Regresi Linear Berganda (skripsi dan tesis)

Analisis regresi adalah hubungan yang didapat dan dinyatakan dalam bentuk persamaan matematik yang menyatakan hubungan fungsional antar variabel. Scalzo, Xu, Asgari, Bergsneider, dan Hu (2009 :967) menambahkan bahwa analisis regresi adalah sebuah tehnik statistika yang digunakan untuk menganalisis variabel input (X) dan variabel output (Y). Dalam hal ini, variabel output yang dimaksud dapat disebut sebagai variabel terikat (dependent). Sedangkan variabel input yang dimaksud disebut sebagai variabel bebas (independent). Variabel terikat dinotasikan dengan “Y”, sedangkan variabel bebas dinotasikan dengan “X”.

Berdasarkan bentuk kelinearan data, model regresi dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu regresi linear dan regresi non linear. Suatu persamaan dapat dikatakan regresi linear apabila hubungan antara variabel independen dan variable dependen adalah linear. Sedangkan regresi dikatakan non linear apabila hubungan antara variabel independen dan variabel dependen tidak linear.

Sedangkan berdasarkan jumlah variabel bebas, regresi linear terdiri dari dua, yaitu regresi linear sederhana dan regresi linear berganda. Analisis regresi sederhana merupakan hubungan antara dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel tak bebas.

Analisis regresi berganda merupakan hubungan antara 3 variabel atau lebih, yaitu sekurang-kurangnya dua variabel bebas dengan satu variabel tak bebas. Tujuan dari analisis regresi adalah untuk membuat perkiraan nilai suatu variabel terikat jika nilai variabel bebas yang berhubungan dengannya sudah ditentukan dan menguji hipotesis signifikansi pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat.

Regresi linear berganda adalah perkembangan dari regresi sederhana yang menjelaskan hubungan antara variabel terikat dengan lebih dari satu variabel bebas (Freund, Wilson, & Sa, 2006 : 73). Tujuan utama analisis regresi linear berganda sama seperti dengan regresi sederhana, yaitu menggunakan hubungan antara variable terikat (response) dan variabel bebas (factor) untuk memprediksi atau menjelaskan karakteristik dari variabel (Freund, Wilson, & Sa, 2006 : 73).

Rasio Solvabilitas (skripsi dan tesis)

Rasio Solvabilitas atau biasa sering disebut rasio leverage. Rasio
ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban
jangka panjangnya. Menurut Van Horne (2005) rasio leverage adalah rasio
yang menunjukkan sejauh mana perusahaan dibiayai oleh utang (dana
pihak luar). Semakin besar jumlah pendanaan yang berasal dari kreditor,
semakin tinggi resiko perusahaan tidak dapat membayar seluruh kewajiban
beserta bunganya. Bagi pemegang saham, semakin tinggi rasio leverage,
semakin rendah tingkat pengembalian yang akan diterima pemegang
saham karena perusahaan harus melakukan pembayaran bunga sebelum
laba dapat dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk deviden.
Rasio leverage yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah
Debt to Equity Ratio (DER). Debt to Equity Ratio (DER) adalah
perbandingan total hutang dengan total modal sendiri

Uji Hausman (skripsi dan tesis)

Uji Hausman digunakan untuk menentukan model yang sesuai antara fixed effects model atau random effects model. Statistik uji Hausman mengikuti distribusi chi-square dengan derajat bebas jumlah variabel bebas (k). Jika model estimasi regresi data panel yang terpilih adalah common effects atau fixed effects maka tahap yang akan dilakukan adalah pengujian untuk memilih estimator yang akan digunakan dengan melihat struktur varian-kovarians residual. Hal ini dilakukan untuk menentukan metode estimasi yang tepat
untuk digunakan dalam model apakah OLS, GLS, atau FGLS. Kemudian, setelah diperoleh model data panel terbaik serta metode estimasinya, dilakukan pemeriksaan asumsi klasik. Apabila metode estimasinya OLS, maka asumsi klasik yang harus terpenuhi adalah normalitas, homoskedastis, nonmultikolinieritas, dan nonautokorelasi. Jika metode estimasinya adalah GLS atau FGLS, maka asumsi yang harus terpenuhi adalah normalitas dan nonmultikolinieritas. Hal ini disebabkan metode GLS dan MLE mampu mengakomodasi masalah heteroskedas dan nonautokorelasi dalam model.

MULTIKOLINEARITAS (skripsi dan tesis)

Multikolinearitas adalah adanya hubungan linear yang sempurna di antara variabel yang menjelaskan model regresi. Untuk mengukur terjadinya multikolinearitas pada model regresi dilihat dari koefisien korelasi antara masing-masing variabel bebas. Apabila koefisien > 0,80, maka dalam model regresi terjadi multikolinearitas.

Apabila terdapat persoalan ini dalam sebuah teknik regresi, maka dapat mengakibatkan koefisien regresi tidak dapat ditentukan dan standar erornya tidak dapat didefinisikan. Selain itu jika kolinearitas tinggi tetapi tidak sempurna, estimasi dari koefisien regresi masih dimungkinkan, namun nilai standar erornya cenderung besar. Hasilnya, nilai populasi dari koefisien-koefisien tidak dapat diestimasi dengan tepat.

Uji Multikolinieritas (skripsi dan tesis)

Menurut Imam Ghozali (2011) uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Untuk menguji multikolinieritas dengan cara melihat nilai VIF
masing-masing variabel independen, jika nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan data bebas dari gejala multikolinieritas.

Uji Normalitas (skripsi dan tesis)

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah
sampel kecil. Ada dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik. Untuk menguji apakah data berdistribusi normal atau tidak dilakukan uji statistik  olmogorov-Smirnov Test. Residual berdistribusi normal jika memiliki nilai signifikansi
>0,05 (Imam Ghozali, 2011:).

Uji Hipotesis Regresi (skripsi dan tesis)

 

Pengujian hipotesis dapat didasarkan dengan menggunakan dua hal, yaitu: tingkat signifikansi atau probabilitas (α) dan tingkat kepercayaan atau confidence level. Didasarkan tingkat signifikansi pada umumnya orang menggunakan 0,05. Kisaran tingkat signifikansi mulai dari 0,01 sampai dengan 0,1. Yang dimaksud dengan tingkat signifikansi adalah probabilitas melakukan kesalahan tipe I, yaitu kesalahan menolak hipotesis ketika hipotesis tersebut benar. Tingkat kepercayaan pada umumnya ialah sebesar 95%, yang dimaksud dengan tingkat kepercayaan ialah tingkat dimana sebesar 95% nilai sample akan mewakili nilai populasi dimana sample berasal. IBM SPSS menggunakan istilah interval kepercayaan (confidence interval). Interval kepercayaan yang sering juga disebut margin of error merupakan nilai yang mencerminkan kurang atau lebih, misalnya interval kepercayaan 5 dan 50% dalam pengambilan sampel mempunyai makna bahwa sampel yang kita pilih akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kita berikan dalam kisaran antara 45% (50% – 5%) dan 55% (50% + 5%).

Untuk melakukan uji hipotesis diperlukan hipotesis riset. Hipotesis riset merupakan dugaan mengenai sifat fakta-fakta yang memungkinkan. Hipotesis ini dianggap sebagai titik awal penyelidikan. Sebagai contoh, peneliti berpendapat bahwa promosi secara besar-besar-an berpengaruh terhadap penjualan. Sedang dalam statistik, terdapat dua hipotesis, yaitu hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (H1 / Ha). Hipotesis nol dalam statsitik merupakan hipotesis yang sebenarnya kita uji. Hipotesis ini merupakan pernyataan peneliti yang mengatakan bahwa variabel bebas tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel tergantung (dalam regresi) dan tidak ada hubungan antara dua variabel (dalam korelasi). Dalam hipotesis nol kita berasumsi bahwa sampel – sampel berasal dari populasi yang sama. Sedang hipotesis alternatif merupakan hipotesis yang memberikan alternatif berbeda dengan hipotesis nol-nya. Dengan demikian dalam kaitannya dengan hipotesis nol di atas; maka peneliti mengatakan bahwa variabel bebas mempunyai pengaruh terhadap variabel tergantung (dalam regresi) dan ada hubungan antara dua variabel (dalam korelasi).

Contoh uji hipotesis misalnya rata-rata produktivitas pegawai sama dengan 10 (μ x= 10), maka bunyi hipotesisnya ialah:

H0: Rata-rata produktivitas pegawai sama dengan 10
H1: Rata-rata produktivitas pegawai tidak sama dengan 10

Hipotesis statistiknya:

H0: μ x= 10
H1: μ x > 10 Untuk uji satu sisi (one tailed) atau
H1: μ x < 10
H1: μ x ≠ 10 Untuk uji dua sisi (two tailed)

Asumsi Penggunaan Regresi (skripsi dan tesis)

Penggunaan regresi linear sederhana didasarkan pada asumsi diantaranya sbb:

  • Model regresi harus linier dalam parameter
  • Variabel bebas tidak berkorelasi dengan disturbance term (Error) .
  • Nilai disturbance term sebesar 0 atau dengan simbol  sebagai berikut: (E (U / X) = 0
  • Varian untuk masing-masing error term (kesalahan) konstan
  • Tidak terjadi otokorelasi
  • Model regresi dispesifikasi secara benar. Tidak terdapat bias spesifikasi dalam model yang digunakan dalam analisis empiris.
  • Jika variabel bebas lebih dari satu, maka antara variabel bebas (explanatory) tidak ada hubungan linier yang nyata

Syarat-Syarat Regresi (skripsi dan tesis)

  1. Model regresi dikatakan layak  jika angka signifikansi pada ANOVA sebesar < 0.05
  2. Predictor yang digunakan sebagai variabel bebas harus layak. Kelayakan ini diketahui jika angka Standard Error of Estimate < Standard Deviation
  3. Koefesien regresi harus signifikan. Pengujian dilakukan dengan uji t. Koefesien regresi signifikan jika t hitung > t table (nilai kritis). Dalam IBM SPSS dapat diganti dengan menggunakan nilai signifikansi (sig) dengan ketentuan sebagai berikut:
  • Jika sig < 0,05; koefesien regresi signifikan
  • Jika sig > 0,05; koefesien regresi tidak signifikan
  1. Tidak boleh terjadi multikolinieritas, artinya tidak boleh terjadi korelasi antar variabel bebas yang sangat tinggi atau terlalu rendah. Syarat ini hanya berlaku untuk regresi linier berganda dengan variabel bebas lebih dari satu. Terjadi multikolinieritas jika koefesien korelasi antara variable bebas > 0,7 atau < – 0,7
  2. Tidak terjadi otokorelasi jika: – 2 ≤ DW ≤ 2
  3. Keselerasan model regresi dapat diterangkan dengan menggunakan nilai r2 semakin besar nilai tersebut maka model semakin baik. Jika nilai mendekati 1 maka model regresi semakin baik. Nilai r2mempunyai karakteristik diantaranya: 1) selalu positif, 2) Nilai r2 maksimal sebesar 1. Jika Nilai r2 sebesar 1 akan mempunyai arti kesesuaian yang sempurna. Maksudnya seluruh variasi dalam variabel tergantung (variabel Y) dapat diterangkan oleh model regresi. Sebaliknya jika r2 sama dengan 0, maka tidak ada hubungan linier antara variabel bebas (variabel  X) dan variabel tergantung (variabel Y).
  4. Terdapat hubungan linier antara variabel bebas (X) dan variabel tergantung (Y)
  5. Data harus berdistribusi normal
  6. Data berskala interval atau rasio
  7. Terdapat hubungan  dependensi, artinya satu variabel merupakan variabel tergantung yang tergantung pada variabel (variabel) lainnya.

Pengertian Regresi (skripsi dan tesis)

Regresi dalam pengertian moderen  menurut Gujarati (2009) ialah  sebagai kajian terhadap ketergantungan satu variabel, yaitu variabel tergantung terhadap satu atau lebih variabel lainnya atau yang disebut sebagai variabel – variabel eksplanatori dengan tujuan untuk membuat estimasi dan / atau memprediksi rata – rata populasi atau nilai rata-rata variabel tergantung dalam kaitannya dengan nilai – nilai yang sudah diketahui dari variabel ekslanatorinya. Selanjutnya menurut Gujarati meski analisis regresi berkaitan dengan ketergantungan atau dependensi satu variabel terhadap variabel – variabel lainnya hal tersebut tidak harus menyiratkan sebab – akibat (causation). Dalam mendukung pendapatnya ini, Gujarati mengutip pendapat Kendal dan Stuart yang diambil dari buku mereka yang berjudul “The Advanced Statistics” yang terbit pada tahun 1961 yang mengatakan bahwa,” suatu hubungan statistik  betapapun kuat dan sugestifnya tidak akan pernah dapat menetapkan hubungan sebab akibat (causal connection); sedang gagasan mengenai sebab akibat harus datang dari luar statistik, yaitu dapat berasal dari teori atau lainnya”.

Sedang menurut Levin & Rubin (1998:648), regresi digunakan untuk menentukan sifat – sifat dan kekuatan hubungan antara dua variabel serta memprediksi nilai dari suatu variabel yang belum diketahui dengan didasarkan pada observasi masa lalu terhadap variabel tersebut dan variabel-variabel lainnya. Selanjutnya dalam regresi kita akan mengembangkan persamaan estimasi (estimating equation), yaitu rumus matematika yang menghubungkan variabel-variabel yang diketahui dengan  variabel-variabel yang tidak diketahui. Setelah dipelajari  pola hubungannya, kemudian kita dapat mengaplikasikan analisis korelasi (correlation analysis) untuk menentukan tingkatan dimana variabel – variabel tersebut berhubungan. Kesimpulannya, analisis korelasi mengungkapkan seberapa benar persamaan estimasi sebenarnya menggambarkan hubungan tersebut.  Lebih lanjut Levin & Rubin mengatakan bahwa: “ Kita sering menemukan hubungan sebab akibat antar variabel – variabel; yaitu variabel bebas ‘menyebabkan’ variabel tergantung berubah. Sekalipun demikian mereka melanjutkan bahwa: “penting untuk kita perhatikan bahwa yang kita anggap hubungan (relationship) yang diketemukan melalui regresi sebagai hubungan asosiasi (relationship of association) tetapi tidak selalu harus sebab dan akibat (cause and effect). Kecuali kita mempunyai alasan – alasan khusus untuk percaya bahwa (perubahan pada) nilai – nilai variabel tergantung  disebabkan oleh nilai – nilai variabel (variabel) bebas; jangan menyimpulkan (infer) hubungan sebab akibat dari hubungan yang diketemukan dalam regresi.

Variabel dalam Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Dalam penelitian eksperimen dikenal beberapa variabel. Variabel adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kondisi, keadaan, faktor, perlakuan, atau tindakan yang diperkirakan dapat memengaruhi hasil eksperimen. Variabel yang berkaitan secara langsung dan diberlakukan untuk mengetahui suatu keadaan tertentu dan diharapkan mendapatkan dampak/akibat dari eksperimen sering disebut variabel eksperimental (treatment variable), dan variabel yang tidak dengan sengaja dilakukan tetapi dapat memengaruhi hasil eksperimen disebut variabel noneksperimental. Variabel eksperimental adalah kondisi yang hendak diteliti bagaimana pengaruhnya terhadap suatu gejala. Untuk mengetahui pengaruh variabel itu, kedua kelompok, yaitu kelompok eksperimental dan kontrol dikenakan variabel eksperimen yang berbeda atau yang bervariasi. Variabel noneksperimental sebagian dapat dikontrol, baik untuk kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Ini disebut variabel kontrol atau controlled variabel. Akan tetapi, sebagian lagi dari variabel non-eksperimen ada di luar kekuasaan eksperimen untuk dikontrol atau dikendalikan. Jenis variabel ini disebut variabel ekstrane atau extraneous variabel. Dalam setiap eksperimen, hasil yang berbeda pada kelompok eksperimen dan kontrol sebagian disebabkan oleh variabel eksperimental dan sebagian lagi karena pengaruh variabel ekstrane. Oleh karena itu, setiap peneliti yang akan melakukan eksperimen harus memprediksi akan munculnya variabel pengganggu ini

PROSEDUR PLASEBO DALAM DESAIN EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

Pada prinsipnya placebo sama dengan kondisi kontrol yang tidak spesifik. Dalam pelaksanaannya, eksperimen dilakukan dengan cara membandingkan antara kondisi spesifik berupa psikoterapi dengan kondisi yang tidak spesifik yang disebut placebo.

Kelompok kontrol mendapat perlakuan placebo ini yang jumlah sesinya sama dengan ke lompok eksperimen. Kelompok perlakuan memperoleh materi sama dengan prosedur terapi yang semestinya, sedangkan pada kelompok kontrol konselor tidak memberi terapi

PENGGUNAAN PLACEBO DALAM DESAIN EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

Istilah placebo diambil dari bahasa latin artinya “ I shall please “ (sekedar membuat orang senang). Placebo adalah perlakuan pura-pura (sham treatment).

Dalam penelitian psikologi khususnya eksperimen di bidang psikoterapi dan intervensi lainnya, konsep placebo mulai dikenal dalam beberapa tahun terakhir sebagai adaptasi dari model yang dikembangkan pada bidang farmakologi. Penggunaan placebo dalam psikologi berawal dari pandangan bahwa perubahan-perubahan perilaku subjek setelah mengikuti psikoterapi ukan disebabkan oleh faktor psikoterarapi tetapi karena efek placebo.

Dalam pengertian psikoterapi, placebo dimaknai sebagai seluruh proses kegiatan yang diberikan pada unit eksperimental, tetapi kegiatan tersebut tidak memberi efek apa-apa pada perilaku yang diamati.

Placebo disebut sebagai faktor-faktor yang tidak spesifik yaitu elemen-elemen yang ada pada semua bentuk intervensi. Atau hanya bagian dari prosedur.

Elemen-elemen ini misalnya, harapan untuk berhasil, kepecayaan pada konselor(terapis), peningkatan semangat sehingga mau melakukan dan mencoba cara-cara adaptif dalam hidupnya.

Meningkatkan Validitas Internal Dalam Desain Eksperimen (skripsi dan tesis)

Peneliti hendaknya mencari upaya untuk meningkatkan validitas internel pada penelitian eksperimen, adapun cara yang dapat dilakukan yaitu;

  1. Mengelompokkan unit eksperimen secara objektif. Teknik yang baik untuk mengelompokkan adalah randomisasi. Jika randomisasi tidak memungkinkan, pengelompokan dapat dilakukan dengan penyeragaman (matching) variable yang berpengaruh, pembatasan variable sehingga ada homogenitas antarkelompok.
  2. Menggunakan isntrumen pengukuran yang valid dan reliable, serta prosedur yang tepat.
  3. Menghindari terjadinya interaksi (proses pembelajaran)) suatu perlakuan yang diberikan kepada kelompok kontrol selama kegiatan penelitian berlangsung.
  4. Membuat kondisi yang ajeg, khususnya di lingkungan eksperimen.

Hubungan Validitas Internal dan Eksternal Dalam Desain Eksperimen (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimen lebih mementingkan validitas internal disbanding validitas eksternal. Pada prakteknya seringkali validitas eksternal lebih rendah hal ini karena peneliti ingin mengetahui hubungan sebab akibat antara variable bebas dan variable terikat. Peneliti berusaha ketat untuk mengontrol variable sekunder, pengaruh dari variable luar VB terhadap variable terikat dihilangkan. Akibatnya, kondisi penelitian menjadi tidak alamiah karena situasi penelitiannya terkontrol, ini menyebabkan validitas eksternal tidak terpenuhi.

Penelitian eksperimental lebih mementingkan Randomisasi daripada random sampling, subjek penelitian yang digunakan tidak mewakili populasi, yang menyebabkan subjek penelitian yang digunakan menjadi homogen. Validitas populasi menjadi rendah.

Pemberian VB pada subjek penelitian untuk dilihat pengaruhnya terhadap VT dalam penelitian eksperimental lebih sering hanya dilakukan pada waktu tertentu. Oleh karena itu, kekuatan pengaruh VB terhadap VT lebih besar disbanding pemberian variable bebas pada beberapa waktu yang berbeda. Validitas temporal menjadi rendah.

Kesimpulan dari hubungan tersebut yaitu penelitian yang memiliki validitas internal tinggi akan menunjukkan validitas eksternal yang rendah, demikian juga sebaliknya.

VALIDITAS EKSTERNAL DESAIN EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

Validitas eksternal penelitian berkaitan dengan sejauh mana hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada subjek , situasi, dan waktu yang berbeda. Secara umum ada 3 validitas eksternal yaitu 1) Validitas populasi; 2) Validitas Ekologis; Validitas Temporal (Christensen, 2001).

A. Validitas Populasi
kemampuan hasil suatu penelitian untuk digeralisasikan dari sampel penelitian kepada populasi yang lebih besar. Validitas populasi berkaitan dengan teknik pengambilan sampel, apakah dilakukan secara acak atau tidak. Validitas populasi akan semakin baik apabila sampel diambil melalui random sampling. Akan tetapi random sampling sulit dilakukan pada penelitian eksperimen karena seringkali jumlah populasi yang sebenarnya tidak diketahui.

Berkaitan dengan validitas populasi, maka perlu diperhatikan darimana populasi diambil yaitu populasi target dan populasasi yang dapat dijangkau. Populasi target adalah populasi lebih besar dimana hasil penelitian akan digeneralisasikan, sedangkan populasi yang dapat dijangkau adalah kelompok populasi yang tersedia untuk peneliti.

Validitas populasi dipengaruhi oleh bias seleksi, yaitu merupakan kesalahan dalam mengambil sampel yang tidak sesuai dengan karakteristik dari subjek penelitian.

B. Validitas Ekologis
Berkaitan dangan situasi dan kondisi lingkungan. Validitas ekologis tinggi apabila pengaruh dari manipulasi VB tidak terkait dengan setting lingkungan yang sudah ada sebelumnya sehingga hasil penelitian dapat diterapkan di lingkungan lain.

Adapun yang termasuk validitas ekologis sebagai berikut;

    • Multiple treatment interference yaitu kondisi dimana perlakuan sebelumnya masih berpengaruh pada perlakuan berikutnya pada subjek yang sama dan mengalami dua manipulasi yang berbeda ( mungkin menjadi subjek dalan 2 penelitian).
    • Hawthorne Effect yaitu suatu kondisi dimana subjek menyadari sedang diteliti sehingga menampilkan tk laku tertentu. Kondisi ini dapat diatasi dg single blind procedure (membatasi pengetahuan subjek).
  • Pretesting Effect yaitu suatu kondisi dimana subjek menunjukkan hasil tes yang bukan sebenarnya, bereaksi berbeda, defensif, dan memperkuat opini.
  • Experimenter effect yaitu suatu kondisi dimana peneliti membatasi hasil generalisasi, ini terkait dengan atribut dan harapan peneliti.

C. Validitas Temporal
Berkaitan dengan generalisasi hasil penelitian pada waktu yang berbeda. Peneliti perlu dipertimbangkan waktu pemberian treatmen, rentang pengukuran VT , jarak antar manipulasi VB dll.

Validitas Temporal meliputi;

1. Variasi Musiman : Variasi ini berkaitan dengan kejadian secara umum atau biasa terjadi sepanjang waktu dalam populasi.

  • Fixed time variation : Varian ini terjadi apabila perubahan terjadi pada waktu tertentu atau waktu yang dapat diramalkan. (Kemacetan dapat diramalkan di Jakarta pada waktu pulang kantor atau kemacetan di puncak pada saat liburan).
  • Variable time variation : Varian ini terjadi apabila perubahan terjadi pada waktu yang tidak sama atau tidak dapat diramalkan – tidak bisa diterapkan untuk individu lain.

2. Variasi siklus (cyclical variation)
Ini merupakan bentuk dari variasi musiman, namun terjadi di dalam diri manusia dan makhluk lainnya. Siklus pada diri manusia dan makhluk lainnya dapat mengubah pengaruh VB terhadap VT. Misalnya; kondisi fisik manusia pada siang hari tidak sama dengan pagi hari, jika penelitian diulang pada waktu yang berbeda kemungkinan hasil tidak sama.

3. Variasi personal (personological variation)
Variasi ini merupakan variasi dari karakteristik individu spanjang waktu. Walaupun secara umum karakter orang cenderung stabil, namum beberapa karakter cenderung berubah pada wktu tertentu. Misalnya; penelitian tentang minat belajar dilakukan pada saat musim ujian dan tidak hasilnya kemungkinan berbeda

VALIDITAS INTERNAL PENELITIAN DESAIN EKSPERIMEN  (skripsi dan tesis)

Validitas internal menunjukkan sejauh mana hubungan sebab akibat antara VB dan VT yang ditemukan dalam penelitian. Semakin kuat hubungan antara VB dan VT semakin kuat hubungan sebab akibat.

Sebuah penelitian eksperimen kemungkinan tidak menunjukkan hubungan sebab akibat yang kuat atau bahkan tidak ada hubungan kausalitas. Hal ini dipengaruhi beberapa hal berikut ini; (Shadish, Cook, and Cambell; 2002)

1. Ambiguous Temporal Prescendence
Sebuah sebab A harus menghasilkan peristiwa B, apabila sebab tidak kuat atau ambigu menyebabkan hubungan kausalitas menjadi tidak kuat.

2. Selection
Seleksi berhubungan dengan proses mengambil sampel dari populasi, setiap individu memiliki karakteristik masing-masing, peneliti harus bisa membatasi karakteristik yang akan mengganggu tujuan dari eksperimen. Sampel yang dipilih memiliki pengetahuan mengenai proses apa yang akan dijalani dalam penelitian, ini akan mempengaruhi sikap individu misalnya faking good atau tidak menunjukkan kemampuan sesungguhnya. Kondisi ini bisa dikontrol dengan randomisasi (random assignment).

3. History
Peristiwa yang terjadi di luar pemberian treatment, tetapi berlangsung antara awal penelitian sampai denga sebelum diberikan posttest.

4. Maturation
Perubahan natural yang terjadi pada individu karena kematangan, betambahnya pengalaman sample, bertambahnya waktu dll. Misalnya : eksperimen yang dilakukan lebih dari 1 tahun, perubahan yang terjadi bisa dipengaruhi bertambah usia sample dan penguasaan keterampilan semakin bertambah.

5. Regression
Apabila sampel yang diambil mempunyai nilai pengukuran yang ekstrem misal terlalu rendah daripada yang lain, dia mungkin akan sering menunjukkan nilai rendah di variable yang lain, ini akan mempengaruhi keefektifan treatment yang diberikan. Kemungkinan efek dari treatment sedikit mempengaruhi sampel dengan nilai ekstrem ini.

6. Attrition
Berkurangnya responden yang mengikuti pelatihan (mortalitas) mempengaruhi keberlangsungan penelitian. Sebaiknya jumlah sampel dibuat lebihuntuk mengatasi kemungkinan mortalitas sampel.

7. Testing
Tes yang diberikan di awal penelitian dan akhir penelitian bisa jadi hasilnya dipengaruhi oleh pengalaman sampel. Sampel kemungkinan masih mengingat isi tes yang diberikan sehingga peningkatan hasil setelah pemberian treatment belum tentu karena treatment tetapi Karena subjek berusaha memperbaiki yang dia anggap salah atau menyamakan jawaban dengan tes awal.

Langkah meminimalkan dengan parallel tes, tes yang sama atau setara akan tetapi dipertimbangkan perubahan di beberapa hal. Bisa juga dengan pemberian tes yang tidak sama tetapi setara.

8. Instrumentation
Alat ukur yang digunakan harus memenuhi validitas dan reliabilitas statistic (lolos uji). Apabila tes belum ada validitas dan reliabiitas akan dipertanyakan kemampuan alat ukur m,engukur yang sebenarnya

9. Addictive and Interactive effect of threats internal validity

Pengaruh dari treatmen yang ditambahkan pada proses atau pengaruh level treatment yang berbeda-beda pada setiap individu.

MODEL PERLAKUAN KONTROL (skripsi dan tesis)

Berdasarkan bentuk kelompok kontrol, ada 4 model dalam pemberian perlakuan subjek, yaitu;

A. Perlakuan lawan tanpa Perlakuan

Model ini terdapat 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan (X) yang mendapatkan intervensi dan kelompok kontrol (-) yang tidak memperoleh perlakuan. Perbedaan hasil pengukuran (O) pada kedua kelompok dianggap sebagai perlakuan;

  • Kelompok perlakuan : (X) > O
  • Kelompok kontrol : (-) > O

Model ini merupakan alternative model yang paling lama dikembangkan dalam eksperimen psikososial. Pola perlakuan ini tidak selalu harus dibagi dalam 2 kelompok perlakuan yang berbeda dengan satu kelompok tanpa perlakuan sebagai kontrol.

B. Perlakuan lawan perlakuan lain (komparasi perlakuan)

Dalam model ini terdapat 2 kelompok, yaitu kelompok perlakuan yang mendapatkan intervensi dan kelompok kontrol (Z) yang memperoleh perlakuan dalam bentuk intervensi yang lain. Perbedaan hasil pengukuran pada kedua kelompok dianggap sebagai akibat perlakuan.

  • Kelompok perlakuan : (X) > O
  • Kelompok kontrol : (-) > O

Sebagai bentuk pengembangan dari pola pertama, terutama karena faktor etis, subjek-subjek yang bermaslah tidak menjadi anggota kelompok kontrol yang dibiarkan tanpa adanya perlakuan sehingga dikembangkan desain untuk membandingkan perlakuan.

C. Perlakuan lawan plasebo

Model ini terdapat 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan yang mendapatkan intervensi dan kelompok kontrol yang memperoleh perlakuan berupa placebo.

Perbedaan hasil pengukuran pada kedua kelompok dianggap sebagai akibat dari perlakuan;

  • Kelompok perlakuan : X) > O
  • Kelompok kontrol : (p) > O

Pola perlakuan placebo pada mulanya dikembangkan pada bisdang farmakoterapi untuk pengujian obat

D. Perlakuan lawan perlakuan bervariasi

Model ini terdapat 2 kelompok yaitu, kelompok perlakuan ynag mendpatkan intervensi lebih banyak atau bervaiasi disbanding dengan kelompok yang memperoleh perlakuan kurang.

Model ini disebut pula dismantling. Perbedaan hasil pengukuran pada kedua kelompok dianggap sebagai hasil perlakuan.

  • Kelompok perlakuan ; (XXX) > O
  • Kelompkk kontrol : (X) > O

PRINSIP DESAIN EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

Validitas merupakan hal yang penting dalam hasil penelitian disajikan untuk umum. Walaupun validitas internal lebih diutamakan tetapi validitas eksternal juga tidak boleh diabaikan.

Ada 3 prinsip dasar yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan validitas eksperimen yaitu:

A. Replikasi
Yaitu frekuensi atau pengulangan perlakuan dalam suatu eksperimen atau penelitian yang sama dengan dilakukan secara berulang-ulang. Dalameksperimen psikologi, replikasi digunakan dalam 2 pengertian. Pertama, replikasi pengulangan pada perlekuan unit-unit eksperimen yang berbeda dengan unit eksperimen yang diujicobakan sebelumnya.

Replikasi dilakukan untuk menerapkan hasil-hasil eksperimen terdahulu, tetapi dengan cara yang pertama kali dilakukan, khususnya segi kelompok atau unit, waktu, dan tempat. Adapun perlakuan yang diberikan dalam replikasi tetap sama atau sedikit bervariasi sesuai keperluan.

Replikasi merupakan pengulangan perlakuan yang diberikan kepada unit kelompok eksperimen yang sama atau unit berbeda. Dalam penelitian peneliti memberi beberapa kali (minimal 2 kali) pada unit kelompok yang sama atau kelompok berbada. Replikasi bertujuan meningkatkan validitas internal yaitu apakah perubahan benar-benar terjadi karena perlakuan atau faktor lain.

Replikasi dalam pengertian kedua ini dapat berupa frekuensi perlakuan sejumlah unit eksperimen. Jika perlakuan diberikan pada 10 remaja, dalam perlakuan itu terdapat 10 unit eksperimental.

Jika satu perlakuan diberikan pada 10 remaja berarti replikasi yang dilakukan terhadap eksperimen sebanyak 10 kali karena setiap subjek mendapatkan 1 kali perlakuan.

Tata cara menghitung jumlah replikasi yang diingikan untuk mencapai ketelitian dapat dilihat di buku Psikologi eksperimen oleh Rosleny Marliani, M.Si.

Menurut hanafiah dalam Rosleny (2013), penentuan jumlah replikasi dipengaruhi 3 hal yaitu:

  1. Tingkat ketelitian, semakin tinggi tingkat ketelitian yang diingikan dari eksperimen, semakin besar jumlah replikasi yang dibutuhkan.
  2. Keragaman bahan, alat, media dan lingkungan eksperimen. Semakin heterogen faktor-faktor tersebut, semakin besar pula replikasi yang diperlukan.
  3. Jika biaya penelitian cukup besar replikasinya semakin kecil

Replikasi berguna meminimalkan kesalahan eksperimen, replikasi juga bertujuan mempertinggi ketepatan eksperimen. Semakin banyak replikasi dilakukan, semakin tinggi ketepatan eksperimen..

B. Randomisasi
Tujuan randomisasi adalah agar pengelompokan subjek ke dalam kelompok ekperimen dan kontrol menjadi lebih objektif.

Penentuan anggota sampel dengan randomisasi disebut random assignment.

Randomisasi bertujuan mengurangi bias yang disebabkan oleh kesalahan sistematis (systematic error) yang dilakukan secara sengaja oleh peneliti dalam menentukan subjek-subjek yang akan diteliti.

Beberapa cara untuk melakukan proses randomisasi, diantaranya menggunakan table bilangan random, penarikan undian, atau penggunaan table bilangan random di computer.

C. Kontrol Internal
Adalah mengendalikan kondisi lapangan dari heterogen menjadi homogeny. Caranya dengan membagi unit-unit eksperimen dalam kelompok-kelompok, sehingga antarkelompok memiliki homogenitas dan perimbangan, kecuali perlakuan yang harus dibuat secara berbeda.imbang, kesalahan dapat diminimalkan dan dikendalikan.

Kontrol internal berguna untuk membuat prosedur uji lebih kuat, lebih efisien, dan lebih sensitive. Hal ini karena pengelompokan yang homogen dan berimbang, kesalahan dapat diminimalkan dan dikendalikan.

Pengelompokan dengan cara membagi unit ke dalam beberapa kelompok, sehingga antarkelompok menjadi homogeny. Setiap unit dalam kelompok yang sama harus mendapat perlakuan yang sama.

Dalam melakukan pengelompokan, seorang peneliti harus memerhatikan aspek keseimbangan (balancing), yaitu kesamaan jumlah unit eksperimen dalam setiap kelompok.

Kontrol internal berguna untuk mengurangi pengaruh campuran (confounded effect) yaitu, pengaruh variable yang diamati karena adanya interaksi (pengaruh bersama) faktor perlakuan dan variable nonekperimental. Pengelompokan berdasarkan faktor yang terkait langsung dengan variable yang harus dihindari.

D. Perlakuan Pembanding
Pemberian perlakuan terhadap kelompok eksperimen mutlak dilakuka. Peneliti sengaja memberikan pemaparan kepada subjek yang diteliti tentang perlakuan lalu mempelajari efeknya. Untuk mempelajari bahwa penelitian sudah memberikan efek tertentu pada subjek yang diteliti, diperlukan kelompok pembanding yang berfungsi sebagai kelompok kontrol. Suatu penelitian dianggap sebagai penelitian eksperimen apabila menggunakan kelompok kontrol atau KK sebagai pembanding.

Keberadaan kelompok kontrol sangat penting dalam penelitian eksperimental. Hal ini karena eksperimen yang dilakukan tanpa kelompok komparasi, tidak langsung menyimpulkan bahwa akibat yang terjadi merupakan hasil dari perlakuan.

Kondisi kelompok kontrol harus sama dengan kondisi subjek pada kelompok perlakuan. Kondisi yang sama ini menyangkut kelompok satatis, seperti usia, jenis kelamin, kondisi kesehatan, tingkat pendidik dll. Jika kondisi tersebut homogeny antara subjek kelompok perlakuan dan kontrol, hasil yang dicapai dapat disimpulkan bahwa suatu intervensi yang diberikan mempengarui variable tergantung.

FUNGSI DESAIN PENELITIAN (skripsi dan tesis)

Adapun fungsi desain penelitian menyangkut 2 hal yaitu menjawab penelitian dan menguji (Cristensen, 2001);

A. Pertama, masalah penelitian dapat dijawab apabila desain penelitiannya tepat guna.

Desain penelitian yang tepat guna menggunakan teknik analisis statistic yang tepat untuk menguji hipotesis. Desain penelitian juga berguna untuk menguji kesimpulan hasil penelitian.

B. Kedua, desain penelitian menunjukkan kontrol terhadap variable sekunder atau variable noneksperimental. Peneliti berusaha memaksimalkan varians sistematik dan menimbulkan varians eror, misalnya membandingkan pengaruh metode pengajaran ceramah dengan diskusi terhadap prestasi belajar siswa. Dengan membuat perbandingan dua variasi variable bebas, peneliti berusaha memaksimalkan varians sistematik. Selain itu,membuat pengukuran variable terikat seakurat mungkin. Peneliti berusaha meminimalkan varians kesalahan.

Desain Penelitian (skripsi dan tesis)

Desain penelitian adalah rencana atau strategi yang digunakan untuk menjawab masalah penelitian (Christensen, 2001). Desain atau perencanaan diperlakukan sebelum kita melakukan atau membuat sasuatu agar hasilnya sesuai dengan keinginan atau harapan. Misalnya; ketika akan membuat sebuah meja kita harus membuat atau mempersiapkan bahan-bahan, membuat gambar desain meja, memotong bahan sesuai desai agar mejadi bentuk yang diingikan.

Bayangkan apabila kita tidak membuat desain, kemungkinan ukurannya akan salah dan tidak sesuai bentuk yang diingiinginkan. Demikian pula, apabila kita tidak membuat desain pada penelitia ilmiah terlebih dahulu, penelitian tidak akan berjalan dengan baik, atau bahkan hasil penelitian tidak sesuai dengan tujuan. Penentuan desain penelitian, peneliti mengarahkan jalannya penelitian agar hasil sesuai yang diharapkan.

Rancangan Eksperiment Semu ( Quasi-Experimental Design) (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimen semu adalah penelitian yang dilaksanakan  dengan  menggunakan seluruh subjek dalam kelompok belajar (intact group) untuk diberi perlakuan (treatment) dan bukan menggunakan subjek yang diambil secara acak. Penggunaan rancangan ini bertujuan untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan/atau memanipulasikan semua variabel yang relevan.

Ciri-ciri rancangan eksperimen semu adalah:

  1. Manipulasi eksperimen hanya pada variabel bebas.
  2. Tidak ada pemilihan secara acak untuk kelompok dan atau
  3. Tidak ada kelompok kontrol

Dalam rancangan ini biasanya menggunakan kelompok subjek yang telah terbentuk secara wajar,sehingga sejak awal bisa saja kedua kelompok subjek telah memiliki karakteristik berbeda. Apabila pada pascatest ternyata kedua kelompok itu berbeda mungkin  saja perbedaannya bukan disebabkan oleh perlakuan tetapi karena sejak awal kedua kelompok sudah berbeda. Control terhadap variabel-variabel yang berpengaruh terhadap eksperimen  tidak dilakuan  karena akesperimen ini biasanya dilakukan dimasyarakat. Beberapa jenis rancangan penelitian  antara lain:

a) Posttest Only, Non-Equivalent Control Group Design

Rancangan ini pada dasarnya sama dengan rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok control diatas tadi. Perbedaannya hanyalah terletak pada teknik yang digunakan di dalam upaya  mengekuivalenkan/menyamakan kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Pada rancangan ini, bukan proses randomisasi yang digunakan, melainkan menggunakan kelompok yang sudah ada, akan tetapi subjek yang dikenai pascates terbatas pada subjek-subjek yang dapat dijodohkan. Skema model penelitian ini adalah:

Grup

Variabel Terikat

Posttest

(NR)

(NR)

X

Y2

Y2

b.    Pretest-Posttest, Non-Equivalent Control Group Design

Rancangan ini pada dasarnya sama dengan rancangan secara acak pratest-posttest dan kelompok control diatas tadi. Perbedaannya hanyalah terletak pada teknik yang digunakan di dalam upaya mengekuivalenkan/menyamakan kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Pada rancangan ini, bukan proses randomisasi yang digunakan, melainkan menggunakan kelompok yang sudah ada, akan tetapi subjek yang dikenai pratest dan pascates terbatas pada subjek-subjek yang dapat dijodohkan.

Pada design time series,peneliti melakukan pengukuran di depan selama tiga kali berturut, kemudian peneliti memberikan perlakuan pada obyek yang diteliti. Kemudian peneliti melakukan pengukuran selama tiga kali lagi setelah perlakuan dilakukan. Design ini merupakan pengembangan dari One Group Pretest-Posttest Design, jika pengukuran dilakukan secara berulang-ulang dalam kurun waktu tertentu.

d.   Rancangan rangkaian waktu dengan kelompok pembanding  (control time series design)

Pada dasarnya rancangan ini adalah rancangan rangkaian waktu, hanya dengan menggunakan kelompok pembanding (kontrol). Rancangan ini lebih memungkinkan adanya control terhadap validitas internal, sehingga keuntungan dari rancangan ini lebih menjamin adanya validitas internal yang tinggi. Skema model dari penelitian ini adalah:

 Rancangan Eksperimen  Murni (True- Experimental Design) (skripsi dan tesis)

Rancangan penelitian ekperimen ini digunakan untuk mengungkapkan hubungan sebab-akibat dengan cara melibatkan kelompok control disamping kelompok eksperimental, yang pemilihan kedua kelompok tersebut menggunakan tekhnik acak.

Terdapat tiga karakter dalam rancangan penelitian ini: (1)  adanya kelompok kontrol, (2) siswa ditarik secara random/acak dan ditandai untuk masing-masing kelompok, (3) sebuah tes awal dilakukan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok. Terdapat  lima jenis rancangan penelitian eksperimen murni, antara lain:
a.    Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok control (The randomized posttest only control group design)

Pada rancangan ini, ada kelompok eksperimen dan ada kelompok kontrol.Pada kelompok eksperimen dikenai perlakuan X1 dan pada kelompok kontrol tidak dikenai perlakuan.Dan pada akhir penelitian kedua kelompok dikenai posttest. Pemilihan subjek ke dalam kedua kelompok yang dikenai eksperimen menggunakan proses  randomisasi. Dengan begitu, sesuai dengan asumsi randomisasi, kedua kelompok yang  dikenai eksperimen adalah ekuivalen (hampir sama).

b.    Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (The randomized pretest-posttest contol group design)

Dalam rancangan ini, kelompok eksperimental diberi perlakuan sedangkan kelompok kontrol tidak. Pada kedua kelompok diawali dengan pratest, dan setelah pemberian perlakuan diadakan pengukuran kembali (pascatest). Subjek yang dipilih  pada racangan penelitian ini menggunakan tekhnik acak.

c. Empat kelompok Solomon (The randomized Solomon four group design)

Rancangan ini pada dasarnya menggabungkan dua rancangan eksperimental sebelumnya sehingga terbentuk rancangan yang melibatkan empat kelompok. Dua kelompok sebagai kelompok eksperimen dan dua lainnya sebagai kelompok control. Pada kedua kelompok eksperimental diberi perlakuan sedangkan pada kedua kelompok control tidak. Pada satu pasangan kelompok eksperimen dan control diawali dengan pratest, sedangkan pada pasangan yang lain tidak. Setelah pemberian perlakuan selesai diadakan pengukuran atau pascatest pada keempat kelompok.Peneliti dapat menekan sekecil mungkin sumber-sumber kesalahan karena adanya empat kelompok yang berbeda dengan enam format pengukuran.

Rancangan penelitian dua kelompok matching randomisasi

Pada rancangan penelitian ini, selain melakukan randomisasi pada kelompok eksperimen maupun control juga dilakukan teknik control tambahan dengan dilakukannya matching. Matching dilakukan agar kedua kelompok menjadi setara pada beberapa variabeltergantung yang diduga dapat berpengaruh pada variabel terikat. Matching dilakukan sebelum dilakukan randomisasi.

Rancangan Pra-Eksperimen  (Pra -Experiment Design) (skripsi dan tesis)

Rancangan ini digunakan untuk mengungkap hubungan sebab-akibat hanya dengan cara melibatkan satu kelompok subjek, sehingga tidak ada control yang ketat terhadap variabel. Terdapat tiga jenis rancangan penelitian yang dapat dimasukkan dalamkelompok rancangan penelitian ini, yaitu:

a.    Studi Kasus Bentuk Tunggal (One – Shot Case Study)

Yaitu  sebuah eksperimen  yang dilaksanakan tanpa adanya kelompok pembanding dan juga tanpa adanya tes awal. Dengan modelini peneliti tujuannya sederhana yaitu ingin mengetahui efek dari perlakuan yang diberikan pada kelompok tanpa mengindahkan pengaruh factor yang lain.

 

b.    Pratest-Postest Kelompok Tunggal (The One Group Pratest Posttest)

Rancangan eksperimen yang dilakukan pada satu kelompok saja tanpa kelompok pembanding.Model ini lebih sempurna jika dibandingkan dengan model pertama, karena sudah menggunakan tes awal (pratest) kemudian setelah diberikan perlakukan dilakukan pengukuran (posttest) lagi untuk mengetahui akibat dari perlakukan itu, sehingga besarnya efek dari eksperimen dapat diketahui dengan pasti.

c.    Perbandingan Kelompok Statis (The Static Group Comparison Group)

Pada rancangan ini, ada kelompok yang diberikan treatmen eksperimental, dan ada kelompok lainnya yang tak diberikan treatmen, dua-duanya adalah kelompok yang sudah ada.

Evaluasi model struktural (Inner Model) (skripsi dan tesis)

Dalam menilai model struktural dengan struktural PLS dapat dilihat dari nilai RSquares untuk setiap variabel laten endogen sebagai kekuatan prediksi dari model struktural. Nilai R-Squares merupakan uji goodness fit model. Perubahan nilai R-Squares digunakan untuk menjelaskan pengaruh
variabel laten eksogen tertentu terhadap variabel laten endogen, apakah mempunyai pengaruh substantive. Nilai R-Squares 0,67; 0,33 dan 0,19 untuk variabel laten endogen dalam model struktural menunjukkan model
kuat, moderat, dan lemah (Chin, 1998 dalam Ghozali, 2006). Hasil dari PLS R-Squares merepresentasikan jumlah variance dari konstruk yang dijelaskan oleh model. Selain melihat besarnya nilai R-Squares, evaluasi model struktural PLS dapat juga dilakukan dengan Q2 predictive relevance atau sering disebut predictive sample reuse yang dikembangkan oleh Stone (1974) dan Geisser
(1975) dalam Ghozali (2012). Nilai q2 predictive relevance yaitu 0,02; 0,15; dan 0,35menunjukkan bahwa model lemah, moderate dan kuat. Selanjutnya evaluasi model dilakukan dengan melihat nilai signifikansi untuk mengetahui pengaruh antar variabel melalui prosedur bootstrapping atau jackknifing.
Pendekatan bootstrap merepresentasi non parametric untuk precision dari estimasi PLS. Prosedur bootstrap menggunakan seluruh sampel asli untuk melakukan resampling kembali. Hair et all, (2011) dan Henseler et al
(2009) memberikan rekomendasi untuk jumlah sampel dari bootstrap yaitu sebesar 5.000 dengan catatan jumlah tersebut harus lebih besar dari original sampel. Namun beberapa literatur (lihat Chin 2003; 2010a)
menyarankan jumlah sampel dari bootstrap sebesar 200 – 1.000 sudah cukup untuk mengoreksi standar error estimate PLS. Nilai signifikansi yang digunakan (two-tailed) tvalue 1,65 (signifikan level 10%); 1,96 (signifikan level 5%); dan 2,58 (signifikan level 1%).

Evaluasi model pengukuran (outler model) (skripsi dan tesis)

Evaluasi model pengukuran (outler model) Evaluasi outer model disebut pula dengan evaluasi model pengukuran dilakukan untuk menilai validitas dan reliabilitas model. Outler model dengan indikator refleksif dievaluasi melalui validitas convergent dan discriminant untuk indikator pembentuk konstruk laten, serta melalui composite reliability dan cronbach alpha untuk blok indikatornya. Sedangkan outler model dengan indikator formatif dievaluasi melalui substantive content-nya yaitu dengan membandingkan besarnya relative weight dan melihat signifikansi dari indikator konstruk tersebut (Chin 1998 dalam Ghozali 2012). Validitas convergent berhubungan dengan prinsip bahwa pengukur-pengukur (manifest variabel) dari suatu konstruk seharusnya berkorelasi tinggi. Uji validatas convergent indikator refleksif dapat dilihat dari nilai
loading factor untuk setiap konstruk, dimana nilai loading factor yang direkomendasikan harus lebih besar dari 0,7 untuk penelitian
yang bersifat confirmatory dan nilai loading faktor antara 0,6 – 0,7 untuk penelitian yang bersifat exploratory masih dapat diterima,
serta nilai average variance extracted (AVE) harus lebih besar dari 0,5. Validitas discriminant berhubungan dengan prinsip bahwa pengukur-pengukur (manifest variabel) konstruk yang berbeda seharusnya tidak
berkorelasi dengan tinggi. Cara untuk menguji validitas discriminant dengan indikator refleksif yaitu dengan melihat nilai cross loading untuk setiap variabel harus > 0,70. Cara lain yang dapat digunakan untuk menguji
validitas discriminant adalah dengan membandingkan akar kuadrat dari AVE untuk setiap konstruk dengan nilai korelasi antar konstruk dalam model. Validatas discriminant yang baik ditunjukkan dari akar kuadrat AVE
untuk setiap konstruk lebih besar dari korelasi antar konstruk dalam model (Fornell dan Larcker 1981, dalam Ghozali 2012).

Selain uji validitas, pengukuran model juga dilakukan untuk menguji reliabilitas
(keakuratan) suatu konstruk. Uji reliabilitas dilakukan untuk membuktikan akurasi, konsistensi dan ketetapan instrument dalam mengukur konstruk. Uji reliabilitas suatu konstruk dengan indikator refleksif dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu Composite Reliability dan Cronbach’s Alpha. Penggunaan Cronbach’s Alpha untuk menguji reliabilitas konstruk akan memberikan nilai yang lebih rendah (under estimate) sehingga lebih
disarankan untuk menggunakan Composite Reliability dalam menguji reliabilitas suatu konstruk.

Indikator Reflektif dan Formatif (skripsi dan tesis)

Pemilihan konstruk berdasarkan model indikator refleksif atau formatif tergantung dari prioritas hubungan kausalitas antara indikator dan variabel laten (Bollen 1989, dalam Ghozali 2012). Lebih lanjut dinyatakan oleh Fornell dan Bookstein (1982) bahwa konstruk seperti “personalitas” atau “sikap”
umumnya dipandang sebagai faktor yang menimbulkan sesuatu yang kita amati sehingga indikatornya bersifat refleksif. Sebaliknya jika konstruk merupakan kombinasi penjelas dari indikator (seperti perubahan penduduk atau baur pemasaran) yang ditentukan oleh kombinasi variabel maka indikatornya harus bersifat formatif. Konstruk dengan indikator refleksif
mengasumsikan bahwa kovarian di antara pengukuran model dijelaskan oleh varian yang merupakan manifestasi domain konstruknya.
Pada setiap indikatornya harus ditambah dengan error terms atau kesalahan
pengukuran. Adapun ciri-ciri dari konstruk dengan indikator refleksif yaitu; arah hubungan kausalitas dari konstruk ke indikator, antar ukuran indikator diharapkan saling berkorelasi, menghilangkan satu indikator dari model pengukuran tidak akan merubah makna atau arti konstruk,
menghitung adanya kesalahan pengukuran (error) pada tingkat indikator, konstruk memiliki arti yang surplus, perubahan pada indikator tidak menyebabkan perubahan pada konstruk, perubahan pada konstruk
mengakibatkan perubahan pada indikator, indikator dapat dipertukarkan, indikator harus memiliki konten yang sama dan indikator
perlu memiliki tema yang sama, indikator diharapkan memiliki kovarian satu sama  lainnya, indikator disyaratkan memiliki anteseden dan konsekuen yang sama, dan skala skor tidak menggambarkan konstruk. Konstruk dengan indikator formatif mengasumsikan bahwa setiap indikatornya
mendefinisikan atau menjelaskan karakteristik domain konstruknya. Kesalahan pengukuran ditujukan pada konstruk dan bukan pada
indikatornya sehingga pengujian validitas dan reliabilitas konstruk tidak diperlukan lagi. Adapun ciri-ciri dari konstruk dengan indikator formatif yaitu arah hubungan kausalitas dari indikator ke konstruk, antar indikator diasumsikan tidak berkorelasi (tidak diperlukan uji konsistensi internal/cronbach alpha), menghilangkan satu indikator
berakibat merubah makna dari konstruk, kesalahan pengukuran diletakkan pada tingkat konstruk (zeta), konstruk mempunyai makna
surplus, perubahan pada indikator mengakibatkan perubahan pada konstruk,
perubahan pada konstruk tidak menyebabkan perubahan pada indikator, indikator tidak dapat dipertukarkan, indikator tidak harus
memiliki konten yang sama dan indikator tidak perlu memiliki tema yang sama, tidak perlu ada kovarian antar indikator, indikator tidak
disyaratkan memiliki anteseden dan konsekuen
yang sama, dan skala skor tidak menggambarkan konstruk.

Cara Kerja Partial Least Square/PLS (skripsi dan tesis)

Tujuan PLS adalah membantu peneliti untuk mendapatkan nilai variabel laten untuk tujuan prediksi. Variabel laten adalah linear agregat dari indikator-indikatornya. Weight estimate untuk menciptakan komponen skor
variabel laten didapat berdasarkan bagaimana inner model (model struktural yang menghubungkan antar variabel laten) dan outler model (model pengukuran yaitu hubungan antara indikator dengan konstruknya) dispesifikasi. Hasilnya adalah residual variance dari variabel independen
(keduanya variabel laten dan indikator) diminimumkan.
Estimasi parameter yang didapat dengan PLS dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu: pertama, adalah weight estimate yang digunakan untuk menciptakan skor variabel laten; kedua, mencerminkan estimasi jalur
(path estimate) yang menghubungkan variabel laten dan antar variabel laten dan blok indikatornya (loading); ketiga, adalah keterkaitkan dengan means dan lokasi parameter (nilai konstanta regresi) untuk indikator dan variabel laten. Untuk mendapatkan ketiga estimasi tersebut, PLS menggunakan proses iterasi tiga tahap dan setiap tahap iterasi menghasilkan estimasi. Tahap pertama menghasilkan weight estimate, tahap kedua menghasilkan estimasi untuk inner model dan outler model, dan tahap ketiga
menghasilkan estimasi means dan lokasi (konstanta).
Pada dua tahap pertama proses iterasi indikator dan variabel laten diperlukan sebagai deviasi (penyimpangan) dari nilai means (ratarata). Pada tahap ketiga untuk hasil estimasi dapat diperoleh berdasarkan pada data metric
original, hasil weight estimate dan path estimate pada tahap kedua digunakan untuk menghitung means dan lokasi parameter.

Perbandingan PLS-SEM dan CB-SEM (skripsi dan tesis)

Pada umumnya terdapat dua jenis tipe SEM yang sudah dikenal secara luas (Fornell dan Bookstein 1982, dalam Ghozali 2012) yaitu covariance-based structural equation modeling (CB-SEM) yang dikembangkan oleh
Joreskog (1969) dan partial least squares path modeling (PLS-SEM) yang sering disebut variance atau component-based structural equation modeling yang dikembangkan oleh Wold (1974).
Covariance Based SEM merupakan tipe SEM yang mengharuskan konstruk
maupun indikator-indikatornya untuk saling berkorelasi satu dengan lainnya dalam suatu model struktural. Sedangkan variance atau component based SEM merupakan tipe SEM yang menggunakan variance dalam proses
iterasi sehingga tidak memerlukan korelasi antara indikator maupun konstruk latennya dalam suatu model struktural. Secara umum, penggunaan CB-SEM
bertujuan untuk mengestimasi model struktural berdasarkan telaah teoritis yang kuat untuk menguji hubungan kausalitas antar konstruk serta mengukur kelayakan model dan mengkonfirmasinya sesuai dengan data empirisnya. Konsekwensi penggunaan CBSEM adalah menuntut basis teori yang kuat,
memenuhi berbagai asumsi parametrik dan memenuhi uji kelayakan model (goodness of fit). Karena itu, CB-SEM sangat tepat digunakan untuk menguji teori dan mendapatkan justifikasi atas pengujian tersebut dengan serangkaian analisis yang kompleks.
Sementara PLS-SEM bertujuan untuk menguji hubungan prediktif antar konstruk dengan melihat, apakah ada hubungan atau pengaruh antar konstruk tersebut. Konsekuensi penggunaan PLS-SEM adalah pengujian dapat
dilakukan tanpa dasar teori yang kuat, mengabaikan beberapa asumsi (non
parametrik) dan parameter ketepatan model prediksi dilihat dari nilai koefisien determinasi (R-square). Karena itu, PLS-SEM sangat tepat digunakan pada penelitian yang bertujuan mengembangkan teori.

Cara kerja Partial least square/PLS (skripsi dan tesis)

PLS bertujuan untuk mendapatkan nilai variabel laten untuk tujuan prediksi. Menurut Ghozali (2008), penjelasan estimasi parameter yang didapat dengan PLS dapat dikategorikan menjadi tiga:
a. Kategori pertama : adalah weight estimate yang digunakan untuk menciptakan skor variabel laten.
b. Kategori kedua : adalah mencerminkan estimasi jalur (path estimate) yang
menghubungkan variabel laten dan blok indikatornya (loading).
c. Kategori ketiga : adalah berkaitan dengan means dan lokasi parameter (nilai konstanta regresi) untuk indikator dan variabel laten

Partial least square/PLS (skripsi dan tesis)

PLS merupakan metode analisis yang powerfull dan sering disebut sebagai soft modeling karena meniadakan asumsi-asumsi OLS regresi. PLS dapat digunakan untuk  menguji teori yang lemah dan data yang lemah seperti jumlah sampel yang kecil atau adanya masalah normalitas data.
Model dalam PLS terdiri dari dua, yaitu outer model (model pengukuran) dan
inner model (model struktural). Model pengukuran adalah model yang meggambarkan hubungan antara variabel laten dengan variabel pengukurannya (indikator), Model struktural adalah model yang menghubungkan hubungan antar variabel latennya.

Analisis Structural Equation Modeling (SEM) (skripsi dan tesis)

Structural Equation Modeling (SEM) merupakan suatu teknik statistik yang
memiliki kemampuan untuk menganalisis pola hubungan antara variabel laten dan indikatornya, variabel laten yang satu dengan yang lainnya, serta kesalahan pengukuran secara langsung. SEM memungkinkan model konfirmatori dan ekploratori. SEM berbasis covariance memerlukan asumsi yang mendasari analisis ini, yaitu multivariate normal, hubungan indikator dan variabel laten bersifat reflektif serta jumlah sampel yang besar (Yamin dan Kurniawan, 2011). Ketika pemenuhan asumsi SEM berbasis covariance
tidak dapat terpenuhi, maka metode lain yang dapat digunakan adalah dengan partial least square (PLS) untuk pemodelan SEM atau menguji teor

Kriteria Membedakan Konstruk Reflektif vs. Formatif (skripsi dan tesis)

1.   Bagaimana arah kausalitas antara indikator-indikator dengan konstruk? Indikator reflektif disebabkan oleh konstruk sedangkan indikator formatif menyebabkan konstruk.
2.   Bagaimana sifat kovarian antar-item indikator? 
Jika antar-indikator diharapkan berkovariasi tinggi maka model reflektif lebih tepat. Jika satu indikator seharusnya tidak saling berkorelasi dengan indikator yang lain maka indikator tersebut dapat dihapus. Dalam model reflektif, seluruh indikator akan bergerak bersama, artinya perubahan satu indikator menyebabkan perubahan terhadap indikator lain. Kovarian yang tinggi antar-indikator, merupakan bukti konsisten indikator reflektif. Indikator formatif diharapkan tidak memiliki kovarian yang tinggi karena itu indikator formatif diharapkan tidak bergerak bersama.
3.   Apakah terdapat perbedaan dalam konten indikator? 
Jika indikator memiliki kesamaan dasar konseptual, artinya seluruh indikator mengindikasi hal yang sama maka model pengukuran dapat dinilai sebagai model reflektif. Ketika semua indikator merepresentasi konsep yang sama, menghilangkan satu indikator tidak mengubah arti konstruk secara materi.
4.   Bagaimana indikator-indikator berhubungan dengan konstruk lain? 
Semua indikator dalam suatu konstruk dapat berhubungan dengan variabel lain dengan cara yang sama dalam model reflektif. Sementara, indikator dalam model formatif tidak berhubungan dengan variabel lain. Dalam model pengukuran formatif, peneliti berharap satu indikator menghasilkan pola hubungan berbeda dengan variabel lain daripada dengan indikator lain.

Langkah-Langkah Analisis Structural Equation Modeling/SEM (skripsi dan tesis)

Langkah-langkah pemodelan persamaan struktural berbasis PLS dengan software adalah sebagai berikut :
1. Langkah Pertama: Merancang Model Struktural (inner model)
Perancangan model struktural hubungan antar variabel laten pada PLS didasarkan pada rumusan masalah atau hipotesis penelitian.
2. Langkah Kedua: Merancang Model Pengukuran (outer model)
Perancangan model pengukuran (outer model) dalam PLS sangat penting karena terkait dengan apakah indikator bersifat refleksif atau formatif.
3. Langkah Ketiga: Mengkonstruksi diagram Jalur
Bilamana langkah satu dan dua sudah dilakukan, maka agar hasilnya lebih mudah dipahami, hasil perancangan inner model dan outer model tersebut, selanjutnya dinyatakan dalam bentuk diagram jalur.
4. Langkah Keempat: Konversi diagram Jalur ke dalam Sistem Persamaan
a. Outer model
Outer model, yaitu spesifikasi hubungan antara variabel laten dengan indikatornya, disebut juga dengan outer relation atau measurement model, mendefinisikan karakteristik konstruk dengan variabel manifesnya

b) Inner model
Inner model, yaitu spesifikasi hubungan antar variabel laten (structural model), disebut juga dengan inner relation, menggambarkan hubungan antar variabel laten berdasarkan teori substansif penelitian. Tanpa kehilangan sifat umumnya, diasumsikan bahwa variabel laten dan indikator atau variabel manifest diskala zero means dan unit varian sama dengan satu, sehingga parameter lokasi (parameter konstanta) dapat dihilangkan dari model

c) Weight relation
Weight relation, estimasi nilai kasus variabel latent.

Langkah Kelima: Estimasi
Metode pendugaan parameter (estimasi) di dalam PLS adalah metode kuadrat terkecil (least square methods). Proses perhitungan dilakukan dengan cara iterasi, dimana iterasi akan berhenti jika telah tercapai kondisi konvergen.
Pendugaan parameter di dalam PLS meliputi 3 hal, yaitu :
1) Weight estimate digunakan untuk menciptakan skor variabel laten
2) Estimasi jalur (path estimate) yang menghubungkan antar variabel laten dan
estimasi loading antara variabel laten dengan indikatornya.
3) Means dan lokasi parameter (nilai konstanta regresi, intersep) untuk indikator dan variabel laten.

Langkah Keenam: Goodness of Fit
a). Outer Model
Convergent validity
Korelasi antara skor indikator refleksif dengan skor variabel latennya. Untuk hal ini loading 0.5 sampai 0.6 dianggap cukup, pada jumlah indikator per konstruk tidak besar, berkisar antara 3 sampai 7 indikator.
Discriminant validity Membandingkan nilai square root of average variance extracted (AVE) setiap konstruk dengan korelasi antar konstruk lainnya dalam model, jika square root of average variance extracted (AVE) konstruk lebih besar dari korelasi dengan seluruh konstruk lainnya maka dikatakan memiliki discriminant validity yang baik. Direkomendasikan nilai pengukuran harus lebih besar dari 0.50.
Kelompok Indikator yang mengukur sebuah variabel memiliki reliabilitas komposit yang baik jika memiliki composite reliability ≥ 0.7, walaupun bukan merupakan standar absolut.

b). Inner model
Goodness of Fit Model diukur menggunakan R-square variabel laten dependen dengan interpretasi yang sama dengan regresi; Q-Square predictive relevance untuk model struktural, megukur seberapa baik nilai onservasi dihasilkan oleh model dan juga estimasi parameternya. Nilai Q-square > 0 menunjukkan model memiliki predictive relevance; sebaliknya jika nilai Q-Square ≤ 0 menunjukkan model kurang memiliki predictive relevance. Pogen dalam model persamaan.
Besaran Q2 memiliki nilai dengan rentang 0 < Q2 < 1, dimana semakin mendekati 1 berarti model semakin baik. Besaran Q2 ini setara dengan koefisien determinasi total pada analisis jalur (path analysis). Rm
7. Langkah Ketujuh: Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis (β, γ, dan λ) dilakukan dengan metode resampling Bootstrap yang dikembangkan oleh Geisser & Stone. Statistik uji yang digunakan adalah statistik t atau uji t, dengan hipotesis statistik sebagai berikut:
Hipotesis statistik untuk outer model adalah:
H0 : λi = 0 lawan
H1 : λi ≠ 0
Sedangkan hipotesis statistik untuk inner model: pengaruh variabel laten eksogen terhadap endogen adalah
H0 : γi = 0 lawan
H1 : γi ≠ 0
Sedangkan hipotesis statistik untuk inner model: pengaruh variabel laten endogen terhadap endogen adalah
H0 : βi = 0 lawan
H1 : βi ≠ 0
Penerapan metode resampling, memungkinkan berlakunya data terdistribusi bebas (distribution free), tidak memerlukan asumsi distribusi normal, serta tidak memerlukan sampel yang besar (direkomendasikan sampel minimum 30). Pengujian dilakukan dengan t-test, bilamana diperoleh p-value ≤ 0,05 (alpha 5 %), maka disimpulkan signifikan, dan sebaliknya. Bilamana hasil pengujian hipotesis pada outter model signifikan, hal ini menunjukkan bahwa indikator dipandang dapat digunakan sebagai instrumen pengukur variabel laten. Sedangkan bilamana hasil pengujian pada inner model adalah signifikan, maka dapat diartikan bahwa terdapat pengaruh yang bermakna variabel laten terhadap variabel laten lainnya.

Model Indikator Formatif (skripsi dan tesis)

Konstruk dengan indikator formatif mempunyai karakteristik berupa komposit, seperti yang digunakan dalam literatur ekonomi yaitu index of sustainable economics welfare, the human development index, dan the quality of life index. Asal usul model formatif dapat ditelusuri kembali pada “operational definition”, dan berdasarkan definisi operasional, maka dapat dinyatakan tepat menggunakan model formatif atau reflesif.
Jika η menggambarkan suatu variabel laten dan x adalah indikator, maka: η= x
Oleh karena itu, pada model formatif variabel komposit seolah-olah dipengaruhi (ditentukan) oleh indikatornya. Jadi arah hubungan kausalitas seolah-olah dari indikator ke variabel laten.
Ciri-ciri model indikator formatif adalah:
1. Arah hubungan kausalitas seolah-olah dari indikator ke konstruk
2. Antar indikator diasumsikan tidak berkorelasi (tidak diperlukan uji onsistensi
internal atau Alpha Cronbach)
3. Menghilangkan satu indikator berakibat merubah makna dari konstruk
4. Kesalahan pengukuran diletakkan pada tingkat konstruk (zeta)

Model Indikator Refleksif (skripsi dan tesis)

Model indikator refleksif dikembangkan berdasarkan pada classical test theory yang mengasumsikan bahwa variasi skor pengukuran konstruk merupakan fungsi dari true score ditambah error.
Ciri-ciri model indikator reflektif adalah:
1. Arah hubungan kausalitas seolah-olah dari konstruk ke indikator
2. Antar indikator diarapkan saling berkorelasi (memiliki internal consitency
reliability)
3. Menghilangkan satu indikator dari model pengukuran tidak akan merubah
makna dan arti konstruk
4. Menghitung adanya kesalahan pengukuran (error) pada tingkat indikator

Kelebihan Partial least square/PLS (skripsi dan tesis)

Kelebihan PLS dibandingkan dengan LISREL mampu menangani dua masalah serius :
(a) Solusi yang tidak dapat diterima (inadmissible solution); hal ini terjadi karena PLS berbasis varians dan bukan kovarians, sehingga masalah matriks singularity tidak akan pernah terjadi. Di samping itu, PLS bekerja pada model struktural yang bersifat rekursif, sehingga masalah un-identified, under-identified atau overidentified juga tidak akan terjadi.
(b) Faktor yang tidak dapat ditentukan (factor indeterminacy), yaitu adanya lebih dari satu faktor yang terdapat dalam sekumpulan indikator sebuah variabel. Khusus indikator yang bersifat formatif tidak memerlukan adanya comon factor sehingga selalu akan diperoleh variabel laten yang bersifat komposit. Dalam hal ini variabel laten merupakan kombinasi linier dari indikator-indikatornya.

Gambar Umum Partial least square/PLS (skripsi dan tesis)

PLS merupakan metode analisis yang powerful karena dapat diterapkan pada semua skala data, tidak membutuhkan banyak asumsi dan ukuran sampel tidak harus besar. PLS selain dapat digunakan sebagai konfirmasi teori juga dapat digunakan untuk membangun hubungan yang belum ada landasan terorinya atau untuk pengujian proposisi. PLS juga dapat digunakan untuk pemodelan structural dengan indikator bersifat reflektif ataupun formatif.

Instrumen penelitian (skripsi dan tesis)

Instrumen adalah sebagai alat untuk mencari data tentang motivasi dan hasil
belajar. Berdasarkan pada pengertian yang dikemukakan oleh Arikunto dalam Rifa (2016, hlm. 76) dapat dijelaskan bahwa “Instrumen penelitian merupakan alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik atau memiliki arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih memudahkan peneliti ketika akan melakukan pengolahan data”.

Dokumentasi (skripsi dan tesis)

Nawawi dalam Dadang Iskandar (2015, hlm. 50) menyatakan bahwa “Studi
dokumentasi adalah cara pengumpulan data melalui peninggalan tertulis terutama berupa arsip-arsip dan termasuk juga buku mengenai pendapat, dalil yang berhubungan dengan masalah penyelidikan. Definisi ini memiliki cakupan yang masih sempit karena dokumentasi hanya mencakup data”.
Sugiyono dalam Dadang Iskandar (2015, hlm. 51) mengatakan bahwa:
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen
bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari
seseorang. Dokumen berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah
kehidupan, ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen berbentuk
gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang
berbentuk karya misalnya karya seni, dapat berupa gambar, patung, film, dan
lain-lain.

Angket (skripsi dan tesis)

Sugiyono (2013, hlm. 199) mengatakan bahwa:
Kuesioner atau angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis
kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik
pengumpulan data yang efesien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang
akan di ukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Selain itu,
kuesioner juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan
tersebar di wilayah yang luas. Kuesioner dapat berupa
pertanyaan/pernyataan tertutup atau terbuka, dapat diberikan kepada
responden secara langsung atau dikirim melalui pos, atau internet.

Pengertian Tes (skripsi dan tesis)

Brown dalam Dadang Iskandar (2015, hlm. 48) mengemukakan bahwa “Test
is a method of measuring ability, knowledge or performance in a given domain. Artinya tes adalah metode pengukuran keterampilan, pengetahuan atau sikap. Tes menurut pendapat ini digunakan untuk mengevaluasi pembelajaran dalam tiga ranah, yaitu psikomotor, kognitif dan afektif ”.
Arikunto dalam Dadang Iskandar (2015, hlm. 48) mengemukakan bahwa:
Tes yaitu serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan
untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau
bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Dengan kata lain tes
merupakan alat yang digunakan untuk mengukur pengetahuan dan
kemampuan individu atau kelompok.
Nana Sudjana dalam Dadang Iskandar (2015, hlm. 49) mengemukakan bahwa:
Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar
siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan
pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Nana Sudjana
menambahkan bahwa tes sebagai alat penilaian adalah pertanyaanpertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk dijawab siswa, dalam bentuk
lisan (tes lisan), dalam bentuk tulisan (tes tulisan) atau dalam bentuk
perbuatan (tes tindakan). Teknik pengumpulan data dengan tes bermaksud
untuk menilai hasil belajar dalam ranah kognitif. Pada konteks ini tes hanya
digunakan untuk mengukur pemahaman peserta didik pada materi yang telah
diajarkan oleh guru.

Pengertian Observasi (skripsi dan tesis)

Arikunto dalam Dadang Iskandar (2015, hlm. 49) mengatakan bahwa:
Observasi sebagai suatu aktivitas yang sempit yakni memperhatikan sesuatu
dengan mata. Di dalam pengertian psikologik, observasi atau disebut pula
pengamatan meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap suatu objek
dengan menggunakn seluruh alat indera. Definisi ini dapat dipahami bahwa
observasi yang baik harus melibatkan seluruh panca indera guna merekam
setiap kejadian yang timbul selama proses pengamatan agar diperoleh
informasi yang akurat.
Marshall dalam Sugiyono (2013, hlm. 310) menyatakan bahwa “through observation,
the researcher learn about behavior and the meaning attached to those behavior .
Melalui observasi, peneliti belajar tentang perilaku, dan makna dari perilaku tersebut”.
Lembar observasi yang dimaksud adalah suatu cara yang mengadakan
pengamatan langsung terhadap objek yang akan diteliti. Observasi yang digunakan
untuk mengumpulkan data proses pembelajaran aktivitas guru selama proses
pembelajaran yang sedang berlangsung serta kesesuaian antara materi dengan model
yang akan digunakan oleh guru dalam pelaksanaan tindakan pada setiap siklus

Jenis Jenis Data Penelitian (skripsi dan tesis)

Data terdiri dari beberapa jenis, pertama menurut sumbernya yaitu data primer dan data sekunder. Pengertian data primer adalah diperoleh dan dikumpulkan secara langsung oleh peneliti yang ditemukan langsung dari sumbernya. Bisa dikatakan masih asli atau baru. Untuk mendapatkannya, peneliti biasanya terjun langsung ke lapangan. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan diantaranya yaitu wawancara, observasi, menyebarkan kuesioner, dan diskusi terfokus.

Pengertian data sekunder adalah diperoleh oleh peneliti melalui banyak sumber yang sebelumnya sudah ada. Artinya peneliti berperan sebagai pihak kedua karena tidak didapatkan secara langsung. Biasanya dapat diperoleh dari buku, jurnal, laporan, dan sebagainya.

Jenis data yang lain adalah berdasarkan sifatnya yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif yaitu dengan bentuk suatu kata-kata tidak dijabarkan sebagai bentuk angka. Cara memperolehnya ada beragam, mulai dari wawancara, diskusi terfokus, wawancara, dan observasi yang dituliskan ke dalam catatan. Gambar atau video juga termasuk ke dalam ranah kualitatif.

Desain Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Arikunto dalam Suyadi (2014, hlm. 50) menjelaskan
bahwa satu siklus PTK terdiri dari empat langkah yaitu “Perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
1. Perencanaan
PTK seperti penelitian-penelitian ilmiah lain yang selalu dipersiapkan.
Langkah pertama adalah melakukan perencanaan dan teliti. Dalam perencanaan PTK menurut Suyadi (2014, hlm. 51) mengatakan “Tiga jenis kegiatan dasar, yaitu identifikasi masalah, merumuskan masalah, dan pemecahan masalah”. Perencanaan merupakan kegiatan awal yang dilakukan oleh guru dengan tujuan mengembangkan rencana tindakan secara kritis untuk meningkatkan apa yang terjadi.
2. Acting (Pelaksanaan)
Pelaksanaan adalah menerapkan apa yang telah direncanakan pada tahap
satu, yaitu bertindak dikelas. Jadi, Dalam tahap ini guru melaksanakan tindakan kelas sesuai dengan RPP yang telah dibuat dengan menggunakan model pembelajaran Inquiry Learning.
3. Observation (Pengamatan)
Menurut Supardi dalam Suyadi (2014, hlm. 63) menyatakan bahwa
“Observasi yang dimaksud pada tahap III adalah pengumpulan data”. Jadi, observasi adalah alat atau data yang dikumpulkan dengan menggunakan data angket, wawancara, observasi, dan lain-lain.
4. Refleksi
Refleksi adalah kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang telah
dilakukan. Kegiatan refleksi ini merupakan dasar penyusunan rencana tindakan dalam pelaksanaan kegiatan penelitian berikutnya. Refleksi sangat penting untuk memahami dan memberikan makna terhadap proses pembelajaran dan hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Refleksi juga dapat disebut sebagai evaluasi diri yaitu bisa dilakukan ketika pelaksanaan tindakan selesai dilakukan.

Pengertian Penelitian TIndakan Kelas/PTK (Classroom Action Research)

PTK (Classroom Action Research) memiliki peranan yang sangat penting
dan strategis untuk meningkatkan mutu pembelajaran apabila diimplementasikan dengan baik dan benar.
Kurt Lewin dalam Kunandar (2012, hlm. 42) mengatakan bahwa “Penelitian tindakan adalah suatu rangkaian langkah yang terdiri atas empat tahap, yakni perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi”.
Carr dan Kemmis dalam Kunandar (2012, hlm. 43) mengatakan bahwa:
Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleksif diri kolektif yang
dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan
penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka serta
pemahaman mereka terhadap praktik-praktik mereka dan terhadap situasi
tempat praktik-praktik tersebut dilakukan.
Berdasarkan pendapat diatas penelitian tindakan penelitian refleksif adalah untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Penelitian tindakan kelas merupakan terjemahan dari classroom action research, yaitu action research yang dilakukan di kelas. Action research, sesuai dengan arti katanya, diterjemahkan menjadi penelitian tindakan; menurut Carr dan Kemmis dalam I.G.A.K
Wardani dkk (2006, hlm. 1.4) didefinisikan sebagai berikut:
Action research is a form of self reflective enquiry undertaken by
participants (teachers, student or principals, for example) in social (including
educational) situations in order to improve the rationality and justice of (a)
their own social or educational practices, (2) their understanding of these
practices, and the situations (and institutions) in which the practices are
carried out.
I.G.A.K Wardani, dkk (2006, hlm. 1.4) menemukan sejumlah ide pokok sebagai
berikut:
1. Penelitian tindakan adalah satu bentuk inkuiri atau penyelidikan yang
dilakukan melalui refleksi diri.
2. Penelitian tindakan dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang
diteliti, seperti guru, siswa atau kepala sekolah.
3. Penelitian tindakan dilakukan dalam situasi sosial, termasuk situasi
pendidikan.
4. Tujuan penelitian tindakan adalah memperbaiki: dasar pemikiran dan
kepantasan dari praktek-praktek, pemahaman terhadap praktek tersebut,
serta situasi atau lembaga tempat praktek tersebut dilaksanakan.
58
Dari keempat ide pokok di atas dapat kita simpulkan bahwa penelitian
tindakan merupakan penelitian dalam bidang sosial, yang menggunakan refleksi diri sebagai metode utama, dilakukan oleh orang yang terlibat di dalamnya, serta bertujuan untk melakukan perbaikan dalam berbagai aspek.
Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru didalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar diadaptasi menjadi meningkat

Pengertian Kualitatif (skripsi dan tesis)

Metode penelitian kualitatif dinamakan sebagai metode baru, karena
populeritasnya belum lama, dinakam metode postpositivistik karena berlandaskan pada filsafat postpositivisme. Metode ini disebut juga sebagai metode artistik, karna proses penelitian lebih bersifat seni (kurang terpola), dan disebut sebagai metode interpretive karena data hasil penelitian lebih berkenaan dengan interprestasi terhadap data yang ditemukan dilapangan.
Metode pnelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting); disebut juga sebagai metode etnografi, karena pada awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya; disebut sebagai metde kualitatif, karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif. Filsafat postpositivisme sering juga disebbut sebagai paradigma interpretif dan konstruktif, yang memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang holistik/utuh, kompleks, dinamis, penuh makna, dan hubungan gejala bersifat interaktif (reciprocal). Penelitian dilakukan pada obyek yang alamiah. Obyek yang alamiah adalah obyek yang berkembang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti dan kehadirian peneliti tidak begitu mempengaruhi dinamika pada obyek tersebut. Dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah orang atau human instrument, yaitu peneliti
itu sendiri. Sugiyono (2013, hlm. 15) mengatakan bahwa: Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowbaal, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.

Berdasarkan pendapat diatas bahwa data kualitatif dapat diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data misalnya wawancara, analisis, diskusi, atau observasi. Data kualitatif berfungsi untuk mengetahui kualitas dari sebuah objek yang akan diteliti.

Pengertian Kuantitatif (skripsi dan tesis)

Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional, karena metode ini sudah
cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Metode ini disebut sebagai metode positivistik karena berlandaskan filsafat positivisme. Metode ini sebagai metode ilmiah/scientific karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu kongkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis. Metode ini juga disebut metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik.
Sugiyono (2013, hlm. 14) mengatakan bahwa: Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistic dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
Berdasarkan pendapat diatas data kuantitatif dapat diolah atau dianalisis
menggunakan tekhnik perhitungan matematika atau statistika. Data kuantitatif berfungsi untuk mengetahui jumlah atau besaran dari subjek yang ditelit

Pengertian Metode Penelitian (skripsi dan tesis)

  • Metode penelitian adalah Rangkaian cara terstruktur atau sistematis yang digunakan oleh para peneliti dengan tujuan mendapatkan jawaban yang tepat atas apa yang menjadi pertanyaan pada objek penelitian. Atau secara mudahnya arti metode penelitian adalah upaya untuk mengetahui sesuatu dengan rangkaian sistematis.

Dua metode metode penelitian yang paling banyak digunakan oleh peneliti dalam menjalankan penelitiannya adalah metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif. Kedua metode ini sering digunakan karena keunggulan yang diberikan masing-masing.

Setiap penelitian yang dilakukan pasti membutuhkan metode yang berbeda tergantung jenis penelitian yang dilakukan serta hasil yang diharapkan. Ada dua metode penelitian yang bisa digunakan dalam melakukan penelitian, yaitu metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif. Kedua metode ini digunakan tergantung hasil yang diinginkan dan juga jenis penelitian yang dilakukan. Selain itu keduanya juga memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Lantas apa saja perbedaan diantara keduanya?

Macam-Macam Metode Penelitian (skripsi dan tesis)

Secara umum, metode riset dapat dikelompokkan ke dalam beberapa jenis. Adapun macam-macam metode penelitian adalah sebagai berikut:

1. Metode Kualitatif

Metode kualitatif adalah metode riset yang sifatnya memberikan penjelasan dengan menggunakan analisis. Pada pelaksanaannya, metode ini bersifat subjektif dimana proses penelitian lebih tiperlihatkan dan cenderung lebih fokus pada landasan teori.

Metode riset ini juga disebut dengan metode etnografi karena sangat jamak dipakai untuk melakukan pengamatan kondisi sosial budaya.

2. Metode Kuantitatif

Metode kuantitatif adalah bentuk penelitian yang dilakukan secara sistematis, terstruktur, serta terperinci. Pada pelaksanaaannya, metode riset ini fokus pada penggunaan angka, tabel, grafik, dan diagram untuk menampilkan hasil data/ informasi yang diperoleh.

3. Metode Survei

Metode survei adalah suatu metode yang digunakan untuk mendapatkan hasil riset dalam bentuk opini atau pendapat dari orang lain yang berinteraksi langsung dengan objek yang diamati. Tujuan utama dari metode ini adalah untuk mendapatkan gambaran umum melalui sampel beberapa orang.

4. Metode Ekspos Facto

Metode Ekspos Facto adalah metode riset untuk meneliti hubungan sebab-akibat dari suatu peristiwa. Dari keterkaitan sebab-akibat tersebut akan ditemukan kemungkinan baru yang bisa dijadikan indikator dalam proses riset.

5. Metode Deskriptif

Metode deskriptif adalah metode riset yang bertujuan untuk menjelaskan suatu peristiwa yang sedang berlangsung pada masa sekarang dan juga pada masa lampau. Metode riset ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu Longitudinal (sepanjang waktu) dan Cross Sectional (waktu tertentu).

Pengertian Metode Penelitian (skripsi dan tesis)

Pengertian metode penelitian adalah suatu proses atau cara yang dipilih secara spesifik untuk menyelesaikan masalah yang diajukan dalam sebuah riset. Sedangkan pengertian metodologi penelitian adalah suatu ilmu yang menjelaskan bagaimana seharusnya sebuah penelitian dilakukan.

Pendapat lain mengatakan bahwa pengertian metodologi penelitian adalah serangkaian langkah-langkah yang sistematis/ terstruktur yang dilakukan oleh peneliti untuk menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan pada objek penelitian. Adapun langkah-langkah sistematis tersebut adalah:

  • Proses identifikasi dan merumuskan masalah
  • Penyusunan kerangka berpikir
  • Merumuskan hipotesis
  • Pembahasan masalah
  • Membuat kesimpulan dan saran

Desain Penelitian (skripsi dan tesis)

 

Desain penelitian mengacu pada rancangan/rencana tindakan penelitian yang menghubungkan kerangka filosofis penelitian dengan metode penelitian (Creswell& Clark, 2007). Desain penelitian dapat termasuk rancangan penelitian eksperimental, quasi eksperimental, penelitian survey, studi etnografi, studi fenomonologis, grounded theory, penelitian tindakan, diskursus analisis dan desain mix methods.

  1. Desain Studi Kasus (Case Study Design)

Studi kasus merupakan penelitian mendalam tentang masalah penelitian tertentu, bukan survei statistik atau pertanyaan komparatif. Tujuan desain ini untuk mempersempit bidang yang sangat luas ke dalam satu atau beberapa hal yang spesifik.

  1. Desain Kausal (Causal Design)

Studi kausalitas dianggap sebagai pemahaman fenomena bersyarat dalam bentuk, “Jika X, maka Y”. Tujuan penelitian ini untuk mengukur dampak perubahan tertentu terhadap norma-norma dan asumsi yang ada.

  1. Desain Cohort (Cohort Design)

Sering digunakan dalam ilmu medis, tetapi juga ditemukan dalam ilmu sosial terapan. Studi kohort mengacu pada penelitian yang dilakukan selama periode waktu yang melibatkan anggota populasi atau sampel yang dipersatukan oleh beberapa kesamaan atau kemiripan.

  1. Desain Cross-Sectional (Cross-Sectional Design)

Desain cross-sectional memiliki tiga ciri khas yaitu ada dimensi waktu, ada perbedaan, dan kelompok dipilih berdasarkan perbedaan. Desain cross-sectional hanya mengukur perbedaan di antara berbagai orang, subyek atau fenomena, bukan proses perubahan.

  1. Desain Deskriptif (Descriptive Design)

Desain deskriptif menjawab atas pertanyaan-pertanyaan tentang siapa, apa, kapan, di mana dan bagaimana keterkaitan dengan penelitian tertentu. Penelitian deskriptif digunakan untuk memperoleh informasi mengenai status fenomena variabel atau kondisi situasi.

 

  1. Desain Eksperimental (Experimental Design)

Sebuah blue-print prosedur yang memungkinkan peneliti untuk mempertahankan kontrol atas semua faktor. Dalam melakukan hal ini peneliti menentukan atau memprediksi apa yang mungkin terjadi.

Penelitian eksperimental sering menggunakan prioritas waktu untuk konsistensi kausal dan besaran korelasi. Desain eksperimen klasik menentukan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

  1. Desain Eksplorasi (Exploratory Design)

Desain eksplorasi dilakukan ketika tidak ada atau sedikit kajian penelitian atas suatu masalah. Fokusnya adalah mendapatkan wawasan lebih ketika masalah penelitian berada dalam tahap awal penyelidikan.

Desain eksplorasi sering digunakan untuk membangun pemahaman tentang cara terbaik untuk mempelajari masalah atau metodologi yang paling cocok untuk mengumpulkan informasi tentang masalah ini.

  1. Desain Sejarah (Historical Design)

Tujuan desain ini adalah mengumpulkan, memverifikasi dan mensintesis bukti dari masa lalu untuk membangun fakta sehingga menerima atau menolak sebuah hipotesis.

Sumber-sumber sekunder dan berbagai bukti dokumenter primer yang otentik seperti buku harian, catatan resmi, laporan, arsip dan informasi non-tekstual informasi (peta, gambar, audio dan rekaman visual).

  1. Desain Longitudinal (Longitudinal Design)

Studi longitudinal mengikuti sampel yang sama dari waktu ke waktu dalam jangka panjang dan membuat pengamatan berulang. Pengukuran diambil berkali-kali pada setiap variabel dalam periode waktu yang berbeda.

  1. Desain Meta-Analisis (Meta-Analysis Design)

Meta-analisis adalah metodologi analisis yang dirancang secara sistematis untuk mengevaluasi dan merangkum hasil-hasil penelitian oleh para peneliti lain sehingga meningkatkan ukuran sampel secara keseluruhan.

  1. Desain Observasional (Observational Design)

Menarik kesimpulan dengan membandingkan subyek terhadap kelompok kontrol dimana peneliti tidak memiliki kontrol atas percobaan. Ada dua jenis umum desain ini yaitu pengamatan langsung dan pengamatan tersembunyi.

 

Keuntungan studi observasional memungkinkan wawasan yang berguna dalam memahami fenomena dan menghindari kendala etis dan praktis dalam sebuah proyek penelitian besar dan rumit.

  1. Desain Filosofis (Philosophical Design)

Dipahami sebagai pendekatan luas untuk memeriksa masalah penelitian dari desain metodologi, analisis filosofis dan argumentasi keras terhadap asumsi yang mendasari.

Pendekatan ini menggunakan alat-alat argumentasi yang berasal dari tradisi filsafat, konsep, model dan teori kritis, misalnya, relevansi logika dan bukti dalam perdebatan akademis untuk menganalisis argumen tentang isu-isu fundamental.

  1. Desain Sequential (Sequential Design)

Penelitian sequential dilakukan dengan sengaja pendekatan serial di mana satu tahap akan selesai diikuti oleh tahap lainnya dan sebagainya. Setiap tahap dibangun dari tahap sebelumnya sampai data cukup selama selang waktu untuk menguji hipotesis.

Model Pengukuran : Refleksif apa Formatif (skripsi dan tesis)

 

Desain model pengukuran untuk variabel laten terbagi atas dua yaitu bersifat refleksif atau formatif. Bagaimana membedakan keduanya? Hair et. al.(2006) dan Jogiyanto (2009) memisahkannya atas 4 syarat yaitu : (1) bagaimana hubungan kausalitasnya; (2) bagaimana sifat kovarian diantara indikator; (3) apakah ada sifat duplikasi yang kuat; (4) apakah ada hubungan indikator pada berbagai variabel.  Cara menentukan sifat hubungan indikator dan variabel laten tersebut kadangkala bisa terlihat dengan mudah pada keempatnya kadang tidak. Berikut penjelasan dari keempat cara tersebut. Pertama,hubungan kausalitasnya. Indikator refleksif disebabkan oleh konstruk sedangkan indikator formatif menyebabkan konstruk. Dapat pula diberi makna lain, apabila indikator tersebut cenderung bersifat penyusun, maka akan bersifat formatif, sedangkan bila indikator adalah hasil dari konstruk akan bersifat refleksif; Kedua, sifat kovarian. Pada hubungan refleksif, kovarian  antar indikator adalah tinggi karena seluruh indikator akan bergerak bersama, artinya perubahan satu indikator akan menyebabkan perubahan terhadap indikator lainnya. Sedangkan pada sifat formatif, diharapkan tidak memiliki kovarian tinggi dan tidak bergerak bersama. Ketiga, sifat duplikasi.  Apabila indikator memiliki kesamaan dasar konseptual (seluruh indikator mengindikasikan hal yang sama), maka akan bersifat refleksif. Akibatnya menghilangkan satu indikator tidak mengubah arti konstruk secara materi. Keempat, hubungan indikator pada berbagai variabel.  Pada sifat refleksif, semua indikator bisa berhubungan dengan variabel lain. Sedangkan pada hubungan formatif diharapkan terjadi pola hubungan yang berbeda dengan variabel lain.

Model Pengukuran : Refleksif apa Formatif

Non Probability Sampling (skripsi dan tesis)

Dalam Non Probability Sampling yang dipastikan bukan
kesempatan yang sama pada setiap anggota populasi, namun
setiap variasi yang relevan dengan topik penelitian dapat
seluruhnya terakomodir. Non Probability sampling dapat
dikelompokkan atas Convenience Sampling/Accidental
Sampling, Purposive Sampling, Quota Sampling dan Snowball
Sampling.
1. Convenience Sampling/Accidental Sampling
Convenience/Accidental Sampling merupakan teknik
penarikan sampel dari sampel yang dapat diakses. Teknik ini
mempunyai kemungkinan kesalahan sampling yang cukup
besar namun masih digunakan di beberapa penelitian, terutama
jika terkait dengan izin atau kerelaan sampel. Misal untuk
penelitian yang menggunakan perusahaan sebagai unit sampel.
Namun dalam metode ini kesalahan sampling dapat dikurangi
dengan menetapkan beberapa kriteria sampel sehingga yang
terpilih merupakan sampel sukarela yang memenuhi kriteria
(qualified voluntary sample).
2. Purposive Sampling
Purposive Sampling yaitu teknik sampling dengan
menentukan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang sesuai
dengan tujuan penelitian. Sebagai contoh suatu penelitian
dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
keputusan konsumen untuk mengkonsumsi beras organik.
Peneliti akan datang ke lokasi penjualan beras dan menetapkan
sampel dari konsumen yang membeli beras, baik yang organik
maupun yang tidak organik. Dengan demikian dapat diestimasi
faktor apa yang mempengaruhi seseorang untuk membeli atau
tidak membeli beras organik. Purposive Sampling hampir sama
dengan Convenience Sampling, namun biasanya pada
Purposive Sampling ketersediaan sampelnya lebih banyak
daripada besar sampel.
3. Quota Sampling
Quota sampling pada prinsipnya hampir sama dengan
Stratified Proportional Sampling atau Cluster Proportional
Sampling yang didasarkan pada karakteristik populasi. Pada
setiap strata atau kelompok ditetapkan besar sampel yang
proporsional. Perbedaannya hanya pada penarikan sampel yang
tidak secara acak.
4. Snowball Sampling
Snowball Sampling merupakan metode penarikan sampel
secara berantai. Sampel pertama (atau beberapa sampel
pertama) ditentukan berdasarkan kriteria yang sesuai dengan
tujuan penelitian. Selanjutnya sampel berikutnya ditentukan
berdasarkan informasi yang diperoleh dari sampel pertama.
Metode ini digunakan apabila sangat sedikit informasi yang
diketahui mengenai keberadaan anggota populasi.

Cluster Sampling (skripsi dan tesis)

Cluster sampling dilakukan jika terdapat berbagai
kelompok, yang menyebabkan populasi kurang homogen.
Misalkan, seorang peneliti ingin meneliti besarnya pendapatan
keluarga per bulan di suatu kabupaten. Agar responden dari
tiap kecamatan dalam kabupaten tersebut dapat terwakili, maka
kabupaten di bagi menjadi kecamatan-kecamatan. Dalam hal
ini satu kecamatan tidak lebih tinggi atau lebih rendah
dibandingkan dengan kecamatan yang lain. Dengan kata lain,
tidak ada strata antar kecamatan. Dengan demikian metode
yang dipilih adalah metode Cluster Sampling bukan Stratified
Sampling. Namun jika antar kecamatan terdapat strata,
misalnya karena jarak ke ibukota kabupaten yang berbeda,
maka yang dilakukan adalah Stratified Sampling, jika tidak
sampel dari tiap kecamatan dipilih secara acak. Metode
penarikan sampel yang dilakukan dengan 2 tahap demikian
disebut juga sebagai Multistage Sampling.
Jika besar sampel pada setiap cluster ditentukan secara
proporsional, maka metode penarikan sampel tersebut disebut
Cluster Proportional Sampling.

Stratified Sampling (skripsi dan tesis)

Stratified Sampling dilakukan jika terdapat strata dalam populasi, yang menyebabkan populasi kurang homogen. Selanjutnya setelah dilakukan
stratifikasi, penarikan sampel pada setiap strata dilakukan secara acak sederhana (simple random sampling) atau acak sistematis (systematic random sampling). Biasanya ukuran sampel pada tiap strata ditentukan secara proporsional, sehingga metode penarikan sampel tersebut disebut Stratified
Proportional Sampling.

Jenis Penentuan Sampel Dalam Probability Sampling (skripsi dan tesis)

Probability Sampling adalah teknik yang memastikan setiap elemen dalam sampling frame mempunyai kesempatan yang sama untuk ditarik sebagai sampel. Probability Sampling dapat dikelompokkan atas Random Sampling, Stratified Sampling dan Cluster Sampling.
1. Random Sampling
Random Sampling ini digunakan jika populasi bersifat homogen. Metode ini dapat dibedakan atas metode Simple Random Sampling dan Systematic Random Sampling.
(1) Simple Random Sampling
Simple Random Sampling merupakan suatu metode penarikan sampel yang menarik sampel secara acak langsung dari seluruh populasi. Ada dua cara yang dapat digunakan untuk menentukan sampel dalam metode Simple Random Sampling, yaitu:
a. Undian
Pengundian dilakukan pada semua satuan-satuan elemen dalam populasi. Sebelum pengundian dilakukan, semua elemen populasi disusun dalam suatu sampling frame. Setiap nomor dalam sampling frame ditulis pada selembar
kertas. Kertas-kertas tersebut digulung dan dimasukkan dalam sebuah kotak. Kertas-kertas yang diambil secara acak menunjukkan nomor yang akan menjadi sampel. Namun cara ini hampir tidak memungkinkan jika populasi
besar.
b. Tabel angka acak (random)
Penggunaan tabel angka acak (random) lebih praktis dengan jumlah populasi yang besar. Penggunaan tabel dapat dilakukan dengan manual atau komputer. Jika dilakukan secara manual setelah angka pertama dipilih dari tabel, maka dalam pemilihan selanjutnya kita dapat bergeser ke atas atau ke bawah mengikuti kolom, ataupun ke kanan atau ke kiri mengikuti baris.
(2) Systematic Random Sampling
Systematic Random Sampling merupakan suatu metode penarikan sampel yang menarik sampel pertama secara acak, dan sampel selanjutnya ditentukan berdasarkan jarak tertentu dari sampel sebelumnya. Metode ini dapat digunakan jika sampling frame/populasi memiliki pola beraturan, seperti blokblok. Sampel pertama ditentukan secara acak dengan rasio sampling yang merupakan proporsi populasi yang dipilih sebagai sampel. Misal jika jumlah populasi 100 dan sampel yang akan dipilih 20, maka rasio samplingnya = 20/100 = 1/5. Nilai acak dipilih dari angka 1 sampai 5. Interval sampel ditentukan dengan rasio anggota populasi/jumlah sampel =100/20 = 5. Jika sampel awal yang terpilih adalah angka 4 maka selanjutnya yang dipilih adalah 9, 13, dan seterusnya

Metode Penarikan Sampel (skripsi dan tesis)

Menurut Dane (1990 : 297-303) metode penarikan sampel dapat dibedakan atas Metode Probability Sampling dan Metode Non Probability Sampling. Pada Metode Probability Sampling sampel ditentukan dengan teori kemungkinan. Sampel ditentukan secara acak sehingga setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama. Sebaliknya, pada Metode Non Probability Sampling, sampel tidak ditentukan secara acak dan tidak mempunyai peluang sama untuk dipilih.
Metode penarikan sampel diperlukan untuk mengurangi terjadinya kesalahan sampling (sampling error), sehingga sampel yang diperoleh merupakan sampel yang representatif. Kesalahan sampling dapat dikurangi dengan cara meningkatkan besar sampel atau dengan meningkatkan homogenitas.

Dalam Metode Probability Sampling, pengurangan kesalahan sampling dilakukan dengan Random Sampling, Stratified Sampling dan Cluster Sampling, sementara dalam Non Probability Sampling dengan Purposive Sampling, Quota Sampling dan Snowball Sampling.

Metode Penentuan Jumlah Sampel (skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan jumlah sampel yang cukup untuk setiap kelompok sampling. Metode tersebut dapat dikelompokkan dalam metode

sampling untuk populasi besar dan untuk populasi kecil. Metode Slovin (1967) lebih sering digunakan pada populasi besar, sedangkan Metode Krejcie dan Morgan (1970) dan Metode Cochran (1977) digunakan untuk menentukan besar sampel pada populasi kecil.

 

Metode Penentuan Besar Sampel (skripsi dan tesis)

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, sampel yang baik adalah sampel yang dapat mewakili populasi (representatif). Nilai rata-rata sampel yang representatif, misalnya, dapat digunakan sebagai estimasi dari nilai rata-rata populasi. Jika tidak, nilai rata-rata sampel yang dianggap sebagai nilai rata-rata populasi sebenarnya tidak sama dengan nilai rata-rata populasi. Ahli statistik membagi kesalahantersebut atas 2 tipe yaitu kesalahan tipe 1 dan kesalahan tipe 2.
Kesalahan tipe 1 sering disebut sebagai false positive, dimana peneliti menyimpulkan bahwa suatu variabel berpengaruh nyata padahal sebenarnya tidak.

Kesalahan tipe 2 sering disebut sebagai false negative, dimana peneliti menyimpulkan bahwa suatu variabel tidak berpengaruh nyata padahal sebenarnya berpengaruh nyata. Secara empiris kesalahan tersebut jarang terjadi, sehingga jarang dipertimbangkan dalam penelitian.

Sampel (skripsi dan tesis)

Unit sampel atau sampling unit/element menunjukkan satuan yang akan dipilih dalam penelitian. Gabungan dari semua unit atau elemen yang dapat dimasukkan sebagai sampel penelitian disebut sebagai populasi.
Dalam penelitian dengan populasi yang besar, observasi pada setiap anggota kelompok akan membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang besar. Observasi yang dilakukan pada setiap anggota populasi disebut sebagai metode sensus. Namun demikian sebagai upaya efisiensi umumnya dilakukan
penarikan sampel yang diharapkan dapat mewakili gambaran populasi. Dengan demikian sampel yang dipilih haruslah representatif. Artinya, segala keragaman atau variasi yang dianggap penting dalam penelitian haruslah terwakili oleh sampel yang dipilih. Nilai penting tersebut berkaitan dengan variabel dan data yang akan dianalisis dalam penelitian.  Anggota populasi yang homogen dapat diwakili oleh satu atau beberapa sampel saja.

Jenis-Jenis Dalam Reliabilitas (skripsi dan tesis)

  1. Teknik Pengukuran Ulang (Re-Test Method)
    Dalam teknik ini, responden yang sama menjawab pertanyaan yang sama dalam waktu yang berbeda sebanyak dua kali. Selang waktu antara waktu menjawab yang pertama dengan yang kedua yang ideal adalah antara 15-30 hari. Selang waktu yang terlalu dekat ataupun terlalu jauh dapat
    mempengaruhi reliabilitas alat pengukur. Jawaban pertama dan jawaban kedua kemudian diuji dengan Korelasi Pearson Product Moment. Jika nilai korelasinya signifikan, maka dapat disimpulkan bahwa jawaban yang diberikan sudah stabil.
    2. Teknik Belah Dua (Half-Split Method)
    Teknik ini dapat digunakan jika pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner cukup banyak, minimal 50-60 pertanyaan. Langkah-langkah yang dilakukan dalam Teknik Belah Dua adalah:
    a. Peneliti mengajukan sejumlah pertanyaan responden, yang kemudian dihitung validitasnya. Pertanyaan yang tidak valid dikeluarkan
    b. Selanjutnya, pertanyaan yang valid dibagi menjadi dua kelompok. Pembagian dapat dilakukan secara random ataupun dibagi berdasarkan nomor ganjil dan genap. Setiap jawaban diberi skor.
    c. Total skor dari setiap kelompok diuji dengan Korelasi Pearson Product Moment.
    d. Nilai koefisien korelasi dibandingkan dengan koefisien korelasi total jika alat pengukur tidak dibelah seperti pada teknik pengukuran ulang. Nilai koefisien korelasi teknik belah dua akan lebih kecil dari nilai koefisien korelasi total.
  2. Teknik Bentuk Paralel/Uji Silang (Cross Check)
    Dalam teknik ini, responden diajukan dengan 2 pertanyaan yang berbeda namun sebenarnya mengukur aspek yang sama. Jika skor dari kedua jawaban tersebut berkorelasi signifikan, maka maka dapat disimpulkan bahwa jawaban yang diberikan sudah ekuivalen. Pertanyaan silang juga sering dicantumkan dalam kuesioner untuk memperoleh ukuran yang lebih lengkap dan tepat.

Reliabilitas (skripsi dan tesis)

Reliabilitas menunjukkan sejauh mana alat pengukur yang digunakan dapat dipercaya atau diandalkan. Suatu alat pengukur dikatakan reliabel jika alat pengukur tersebut dapat memberikan hasil yang konsisten. Jika alat pengukur tersebut digunakan lebih dari sekali untuk mengukur gejala yang sama
dan hasil pengukuran yang diperoleh konsisten, maka alat pengukur tersebut reliabel.
Reliabilitas juga dilakukan untuk melihat apakah alat ukur yang digunakan bias/ambigu atau tidak. Alat ukur yang bias dapat berasal dari jawaban yang tidak konsisten dari 2 pertanyaan yang sejenis, atau dari jawaban yang tidak jelas dari 1 pertanyaan yang mengandung 2 informasi. Pertama, jika 2
pertanyaan yang berbeda namun sebenarnya menanyakan hal yang sama, maka kovarians keduanya akan sama dengan 0.
Suatu alat ukur dikatakan reliabel apabila memenuhi 3 persyaratan yaitu stabil, konsisten dan ekuivalen. Stabilitas dapat dinilai melalui teknik pengukuran  lang (re-test method), konsistensi dengan teknik belah dua (split-half method), dan ekuivalensi dengan uji silang (cross test).

Validitas Isi (Content Validity) (skripsi dan tesis)

Validitas isi suatu alat pengukur ditentukan oleh sejauh mana isi alat pengukur tersebut mewakili semua aspek yang dianggap sebagai aspek kerangka konsep. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana di pertanyaan-pertanyaan dapat tercakup kuesioner maka alat pengukur tersebut dikatakan memiliki validitas isi yang tinggi.

Validitas Konsep (Construct Validity) (skripsi dan tesis)

Validitas konsep menunjukkan apakah indikator-indikator
yang digunakan untuk mengukur suatu konsep sudah tepat atau
tidak. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengujian
validitas konsep adalah sebagai berikut:
a. Mendefinisikan secara operasional konsep yang akan
diukur. Definisi operasional tersebut dapat diperoleh dari
literatur (teoritis atau penelitian empiris terdahulu) ataupun
dari pendapat para ahli. Apabila definisi tersebut tidak ada
di dalam literatur ataupun dari para ahli, maka peneliti
dapat menanyakan melakukan observasi atau wawancara
26
langsung kepada calon responden. Dari definisi tersebut,
maka peneliti dapat menyusun daftar pertanyaan dalam
kuesioner.
b. Melakukan uji coba kuesioner tersebut pada sejumlah
responden, minimal 30 orang. Jawaban untuk masingmasing
pertanyaan diberi skor.
c. Melakukan tabulasi data
d. Menghitung nilai korelasi antara skor masing-masing
pernyataan dengan total skor dengan menggunakan
Korelasi Pearson Product Moment,
e. Jika koefisien korelasi yang diperoleh signifikan secara
statistik, maka alat pengukur yang digunakan valid.

 Pengertian Skala Pengukuran (skripsi dan tesis)

Skala merupakan prosedur pemberian angka-angka atau symbol lain kepada sejumlah ciri dari suatu objek

Pengukuran adalah proses, cara perbuatan mengukur yaitu suatu proses sistimatik dalam menilai dan membedakan sesuatu obyek yang diukur atau pemberian angka terhadap objek atau fenomena menurut aturan tertentu. Pengukuran tersebut diatur menurut kaidah-kaidah tertentu. Kaidah-kaidah yang berbeda menghendaki skala serta pengukuran yang berbeda pula. Misalnya, orang dapat digambarkan dari beberapa karakteristik : umur, tingkat pendidikan, jenis kelamin, tingkat pendapatan.

Skala pengukuran merupakan seperangkat aturan yang diperlukan untuk mengkuantitatifkan data dari pengukuran suatu variable. Dalam melakukan analisis statistik, perbedaan jenis data sangat berpengaruh terhadap pemilihan model atau alat uji statistik. Tidak sembarangan jenis data dapat digunakan oleh alat uji tertentu. Ketidaksesuaian antara skala pengukuran dengan operasi matematik /peralatan statistik yang digunakan akan menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat/relevan.

Studi Pustaka/Literatur (skripsi dan tesis)

Dokumen dalam studi pustaka/literatur dapat dibedakan
atas dokumen pribadi dan dokumen publik. Dokumen pribadi
misalnya berupa catatan usahatani responden atau koresponden
melalui email dan surat, sedangkan dokumen publik dapat
berupa dokumen yang dipublikasi atau tidak dipublikasi.
Sumber informasi merupakan hal yang penting dalam
menentukan kualitas dokumen. Misal, di Indonesia publikasi
dari Badan Pusat Statistik merupakan salah satu sumber
dokumen publik yang diakui dan dapat digunakan dalam
referensi ilmiah.
Kelebihan studi pustaka/literatur adalah (1) memungkinkan
peneliti mendapat informasi dari sumber dengan latar belakang
bahasa yang berbeda, (2) dapat diakses oleh peneliti sesuai
dengan ketersediaan waktu peneliti, (3) informasi yang
diperoleh merupakan informasi yang relatif berbobot karena
merupakan pemikiran yang mendalam dari penulisnya, dan
(4) informasi yang diperoleh merupakan fakta yang sudah
tertulis yang sudah tidak perlu diinterpretasikan lagi.
Kelemahan studi pustaka/literatur adalah (1) tidak semua
literatur dapat diakses oleh individu atau publik, (2) tidak
semua literatur tersedia pada tempat yang umum. Kadang- kadang peneliti perlu menelusuri data dari berbagai tempat
sebelum menemukan data yang diperlukan, (3) informasi yang
terdapat dalam literatur bukan merupakan rancangan peneliti
sehingga sering tidak dapat langsung dientry atau tidak lengkap
sebagai data penelitian dan (4) dokumen yang diperoleh
mungkin tidak otentik atau tidak akurat.

Wawancara/Interview (skripsi dan tesis)

Wawancara/interview dapat dilakukan dengan 2 cara
yaitu (i) tatap muka langsung dan (ii) melalui media (telefon
dan teleconference). Tatap muka langsung dapat dilakukan
secara individu maupun dalam kelompok kecil. Perlu
diperhatikan bahwa wawancara kelompok dapat menghemat
waktu, tetapi perlu diperhatikan seberapa besar responden
dalam kelompok yang sama dapat saling mempengaruhi.
Kelebihan metode wawancara adalah (1) dapat
mengumpulkan informasi yang tidak dapat langsung diamati,
baik karena jarak lokasi maupun jarak waktu (data histori) dan
(2) dapat mengumpulkan informasi yang terarah dan fokus
melalui pertanyaan-pertanyaan yang tersusun dalam kuesioner.
Kelemahan metode wawancara adalah (1) informasi yang
diperoleh merupakan informasi “tidak langsung/indirect”, yang
telah dipengaruhi oleh sikap dan persepsi responden,
(2) informasi umumnya diperoleh pada lokasi yang bukan
merupakan tempat kejadian sebenarnya. Hal tersebut akan
berpengaruh terutama pada informasi mengenai “proses” atau
“mekanisme”, (3) cara peneliti bertanya dapat tendensius dan
22
mempengaruhi jawaban responden, dan (4) informasi yang
diperoleh sangat tergantung pada kemampuan komunikasi
responden

Observasi (skripsi dan tesis)

Observasi dapat dilakukan dengan 4 cara dari murni
sebagai partisipan sampai murni sebagai pengamat yaitu
(1) peneliti langsung berbaur dan tidak diketahui perannya
sebagai peneliti oleh lingkungan, (2) peneliti langsung berbaur
tetapi diketahui perannya sebagai pengamat oleh lingkungan,
(3) peneliti berperan sebagai pengamat, namun jika diperlukan
akan mencoba langsung kegiatan yang sedang diamati dan
(4) peneliti tidak terlibat dalam kegiatan yang sedang diteliti
dan murni hanya mengamati kegiatan yang sedang diteliti.
Kelebihan metode observasi adalah (1) peneliti
mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan
responden, (2) peneliti dapat mencatat informasi seperti apa
adanya, (3) peneliti dapat menemukan hal-hal yang tidak
diketahui dari teori atau penelitian terdahulu, namun dapat
terjadi atau dapat diamati detailnya dan (4) dapat mengamati
fakta-fakta mengenai hal-hal yang kurang nyaman atau tidak
dapat diungkapkan oleh partisipan/informan.
Kelemahan metode observasi adalah (1) dengan terlibat
langsung peneliti dapat dianggap ikut campur atau
mengganggu kegiatan responden (intrusive), (2) peneliti tidak
dapat mengungkapkan hasil observasi yang dianggap pribadi
(privacy) oleh responden, dan (3) informasi yang dapat
ditangkap sangat tergantung oleh kemampuan peneliti.
Biasanya peneliti yang berpengalaman dan kompeten lebih
mampu membedakan fenomena-fenomena yang terkait atau
yang tidak terkait dengan penelitian. Artinya, 2 peneliti yang
berbeda kompetensi dapat menangkap informasi yang berbeda
walaupun lokasi dan kegiatan yan diamati sama.

Skala Q-sort (skripsi dan tesis)

Skala Q-sort digunakan untuk studi perbandingan.
Misalnya untuk menentukan posisi seseorang dalam satu
kelompok atau mengurutkan posisi beberapa konsep yang
berbeda. Berbeda dengan Skala Thurstone, pada Skala Q-sort
yang diseleksi bukan pernyataannya tetapi responden/sorter
nya. Metode ini sering digunakan dalam studi pemasaran.
Misalnya dari hasil pooling diperoleh sekitar 60-140
pernyataan untuk menguji 9 merek berdasarkan rasanya yaitu
tasty, moderate dan non tasty, atau berdasarkan harganya yaitu
murah, sedang dan mahal. Kemudian hasil riset dapat
menentukan apakah masyarakat pada umumnya lebih
menyukai merek yang ekonomis (harga murah), sedang atau
yang mewah (harga mahal). Kita dapat mengambil 60 merek
atau mengelompokkannya dalam 3 kelompok harga ekonomis,
sedang dan mewah. Pengelompokan tersebut adalah
berdasarkan penilaian/persepsi responden terhadap harga untuk
barang yang sama. Artinya yang dikelompokkan bukan
harganya (faktornya) tetapi persepsi/pendapat respondennya/
sorternya (mengenai harga barang tersebut).

Skala Semantic Differential (skripsi dan tesis)

Pada Skala Thurstone, Likert dan Guttman sebelumnya, terdapat persamaan dalam hal pooling item, yang kemudian diseleksi dan digunakan untuk mengukur konsep unidimensional atau single dimension. Dalam Skala Semantic Differential hal tersebut tidak dilakukan. Pengukuran konsep
dilakukan melalui evaluasi, potensi atau aktivitas. Evaluasi menunjukkan keadaan positif dan negatif dari konsep tersebut (baik/buruk, menyenangkan/tidak menyenangkan, berharga/ tidak berharga, kotor/bersih). Potensi menunjukkan kekuatan atau nilai penting dari konsep tersebut (kuat-lemah, beratringan, keras-lunak, sederhana-kompleks, penurut-tegas, sukar- mudah). Aktivitas menunjukkan aksi atau kegiatan yang relevan dengan konsep tersebut (aktif-pasif, semangat-tenang, cepat-lambat, relaks-tegang, redup-cerah, tenang-ribut). Umumnya pengukuran tersebut dilakukan untuk mengetahui pendapat masyarakat mengenai suatu objek atau konsep. Skala
ini banyak digunakan untuk survei pemasaran, personality, psikologi klinis atau komunikasi antar budaya. Langkah pertama yang dilakukan adalah menyusun
pasangan kata sifat yang merefleksikan evaluasi, potensi atau aktivitas. Pemilihan kata sifat tersebut dapat dilakukan melalui “analisis faktor”

Skala Guttman (skripsi dan tesis)

Skala Guttman dikembangkan oleh Louis Guttman (1944). Teknik ini disebut juga dengan skala kumulatif atau analisis skalogram. Berbeda dengan Skala Thorstone dan Skala Likert, Skala Guttman tidak menggunakan beberapa faktor untuk mengukur suatu sikap (unidimensional). Dalam contoh sebelumnya pada Skala Likert kesimpulan sikap seseorang
terhadap altruism disimpulkan dari total skor dari 14 faktor.
Untuk mengukur proporsi kesesuaian pada Skala Guttman ini dilakukan perhitungan coefficient of reproducibility (CR) dengan rumus: = 1 − ………..(2.2)
Nilai CR 0,90 menunjukkan bahwa proporsi kesesuaian yang baik.
dalam kuesioner yang akan diajukan kepada responden, urutan tersebut diacak. Kelemahan Skala Guttman adalah pada tahap seleksi pernyataan. Menghilangkan penyataan yang tidak sesuai satu per satu membutuhkan waktu yang lama dan mungkin memerlukan beberapa pengulangan.
Nilai coefficient of reproducibility (CR) sebesar 0,90 juga mungkin sulit diperoleh jika dilakukan pada populasi yang heterogen. Peneliti mungkin harus mengidentifikasi danmenghilangkan sub kelompok tertentu untuk mendapatkan kelompok sampel yang cukup homogen. Konsekuensi
pembatasan sampel yang demikian dapat mengurangi
kemampuan generalisasi dari skala yang diperoleh.

Skala Likert (skripsi dan tesis)

Skala Likert dikembangkan oleh Rensis Likert (1932). Sama seperti Skala Thurstone, Skala Likert juga merupakan skala interval dan unidimensional. Dalam Skala Likert faktor yang akan dicantumkan dalam kuesioner dipilih bukan berdasarkan pendapat responden (seperti dalam Skala Thurstone) tetapi berdasarkan uji validitas dan reliabilitas darinilai mean setiap faktor. Uji validitas dilakukan dengan melihat signifikansi nilai korelasi skor setiap faktor dengan skor total (inter item correlation). Faktor yang mempunyai signifikasi
lebih kecil dari α (derajat kesalahan) ditetapkan sebagai faktor yang valid. Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan Cronbach Test yang menggunakan kovarians sebagai komponen uji. Selanjutnya dari seluruh faktor yang valid dan reliabel dipilih 10-20 faktor yang mempunyai nilai korelasi ≥0,8. Faktor-faktor tersebut yang kemudian dicantumkan dalam
kuesioner untuk menentukan skala penilaian/persepsi dari masing-masing responden.

Dalam Skala Likert, faktor yang dihasilkan merupakan
pernyataan sikap yang berurutan (ordered item), sementara
dalam Skala Thurstone tidak. F. Total skor dari seluruh
responden yang pada akhirnya digunakan untuk penarikan
kesimpulan mengenai pendapat responden, sehingga Skala
Likert juga sering disebut sebagai summative scale.

Skala Thurstone (skripsi dan tesis)

Skala yang dikembangkan oleh Thurstone (1928) ini merupakan skala yang diaplikasikan pada pengukuran interval. Skala ini juga dikenal dengan nama equal-appearing interval. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penyusunan skala Thurstone adalah:
a. Menetapkan faktor yang relevan dengan isu yang akan ditanggapi responden. Faktor tersebut tidak terbatas jumlahnya. Namun biasanya berkisar antara 100-200 faktor. Misal dalam kasus senjata api bagi satpam kampus, faktorfaktor tersebut diperoleh dari pendapat 24 mahasiswa.
b. Dari 100-200 faktor yang diusulkan, berdasarkan pendapat 24 mahasiswa responden diperoleh 11 faktor yang dianggap paling relevan dengan isu altruism.
c. Selanjutnya masing-masing dari 24 mahasiswa tersebut mengurut 11 faktor tersebut mulai dari sangat setuju (ranking 1) sampai sangat tidak setuju (ranking 11).
d. Nilai median dari pendapat 24 mahasiswa tersebut untuk setiap faktor menjadi nilai skala (scale value) dari setiap faktor.
e. Terakhir, dihitung semi-interquartile untuk setiap faktor

Pengertian Skala (skripsi dan tesis)

Skala merupakan pengukuran terhadap berbagai jenis data mulai dari data nominal, ordinal, interval dan rasio (Dane, 1990 : 264). Terdapat berbagai jenis skala yang umum digunakan yaitu (1) Skala Thurstone, (2) Skala Likert, (3) Skala Guttman, (4) Skala Semantic Differential dan (5) Skala Q-Sort.
Pengukuran yang valid dan reliabel dari data kualitatif umumnya tidak diperoleh dari jawaban langsung responden, melainkan dari sikapnya terhadap beberapa pernyataan yang telah disusun. Misalnya untuk mengukur sikap seseorang terhadap masuknya imigran ke suatu negara bukan diberikan
jawaban sangat tidak setuju sampai sangat setuju karena akan sangat susah untuk memastikan apakah seseorang mengerti perbedaan “sangat setuju” dengan “setuju” misalnya. Sebaiknya diberikan beberapa pernyataan yang menunjukkan urutan sikap tersebut. Misal, skala yang dipilih adalah 1 sampai
5. Pernyataan yang menunjukkan sikap yang semakin positif (setuju) adalah sebagai berikut:
a. Saya rasa sebaiknya negara mengizinkan lebih banyak
imigran masuk.
b. Saya tidak merasa terganggu jika ada imigran dalam
kecamatan yang sama dengan tempat tinggal saya.
c. Saya tidak merasa keberatan bertetangga dengan imigran.
d. Saya tidak keberatan jika anak saya berteman dengan
imigran.
e. Saya tidak merasa keberatan jika anak saya menikah
dengan imigran
Tentu saja dalam kuesioner urutannya akan diacak, dan responden hanya menjawab setuju atau tidak setuju terhadap masing-masing pernyataan

Data Interval dan Data Rasio (skripsi dan tesis)

Data interval dan data rasio merupakan data yang mempunyai urutan dan mempunyai nilai pada pengukurannya. Perbedaannya hanya terletak pada nilai mutlak nol. Pada data interval tidak ada nilai nol yang mutlak. Misal dalam
temperatur derajat Celsius. Seratus derajat Celsius lebih panas
dibandingkan dengan 60 derajat Celsius. Demikian juga 0 derajat Celsius lebih dingin dibandingkan dengan 10 derajat Celsius. Artinya 0 derajat Celsius tetap menunjukkan suhu tertentu dan tidak menunjukkan tidak ada suhu. Sebaliknya pada data rasio ada nilai mutlak nol. Misal untuk ukuran berat,
di mana 0 kg beras menunjukkan tidak ada beras yang tersedia.
Contoh lain adalah pada ukuran tingkat adopsi yang dikelompokkan atas tingkat adopsi rendah, sedang dan tinggi didasarkan pada ukuran tertentu sebagai berikut. Dengan rentang adopsi 0 sampai 100%, ketiga kelompok tersebut 6 dibagi berdasarkan interval 33,3%. Tingkat adopsi lebih kecil
dari 33,3% menunjukkan adopsi rendah, 33,3%-66,6% adopsi
sedang, dan lebih besar dari 66,6% adopsi tinggi. Tingkat
adopsi 0% menunjukkan tidak satupun komponen inovasi yang
diteliti telah diadopsi responden. Dalam data interval dan rasio ketiga ukuran pemusatan nilai modus, nilai median, dan nilai mean dapat ditentukan.
Nilai mean merupakan nilai rata-rata aritmatik data. Di samping itu dapat juga ditentukan ukuran keragaman standar deviasi, yang menunjukkan penyebaran data dari nilai mean nya.

Pengertian Data Nominal (skripsi dan tesis)

Data nominal tidak mempunyai urutan dan tidak mempunyai nilai pada pengukurannya dan hanya dibedakan berdasarkan pengelompokan. Kelompok yang dibuat harus mutually exclusive (jelas perbedaannya) dan dapat menjelaskan semua kejadian yang mungkin ada. Angka-angka yang digunakan untuk menyatakan kelompok-kelompok hanya merupakan label yang menunjukkan kategori tertentu, dan tidak mempunyai nilai kuantitatif. Contoh data ini adalah jenis kelamin. Jenis kelamin dikelompokkan menjadi laki-laki dan perempuan. Jika laki-laki diberi kode angka 1 dan perempuan diberi kode angka 2, maka angka 2 pada kelompok perempuan tidak menunjukkan bahwa perempuan 2 kali dibandingkan laki-laki. Operasi hitungan yang dapat dilakukan pada data nominal hanyalah menghitung
jumlah ataupun persentase anggota dalam setiap kelompok. Dengan demikian, ukuran pemusatan yang dapat digunakan hanyalah nilai modus sebagai ukuran tendensi sentral yang menjelaskan kelompok mana yang jumlah anggotanya paling banyak. Data nominal dapat mengandung informasi dengan 1 dimensi (unidimensional) atau dengan banyak dimensi
3 (multidimensional)

Kegunaan Skala Guttman (skripsi dan tesis)

Penggunaan skala Guttman, yang disebut juga metode scalogram atau analisa skala (scale analisis) sangat baik untuk meyakinkan peneliti tentang kesatuan
dimensi dari sikap atau sifat yang diteliti, yang disebut isi universal (universe of
content) atau atribut universal (universe altfibute). Dalam prosedur Guttman,
suatu atibut universal mempunyai dimensi satu lika atribut ini menghasilkan
suatu skala komulatif yang perfek. Skala Guttman diberr nama menurut ahli yang mengembangkannyayaitu Louis Guttman skala ini mempunyai ciri
penting, yatu (Nasir.1998) Skala Guttman merupakan skala komulatif. Jika
seseorang menginginkan pertanyaan atau pertanyaan yang berbobot lebrh berat, maka ia luga akan mengiakan pertanyaan atau pemyataan yang kurang berbobot lainnya. Skala Guttman ingin mengukur sutu dtmensi saja dari suatu variabel yang multidimensi, sehingga skala ini termasuk mempunyal sifat
unidirnensronal. Skaia Guttman selain dapat dtbuat dalam bentuk pilihan ganda, juga dapat dibuat dalam check list. Jawaban dapat drbuat skor tertinggi satu dan terendah nol. Dalam penelitian ini, Skala Guttman digunkan untuk
mengetahui tanggapan-tanggapan atau untuk mengukur suatu dari responden sikap yang terdapat pada produk yang sedang diteliti.

Langkah Membuat Skala Guttman (skripsi dan tesis)

Langkah-langkah untuk membuat skala Guttman adalah sebagai berikut :

  1. Susunlah sejumlah pernyataan yang relevan dengan masalah yang ingin diselidiki
  2. Lakukan penelitian permulaan pada sejumlah sampel dari populasi yang akan diselidiki, sampel yang diselidiki minimal besarnya 50 sampel
  3. Jawaban yang diperoleh dianalisis, dan jawaban yang ekstrim dibuang. Jawaban yang ekstrim adalah jawaban yang disetujui atau tidak disetujui oleh lebih dari 80% responden
  4. Susunlah jawaban pada table Guttman
  5. Hitunglah koefisien reprodusibilitas dan koefisien skalabilitas

Skala Guttman (skripsi dan tesis)

Skala ini dikembangkan oleh Louis Guttman. Skala ini memiliki ciri penting, yaitu skala ini merupakan skala kumulatif dan skala ini digunakan untuk mengukur satu dimensi saja dari satu variable yang multi dimensi, sehingga skala ini termasuk mempunyai sifat undimensional. Skala ini juga disebut dengan metode Scalogramatau analisa skala (scale analysis). Skala Guttman sangat baik untuk meyakinkan peneliti tentang kesatuan dimensi dari sikap atau sifat yang diteliti, yang sering disebut isi universal (universe of content) atau atribut universal (universe attribute). Sebagai mana skala Thurstone, pernyataan-pernyataan memiliki bobot yang berbeda, dan jika responden menyetujui pernyataan yang memiliki bobot lebih berat, maka diharapkan akan menyetujui pernyataan yang berbobot lebih rendah. Untuk menilai undimensionalnya suatu variable pada skala ini, diadakan analisis skalogram untuk mendapatkan koefisien reproduksibilitas (Kr), dan koefisien skalabilitas (Ks), dimana jika nilai Kr = ≥ 0,90 dan Ks = ≥ 0,60 skala dianggap bagus (layak).

Jadi skala Guttman ialah skala yang digunakan untuk jawaban yang bersifat jelas (tegas dan konsisten. Misalnya yakin-tidak yakin ;ya – tidak;benar-salah; positif – negative; pernah-belum pernah ; setuju – tidak setuju; dan sebagainya. Penelitian dengan menggunakan skala Guttman apabila ingin mendapatkan jawaban jelas (tegas) dan konsisten terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan.

AHP (Analytical Hierarchy Process) (skripsi dan tesis)

 

Analytical Hierarchy Process (AHP) dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 1970-an. Menurut Saaty (1993:203), metode AHP merupakan salah satu model pengambilan keputusan multi kriteria yang dapat membantu kerangka berpikir manusia di mana faktor logika, pengalaman, pengetahuan, emosi, dan rasa dioptimasikan ke dalam suatu proses sistematis. Saaty (1993:206) AHP adalah metode pengambilan keputusan yang dikembangkan untuk pemberian prioritas beberapa alternatif ketika beberapa kriteria harus
dipertimbangkan, serta mengijinkan pengambil keputusan (decision makers)
untuk menyusun masalah yang kompleks ke dalam suatu bentuk hirarki
atau serangkaian level yang terintegrasi. Pada dasarnya, AHP merupakan metode yang digunakan untuk memecahkan masalah yang kompleks dan tidak terstruktur ke dalam kelompokkelompoknya, dengan mengatur
kelompok tersebut ke dalam suatu hirarki, kemudian memasukkan nilai
numerik sebagai pengganti persepsi manusia dalam melakukan
perbandingan relatif. Dengan suatu sintesis maka akan dapat ditentukan
elemen mana yang mempunyai prioritas tertinggi.

Keuntungan Analisis Hirarki Proses (AHP)

Metode Saaty (Analisis Hirarki Proses) yang digunakan dalam studi ini dikarenakan metode ini mempunyai keuntungan antara lain (Saaty, 1993:27):

  1. Mekanisme pendekatan, yaitu suatu konsep operasional guna menyelesaikan studi proyek ini secara terarah dan sesuai dengan kerangka acuan kerja. Termasuk dalam pola dan konsep operasional tersebut adalah cara yang digunakan dalam menggali dan menemukan permasalahan yang ada. Selanjutnya setiap data dan fakta yang masuk dianalisis dengan metode standar dan berbagai pemanfaatan ilmiah lainnya, serta standar perencanaan tata ruang yang berlaku. Metode ini adalah suatu cara praktis untuk menangani secara kualitatif bermacam hubungan fungsional dalam suatu jaringan yang kompleks.
  2. mempunyai kemampuan memadukan perencanaan ke depan (yang diproyeksikan) dan perencanaan ke belakang (yang diinginkan) dengan cara yang interaktif, yang mencerminkan pertimbangan dari semua staf manajerial yang berkepentingan.
  3. Merupakan cara baru untuk menganalisa suatu permasalahan dengan kemampuan antara lain:
  • Memadukan data yang sudah ada dengan pertimbangan subyektif tentang faktor-faktor tak wujud
  • Memasukkan pertimbangan beberapa orang dalam memecahkan konfliks.
  • Melakukan analisis sensitivitas dan revisi biaya murah
  • Menggunakan prioritas marginal maupun prioritas rata-rata untuk membimbing pengalokasian
  • Meningkatkan kemampuan manajemen untuk melakukan pertimbangan secara eksplisit.
  1. Suatu teknik yang melengkapi berbagai teknik lain, prioritas (meminimaumkan resiko) untuk memilih proyek atau aktivitas.
  2. Suatu pengganti tunggal untuk aneka ragam skema untuk memproyeksikan masa depan dan melindungi terhadap resiko dan ketidakpastian.

PENGERTIAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS/ AHP

AHP digunakan dalam pengamatan tentang sifat manusia, analisis pemikiran dan pengukuran yang berguna untuk memecahkan persoalan kualitatif maupun kuantitatif. Ahp merupakan metode yang luwes, yang berarti dalam memecahkan persoalan, AHP memberikan pertimbangan secara intuitif selain pertimbangan ilmiah sehingga dapat menampung sifat alamiah manusia ketimbang memaksa kita ke cara berfikir yang mungkin justru berlawanan dengan hati nurani.

Penilaian yang diberikan dalam penggunaan metode AHP ini memberikan kita keluwuesan dalam menilai, yaitu AHP menunjukkan pertimbangan dan nilai-nilai pribadi secara logis (Saaty, 1993:23). Proses ini bergantung pada imajinasi, pengalaman dan pengetahuan untuk memberi pertimbangan. Selain itu AHP menunjukkan bagaimana menghubungkan elemen-elemen dari satu bagian masalah dengan elemen-elemen dari bagian lain untuk memperoleh hasil gabungan. Prosesnya adalah mengidentifikasi, memahami dan menilai interaksi dari suatu sistem secara keseluruhan.

Langkah-Langkah Penggunaan Analytical Hierarchy Process/AHP (skripsi dan tesis)

  1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.

Tahapan ini menuntut kita untuk berusaha menentukan permasalahan yang akan kita pecahkan secara jelas, detail dan juga mudah dipahami oleh orang lain. Kita coba menentukan solusi yang mungkin cocok untuk menyelesaikan permasalahan yang sudah kita tentukan tersebut. Solusi dari permasalahan mungkin berjumlah lebih dari satu solusi. Solusi tersebut nantinya akan kita kembangkan lebih lanjut dalam tahap berikutnya.

2. Membuat struktur hierarki yang diawali dengan tujuan utama.

  • Tujuan utama merupakan level teratas dalam hirarki kemudian disusul oleh level hirarki yang berada di bawahnya yaitu semua kriteria yang cocok untuk mempertimbangkan atau membuat penilaian terhadap alternatif yang kita berikan dan menentukan apa saja alternatif tersebut.
  • Tiap kriteria mempunyai intensitas yang berbeda antara satu dengan lainnya. Hirarki dilanjutkan dengan menambahkan subkriteria (jika mungkin diperlukan).

3. Membuat matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap tujuan atau kriteria yang setingkat di atasnya.

Pendekatan menggunakan matriks mencerminkan aspek ganda yang ada dalam prioritas yaitu mendominasi dan didominasi. Perbandingan berdasar pada judgment dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dengan elemen-elemen lainnya yang ada dalam hirarki. Untuk memulai proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah kriteria dari level paling atas hirarki misalnya K dan kemudian dari level di bawahnya diambil elemen yang akan dibandingkan misalnya E1,E2,E3, dan seterusnya.

4. Melakukan Mendefinisikan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh jumlah penilaian seluruhnya sebanyak t = n x [(n-1)/2] buah, dimana n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan.

Hasil perbandingan dari elemen-elemen yang ada akan berupa angka dari 1 sampai 9 yang menunjukkan suatu perbandingan tingkat kepentingan masing-masing elemen. Apabila suatu elemen dalam matriks dibandingkan dengan elemen itu sendiri maka hasil perbandingannya diberi nilai 1. Skala 9 telah terbukti bisa diterima dan dapat membedakan intensitas antar elemen. Hasil perbandingan tersebut diisikan pada kolom dan baris yang bersinggungan dengan elemen yang dibandingkan. Skala perbandingan  berpasangan dan makna tiap nilai yang diperkenalkan oleh Saaty bisa dilihat di bawah. Intensitas Kepentingan 1 = Kedua elemen yang sama pentingnya, Dua elemen dengan pengaruh yang sama besar dalam pengambilan keputusan. 3 = Elemen yang satu sedikit lebih penting dari pada elemen yang lainnya, Pengalaman dan penilaian sedikit menyokong satu elemen dibandingkan elemen yang lainnya. 5 = Elemen yang satu lebih penting daripada yang lainnya, Pengalaman dan penilaian sangat kuat menyokong satu elemen dibandingkan elemen yang lainnya. 7 = Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen lainnya, Satu elemen yang kuat disokong dan dominan terlihat dalam praktek. 9 = Satu elemen mutlak penting daripada elemen lainnya, Bukti yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen lainmemeliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan. 2,4,6,8 = Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan-pertimbangan yang berdekatan, Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi di antara 2 pilihan.

Kebalikan = Jika untuk aktivitas i mendapat satu angka dibanding dengan aktivitas j , maka j mempunyai nilai kebalikannya dibanding dengan i. Mengulangi langkah 3 dan 4 untuk seluruh tingkat hirarki. Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan. Vektor eigen adalah bobot setiap elemen yang digunakan untuk penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah hingga mencapai tujuan, yaitu pada tingkat paling atas (satu elemen). Penghitungan dilakukan dengan cara menjumlahkan semua nilai setiap kolom dalam matriks, membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks, dan menjumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk mendapatkan rata-rata. Memeriksa konsistensi hirarki. Yang diukur dalam AHP adalah rasio konsistensi dengan melihat index konsistensi. Konsistensi yang diharapkan adalah yang mendekati sempurna agar menghasilkan keputusan yang mendekati valid. Walaupun sulit untuk mencapai yang sempurna, rasio konsistensi diharapkan kurang dari atau sama dengan 10 %.

Dasar Analytical Hierarchy Process/AHP (skripsi dan tesis)

1. Dekomposisi

Dalam tahapan ini struktur masalah yang terbilang kompleks dibagi menjadi bagian-bagian dalam sebuah hierarki. Tujuannya adalah mendefinisikan dari yang umum sampai yang khusus. Dalam bentuk yang paling sederhana struktur berfungsi sebagai sarana untuk membandingkan antara tujuan, kriteria dan level alternatif. Masing-masing himpunan alternatif memungkinkan untuk dibagi lebih jauh untuk menjadi tingkatan yang lebih detail, mencakup lebih banyak kriteria yang lain. Level paling atas dari hirarki merupakan tujuan dari penyelesaian masalah dan hanya ada satu elemen. Level berikutnya mungkin memiliki beberapa elemen sebagai kriteria, di mana masing-masing elemen tersebut bisa dibandingkan antara satu dan lainnya, memiliki kepentingan yang tergolong hampir sama atau tidak memiliki perbedaan yang terlalu mencolok pada masing-masing elemen. Jika perbedaannya terlalu besar harus dibuatkan level yang baru.

2. Perbandingan penilaian/pertimbangan (comparative judgments)

Dalam tahapan ini akan dibuat sebuah perbandingan berpasangan dari semua elemen yang ada dalam hirarki dengan tujuan menghasilkan sebuah skala kepentingan relatif dari masing-masing elemen. Penilaian akan menghasilkan sebuah skala penilaian yang berupa angka. Perbandingan berpasangan dalam bentuk matriks jika dikombinasikan akan menghasilkan sebuah prioritas.

3. Sintesa Prioritas

Sintesa prioritas didapat dari hasil perkalian prioritas lokal dengan prioritas dari kriteria bersangkutan yang ada pada level atasnya dan menambahkannya ke masing-masing elemen dalam level yang dipengaruhi oleh kriteria. Hasilnya berupa gabungan atau lebih dikenal dengan istilah prioritas global yang kemudian dapat digunakan untuk memberikan bobot prioritas lokal dari elemen yang ada pada level terendah dalam hirarki sesuai dengan kriterianya.

Kelebihan Analitycal Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Kelebihan-kelebihan analisis ini adalah :
 Kesatuan (Unity)
AHP membuat permasalahan yang luas dan tidak terstruktur menjadi suatu model yang fleksibel dan mudah dipahami.
 Kompleksitas (Complexity)
AHP memecahkan permasalahan yang kompleks melalui pendekatan sistem dan pengintegrasian secara deduktif.
 Saling ketergantungan (Inter Dependence)
AHP dapat digunakan pada elemen-elemen sistem yang saling bebas dan tidak memerlukan hubungan linier.
 Struktur Hirarki (Hierarchy Structuring)
AHP mewakili pemikiran alamiah yang cenderung mengelompokkan elemen sistem ke level-level yang berbeda dari masing-masing level berisi elemen yang serupa.
 Pengukuran (Measurement)
AHP menyediakan skala pengukuran dan metode untuk mendapatkan prioritas.
 Konsistensi (Consistency)
AHP mempertimbangkan konsistensi logis dalam penilaian yang digunakan untuk menentukan prioritas.
 Sintesis (Synthesis)
AHP mengarah pada perkiraan keseluruhan mengenai seberapa diinginkannya masing-masing alternatif.
 Trade Off
AHP mempertimbangkan prioritas relatif faktor-faktor pada sistem sehingga orang mampu memilih altenatif terbaik berdasarkan tujuan mereka.
 Penilaian dan Konsensus (Judgement and Consensus)
AHP tidak mengharuskan adanya suatu konsensus, tapi menggabungkan hasil penilaian yang berbeda.
 Pengulangan Proses (Process Repetition)
AHP mampu membuat orang menyaring definisi dari suatu permasalahan dan mengembangkan penilaian serta pengertian mereka melalui proses pengulangan.

Pengertian Analitycal Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Analitycal Hierarchy Process (AHP) Adalah metode untuk memecahkan suatu situasi yang komplek tidak terstruktur kedalam beberapa komponen dalam susunan yang hirarki, dengan memberi nilai subjektif tentang pentingnya setiap variabel secara relatif, dan menetapkan variabel mana yang memiliki prioritas paling tinggi guna mempengaruhi hasil pada situasi tersebut.

Proses pengambilan keputusan pada dasarnya adalah memilih suatu alternatif yang terbaik. Seperti melakukan penstrukturan persoalan, penentuan alternatif-alternatif, penenetapan nilai kemungkinan untuk variabel aleatori, penetap nilai, persyaratan preferensi terhadap waktu, dan spesifikasi atas resiko. Betapapun melebarnya alternatif yang dapat ditetapkan maupun terperincinya penjajagan nilai kemungkinan, keterbatasan yang tetap melingkupi adalah dasar pembandingan berbentuk suatu kriteria yang tunggal.
Peralatan utama Analitycal Hierarchy Process (AHP) adalah memiliki sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia. Dengan hirarki, suatu masalah kompleks dan tidak terstruktur dipecahkan ke dalam kelomok-kelompoknya dan diatur menjadi suatu bentuk hirarki.

Analisis Untuk Semantik Diferensial (skripsi dan tesis)

Analisis data untuk semantic differential yang khas adalah analisis faktor
(Sytsma, 2006: 2). Analisis faktor menunjukkan berbagai macam teknik statistik yang memiliki tujuan umum menyajikan seperangkat ubahan dalam sejumlah kecil ubahan hipotetik (Kim dan Mueller, 1978: 8-12). Menurut Garson (2006: 2), ada dua jenis analisis faktor, yaitu analisis faktor eksploratori dan analisis faktor konfirmatori. Analisis faktor eksploratori berusaha menemukan struktur dasar yang melandasi sejumlah besar ubahan. Di sini tidak diperlukan teori sebelumnya dan muatan faktor digunakan untuk menentukan secara intuitif stuktur faktor dari data yang dianalisis. Analisis faktor konfirmatori bertujuan menetapkan apakah jumlah faktor dan muatan faktor dari ubahan-ubahan indikator pada faktor-faktor tersebut sesuai dengan apa yang diharapkan, berdasarkan teori yang ditentukan sebelumnya.

Pengertian Semantik Diferensial (skripsi dan tesis)

Semantic differential adalah salah satu bentuk instrumen pengukuran yang
berbentuk skala, yang dikembangkan oleh Osgood, Suci, dan Tannenbaum.
Instrumen ini juga digunakan untuk mengukur reaksi terhadap stimulus, kata-kata, dan konsep-konsep dan dapat disesuaikan untuk orang dewasa atau anak-anak dari budaya manapun juga (Heise, 2006: 1). Semantic differential digunakan untuk dua tujuan: (1) untuk mengukur secara objektif sifat-sifat semantik dari kata atau konsep dalam ruang semantik tiga dimensional dan (2) sebagai skala sikap yang memusatkan perhatian pada aspek afektif atau dimensi evaluatif (Issac dan Michael, 1984: 144-145). Osgood dkk (Issac dan Michael, 1984: 145) menemukan tiga dimensi atau faktor utama, yaitu dimensi evaluatif (evaluative) misalnya “bagus-jelek”, dimensi potensi misalnya “keras-lunak”, dan dimensi aktivitas misalnya “cepat-lambat

Validitas dan Reliabilitas Semantic Differential (Skripsi dan tesis)

 

Suatu alat ukur harus memenuhi syarat validitas dan reliabilitas. Menurut Allen dan Yen (1979: 95), suatu tes dikatakan valid jika dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Secara umum terdapat tiga macam validitas, yaitu validitas isi (content validity), validitas kriteria (creterion-related validity), dan validitas konstruk (construct validity) (Kerlinger, 1986: 417). Untuk menguji validitas instrumen pengukuran afektif, dapat digunakan salah satu atau semua jenis validitas berikut: validitas isi, validitas konstruk, dan validitas kriteria (Fernandes, 1984: 73-74).

Validitas isi dinilai melalui analisis rasional terhadap isi suatu tes dan penentuannya didasarkan pada penilaian subjektif dan individual (Allen dan Yen 1979: 95). Validitas isi biasanya diuji dengan penilaian personal oleh ahli di bidangnya. Validitas isi didasarkan pada keputusan penilaian (bersifat judgmental). Validitas kriteria diteliti dengan membandingkan suatu tes atau skala dengan satu atau lebih ubahan-ubahan eksternal, atau kriteria yang dianggap mengukur kualitas yang diteliti (Kerlinger, 1986: 418). Validitas konstruk (construct validity) suatu tes adalah sejauh mana tes tersebut mengukur konstruk atau trait teoretik yang ingin diukur. Menurut Kerlinger (1986: 427) metode yang digunakan untuk meneliti validitas konstruk adalah analisis faktor.

Reliabilitas juga disebut sebagai dependabilitas, stabilitas, konsistensi, prediktabilitas, atau akurasi. Reliabilitas dan dependabilitas menunjukkan suatu pengukuran yang dapat diandalkan atau dapat dipercaya. Stabilitas, konsistensi, dan prediktabilitas menunjukkan pengukuran yang tidak relatif berubah-ubah, sehingga dapat diprediksi hasilnya. Prediktabilitas menunjukkan pengukuran yang dapat diduga (Kerlinger, 1986: 407).

Salah satu pendekatan dasar untuk mengukur reliabilitas adalah stabilitas. Stabilitas diperoleh dengan mengkorelasikan skor siswa dari dua kali pelaksanaan tes, dengan korelasi intraklas (interclass correlation). Estimasi reliabilitas didefinisikan sebagai perbandingan (rasio) antara true score variance dengan observed variance (Nachmias & Nachmias, 1981: 148). Menurut Borg dan Gall (1983: 284), reliabilitas tes-retes disebut koefisien stabilitas (coefficient of stability). Reliabilitas tes-retes sangat cocok untuk tes yang mengukur trait (sifat), misalnya tes untuk mengukur ketajaman pengamatan visual dan auditori (Allen dan Yen, 1979: 76-77). Jika digunakan untuk keputusan individual, batas minimum reliabilitas adalah 0,9, sedangkan untuk menarik kesimpulan tentang kelompok 0,5 (Fernandes, 1984: 73)

Pengertian Dokumentasi (skripsi dan tesis)

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen berbentuk gambar misalnya foto, sketsa, dll. Dokumen berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film, dll. Dalam penelitian kualitatif studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara.

Hasil penelitian dari observasi dan wawancara akan lebih kredibel jika didukung sejarah pribadi kehidupan di masa kecil, di sekolah, di tempat kerja, di masyarakat dan autobiografi. Penelitian juga semakin kredibel jika didukung oleh foto-foto atau karya tulis akademik.

Dokumetasi dapat digunakan pada penelitian kuantitatif, kualitatif dan pengembangan. Dokumentasi sering digunakan pada penelitian kualitatif sebagai pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara. Akan tetapi, dokumentasi juga digunakan dalam penelitian kuantitatif dan pengembangan, dalam hal mengumpulkan data awal yang dapat menunjang latar belakang dan pentingnya penelitian.

Jenis-Jenis Observasi (skripsi dan tesis)

Berdasarkan proses pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi:

  1. Observasi Berperanserta

Peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Peneliti ikut melakukan apa uang dikerjakan oleh sumber data. Dengan observasi ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap,tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak.

  1. Observasi Nonpartisipan

Peneliti hanya sebagai pengamat independen. Data yang dikumpulkan tidak mendalam, tidak sampai pada tingkat makna. Makna adalah nilai-nilai dibalik perilaku yang tampak, yang terucapkan dan yang tertulis.

Berdasarkan instrumen yang digunakan, observasi dibedakan menjadi:

  1. Observasi terstruktur

Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang diamati, kapan dan di mana tempatnya. Observasi ini dilakukan apabila peneliti telah tahu dengan pasti tentang variabel apa yang diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti menggunakan instrumen penelitian yang yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya.

  1. Observasi tidak terstruktur

Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati. Peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya rambu-rambu pengamatan.

.

Observasi (pengamatan) (skripsi dan tesis)

 

Pengertian observasi menurut Satori & Komariah (2011: 105) adalah pengamatan terhadap suatu objek yang diteliti baik secara langsung maupun tidak langsung untuk memperoleh data yang harus dikumpulkan dalam penelitian. Secara langsung dengan terlibat ke lapangan dengan melibatkan seluruh pancaindera. Sedangkan tidak langsung dengan dibantu mediavisual/audiovisual.

Observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek alam yang lain. Teknik observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam, dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.

Observasi dapat digunakan pada penelitian kuantitatif, kualitatif dan pengembangan. Observasi untuk penelitian kualitatif menurut Satori dan Komariah (2011: 105) adalah pengamatan langsung terhadap objek untuk mengetahui keberadaan objek, situasi, konteks, dan maknanya dalam upaya mengumpulkan data penelitian. Dalam penelitian kuantitatif biasanya menggunakan observasi terstruktur. Sedangkan pada penelitian kualitatif, observasi yang sering dilakukan adalah observasi berperanserta, dengan instrumen observasi tidak terstruktur.

Pada observasi eksperimental dimana tingkah laku yang diharapkan muncul karena perlakuan atau suatu kondisi tertentu, maka observasi memerlukan perencanaan dan persiapan yang benar-benar matang, sedangkan observasi yang dilaksanakan dalam situasi yang wajar, pelaksanaannya jauh lebih sederhana, karena observasi semacam ini dapat dilakukan sepintas lalu saja (Sudijono dalam Taniredja dan Mustafidah, 2011: 48-49).Oleh karena itu sebelum melakukan penelitian, peneliti telah mempersiapkan terlebih dahulu blanko/lembar observasi yang berisi perilaku yang dapat diamati oleh peneliti, yang sebelumnya dirancang/disusun dalam sebuah kisi-kisi. Peneliti dapat meminta bantuan orang lain sebagai observer untuk dapat membantu peneliti dalam melakukan observasi.

Jenis Kuesioner (skripsi dan tesis)

Dalam Arikunto (2006: 152) , kuesioner dapat dibedakan atas beberapa jenis, tergantung pada sudut pandangan:

  1. Dipandang dari cara menjawab

Dibedakan menjadi kuesioner terbuka dan kuesioner tertutup. Kuesioner terbuka memberi kesempatan kepada responden untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri. Sedangkan kuesioner tertutup sudah disediakan jawabannya, sehingga responden tinggal memilih.

  1. Dipandang dari jawaban yang diberikan

Ada dua jenis kuesioner, yaitu kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung. Kuesioner langsung yaitu responden menjawab tentang dirinya. Sedangkan kuesioner tidak langsung yaitu jika responden menjawab tentang orang lain.

  1. Dipandang dari bentuknya.

Menurut bentuknya, kuesioner dibedakan menjadi kuesioner pilihan ganda, kuesioner isian, check list, dan rating-scale.

Pengertian Kuesioner (angket) (skripsi dan tesis)

 

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2010: 199). Kuesioner efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang diharapkan dari responden. Kuesioner cocok digunakan apabila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. Kuesioner dapat berupa pertanyaan/pernyataan tertutup atau terbuka.

Kuesioner dapat digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian kuantitatif, kualitatif, dan pengembangan. Kuesioner lebih sering digunakan dalam penelitian kuantitatif dan pengembangan. Tetapi ada juga penelitian kualitatif yang menggunakan bantuan angket sebagai teknik pengumpulan datanya

Jenis Wawancara (skripsi dan tesis)

  1. Wawancara Terstruktur

Wawancara ini digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Dalam melakukan wawancara, pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan. Setiap responden diberi pertanyaan sama, dan pengumpul data mencatatnya. Dalam melakukan wawancara, selain harus membawa instrumen sebagai pedoman untuk wawancara, maka pengumpul data juga dapat menggunakan alat bantu seperti tape recorder, gambar, brosur dan material lain yang dapat membantu pelaksanaan wawancara menjadi lancar.

  1. Wawancara Tidak Terstruktur

Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Jenis wawancara ini sering digunakan dalam penelitian pendahuluan atau penelitian yang lebih mendalam tentang responden. Dalam penelitian pendahuluan, peneliti berusaha mendapatkan informasi awal tentang berbagai isu atau permasalahan yang ada pada obyek, sehingga peneliti dapat menentukan secara pasti permasalahan atau variabel apa yang harus diteliti. Dalam wawancara tidak terstruktur, peneliti belum mengetahui secara pasti data apa yang akan diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan ceritera responden.

Pengertian Wawancara (skripsi dan tesis)

 

Wawancara menurut Satori & Komariah (2011: 130) adalah suatu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali dari sumber data langsung melalui percakapan atau tanya jawab. Sugiyono (2010: 194) menjelaskan bahwa wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya kecil/sedikit. Teknik pengumpulan data mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Dalam Sugiyono (2010: 194), wawancara dibedakan menjadi wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur.

Teknik pengumpulan data dengan wawancara biasa digunakan pada penelitian kuantitatif, kualitatif, dan pengembangan. Wawancara lebih sering digunakan dalam penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, wawancara lebih sering digunakan untuk studi pendahuluan dalam menemukan permasalahan yang akan diteliti. Dalam penelitian kualitatif, wawancara bersifat mendalam, karena ingin mengeksplorasi informasi secara holistik dan jelas dari informan.

Wawancara dalam penelitian kualitatif meliputi wawancara mendalam dan wawancara bertahap. Wawancara mendalam dilakukan dalam konteks observasi partisipasi. Peneliti terlibat secara intensif dengan setting penelitian terutama pada keterlibatannya dengan kehidupan informan (Satori & Komariah, 2011: 130). Selanjutnya Satori dan Komariah juga menjelaskan bahwa wawancara bertahap adalah wawancara yang mana peneliti melakukannya dengan sengaja dating berdasarkan jadwal yang ditetapkan sendiri untuk melakukan wawancara dengan informan dan peneliti tidak sedang observasi partisipasi. Sifat wawancara tetap mendalam, tetapi dipandu oleh pertanyaan-pertanyaan pokok.

Format Kuesioner (skripsi dan tesis)

Emory (1995) dalam bukunya Husein Umar (2005) komponen inti kuesioner menurut Emory, ada 4 komponen inti dari sebuah kuesioner yaitu :
a. Adanya subyek, yaitu individu atau lembaga yang melaksanakan riset
b. Adanya ajakan, yaitu permohonan dari peneliti kepada responden untuk turut serta mengisi secara aktif dan obyektif pertanyaan maupun pernyataan yang tersedia. Dalam kata pengantar, peneliti harus menjelaskan secara ringkas tujuan dan kegunaan penelitian, serta harapan atau permintaan
yang khusus ditujukan kepada responden.
c. Adanya petunjuk pegisian kuesioner, dimana petunjuk yang tersedia harus mudah di mengerti.
d. Adanya pertanyaan maupun pernyataan dan tempat mengisi jawaban, baik secara tertutup, semi tertutup ataupun terbuka. Dalam membuat pertanyaan yang berkaitan dengan variabel utama penelitian dan jangan lupa memberikan isian untuk identitas responden agar peneliti mengetahui karakteristik biografik, demografik, atau social responden penelitian . Walau pada awalnya hanya sekedar bersifat informatif, namun seringkali bisa digunakan sebagai bahan analisis

Jenis Skala Kuisioner (skripsi dan tesis)

1 Skala Likert
Skala Likert adalah suatu skala psikometrik yang umum digunakan dalam kuesioner, dan
merupakan skala yang paling banyak digunakan dalam riset berupa survei. Sewaktu menanggapi
pertanyaan dalam skala Likert, responden menentukan tingkat persetujuan mereka terhadap suatu
pernyataan dengan memilih salah satu dari pilihan yang tersedia.Ada dua bentuk pertanyaan yang
menggunakan Likert yaitu pertanyaan positif untuk mengukur minat positif , dan bentuk pertanyaan
negatif untuk mengukur minat negatif. Pertanyaan positif diberi skor 5, 4, 3, 2, dan 1; sedangkan bentuk
pertanyaan negatif diberi skor 1, 2, 3, 4, dan 5. Biasanya disediakan lima pilihan skala dengan format
seperti:
1. Sangat Tidak Setuju (STS)
2. Tidak Setuju (TS)
3. Netral atau Biasa (B)
4. Setuju (S)
5. Sangat setuju (SS)
Penskalaan ini apabila dikaitkan dengan jenis data yang dihasilkan adalah data Ordinal. Selain
pilihan dengan lima skala seperti contoh di atas, kadang digunakan juga skala dengan tujuh atau
sembilan tingkat. Suatu studi empiris menemukan bahwa beberapa karakteristik statistik hasil kuesioner
dengan berbagai jumlah pilihan tersebut ternyata sangat mirip.

2 Skala Guttman
Skala Guttman yaitu skala yang menginginkan jawaban tegas seperti jawaban benar-salah, yatidak, pernah – tidak pernah.Untuk jawaban positif seperti setuju, benar, pernah dan semacamnya diberi
skor 1; sedangkan untuk jawaban negatif seperti tidak setuju, salah, tidak, tidak pernah, dan
semacamnya diberi skor 0. Dengan skala ini, akan diperoleh jawaban yang tegas yaitu Ya – Tidak,
Benar – Salah dan lain-lain. Skala ini dapat pula dibentuk dalam bentuk checklist atau pilihan
ganda.Skor 1 untuk skor tertinggi dan skor 0 untuk terendah.

3 Skala Rating
Skala rating adalah data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam
pengertian kualitatif.
Contoh :
Seberapa baik televisi merek X?
Berilah jawaban angka :
4 bila produk sangat baik
3 bila produk cukup baik
2 bila produk kurang baik
1 bila produk sangat tidak baik
1.3.4 Skala Semantik Defferensial
Skala defferensial yaitu skala untuk mengukur sikap dan lainnya, tetapi bentuknya bukan pilihan
ganda atau checklist tetapi tersusun dalam satu garis kontinum.Skala Semantik defferensial disusun
dalam suatu garis dimana jawaban sangat positif terletak dibagian kanan garis, sedangkan jawaban
sangat negatif terletak dibagian kiri garis atau sebaliknya.
Data yang diperoleh adalah data interval dan baisanya skala ini digunakan untuk mengukur
sikap/karakteristik tertentu yang dipunyai oleh seseorang.Responden dapat memberi jawaban pada
rentang jawaban yang positif sampai dengan negatif

Kelebihan dan Kekurangan Kuesioner Dengan Jawaban Tertutup (skripsi dan tesis)

Salah satu keuntungannya untuk kuesioner ini adalah sebagai berikut:
i. Jawaban-jawaban bersifat standar dan bisa dibandingkan dengan jawaban orang lain;
ii. Jawaban-jawabannya jauh lebih mudah dikoding dan dianalisis, bahkan sering secara langsung dapat dikoding dari pertanyaan yang ada, sehingga hal ini dapat menghemat tenaga dan waktu;
iii. Responden lebih merasa yakin akan jawaban-jawabannya, terutama bagi mereka yang sebelumnya tidak yakin;
iv. Jawaban-jawaban relatif lebih lengkap karena sudah dipersiapkan sebelumnya oleh peneliti; dan
v. Analisis dan formulasinya lebih mudah jika dibandingkan dengan model kuesioner dengan
jawaban terbuka
Meskipun demikian, ada juga kelemahannya, yakni:
i. Sangat mudah bagi responden untuk menebak setiap jawaban, meskipun sebetulnya mereka tidak memahami masalahnya;
ii. Responden merasa frustrasi dengan sediaan jawaban yang tidak satu pun yang sesuai dengan keinginannya;
iii. Sering terjadi jawaban-jawaban yang terlalu banyak sehingga membingungkan responden untuk memilihnya;
iv. Tidak bisa mendeteksi adanya perbedaan pendapat antara responden dengan peneliti karena responden hanya disuruh memilih alternatif jawaban yang tersedia.