diteliti. Adanya hubungan dan tingkat variabel ini penting, karena dengan mengetahui tingkat hubungan yang ada, peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan penelitian. Menurut Gay (dalam Sukardi, 2008:165) penelitian korelasional merupakan salah satu bagian penelitian ex-postfacto karena biasanya peneliti tidak memanipulasi keadaan variabel yang ada dan langsung mencari keberadaan hubungan dan tingkat hubungan variabel yang direfleksikan dalam koefesien korelasi. Penelitian korelasi mempunyai tiga karakteristik penting untuk para peneliti yang hendak menggunakannya.

Tiga karakteristik tersebut, diantaranya adalah:

a. penelitian korelasi tepat jika variabel kompleks dan peneliti tidak mungkin melakukan manipulasi dan mengontrol variabel seperti dalam penelitian eksperimen

b. memungkinkan variabel diukur secara intensif dalam setting (lingkungan) nyata

c. memungkinkan peneliti mendapatkan derajat asosiasi yang signifikan. (Sukardi, 2008:166).

Di samping itu, penelitian korelasi dilakukan untuk menjawab tiga pertanyaan penelitian tentang dua variabel atau lebih. Pertanyaan tersebut yaitu:

a. Adakah hubungan antara dua variabel?

b. Bagaimanakah arah hubungan tersebut?

c. Berapa besar/jauh hubungan tersebut dapat diterangkan?

Penelitian korelasional bertujuan untuk menentukan ada tidaknya hubungan, kearah mana hubungan tersebut (positif/negatif) dan seberapa jauh hubungan ada  antara dua variabel atau lebih (yang dapat diukur). Misalnya hubungan antara kecerdasan dengan kreativitas, semangat dengan pencapaian, tinggi badan dengan umur, nilai bahasa Inggris dengan nilai statistika, dan sebagainya. Tujuan dari suatu penyelidikan korelasi adalah untuk menetapkan atau mengungkapkan suatu hubungan atau menggunakan hubungan-hubungan dalam membuat prediksi (prakiraan). Dalam penelitian korelasional, para peneliti biasanya hanya mendasarkan pada penampilan variabel sebagaimana adanya, tanpa mengatur kondisi atau memanipulasi variabel tersebut. Oleh karena itu, peneliti hendaknya mengetahui cukup banyak alasan yang kuat guna mempertahankan hasil hubungan yang ditemukan. Penelitian korelasi lebih tepat, jika dalam penelitian peneliti memfokuskan usahanya dalam mencapai informasi yang dapat menerangkan adanya fenomena yang kompleks melalui hubungan antar variabel. Sehingga, peneliti juga dapat melakukan eksplorasi studi melalui teknik korelasi parsial, di mana peneliti mengeliminasi salah satu pengaruh variabel agar dapat dilihat hubungan dua variabel yang dianggap penting.

Seorang peneliti tepat menggunakan penelitian korelasi ketika peneliti mempunyai beberapa alasan penting, di antaranya sebagai berikut.

a. Ada kebutuhan informasi bahwa ada hubungan antarvariabel dimana koefisien korelasi dapat mencapainya.

b. Penelitian korelasi perlu diperhitungkan kegunaannya apabila variabel yang muncul itu kompleks, dan peneliti tidak mungkin dapat melakukan kontrol dan memanipulasi variabel-variabel tersebut.

c. Dalam penelitian memungkinkan dilakukan pengukuran beberapa variabel dan hubungan yang ada dalam setting yang realistis. Alasan penting lain adalah  bahwa penelitian korelasi tepat dilakukan, jika salah satu tujuan penelitian adalah mencapai formula prediksi, yaitu keadaan yang menunjukkan adanya asumsi hubungan antar variabel.

Jenis – Jenis Penelitian Survey (skripsi dan tesis)

Penelitian surveydapat dikelompokkan menjadi lima macam (Sukardi, 2007), yaitu :

a. Survey Catatan

Jenis survey ini sering disebut survey of records, karena dalam kegiatan penelitian ini banyak menggunakan sumber-sumber yang berupa catatan atau informasi nonreaksi. Dalam penelitian nonreaksi ini, penelitian ini biasanya tidak banyak melibatkan jawaban langsung dari subjek orang atau subjek yang diteliti. Survey model catatan ini mempunyai keuntungan dibanding model lainnya, yaitu bahwa objektivitas informasi yang diperolah lebih objektif dan bisa dipertanggungjawabkan.

b. Survey Menggunakan Angket

Jenis kedua adalah metode survei dengan menggunakan angket atau kuisioner. Survei dengan angket biasanya didistribusikan ke responden melalui jasa pos. Dinegara-negara dimana masyarakatnya lebih maju tingkat pendidikannya, penelitian ini temasuk aman, tetapi untuk negara kita masih memerlukan pencermatan secara insentif.

c. Survey Melalui Telepon

Pada penelitian ini, peneliti dengan menggunakan buku petunjuk telepon (buku kuning) menghubungi responden, kemudian mengatakan kepada mereka maksud dan tujuannya memperoleh informasi yang diinginkan berupa jawaban dari mereka. Seiring dengan kemajuan teknologi, penelitian survey melalui telepon juga maju dan banyak digunakan baik dalam bidang pendidikan maupun pada penelitian social.

d. Survey Menggunakan Wawancara

Kelompok Teknik ini mirip dengan wawancara perorangan. Peneliti dalam menggali informasi dalam grup, memungkinkan terjadinya interaksi di antara anggota kelompok dan dengan peneliti, sehingga menghasilkan suatu gambaran yang lebih baik tentang keadaan subjek atau objek yang diteliti.

e. Survey Menggunakan Wawancara Individu

Penelitian survey jenis yang kelima ini merupakan survey dengan menggunakan pendekatan konvesional, yaitu wawancara perorangan. Pada penelitian dengan wawancara individual ini lebih berhasil apabila peneliti merasa tertantang atau challenging untuk melakukan eksplorasi permasalahan dengan informasi terbatas.

Pengertian metode penelitian survei (skripsi dan tesis)

Menurut Singarimbun dan Effendi (1989), penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpul data yang pokok. Menurut Daniel dalam Balipaper (2010), survei merupakan pengamatan atau penyelidikan yang kritis untuk mendapatkan keterangan yang baik terhadap suatu persoalan tertentu di dalam daerah atau lokasi tertentu atau suatu studi ekstensif yang dipolakan untuk memperoleh informasi-informasi yang dibutuhkan. Penelitian survei adalah jenis penelitian yang mengumpulkan informasi tentang karakteristik, tindakan, pendapat dari sekelompok responden yang representative yang dianggap sebagai populasi.

Survei adalah pemeriksaan atau penelitian secara komprehensif, Survei yang dilakukan dalam melakukan penelitian biasanya dilakukan dengan menyebarkan kuesioner atau wawancara, dengan tujuan untuk mengetahui: siapa mereka, apa yang mereka pikir, rasakan, atau kecenderungan suatu tindakan. Survei lazim dilakukan dalam penelitian kuantitatif maupun kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, survei lebih merupakan pertanyaan tertutup, sementara dalam penelitian kualitatif berupa wawancara mendalam dengan pertanyaan terbuka. Survei (survey) atau lengkapnya self-administered survey adalah metode pengumpulan data primer dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden individu. Metode survei digunakan sebagai teknik penelitian yang melalui pengamatan langsung terhadap suatu gejala atau pengumpulan informasi melalui pedoman wawancara, kuisioner, kuisioner terkirim (mailed questionnaire) atau survei melalui telepon (telephone survey). Dimensi survei unit analisis data adalah, survei tidak hanya terbatas pada daftar pertanyaan saja, namun juga riset kepada orang-orang. Penganalisisan mungkin menggunakan informasi dari negara-negara, tahun, peristiwa, organisasi, dan lain sebagainya. Jika suatu analisis tersebut tidak digunakan kepada orang lain maka dapat dimanfaatkan untuk kedepannya.

Unsur Dalam Survei Survailans (skripsi dan tesis)

Menurut Lapau (2010), sistem surveilans ada beberapa unsur :

1) Tujuan sistem surveilans yaitu membandingkan tujuan sistem surveilans yang ditemui baik itu melalui wawancara dengan tujuan sistem surveilans

2) Pengolahan dan analisis data yaitu menilai apakah pengolahan dan analisis data malaria dilakukan untuk menjawab tujuan surveilans yang telah ditetapkan.

3) Ketepatan Diagnosis yaitu Bagaimana mendiagnosis penyakit tersebut. Untuk melihat ketepatan diagnosis dapat dilihat dari nilai eror rate pemeriksaan laboratorium.

4) Kelengkapan laporan malaria yaitu persentase laporan malaria yang seharusnya diterima atau dikirim dibandingkan dengan kenyataan laporan malaria diterima dalam waktu tertentu.

5) Ketepatan waktu laporan berarti waktu laporan diterima oleh puskesmas dari polindes, pustu dan pelayan kesehatan lainnya serta laporan dari puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten sesuai dengan waktu laporan yang telah disepakati atau ditetapkan bersama.

6) Partisipasi fasilitas kesehatan Informasi tentang kesehatan juga didapatkan atau bersumber dari sarana fasilitas kesehatan baik pemerintah, swasta, maupun perorangan yang disampaikan kepada unit kerja yang bersangkutan dalam hal ini dinas kesehatan kabupaten.

7) Akses ke pelayanan kesehatan adalah perkiraan warga masyarakat yang dapat menggunakan pelayanan kesehatan, yang tergantung oleh jarak, sosial ekonomi, budaya dan lain-lain

. 8) Konsistensi yaitu data yang dimuat di dalam laporan tersebut adalah data yang dapat dipertanggungjawabkan kebenaran pengisiannya oleh petugas pada sumber data terutama di puskesmas dan rumah sakit.

Elemen dan Jenis Surveilans (skripsi dan tesis)

Dalam melaksanaan kegiatan surveilans epidemiologi ada empat hal pokok (elemen) yang dilakukan yaitu pengumpulan data, pengolahan, analisa dan intepretasi serta desiminasi data. Empat hal ini merupakan suatu satu kesatuan atau sistem, sehingga dalam pelaksaannya harus dilakukan secara berkesinambungan dan berurutan. Jenis Surveilans dibagi menjadi dua, yakni aktif dan pasif. Surveilans secara aktif yakni data dikumpulkan sendiri oleh petugas surveilans berdasarkan aturan yang ada, organisasi  pelaksana melaksanakan surveilans dengan prosedur tertentu berinisiatif mendapatkan data. Sedangkan surveilans secara pasif berarti bahwa petugas surveilans menunggu data disampaikan oleh pengumpul data yang berasal dari berbagai sektor (menunggu laporan) Pendekatan ini menjadikan batasan yang kaku dalam menghasilkan suatu laporan

Ruang Lingkup Surveilans (skripsi dan tesis)

 Ruang lingkup surveilans epidemiologi meliputi: 1.

1)      Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular, merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit menular dan faktor risiko untuk mendukung upaya  pemberantasan penyakit menular. Contoh : DBD (Demam Berdarah Dengue), Malaria.

2)      Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit tidak menular dan faktor risiko untuk mendukung upaya  pemberantasan penyakit tidak menular. Contoh : Hipertensi, Penyakit Jantung Koroner. 3.

3)      Surveilans Epidemiologi Kesehatan Lingkungan dan Perilaku, merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit dan faktor risiko untuk mendukung program  penyehatan lingkungan. Contoh : Vektor Nyamuk, Keberadaan Rodent/Tikus, PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) 4.

4)      Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan, merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap masalah kesehatan dan faktor risiko untuk mendukung program- program kesehatan tertentu. Contoh : Cakupan Program Imunisasi, Program Pemberantasan Vektor Nyamuk.

5)      Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra, merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhdap masalah kesehatan dan faktor risiko untuk upaya mendukung program kesehatan matra (kesehatan lapangan, kesehatan kelautan dan bawah air, kesehatan kedirgantaraan). Contoh : Kegiatan Ibadah Haji, Kegiatan Penyelaman, Kesehatan Militer.

Tujuan Surveilans (skripsi dan tesis)

Surveilans bertujuan memberikan informasi tepat waktu tentang masalah kesehatan  populasi, sehingga penyakit dan faktor risiko dapat dideteksi dini dan dapat dilakukan respons  pelayanan kesehatan dengan lebih efektif. Tujuan khusus surveilans:

1)      Memonitor kecenderungan (trends) penyakit;

2)      Mendeteksi perubahan mendadak insidensi penyakit, untuk mendeteksi dini outbreak;

3)      Memantau kesehatan populasi, menaksir besarnya beban penyakit (disease burden) pada  populasi;

4)      Menentukan kebutuhan kesehatan prioritas, membantu perencanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi program kesehatan

5)      Mengevaluasi cakupan dan efektivitas program kesehatan;

6)      Mengidentifikasi kebutuhan riset

Dalam pelaksanaan surveilans epidemiologi ada terminologi atau istilah yang cukup  populer yaitu “Garbage In Garbage Out ”, dengan pengertian bahwa jika data yang diolah sampah maka keluarnya juga sampah. Buat apa kita mengolah data yang tidak mempunyai arti atau tidak dapat digunakan untuk bahan pengambilan keputusan, padahal esensi kegiatan surveilans adalah memberikan informasi yang valid dan tepat waktu jadi sangat disayangkan  bila kita melakukan pekerjaan yang tidak mempunyai nilai pada hal sudah banyak energi yang kita keluarkan

Surveilans Epidemiologi (skripsi dan tesis)

Terminologi surveilans adalah penerapan pengumpulan data, analisa, interpretasi data dan diseminasi data kepada mereka yang memerlukan. Kemudian perkembangan surveilans menjadi pengumpulan data secara sistematis, terus menerus, analisis dan interpretasi data untuk dipergunakan dalam perencanaan, implementasi dan evaluasi upaya kesehatan masyarakat. Surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan (WHO, 2004). Menurut Kepmenkes RI No. 1116 Tahun 2003, untuk lebih menekankan pada aspek analisisnya surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses  pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara  program kesehatan (Depkes RI, 2003

Analisis Surveilans (skripsi dan tesis)

Surveilans adalah  pengumpulan, analisis, dan interpretasi data terkait kesehatan yang dilakukan secara terus menerus dan sistematis yang kemudian didiseminasikan (disebarluaskan) kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab untuk digunakan dalam pencegahan penyakit (mengurangi morbiditas dan mortalitas) dan memperbaiki masalah kesehatan lainnya. Surveilans memantau terus-menerus kejadian dan kecenderungan penyakit, mendeteksi dan memprediksi outbreak pada populasi, mengamati faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit, seperti perubahan-perubahan biologis pada agen, vektor, dan reservoir. Selanjutnya surveilans menghubungkan informasi tersebut kepada pembuat keputusan agar dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian penyakit. Surveilans harus cukup akurat dengan analisis data yang lengkap.

Surveilans kesehatan masyarakat merupakan instrumen penting untuk mencegah outbreak penyakit dan mengembangkan respons segera ketika penyakit mulai menyebar. Informasi dari surveilans juga penting bagi kementerian kesehatan, kementerian keuangan, dan donor/stakeholder, untuk memonitor sejauh mana populasi telah terlayani dengan baik. Surveilans berbeda dengan pemantauan (monitoring) biasa. Surveilans dilakukan secara terus menerus tanpa terputus (kontinu), sedang pemantauan dilakukan intermiten atau episodik. Dengan mengamati secara terus-menerus dan sistematis maka perubahan-perubahan kecenderungan penyakit dan faktor yang mempengaruhinya dapat diamati atau diantisipasi, sehingga dapat dilakukan langkah-langkah investigasi dan pengendalian penyakit dengan tepat.

Forecasting / Peramalan (skripsi dan tesis)

Menurut Barry Render dan Jay Heizer  peramalan/forecasting adalah seni dan ilmu memprediksi peristiwa-peristiwa masa depan dengan pengambilan data historis dan memproyeksikannya ke masa depan dengan menggunakan beberapa bentuk model matematis. Peramalan terhadap sesuatu tidak akan pernah tepat 100% karena masa depan mempunyai masalah ketidakpastian. Namun demikian, dengan memilih metode yang tepat, peramalan dapat mempunyai tingkat kesalahan yang kecil atau dapat memberikan perkiraan sebaik mungkin terhadap masa yang akan datang. Tujuan dari peramalan adalah untuk memperoleh informasi mengenai perubahan di masa depan yang akan berpengaruh terhadap implementasi kebijakan serta konsekuensinya. Menurut pandangan Jay Heizer dan Barry Render, tujuan peramalan adalah:

1. Mengkaji kebijakan perusahaan yang berlaku saat ini dan di masa lalu serta melihat sejauh mana pengaruhnya di masa datang;

2. Peramalan diperlukan karena adanya time lag atau delay ketika suatu kebijakan perusahaan ditetapkan dengan implementasi kebijakan tersebut;

3. Peramalan merupakan dasar penyusunan bisnis pada suatu perusahaan sehingga dapat meningkatkan efektifitas suatu rencana bisnis. Peramalan yang baik adalah peramalan yang dilakukan dengan mengikuti prosedur penyusunan yang baik dalam menentukan kualitas dari hasil peramalan yang disusun.

Assauri  mengemukakan bahwa ada tiga langkah peramalan yang penting, yaitu menganalisis data masa lampau, menentukan metode yang digunakan, dan memproyeksikan data masa lampau dengan menggunakan metode yang digunakan serta mempertimbangkan adanya faktor perubahan. Selain itu, terdapat dua macam peramalan, yaitu peramalan kuantitatif yang menggunakan model matematis dengan data-data masa lampau dan peramalan kualitatif yang menggunakan beberapa faktor seperti intuisi, emosi, dan pengalaman.

Konsep Trend Dalam Peramalan (skripsi dan tesis)

Metode ini termasuk kategori model non-causal dalam demand forecasting yang tidak menjelaskan bagaimana nilai-nilai variabel proyeksi dihitung. Pada teknik ini, kita hanya mengekspresikan variabel yang akan diprediksi murni sebagai fungsi dari waktu. Tidak sebagai variabel yang terkait pada faktor ekonomi, demografi, kebijakan ataupun teknologi. Fungsi waktu tersebut diperoleh dari anggapan bahwa setiap data berubah sesuai dengan waktu dan memiliki pola tertentu. Pola yang tertentu itulah kemudian disebut dengan trend. Trend yang digunakan dapat berupa linier, regresi, logaritmis, kuadratik, kubik, dan lain-lain dan metode ini cocok untuk proyeksi jangka pendek. Garis trend tersebut sangat berguna untuk membuat suatu peramalan / forecasting yang sangat diperlukan bagi perencanaan

Data runtun waktu (time series)

Time series merupakan data yang terdiri atas satu objek tetapi meliputi beberapa periode waktu misalnya harian, bulanan, mingguan, tahunan, dan lain-lain. Kita dapat melihat contoh data time series pada data harga saham, data ekspor, data nilai tukar (kurs), data produksi, dan lain-lain sebagainya. Jika kita amati masing-masing data tersebut terkait dengan waktu (time) dan terjadi berurutan. Misalnya data produksi minyak sawit dari tahun 2000 hingga 2009, data kurs Rupiah terhadap dollar Amerika Serikat dari tahun 2000 – 2006, dan lain-lain. Dengan demikian maka akan sangat mudah untuk mengenali jenis data ini.

Data time series juga sangat berguna bagi pengambil keputusan untuk memperkirakan kejadian di masa yang akan datang. Karena diyakini pola perubahan data runtun waktu beberapa periode masa lampau akan kembali terulang pada masa kini. Data time series juga biasanya bergantung kepada lag atau selisih. Katakanlah pada beberapa kasus misalnya produksi dunia komoditas kopi pada tahun sebelumnya akan mempengaruhi harga kopi dunia pada tahun berikutnya. Dengan demikian maka akan diperlukan data lagproduksi kopi, bukan data aktual harga kopi. Tabel berikut ini akan memperjelas konsep lag yang mempengaruhi data time series

Stasioneritas (skripsi dan tesis)

Stasioneritas berarti bahwa tidak terjadinya pertumbuhan dan penurunan data. Suatu data dapat dikatakan stasioner apabila pola data tersebut berada pada kesetimbangan disekitar nilai rata-rata yang konstan dan variansi disekitar ratarata tersebut konstan selama waktu tertentu (Makridakis, 1999: 61). Time series 7 dikatakan stasioner apabila tidak ada unsur trend dalam data dan tidak ada unsur musiman atau rata-rata dan variannya tetap

Selain dari plot time series, stasioner dapat dilihat dari plot Autocorrelation Function (ACF) data tersebut. Apabila plot data Autocorrelation Function (ACF) turun mendekati nol secara cepat, pada umumnya setelah lag kedua atau ketiga maka dapat dikatakan stasioner (Hanke&Winchern, 2005: 67).

Data nonstasioner apabila terdapat unsur trend dalam data, yaitu mengalami kenaikan dan penurunan seiring bertambahnya periode waktu. Pada data nonstasioner yang memiliki trend akan memiliki nilai Autocorrelation Function (ACF) yang signifikan pada lag-lag awal kemudian mengecil secara bertahap,

Time Series (skripsi dan tesis)

Time series atau runtun waktu adalah himpunan observasi data terurut dalam waktu (Hanke&Winchern, 2005: 58). Metode time series adalah metode peramalan dengan menggunakan analisa pola hubungan antara variabel yang akan dipekirakan dengan variabel waktu. Peramalan suatu data time series perlu memperhatikan tipe atau pola data. Secara umum terdapat empat macam pola data time series, yaitu horizontal, trend, musiman, dan siklis (Hanke dan Wichren, 2005: 158). Pola horizontal merupakan kejadian yang tidak terduga dan bersifat acak, tetapi kemunculannya dapat memepengaruhi fluktuasi data time series. Pola trend merupakan kecenderungan arah data dalam jangka panjang, dapat berupa kenaikan maupun penurunan. Pola musiman merupakan fluktuasi dari data yang terjadi secara periodik dalam kurun waktu satu tahun, seperti triwulan, kuartalan, bulanan, mingguan, atau harian. Sedangkan pola siklis merupakan fluktuasi dari data untuk waktu yang lebih dari satu tahun

Uji Multikolinearitas (skripsi dan tesis)

Menurut Ghozali (2011) uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi untuk variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel bebas. Untuk mendeteksi ada atau tdaknya multikolinearitas di dalam model regresi, maka pada penelitian digunakan besaran Variance Inflation Factor (VIF) dan tolerance, untuk mendeteksi multikolinearitas yaitu: Besarab VIF dan tolerance: a) Mempunyai nilai VIF +/- 1 b) Mempunyai angkav tolerance +/- 1 c) Atur tolerance =1/VIF dan VIF=1/ tolerance Nilai cutoff yang umumnya dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai VIF > 5, maka dapat dipastikan terjadi multikolinearitas.

Uji Normalitas (skripsi dan tesis)

Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak. Seperti diketahui bahwa uji t dan uji F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Apabila asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak berlaku (Ghozali, 2013). Banyak jenis uji statistik normalitas yang dapat digunakan diantaranya Kolmogorov Smirnov, Lilliefors, Chi-Square, Shapiro Wilk atau menggunakan software komputer. Software komputer yang dapat digunakan misalnya SPSS, Minitab, R, dan sebagainya. Pada hakekatnya software tersebut merupakan hitungan uji statistik Kolmogorov Smirnov, Lilliefors, Chi-Square, Shapiro Wilk, san sebagainya yang teah diprogramkan dalam software komputer. Masingmasing hitungan uji statistik normalitas memiliki kelemahan dan kelebihannya, pengguna dapat memilih sesuai dengan keuntungannya. Pengujian asumsi ini menguji normalitas pada residualnya yang dihasilkan dari model regresinya. Untuk menguji normalitas ini menggunakan uji JarqueBera. Uji Jarque-Bera ini menggunakan perhitungan skewness dan kurtosis dengan hipotesis: :

H0 Residual berdistribusi normal :

H1 Residual tidak berdistribusi normal

Uji Asumsi (skripsi dan tesis)

Model Regresi Data Panel Menurut Yudiatmaja (2013), model regresi data panel dapat disebut sebagai model yang baik jika model tersebut memenuhi kriteria BLUE (Best, Linear, Unbiased, dan Estimator). BLUE dapat tercapai jika memenuhi asumsi klasik. Apabila persamaan yang terbentuk tidak memenuhi kaidah BLUE, maka persamaan tersebut diragukan kemampuannya dalam menghasilkan nilai-nilai prediksi yang akurat. Tetapi bukan berarti persamaan tersebut tidak bisa digunakan dalam memprediksi. Agar suatu persamaan ersebut dapat 40 dikategorikan memnuhi kaidah BLUE, maka data yang digunakan harus memnuhi beberapa asumsi yang sering dikenal dengan uji asumsi klasik. Uji asumsi klasik mencakup uji normalitas, uji multikolinearitas, uji linearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi. Persamaaan yang terbebas dari kelima masalah pada uji asumsi klasik akan menjadi estimator yang tidak bias (Widarjono, 2007

Analisis Deskriptif (skripsi dan tesis)

Statistik deskriptif menurut Ghozali (2009) memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, nilai maksimum, nilai minimum, sum, range, kurtosis, dan skewness (kemencengan distribusi). Statistik deskiptif dapat diartikan sebagai suatu metode analisis yang mengumpulkan, mengolah, menyederhanakan, menyajikan serta menganalisis data kuantitatif secara deskriptif agar dapat memberikan gambaran yang teratur tentang suatu peristiwa ke dalam bentuk tabel atau grafik (Dajan, 1986).

Jakarta Islamic Index (JII) (skripsi dan tesis)

Indeks syariah atau biasa dikenal dengan Jakarta Islamic Index (JII) merupakan kumpulan indeks saham beberapa perusahaan yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah. JII dibentuk dari hasil kerjasama antara BEI (saat itu Bursa Efek Jakarta) dengan PT Danareksa Investment Management (DIM) dan beroperasi pada tanggal 3 Juli 2000. Agar dapat menghasilkan data historikal yang lebih panjang, hari dasar yang digunakan untuk menghitung JII adalah tanggal 2 Januari 1995 sebagai base date (dengan angka indeks dasar 100). Indeks ini diharapkan menjadi tolak ukur kinerja saham-saham yang berbasis syariah serta untuk lebih mengembangkan pasar modal syariah. Jakarta Islamic Index terdiri dari 30 saham yang dipilih dari saham-saham yang sesuai dengan syariah Islam. Pada awal peluncurannya, pemilihan saham yang masuk dalam kriteria syariah melibatkan pihak Dewan Pengawas Syariah dan Danareksa Investment Management Akan tetapi seiring perkembangan pasar, tugas pemilihan saham-saham tersebut dilakukan oleh Bapepam-LK bekerja sama dengan Dewan Syariah Nasional. Hal ini tertuang dalam Peraturan Bapepam Nomor ll K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah. Dari sekian banyak emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, terdapat beberapa emiten yang kegiatan usahanya belum sesuai dengan syariah, sehingga saham-saham tersebut secara otomatis belum dapat dimasukkan dalam perhitungan Jakarta islamic Index. Berdasarkan arahan Dewan syariah Nasional dan Peraturan Bapepam-LK Nomor IX. A.13 tentang Penerbitan Efek syariah, jenis kegiatan utama suatu badan usaha yang dinilai tidak memenuhi syariah Islam adalah (Buku Panduan Indeks Bursa, 2010):

1. Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang

2. Menyelenggarakan jasa keuangan yang menerapkan konsep ribawi, jual beli resiko yang mengandung gharar dan maysir.

3. Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan atau menyediakan

a. Barang dan atau jasa yang haram karena zatnya (haram li-dzatihi)

b. Barang dan atau jasa yang haram bukan karena zatnya (haram ghairihi) yang ditetapkan oleh DSN-MUI, dan atau

c. Barang dan atau jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat

4. Melakukan investasi pada perusahaan yang pada saat transaksi tingkat (nisbah) hutang perusahaan kepada lembaga keuangan ribawai lebih dominan dari modalnya, kecuali investasi tersebut dinyatakan kesyariahannya oleh DSN-MUI. Sedangkan untuk menetapkan saham-saham yang akan masuk dalam perhitungan JII dilakukan dengan urutan seleksi sebagi berikut (Sudarsono, 2004):

1. Memilih kumpulan saham dengan jenis usaha utama yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan sudah tercatat lebih dari 3 bulan (kecuali termasuk dalam 10 kapitalisasi besar).

2. Memilih saham berdasarkan laporan keuangan tahunan atau tengah tahun berakhir yang memiliki rasio Kewajiban terhadap Aktiva maksimal sebesar 90%

. 3. Memilih 60 saham dari susunan saham diatas berdasarkan urutan ratarata kapitalisasi pasar terbesar selama satu tahun terakhir.

4. Memilih 30 saham dengan urutan berdasarkan tingkat likuiditas ratarata nilai perdagangan reguler selama satu tahun terakhir.

Dari sisi emiten, kondisi finansial dan manajemen menjadi ukuran layak tidaknya sebuah saham tercatat di JII. Ada beberapa hal yang menjadi acuan, yaitu: Pertama, struktur utang tidak boleh didominasi oleh pembiayaan yang didasarkan pada sistem bunga. Perusahaan tidak boleh bergantung kepada utang yang berbasiskan sistem konvensional. Kedua, emiten tidak boleh mempunyai utang 45% dan modal 55%. Jika itu terjadi, maka emiten dinyatakan tidak layak mengundang investasi melalui pembelian sahamnya. Ketiga, emiten dinyatakan tidak layak, jika manajemennya diketahui pernah melakukan tindakan yang bertentangan dengan prinsip syari’ah (Nasarudin & Surya, 2004). Pengkajian ulang akan dilakukan enam bulan sekali dengan penentuan komponen indeks pada awal bulan Januari dan Juli setiap tahunnya. Sedangkan perubahan pada jenis usaha emiten akan dimonitoring secara terus menerus berdasarkan data-data publik yang tersedia. Indeks harga saham setiap hari dihitung menggunakan harga saham terakhir yang terjadi dibursa (Manan, 2009)

Jenis-jenis Saham (skripsi dan tesis)

Dalam pasar modal ada dua jenis saham yang paling umum dikenal oleh publik yaitu saham biasa (common stock) dan saham istimewa (preference stock). Dimana kedua jenis saham ini memiliki arti dan aturan masing-masing sebagai berikut (Fahmi, 2013):

1. Common stock (saham biasa) Common stock (saham biasa) adalah suatu saham surat berharga yang dijual oleh perusahaan yang menjelaskan nilai nominal (rupiah, dollar, yen dan sebagainya) dimana pemegangnya dibei hak untuk mengikuti RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) dan RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) serta berhak untuk membeli right issue (penjualan saham terbatas) atau tidak, yang selanjutnya di akhir tahun akan memperoleh keuntungan dalam bentuk dividen. Klasifikasi saham biasa (common stock) berdasarkan fundamental perusahaan dan kondisi perekonomian makro adalah sebgai berikut (Widiotmojo, 1996):

a. Income Stocks : saham dari suatu emiten yang memiliki kemampuan membayar dividen lebih tinggi dari rata-rata dividen yang dibayarkan pada tahun sebelumnya. Emiten seperti ini biasanya mampu menciptakan pendapatan yang lebih tinggi dan secara teratur membagikan dividen tunai.

b. Growth Stocks : emitennya sebagai perusahaan pemimpin dalam industrinya dan cukup prospektif. Sehingga perusahaan tersebut mampu memberikan dividen lebih tinggi.

c. Speculative Stocks : saham suatu perusahaan yang tidak bisa secara konsisten memperoleh penghasilan dari tahun ke tahun, akan tetapi mempunyai kemungkinan penghasilan yang tinggi di masa mendatang, meskipun belum pasti.

d. Cyclical Stocks : kelompok saham yang pergerakannya searah dengan perekonomian makro. Saham-saham perusahaan yang siklus bisnisnya mengikuti kondisi ekonomi memiliki indeks beta mendekati 1.

e. Defensive Stocks : saham yang pergeraknnya tidak terpengaruh oleh perekonomian makro maupun turbulensi sosial politik. Emitennya adalah perusahaan yang memproduksi consumer good f. Selain itu terdapat saham unggulan ( blue Chip Stocks) : saham biasa dari perusahaan yang memiliki reputasi tinggi, sebagai leader di industri sejenis, memiliki pendapatan yang stabil dan konsisten dalam membayar deviden.

2. Preferred stock (saham istimewa) Preferred stock (saham istimewa) adalah suatu surat berharga yang dijual oleh perusahaan yang menjelaskan nilai nominal (rupiah, dollar, yen dan sebagainya) dimana pemegangnya akan memperoleh pendapatan tetap dalam bentuk dividen yang akan diterima setiap kurtal (tiga bulan).Sebagai catatan, keuntungan yang diperoleh dari common stock adalah lebih tinggi dibandingkan dari preferred stock. Perolehan keuntungan tersebut juga diikuti oleh tingginya risiko yang akan diterima nantinya. Ini sebagaiman dikatan oleh Haryajid, Hendy, dan Anjar “investor yang ingin memperoleh penghasilan yang tinggi baik untuk melakukan investasi di saham biasa karena perputaran yang diperoleh dari saham lebih tinggi”. Apabila investor menginvestasikan dananya di saham preferen, maka hanya pada waktu tertentu saham tersebut dapat diuangkan (Fahmi, 2013).

Saham Syariah (skripsi dan tesis)

Secara konsep, saham merupakan surat berharga bukti penyertaan modal kepada perusahaan dan dengan bukti penyertaan tersebut pemegang saham berhak untuk mendapatkan bagian hasil dari usaha perusahaan tersebut. Konsep penyertaan modal dengan hak bagian hasil usaha ini merupakan konsep yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Prinsip syariah mengenal konsep ini sebagai kegiatan musyarakah atau syirkah. Berdasarkan analogi tersebut, maka 24 secara konsep saham merupakan efek yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Namun demikian, tidak semua saham yang diterbitkan oleh Emiten dan Perusahaan Publik dapat disebut sebagai saham syariah. Suatu saham dapat dikategorikan sebagai saham syariah jika saham tersebut diterbitkan oleh (www.ojk.go.id, 2017): 1. Emiten dan Perusahaan Publik yang secara jelas menyatakan dalam anggaran dasarnya bahwa kegiatan usaha Emiten dan Perusahaan Publik tidak bertentangan dengan Prinsip-prinsip syariah. 2. Emiten dan Perusahaan Publik yang tidak menyatakan dalam anggaran dasarnya bahwa kegiatan usaha Emiten dan Perusahaan Publik tidak bertentangan dengan Prinsip-prinsip syariah, namun memenuhi kriteria sebagai berikut: a. kegiatan usaha tidak bertentangan dengan prinsip syariah sebagaimana diatur dalam peraturan IX.A.13, yaitu tidak melakukan kegiatan usaha: 1) perjudian dan permainan yang tergolong judi; 2) perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa; 3) perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu; 4) bank berbasis bunga; 5) perusahaan pembiayaan berbasis bunga; 6) jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar) dan/atau judi (maisir), antara lain asuransi konvensional; 7) memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan/atau menyediakan barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi), barang atau jasa haram bukan karena zatnya (haram li-ghairihi) yang ditetapkan oleh DSN-MUI; dan/atau, barang atau jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat; 25 8) melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah); b. rasio total hutang berbasis bunga dibandingkan total ekuitas tidak lebih dari 82%, dan c. rasio total pendapatan bunga dan total pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan total pendapatan usaha dan total pendapatan lainnya tidak lebih dari 10%. Dalam islam, saham pada hakikatnya merupakan modifikasi sistem patungan (persekutuan modal) dan kekayaan, dalam istilah fiqh dikenal dengan istilah syirkah. Pengertian syirkah adalah akad kerjasama antara kedua belah pihak atau lebih untuk menjalankan usaha tertentu, dengan keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan, sedangkan risiko kerugian akan ditanggung bersama sesuai porsi kontribusi yang diberikan. Pada dasarnya tidak terdapat perbedaan antara saham syariah dengan non syariah. Namun saham sebagai bukti kepemilikan suatu perusahaan, dapat dibedakan menurut kegiatan usaha dan tujuan pembelian saham tersebut. Saham menjadi halal (sesuai syariah) jika saham tersebut kegiatan usahanya bergerak dibidang yang halal atau dalam niat pembelian saham tersebut adalah untuk investasi, bukan untuk spekulasi (Burhanuddin, 2008)

Definisi Pasar Modal (skripsi dan tesis)

Pasar modal adalah pertemuan antara pihak yang memiliki dana dengan pihak yang memerlukan dana dengan cara memperjual belikan sekuritas untuk jangka panjang dan dalam arti sempit merupakan pasar yang konkrit. Sebagaimana halnya pasar pada umumnya yang merupakan tempat pertemuan antara penjual dan pembeli, di dalam pasar modal yang diperjual belikan adalah dana atau modal dalam bentuk saham, obligasi ataupun bentuk lain. Tempat penawaran dan penjualan efek ini dilaksanakan berdasarkan bentuk institusi (lembaga) resmi yang disebut bursa efek (Khairandy, 2010). Pasar modal adalah tempat dimana berbagai pihak khususnya perusahaan menjual saham (stock) dan obligasi (bond) dengan tujuan dari hasil penjualan tersebut nantinya akan dipergunakan sebagai tambahan dana atau untuk memperkuat modal perusahaan. Sedangkan menurut Joel G. Siegel dan Jae K, Shim pasar modal adalah pusat perdagangan utang jangka panjang dan saham perusahaan. Adapun menurut R.J Shook pasar modal merupakan sebuah pasar tempat dana dan modal, seperti ekuitas dan hutang, diperdagangkan (Fahmi, Pengantar Pasar Modal, 2012). Pengertian pasar modal berdasarkan Pasal 1 Keputusan Presiden Nomor 60 Tahun 1998 adalah bursa yang merupakan sarana untuk mempertemukan penawaran dan permintaan dana jangka panjang dalam bentuk efek. Terdapat tiga jenis definisi pasar modal yang dapat diuraikan sebagai berikut (Setianingrum, 2009): 1. Definisi dalam arti luas Pasar modal adalah kebutuhan sistem keuangan ynag terorganisasi, termasuk bank-bank komersial dan semua perantara di bidang keuangan 23 serta surat-surat berharga, klaim jangka panjang dan jangka pendek, primer dan tidak langsung. 2. Definisi dalam arti menengah Pasar modal adalah semua pasar yang terorganisasi dan lembagalembaga yang memperdagangkan warkat-warkat kredit (biasanya yang berjangka waktu lebih dari satu tahun) termasuk sahamsaham, pinjaman berjangka hipotek dan tabungan serta deposito berjangka. 3. Definisi dalam arti sempit Pasar modal adalah tempat terorganisasi yang memperdagangkan saham-saham dan obligasi dengan memakai jasa dari makelar, komisioner dan para underwriter (penjamin). Pengertian lain pasar modal di definisikan sebagai pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik surat hutang (obligasi), ekuiti (saham), reksadana, instrumen derivatif maupun instrumen lainnya. Pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun institusi lain, dan sebagai sarana bagi kegiatan berinvestasi. Dengan demikian pasar modal memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana kegiatan jual beli dan kegiatan terkait lainnya (Bursa Efek Indonesia). Definisi pasar modal sesuai dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (UUPM) adalah kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek.

Model Regresi Data Panel (skripsi dan tesis)

Data panel adalah data yang merupakan hasil dari pengamatan pada beberapa individu atau (unit cross-sectional) yang merupakan masing-masing diamati dalam beberapa periode waktu yang berurutan (unit waktu) (Baltagi, 2005). Regresi panel merupakan sekumpulan teknik untuk memodelkan pengaruh peubah penjelas terhadap peubah respon pada data panel. Ada beberapa model regresi panel, salah satunya adalah model dengan slope konstan dan intercept bervariasi. Model regresi panel yang hanya dipengaruhi oleh salah satu unit saja (unit cross-sectional atau unit waktu) disebut model komponen satu arah, sedangkan model regresi panel yang dipengaruhi oleh kedua unit (unit cross-sectional dan unit waktu) disebut model komponen dua arah. Secara umum terdapat dua pendekatan yang digunakan dalam menduga model dari data panel yaitu model tanpa pengaruh individu (common effect) dan model dengan pengaruh individu (fixed effect dan random effect). Menurut Jaya & Sunengsih (2009), analisis regresi data panel adalah analisis regresi yang didasarkan pada data panel untuk mengamati hubungan antara satu 15 variabel terikat (dependent variable) dengan satu atau lebih variabel bebas (independent variable).

Model Regresi Linear Sederhana (skripsi dan tesis)

 

Menurut Sumodiningrat (1994, 100), hubungan atau persamaan dalam teori ekonomi biasanya mempunyai spesifikasi hubungan yang pasti (exact) atau hubungan deterministic di antara variabel-variabel. Mengingat bahwa hubungan yang tidak exact tidak pernah ada dalam ekonomi maka faktor-faktor stokastik harus ada dalam hubungan ekonomi. Dengan semakin banyaknya tuntutan akan perlunya menguji teori-teori ekonomi, variabel stokastik juga perlu diuji keberadaannya di dalam hubungan ekonomi. Bentuk paling sederhana dari hubungan stokastik antara dua variabel dan disebut “model regresi linear”.

Y= α + βXi+U(i=1,…n)

Y disebut variabel terikat (dependent variable), adalah variabel bebas (Independent variable) atau variabel penjelas (explanatory variable), adalah variabel gangguan stokastik (stochastic disturbance), dan adalah parameterparameter regresi. Subskrip menunjukan pengamatan yang ke- . Parameter dan ditaksir atas dasar data yang tersedia untuk variabel dan .

Pemilihan Model Estimasi Regresi Data Panel (skripsi dan tesis)

  1. Uji Chow
    Uji chow digunakan untuk mengetahui apakah teknik regresi data panel dengan fixed effects model lebih baik daripada common effects model. Hal ini dilakukan dengan melihat Residual Sum Square (SSR). Pada taraf uji α yang ditentukan, statistik uji chow mengikuti distribusi Fisher dengan derajat bebas n-1 dan nt-n-k. Jika nilai statistik F hitung lebih besar dari F tabel maka hipotesis nol ditolak pada tingkat signifikansi tertentu. Artinya, asumsi koefisien intersep berbeda-beda, sehingga teknik regresi data panel dengan
    fixed effect lebih baik dibanding model regresi data panel tanpa variabel dummy (common effects).
    2. . Uji Hausman
    Uji Hausman digunakan untuk menentukan model yang sesuai antara fixed effects model atau random effects model. Statistik uji Hausman mengikuti distribusi chi-square dengan derajat bebas jumlah variabel bebas (k). Jika model estimasi regresi data panel yang terpilih adalah common effects atau fixed effects maka tahap yang akan dilakukan adalah pengujian untuk memilih estimator yang akan digunakan dengan melihat struktur varian-kovarians residual. Hal ini dilakukan untuk menentukan metode estimasi yang tepat
    untuk digunakan dalam model apakah OLS, GLS, atau FGLS. Kemudian, setelah diperoleh model data panel terbaik serta metode estimasinya, dilakukan pemeriksaan asumsi klasik. Apabila metode estimasinya OLS, maka asumsi klasik yang harus terpenuhi adalah normalitas, homoskedastis, nonmultikolinieritas, dan nonautokorelasi. Jika metode estimasinya adalah GLS atau FGLS, maka asumsi yang harus terpenuhi adalah normalitas
    dan nonmultikolinieritas. Hal ini disebabkan metode GLS dan MLE mampu
    mengakomodasi masalah heteroskedas dan nonautokorelasi dalam model

Metode Estimasi Model Regresi Panel (skripsi dan tesis)

Dalam metode estimasi model regresi dengan menggunakan data panel dapat dilakukan melalui tiga pendekatan, antara lain:

  1. Common Effect Model

Merupakan pendekatan model data panel yang paling sederhana karena hanya mengkombinasikan data time series dan cross section. Pada model ini tidak diperhatikan dimensi waktu maupun individu, sehingga diasumsikan bahwa perilaku data perusahaan sama dalam berbagai kurun waktu. Metode ini bisa menggunakan pendekatan Ordinary Least Square (OLS) atau teknik kuadrat terkecil untuk mengestimasi model data panel.

  1. Fixed Effect Model

Model ini mengasumsikan bahwa perbedaan antar individu dapat diakomodasi dari perbedaan intersepnya. Untuk mengestimasi data panel model Fixed Effectsmenggunakan teknik variable dummy untuk menangkap perbedaan intersep antar perusahaan, perbedaan intersep bisa terjadi karena perbedaan budaya kerja, manajerial, dan insentif. Namun demikian slopnya sama antar perusahaan. Model estimasi ini sering juga disebut dengan teknik Least Squares Dummy Variable(LSDV).

  1. Random Effect Model

Model ini akan mengestimasi data panel dimana variabel gangguan  mungkin saling berhubungan antar waktu dan antar individu. Pada model Random Effectperbedaan intersep diakomodasi oleh error terms masing-masing perusahaan. Keuntungan menggunkan model Random Effect yakni menghilangkan heteroskedastisitas. Model ini juga disebut dengan Error Component Model(ECM) atau teknik Generalized Least Square (GLS)

Pengertian Data Panel (skripsi dan tesis)

Data panel adalah gabungan antara data runtut waktu (time series) dan data silang (cross section). Misalkan anda sebagai seorang peneliti ingin meneliti bank Mandiri dalam kurun waktu 2000-2013 maka anda melakukan penelitian menggunakn data time series. Contoh lain pada tahun 2009 keuntungan industri perbankan Indonesia di atas rata-rata  negara-negara ASEAN, apabila anda ingin meneliti fenomena tersebut dengan memasukan data semua bank dalam waktu 2009 saja, penelitian anda disebut menggunakan data cross section. Sedangkan jika anda ingin meneliti banyak bank dan dengan beberapa periode waktu (misalnya 10 bank dalam kurun waktu 5 tahun) penelitian anda menggunakan data panel.

Menurut Agus Widarjono (2009) penggunaan data panel dalam sebuah observasi mempunyai beberapa keuntungan yang diperoleh. Pertama, data panel yang merupakan gabungan dua data time series dan cross section mampu menyediakan data yang lebih banyak sehingga akan lebih menghasilkan degree of freedom yang lebih besar. Kedua, menggabungkan informasi dari data time series dan cross section dapat mengatasi masalah yang timbul ketika ada masalah penghilangan variabel (omitted-variabel).

Hsiao (1986), mencatat bahwa penggunaan panel data dalam penelitian ekonomi memiliki beberapa keuntungan utama dibandingkan data jenis cross sectionmaupun time series.

  1. Pertama, dapat memberikan peneliti jumlah pengamatan yang besar, meningkatkan degree of freedom(derajat kebebasan), data memiliki variabilitas yang besar dan mengurangi kolinieritas antara variabel penjelas, di mana dapat menghasilkan estimasi ekonometri yang efisien.
  2. Kedua, panel data dapat memberikan informasi lebih banyak yang tidak dapat diberikan hanya oleh data cross sectionatau time series saja.
  3. Ketiga, panel data dapat memberikan penyelesaian yang lebih baik dalam inferensi perubahan dinamis dibandingkan data cross section.

Uji Autokorelasi (skripsi dan tesis)

Menurut Danang Sunyoto (2016:97) menjelaskan uji autokorelasi sebagai berikut: “Persamaan regresi yang baik adalah yang tidak memiliki masalah autokorelasi, jika terjadi autokorelasi maka persamaan tersebut menjadi tidak baik atau tidak layak dipakai prediksi. Masalah autokorelasi baru timbul jika ada kolerasi secara linier antara kesalahan pengganggu periode t (berada) dengan kesalahan pengganggu periode t-1 (sebelumnya). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa uji asumsi klasik autokorelasi dilakukan untuk data time series atau data yang mempunyai seri waktu, misalnya data dari tahun 2000 s/d 2012”.

Uji Heteroskedastisitas (skripsi dan tesis)

Menurut Danang Sunyoto (2016:90) menjelaskan uji heteroskedastisidas sebagai berikut: “Dalam persamaan regresi beranda perlu juga diuji mengenai sama atau tidak varian dari residual dari observasi yang satu dengan observasi yang lain. Jika residualnya mempunyai varian yang sama disebut terjadi Homoskedastisitas dan jika variansnya tidak sama atau berbeda disebut terjadi Heteroskedastisitas. Persamaan regresi yang baik jika tidak terjadi heteroskedastisitas”. Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari satu observasi ke observasi yang lain, apabila kesalahan atau residual dari metode yang diamati tidak memiliki varian yang konstan dari suatu observasi ke observasi lainnya artinya setiap observasi mempunyai realibilitas yang berbeda akibat perubahan kondisi yang melatarbelakangi tidak terangkum dalam spesifikasi model. Untuk menguji ada tidaknya Heteroskedastisitas digunakan grafik plot. Jika ada pola tertentu. Seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyepit), maka mengindikasikan telah terjadi Heteroskedastisitas. Dan bila tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi Heteroskedastisitas. 53 Menurut Imam Ghozali (2013: 139) ada beberapa cara untuk mendeteksi heterokedastisitas, yaitu : “Dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara ZPRED dan SRESID dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi, dan sumbu X adalah residual (Y prediksi – Y sesungguhnya) yang telah distudentized. Homoskedastisitas terjadi jika pada scatterplot titik-titik hasil pengolahan data antara ZPRED dan SRESID menyebar dibawah maupun di atas titik origin (angka 0) pada sumbu Y dan tidak mempunyai pola yang teratur”.

Uji Multikolinearitas (skripsi dan tesis)

Menurut Danang Sunyoto (2016:87) menjelaskan uji multikolinearitas sebagai berikut:

 “Uji asumsi klasik jenis ini diterapkan untuk analisis regresi berganda yang terdiri atas dua atau lebih variabel bebas atau independen variabel (X1,2,3,…,n) di mana akan di ukur keeratan hubungan antarvariabel bebas tersebut melalui besaran koefisien korelasi (r)”.
 Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah pada sebuah model regresi ditentukan adanya korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan terdapat problem multikolinearitas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Jika terbukti ada multikolinearitas, sebaiknya salah satu dari variabel independen yang ada dikeluarkan dari model, lalu pembuatan model regresi diulang kembali (Santoso. 2012). Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas dapat dilihat dari besaran variance inflation factor (VIF) dan Tolerance. Pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinearitas adalah mempunyai angka tolerance mendekati 1. Batas VIF adalah 10, jika nilai VIF dibawah 10, maka tidak terjadi Multikolinearitas.,
Menurut Imam Ghozali (2013:105) menyatakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas di dalam model regresi adalah sebagai berikut:
1. “Jika R 2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat tinggi, tetapi secara individual variabel-variabel independen banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen.
2. Menganalisis matrik korelasi variabel-variabel independen. Jika antar variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya diatas 0,90), maka hal ini mengindikasikan adanya multikolinearitas. Tidak adanya korelasi yang tinggi antar variabel independen tidak berarti bebas dari multikolinearitas. Multikolinearitas dapat disebabkan karena adanya efek kombinasi dua atau lebih variabel independen.
 3. Multikolinearitas juga dapat dilihat dari:
   a) tolerance value dan lawanya
  b) Variance Inflation Faktor (VIF). Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi (karena 52 VIF=1/tolerance).
Pengujian multikolinearitas dapat dilakukan sebagai berikut:
  •  Tolerance value < 0,10 atau VIF > 10 : terjadi multikolinearitas.
  •  Tolerance value > 0,10 atau VIF < 10 : tidak terjadi multikolinearitas”.

Uji Normalitas (skripsi dan tesis)

Menurut Danang Sunyoto (2016:92) menjelaskan uji normalitas sebagai berikut:
“Selain uji asumsi klasik multikolinieritas dan heteroskedastisitas, uji asumsi klasik yang lain adalah uji normalitas, di mana akan menguji data variabel bebas (X) dan data variabel terikat (Y) pada persamaan regresi yang dihasilkan. Berdistribusi normal atau berdistribusi tidak normal. Persamaan regresi dikatakan baik jika mempunyai data 50 variabel bebas dan data variabel terikat berdistribusi mendekati normal atau normal sama sekali”.
 Uji normalitas digunakan untuk menguji apakan distribusi variabel terkait untuk setiap variabel bebas tertentu berdistribusi normal atau tidak dalam model regresi linear, asumsi ini ditunjukkan oleh nilai eror yang berdistribusi normal. Uji normalitas bertujusn untuk menguji apakah distribusi variabel terikat untuk detiap nilai variabel bebas tertentu berdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah model regresi yang memiliki distribusi normal atau mendekati normal, sehingga layak dilakukan pengujian secara statistik. Pengujian normalitas data menggunakan Test of Normality Kolmogorov-Smirnov dan juga digunakan grafik, yaitu normal probability plot. menurut Singgih Santosa (2012:393) dasar pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan probabilitas (Asymtotic Significanted), yaitu:
1) Jika probabilitas > 0,05 maka distribusi dari model regresi adalah normal.
 2) Jika probabilitas < 0,05 maka distribusi dari model regresi adalah tidak n

Uji Hipotesis (skripsi dan tesis)

Uji hipotesis merupakan pengambilan keputusan yang didasarkan dari analisis data, baik dari perusahaan yang terkontrol maupun dari observasi yang tidak terkontrol.Pengujian hipotesis ini dimaksudkan untuk mengetahui kebenaran dan relevansi antara variabel independen yang diusulkan terhadap variabel dependen serta untuk mengetahui kuat lemahnya pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sugiyono (2016: 63) hipotesis adalah: “…jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan”. Hipotesis nol (H0) merupakan hipotesis yang menyatakan bahwa variabelvariabel independen tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Sedangkan hipotesis alternatif (Ha) merupakan hipotesis yang menyatakan bahwa variabel-variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen Hipotesis

Uji Autokorelasi (skripsi dan tesis)

Menurut Winarno (2015: 29) autokorelasi adalah: “…hubungan antara residual satu dengan residual observasi lainnya”. Salah satu asumsi dalam penggunaan model OLS (Ordinary Least Square) adalah tidak ada autokolerasi yang dinyatakan E (ei,ej) 0 dan i≠j, sedangkan apabila ada autokolerasi maka dilambangkan E (ei,ej) ≠ 0 dan i ≠ j. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan Uji Durbin-Watson untuk menguji autokolerasinya. Uji Durbin-Watson merupakan salah satu uji yang banyak digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya autokolerasi (baik negatif atau positif).

Uji Heteroskedastisitas (skripsi dan tesis)

Menurut Ghozali (2011: 139) bahwa uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika tidak tetap maka disebut heterokedastisitas. Persamaan regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau yang tidak terjadi heterokedastisitas. Untuk menguji heterodastisitas salah satunya dengan melihat penyebaran dari varians pada grafik scatterplot pada output SPSS. Dasar pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut:

1. Jika pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar, kemudian menyempit), maka telah terjadi heteroskedastisitas.

2. Jika tidak ada polda yang jelas, serta titik menyebar diatas dan dibawah angka nol, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

Situasi heteroskedastisitas akan menyebabkan penaksiran koefisien koefisien regresi menjadi tidak efisien. Untuk menguji ada tidaknya heteroskedastisitas juga bisa menggunakan uji rank-Spearman yaitu dengan mengkorelasikan variabel independen terhadap nilai absolut dari residual hasil regresi, jika nilai koefisien kolerasi antara variabel independen dengan nilai absolut dari residual signifikan, maka kesimpulannya terdapat heteroskedastisitas (Ghozali, 2011: 139)

Uji Multikolinearitas (skripsi dan tesis)

Menurut Ghozali (2011: 105), uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya kolerasi antar variabel independen (bebas). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi kolerasi diantara variabel independen (bebas). Jika variabel independen saling berkolerasi, maka variabelvariabel ini tidak orthogonal. Variabel orthogonal adalah variabel independen yang nilai kolerasi antar semua variabel independen sama dengan nol. Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinieritas dapat dilihat pada besaran Variance Inflation Factor (VIF) dan Tolerance. Pedoman suatu model regresi yang 57 bebas multikolinieritas adalah mempunyai angka tolerance mendekati 1, batas VIF adalah 10, jika nilai VIF dibawah 10, maka tidak terjadi gejala multikolinieritas

Uji Normalitas (skripsi dan tesis)

Uji normalitas dilakukan untuk menguji data variabel bebas (independen) dan variabel terikat (dependen) pada persamaan regresi yang dihasilkan, apakah
berdistribusi normal atau berdistribusi tidak normal. Dalam model regresi linier, asumsi ini ditunjukan oleh nilai error yang berdistribusi normal atau mendakati normal, sehingga layak dilakukan pengujian secara statistik. Pengujian normalitas data menggunakan Test Normality Kolmogorov-Smirnov dalam program SPSS.
Menurut Imam Ghozali (2011: 160) bahwa uji normalitas bertujuan untuk
menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan uji f mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Persamaan regresi dikatakan baik jika mempunyai variabel bebas dan variabel terikat berdistribusi normal.
Menurut Singgih Santoso (2012: 393) dasar pengambilan keputusan dapat
dilakukan dengan melihat angka probabilitasnya, yaitu:
1. Jika probabilitas > 0,05 maka distribusi dari model regresi adalah normal.
2. Jika probabilitas < 0,05 maka distribusi dari model regresi adalah tidak normal.

Analisis Korelasi Berganda (skripsi dan tesis)

Analisis korelasi berganda merupakan perluasan dari analisis korelasi sederhana. Dalam analisis korelasi berganda bertujuan untuk mengetahui bagaimana derajat hubungan antara beberapa variabel independent (Variabel X1, X2, ……., Xk) dengan variabel dependent (Variabel Y) secara bersama-sama.

Asumsi-asumsi sehubungan dengan analisis regresi berganda tersebut adalah :

  1. Variabel-Variabel independent dan variabel dependent mempunyai hubungan linier
  2. Semua variabel, baik variabel-variabel independent maupun variabel dependent, merupakan variabel-variabel random kontinyu.
  3. Distribusi kondisional nilai masing-masing variabel berdistribusi normal (multivariate normal distribution)
  4. Untuk berbagai kombinasi nilai variabel yang satu dengan yang lain tertentu, varaince dari distribusi kondisional masing-masing variabel adalah homogen (asumsu homoscedasticity berlaku untuk semua variabel)
  5. Untuk masing-masing variabel, nilai observasi yang satu dengan yang lain, tidak berkaitan.

Berdasarkan korelasi berganda, yang diberi notasi RY.12…..n dihitung melalui jalur terjadinya hubungan antara beberapa variabel independent (X1, X2, ……., Xn) dengan satu variabel dependent (Y), yakni yang berupa regresi linier berganda Y’ = a + b1.X1 + b2.X2 + …… + bn.Xn.

ANALISIS REGRESI DAN KORELASI BERGANDA (skripsi dan tesis)

Analisis regresi berganda merupakan perluasan dari analisis regresi linier sederhana. Dalam regresi linier sederhana, dibuat analisis hubungan dua variabel (satu variabel independent dengan satu variabel dependent) yang dinyatakan dengan persamaan linier Y’ = a + bX, dengan tujuan membuat prediksi tentang besarnya nilai Y (variabel dependent) berdasarkan nilai X (variabel independent) tertentu.

Prediksi perubahan variabel dependent (Y) akan menjadi lebih baik apabila dimasukkan lebih dari satu variabel independent dalam persamaan liniernya (X1, X2,……..Xn). Hubungan antara lebih dari satu variabel independent dengan satu variabel dependent inilah yang dibicarakan dalam analisis regresi linier berganda. Hubungan antara banyak variabel inilah yang sesungguhnya terjadi dalam dunia nyata, karena sebenarnya kebanyakan hubungan antar variabel dalam ilmu soisal merupakan hubungan statistikal, artinya bahwa perubahan nilai Y tidak mutlak hanya dipengaruhi oleh satu nilai X tertentu tetapi dipengaruhi oleh banyak nilai X.

Model regresi berganda dengan 1 variabel dependent (Y) dengan n variabel independent (X) adalah :

Y’ = a + b1.X1 + b2.X2 + …… + bn.Xn + e

Misalnya untuk n = 2, model regresinya adalah :

Y’ = a + b1.X1 + b2.X2 + e

Dimana :

Y’      =    nilai Y prediksi

X1       =    Variabel bebas 1

X2     =    Variabel bebas 2

b1        =    Koefisien regresi variabel bebas 1, adalah perubahan pada Y untuk setiap perubahan X1 sebesar 1 unit dengan asumsi Xkonstan

b2      =    Koefisien regresi variabel bebas 2, adalah perubahan pada Y untuk setiap perubahan X2 sebesar 1 unit dengan asumsi Xkonstan

e       =    Kesalahan Prediksi (error)

Analisis regresi linier berganda, berdasarkan penelitian sampel dinyatakan dengan persamaan linier :

Y’ = a + b1.X1 + b2.X2 + …… + bn.Xn

Untuk kasus dua variabel independent, persamaan liniernya dinyatakan sebagai :

Y’ = a + b1.X1 + b2.X2

Analisis Multivariat dengan Menggunakan Metoda Dependensi (skripsi dan tesis)

Analisis multivariate dengan menggunakan metode dependensi bertujuannya untuk mengetahui pengaruh atau meramalkan nilai variable tak bebas berdasarkan lebih dari satu variable bebas yang mempengaruhi. Jika hanya ada satu variable tak bebas, dapat dilakukan dengan menggunakan: 1) Anova (Analysis of variance); 2) Ancova (Analysis of covariance); 3) 3 Regresi berganda; 4) Analisis diskriminan; atau 5) Analisis Konjoin. Jika variable tak bebasnya lebih dari satu, dapat dilakukan dengan menggunakan: 1) Monova (Multy analysis of variance); 2) Moncova (Multy analysis of covariace); atau 3) Korelasi Kanonikal.

 1. Anova (Analysis of variance)

Bertujuan untuk mengetahui dampak dari beberapa variable bebas yang berskala nominal/ordinal (berupa kelompok) yang disebut perlakuan (treatment) terhadap variable tak bebas yang datanya berskala interval/rasio (kuantitatif). Analisis varians dilakukan berdasarkan nilai atau score yang disesuaikan

 2. Ancova (Analysis of covariance)

Bertujuan untuk mengetahui perbedaan tentang nilai rata-rata dari variable tak bebas terkait dengan pengaruh dari variable bebas terkontrol. Variabel bebas yang kategori (nonmetrik: nominal dan ordinal) disebut faktor sedangkan variable bebas yang metric (interval atau rasio) disebut kovariat. Penggunaan kovariat untuk menyingkirkan (to remove) variasi yang tidak ada hubungannya (extraneous variation) dengan variable tak bebas oleh karena pengaruh (efek) dari faktor yang dianggap lebih penting. Variasi pada variable takbebas disebabkan oleh adanya kovariat disingkirkan melalui suatu penyesuaian (adjustment) terhadap nilai rata-rata variable tak bebas di dalam setiap kondisi treatment atau perlakuan (kategori/level). Signifikansi efek baik gabungan dari kovariat maupun efek dari setiap kovariat sebagai individu, diuji dengan criteria F yang tepat. Koefisien untuk kovariat memberikan pendalaman (provide insights) tentang efek atau pengaruh yang kovariat digunakan (exert) pada variable tak bebas Y. Analisis kovarian merupakan analisis yang paling tepat untuk faktor / variable bebasnya berbentuk kategori atau data nonmetrik, yaitu data beskala nominal atau ordina.

3.  Regresi berganda

Adalah metode yang tepat dipergunakan untuk masalah penelitian yang melibatkan satu variable tak bebas Y yang datanya berbentuk skala interval/rasio (kuantitatif) yang mempengaruhi atau terkait dengan lebih dari satu variable bebas X yang skala pengukurannya nominal/ordinal (kualitatif) maupun interval/rasio (kuantitatif). Tujuannya untuk memperkirakan/meramalkan nilai Y, jika semua variable bebas diketahui nilainya. Persamaan regresi linear berganda dibentuk dengan menggunakan metode kuadrat terkecil (least square method). Selain itu juga untuk mengetahui besarnya pengaruh dari setiap variable bebas yang terdapat dalam persamaan.

 4. Analisis Diskriminan

Bertujuan untuk memahami perbedaan kelompok (group differences) dan meramalkan peluang bahwa suatu objek penelitian (pelanggan, karyawan, mahasiswa, barang) akan masuk/menjadi anggota kelompok tertentu berdasarkan pada beberapa variable bebas yang datanya berskala interval/rasio (kuantitatif). Kelompok (group) merupakan variable tak bebas datanya beskala nominal/ordinal. Analisis diskriminan cocok dipergunakan jika variable tak bebasnya berupa kelompok, bisa dikotomus (dua kelompok, misalnya laki-laki dan perempuan) atau multi dikotomus (lebih dari dua kelompok). Peneliti harus mencari fungsi diskriminan yang dapat membedakan objek tertentu masuk kelompok yang mana berdasarkan banyaknya atribut atau variable bebas. Sedangkan yang diramalkan adalah keberadaan suatu objek tertentu temasuk pada kelompok yang mana.

5. Analisis Konjoin

Memberikan suatu ukuran kuantitatif mengenai kepentingan relative (relative importance) suatu atribut terhadap atribut yang lain dari suatu produk (barang/jasa). Dalam analisis conjoin, pelanggan diminta untuk membuat trade off judgements. Apakah suatu feature yang diinginkan pantas untuk mengorbankan feature lainnya? Kalau harus mengorbankan suatu atribut, atribut mana yang harus dikorbandkan. Jadi pelanggan memberikan informasi yang berguna dan sangat sensitive.

 6. Monova (Multy analysis of variance)

 Sama dengan Anova, hanya variable tak bebasnya lebih dari satu.

 7. Moncova (Multy analysis of variance)

Adalah analisis yang mirip dengan Moncova, bedanya terletak pada banyaknya variable tak bebas yang lebih dari satu.

8. Analisis Kanonikal (Analisis korelasi kanonikal)

Adalah perluasan dari analisis regresi berganda. Tujuannya untuk ,mengkorelasikan secara simultan (bersama-sama) beberapa variable tak bebas Y dengan beberapa variable bebas X. Jika regresi linear berganda hanya ada satu variable tak bebas Y dengan beberapa variable bebas X, dalam korelasi kanonikal ada beberapa variable tak bebas Y yang akan dikorelasikan dengan variable bebas X. Prinsip dari korelasi kanonikal adalah mengembangkan suatu kombinasi linear dari setiap kelompok variable (baik variable bebas X maupun variable tak bebas Y) sedemikian hingga memaksimumkan korelasi dari dua kelompok variable X dan Y. Dengan kata lain, akan dicari suatu kelompok timbangan (weight) untuk variable tak bebas Y dan variable bebas X yang dapat menghasilkan korelasi sederhana yang maksimum (sekuat mungkin) antara kelompok variable bebas dengan kelompok variable bebas.

Teknik Persamaan Struktural (skripsi dan tesis)

Teknik multivariat dependen dan interdependen masih memiliki banyak kelemahan karena belum mampu menjangkau model yang lebih sophisticated (rumit) lagi. Untuk mengatasinya, digunakan teknik Structural Equation Modeling (SEM). Analisis SEM merupakan kombinasi teknik multvariat yang menganalisis hubungan secara simultan antara variabel dependen dengan independen. Menurut Raykov (2000) dalam Kurniawan dan Yamin (2011:2) metode SEM lebih valid, dan digunakan untuk memberikan informasi yang lengkap tentang hubungan antar konstruk dan indikator, serta hubungan antar konstruk yang dihipotesiskan secara simultan. Analisis SEM secara eksplisit menghitung pengukuran error yang terjadi dalam sebuah model. Model SEM merupakan generasi kedua teknik analisis multivariat yang memungkinkan peneliti menguji hubungan yang kompleks baik recurcive maupun non recurcive. Model persamaan struktural atau SEM merupakan gabungan dari analisis faktor dan analisis jalur (path analysis) menjadi metode statistik yang lebih komprehensif (Bagozzi dan Fornel:1982) dalam Ghozali (2008c:3). Menurut Waluyo (2011:1) model-model penelitian dalam ilmu sosial dan manajemen dapat dikatakan rumit (complicated) karena bersifat multidimensional, dan memiliki berbagai pola hubungan kasualitas yang berjenjang. Untuk menganalisis model yang rumit diperlukan alat analisis yang mampu memberikan solusi terbaik, yaitu SEM

Teknik Interdependen (skripsi dan tesis)

. Dalam banyak kasus, peneliti sering mengalami kesulitan dalam menentukan jenis variabel apakah dependen atau independen. Seringkali ditemukan semua variabel adalah independen. Menurut Santoso (2006:6) hubungan antar variabel yang bersifat interdependen ditandai dengan tidak adanya variabel tergantung (dependent) dan bebas (independent). Pada jenis ini, metode multivariate yangdigunakan adalah analisis faktor, analisis cluster, Multi Dimensional Scaling Analysis (MDS) dan analisis categorical. Tujuan utama analisis interdependen adalah menganalisis mengapa dan bagaimana variabel yang ada saling berhubungan. Karena peneliti kesulitan menentukan variabel dependen atau independen, maka metode interdependen ditentukan berdasarkan jenis pengukuran variabel apakah bersifat metric atau non metric