Teori Sinyal (skripsi dan tesis)

Menurut Sari dan Zuhrotun (2006), teori sinyal membahas mengapa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan informasi kepada pihak eksternal (Putri and Christiawan 2014). Pengungkapan informasi akuntansi dapat memberikan sinyal bahwa perusahaan mempunyai prospek baik atau sinyal buruk di masa mendatang. Dorongan untuk mengungkapkan informasi akuntansi karena terdapat asimetri informasi antara managemen dan stakeholder. Asimetri informasi ini perusahaan diasumsikan mengetahui lebih banyak mengerti kondisi dan prospek masa depan sebuah perusahaan dibanding pihak luar (investor dan kreditor). Untuk meminimalisir asimetri informasi, managemen memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan yang berupa informasi mengenai kondisi keuangan perusahaan kepada pemilik atau pihak yang berkepentingan. Perusahaan yang memiliki kualitas yang tinggi cenderung menggunakan akuntansi sosial dan lingkungan perusahaan sebagai pengalihan dari laporan keuangan tradisional dan menunjukkan bahwa nilai pasar perusahaan dalam posisi baik. Pengumuman informasi berupa laporan keuangan dan analisa kondisi keuangan dapat memberi sinyal bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik dimasa mendatang. Selain itu perusahaan wajib mengungkapkan informasi tentang tanggung jawab sosial perusahaan. Pihak perusahaan memiliki harapan bila melaksanakan Corporate Sosial Responsibility Disclosure dapat meningkatkan reputasi, nilai perusahaan dan menarik minat investor untuk menanamkan dana pada saham perusahaan. Pengungkapan Corporate Sosial Responsibility merupakan sebuah sinyal untuk mengkomunikasikan kinerja perusahaan dalam jangka panjang, karena Corporate Sosial Responsibility terkait dengan acceptability yang artinya perusahaan dapat diterima masyarakat dengan baik dan sustainability yang artinya berkelanjutan untuk dijalankan di suatu tempat dalam jangka panjang. Selain itu, mengungkapkan tanggung jawab sosial merupakan sinyal kepada investor dan stakeholder lainnya dimana perusahaan tersebut secara aktif melakukan praktik CSR. Kinerja sosial perusahaan yang baik membantu perusahaan untuk mendapatkan keandalan reputasi dari pasar modal dan utang

Teori Stakeholder (skripsi dan tesis)

Menurut Deegan (2004) menyatakan stakeholder theory adalah “teori yang menyatakan bahwa semua stakeholder mempunyai hak memperoleh informasi mengenai aktivitas perusahaan yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan mereka. Para stakeholder juga dapat memilih untuk tidak menggunakan informasi tersebut dan tidak memainkan peran secara langsung dalam suatu perusahaan”. Konsep tanggung jawab sosial telah dikenal dari tahun 1970-an yang secara umum dikenal dengan stakeholder theory yang artinya perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingan sendiri, namun memberikan manfaat kepada stakeholder (Putri and Christiawan 2014). Pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan sangatlah penting. Kesejahteraan dapat diciptakan oleh perusahaan secara tak terbatas kepada kepentingan pemegang saham, tetapi juga untuk kepentingan stakeholder, yaitu pemasok, pelanggan, pemerintah, masyarakat lokal, investor, karyawan, dan asosiasi perdagangan. Stakeholder dapat mengendalikan kemampuan untuk memenagruhi pemakaian sumber ekonomi yang digunakan perusahaan. Power stakeholder ditentukan oleh besar kecilnya power yang dimiliki stakeholder atas sumber ekonomi. Power tersebut bisa berupa membatasi pemakaian sumber ekonomi terbatas, akses terhadap media yang berpengaruh, kemampuan untuk mengatur perusahaan. Dalam menjalankan strategi bisnisnya, perusahaan yang melaksanakan tanggung jawab sosial akan memerhatikan dampak terhadap kondisi sosial dan lingkungan, dan berupaya memberikan dampak positif. Dengan adanya stakeholder theory memberika landasan bahwa suatu perusahaan mampu memberikan manfaat terhadap stakeholder-nya. Manfaat tersebut dapat diwujudkan berupa menerapkan tanggung jawab sosial perusahaan. Dengan dilakukan program CSR diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan bagi karyawan, pelanggan, dan masyarakat lokal. Sehingga timbullah hubungan baik antara perusahaan dengan lingkungan sekitar perusahaan.

Teori Legitimasi (skripsi dan tesis)

Legitimasi dapat dianggap sebagai menyamakan persepsi atau asumsi bahwa tindakan yang dilakukan entitas merupakan tindakan yang diinginkan, pantas atau sesusai dengan system norma, nilai, kepercayaan dan definisi yang dikembangkan secara sosial. Menurut Yulfaidah dan Zulaika (2012) teori legitimasi menyatakan bahwa hal penting bagi organisasi, batasan yang ditekankan oleh norma dan nilai sosial dan reaksi terhadap batasan tersebut mendorong pentingnya analisis perilaku dengan memerhatikan lingkungan (Almiyanti 2014). Menurut Gray et al (1996:46) dalam Ahmad dan Sulaiman (2004) berpendapat bahwa legitimasi adalah sistem pengelolaan perusahaan yang berorientasi pada keberpihakan terhadap masyarakat, pemerintah individu, dan kelompok masyarakat. Untuk itu sebagai suatu sistem yang mengutamakan keberpihakan masyarakat, maka operasi perusahaan harus sesuai dengan harapan masyarakat. Adanya teori legitimasi memberikan landasan bahwa sebuah perusahaan harus mematuhi norma yang berlaku di masyarakat dimana perusahaan itu berdiri. Bila perusahaan mematuhi norma yanng berlaku, maka operasi perusahaan akan berjalan dengan lancar tanpa adanya konflik yang berasal dari masyarakat sekitar. Bila kinerja perusahaan baik selama kegiatan operasional dan lalu perusahaan melakukan kagitan tanggung jawab sosial, maka masyarakat sekitar akan perhatian terhadap perusahaan tersebut. Selain itu, masyarakat juga bisa membeli saham dari perusahaan tersebut. Perusahaan menggunakan laporan tahunan dan laporan keberlanjutan untuk menggambarkan kesan tanggung jawab lingkungan, sehingga perusahaan tersebut dapat diterima masyarakat. Setelah perusahaan mendapat perhatian dan diterima masyarakat sekitar, lama kelamaan nilai perusahaan dan laba perusahaan meningkat. Hal tersebut dapat mendorong investor dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi di perusahaan tersebut.

Kepemilikan Manajerial (skripsi dan tesis)

Kepemilikan manajerial ialah proporsi saham oleh manajemen yang dimiliki dari seluruh jumlah saham yang ada di perusahaan tersebut (Setiawan et al., 2017). Kepemilikan saham oleh manajemen perusahaan yang diukur dengan presentase jumlah saham yang dimiliki oleh manajemen disebut kepemilikan manajerial (Sabrina 2010). Semakin besar saham yang dimilki oleh manajer maka semakin maksimal kinerja manajer dalam mengelola perusahaan , dikarenakan dengan kinerja yang baik maka dapat memberikan keuntungan terhadap pemegang saham terutama dirinya sendiri. Pihak manajer akan senantiasa turut serta dalam meningkatkan nilai perusahaan dengan lebih bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan (Puspaningrum, 2017:3). Kepemilikan manajer akan memicu manajer untuk berhatihati dalam mengambil keputusan. Jika manajer terburu-buru dalam pengambilan keputusan maka manajer akan menanggung atau bertanggungjawab atas kerugian akibat tindakan manajer yang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Kepemilikan manajer akan menyamakan tujuan antara pemegang saham dengan pihak manajer (Pasaribu, Topowijono, & Sulasmiyati, 2016:156). Karena adanya saham yang dimiliki oleh manajer, manajer mengupayakan untuk dapat terus meningkatkan keuntungan yang diperoleh. Peran manajer sebagai pengelola perusahaan dapat memudahkan mengendalikan perusahaan. Manajer akan merasakan secara langsung manfaat yang diterima dari setiap keputusan yang dibuatnya. Dengan adanya kepemilkan manajerial diharapkan manajer dapat mengurangi terjadinya asimetris informasi dengan pihak investor. Asimetris informasi merupakan keterbatasan informasi yang diperoleh dari pihak eksternal. Sehingga peran manajer sebagai pemilik dapat mengawasi dengan hati-hati dalam mengelola perusahaan

Pengungkapan CSR (skripsi dan tesis)

Pengungkapan (disclosure) artinya tidak ditutupi atau tidak disembunyikan. Pengungkapan sosial adalah pengungkapan informasi tentang aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan lingkungan sosial perusahaan. Pengungkapan sosial dapat dilakukan melalui berbagai media antara lain laporan tahunan, laporan interim/laporan sementara, prospektus, pengumuman kepada bursa efek atau melalui media masa (Chariri dan Ghozali, 2007 dalam Adawiyah,2013). Menurut Effendi (2009) pengungkapan ada yang bersifat wajib (mandatory) yaitu pengungkapan informasi wajib dilakukan oleh perusahaan yang didasarkan pada peraturan atau standar tertentu, dan ada yang bersifat sukarela (voluntary) yang merupakan pengungkapan informasi melebihi persyaratan minimum dari peraturan yang berlaku. Ada dua hal yang mendorong perusahaan menerapkan CSR, yaitu faktor yang berasal dari luar perusahaan (external drivers) dan dari dalam perusahaan (internal drivers). Faktor pendorong dari luar perusahaan adalah adanya regulasi, hukum dan diwajibkannya analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dari operasi perusahaan. Sedangkan faktor yang   berasal dari dalam perusahaan antara lain, nilai, kebijakan manajemen, strategi dan tujuan perusahaan. Di Indonesia praktek pengungkapan tanggung jawab sosial di atur dalam UU dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas (UU PT) Nomor 40 Tahun 2007 Bab V Pasal 74 Tentang Pelaksanaan TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan). Seperti yang dikutip dalam UU nomor 40 tahun 2007, yakni: 1. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. 2. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran. 3. Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Undang-undang tersebut menunjukkan bahwa pemerintah menaruh perhatiannya kepada praktik pengungkapan CSR perusahaan. Harapan dari pemerintah bahwa setiap unit usaha atau pelaku ekonomi yang bergerak  pada bidang atau berkaitan dengan sumber daya alam, selain meraka berupaya untuk kepentingan para investor dan hanya fokus pada pencapaian laba, mereka juga mempunyai kewajiban dalam melaksanakan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) yang diungkapakan dalam laporan tahunan perusahaan. Indikator yang digunakan dalam menilai pengungkapan CSR disclosure pada laporan tahunan perusahaan adalah indikator yang mengacu pada GRI (Global Reporting Initiatives) sebagai dasar sustainability reporting dengan cara membandingkan jumlah pengungkapan yang dilakukan perusahaan dengan total pengungkapan. Global Reporting Initiatives (GRI) merupakan sebuah jaringan berbasis organisasi yang telah mempelopori perkembangan dunia, paling banyak menggunakan kerangka laporan keberlanjutan dan berkomitmen untuk terus menerus melakukan perbaikan dan penerapan di seluruh dunia (www.globalreporting.org diakses pada 8 Maret 2018). Daftar pengungkapan sosial menurut standart GRI dalam penelitian ini menggunakan 3 indikator utama yaitu kinerja ekonomi, kinerja lingkungan, dan kinerja sosial yang mencangkup praktik ketenaga kerjaan dan kenyamanan bekerja, hak asasi manusia, masyarakat, serta tanggung jawab 27 atas produk. Untuk penilaian atas pengungkapan CSR itemitem yang akan diberikan skor akan mengacu kepada indikator kinerja atau item yang disebutkan dalam GRI (Purnasiwi, 2011). Dalam penelitian ini menggunakan 6 indikator dengan sub total item pengungkapan mencapai 79 item, terdiri dari 9 item untuk indikator kinerja ekonomi, 30 item untuk indikator kinerja lingkungan, 14 item untuk indikator praktik tenaga kerja, 9 item untuk indikator hak asasi manusia, 8 indikator kemasyarakatan, dan 9 indikator tanggung jawab produk. Kesimpulan dari penjelasan diatas adalah pengungkapan merupakan hal yang wajib dilakukan di Indonesia setalah diberlakukannya UU RI Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Indikator yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pengungkapan sosial adalah indikator menurut Standart GRI

Prinsip-prinsip CSR (skripsi dan tesis)

 

Ranah tanggung jawab sosial (social responsibility) mengandung dimensi yang sangat luas dan kompleks. Disamping itu, tanggung jawab sosial juga mengandung interprestasi yang sangat berbeda, terutama dikaitkan dengan kepentingan para pemangku kepentingan (stakeholder). Untuk itu, dalam rangka memudahkan pemahaman dan penyederhanaan, banyak ahli yang mencoba menggariskan prinsip dasar yang terkandung dalam tanggungjawab sosial (social responsibility) (Hadi, 2014). David (2008) menguraikan prinsip-prinsip tanggungjawab sosial menjadi tiga, yaitu : 1. Sustainability, berkaitan dengan bagaimana perusahaan dalam melakukan aktivitas (action) tetap memperhitungkan keberlanjutan sumberdaya dimasa depan. Keberlanjutan juga memberikan arahan bagaimana penggunaan sumber daya sekarang tetap memperhatikan dan memperhitungkan kemampuan generasi masa depan. Dengan demikian,   sustainability berpusat pada keberpihakan dan upaya bagaimana society memanfaatkan sumberdaya agar tetap memperhatikan generasi masa datang. 2. Accountability, merupakan upaya perusahaan terbuka dan bertanggungjawab atas aktivitas yang telah dilakukan. Akuntabilitas dibutuhkan, ketika aktivitas perusahaan mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungan eksternal. Konsep ini menjelaskna pengaruh kuantitatif aktivitas perusahaan terhadap pihak internal dan eksternal. Akuntabilitas dapat dijadikan sebagai media bagi perusahaan membangun image dan network terhadap para pemangku kepentingan. 3. Transparancy, merupakan prinsip penting bagi pihak ekternal. Transparansi bersinggungan dengan pelaporan aktivitas perusahaan berikut dampat terhadap pihak eksternal. Transparansi merupakan satu hal yang sangat penting bagi pihak eksternal, berperan untuk mengurangi asimetri informasi, kesalahpahaman, khususnya informasi dan pertanggungjawaban berbagai dampak dari lingkungan. Dari point-point diatas dapat disimpulkan bahwa dalam melakukan pengungkapan csr, perusahaan harus menerapkan beberapa prinsip seperti sustainability, accountability, dan transparancy

Manfaat CSR (skripsi dan tesis)

Corporate social responsibility dapat dijadikan sebagai aset yang strategis dan kompetitif bagi perusahaan ditengah dunia bisnis yang makin sarat akan kompertisi sekarang ini. Berbagai manfaat yang akan dicapai perusahaan jika konsisten untuk melaksanakan program CSR. Wibisono (2007) menjelaskan manfaat CSR sebagai berikut:   1. Bagi perusahaan, ada empat manfaat yang diperoleh bagi perusahaan dengan menerapkan CSR. Pertama yaitu eksistensi perusahaan dapat tumbuh dan berkelanjutan dan perusahaan mendapat citra yang positif dari masyarakat luas. Kedua, perusahaan lebih mudah memperoleh akses terhadap modal. Ketiga, perusahaan dapat mempertahankan sumber daya manusia yang berkualitas. 2. Bagi masyarakat, praktik corporate social responsibility yang baik akan meningkatkan nilai tambah adanya perusahaan disuatu daerah, karena akan menyerap tenaga kerja, meningkatkan kualitas sosial didaerah tersebut. pekerja lokal yang diserap akan mendapatkan perlindungan akan hak-haknya sebagi pekerja. 3. Bagi lingkungan, praktik corporate social responsibility akan mencagah eksploitasi berlebihan atas sumber daya alam, menjaga kualitas lingkungan dengan menekan tingkat polusi dan justru perusahaan terlibat mempengaruhi lingkungannya. 4. Bagi Negara, praktik corporate social responsibility yang baik akan mencegah malpraktik bisnis seperti penyuapan pada aparat Negara atau aparat hukum yang memicu tingginya korupsi. Selain itu, Negara akan menikmati  pendapatan dari pajak yang wajar (tidak digelapkan) oleh perusahaan. Kesimpulannya adalah pengungkapan csr dapat memberikan manfaat bagi beberapa pihak yaitu untuk perusahaan, masyarakat, lingkungan sekitar, dan negara.

Pengertian CSR (skripsi dan tesis)

World Bisnis Council for Sustainable Development (WBCD) menyatakan bahwa CSR merupakan sebuah komitmen berkelanjutan dari para pelaku bisnis untuk berperilaku secara etis dan memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi, sementara pada saat yang sama untuk meningkatkan kualitas hidup dari para pekerja dan keluarganya demikian pula masyarakat lokal dan masyarakat luas(Solihin, 2009 dalam Amelia, 2016) Menurut Darwin (2004) dalam Anggaraini (2006) corporate social responsibility (CSR) adalah mekanisme untuk suatu organisasi yang secara sukarela mengintegrasikan 19 perhatian terhadap lingkungan dan sosial ke dalam operasinya dan interaksinya dengan para stakeholders, yang melebihi tanggung jawab organisasi di bidang hukum. CSR adalah tanggung jawab perusahaan kepada para pemangku kepentingan untuk berlaku etis, meminimalkan dampak negative dan memaksimalkan dampak positif yang mencangkup aspek ekonomi sosial dan lingkungan, dalam rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (Wibisono, 2007). Dari berbagai macam definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) adalah kewajiban perusahaan dalam menaati peraturan pemerintah yang tercantum dalam undang-undang dan memberikan dampak positif terhadap masyarakat sekitar baik dari segi lingkungan , sosial dan pembangunan. Sampai saat ini belum adanya kesatuan arti terhadap CSR, namun secara empiris CSR ini telah diterapkan oleh perusahaan dalam berbagai bentuk kegiatan yang didasarkan atas kesukarelaan (voluntary). CSR dilakukan dengan motivasi dan tujuan yang beragam, tergantung pada sudut pandang dan bagaimana memaknai CSR itu sendiri (Hadi, 2014).   Sha (2014) menyatakan ada tiga alasan mengapa kalangan dunia usaha harus menerapkan CSR agar sejalan dengan jaminan keberlanjutan operasional perusahaan ialah: 1. Perusahaan adalah bagian dari masyarakat dan lingkungan, maka sangat wajar jika mereka menuntut perhatian akan kepentingan mereka. 2. Masyarakat dan perusahaan akan lebih baik jika memiliki hubungan yang besifat simbiosis mutualisme agar perusahaan mendapat dukungan dari masyarakat. 3. Melaksanakan program CSR merupakan salah satu cara untuk meredam atau bahkan menghindari konflik sosial. Potensi konflik tersebut dapat muncul dari operasional perusahaan atau bahkan kesenjangan struktiral dan ekonomis yang timbul antara masyarakat dengan komponen perusahaan

 Laporan Tahunan (skripsi dan tesis)

Laporan tahunan merupakan laporan resmi mengenai
keadaan keuangan perusahaan dalam satu periode, laporan ini
berisikan laporan keuangan dasar, analisis manajemen atas
operasi tahun lalu, serta pendapat mengenai prospek
perusahaan dimasa datang, laporan ini juga memberikan
gambaran akuntansi atas operasi dan posisi keuangan
perusahaan (Anggarwal, 2013). Brigham & Houston (2001)
laporan tahunan adalah laporan yang diterbitkan setiap tahun
oleh perusahaan kepada para pemegang saham, laporan ini
berisi laporan keuangan dasar dan opini manajemen atas
operasi perusahaan selama tahun lalu dan prospek perusahaan
di masa depan. Laporan tahunan adalah catatan (informasi)
tahunan yang berisi gambaran kondisi perusahaan, laporan
tahunan wajib disampaikan oleh perusahaan yang listing di
Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai pelaporan kegiatan semala
satu periode yang nantinya akan digunakan oleh stakeholder
sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan (Kasmir,
2009).
Kesimpulan penjelasan diatas adalah laporan tahunan
merupakan laporan yang disajikan oleh perusahaan yang
merupakan bentuk aktivitas perusahaan pada setiap periode,
yang didalamnya berisi laporan keuangan, pertanggungjawaban
manajemen, serta laporan auditor independen, yang berguna
untuk para stakeholder dalam pengambilan keputusan

Laporan Keuangan (skripsi dan tesis)

Laporan keuangan menurut Martani (2002) adalah dua daftar yang disusun oleh Akuntan pada akhir periode untuk suatu perusahaan. Kedua daftar itu adalah neraca atau daftar posisi keuangan dan daftar pendapatan atau daftar laba-rugi. Pada waktu akhir-akhir ini sudah menjadi kebiasaan bagi perseroan unruk menambahkan daftar ketiga yaitu surplus atau daftar laba yang tidak dibagikan (laba ditahan). Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihakpihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut (Munawir, 2002). Laporan keuangan menurut Harahap (2002) adalah laporan yang menggambarkan suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Dari penjelasan-penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan adalah pertanggungjawaban Akuntan pada akhir periode dalam bentuk data keuangan sebagai alat komunikasi antara perusahaa  dengan pihak diluar perusahaan yang berkepentingan dengan aktivitas perusahaan tersebut. kegunaan lain dari laporan keuangan adalah menyediakan informasi posisi keuangan dan kinerja keuangan yang dibutuhkan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang dapat dikendalikan di masa yang akan datang. Informasi tersebut juga digunakan sebagai pertimbangan oleh pihak yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan

Pengertian Akuntansi Keuangan (skripsi dan tesis)

Akuntansi keuangan dapat dijelaskan sebagai suatu rangkaian proses yang berujung pada penyusunan laporan keuangan yang berkaitan dengan perusahaan secara keseluruhan untuk digunakan oleh pengguna laporan keuangan baik di dalam ataupun di luar perusahaan (Kieso & Weygant, 2011). Menurut Sugiarto (2002) Akuntansi keuangan adalah bidang akuntansi yang berfokus pada penyiapan laporan keuangan suatu perusahaan yang dilakukan secara berkala. Laporan ini juga dianggap sebagai bentuk pertanggungkawaban pihak manajemen kepada pihak eksternal (pemegang saham). Menurut Martani (2012) Akuntansi keuangan berorientasi pada pelaporan pihak eksternal, beragamnya pihak eksternal dengan tujuan masing-masing, membuat pihak penyusunan laporan keuangan menggunakan prinsip dan asumsi-asumsi dalam menyusun laporan keuangan. untuk itu diperlukan standar akuntansi yang dijadikan pedoman baik oleh penyusun maupun oleh pembaca laporan keuangan.   Kesimpulannya bahwa akuntansi keuangan merupakan suatu sistem yang memberikan keterangan mengenai informasi keuangan, yang digunakan sebagai dasar dalam penyusunan laporan keuangan

Teori Legitimasi (skripsi dan tesis)

Legitimasi masyarakat merupakan faktor strategis bagi perusahaan dalam rangka mengembangkan perusahaan ke depan. Hal itu, dapat dijadikan sebagi wahana untuk mengonstruksi strategi perusahaan, terutama terkait dengan upaya mereka untuk memposisikan diri ditengah lingkungan masyarakat yang semakin maju (Hadi, 2014). Dalam teori legitimasi mengatakan bahwa perusahaan berusaha secara terus menerus untuk meyakinkan masyarakat bahwa segala kegiatan atau aktivitas yang dilakukan sesuai dengan batasan dan   norma-norma yang berlaku dalam masyarakat ditempat perusahaan tersebut beroperasi (Purnasiwi, 2011). Dowling dan Pfeffer (1995) dalam Purwanto (2011) menjelaskan bahwa legitimasi adalah hal yang penting bagi organisasi, karena mengandung batasan-batasan yang ditekankan oleh norma-norma dan nilai-nilai sosial, dan reaksi terhadap batasan tersebut mendorong pentingnya analisis perilaku organisasi dengan memperhatikan lingkungan. Fokus utama dari teori ini adalah hubungan antara perusahaan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar perusahaan. Salah satu mekanisme yang dapat digunakan perusahaan untuk berkomunikasi dengan masyarakat dan stakeholder mereka ialah dengan melakukan pengungkapan CSR melalui laporan tahunan perusahaan . Corporate social responsibility disclosure bisa menjadi jalan masuk untuk memperoleh keuntungan dan mendapatkan legitimasi masyarakat sehingga kelangsungan hidup perusahaan terjamin. Perusahaan akan memberi keyakinan bahwa mereka mampu memenuhi kontrak sosial dengan masyarakat di sekitarnya (Suaryana, 2011). Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa legitimasi perusahaan merupakan faktor yang signifikan untuk mendukung citra perusahaan dengan melakukan pengungkapan   informasi sosial mereka yang diinginkan oleh para stakeholder, serta legitimasi merupakan penghubung antara perusahaan dengan masyarakat dan lingkungan

Teori Stakeholder (skripsi dan tesis)

Stakeholder adalah semua pihak internal maupun eksternal, seperti : pemegang saham, pemerintah, masyarakat sekitar lingkungan, internasional, lembaga diluar perusahaan, dan sebagainya baik yang bersifat mempengaruhi maupun dipengaruhi, bersifat langsung maupun tidak langsung oleh perusahaan (Hadi, 2014). Teori stakeholder yang dinyatakan oleh Ghozali dan Chariri (2007) dalam Purwanto (2011) mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingan (shareholder) saja namun telah bergeser menjadi lebih luas yaitu perusahaan juga harus memberikan manfaat bagi para stakeholdernya. Robert (1992) dalam Nur dan Priantinah (2012) mengatakan pengungkapan sosial perusahaan merupakan kesuksesan untuk perusahaan dalam menegosiasikan hubungannya dengan stakeholder mereka, dengan adanya teori stakeholder ini, memberikan dasar bahwa suatu manfaat bagi para stakeholdernya. manfaat tersebut dapat berupa penerapan program CSR. Penerapan program CSR pada perusahaan diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan bagi karyawan,   pelanggan, dan masyarakat sekitar perusahaan, sehingga dapat terjalin hubungan yang baik antara perusahaan dengan lingkungan dan sosial di sekitarnya. Manajemen dalam perusahaan diharapkan dapat melakukan aktivitas sesuai dengan yang diharapkan para stakeholder dan melaporkannya juga kepada stakeholder (Purwanto, 2011). Berdasarkan penjelasan teori diatas dapat disimpulkan jika para stakeholder sebenarnya memilki hak penuh atas semua informasi wajib maupun sukarela mengenai informasi keuangan dan non-keuangan yang didalamnya menjelaskan pertanggungjawaban dari aktivitas perusahaan kepada para stakeholder.

Pengukuran Stretagi Hijau (skripsi dan tesis)

Pengungkapan informasi lingkungan memungkinkan para pemangku kepentingan untuk mengetahui dampak perusahaan mereka terhadap masyarakat dan lingkungan (Deegan, 2007). Jika mereka dapat memperoleh informasi lebih lanjut tentang perusahaan yaitu transparansi informasi yang lebih tinggi, mereka dapat memiliki daya tahan yang lebih tinggi terhadap pemilihan yang berisiko dan ini akan membuat perusahaan menjadi lebih baik. Peneliti bersama dengan dosen pembimbing mengembangkan pengukuran strategi hijau melalui pengungkapan. Ada 4 item yang diperhatikan dalam pengungkapan ini yaitu visi, misi, nilai dan strategi perusahaan yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan inovasi hijau. Penilaian ini mengacu pada laporan tahunan dan laporan keberlanjutan perusahaan

Strategi Hijau (skripsi dan tesis)

Masalah lingkungan telah menjadi masalah serius dunia saat ini. oleh karena itu, perlu adanya perhatian khusus mengenai masalah ini. Hal ini harus dilakukan untuk meningkatkan perkembangan ekonomi dan kinerja perusahaan (Tseng et al., 2013). Perusahaan di masa depan tidak hanya bertanggung jawab atas kinerja ekonomi dan lingkungan, tetapi juga berkontribusi pada penyelesaian masalah hak asasi manusia, etika dan partisipasi masyarakat (Hens et al., 2018). Dampak perubahan iklim yang drastis telah menciptakan kesadaran bagi pemerintahan, perusahaan dan masyarakat (Chan, 2005; Foley dan Olabi, 2017; Campiglio et al., 2018). Perusahaan perlu menerapkan inovasi hijau untuk mengurangi dampak proses produksi pada lingkungan. Inovasi hijau mengacu pada inovasi yang menekankan pada pengurangan limbah, pencegahan polusi, dan implementasi sistem manajemen lingkungan (Eiadat et al., 2008). Strategi mendasar dari inovasi berkelanjutan sangat penting untuk mengatasi tekanan eksternal, seperti pelanggan, pesaing dan regulator (Porter dan Van der Linde, 1995). Dengan demikian, untuk memuaskan para pemangku kepentingan tersebut, perusahaan perlu mengadopsi inovasi hijau (Lin et al., 2014). Strategi hijau merupakan strategi yang telah dilakukan perusahaan untuk menerapkan inovasi hijau sehingga mereka mencapai keunggulan kompetitif, memenuhi kebutuhan pasar dan memenuhi harapan para pemangku kepentingan (Song dan Yu, 2017).

Pengukuran Kinerja Keuangan (skripsi dan tesis)

Kinerja perusahaan dapat diukur dengan menganalisa dan mengevaluasi laporan keuangan. Dengan informasi posisi keuangan dan kinerja keuangan di masa lalu, pengguna laporan dapat memprediksi posisi keuangan dan kinerja di masa depan dan hal-hal lain yang menarik perhatian pengguna laporan, seperti pembayaran dividen, upah, pergerakan harga sekuritas, dan kemampuan perusahaan untuk memenuhi komitmennya ketika jatuh tempo (Ikatan Akuntansi Indonesia, 2015). Dalam penelitian ini kinerja keuangan diukur dengan Market Value Added (MVA) dan Return On Sales (ROS). MVA menunjukkan nilai finansial yang diperoleh ketika selisih yang melibatkan nilai pasar perusahaan dan jumlah modal yang disumbangkan oleh investor perusahaan telah dihitung. Dalam kasus di mana nilai pasar lebih rendah dari jumlah modal yang diinvestasikan maka manager perusahaan gagal untuk menambah nilai dengan ekuitas yang disediakan untuk mereka oleh investor perusahaan. ROS adalah rasio yang digunakan untuk mendapatkan proporsi keuntungan yang diperoleh dari penjualan. Oleh karena itu, ROS sangat penting untuk memastikan kemampuan manajer perusahaan untuk secara efektif memperoleh keuntungan finansial dari tingkat penjualan tertentu, Ganda (2018)

Kinerja Keuangan (skripsi dan tesis)

Ada dua kategori kinerja keuangan: kinerja berbasis akuntansi dan kinerja berbasis pasar. Indikator kinerja akuntansi terutama mencakup pengembalian atas ekuitas, pengembalian atas aset, yang didasarkan pada informasi dari laporan keuangan perusahaan (Liu et al., 2016). Martin dan Moser (2015) menemukan bahwa calon investor memberikan respon positif pada perusahaan yang secara sukarela mengungkapkan inisiatif investasi hijau mereka. Iatidris (2013) menemukan bahwa pengungkapan lingkungan mengandung informasi yang relevan dengan nilai. Oleh karena itu, program CSR tidak hanya dibuat karena tekanan regulasi tetapi juga untuk menarik dan mempengaruhi persepsi investor, yang secara ekonomi menguntungkan perusahaan dan pada akhirnya akan tercermin dalam nilai perusahaan. Perusahaan dengan profitabilitas tinggi mampu menanggung biaya yang terkait dengan persiapan pengungkapan lingkungan yang objektif (Qiu et al., 2014)

Pengukuran Kinerja Lingkungan (skripsi dan tesis)

Kinerja lingkungan perusahaan dalam penelitian ini diukur melalui PROPER atau Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. PROPER merupakan instrumen yang dilakukan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup untuk mengukur tingkat ketertiban perusahaan berdasarkan peraturan yang berlaku. PROPER diumumkan secara rutin setiap tahunnya kepada masyarakat, untuk mengetahui tingkat ketaatan perusahaan dalam menjaga dan mengungkapkan kinerja lingkungan. Menurut Yanti (2015) kebijakan proper menunjukan prestasi kerja perusahaan di bidang lingkungan hidup yang merupakan suatu bentuk tanggung jawab usaha kepada masyarakatnya. Sejalan dengan pandangan tersebut Djuitaningsih dan Ristiawati (2011) menyatakan pelestarian lingkungan oleh perusahaan merupakan wujud kepedulian terhadap lingkungan dan social, perusahaan diminta untuk memberikan informasi kepada publik mengenai keberpihakannya akan lingkungan sebagai bagian penting dalam strategi managemen lingkungan yang ramah terhadap aspek lingkungan Aspek penilaian PROPER adalah ketaatan terhadap peraturan pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, pengelolaan limbah B3, AMDAL serta pengendalian pencemaran laut. Ketentuan ini bersifat wajib untuk dipenuhi. Jika perusahaan memenuhi seluruh peraturan tersebut (in compliance) maka akan diperoleh peringkat BIRU, jika tidak maka MERAH atau HITAM, tergantung kepada aspek ketidak-taatannya. Penggunaan warna dalam penilaian PROPER merupakan bentuk dari komunikatif penyampaian kinerja kepada masyarakat, mulai dari terbaik, EMAS, HIJAU, BIRU, MERAH, sampai ke yang terburuk, HITAM. Penggunaan warna dalam penilaian tersebut bisa membuat masyarakat secara lebih sederhana mengetahui tingkat tata kelola lingkungan pada perusahaan dengan hanya melihat peringkat warna yang ada

Kinerja Lingkungan (skripsi dan tesis)

 

 Masalah lingkungan telah berkembang sangat pesat. Kekhawatiran awal adalah terjadinya kerusakan lingkungan yang mengakibatkan polusi, kontaminasi air dan perubahan iklim. Dalam rangka melestarikan lingkungan, perusahaanperusahaan diharapkan dapat mengurangi konsumsi sumber daya alam. Kinerja lingkungan ini memiliki kinerja yang setara dengan lingkungan sekitar yang memproduksi produk ramah lingkungan. Kinerja lingkungan adalah tuntutan yang harus ditanggapi oleh perusahaan sebagai akibat dari tekanan karyawan, masyarakat, pemerintah dan berbagai pihak yang peduli terhadap lingkungan, Soewarno et al., (2018). Dengan menjaga lingkungan, perusahaan dapat memperoleh manfaat secara tidak langsung, baik dari segi kesehatan dan kenyamanan, serta ketersediaan sumber daya. Deswanto dan Siregar (2018) ada beberapa peraturan di Indonesia tentang pengelolaan dan pengungkapan lingkungan. Beberapa peraturan mengamanatkan bahwa perusahaan harus terlibat dalam kegiatan perlindungan lingkungan. UndangUndang Pasal 68 Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan menyatakan bahwa setiap orang yang melakukan bisnis dan / atau kegiatan wajib untuk: a. memberikan informasi terkait perlindungan dan pengelolaan lingkungan dengan jujur, transparan, dan tepat waktu; b. menjaga kelestarian fungsi lingkungan; dan c. mematuhi ketentuan tentang standar kualitas lingkungan dan / atau kriteria standar untuk kerusakan lingkungan. Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas mengatur kedua tanggung jawab lingkungan : Pasal 74 ayat 1 mengamanatkan bahwa perusahaan memiliki kegiatan bisnis di bidang atau terkait dengan sumber daya alam untuk melakukan tanggung jawab sosial dan lingkungannya dan persyaratan pengungkapan dalam Pasal 66 ayat 2c mengatur bahwa salah satu item isi dari laporan tahunan adalah laporan tentang pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Pada tahun 2012, pemerintah mengeluarkan peraturan lain terkait dengan UU No. 40 Tahun 2007, dalam bentuk Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan dari Perseroan Terbatas, yang secara eksplisit menyatakan bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan adalah kewajiban perusahaan yang operasinya di bidang atau terkait dengan sumber daya alam dan perusahaan yang tidak melakukan tanggung jawab tersebut akan dikenakan penalti sesuai dengan hukum

Kinerja (skripsi dan tesis)

Kinerja atau performance adalah sebuah kata dalam bahasa Indonesia yang berasal dari kata dasar ‘kerja’ yang menerjemahkan kata dari bahasa asing prestasi, bisa juga berarti hasil kerja. Pengertian kinerja menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997:503) yaitu kinerja merupakan kata benda yang artinya: 1. Sesuatu yang dicapai, 2. Prestasi yang diperlihatkan, 3. Kemampuan kerja (tentang peralatan). Soewarno (2018) menyatakan bahwa kinerja organisasi adalah jawaban dari berhasil atau tidaknya tujuan yang telah ditetapkan organisasi. Kadang kala para atasan atau manager tidak memperhatikan kinerja tersebut kecuali sudah terjadi keadaan yang memburuk dan menjadi serba salah. Perusahaan akan mengalami krisis yang serius akibat ketidaktahuan manager mengenai kondisi kinerja perusahaan yang telah merosot dan atau sedang memburuk. Ada beberapa cara yang dilakukan perusahaan untuk meningkatkan kinerja perusahaan terutama kinerja keuangannya, Untuk meningkatkan kinerja keuangan salah satunya dengan cara memperhatikan kinerja lingkungan yang akan berdampak pada keberlanjutan perusahaan dimasa yang mendatang

Pengukuran Pengungkapan Emisi Karbon (skripsi dan tesis)

Gas rumah kaca (GRK) merupakan gas-gas hasil pemanasan bumi yang kemudian dilepaskan menuju atmosfer sehingga menyebabkan terbentuknya efek rumah kaca Riebeek (2010) ; Anggraeni (2015). Efek rumah kaca terjadi karena peningkatan emisi gas-gas, seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O), chlorofluorocarbons (CFC), dan lain-lain, sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Gas-gas tersebut juga dihasilkan oleh aktivitas bisnis sehingga para pelaku bisnis sudah sepatutnya memberikan informasi mengenai peran mereka dalam mempercepat timbulnya pemanasan global. Beberapa penelitian menggunakan istilah pengungkapan karbon (carbon disclosure) karena sebagian besar unsur yang dikeluarkan dan yang berkontribusi dalam pemanasan global ialah karbon (Choi et al,. 2013; Luo et al,. 2013; Jannah dan Muid, 2014). Pengungkapan karbon perusahaan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan checklist yang telah dikembangkan berdasarkan lembar permintaan informasi yang telah diberikan oleh Carbon Disclosure Project (CDP). Karena program ini masih terbilang baru, belum banyak perusahaan di Indonesia yang sudah melakukan pengungkapan emisi karbon dan terdaftar dalam Carbon Disclosure Project (CDP) maka penelitian ini menggunakan sample perusahaan yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI).

Tujuan Pengungkapan Emisi Karbon (skripsi dan tesis)

Tujuan perusahaan melakukan pengungkapan terhadap emisi karbon untuk meningkatkan image perusahaan dimata stakeholder seperti investor dan masyarakat karena stakeholder, seperti pemegang saham dan konsumen memberikan tekanan pada perusahaan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca mereka. Selain itu sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat sekitar atas dampak operasi yang dilakukan oleh perusahaan. Investor mempertimbangkan kinerja perusahaan tidak hanya dari segi keuangannya saja namun juga non-keuangan untuk menjamin keberlanjutan perusahaan dalam jangka panjang. kinerja karbon adalah kunci utama untuk kelangsungan hidup jangka panjang bagi sebagian besar perusahaan. Inisiatif kinerja karbon perusahaan menarik investasi hijau dan karenanya menawarkan manfaat finansial, Ganda (2018). Kaitan antara informasi dan kinerja lingkungan perusahaan menjadi semakin penting bagi investor dan pemangku kepentingan lainnya yang berkonsentrasi pada dampak lingkungan dari kegiatan perusahaan. Investor menggunakan informasi lingkungan untuk menilai investasi dan mengevaluasi portofolio mereka saat ini dalam hal lingkungan, menentukan nilai, prospek bisnis masa depan dan biaya pengendalian polusi. Oleh karena itu, investor memberikan tekanan pada perusahaan untuk mengungkapkan informasi terkait emisi gas rumah kaca yang dihasilkan perusahaan

Pengungkapan Emisi Karbon (skripsi dan tesis)

Pengungkapan emisi karbon merupakan pengungkapan sukarela perusahaan dalam bentuk kepedulian perusahaan terhadap lingkungan. Semakin tinggi energi karbon yang digunakan oleh perusahaan maka semakin besar dampak negatif yang akan dirasakan oleh lingkungan sekitar. Pengurangan emisi karbon merupakan upaya perusahaan dalam memperbaiki manajemen lingkungan. Emisi dikatakan baik apabila perusahaan menghasilkan emisi karbon yang rendah atau semakin berkurang dari tahun ke tahun. Emisi karbon akan menyebabkan perubahan iklim yang memburuk. Semakin tinggi emisi karbon yang dihasilkan maka kinerja lingkungan perusahaan dianggap rendah atau buruk. Isu lingkungan merupakan suatu hal menjadi perhatian dunia Internasional. Terdapat banyak kerjasama bilateral maupun multilateral untuk menanggulangi masalah-masalah lingkungan ditingkat Internasional, terutama terkait dengan perubahan iklim seperti Protokol Kyoto dan Paris Agreement. Protokol Kyoto adalah persetujuan internasional tentang pemanasan global, dan merupakan sebuah amandemen terhadap konvensi rangka kerja PBB tentang perubahan iklim yang disepakati pada tahun 1997, Pada tahun 2015 disepakati perjanjian baru untuk penanganan perubahan iklim yaitu Paris Agreement kerangka UNFCCC (United Nation Framework Convention on Climate Change) yang mengawal reduksi emisi karbondioksida efektif berlaku sejak tahun 2020. Persetujuan ini dibuat pada Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa 2015 di Paris

Emisi Karbon (skripsi dan tesis)

Emisi karbon didefinisikan sebagai pelepasan gas-gas yang mengandung karbon ke lapisan atmosfer bumi. Martinez (2005) ; Kelvin et al., (2017) menyatakan gas rumah kaca berdasarkan sumber nya dibedakan menjadi dua yaitu gas rumah kaca alami dan gas rumah kaca industri. Gas rumah kaca alami menguntungkan bagi makhluk hidup karena dapat menjaga temperatur bumi tetap hangat ( 6˚C) sedangkan gas rumah kaca industri berasal dari kegiatan industrial yang dilakukan oleh manusia. Aktivitas manusia membuat kadar karbondioksida menjadi lebih padat sehingga alam tidak dapat menyerap seluruh karbondioksida yang tersedia Sudibyo (2018) membahas tentang pelaporan campuran menggunakan wajib dan sukarela untuk emisi karbon. Beberapa literatur mencatat pentingnya pelaporan alih-alih investigasi terperinci atau pelaporan penilaian dari berbagai jenis emisi karbon, intensitas karbon, volume karbon, dan pelaporan karbon. Pengungkapan dan pelaporan emisi karbon sangat penting karena ada kebutuhan dari investor untuk melihat risiko lingkungan perusahaan. Ini berarti bahwa investor membutuhkan informasi untuk menilai pembangunan berkelanjutan dan bagaimana perlindungan lingkungan dan kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan. Sehingga investor akan membuat lebih baik dalam pengambilan keputusan untuk portofolio mereka. Negara berkembang sebagai kelangkaan sumber daya atau kekurangan akan memiliki sedikit komitmen untuk mitigasi dan pengungkapan karbon.

Teori Institusional (skripsi dan tesis)

Teori institusional melacak hubungan antara perusahaan dan masyarakat dalam dimensi organisasi tata kelola ekonomi (Brammer et al., 2012). Teori ini mengasumsikan bahwa perusahaan dipengaruhi oleTeori Institusional Teori institusional melacak hubungan antara perusahaan dan masyarakat dalam dimensi organisasi tata kelola ekonomi (Brammer et al., 2012). Teori ini mengasumsikan bahwa perusahaan dipengaruhi oleh kerangka kerja sosial yang lebih luas seperti undang-undang publik, peraturan swasta dan organisasi non-pemerintah yang memantau praktik bisnis mereka. Oleh karena itu, struktur sosial ini memengaruhi inisiatif dan prosedur bisnis. Dalam kaitannya dengan kebijakan mengenai lingkungan, teori institusional tidak didasarkan pada kebijakan organisasi dan arahan strategis tetapi kepentingan masyarakat yang lebih luas (Hahn et al., 2010). Kemampuan perusahaan untuk mengatasi tekanan institusional juga akan tergantung pada kapasitasnya untuk mengakomodasi organisasi yang tidak kompatibel tuntutan dengan mengurangi dampak kepatuhan melalui tawar-menawar dengan badan pengawas dan atau mengubah harapan melalui mempengaruhi mitra utamanya. Dengan melakukan itu, ia mengacu pada atribut spesifiknya. Dengan demikian, teori ini berfokus pada faktor-faktor yang mengubah masyarakat bersama dengan kerangka kerja organisasi, rutinitas, skema, norma, nilai-nilai, dan aturan yang memengaruhi perilaku pemangku kepentingan perusahaan. Dalam studi Brammer et al., (2012) dan Hahn et al., (2010) menggunakan teori ini untuk menunjukkan bagaimana masalah keberlanjutan mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. h kerangka kerja sosial yang lebih luas seperti undang-undang publik, peraturan swasta dan organisasi non-pemerintah yang memantau praktik bisnis mereka. Oleh karena itu, struktur sosial ini memengaruhi inisiatif dan prosedur bisnis. Dalam kaitannya dengan kebijakan mengenai lingkungan, teori institusional tidak didasarkan pada kebijakan organisasi dan arahan strategis tetapi kepentingan masyarakat yang lebih luas (Hahn et al., 2010). Kemampuan perusahaan untuk mengatasi tekanan institusional juga akan tergantung pada kapasitasnya untuk mengakomodasi organisasi yang tidak kompatibel tuntutan dengan mengurangi dampak kepatuhan melalui tawar-menawar dengan badan pengawas dan atau mengubah harapan melalui mempengaruhi mitra utamanya. Dengan melakukan itu, ia mengacu pada atribut spesifiknya. Dengan demikian, teori ini berfokus pada faktor-faktor yang mengubah masyarakat bersama dengan kerangka kerja organisasi, rutinitas, skema, norma, nilai-nilai, dan aturan yang memengaruhi perilaku pemangku kepentingan perusahaan. Dalam studi Brammer et al., (2012) dan Hahn et al., (2010) menggunakan teori ini untuk menunjukkan bagaimana masalah keberlanjutan mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. 

Teori Stakeholder (skripsi dan tesis)

Teori stakeholder menjelaskan bahwa perusahaan dalam menjalankan operasinya harus memberikan kepentingan kepada pihak-pihak lain selain untuk kepentingannya sendiri. Pihak-pihak lain yang berkepentingan/stakeholder seperti kreditor, konsumen, pemerintah, pemegang saham, masyarkat, dll. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan dari stakeholder sangat berpengaruh bagi kelangsungan perusahaan (Ghozali dan Chariri, 2007). Secara implisit manager tidak hanya bertanggung jawab kepada pemegang saham namun kepada stakeholder lainnya. Oleh karena itu stakeholder memiliki hak yang sama seperti pemegang saham untuk memperoleh informasi perusahaan (Tauringan dan Chithambo, 2014). Freeman (1984, hal. 46) ; Ganda (2018) mendefinisikan pemangku kepentingan sebagai kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh realisasi tujuan perusahaan. Dengan demikian teori ini mendalilkan bahwa kemampuan perusahaan untuk beroperasi bertumpu pada inklusi strategis dari kepentingan pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan. Dalam waktu belakangan ini tuntutan pemangku kepentingan telah mencerminkan keprihatinan global yang berkembang terkait dengan perubahan kondisi cuaca, meningkatnya bencana alam, naiknya permukaan laut dan samudera, dan peningkatan emisi gas rumah kaca. Perusahaan secara moral berkewajiban untuk mengadopsi inisiatif kinerja karbon yang efektif untuk mengurangi kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Stakeholder terkemuka yang memainkan peran utama dalam mempengaruhi kinerja carbon perusahaan termasuk pemerintah hijau, melalui pajak carbon yang ketat bersama dengan peraturan hijau; konsumen hijau, dengan cara boikot dan preferensi tinggi untuk produk hijau tanpa memandang harga; karyawan hijau yang lebih suka bekerja di perusahaan berkinerja tinggi; dan investor hijau yang memberikan preferensi terhadap portofolio hijau dan kelompok kepentingan lingkungan yang independen. Wood (1991) ; Ganda (2018) menyoroti bahwa para pemangku kepentingan memainkan tiga peran dalam kaitannya dengan keberlanjutan perusahaan. Mereka adalah sumber harapan dalam kaitannya dengan apa yang dianggap praktik perusahaan yang dapat diterima dan tidak dapat diterima, mereka mengalami dampak perilaku perusahaan baik tindakan maupun hasil, dan pemangku kepentingan menilai bagaimana perusahaan telah memenuhi harapan masyarakat, serta bagaimana inisiatif perusahaan telah memengaruhi semua mitra internal dan eksternal

Teori Legitimasi (skripsi dan tesis)

Teori legitimasi menyoroti pentingnya persetujuan sosial dalam mempromosikan kelangsungan hidup perusahaan. Legitimasi adalah perspektif luas di mana kegiatan perusahaan dapat diterima dan kompatibel dengan kepercayaan, nilai, makna, dan norma masyarakat (Burritt dan Schaltegger, 2010) ; Ganda (2018). Legitimasi dapat diasumsikan bahwa tindakan yang dilakukan oleh suatu korporasi merupakan tindakan yang diinginkan, pantas ataupun sesuai dengan sistem norma, nilai, kepercayaan dan definisi yang dikembangkan secara sosial. Legitimasi dianggap penting bagi perusahaan dikarenakan legitimasi masyarakat kepada perusahaan menjadi faktor yang mempengaruhi perkembangan perusahaan dimasa mendatang. Manurut Ganda (2018) Legitimasi bergantung pada premis bahwa terdapat kontrak sosial antara perusahaan dengan masyarakat di mana perusahaan tersebut beroperasi. Kontrak sosial merupakan suatu cara untuk menjelaskan sejumlah besar harapan masyarakat tentang bagaimana seharusnya organisasi melaksanakan operasinya. Seiring berjalannya waktu harapan sosial dapat berubah. Hal ini menuntut perusahaan untuk responsif terhadap lingkungan di mana mereka beroperasi. Dalam teori legitimasi, organisasi harus secara berkelanjutan menunjukkan telah beroperasi dalam perilaku yang konsisten dengan nilai sosial. Hal ini seringkali dapat dicapai melalui pengungkapan (disclosure) dalam laporan perusahaan. Perusahaan menggunakan laporan tahunan dan laporan keberlanjutan sebagai bentuk dari tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan. Sehingga adanya keterbukaan informasi terhadap masyarakat supaya dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Pengungkapan lingkungan, emisi karbon dan juga strategi hijau perusahaan akan meningkatkan reputasi perusahaan sehingga akan berdampak pada kinerja keuangan peruasahaan dikarenakan calon investor akan lebih tertarik untuk berinvestasi pada perusahaan yang peduli dengan lingkungan dan keberlanjutan perusahaan.

Pengungkapan Corporate Social Responsibility (skripsi dan tesis)

Tuntutan terhadap perusahaan untuk memberikan informasi yang transparan, organisasi yang akuntabel serta tata kelola perusahaan yang semakin bagus semakin memaksa perusahaan untuk memberikan informasi mengenai aktivitas sosialnya (Anggraini, 2006). WBCSD (The World Business Council for Sustainable Development) mendefinisikan CSR sebagai : “…CSR is the continuing commitment by business to behave ethically and contribute to economic development while improving the quality of life of the workforce and their families as well as of the local community and society at large.” CSR merupakan komitmen untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan melalui kerjasama dengan karyawan, komunitas setempat, dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Standar pengungkapan tanggung jawab sosial di Indonesia merujuk pada standar yang dikembangkan oleh GRI (Global Reporting Initiatives). Standar GRI dipilih karena lebih memfokuskan pada standar pengungkapan berbagai kinerja ekonomi, sosial, dan lingkungan dengan tujuan meningkatkan kualitas dan pemanfaatan sustainability reporting. GRI adalah sebuah jaringan berbasis organisasi yang telah mempelopori perkembangan dunia, paling banyak menggunakan kerangka laporan keberlanjutan dan berkomitmen untuk terus menerus melakukan perbaikan dan penerapan di seluruh dunia (www.globalreporting.org). GRI merupakan salah satu dari lembaga yang serius menangani permasalahan yang berhubungan dengan sustainability. Indikator kinerja GRI yaitu : a) Indikator kinerja ekonomi b) Indikator kinerja lingkungan c) Indikator kinerja sosial. Indikator ini meliputi : indikator praktek tenaga kerja dan pekerjaan yang layak, indikator hak asasi manusia, indikator kemasyarakatan dan indikator tanggung jawab produk. Sementara GRI (2013) membagi pengungkapan CSR dalam enam dimensi, yaitu ekonomi, lingkungan, ketenagakerjaan, hak asasi manusia, kemasyarakatan, dan tanggung jawab produk. Informasi yang diungkapkan dalam laporan tahunan dikelompokkan menjadi dua, yaitu pengungkapan wajib (mandatory disclosure) yangmerupakan pengungkapan minimum yang harus diungkapkan (diwajibkan peraturan) dan pengungkapan sukarela (voluntary disclosure), merupakan pengungkapan yang tidak diwajibkan oleh peraturan sehingga perusahaan bebas memilih jenis informasi yang diungkapkan yang sekiranya dapat mendukung dalam mengambil keputusan

Corporate Social Responsibility (skripsi dan tesis)

Tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) menurut Rizk et al. (2008:306) dalam Hussainey, (2011) : “The process of communicating the social and environmental effects of organizations’ economic actions to particular interest groups within society and to society at large. As such, it involves extending the accountability of organizations (particularly) companies; beyond the traditional role of providing a financial account to the owners of capital, in particular shareholders. Such an extension is predicated upon the assumption that 15 companies do have wider responsibilities than simply to make money for their shareholders.” Dauman dan Hargreaves (1992) dalam Astuti (2015) menyatakan bahwa tanggung jawab perusahaan dapat dibagi menjadi tiga level sebagai berikut: 1. Basic Responsibility (BR) Level pertama, menghubungkan tanggung jawab dari suatu perusahan yang muncul karena keberadaan perusahaan tersebut seperti: perusahaan harus membayar pajak, mematuhi hukum, memenuhi standar pekerjaan, dan memuaskan pemegang saham. Bila tanggung jawab pada level ini tidak dipenuhi akan menimbulkan dampak yang sangat serius. 2. Organization Responsibility (OR) Level kedua menunjukkan tanggung jawab perusahaan untuk memenuhi kebutuhan stakeholder seperti pekerja, pemegang saham, dan masyarakat di sekitarnya. Contohnya: bertanggung jawab terhadap investor untuk memaksimalkan profit dan mensejahterakan karyawan; dan 3. Sociental Responses (SR) Level terakhir ini, menunjukkan tahapan ketika interaksi antara bisnis dan kekuatan lain dalam masyarakat yang demikian kuat sehingga perusahaan dapat tumbuh dan berkembang secara berkesinambungan, terlibat dengan apa yang terjadi dalam lingkungannya secara keseluruhan. Contohnya: melakukan recruitment tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Tanggung jawab sosial perusahaan Corporate Social Responsibility adalah suatu konsep bahwa suatu organisasi khususnya (namun bukan hanya) perusahaan memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas, dan lingkungan dalam aspek operasional perusahaan. CSR berhubungan erat dengan pembangunan berkelanjutan dimana perusahaan dalam pelaksanaan aktivitasnya tidak hanya berdasarkan kinerja perusahaan tetapi juga berdasarkan konsekuensi sosial dan lingkungan untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Hal ini sesuai dengan asumsi Stakeholder Theory

Teori Kontrak Sosial (Social Contract Theory) (skripsi dan tesis)

Teori Kontrak Sosial menyatakan bahwa keberadaan perusahaan dalam suatu area karena didukung secara politis dan dijamin oleh regulasi pemerintah serta parlemen yang juga merupakan representasi dari masyarakat. Dengan demikian, ada kontrak secara tidak langsung antara perusahaan dan masyarakat dimana masyarakat memberi cost dan benefits untuk keberlanjutan suatu koorperasi (Lako, 2011:6). Adanya interelasi dalam kehidupan sosial masyarakat agar terjadi keselarasan, keserasian, dan keseimbangan termasuk dalam lingkungan. Perusahaan yang merupakan kelompok orang yang memiliki kesamaan tujuan dan berusaha mencapai tujuan secara bersama adalah bagian dari masyarakat dalam lingkungan yang lebih besar. Keberadaannya sangat ditentukan oleh masyarakat, di mana antara keduanya saling mempengaruhi. Untuk itu, agar terjadi keseimbangan (equality), maka perlu kontrak sosial baik secara tersusun baik secara tersurat maupun tersirat, sehingga terjadi kesepakatankesepakatan yang saling melindungi kepentingan masing-masing (Nor Hadi, 2011:96). Social Contract dibangun dan dikembangkan, salah satunya untuk menjelaskan hubungan antara perusahaan terhadap masyarakat (society). Di sini, perusahaan atau organisasi memiliki kewajiban pada masyarakat untuk memberi manfaat bagi masyarakat. Interaksi perusahaan dengan masyarakat akan selalu berusaha untuk memenuhi dan mematuhi aturan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat, sehingga kegiatan perusahaan dapat dipandang legitimate (Deegan dalam Nor Hadi 2011:96). Dalam perspektif manajemen kontemporer, teori kontrak sosial menjelaskan hak kebebasan individu dan kelompok, termasuk masyarakat yang dibentuk berdasarkan kesepakatan-kesepakatan yang saling menguntungkan anggotanya (Rawl dalam Nor Hadi 2011). Hal ini sejalan dengan konsep legitimacy theory bahwa legitimasi dapat diperoleh manakala terdapat kesesuaian antara keberadaan perusahaan yang tidak menganggu atau sesuai (congruence) dengan eksitensi sistem nilai yang ada dalam masyarakat dan lingkungan (Deegan, Robin, dan Tobin dalam Nor Hadi 2011:97). Shocker dan Sethi dalam Nor Hadi (2011:98) menjelaskan konsep kontrak sosial (social contract) bahwa untuk menjamin kelangsungan hidup dan kebutuhan masyarakat, kontrak sosial didasarkan pada : 1) Hasil akhir (output) yang secara sosial dapat diberikan kepada masyarakat luas. 2) Distribusi manfaat ekonomis, sosial, atau pada politik kepada kelompok sesuai dengan kekuatan yang dimiliki. Mengingat output perusahaan bermuara pada masyarakat, serta tidak adanya power institusi yang bersifat permanen, maka perusahaan membutuhkan legitimasi. Perusahaan harus memastikan bahwa kegiatannya tidak melanggar dan bertanggungjawab kepada pemerintah yang dicerminkan dalam peraturan dan perundang-undangan yang berlaku (legal responsibility). Disamping itu, perusahaan juga tidak dapat mengesampingkan tanggung jawab kepada masyarakat yang dicerminkan lewat tanggung jawab dan keberpihakan pada berbagai persoalan sosial dan lingkungan yang timbul (Nor Hadi 2011:98).

Teori Legitimasi (Legitimacy Theory) (skripsi dan tesis)

Teori Legitimasi menyatakan bahwa organisasi secara berkesinambungan harus memastikan apakah mereka telah beroperasi di dalam norma-norma yang dijunjung tinggi masyarakat dan memastikan bahwa aktivitas mereka (perusahaan) bisa diterima oleh pihak luar perusahaan. O’Donovan (2002) dalam Arifin (2013) berpendapat bahwa legitimasi organisasi dapat diterima sebagai sesuatu yang diberikan masyarakat kepada perusahaan dan sesuatu yang ingin dicari atau diharapkan perusahaan dari masyarakat. Dengan demikian, legitimasi memiliki manfaat untuk mendukung keberlangsungan hidup perusahaan (going concern). Haniffa dan Cooke (2005) dalam Rustiarini (2012) menjelaskan bahwa setiap perusahaan memiliki kontrak dengan masyarakat berdasarkan nilai-nilai keadilan dan bagaimana perusahaan menanggapi berbagai kelompok untuk melegitimasi tindakan perusahaan. Jika terjadi ketidak selarasan sistem nilai perusahaan dan sistem nilai masyarakat maka perusahaan kehilangan legitimasinya sehingga dapat mengancam kelangsungan hidup perusahaan. Jadi pengungkapan informasi CSR merupakan salah satu cara perusahaan untuk membangun, mempertahankan, dan melegitimasi kontribusi perusahaan dari sisi ekonomi dan politis. Teori legitimasi menganjurkan perusahaan untuk meyakinkan bahwa aktivitas dan kinerjanya dapat diterima oleh masyarakat. Perusahaan menggunakan laporan tahunan mereka untuk menggambarkan kesan tanggung jawab lingkungan, sehingga mereka diterima oleh masyarakat. Gray et al. (1995) dan Hooghiemstra (2000) dalam Karina (2013) memperlihatkan bahwa sebagian besar pengetahuan yang berkaitan dengan pengungkapan CSR berasal dari penggunaan kerangka teori yang menyebutkan bahwa pengungkapan lingkungan dan sosial merupakan jalan untuk melegitimasi kelangsungan hidup dan operasi perusahaan pada masyarakat

Teori Stakeholder (Stakeholder Theory) (skripsi dan tesis)

 Ghozali dan Chariri (2007:409) menyatakan bahwa dalam Stakeholder Theory Perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun harus memberikan manfaat bagi para stakeholder (pemegang saham, kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, dan pihak lain). Dengan demikian, maka keberadaan suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh dukungan yang diberikan oleh stakeholder kepada perusahaan tersebut. Teori Stakeholder mampu menjelaskan antara hubungan perusahaan dengan stakeholder-nya. Stakeholder pada dasarnya dapat mengendalikan atau memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pemakaian sumbersumber ekonomi yang digunakan perusahaan. Oleh karena itu power stakeholder ditentukan oleh besar kecilnya power yang dimiliki stakeholder atas sumber tersebut. Dengan kata lain, teori ini menyatakan bahwa kesuksesan dan hidup matinya suatu perusahaan sangat tergantung pada kemampuannya menyeimbangkan beragam kepentingan dari para stakeholder atau pemangku kepentingan. Jika mampu, maka perusahaan akan meraih dukungan yang berkelanjutan dan menikmati pertumbuhan pangsa pasar, penjualan, dan laba. Perspektif teori ini menjelaskan masyarakat dan lingkungan merupakan stakeholder inti perusahaan yang harus diperhatikan (Lako, 2011:5).

Ukuran Dewan Komisaris dan Corporate Social Responsibility (CSR) (skripsi dan tesis)

Dewan komisaris berfungsi untuk mengendalikan dan mengawasi serta memberikan saran kepada direksi dalam pengelolaan perusahaan. Ukuran dewan komisaris yang besar dalam suatu perusahaan akan meningkatkan pengawasan kinerja direksi dalam mengelola perusahaan. Dengan wewenang yang dimiliki dewan komisaris dapat memberikan pengaruh yang kuat untuk menekan manajemen melakukan pengungkapan Corporate Social Responsibility (Fahrizqi, 2010). Sehingga semakin besar ukuran dewan komisaris suatu perusahaan maka akan semakin banyak melakukan pengungkapan CSR, hal tersebut disebabkan semakin banyak jumlah anggota dewan komisaris maka dapat dengan mudah mengendalikan CEO untuk melakukan pengungkapan CSR. Penelitian yang dilakukan Wijaya (2012), Trisnawati (2014), dan Sha (2014) menunjukkan bahwa ukuran dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap pengungkapan CSR. Hal tersebut berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Pradnyani dan Sisdyani (2015) dan penelitian yang dilakukan Amalia (2013) menunjukkan bahwa ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap pengungkapan Tanggung Jawab Sosial.

Pertumbuhan Perusahaan dan Corporate Social Responsibility (CSR) (skripsi dan tesis)

Pertumbuhan perusahaan merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Perusahaan dengan pertumbuhan yang tinggi akan mendapat banyak sorotan sehingga diprediksi perusahaan yang mempunyai kesempatan pertumbuhan yang lebih tinggi cenderung lebih banyak melakukan Corporate Social Responsibility Disclosure untuk menarik minat investor. Penelitian yang dilakukan oleh Hastuti (2014) dan penelitian yang dilakukan oleh Sari dan Mimba (2015) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial. Hal tersebut berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuliani (2014), Nuraeni (2015) serta Munsaidah dkk (2016) menunjukan bahwa pertumbuhan perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap pengungkapan CSR

Profitabilitas dan Corporate Social Responsibility (CSR) (skripsi dan tesis)

Profitabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mengahasilkan laba. Perusahaan tidak hanya mementingkan aspek ekonomi seperti keuntungan saja, namun juga memperhatikan aspek lingkungan sosial yang berkaitan dengan dampak positif dan negatif dari aktivitas perusahaan. Profitabilitas yang tinggi akan diikuti dengan pengungkapan CSR yang tinggi, hal ini disebagai timbal balik dari kegiatan yang dilakukan perusahaan sehingga tidak ada pihak yang dirugikan baik perusahaan, investor maupun masyarakat lingkungan tempat beroperasi, karena dengan melakukan pengungkapan CSR maka akan dapat memperbaiki citra dan reputasi perusahaan di masa yang akan datang, karena profitabilitas menunjukkan apakah suatu perusahaan mempunyai prospek yang baik atau tidak dimasa datang. Penelitian yang dilakukan oleh Ariftyarini,dkk (2014) dan Indraswari dan Astika (2015), Worontikan (2015), Jandra (2015) menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR. Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Trisnawati (2014) yang menunjukkan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap pegungkapan CSR.

Ukuran Perusahaan (size) dan Corporate Social Responsibility (CSR) (skripsi dan tesis)

Ukuran perusahaan merupakan salah satu indikasi tingkat keberhasilan suatu perusahaan, ukuran perusahaan dapat diukur dengan menggunakan jumlah karyawan, nilai total aset (total aktiva), dan volume penjualan. Dalam penelitian ukuran perusahaan diukur dengan total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. Semakin berhasil suatu perusahaan dalam mengelola bisnisnya maka akan semakin dapat menunjukkan pertumbuhan dalam bisnisnya sehingga akan lebih banyak mendorong untuk melakukan CSR. Hal tersebut dikarenakan bahwa perusahaan yang berskala besar akan menjadi pusat perhatian baik bagi investor maupun masyarakat luas. Sehingga semakin besar ukuran perusahaan maka akan semakin banyak melakukan pengungkapan CSR. Penelitian yang dilakukan oleh wijaya (2012), Dewi dan Priyadi (2013), Septiana dan Fitria (2014), dan penlitian yang dilakukan Indraswari dan Astika (2015) menunjukkan bahwa ukuran perusahan berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR. Hal tersebut berbeda dengan penelitian yang dilakukan Kurnianingsih (2013) yang menunjukkan bahwa Ukuran peusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR

Ukuran Dewan Komisaris (skripsi dan tesis)

Ukuran dewan komisaris yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jumlah anggota dewan komisaris dalam suatu perusahaan. Dewan komisarin memiliki hak untuk mengendalikan serta mengawasi pengelolaan perusahaan dengan memberikan petunjuk kepada manajemen untuk melakukan pengungkapan CSR. Berdasarkan teori agensi, dewan komisaris merupakan mekanisme pengendali intern tertinggi yang bertanggung jawab untuk memelihat tindakan manajemen puncak. Individu yang bekerja sebagai anggota dewan komisaris merupakan hal penting dalam memperhatikan aktivitas manajemen secara efektif (Sembiring dalam Trisnawati,2014). Dengan demikian, proporsi dewan komisaris cukup menentukan pengaruh pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan, sehingga dapat dikatakan bahwa semakin besar jumlah anggota dewan komisaris dalam suatu perusahaan maka akan semakin mudah dalam melaksanakan pengawasan atau pengendalian terhadap pengungkapan CSR. Sehingga, banyaknya jumlah anggota dewan komisaris maka akan semakin mudah untuk mengendalikan CEO dalam mengungkapkan tanggung jawab sosial perusahaan

Pertumbuhan Perusahaan (Growth) (skripsi dan tesis)

Pertumbuhan perusahaan adalah dampak atas arus dana perusahaan dari perubahan operasional yang disebabkan oleh pertumbuhan atau peningkatan volume usaha (Helfert dalam Hastuti 2014). Growth merupakan tingkat pertumbuhan perusahaan yang diukur dengan pertumbuhan penjualan perusahaan. Perusahaan yang memiliki kesempatan tumbuh yang tinggi diharapkan akan dapat memberikan profitabilitas yang tinggi di masa depan, diharapkan laba lebih meningkat, sehingga investor akan tertarik untuk berinvestasi di perusahaan tersebut. Perusahaan dengan pertumbuhan tinggi akan mendapat banyak sorotan sehingga diprediksi perusahaan yang mempunyai kesempatan pertumbuhan yang lebih tinggi cenderung lebih banyak melakukan Corporate Social Responsibility Disclosure untuk menarik minat investor (Sari,2012).

Profitabilitas (skripsi dan tesis)

Profitabilitas merupakan kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba (keuntungan) dalam menjalankan kegiatan bisnisnya. Profitabilitas sering digunakan oleh untuk melihat sejauh mana perusahaan mampu menghasilkan laba dalam menjalan kegiatan bisnisnya, profitabilitas juga mempengaruhi investor untuk berinvestasi guna menperluas usahanya pada perusahaan terkait. Sebaliknya apabila tingkat profitabilitasnya rendah maka menyebabkan tidak berminatnya investor untuk berinvestasi. Profitabilitas juga mempunyai arti penting dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang, karena profitabilitas menunjukkan prospek yang baik dimasa datang, dengan demikian setiap badan usahan akan selalu meningkatkan profitabilitasnya, karena semakin tinggi tingkat profitabilitas suatu perusahaan maka akan semakin terjamin kelangsungan hidup suatu perusahaan (Fahmi, 2015). Menurut Heinze dalam Dewi dan Keni (2013) profitabilitas merupakan faktor yang membuat manajemen menjadi bebas dan fleksibel untuk mengungkapkan pertanggung jawaban sosial (CSR) kepada pemegang saham, sehingga dapat dijelaskan bahwa profitabilitas merupakan kemampuan entitas untuk menghasilkan laba demi meningkatkan nilai pemegang saham. Hubungan antara profitabilitas perusahaan dengan pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan telah menjadi anggapan dasar untuk mencerminkan pandangan bahwa reaksi sosial memerlukan gaya manajerial. Oleh karena itu, semakin tinggi tingkat profitabilitas perusahaan maka semakin besar pengungkapan informasi sosialnya (Hackston dan Milne dalam Kunianingsih 2013). Hal tersebut di sebabkan karena perusahaan yang memiliki profitabilitas yang tinggi akan menjadi pusat perhatian baik bagi para investor maupun masyarakat luas.

Umur Perusahaan (skripsi dan tesis)

Umur perusahaan merupakan jangka waktu perusahaan perusahaan terdaftar di daftar efek syariah. Menurut Untari (2010) umur perusahaan juga merupakan faktor yang mempengaruhi kinerja perusahaan dalam mengungkapkan tanggungjawab sosialnya. Umur perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam berkompetensi dan bersaing. Disamping itu umur perusahaan dapat menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengatasi kesulitan perusahaan yang mengancam pertumbuhan perusahaan serta kemampuan perusahaan dalam mengambil kesempatan dalam lingkungan tempat beroperasi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin lama suatu perusahaan berdiri, maka perusahaan tersebut semakin dapat menunjukkan eksistensi dalam lingkungannya dan semakin bisa meningkatkan kepercayaan investor

Ukuran Perusahaan ( size ) (skripsi dan tesis)

Ukuran perusahaan merupakan salah satu ukuran tingkat keberhasilan perusahaan dalam menjalankan kegiatan bisnisnya. Semakin berhasil perusahaan mengelola bisnisnya maka perusahaan tersebut akan mengalami pertumbuhan dalam bisnisnya. Ukuran perusahaan juga merupakan suatu skala yang berfungsi untuk mengklasifikasi besar kecilnya entitas bisnis. Skala ukuran perusahaan dapat juga mempengaruhi luasnya pengungkapan informasi dalam laporan keuangan mereka. Ukuran perusahaan juga merupakan variabel penentu atau penduga yang paling banyak digunakan untuk menjelaskan pengungkapan sosial yang dilakukan oleh perusahaan. Biasanya perusahaan yang berukuran besar akan lebih sering melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial apabila dibandingkan dengan perusahaan kecil, hal tersebut dikarenakan sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan tersebut terhadap lingkungan masyarakat dan sebagai sarana untuk menarik minat investor serta meningkatkan kepercayaan masyarakat. Perusahan yang memiliki ukuran yang besar maka akan dapat memberikan informasi yang luas serta dapat diakses dengan mudah oleh publik, sehingga mengungkapkan kepedulian pada lingkungan melalui laporan keuangan, maka perusahaan dalam jangka panjang akan terhindar dari biaya yang sangat besar akibat tuntutan dari masyarakat.

Pengertian CSR (Corporate Social Responsibility) (skripsi dan tesis)

Definisi CSR adalah suatu tindakan yang dilakukan perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap sosial dan lingkungan disekitar tempat beroperasi (Aini, 2015). CSR juga dimaksudkan untuk meminimalisir dampak yang di timbulkan perusahaan selama menjalankan aktivitas bisnisnya (Pradnyani dan Sisdyani, 2015). WBSD (The Word Business Council for Sustainable Development) memaknai CSR sebagai komitmen bisnis untuk berperilaku etis, beroperasi secara legal, dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang sekaligus meningkatkan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, serta masyarakat lokal dan masyarakat pada umumnya (Rudito dalam Hastuti,2014). Menurut Prastowo dan Huda dalam Saraswati (2014), menyatakan bahwa CSR merupakan suatu upaya/mekanisme alamiah perusahaan untuk membersihkan keuntungan-keuntungan besar yang diperoleh perusahaan. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa perusahaan dalam memperoleh keuntungan terkadang dapat menimbulkan kerugian bagi pihak lain baik dalam kegiatan yang disengaja maupun tidak disengaja. Dikatakan sebagai upaya alamiah CSR adalah konsekuensi dari dampak yang ditimbulkan dalam menjalankan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan dapat merugikan masyarakat. Oleh karena itu, perusahaan berkewajiban untuk mengembalikan keadaan masyarakat yang mengalami dampak yang telah ditimbulkan oleh kegiatan yang telah dilakukan oleh perusahaan menjadi lebih baik. CSR juga merupakan bentuk kepedulian suatu usaha terhadap lingkungan, baik lingkungan dalam kegiatan usaha maupun lingkungan diluar kegiatan usaha. Contoh bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan dapat bermacam-macam mulai dari melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pemberian beasiswa pendidikan, sumbangan untuk fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna bagi masyarakat banyak khususnya masyarakat ditempat beroperasi (Septiana & Fitria, 2014).

Teori Stakeholder (skripsi dan tesis)

Teori stakeholder mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingan sendiri namun harus memberikan manfaat bagi stakeholdernya. Definisi stakeholder yang dilontarkan (Rhenald Kasali dalam Purnasiswi, 2011) adalah setiap kelompok orang baik yang berada didalam perusahaan maupun diluar perusahaan yang mempunyai peran dalam menentukan keberhasilan perusahaan. Dengan demikian, keberadaan suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh dukungan yang diberikan oleh stakeholder kepada perusahaan tersebut sehingga keberadaan suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh dukungan yang diberikan oleh stakeholder kepada perusahaan tersebut (Fatoni dkk, 2016). Pada dasarnya tanggung jawab perusahaan tidaknya terbatas pada memaksimalkan laba demi kepentingan pemegang saham namun lebih luas lagi yakni menciptakan kesejahteraan bagi kepentingan stakeholder, yaitu semua pihak mempunyai keterkaitan terhadap perusahaan. Adanya teori stakeholder ini suatu perusahaan diharapkan dapat memberi manfaat bagi stakeholder. Manfaat tersebut dapat diberikan dengan cara menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR), dengan adanya program tersebut perusahaan diharapakan akan dapat meningkatkan kesejahteraan karyawan, pelanggan dan masyarakat lokal. Sehingga akan dapat terjalin hubungan yang baik antara perusahaan dengan lingkungan sekitar tempat beroperasi.

Teori Legitimasi (skripsi dan tesis)

Teori legitimasi menyatakan bahwa perusahaan memiliki kontrak dengan masyarakat (Fatoni dkk, 2016). Dalam teori legitimasi tersebut perusahaan berusaha untuk menyesuaikan keadaan dengan peraturanperaturan yang berlaku dimasyarakat sehingga dapat diterima dilingkungan eksternal karena dalam teori legitimasi menyatakan bahwa suatu organisasi hanya bisa bertahan jika masyarakat sekitar merasa bahwa organisasi beroperasi berdasarkan sistem nilai yang sepadan dengan sistem nilai yang dimiliki oleh masyarakat (Sari, 2013). Legitimasi organisasi dapat dilihat sebagai sesuatu yang diberikan masyarakat kepada perusahaan dan sesuatu yang diinginkan atau dicari perusahaan dari masyarakat. Adanya teori legitimasi ini akan memberikan landasan bahwa perusahaan harus mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku di masyarakat berkaitan dengan kegiatan usaha yang dilaksanakan perusahaan sehingga dapat berjalan dengan baik tanpa adanya konflik dimasyarakat maupun dilingkungan tempat beroperasi. Oleh sebab itu perusahaan perlu mengembangkan program Corporate Social Responsibility (CSR), dengan adanya Corporate Social Responsibility (CSR) diharapkan akan memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat sehingga masyarakat sekitar tempat beroperasi dapat menerima keberadaan perusahaan dengan baik dan tidak mempermasalahkan keberadaan perusahaan tersebut.

Hubungan Corporate Social Responsibility (CSR) Terhadap Kinerja Keuangan (skripsi dan tesis)

Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial harus dimiliki oleh suatu perusahaan. CSR merupakan salah satu bentuk sustainability report yang menjadikan perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya (financial) saja. Tetapi tanggung jawab perusahaan harus berpijak pada triple bottom lines yaitu juga memperhatikan masalah sosial dan lingkungan (Husnan, 2013). Corporate Social Responsibility dapat memberikan dampak positif bagi perusahaan, dimana dengan melakukan aktivitas CSR perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk perusahaan sehingga reputasi perusahaan juga meningkat dimata masyarakat. Jadi, masyarakat akan berkeinginan untuk membeli produk perusahaan. Semakin laku produk perusahaan dipasaran maka laba (profit) yang dapat dihasilkan perusahaan akan semakin meningkat. Dengan meningkatnya profit akan dapat menarik investor, karena profitabilitas menjadi pertimbangan penting bagi investor dalam keputusan investasinya (Kusumadilaga, 2010). Hal ini akan secara signifikan mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan.

Hubungan Akuntansi Lingkungan terhadap Kinerja Keuangan (skripsi dan tesis)

Akhir-akhir ini, green accounting telah mendapat perhatian serius dalam mengaitkan antara aktivitas usaha dengan dampak lingkungan, sehingga akan bisa disusun perencanaan strategik dan pengambilan keputusan manajemen yang tepat jika di dalam laporan keuangan dicantumkan akun-akun yang terkait dengan lingkungan. Namun faktanya, tidak semua perusahaan bersedia mengeluarkan sejumlah uang untuk biaya lingkungan tersebut, secara karena biaya tersebut secara otomatis akan mengurangi besaran laba yang diperoleh sehingga akan berdampak pada kinerja keuangan perusahaan. Benarkah dengan adanya pengeluaran sejumlah biaya lingkungan akan menurunkan kinerja keuangan perusahaan? Ketika perusahaan memiliki andil besar dalam kerusakan lingkungan sekitar, maka para pebisnis harus mengubah pola pikir mereka yang hanya memperhatikan besaran laba tiap tahun, dengan mulai memperhatikan lingkungan sekitar menjadi sumber daya utama. Green accounting berfokus pada perlakuan akuntansi dan pelaporan informasi atas pengorbanan aset-aset ekonomi perusahaan untuk biaya tanggung jawab sosial dan lingkungan. Pengorbanan sejumlah aset ekonomi perusahaan untuk kepentingan sosial dan lingkungan tersebut bertujuan untuk memberikan nilai tambah kepada masyarakat dan lingkungan. Perlakuan akuntansi atas biaya tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagai beban periodik yang dicatat pada kelompok biaya administrasi dan umum pada laporan laba rugi. Perlakuan akuntansi atas biaya tersebut berpengaruh negatif terhadap besaran laba bersih, sehingga besaran laba periodik yang dihasilkan menurun. Penurunan laba ataupun peningkatan rugi bersih yang dikhawatirkan para pebisnis secara tidak langsung berdampak buruk pada kelangsungan posisi keuangan perusahaan dan eksistensi perusahaan. Dalam artikel Langen (2003) yang berjudul Policy Application of Environmental Accounting, dijelaskan bahwa hubungan antara lingkungan dan akuntansi sudah dikembangkan sejak tahun 1970-an melalui kerangka (framework) oleh para praktisi, dan untuk menanggapi secara positif masalah antara lingkungan dan akuntansi, praktisi menggagas bahwa diperlukan Enviro Management dalam suatu perusahaan. Yakni, suatu cara pandang perusahaan yang menilai bahwa lingkungan adalah aset perusahaan bukan sebagai biaya perusahaan. (sumber : http://swa.co.id/swa/my-article/dampak-green-accounting-terhadap-kinerjakeuangan, diakses pada 10 April 2017). Seetharaman, Ismail, dan Saravanan (2007) menyatakan bahwa akuntansi lingkungan bisa diterapkan secara maksimal dengan mengintegrasikannya pada Environmental Management System, karena integrasi ini akan menjadikan perusahaan mematuhi secara sukarela kebijakan lingkungan, mengurangi biaya audit konsumen, meningkatkan efisiensi sumber daya, lebih mudah mengadopsi perubahan lingkungan, sehingga memperbaiki kinerja kualitas dan kinerja organisasi secara keseluruhan. Ketika perusahaan melihat bahwa biaya lingkungan yang dikeluarkan merupakan pengeluaran investasi (aset), maka perusahaan juga berpandangan bahwa di waktu-waktu mendatang perusahaan akan memperoleh manfaat sosial dan ekonomi (profitability). Dari sisi sosial, perusahaan akan memperoleh legitimasi sosial dan dinilai ramah lingkungan oleh pemerintah maupun masyarakat sehingga reputasi perusahaan meningkat. Dari sisi ekonomi, dengan mencatat dan mengungkapkan biaya lingkungan perusahaan, diharapkan investor dapat mempertimbangkan informasi pengungkapan biaya lingkungan tersebut, sehingga dalam pengambilan keputusan investasi, investor tidak hanya berdasarkan pada informasi laba perusahaan saja. Pencatatan dan pengungkapan yang semakin luas akan semakin memperkecil asimetri informasi antara perusahaan dengan para pemangku kepentingan termasuk masyarakat sekitar. Dengan semakin kecilnya tingkat asimetri informasi, hal ini akan menciptakan kepercayaan para pemangku kepentingan kepada perusahaan, yakni dengan diterimanya produk perusahaan, kesetiaan pelanggan,serta semakin meningkatnya investasi, sehingga kepercayaan-kepercayaan tersebut akan meningkatkan laba, ROE, ROA, serta meningkatnya competitive advantage.

Kinerja Keuangan (Financial Performance) (skripsi dan tesis)

Kinerja merupakan suatu gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan perusahaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi suatu organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu perusahaan. Menurut Rudianto (2013) kinerja keuangan merupakan hasil atau prestasi yang telah dicapai 48 oleh manajemen perusahaan dalam menjalankan fungsinya mengelola aset perusahaan secara efektif selama periode tertentu. Sedangkan menurut Irham Fahmi (2012) kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar dalam membuat suatu laporan keuangan yang telah memenuhi standar atau ketentuan dalam SAK (Standar Akuntansi Keuangan) atau GAAP (Generally Accepted Accounting Principal) dan lainnya. Menurut Hanif dan Halim (2009) beberapa rasio keuangan yang sering digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan adalah : 1. Rasio Likuiditas Rasio likuiditas adalah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya. 2. Rasio Aktivitas Rasio aktivitas adalah rasio yang menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam penjualan, pembelian atau kegiatan lainnya. 3. Rasio Profitabilitas Rasio profitabilitas adalah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui seluruh kemampuan, dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal jumlah karyawan dan sebagainya. 4. Rasio Solvabilitas 49 Rasio solvabilitas adalah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya atau kewajiban apabila perusahaan di likuidasi. 5. Rasio Pasar Rasio ini menunjukkan informasi penting perusahaan yang diungkapkan dalam basis per saham. Ada dua macam kinerja yang diukur dalam berbagai penelitian, yaitu kinerja operasi perusahaan dan kinerja pasar (Rahayu, 2010). Kinerja operasi perusahaan diukur dengan melihat kemampuan perusahaan yang tampak pada laporan keuangannya. Untuk mengukur kinerja operasi perusahaan biasanya digunakan rasio profitabilitas. Rasio profitablitas mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuangan di tingkat penjualan, aset, modal saham tertentu. Semakin baik rasio profitabilitas maka semakin baik menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntungan perusahaan. Rasio yang digunakan dalam penelitian ini adalah OPM (Operating Profit Margin). Rasio ini mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba operasi (laba usaha) dari penjualan bersih/ pendapatan bersih selama periode waktu tertentu. Perlu diketahui bahwa, perusahaan yang bagus atau sehat adalah perusahaan yang dapat meminimalkan dan menekan biaya-biaya. Dengan kata lain, nilai OPM yang semakin tinggi berarti perusahaan memiliki manajemen yang baik dalam 50 meminimalkan biaya secara efektif, sehingga perusahaan bisa menghasilkan laba yang lebih tinggi. 

Pengungkapan Corporate Social Responsibility (skripsi dan tesis)

World Business Council for Sustainable Development (WBCSD, 1999) mendefinisikan pelaporan tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan merupakan komitmen yang berlanjut dari bisnis menjadi perilaku etis dan berkontribusi bagi perkembangan ekonomi, dan di lain pihak sekaligus memperbaiki kualitas hidup pekerja dan keluarganya sebagai bagian dari komunitas lokal dan sosial. Tujuan utama dari pelaporan sosial adalah membuat sistem sosial yang transparan untuk tanggung jawab dalam pengambilan keputusan (Dagiliene dan Gokiene, 2011 : 22). Dagiliene dan Gokiene juga menyatakan bahwa ungkapan CSR Promosi Perusahaan Impresif – Perusahaan Progresif – Tebar pesona Tebar Pesona dan Karya Perusahaan Pasif – Perusahaan Agresif – Tidak Tebar Pesona Tebar Karya & Karya Pemberdayaan (Suharto, 2007) disclosure dapat berbeda-beda, seperti social progress report, sosial responsibility report, social report, dan sustainability report. Pada periode-periode sebelum tahun 2007 pengungkapan CSR atau tanggung jawab sosial perushaan masih sekedar bersifat sukarela (Husnan, 2013). Untuk itu pemerintah Indonesia pada tahun 2007 mengeluarkan Undang-udang Perseroan Terbatas No. 40 Tahun 74. Bunyi pasal tersebut menunjukkan bahrwa perusahaan yang melakukan kegiatan usaha bidang/ berkaitan dengan sumber daya alam wajib melakukan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Informasi mengenai pelaksanaan CSR oleh perusahaan dapat disampaikan melalui pengungkapan pada laporan tahunan. Namun dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.1 (Revisi 2009) paragraf 12, pengungkapan CSR kepada publik oleh perusahaan masih bersifat sukarela melalui laporan tahunan perusahaan. dampak dari belum diwajibkan PSAK untuk menimbulkan praktik pengungkapan informasi yang dilakukan oleh perusahaan umumnya bersifat sukarela. Menurut Martin Freedman, dalam Henry dan Murtanto (2001) dalam Kuntari dan Sulistyani (2007), ada tiga pendekatan dalam pelaporan kinerja sosial, yaitu : 1. Pemeriksaan Sosial (Social Audit) Pemeriksaan sosial mengukur dan melaporkan dampak ekonomi, sosial dan lingkungn dari program-program yang berorentasi sosial dari operasi-operasi yang dilakukan oleh perusahaan. Pemeriksaan sosial dilakukan dengan membuat suatu daftar aktivitas-aktivitas perusahaan yang memiliki konsekuensi sosial, lalu auditor 46 sosial akan mencoba mengestimasi dan mengukur dampak-dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas-aktivitas tersebut. 2. Laporan Sosial (Social Report) Berbagai alternatif format laporan untuk menyajikan laporan sosial telah diajukan oleh para akademisi dan praktisioner. Pendekatan-pendekatan yang dapat dipakai oleh perusahaan untuk melaporkan aktivitas-aktivitas pertanggungjawaban sosialnya ini ini dirangkum oleh Dilley dan Weygandt menjadi empat kelompok, yaitu (Henry dan Murtanto, 2001 dalam Kuntari dan Sulistyani, 2007) : a. Inventory Approach Perusahaan mengkompilasikan dan mengungkapkan sebuah daftar yang komprehensif dari aktivitas-aktivitas sosial perusahaan. Daftar ini harus memuat semua aktivitas sosial perusahaan baik yang bersifat positif maupun negatif. b. Cost Approach Perusahaan menbuat daftar aktivitas-aktivitas sosial perusahaan dan mengungkapkan jumlah pengeluaran pada masing-masing aktivitas tersebut. c. Program Management Approach Perusahaan tidak hanya mengungkapkan aktivitas-aktivitas pertanggungjawaban sosial, tetapi juga tujuan dari aktivitas tersebut serta hasil yang telah dicapai oleh perusahaan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan itu. d. Cost Benefit Approach Perusahaan mengungkapkan aktivitas yang memiliki dampak sosial serta biaya dan manfaat dari aktivitas tersebut. Kesulitan dalam penggunaan pendekatan ini adalah adanya kesulitan dalam mengukur biaya dan manfaat sosial yang diakibatkan oleh perusahaan terhadap masyarakat. 3. Pengungkapan Sosial dalam Laporan Tahunan (Disclosure In Annual Report) Pengungkapan sosial adalah pengungkapan informasi tentang aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan lingkungan sosial perusahaan. Pengungkapan sosial dapat dilakukan melalui berbagai media seperti laporan tahunan, laporan interim / laporan sementara, prospektus, pengumuman kepada bursa efek atau melalui media massa. Pengungkapan sosial yang dilakukan oleh perusahaan umumnya bersifat voluntary (sukarela), unaudit (belum diaudit), dan unregulated (tidak diperngaruhi oleh peraturan tertentu). Salah satu standar pengungkapan CSR pada laporan tahunan yang diterima secara luas adalah Global Report Initiative (GRI) report. Pedoman GRI disusun berdasarkan beberapa informasi utama yang perlu diungkapkan oleh perusahaan. informasi tersebut meliputi beberapa dimensi, yaitu ekonomi, lingkungan, sosial, hak asasi manusia, dan tanggung jawab produk. Pedoman GRI terbaru saat ini adalah GRI G4.

Kategori Perusahaan dalam pelaksanaan CSR (skripsi dan tesis)

Berkaitan dengan pelaksanaan CSR, perusahaan bisa dikelompokkan ke dalam beberapa kategori. Peng-kategorian ini menggambarkan kemampuan dan komitmen perusahaan dalam menjalankan CSR. Peng-kategorian dapat memotivasi perusahaan dalam mengembangkan program CSR dan dapat pula dijadikan cermin dan guideline untuk menentukan model CSR yang tepat (Suharto, 2007). 1. Kategori perusahaan berdasarkan proporsi keuntungan dan besarnya anggaran CSR : – Perusahaan Minimalis : Perusahaan yang memiliki profit dan anggaran CSR yang rendah. Perusahaan kecil dan lemah biasanya masuk dalam kategori ini. – Perusahaan Ekonomis : Perusahaan yang memiliki keuntungan tinggi, namun anggara CSR-nya rendah. Perusahaan yang termasuk kategori ini adalah perusahaan besar, namun pelit. – Perusahaan Humanis : Perusahaan yang memiliki profit yang rendah, namun proporsi anggaran CSR-nya relatif tinggi. Perusahaan ini disebut perusahaan dermawan. – Perusahaan Reformis : Perusahaan ini memiliki profit dan anggaran CSR yang tinggi. Perusahaan seperti ini memandang CSR bukan sebagai beban melainkan sebagai peluang. 2. Kategori perusahaan berdasarkan tujuan CSR, (apakah CSR dipandang sebagai media promosi atau pemberdayaan masyarakat) : – Perusahaan Pasif : Perusahaan yang menerapkan CSR tanpa tujuan jelas, bukan untuk promosi dan bukan pula untuk pemberdayaan masyarakat, sekedar melakukan kegiatan karitatif (bersifat memberikan kasih sayang). Perusahaan ini seperti melihat promosi dan CSR sebagai hal yang kurang bermanfaat bagi perusahaan. – Perusahaan Impresif : CSR lebih diutamakan daripada pemberdayaan. Perusahaan seperti ini lebih mementingkan “tebar pesona” daripada “tebar kaya”. – Perusahaan Agresif : CSR lebih ditujukan untuk pemberdayaan daripada promosi. Perusahaan seperti ini lebih mementingkan “karya nyata” daripada “tebar pesona”. – Perusahaan Progresif : Perusahaan menerapkan CSR untuk tujuan promosi sekaligus pemberdayaan. Promosi dan CSR dipandang sebagai kegiatan yang bermanfaat dan menunjang satu sama lainnya bagi kemajuan perusahaan

Prinsip-prinsip Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) (skripsi dan tesis)

Seorang pakar CSR dari University of Bath Inggris, yaitu Alyson Warhust (1998), beliau menjelaskan bahwa ada enam belas prinsip yang harus diperhatikan dalam penerapan CSR, yaitu: 1. Prioritas Perusahan Perusahaan harus menjadikan tanggung jawab sosial sebagai prioritas tertinggi dan penentu utama dalam pembangunan berkelanjutan. Sehingga perusahaan dapat membuat kebijakan, program, dan praktik dalam menjalankan aktivitas bisnisnya dengan cara lebih bertanggungjawab secara sosial. 2. Manajemen Terpadu Manajer sebagai pengendali dan pengambil keputusan harus mampu mengintegrasikan setiap kebijakan dan program dalam aktivitas bisnisnya,sebagai salah satu unsur dalam fungsi manajemen. 3. Proses Perbaikan Setiap kebijakan, program, dan kinerja sosial harus dilakukan dengan evaluasi secara berkesinambungan didasarkan atas temuan riset mutakhir dan memahami kebutuhan sosial serta menerapkan kriteria sosial tersebut secara global. 4. Pendidikan Karyawan Karyawan sebagai stakekolders primer harus ditingkatkan kemampuan dan keahliannya. Oleh karena itu, perusahaan harus memotivasi mereka melalui program pendidikan dan pelatihan. 5. Pengkajian Perusahaan sebelum melakukan sekecil apapun suatu kegiatan harus terlebih dahulu melakukan kajian mengenai dampak sosialnya. Kegiatan ini tidak saja dilakukan pada saat memulai suatu kegiatan, tetapi juga pada saat sebelum mengakhiri atau menutup suatu kegiatan. 6. Produk dan Jasa Suatu perusahaan harus senantiasa berusaha mengembangkan suatu produk dan jasa yang tidak mempunyai dampak negatif secara sosial. 7. Informasi Publik Memberikan informasi dan bila perlu mengadakan pendidikan terhadap konsumen, distributor, dan masyarakat umum tentang penggunaan, penyimpanan dan pembuangan atas suatu produk barang dan/ atau jasa. 8. Fasilitas dan Operasi Mengembangkan, merancang, dan mengoperasikan fasilitas serta menjalankan kegiatan dengan mempertimbangkan temuan yang berkaitan dengan dampak sosial dari suatu kegiatan perusahaan. 9. Penelitian Melakukan dan/ atau mendukung suatu riset atas dampak sosial dari penggunaan bahan baku, produk, proses, emisi dan limbah yang dihasilkan sehubungan dengan kegiatan usaha. Penelitian itu sendiri dilakukan dalam upaya mengurangi dan/ atau meniadakan dampak negatif kegiatan yang dimaksud. 10. Prinsip Pencegahan Memodifikasi manufaktur, pemasaran dan/ atau penggunaan atas produk barang atau jasa yang sejalan dengan hasil penelitian mutakhir. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya mencegah dampak sosial yang bersifat negatif. 11. Kontraktor dan Pemasok Mendorong kontraktor dan pemasok untuk mengimplementasikan dari prinsip-prinsip tanggung jawab sosial perusahaan, baik yang telah maupun yang akan melakukannya. Bila perlu menjadikan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari suatu persyaratan dalam kegiatan usahanya. 12. Siaga Menghadapi Darurat Perusahaan harus menyusun dan merumuskan rencana dalam menghadapi keadaan darurat. Dan bila terjadi keadaan berbahaya perusahaan harus bekerja sama dengan layanan gawat darurat (emergency), instansi berwenang, dan komunitas lokal. Selain itu perusahaan berusaha mengenali potensi bahaya yang muncul. 13. Transfer Best Practice Berkontribusi pada pengembangan dan transfer bisnis praktis sepanjang bertanggung jawab secara sosial pada semua industri dan sektor publik. 14. Memberikan Sumbangan Sumbangan ini ditujukan untuk pengembangan usaha bersama, kebijakan publik, dan bisnis, lembaga pemerintah dan lintas departemen serta lembaga pendidikan yang akan membantu meningkatkan kesadaran akan tanggung jawab sosial. 15. Keterbukaan (disclosure) Menumbuhkembangkan budaya keterbukaan dan dialogis dalam lingkungan perusahaan dan dengan unsur publik. Selain itu perusahaan harus mampu mengantisipasi dan memberikan respons terhadap risiko potensial (potencial hazard) yang mungkin muncul dan dampak negatif dari operasi, produk, limbah dan jasa. 16. Pencapaian dan Pelaporan Melakukan evaluasi atas hasil kinerja sosial, melaksanakan audit sosial secara berkala dan mengkaji pencapaian berdasarkan kriteria perusahaan dan ketentuan peraturan perundang-undangan serta menyampaikan informasi tersebut kepada dewan direksi, pemegang saham, pekerja dan publik.

Ruang Lingkup Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) (skripsi dan tesis)

Pada prinsipnya, CSR merupakan komitmen perusahaan terhadap kepentingan para stakeholders daripada sekedar kepentingan perusahaan belaka. Meskipun secara moral adalah baik suatu perusahaan mengejar keuntungan, bukan berarti perusahaan tersbut dibenarkan mencapai keuntungan tersebut dengan mengorbankan kepentingan-kepentingan pihak lain yang terkait. Oleh karena itu, setiap perusahaan harus bertanggungjawab atas tindakan dan kegiatan dari usahanya yang mempunyai dampak baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap stakeholders-nya dan lingkungan di mana perusahaan melakukan aktivitas usahanya. Berdasarkan dengan hal tersebut, John Elkingston‟s mengelompokkan CSR atas tiga aspek yang lebih dikenal dengan istilah “Triple Bottom Line”. Ketiga aspek itu meliputi kesejahteraan atau kemakmuran ekonomi (economic prosperity), peningkatan kualitas lingkungan (environmental quality), dan keadilan sosial (social justice). John juga menegaskan bahwa suatu perusahaan yang ingin menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainability development) harus memperhatikan “Triple P” yaitu “Profit” sebagai wujud aspek ekonomi, “Planet” sebagai wujud aspek lingkungan, “People” sebagai aspek sosial (Wibisono, 2007: 22- 36). Pada tahun 2002, Global Compact Initiative menegaskan kembali tentang triple P dengan menyatakan bahwa tujuan bisnis adalah untuk mencari laba (profit), mensejahterakan masyarakat (people), dan menjamin keberlanjutan kehidupan (planet).

Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR) (skripsi dan tesis)

Menurut The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD), Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan didefinisikan sebagai komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan, melalui kerja sama dengan para karyawan 36 mereka, keluarga mereka, komunitas setempat maupun masyarakat umum untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara yang bermanfaat baik bagi bisnis sendiri maupun untuk pembangunan. Pertanggungjawaban sosial perusahaan diungkapkan di dalam laporan yang disebut Sustainability Report. Sustainability Report adalah pelaporan mengenai kebijakan ekonomi, lingkungan dan sosial, pengaruh dan kinerja organisasi dan produknya di dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainability development). Sustainability Report harus menjadi dokumen strategik yang berlevel tinggi yang menempatkan isu, tantangan dan peluang sustainability development yang membawa menuju kepada core business dan sektor industrinya.

Pengelompokan Analisis Lingkungan (skripsi dan tesis)

Menurut Mulyani (2011), terdapat lima tahap pengelompokan analisis lingkungan, yaitu : 1. Identifikasi Pertama kali perusahaan hendak menentukan biaya untuk pengelolaan biaya penanggulangan eksternality yang mungkin terjadi dalam kegiatan operasional usahanya adalah dengan mengidentifikasi dampak dampak negatif tersebut. Sebagai contoh misalnya sebuah Rumah Sakit yang diperkirakan akan menghasilkan limbah berbahaya sehingga memerlukan penanganan khusus untuk hal tersebut mengidentifikasi limbah yang mungkin ditimbulkan antara lain: limbah padat, cair, maupun radioaktif yang berasal dari kegiatan instalasi rumah sakit atau kegiatan karyawan maupun pasien (Sudigyo, 2002). Macam macam kemungkinan dampak ini diidentifikasi sesuai dengan bobot dampak negatif yang mungkin timbul. 2. Pengakuan Elemen-elemen tersebut yang telah diidentifikasikan selanjutnya diakui sebagai rekening dan disebut sebagai biaya pada saat menerima manfaat dari sejumlah nilai yang telah dikeluarkan untuk pembiayaan lingkungan tersebut. Pengakuan biaya-biaya dalam rekening ini dilakukan pada saat menerima manfaat dari sejumlah nilai yang telah dikeluarkan sebab pada saat sebelum nilai atau jumlah itu dialokasikan tidak dapat disebut sebagai biaya sehingga pengakuan sebagai biaya dilakukan pada saat sejumlah nilai dibayarkan untuk pembiayaan pengelolaan lingkungan. (PSAK,2002) 3. Pengukuran Perusahaan pada umumnya mengukur jumlah dan nilai atas biaya biaya yang dikeluarkan untuk pengelolaan lingkungan tersebut dalam satuan moneter yang telah ditetapkan sebelumnya. Pengukuran nilai dan jumlah biaya yang akan dikeluarkan ini dapat dilakukan dengan mengacu pada realisasi biaya yang telah dikeluarkan pada periode sebelumnya, sehingga akan diperoleh jumlah dan nilai yang tepat sesuai kebutuhan riil setiap periode. 34 Dalam hal ini, pengukuran yang dilakukan untuk menentukan kebutuhan pengalokasian pembiayaan tersebut sesuai dengan kondisi perusahaan yang bersangkutan sebab masing-masing perusahaan memiliki standar pengukuran jumlah dan nilai yang berbeda-beda. 4. Penyajian Biaya yang timbul dalam pengelolaan lingkungan ini disajikan bersama sama dengan biaya-biaya unit lain yang sejenis dalam sub-sub biaya administrasi dan umum. Penyajian biaya lingkungan ini didalam laporan keuangan dapat dilakukan dengan nama rekening yang berbeda-beda sebab tidak ada ketentuan yang baku untuk nama rekening yang memuat alokasi pembiayaan lingkungan perusahaan tersebut. 5. Pengungkapan Pengungkapan akuntansi lingkungan merupakan jenis pengungkapan sukarela. Namun, tidak semua perusahaan melaporkan pengungkapan akuntansi lingkungan secara sukarela. Misalnya perusahaan pertambangan, yang wajib melakukan pengungkapan akuntansi lingkungan. Pengungkapan akuntansi lingkungan pada penelitian ini merupakan pengungkapan informasi data akuntansi lingkungan dari sudut pandang fungsi internal akuntansi lingkungan itu sendiri, yaitu berupa laporan akuntansi lingkungan. Laporan tersebut harus didasarkan pada situasi aktual pada suatu perusahaan atau organisasi lainnya. Data aktual diungkapkan dan ditentukan oleh perusahaan sendiri atau organisasi lainnya. Oleh karena itu, diperlukan ketika pengungkapan data eksternal akuntansi lingkungan untuk mengklarifikasi prasarat dari pengungkapan data, supaya stakeholders memperoleh pemahaman konsisten dari data akuntansi lingkungan. Praktek-praktek akuntansi tradisional seringkali melihat biaya lingkungan sebagai biaya mengoperasikan bisnis, meskipun biaya-biaya tersebut signifikan, meliputi: biaya sumberdaya, yaitu mereka yang secara langsung berhubungan dengan produksi dan mereka yang terlibat dalam operasi bisnis umum, pengolahan limbah, dan biaya pembuangan. Biaya reputasi lingkungan, dan biaya membayar premi asuransi resiko lingkungan. Dalam banyak kasus, biaya-biaya lingkungan seperti yang berkaitan dengan sumberdaya alam (energi, udara, air) dimasukkan ke dalam satu jalur „biaya operasi‟ atau „biaya administrasi‟ yang diperlakukan independen dengan proses produksi. Juga biaya lingkungan sering didefinisikan secara sempit sebagai biaya yang terjadi dalam upaya pemenuhan dengan atau kaitan dengan hukum atau peraturan lingkungan. Hal ini karena sistem akuntansi cenderung berfokus pada biaya bisnis yang teridentifikasi secara jelas, bukan pada biaya dan manfaat pilihan alternatif

Model Biaya Kualitas Lingkungan (skripsi dan tesis)

Dalam model kualitas lingkungan total, keadaan yang ideal adalah tidak ada kerusakan lingkungan. Kerusakan didefenisikan sebagai degradasi langsung dari lingkungan, seperti emisi residu benda padat, cair, atau gas ke dalam lingkungan (misalnya: pencemaran air dan polusi udara), atau degradasi tidak langsung seperti penggunaan bahan baku dan energi yang tidak perlu. Menurut Hansen dan Mowen (2007), biaya lingkungan dapat diklasifikasikan menjadi empat kategori, yaitu : 1. Biaya Pencegahan Lingkungan (Environmental Prevention Costs) Biaya pencegahan lingkungan adalah biaya-biaya untuk aktifitas yang dilakukan untuk encegah diproduksinya limbah dan/atau sampah yang merusak lingkungan. Contoh : evaluasi dan pemilihan pemasok, evaluasi dan pemilihan alat untuk mengendalikan polusi, desain proses dan produk untuk mengurangi dan menghapus limbah, melatih pegawai, mempelajari dampak lingkungan, audit risiko lingkungan, daur ulang produk, pemerolehan serifikasi ISO 14001. 2. Biaya Deteksi Lingkungan (Environmental Detection Costs) Biaya deteksi lingkungan adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk menentukan bahwa produk, proses, dan aktivitas lain diperusahaan telah memenuhi standar lingkungan yang berlaku atau tidak. Contoh: Audit aktivitas lingkungan, pemeriksaan produk dan proses, pengembangan ukuran kinerja lingkungan, pelaksanaan pengujian pencemaran, verifikasi kinerja lingkungan dari pemasok, serta pengukuran tingkat pencemaran. 3. Biaya Kegagalan Internal Lingkungan (Environmental Internal Failure Costs) Biaya kegagalan internal adalah biaya-biaya untuk aktifitas yang dilakukan karena diproduksinya limbah dan sampah, tetapi tidak dibuang ke lingkungan luar. Contoh: Pengoperasian peralatan untuk mengurangi atau menghilangkan polusi, pengolahan dan pembuangan limbah beracun, pemeliharaan peralatan polusi, lisensi fasilitas untuk memproduksi limbah, serta daur ulang sisa bahan. 4. Biaya Kegagalan Eksternal Lingkungan (Environmental Eksternal Failure Costs) Biaya Kegagalan Eksternal Lingkungan (environmental external failure), adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan serta melepas limbah atau sampah ke dalam lingkungan. Biaya ini terbagi menjadi dua yaitu Biaya kegagalan eksternal yang direalisasi (realized external failure costs) adalah biaya yang dialami dan dibayar oleh perusahaan. Biaya kegagalan eksternal yang tidak direalisasikan (unrealized external failure costs) atau biaya sosial disebabkan oleh perusahaan, tetapi dialami dan dibayar oleh pihak-pihak di luar perusahaan. Contoh biaya kegagalan eksernal yang direalisasi adalah: pembersihan danau yang tercemar, pembersihan minyak yang tumpah, pembersihan tanah yang tercemar, penggunaan bahan baku dan energi secara tidak efisien, penyelesaian klaim kecelakaan pribadi dari praktik kerja yang tidak ramah lingkungan, dll. Contoh biaya sosial adalah: mencakup perawatan medis karena udara yang terpolusi (kesejahteraan individu), hilangnya kegunaan danau sebagai tempat rekreasi karena pencemaran (degradasi), hilangnya lapangan pekerjaan karena pencemaran (kesejahteraan individual), dan rusaknya ekosistem karena pembuangan sampah padat (degradasi)

Tujuan dan Manfaat Akuntansi Lingkungan (skripsi dan tesis)

Menurut Ikhsan (2008) tujuan dan maksud dikembangkannya akuntansi lingkungan adalah sebagai alat manajemen lingkungan yang digunakan untuk menilai keefektifan kegiatan konservasi lingkungan dan sebagai alat komunikasi dengan masyarakat yang digunakan untuk menyampaikan dampak negatif lingkungan, kegiatan konservasi lingkungan dan hasilnya kepada publik. Akuntansi Lingkungan secara spesifik mendefinisikan dan menggabungkan semua biaya lingkungan ke dalam laporan keuangan perusahaan. Bila biaya-biaya tersebut secara jelas teridentifikasi, perusahaan akan cenderung mengambil keuntungan dari peluang-peluang untuk mengurangi dampak lingkungan. Adapun manfaat-manfaat mengadopsi akuntansi lingkungan, yaitu : 1. Perkiraan yang lebih baik dari biaya sebenarnya pada perusahaan untuk memproduksi produk atau jasa. Ini sangat bermanfaat dalam memperbaiki harga dan profitabilitas. 2. Mengidentifikasi biaya-biaya sebenarnya dari produk, proses, sistem, atau fasilitas dan menjabarkan biaya-biaya tersebut pada tanggungjawab manajer. 3. Membantu manajer untuk menargetkan area operasi bagi pengurangan biaya dan perbaikan dalam ukuran lingkungan dan kualitas. 4. Membantu dengan penanganan keefektifan biaya lingkungan atau ukuran perbaikan kualitas. 5. Memotivasi staf untuk mencari cara yang kreatif untuk mengurangi biaya-biaya lingkungan. 6. Mendorong perubahan dalam proses untuk mengurangi penggunaan sumberdaya dan mengurangi, mendaur ulang, atau mengidentifikasi pasar bagi limbah. 7. Meningkatkan kepedulian staf terhadap isu-isu lingkungan, kesehatan dan keselamatan kerja. 8. Meningkatkan penerimaan konsumen pada produk atau jasa perusahaan dan sekaligus meningkatkan daya kompetitif. Beberapa alasan mengapa perusahaan perlu mempertimbangkan untuk mengadopsi akuntansi lingkungan sebagai bagian dari sistem akuntansi perusahaan, antara lain : 1. Memungkinkan untuk mengurangi dan menghapus biaya-biaya lingkungan. 2. Memperbaiki kinerja lingkungan perusahaan yang selama ini mungkin mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya, serta keberhasilan bisnis perusahaan. 3. Diharapkan menghasilkan biaya atau harga yang lebih akurat terhadap produk dari proses lingkungan yang diinginkan. 4. Memungkinkan pemenuhan kebutuhan pelanggan yang mengharapkan produk/jasa lingkungan yang lebih bersahabat. Menurut Aniela (2011) terdapat beberapa alasan yang mendukung pelaksanaan akuntansi lingkungan, yaitu : 1. Biaya lingkungan jika tidak mendapatkan perhatian khusus akan menjadi tidak jelas dan masuk dalam akun overhead atau bahkan diabaikan. 2. Banyak perusahaan telah menemukan bahwa biaya lingkungan dapat diimbangi dengan menghasilkan pendapatan melalui penjualan limbah sebagai suatu produk. 3. Pengelolaan biaya lingkungan yang lebih baik dapat menghasilkan perbaikan kinerja lingkungan dan memberikan manfaat yang signifikan bagi kesehatan manusia serta keberhasilan perusahaan. 4. Memahami biaya lingkungan dan kinerja proses dan produk dapat mendorong penetapan biaya dan harga produk lebih akurat dan dapat membantu perusahaan dalam mendesain proses produksi, barang, dan jasa yang lebih ramah lingkungan untuk masa depan. 5. Akuntansi untuk biaya lingkungan dan kinerja lingkungan dapat mendukung perkembangan perusahaan dan operasi dari sistem manajemen lingkungan secara keseluruhan.

Pengertian Akuntansi Lingkungan (skripsi dan tesis)

Istilah akuntansi lingkungan mempunyai banyak arti dan kegunaan. Akuntansi lingkungan dapat mendukung pendapatan, akuntansi keuangan maupun bisnis internal akuntansi manajerial. Akuntansi lingkungan (Environmental Accounting atau EA) merupakan istilah yang berkaitan dengan dimasukkannya biaya lingkungan (environmental costs) ke dalam praktik akuntansi perusahaan atau lembaga pemerintah. Biaya lingkungan adalah dampak yang timbul dari sisi keuangan maupun non-keuangan yang harus dipikul sebagai akibat dari kegiatan yang mempengaruhi kualitas lingkungan.  Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat atau United States Environment Protection Agency (US EPA) akuntansi lingkungan adalah : “suatu fungsi penting tentang akuntansi lingkungan adalah menggambarkan biaya-biaya lingkungan supaya diperhatikan oleh para stakeholders perusahaan yang mampu mendorong dalam pengidentifikasian cara-cara mengurangi atau menghindari biayabiaya ketika pada waktu yang bersamaan sedang memperbaiki kualitas lingkungan”. Badan perlindungan Amerika Serikat atau United States Environmental Protection Agency (EPA) menambahkan bahwa istilah akuntansi lingkungan dibagi menjadi dua dimensi utama. Pertama, akuntansi lingkungan merupakan biaya yang secara langsung berdampak pada perusahaan secara menyeluruh (dalam hal ini disebut “biaya pribadi”). Kedua, akuntansi lingkungan juga meliputi biaya-biaya individu, masyarakat maupun lingkungan suatu perusahaan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Akuntansi lingkungan juga merupakan suatu bidang yang terus berkembang dalam mengidentifikasi pengukuran-pengukuran dan mengkomunikasikan biayabiaya aktual perusahaan atau dampak potensial lingkungannya. Biaya ini meliputi biaya-biaya pembersihan atau perbaikan tempat-tempat terkontaminasi, biaya pelestarian lingkungan, biaya hukuman dan pajak, biaya pencegahan polusi teknologi dan biaya manajemen pemborosan. Regulasi mengenai akuntansi pertanggungjawaban sosial di Indonesia telah diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 57 yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Akuntansi dampak lingkungan dari aktivitas perusahaan juga telah diatur SAK. PSAK No. 1 Paragraf 9 telah memberikan penjelasan mengenai penyajian dampak lingkungan berikut : “Perusahaan menyajikan laporan tambahan mengenai lingkungan hidup (atau nilai tambah) khususnya bagi industri dengan sumber daya terkait dengan lingkungan hidup (atau karyawan dan stakeholder lainnya sebagai pengguna laporan keuangan penting)”. Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa akuntansi lingkungan adalah biaya-biaya yang dikeluarkan oleh suatu entitas berkaitan dengan aktivitas lingkungan dengan tujuan untuk menambah referensi para stakeholder dalam pengambilan keputusan yang tidak hanya memperhatikan laba dari suatu entitas, tetapi juga dengan memperhatikan dari aspek lingkungannya.

Teori Sinyal (Signalling Theory) (skripsi dan tesis)

Teori ini menekankan pada pentingnya informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan terhadap keputusan investasi pihak di luar perusahaan. Informasi merupakan catatan penting suatu perusahaan baik di masa lalu, saat ini maupun di masa yang akan datang. Teori Sinyal menunjukkan adanya asimetris informasi antara manajemen perusahaan dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan informasi tersebut dan mengemukakan tentang bagaimana perusahaan memberikan sinyalsinyal kepada pengguna laporan keuangan. Informasi yang dipublikasikan sebagai suatu pengumuman akan memberikan sinyal bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi. Jika pengumuman tersebut mengandung nilai positif, maka diharapkan pelaku pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut dan diterima oleh para pelaku pasar. Menurut Prasetyanigrum (2008) teori sinyal (signaling theory) menjelaskan mengapa perusahaan memiliki dorongan untuk memberikan laporan keuangan kepada pihak eksternal. Dorongan untuk memberikan informasi adalah karena terdapat asimetri informasi antara manajemen perusahaan dan pihak luar (investor). Roida (2008) menyatakan bahwa informasi yang disampaikan oleah pasar atau yang diterima oleh pasar merupakan sebuah sinyal yang dapat bermakna positif atau negatif, tergantung preferensi atas sinyal tersebut. Informasi jika dilihat dalam konteks sinyal dapat meningkatkan reputasi perusahaan, sehingga sinyal merupakan biaya untuk mendapatkan return (tingkat keuntungan) yang diharapkan oleh perusahaan. Salah satu corporate action yang merupakan informasi sekaligus tanda (signal) adalah perusahaan yang mengumumkan aktivitas CSR yang dilakukan oleh perusahaan yang bersangkutan. Roida (2008) juga menegaskan bahwa perusahaan yang sudah menerapkan kebijakan formal berupa CSR akan mengirimkan sinyal positif bagi pasar. Namun jika dihubungkan dengan apa yang dijalankan saat ini dengan reputasi perusahaan di masa lampau seperti perusakan lingkungan (Newmont di Minahasa, Freeport di Papua, dan Shell di Nigeria), eksplotasi buruh (Nike, GAP), melakukan suap untuk mendapatkan proyek, dan melakikan rekayasa keuangan, maka program CSR ini hanya menjadi alat untuk meningkatkan nilai perusahaan dengan mempertahankan sahamnya. Pencitraan sebagai perusahaan dengan budi pekerti yang baik merupakan sebuah metode untuk mentrasnfer rival costs yang harus dikeluarkan perusahaan untuk menghadapi pesaing pada industri sejenis. Sebagai contoh PT H.M Sampoerna, tbk. yang mencitrakan dirinya sebagai perusahaan yang menjalankan CSR melalui kepedulian pada pendidikan yang mana hasilnya diharapkan nilai perusahaan akan mengalami peningkatan atau dengan kata lain tujuan finansial perusahaan akan tercapai (Roida, 2008).

Teori Tanggung Jawab Sosial (Social Responsibility Theory) (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya, konsepsi terhadap tanggung jawab sosial tidak jauh berbeda dengan konesp tanggung jawab pada umumnya. Perbedaannya hanya terletak pada sudut pandangnya saja. Teori tanggung jawab lebih menekankan pada makna tanggung jawab yang lahir dari ketentuan peraturan perundang-undangan, sehingga teori tanggung jawab lebih dimaknai dalam arti liability. Sedangkan teori tanggung jawab sosial (social responsibility theory) sendiri lahir dari kebebasan positif yang menekankan tanggung jawab dalam makna responsibility. Filosofi utama dari tanggung jawab sosial sungguh radikal, karena membatasi kebebasan dalam makna positif. Tetapi, dalam praktiknya teori ini sangat familiar, karena “responsibility” sendiri berate keadaan yang dipertanggungjawabkan, di mana keaadaan yang dipertanggungjawabkan itu membutuhkan campur tangan negara, sebagaimana yang ditunjukkan dalam sejarah kaum libertarian (Sumber: Eka Wenast,  Teori Tanggung Jawab Sosial dalam http://filsafat-eka-wenast.blogspot.com, diakses pada 02 Mei 2017). Bila dikaitkan teori tanggung jawab sosial dengan aktivitas perusahaan, maka dapat dikatakan bahwa tanggung jawab sosial lebih menekankan pada kepedulian perusahaan terhadap kepentingan stakeholders dalam arti luas daripada sekedar kepentingan perusahaan belaka. Dengan demikian, konsep tanggung jawab sosial lebih menekankan pada tanggung jawab perusahaan atas tindakan dan kegiatan usahanya yang berdampak pada orang-orang tertentu, masyarakat dan lingkungan di mana perusahaan tersebut melakukan aktivitas usahanya. Secara negatif hal ini bermakna bahwa perusahaan harus menjalankan aktivitas usahanya sedemikian rupa, sehingga tidak berdampak negatif pada pihakpihak tertentu dalam masyarakat. Sedangkan secara positif hal ini mengandung makna bahwa perusahaan harus menjalankan kegiatannya sedemikian rupa, sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang lebih baik dan sejahtera. Dan untuk itu, harus ada regulasi sebagai acuan penerapan CSR

Teori Stakeholder (Stakeholder Theory) (skripsi dan tesis)

Teori Stakeholder mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun harus memberikan manfaat bagi stakeholder-nya (Ghazali dan Chariri : 2007). Konsep stakeholder pertama kali dikembangkan oleh Freeman (1984) untuk menjelaskan tingkah laku perusahaan (corporate behaviour) dan kinerja sosial (Ghomi dan Leung, 2013). Warsono dkk. (2009) mengemukakan argumen bahwa dasar dari teori kepentingan adalah bahwa perusahaan telah menjadi sangat besar, dan menyebabkan masyarakat menjadi sangat pervasive sehingga perusahaan perlu melaksanakan akuntabilitasnya terhadap berbagai sektor masyarakat dan bukan hanya kepada pemegang saham saja. Stakeholder suatu perusahaan terdiri dari pemegang saham. Kreditor, konsumen, pemasok, karyawan dan komunitas lain seperti masyarakat yang merupakan bagain dari lingkungan sosial. Stakeholder pada dasarnya mengendalikan atau memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pemakaian sumber-sumber ekonomi yang digunakan perusahaan. Menurut Jones dalam Solihin (2009) menjelaskan bahwa stakeholders dibagi dalam dua kategori, yaitu : a) Inside Stakeholders : terdiri atas orang-orang yang memiliki kepentingan dan tuntutan terhadap sumber daya perusahaan serta berada di dalam organisasi perusahaan. pihak-pihak yang termasuk dalam kategori inside stakeholders adalah pemegang saham (stockholders), manajer, dan karyawan. b) Outside stakeholders : terdiri atas orang-orang maupun pihak-pihak yang bukan pemilik perusahaan, bukan pemimpin perusahaan, dan bukan pula karyawan perusahaan, namun memiliki kepentingan terhadap perusahaan dan dipengaruhi oleh keputusan serta tindakan yang dilakukan oleh perusahaan. Pihak-pihak yang termasuk dalam kategori outside stakeholders adalah pelanggan (customers), pemasok (supplier), pemerintah (government), masyarakat lokal, dan masyarakat secara umum. Menurut Soedaryanto (2008) seperti halnya pemegang saham yang mempunyai hak terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan, stakeholder juga mempunyai hak terhadap perusahaan. Teori Stakeholder berhubungan dengan konsep tanggung jawab sosial perusahaan dimana kelangsungan hidup perusahaan dipengaruhi oleh para stakeholder-nya. Tanggung jawab perusahaan tidak hanya terbatas untuk memaksimumkan laba dan kepentingan pemegang saham, namun juga harus memperhatikan masyarakat, pelanggan dan pemasok sebagai bagian dari operasi perusahaan itu sendiri.

Teori Legitimasi (Legitimacy Theory) (skripsi dan tesis)

Teori legitimasi (Legitimacy Theory) berfokus pada interaksi antara perusahaan dengan masyarakat. Teori ini menyatakan bahwa organisasi adalah bagian dari masyarakat sehingga harus memperhatikan norma-norma sosial kemasyarakatan karena kesesuaian dengan norma sosial dapat membuat perusahaan semakin legitimate (sah). Ghozali dan Chariri (2007) menyatakan bahwa hal yang mendasari teori legitimasi adalah kontrak sosial antara perusahaan dengan masyarakat dimana perusahaan beroperasi dan menggunakan sumber ekonomi. Dengan demikian, legitimasi memiliki manfaat untuk mendukung keberlangsungan hidup suatu perusahaan. Grey et al., (1997) berpendapat bahwa legitimasi merupakan sistem pengelolaan perusahaan yang berorientasi pada keberpihakan terhadap masyarakat (society), pemerintah, individu dan kelompok masyarakat. Dasar pemikiran teori ini adalah organisasi atau perusahaan akan terus berlanjut keberadaannya jika masyarakat menyadari bahwa organisasi beroperasi untuk sistem nilai yang sepadan dengan sistem nilai masyarakat itu sendiri. Deegan dan Tobin (2002) menyatakan bahwa legitimasi perusahaan akan diperoleh, jika terdapat kesamaan antara hasil dengan yang diharapkan oleh masyarakat dari perusahaan, sehingga tidak ada tuntutan dari masyarakat. Perusahaan dapat melakukan pengorbanan sosial sebagai refleksi dari perhatian perusahaan terhadap masyarakat. Teori legitimasi menganjurkan perusahaan untuk meyakinkan bahwa aktivitas dan kinerjanya dapat diterima oleh masyarakat. Perusahaan menggunakan laporan tahunan mereka untuk menggambarkan kesan tanggung jawab lingkungan, sehingga mereka diterima oleh masyarakat. Untuk tetap mendapatkan legitimasi maka organisasi perusahaan harus mengkomunikasikan aktivitas lingkungan dengan melakukan pengungkapan lingkungan sosial (Berthelot dan Robert, 2011). Pengungkapan lingkungan dinilai bermanfaat untuk memulihkan, meningkatkan, dan mempertahankan legitimasi yang telah diterima (Hadjoh dan Sukartha, 2013).

Investor Masa Kini (skripsi dan tesis)

Investor masa kini sering disebut investor kontemporer atau trader yaitu investor yang memberikan alasan investasi untuk kepentingan jangka pendek, sesaat, keseharian, dan kekinian. Dengan demikian, pertimbangan kekinian. Dari hasil jawaban informan, maka investor kontemporer lebih dominan memberikan alasan “agar”, sehingga motif pada kategori ini adalah kategori investor bermotif “agar”. Berdasarkan jangka waktu informan melakukan transaksi saham, ada tiga macam pedagang saham (trader) kontemporer, yaitu terdiri dari day trader, swing trader, dan position trader

Alasan Berinvestasi Saham (skripsi dan tesis)

Berdasarkan ke-7 informan yang diwawancarai, maka hampir diperoleh beberapa kesamaan alasan investor dalam berinvestasi dimana alasan ini umumnya mendorong mereka untuk investasi di pasar modal. Alasan-alasan investor dalam berinvestasi ini yang maknanya serupa akan dibuat dalam satu kategori, sehingga diperoleh beberap ketegori. Pengkategori ini sangat perlu karena digunakan sebagai langkah awal dalam membuat konstruksi tingkat berikutnya. Beberapa informan mengemukakan bahwa berbagai alasan mereka berinvestasi di pasar saham tidak terbatas pada satu alasan saja, tetap masing-masing mereka menjawab beberapa alasan berinvestasi. Dari hasil wawancara yang mendalam tersebut dan kemudian bila telah diperoleh data yang telah jenuh maka dianggap informan itu telah memberikan informasi yang absah untuk persoalan jenis pertanyaan tersebut. Berdasarkan jawaban informan atas pertanyaan apa alasan investor dalam penelitian ini berinvestasi di pasar modal, maka informan pertama, WR mengemukakan bahwa alasannya adalah karena ikut-ikutan dan lama-lama tertarik karena enak juga, antisipasi inflasi dan kalau di tabungan hasilnya rendah sekali, mendukung pendapatan dan kalau ditabungan bunganya rendah sekali seperti jawaban dia berikut ini: “Mendukung pendapatan…kalau invest di bank kan bungannya kecil, kalau ada investasi lain kenapa tidak ikut. Dan hal ini tertarik bagi saya karena pertama coba-coba setelah dapat informasi dari teman…eh ternyata enak dan saya pelajari, iya tabungan bunganya kecil, saham lumanyan yang penting kita ngerti dan kita harus baca ekonomi.” Informan selanjutnya adalah RD, mengemukakan alasan dia masuk ke pasar modal karena di saham lebih simple, artinya mudah dan sederhana kalau mau dijual beli seperti jawabannya berikut: “Karena simple, saham itu simple, artinya ya tinggal beli ya kalau mau trading ya trading kalau tidak ya simpan. Habis itu kan ada reksadana…kalau tak mau trading ya beli reksadana.” Selanjutnya informan berikutnya yaitu AM, yang mengatakan bahwa alasan dia investasi adalah memberikan keuntungan besar dibandingkan yang lain tapi risiko juga dipertimbangkannya, dan dia invetasi karena ada uang lebih seperti penuturuannya berikut ini: 21 “Bicara investasi bermacam-macam ada saham, emas dan tanah. Jadi kalau dikatakan investasi kalau nilainya bertambah. Kalau masalah investasi saham high risk high return…tinggi risiko maka tinggi return. Invest di saham karena ingin mendapatkan ketungan besar tapi dengan memperhitungkan risiko juga. Saham memberikan keuntungan besar dari pada emas. Karena saya investasi jangka panjang, investasi di saham BUMN lebih terjamin.” Sedangkan informan lain, ZB menyatakan yang merupakan seorang PNS di Dinas Pendidikan Aceh menyatakan bahwa alasan dia investasi saham adalah karena saham lebih likuid dan saham modalnya tidak besar dan lebih menyakitkan saham, juga di saham lebih terkontrol daripada Forex. “Menyisihkan sumber daya yang kita miliki sekitar 1/3 dari pendapatan kita untuk hari tua dan anak-anak juga, lalu kalau kita modal kecil pergi jualan kan tak mungkin..tapi disaham kita bisa invest kaena modal nya tidak perlu besar. Saya pilih saham karena lebih likuid. Keinginannya udah lama untuk beli tapi dulu tak ada perusahaan sekuritas di Aceh. Juga karena dengan modal kecil dia invest, tapi kalau jualan kan perulu modal lebih besar.” Informan lain adalah Ubaidillah yang merupakan seorang pengusahan transportasi L-300 trayek Barat-Selatan mangatakan bahwa dia invest saham karena kalau di saham risikonya kecil dibandingkan investasi di perkebunan dan simple karena online. Semua sekarang online juga…kalau dulu repot harus telpon broker, sekarang online, seperti peryataanya berikut: “Kalau di saham itu risikonya kecil…. dibandingkan investasi misalnya di perkebunan, itukan bisa aja masih ada faktor x misal di perkebunan, beli tanah, rumah kan mudah sekali jatuh jatuh..contoh kemarin ada Tsunami dan simple karena online. Ditambah lagi sekarang online kan…kalau dulu repot telpon broker kan, sekarang udah online.” Sedangkan informan selanjutnya adalah SH, menyatakan bahwa dia tertaik di saham karena baca buku Robert T. Kiyosaki dan saham itu keuntunganya tinggi dan risiko bisa ditekan, sebagaimana penuturannya berikut: “Saya pertama tertarik dari baca buku Robert T.Kiyosaki mengenai Cash Flow Kuadran, bangaimana dengan punya uang kita bisa usaha, kita bisa kelola sendiri tidak tergantung orang lain, kalau di kedai kopi,,,,bagaimna itu kalau orang yang saring…nyaring kopi itu saket,,,. jadi kita binggung cari gantinya. Saham itu tertingi dibandingkan investasi lainya ada beberapa kenaikan saham dari bulan Januari sanmpai sekarang udah 100 persen, meskipun high return high risk. Ada kecil anak kecil sepeda juga risiko karena tidak tahu rambu..tapi kalau kita dewasa kan kita tahu rambu-rambunya dari risko kecekaan bisa ditekan.” Informan ketujuh yang merupakan informan terakhir yang masih berumur tahun dan berstatus mahasiswa yaitu IB, yang memberikan pernyataan bahwa alasan dia berinvestasi saham adalah karena keuntungan lebih tinggi dari instrumen investasi lain dan juga saham lebih likuid, seperti pernyataanya berikut: “Dulunya saya membaca-baca buku Cash Flow dari Robert T. Kiyosaki tentang pendapatan portfolio, lalu ingin mengetahui lebih lanjut apa itu pendapatan portfolio sepertinya yang paling baik itu saham karena rupanya yang paling baik itu saham karena memberikan return lebih tinggi dari bunga deposito dan lebih likuid dia, kalau properti tinggi juga tapi tidak likuid.” Alasan Berinvestasi Saham (skripsi dan tesis)

Perilaku Investor dalam Berinvestasi (skripsi dan tesis)

Saham Investor merupakan manusia yang punya perasaan dan perilaku yang unik sehingga sebagai manusia mereka merasa lebih dihargaai bila diri mereka itu dipandang sebagai “menjadi manusia” dan bukan hanya atas dasar kemanusiaanya belaka. Sebuah “proses menjadi” itulah bagian dari hakikat diri manusia itu (Kuswantor, 2009; dan Ady, 2013). Dengan demikian, perilaku investor perlu diamati dan diketahui mengenai bagaimana dia memaknai sesuatu tindakannya dalam investasi di pasar modal.

Psikologi Investasi (skripsi dan tesis)

Psikologi investasi adalah ilmu yang mempelajari faktor-faktor psikologis yang memengaruhi keputusan investasi. Dalam hipotesis pasar efisien dan teori portofolio modern, efisiensi pasar terjadi karena faktor investor, berkat informasi yang lengkap, dengan cepat dan rasional menetapkan harga (Hagstrong, 2010). Adapun psikologi Investasi atau bias perilaku pada investor (Pompian, 2006) meliputi : (1) Bias terlalu, percaya diri (overconvidence bias), (2) Overtrading, (3) Cognitive dissonance bias, (4) Representativeness bias (5) Availability bias, (6) Self Atribution bias, (7) Loss aversion bias. Investor profesional terkenal, Waren Buffet, mengemukakan bahwa jika teori pasar efisien benar, maka tidak ada peluang bagi investor untuk dapat menghasilkan kinerja melebihi kinerja pasar, dan tidak ada peluang bahwa seseorang atau sekelompok orang yang sama dapat secara konsisten melakukan hal ini. Tetapi Buffet selama 25 tahun terakhir membuktikan bahwa hal ini memang bisa terjadi. Oleh karena itu terdapat beberapa alasan mengapa teori pasar modal efisien tidak bisa dipertahankan menurut Buffet (dalam Hagstrom, 2010), yaitu, karena investor tidak selalu rasional dan investor tidak memproses informasi dengan benar. Hal ini menunjukkan bahwa seringkali seseorang menjadi tidak rasional bila berhubungan dengan uang dan mengambil keputusan emosional. Oleh karena itu lazim dikatakan oleh para pelaku pasar bahwa musuh terburuk seorang investor adalah dirinya sendiri (Graham dalam Hagstrom, 2010). Artinya bahwa meskipun seseorang memiliki kemampuan yang superior dalam matematika, keuangan dan akuntansi, orang yang tidak menguasai emosi, tidak akan mendapatkan keuntungan dari proses investasi. Wira (2016) menyatakan bahwa ada lima manfaat mempelajari psikologi trading. Pertama, investor lebih memahami diri sendiri, yaitu berusaha memahami diri sendiri sebagai seorang manusia, lengkap dengan kelebihan dan kekurangan. Kedua, investor dapat menggunakan psikologi sebagai alat bantu trading yaitu bisa menggunakan pendekatan baru untuk mengelola emosi sebagai trader dimana pendekatan ini membantu meningkatkan kualitas trading investor. Ketiga, investor lebih memahami pasar. Investor akan memahami latar belakang apa yang menggerakkan pasar secara psikologis sehingga bisa melihat pasar dengan cara yang berbeda. Keempat, investor mengetahui hubungan analisis teknikal dan psikologi. Investor dapat mengetahui cara membaca grafik untuk mengetahui kondisi psikologis pasar sehingga bisa memanfaatkan psikologi massa untuk keuntungan investor. Kelima, membantu meningkatkan profit. Investor dapat belajar untuk mengetahui berbagai kesalahan investasi dan trading yang terpengaruh oleh psikologi sehingga diharapkan bisa mengurangi kesalahan yang sama, dan mendapatkan profit yang lebih besar dalam trading atau investasi. Wira (2011) membagi trader menjadi beberapa tipe, yaitu scalper, day trader, swing trader, position trader dan investor (1) Scalper, arti harfiah dari scalper adalah kutu loncat. Trader hanya menyimpan posisi dalam hitungan detik atau menit. (2) Day Trader. Gaya trading ini mengambil keuntungan dari fluktuasi harga harian. Day trader membuka beberapa posisi dalam sehari, mirip dengan scalper namun dengan time horizon yang lebih panjang. Berkisar antara beberapa menit sampai jam per trading. Biasanya beli pagi jual sore; (3) Swing Trader. Gaya tradirig ini berusaha mengambil keuntungan dari fluktuasi atau goyangan (swing) harga dalam periode lebih panjang. Time horizon nya adalah dalam hitungan hari sampai beberapa minggu; (4) Position Trader. Gaya trading ini menggunakan time horizon yang lebih panjang. Ia bisa membuka posisi sampai hitungan minggu sampai bulan; (5) Investor memiliki gaya

Teori Prospek (skripsi dan tesis)

Adanya kelemahan dari teori utilitas yang diharapkan (teori manfaat harapan) dalam menjelaskan diri perilaku manusia karena mengenyampingkan kemungkinan inkonsistenan perilaku telah menjadi titik tolak dikperkenalkan dan dikembangkannya Teori Prospek (Prospect Theory) oleh Kahneman dan Tversky (1979), di mana teori ini kelak menjadi perhatian para ahli atau cendikia di bidang keuangan. Teori yang mereka kemukakan jelas-jelas bertentangan dengan manfaat harapan (expected utility function) yang banyak dipakai dalam menerangkan proses pengambilan keputusan. Kahneman dan Tversky mengemukankan temuan mereka, bahwa orang cenderung untuk memberikan nilai yang lebih kecil (underweight) pada outcome yang baru “mungkin” terjadi, dibandingkan dengan outcome yang sudah “pasti” terjadi dan cenderung untuk memberikan nilai lebih pada kerugian daripada keuntungan. Pemahaman emosi dapat diperdalam dengan lebih dulu mengenal betul siapa para investor itu sebenarnya. Pompian (2006) menjelaskan lima kelompok kepribadian investor yang telah gambarkan oleh Bailard, Biehl dan Kaiser (1986) yang merupakan sebuah lembaga investasi di Amerika. Pada dasarnya ada lima macam kelompok kepribadian investor di pasar modal, yaitu kelompok petualang (adventurers), kelompok selebriti (celebrities), kelompok individualis (individualists), kelompok wali (guardians), dan kelompok straight arrow. Pertama, kelompok petualang adalah orang-orang yang umumnya tidak mempedulikan risiko, bahkan cenderung untuk menyukainya (risk takers). Kedua, kelompok selebriti, kelompok ini terdiri dari orang-orang yang selalu ingin tampil, menonjol dan menjadi pusat perhatian. Apabila kedua jenis investor petualang dan selebritis ini mendominasi pasar, maka pasar akan jauh dari rasional. Ketiga, kelompok individualis, merupakan orang-orang yang cenderung untuk bekerja sendiri dan tidak peduli pada keputusan investasi orang lain dan mereka cenderung melawan arus tetapi cenderung menghindari risiko yang tinggi dan tidak berkeberatan untuk menghadapi risiko yang moderat.

Teori Keuangan Keperilakuan (skripsi dan tesis)

Teori Keuangan Keperilakuan (Behavioral Finance) secara gamblang dapat diartikan sebagai aplikasi ilmu psikologi dalam disiplin ilmu keuangan (Pompian, 2006). Teori ini mulai berkembang pada tahun 1950-an, di mana Burrell (1951) dan Bauman (1967) pada saat itu telah mulai memasukkan unsur psikologi dalam penelitian mereka. Sementara itu, Slovic (1969, 1972) telah menulis artikel mengenai proses pengambilan keputusan investasi ditinjau dari perspektif behavioral.  Dalam perspektif keuangan modern, khususnya tentang teori keuangan keperilakuan (behavioral finance), keputusan investor dalam melakukan investasi tidak hanya ditentukan oleh estimasi atas prospek instrumen investasi akan tetapi ditentukan juga oleh faktor psikologis investor yang bersangkutan. Bahkan, dikatakan bahwa faktor psikologis investor ini mempunyai peran yang paling besar dan menentukan keputusan investasi (Manurung, 2012).

Teori Investasi (skripsi dan tesis)

Teori investasi pada awalnya diperkenalkan oleh Irving Fisher pada tahun 1930. Pada awalnya teori ini menjelaskan bahwa di pasar modal pada dasarkan ada dua kelompok yang saling berhadapan, namun mempunyai kepentingan dan kesempatan yang sama untuk memetik manfaat yang sebesar-besarnya dari pasar tersebut. Kelompok pertama terdiri atas mereka yang “kekurangan uang”, yang memanfaatkan pasar modal sebesar-besarnya dengan menerbitkan saham atau obligasi. Kelompok ini kemudia disebut kelompok peminjam (borrowers). Kelompok kedua adalah mereka yang mempunyai “kelebihan uang”. Manfaat sebesar-besarnya akan mereka peroleh dengan cara membeli saham atau obligasi yang diterbitkan oleh pihak pertama di pasar modal. Kelompok ini selanjutnya disebut sebagai kelompok penabung (lenders). Investasi adalah sebagai penundaan konsumsi sekarang untuk dimasukkan ke aktiva produktif selama periode waktu tertentu. Dengan adanya aktiva yang produktif, penundaan konsumsi sekarang untuk diinvestasikan ke aktiva yang produktif tersebut akan meningkatkan utilitas total (Asri M., 2013 dan Hartono, 2015).

Teori Perilaku Terencana (skripsi dan tesis)

Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavior – TPB) pertama kali dikemukakan oleh Ajzen (2005) mengemukakan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi niat (intention) untuk melakukan, sedangkan niat dipengaruhi oleh sikap, norma-norma subjektif dan persepsi kontrol perilaku. Sejumlah faktor menjadi latar belakang yang mempengaruhi terbentuknya sikap, norma-norma subjektif dan persepsi kontrol perilaku. Faktor-faktor tersebut meliputi aspek personal, aspek sosial dan informasi. Aspek-aspek personal meliputi sikap secara umum, kepribadian, nilai-nilai yang diyakini, emosi dan intelegensi. Aspek-aspek sosial meliputi usia, gender, ras, etnis, pendidikan, dan kepercayaan (agama). Aspek-aspek informasi meliputi pengalaman, pengetahuan, dan media

Pengertian Perilaku (skripsi dan tesis)

Perilaku adalah setiap kegiatan atau aktivitas yang bisa diobservasi. Dengan dimikian, bicara, tidur, denyut jantung, semua adalah perilaku dalam pengertian ahli psikologi. Oleh karena itu berkenaan dengan laporan seseorang mengenai gagasan atau perasaannya juga disebut perilaku. Perilaku yang terus dilakukan aktivitas yang dapat diobservasi, sedangkan psikologi adalah kajian tentang tingkah laku (Sobur, 2011). Terkait dengan perilaku berinvestasi, Durrand et al. (2008) menyatakan bahwa perilaku yang berkaitan dengan kepribadian investor di Australia berhubungan dengan perilaku perdagangan investor dan kinerja investasi. Individu yang lebih ektrovet, memiliki inovasi yang lebih tinggi terhadap investasi, dan kurang maskulin, mencapai kinerja investasi yang superior. Individu yang memiliki emosi negatif yang lebih tinggi, menyukai risiko, dan lebih terbuka terhadap pengalaman memilih investasi dengan risiko yang lebih tinggi. Emosi negatif yagn lebih tinggi dan kesukaan terhadap risiko yang lebih tinggi berhubungan dengan meningkatnya perilaku perdagangan. De Bond (1998), Davidson dan Griffin (2003) menyatakan bahwa investor dapat dikategorikan berdasarkan psikologi individual masing-masing karena motivator dari pelaku manusia adalah kepribadian. Segala bentuk proses perubahan perilaku yang permanen dan terjadi sebagai hasil dari pengalaman disebut belajar (Robbins, 2002). Proses belajar akan membantu beradaptasi manusia dengan lingkunganya mengenai perilaku. Perilaku yang diikuti oleh konsekuensi-konsekuensi menguntungkan cenderung akan diulangi, dan perilaku yang diikuti oleh konsekuensikonsekuensi yang tidak menguntungkan cenderung untuk tidak diulangi. Konsekuensi dalam terminolgi ini mengarah pada sesuatu yagn dianggap orang menguntungkan seperti uang, pujian, promosi, dan senyuman. Pengalaman dalam berinvestasi menjadi proses pembelajaran, dimana investor yagn leboh berpengalaman akan belajar dari kesalahan masa lalu, menjadi lebih rasional dalam pengambilan keputusan investasi berikutnya. Investor yang berpengalaman memegang portfolio investasi dengan risiko rendah, dan berdagang dengan frekwensi yang lebih rendah, namun setelah melakukan kontrol terhadap pengalaman, ditemukan bahwa investor yang lebih tua memiliki kemampuan menyeleksi saham lebih buruk dan kemampuan diversifikasi yang lebih rendah, sehingga menyiratkan bahwa usia turut berpengaruh pada pengambilan ketputusan investasi (Korniotis dan Kumar, 2006).

Nudge Theory (skripsi dan tesis)

Perilaku keuangan bertentangan dengan teori tradisional. Teori tradisional berasumsi bahwa investor berperilaku rasional dengan memaksimalkan utilitas yang diharapkan di pasar yang efisien. Sedangkan, perilaku keuangan berasumsi bahwa beberapa investor tidak sepenuhnya rasional, baik karena preferensi atau karena keyakinan yang salah dan dalam beberapa keadaan, pasar tidak efisien (Ritter, 2003). Kemudian para pakar ekonomi melakukan pengembangkan perilaku keuangan. Hal tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan teori tradisional dalam menjelaskan fenomena-fenomena anomaly yang terjadi di pasar modal (Ritter, 2003). Perilaku keuangan telah merevolusi cara berpikir mengenai investasi, di mana perilaku keuangan menggabungkan bidang investasi dengan biologi dan psikologi (Byrne dan Brooks, 2008). Salah satu pakar ekonomi adalah Richard H. Thaler. Ia adalah pencetus “Nugde Theory”, oleh karenanya ia mendapat hadiah nobel Economics Prize pada tahun 2017. Ia menghabiskan waktu selama 40 tahun untuk mendalami perilaku keuangan. Teori Nudge menjadi penghubung antara ekonomi dan analisis psikologi dari membuat keputusan individual (Isidore, 2017).  Teori Nudge berkaitan dengan desain pilihan, dimana didalamnya menyangkut apa yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan seseorang. Dasar merancang pilihan adalah pada bagaimana orang benar-benar berpikir dan memutuskan secara naluriah dan tidak rasional (Thaler dan Sunstein, 2008). Manusia mudah dipengaruhi oleh pernyataan dan perbuatan orang lain. Oleh karena itu, adanya pengaruh sosial dapat menyebabkan orang memiliki keyakinan yang salah atau bias (Thaler dan Sunstein, 2008).

Volatilitas Harga Saham (skripsi dan tesis)

Volatilitas adalah pengukuran statistik untuk fluktuasi harga selama periode tertentu Firmansyah(2006). Volatilitas return saham merupakan ukuran ketidakpasatian pergerakkan harga saham dimasa yang akan datang atau bisa disebut juga dengan resiko yang akan dihadapi oleh investor. Volatilitas harga pada waktu ke-t diduga pada waktu t-1 sehingga menggunakan pengukuran standar deviasi. Volatilitas psasar terjadi akibat masuknya informasi baru ke dalam pasar atau bursa. Dalam volatilitas, fluktuasi harga saham tersebut menunjukkan penurunan dan peningkatan harga dalam periode dan tidak mengukur tingkat harga, namun derajat variasinya dari satu period eke periode berikutnya. Volatilitas dapat didefinisikan sebagai fluktuasi dari returnreturn suatu sekuritas atau portofolio dalam suatu periode waktu tertentu. Jika fluktuasi return-return suatu sekuritas atau portofolio dalam suatu periode waktu tertentu. Jika fluktuasi return-return sekuritas atau portofolio secara statistik mengikuti fluktuasi dari return-return pasar menurut Jogiyanto(2000).

Penyebab Perilaku Herding (skripsi dan tesis)

Menurut Chang(2000) memberikan empat alasan mengapa perilaku herding dapat terjadi di pasar modal, berikut pembahasannya: a. Investor mengolah informasi yang sama. Pada pasar yang sedang berkembang memiliki keterbatasan informasi mikro dan lebih berfokus pada informasi makro. b. Investor memilih saham dengan mempertimbangkan ciri-ciri umum yaitu saham yang prudent, liquid, dan better-know. c. Berdasarkan penelitian Sharma(2001) manajer investasi terbagi menjadi dua, yaitu yang memiliki kemampuan tinggi dan yang memiliki kemampuan rendah. Kecenderungan manajer investasi dengan kemampuan yang rendah cenderung mengikuti keputusan investasi manajer dengan kemampuan tinggi. d. Para manager investasi mengikuti valuasi harga saham dari manajer investasi lainnya. Hal ini menguatkan dugaan kemungkinan perilaku (herding) oleh investor institusi cenderung terjadi karena adanya tekanan peer pressure antar sesama manajer keuangan.

Efficient Market Hypothesis (skripsi dan tesis)

Efficient Market Hypothesis (EMH) adalah teori yang menjelaskan bagaimana harga suatu pasar terbentuk karena adanya informasi baru yang direspon oleh investor (Fama, 1970). Teori efficient market hypothesis menjelaskan harga suatu pasar sudah mencerminkan seluruh informasi yang ada. Dengan munculnya teori pasar yang efisien maka para investor berusaha agar yang dilakukan selalu mendapatkan hasil terbaik dengan memaksimalkan kinerja nya, kemudian akan berdampak pada pendapatan yang di harapkan. Para investor di pasar modal mengharapkan pasar yang efisien karena dapat menentukan perilaku berinvestasi dalam mencari abnormal return (imbal balik) yang dapat melebihi ekspektasi imbal balik pasar. Menurut Fama (1970), Efficient Market Hypothesis dikategorikan dalam 3 bentuk menurut definisi ketersediaan informasi antara lain adalah weak, semistrong, dan strong. Berikut ini adalah penjelasannya: a. Hipotesis pasar efisien bentuk lemah (weak form market hypothesis) Investor bisa mendapatkan informasi dengan bebas dan tanpa biaya, oleh karena itu para investor akan cepat bereaksi terhadap sinyal yang terbentuk di pasar. Harga saham telah mencerminkan seluruh informasi yang tersedia di pasar seperti harga historical, volume perdagangan, dan suku bunga jangka pendek. Pasar yang seperti ini adalah bentuk lemah. 17 b. Hipotesis pasar efisien bentuk setengah kuat (semi strong market hypothesis) Semua data publik yang tersedia dan berhubungan dengan prospek perusahaan sudah harus tercermin di dalam harga pasar. Data-data yang dimaksud adalah data yang dipakai versi weak ditambah dengan data fundamental perusahaan, kualitas management, prediksi pendapatan, dan informasi neraca perusahaan. Sehingga apabila investor mendapatkan informasi ini dengan mudah, maka akan langsung tercermin pada harga pasar. c. Hipotesis pasar efisien bentuk kuat (strong market hypothesis) Semua informasi apapun yang berhubungan dengan perusahaan tersebut, baik informasi yang dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan. Pasar seperti inilah ekspektasi investor untuk mendapatkan keuntungan yang diharapkan. Dengan pemberitahuan informasi secara terbuka sehingga dapat melakukan analisis terhadap pasar di masa yang akan datang akan mudah dan tepat. Berdasarkan penelitian Khajar (2008), uji-run dan uji autokorelasi baik pada periode krisis moneter maupun pada paska krisis moneter Bursa efek Indonesia sudah efisien dalam bentuk lemah, hal ini ditunjukkan oleh harga saham yang bersifat random. Oleh karena itu investor tidak dapat menggunakan harga periode yang lalu untuk memprediksi harga saat ini, karena informasi masa lalu sudah terserap pada harga-harga saham diperiode yang lalu juga. Keadaan ini disebut sebagai bentuk efisiensi yang lemah (weak form efficiency). 18 Kondisi pasar modal bentuk lemah (weak form) memberikan kemudahan bagi para investor untuk mendapatkan informasi terkini mengenai perkembangan pasar secara mudah, Investor akan berbondong-bondong untuk melakukan pembelian karena percaya bahwa harga saham sudah mencerminkan semua informasi yang ada, harga saham tersebut bisa menyesuaikan sendirinya sesuai keadaan pasar saat ini. Pada saat investor membeli saham di pasar modal maka saham tersebut menjadi trend perdagangan, maka investor lain tertarik untuk membeli saham dengan harapan return tinggi sehingga harga saham tersebut dapat menyesuaikan harga dengan sendirinya karena banyak yang mencari saham tersebut, hal ini mencerminkan pasar modal di Indonesia dalam kondisi efisiensi pasar dalam bentuk lemah (weak form). Para Investor saham dalam melakukan analisis pasar dilakukan dengan dua cara yaitu: a. Technical analysis dengan strategi mengamati pergerakan harga saham historical. Cara tersebut dengan membaca trend pergerakan harga saham sehingga dapat mengetahui abnormal return perusahaan dimasa yang akan datang. b. Fundamental analysis melihat pada kinerja laporan keuangan, para pelaku pasar modal mencari informasi financial statement untuk mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai kinerja keuangan perusahaan, dengan meneliti kembali transaksi-transaksi yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan secara signifikan.

Efficient Market Hypothesis. (skripsi dan tesis)

Hartono menjelaskan bahwa perubahan harga suatu sekuritas saham di waktu yang lalu tidak dapat digunakan dalam memperkirakan perubahan harga di masa yang akan datang. Perubahan harga saham di dalam pasar efisien mengikuti pola random walk, dimana penaksiran harga saham tidak dapat dilakukan dengan melihat kepada harga-harga historis dari saham tersebut, tetapi lebih berdasarkan pada semua informasi yang tersedia dan muncul dipasar. Informasi yang masuk ke pasar dan berhubungan dengan suatu sekuritas saham akan mengakibatkan kemungkinan terjadinya pergeseran harga keseimbangan yang baru. Jika pasar bereaksi dengan cepat dan akurat terhadap suatu informasi yang masuk dan segera membentuk harga keseimbangan yang baru, maka kondisi pasar yang seperti ini yang disebut dengan pasar efisien. a. Efisiensi pasar bentuk lemah (weak form). Pasar dikatakan efisien dalam bentuk yang lemah adalah apabila harga-harga dari saham atau sekuritas mencerminkan secara penuh (fully reflect) informasi masa lalu. Informasi dikatakan masa lalu jika informasi tersebut sudah terjadi. Bentuk efisiensi pasar secara lemah ini sangat berkaitan dengan teori langkah acak (random walk theory) yang menyatakan bahwa data masa lalu tidak dapat dihubungkan dengan nilai yang sekarang. Dengan begini nilai-nilai di masa lalu tidak dapat digunakan untuk memprediksi harga sekarang. b. Efisiensi pasar bentuk setengah kuat (semistrong form). Pasar dapat dikatakan efisien setengah kuat jika harga-harga sekuritas saham secara penuh mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan (all publicly available information) termasuk informasi yang berada di laporan-laporan keuangan. c. Efisiensi pasar bentuk kuat (strong form). Pasar dapat dikatakan efisien dalam bentuk yang kuat apabila harga-harga sekuritas saham secara penuh mencerminkan seluruh informasi yang tersedia termasuk informasi yang sangat rahasia sekalipun. Jika pasar efisien dalam bentuk ini memang ada, maka individual investor atau grup dari investor yang mendapatkan keuntungan yang tidak normal (abnormal return).  Capital Asset Pricing Model. Capital Asset Pricing Model (CAPM) merupakan model untuk menentukan harga suatu asset. Model ini mendasarkan diri pada kondisi ekuilibrium. Dalam keadaan ekuilibrium, tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemodal untuk suatu saham akan dipengaruhi oleh risiko saham.2 Model CAPM diperkenalkan oleh Treynor, Sharpe dan Litner. Model CAPM merupakan pengembangan teori portofolio yang dikemukan oleh Markowitz dengan memperkenalkan istilah baru yaitu risiko sistematik (systematic risk) dan risiko spesifik/risiko tidak sistematik (spesific risk /unsystematic risk). Pada tahun 1990, William Sharpe memperoleh nobel ekonomi atas teori pembentukan harga aset keuangan yang kemudian disebut Capital Asset Pricing Model (CAPM). Pada CAPM, portofolio pasar sangat berpengaruh karena diasumsikan bahwa risiko yang relevan adalah risiko sistematis yang diukur dengan beta (tingkat sensitivitas return sekuritas terhatadap perubahan return pasar). Kelebihan beta terletak pada stabilitasnya, bahwa “Beta yang dihitung berdasarkan data historis dapat digunakan untuk mengestimasi beta di masa datang.  Bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa beta historis mampu menyediakan informasi tentang beta masa depan.” Pada CAPM, semua faktor makro disatukan ke dalam satu faktor, yaitu return market portofolio. CAPM merupakan model yang bisa menggambarkan atau memprediksi realitas di pasar yang bersifat komplek, meskipun bukan kepada realitas asumsi-asumsi yang digunakan. Oleh karena itu, CAPM sebagai salah satu model keseimbangan dapat membantu untuk menyederhanakan gambaran nyata hubungan antara risk dan return. Perhitungan CAPM didasarkan pada kondisi ekulibrium (seimbang). “Ekuilibrium pasar terjadi jika harga-harga dari aktiva berada di suatu tingkat yang tidak dapat memberikan insentif lagi untuk melakukan perdagangan spekulatif”.  Pada kondisi ekuilibrium, tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh investor untuk suatu saham akan dipengaruhi oleh risiko saham tersebut. Risiko saham dalam CAPM diukur dengan beta (β). Dalam CAPM, tingkat pengembalian yang diharapkan [E(Ri)] ditentukan oleh tingkat pengembalian pasar (Rm), tingkat pengembalian bebas risiko (Rf), dan risiko sistematis (β). Dengan metode CAPM, investor diharapkan dapat mengukur kinerja saham

Pasar Efisien dan Perspektif Investor (skripsi dan tesis)

Menurut Weston dan Copeland (1995, dalam Irham Fahmi dan Yovi Lavianti, 2011:182) pasar efisien adalah suatu kondisi mengenai informasi bahwa semua harga dapat diperoleh secara terbuka tanpa hambatan khusus. Menurut Fama (1970) dalam Jogiyanto (2009:503) pengertian pasar efisien adalah suatu pasar sekuritas dikatakan efisien jika harga-harga sekuritas mencerminkan secara penuh informasi yang tersedia, baik di masa lalu dan saat ini. Fama (1970) dalam Irham Fahmi dan Yovi Lavianti (2011:185) membedakan efisiensi pasar modal ke dalam 3 (tiga) bentuk yaitu: 1. Efisiensi bentuk lemah (weak form efficiency) Pasar modal dikatakan memiliki efisiensi bentuk lemah jika harga saham mencerminkan informasi harga saham di masa lalu. Harga saham tidak menggunakan informasi seperti earnings, forecasts, merger announncements, atau money supply. Bentuk efisiensi ini menunjukkan tidak seorangpun investor mendapatkan keuntungan di atas normal (abnormal return), karena pergerakan harga sekuritas yang acak mempersulit untuk memprediksi arah perubahan harga di periode yang akan datang. 2. Efisiensi bentuk setengah kuat (semi – strong form efficiency) Pasar modal dikatakan efisiensi bentuk setengah kuat jika harga saham mencerminkan semua informasi publik yang ada. Informasi publik yang ada seperti penerbitan laporan keuangan perusahaan. Informasi publik akan mencerminkan harga saham secara cepat dan tidak bias. Investor tidak akan memperoleh keuntungan di atas normal (abnormal return) dengan membeli saham atas dasar suatu publikasi. 3. Efisiensi bentuk kuat (strong form efficiency) Pasar modal dikatakan efisiensi dalam bentuk kuat jika harga saham mencerminkan semua informasi baik publik maupun private. Dalam efisiensi bentuk kuat tidak ada informasi yang dirahasiakan. Dalam perspektif seorang investor terciptanya pasar efisien sangat diharapkan. Kondisi pasar yang efisien memberikan informasi harga yang tidak bias, serta menyediakan informasi yang terbuka sehingga dapat membantu memperjelas reaksi investor dalam pengambilan keputusan. Dalam kondisi pasar yang tidak efisien, investor hanya menggunakan perkiraan-perkiraan dan bersifat tidak pasti. (Irham Fahmi dan Yovi Lavianti, 2011)

Penyebab Herding Behavior (skripsi dan tesis)

Herding behavior terjadi dikarenakan oleh kurang transparan informasi yang tersedia di pasar. Para investor merasa informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan investasi kurang memadai. Menurut Kremer dan Nautz (2012) perilaku herding terjadi ketika pasar tidak transparan, yaitu apabila investor menghadapi ketidakpastian sumber informasi publik dan menerima ketidakjelasan sinyal tentang perusahaan di masa depan. Hirshleifer dan Teoh (2003) dan Brunnermeier (2001), dalam Chang, Cheng, dan Khorana (1999) memberikan empat alasan mengapa investor institusi bertransaksi pada arah yang sama : a. Pertama, investor mengolah informasi yang sama. b. Kedua, investor lebih memilih saham dengan ciri-ciri yang umum yaitu “better-known” dan “liquid”. c. Para manajer cenderung mengikuti langkah transaksi yang diikuti oleh manajer lain untuk menjaga reputasinya. d. Para manajer mengikuti valuasi harga saham dari manajer lainnya (Guiterrez dan Kelley, 2009). Menurut Bikchandani dan Sharma (2001, dalam Iman, 2012), saat memiliki keterbatasan informasi, investor akan mengikuti gerakan investor lain dalam mengambil keputusan berinvestasi yang pada akhirnya akan mengabaikan signal miliknya dan mengikuti keputusan mayoritas (herding behavior) dan membentuk suatu “information cascade”

Pengertian Herding Behavior (skripsi dan tesis)

Herding behavior adalah salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengetahui perilaku investor. Herding behavior dipengaruhi oleh faktor psikologis yang menuntun investor untuk melakukan tindakan yang kurang logis terutama pada saat terjadi krisis di pasar modal. Herding behavior adalah sekelompok grup investor yang mengikuti arahan yang sama (Nofsinger dan Sias,1999). Terjadinya herding behavior adalah saat investor yang memiliki sedikit informasi mengenai fundamental perusahaan di pasar modal dapat mempengaruhi investor yang memiliki pengetahuan lebih baik mengenai pasar modal tersebut untuk mengikuti arahan konsensus pasar. Chang, Cheng, dan Khroana (1999) mengatakan bahwa perilaku herding dapat dilakukan oleh investor atau manajer keuangan baik dengan motif rasional maupun irasional. Manajer keuangan melakukan herding dengan alasan rasional saat manajer meniru aksi dari manager lain dengan tujuan menjaga reputasi manajerial di pasar (Scharfstein dan Stein,1990). Herding behavior memiliki hubungan dengan teori efisiensi pasar (Efficient Market Hypothesis). Teori efisiensi pasar menunjuk bahwa semua investor bersifat rasional dan mendapatkan informasi yang sama, lalu investor akan membuat ekspektasi harga saham yang sama lalu membuat harga saham lebih efisien, artinya harga saham mencerminkan informasi yang tersedia di pasar dan nilai sekuritas yang sesungguhnya (Fama, 1970). Investor akan mendapatkan harga saham dengan melakukan observasi dan mengikuti tindakan investor lain karena tidak semua partisipan di pasar mendapatkan informasi yang lengkap (Lao dan Singh, 2011).

Saham Liquid 45 (LQ45) (skripsi dan tesis)

Bursa Efek Indonesia menjelaskan pengertian dari Liquid 45 (LQ45) adalah 45 perusahaan di dalam Bursa Efek Indonesia yang terpilih menjadi 45 perusahaan dengan saham terbaik. Saham perusahaan yang termasuk di dalam Liquid 45 (LQ45) adalah saham yang memiliki likuiditas tinggi dan nilai kapitalisasi pasar yang besar, serta kondisi keuangan dan prospek pertumbuhan perusahaan tersebut. Bursa Efek Indonesia secara rutin memantau perkembangan kinerja komponen saham yang masuk dalam penghitungan indeks LQ45. Penggantian saham yang termasuk dalam Liquid 45 (LQ45) akan dilakukan setiap enam bulan sekali, yaitu pada awal bulan Februari dan Agustus. Saham-saham yang termasuk di dalam Liquid 45 (LQ45) nantinya akan diperhitungkan dalam penghitungan indeks LQ45. Kriteria pemilihan saham yang termasuk di Liquid 45 (LQ45) adalah : 1. Telah tercatat di BEI minimal 3 bulan. 2. Aktivitas transaksi di pasar reguler, yaitu nilai, volume, dan frekuensi transaksi. 3. Jumlah hari perdagangan di pasar reguler 4. Kapitalisasi pasar pada periode waktu tertentu. 5. Selain mempertimbangkan kriteria likuiditas dan kapitalisasi pasar tersebut diatas, dilihat juga keadaan keuangan dan prospek pertumbuhan perusahaan tersebut. Dalam kasus herding behavior, saham yang termasuk dalam liquid 45 adalah saham yang diminati oleh para investor baik investor asing maupun investor domestik. Saham yang termasuk di dalam liquid 45 dinilai mudah untuk diperdagangkan di bursa saham. Pada dasarnya seorang investor tidak begitu menyukai resiko, oleh karena itu investor akan membeli saham yang termasuk kategori terbaik untuk meminimalkan resiko di pasar modal tersebut. Investor asing memiliki modal yang lebih besar, oleh karena itu investor asing akan membeli saham di liquid 45 dalam jumlah besar pula. Tindakan pembelian saham dalam jumlah besar ini tentunya berpengaruh terhadap sentimen pasar, dan nantinya akan mempengaruhi minat investor lokal untuk ikut membeli saham yang terdaftar di dalam liquid 45. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Iman (2012), ditemukan hasil bahwa keputusan investasi yang dilakukan oleh investor lokal sering mengikuti keputusan investasi yang dilakukan oleh investor asing, termasuk dalam investasi saham. Perilaku pengikutan yang dilakukan oleh investor lokal ini dapat mencerminkan indikasi adanya herding behavior.

Cognitive Illusions dalam Behavioral Finance (skripsi dan tesis)

Thaversky dan Kahneman (1974) menjelaskan bahwa terdapat 3 faktor pada perilaku manusia yang bertentangan dengan asumsi yang mendasari model ekonomi klasik dalam pengambilan keputusan. Fenomena ini disebut sebagai “cognitive illusions” karena terkait dengan persepsi yang sering kali menimbulkan error atau kesalahan persepsi. a. Risk attitudes Investor lebih memilih sebuah investasi yang memberikan tingkat pengembalian yang pasti dibandingkan dengan investasi yang tidak pasti tingkat pengembaliannya. Terdapat hubungan yang positif antara tingkat resiko dengan tingkat keuntungan yang diharapkan oleh investor, semakin tinggi resiko yang ditanggung semakin tinggi pula return yang akan didapatkan oleh investor. b. Mental accounting Mental accounting menunjuk pada kecenderungan investor untuk mengelompokkan keuangan pada rekening yang berbeda dan didasarkan pada kriteria-kriteria yang subjektif, seperti sumber pendanaan dan pemanfaatan penghasilan. Pengalokasian fungsi yang berbeda pada setiap rekening membuat keputusan keuangan yang diambil seringkali menyimpang dari konsep ekonomi konvensional. c. Overconfidence Subjek overconfidence dalam financial behavior diteliti oleh Daniel dan Titman (1999, dalam Iman, 2012) menjelaskan bahwa keyakinan berlebihan yang dimiliki investor kepada dirinya dapat mempengaruhi pergerakan harga saham, terutama saham yang memerlukan interpretasi lebih lanjut pada penilaiannya. Manusia memiliki kecenderungan untuk terlalu yakin akan kemampuan dan prediksinya untuk selalu berhasil, inilah yang dikenal sebagai overconfidence.

Pengertian Behavioral Finance (skripsi dan tesis)

Menurut Ricciardi dan Simon (2000:2) Behavioral Finance mencoba untuk menjelaskan peningkatan pemahaman tentang pola dari alasan investor termasuk aspek emosional dan derajat aspek tersebut dalam mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Behavioral Finance mencoba untuk mencari jawaban atas Apa (What), Mengapa (Why), dan Bagaimana (How) keuangan dan investasi dari sudut pandang manusia. Behavioral Finance tidak mencoba untuk menjelaskan perilaku rasional atau pembuatan keputusan seperti bias, tetapi untuk memahami dan memprediksi implikasi sistematis pasar keuangan pada proses psikologi (Olsen, 1998:11). Dapat disimpulkan bahwa behavioral finance merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana manusia mengambil tindakan pada proses pengambilan keputusan investasi sebagai respon dari informasi yang telah diperoleh. Ricciardi dan Simon (2000) membagi tiga kelompok individu yang memiliki kepentingan dalam behavioral finance, yaitu : 1. Individual, yang terdiri dari small investor, portofolio manager, dan pension board. 2. Kelompok, yang terdiri dari investor dan reksadana (portfolio) 3. Organisasi, sebagai contoh institusi finansial

Klasifikasi Sektor Industri di Bursa Efek Indonesia (skripsi dan tesis)

Jakarta Stock Industrial Clasification (JASICA) diperkenalkan pada tanggal 2 Januari 1996 oleh Bursa Efek Indonesia. Sistem klasifikasi sektoral digunakan untuk mengkategorikan perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Bursa efek menghitung indeks sektoral sebagai indikator kinerja masing-masing grup industri. Berdasarkan artikel yang dipublikasi oleh perusahaan Manulife Aset Management (2015) menyebutkan bahwa indeks saham tersusun dari berbagai saham perusahaan yang bergerak di berbagai bidang usaha atau industri. Untuk itu dibuatlah klasifikasi industri dengan tujuan memudahkan evaluasi yang dibutuhkan pada saat : a. Membandingkan kinerja satu saham dalam industri tertentu terhadap kinerja keseluruhan industri tersebut b. Membandingkan kinerja antar industri yang berbeda di suatu negara c. Membandingkan kinerja industri yang sama di negara yang berbeda Pengeklasifikasian atau pengelompokan sektor industri dilakukan dengan membagi menjadi sembilan sektor industri, yaitu: agriculture, mining, basic industry and chemicals, miscellaneous industry, consumer goods industry, property real estate and building, infrastructure utilities and transpotasion, finance, dan terakhir trade service and investment. Dalam pendeteksian herding behavior dapat lebih jelas dan detail jika diteliti pada masing-masing klasifikasi industri. Penelitian Vania (2015) tidak menemukan perilaku herding baik pada keseluruhan saham LQ45 baik pada saat pasar naik maupun turun, hal ini terjadi salah satunya karena peneliti tidak membagi sampel ke dalam masing-masing kategori portofolio atau dalam konteks ini klasifikasi sehingga tidak dapat diketahui pada bagian mana herding terjadi.

Efficient Market Hypothesis (skripsi dan tesis)

Menurut Bodie et al., (2005) hipotesis pasar yang efisien adalah ketika harga saham sudah mencerminkan semua informasi yang tersedia. Fama (1970) berpendapat Efficient Market Hypothesis (EMH) adalah teori yang menjelaskan bagaimana harga suatu pasar terbentuk karena adanya informasi baru yang direspon oleh investor, dan dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu: a. hipotesis pasar efisien bentuk lemah ketika harga saham telah mencerminkan seluruh informasi yang tersedia di pasar seperti harga historical, volume perdagangan, dan suku bunga jangka pendek. b. hipotesis pasar efisien bentuk setengah kuat ketika semua data publik yang tersedia dan berhubungan dengan prospek perusahaan sudah harus tercermin di dalam harga pasar. Data yang dimaksud adalah data yang dipakai versi weak ditambah dengan data fundamental perusahaan, kualitas manajemen, prediksi pendapatan, dan informasi neraca perusahaan. c. hipotesis pasar efisien bentuk kuat ketika semua informasi apapun yang berhubungan dengan perusahaan tersebut, baik informasi yang dipublikasikan, tidak dipublikasikan sudah harus tercemin pada harga pasar. Pasar seperti inilah ekspektasi investor untuk mendapatkan keuntungan yang diharapkan.

Penyebab Perilaku Herding (skripsi dan tesis)

Chang et al. (2000) memberikan empat alasan mengapa perilaku herding dapat terjadi di pasar modal, berikut pembahasanya: a. investor mengolah informasi yang sama. Pada pasar yang sedang berkembang memiliki keterbatasan informasi mikro dan lebih berfokus pada informasi makro. b. investor memilih saham dengan mempertimbangkan ciri-ciri umum, yaitu saham yang prudent, liquid, dan better-know. c. berdasarkan penelitian Sharma (2001) manajer investasi terbagi menjadi dua, yaitu yang memiliki kemampuan tinggi dan yang memiliki kemampuan rendah. Kecenderungan manajer investasi dengan kemampuan yang rendah cederung mengikuti keputusan investasi manajer dengan kemampuan tinggi. d. para manager investasi mengikuti valuasi harga saham dari manajer lainnya. Hal ini menguatkan dugaan kemungkinan perilaku (herding) oleh investor institusi cenderung terjadi karena adanya tekanan peer pressure antar sesama manajer keuangan

Pengertian perilaku Herding (skripsi dan tesis)

Asal mula herding bermula dari pemikiran Kynes (1936) yang menjelaskan manusia adalah animal social, yaitu manusia mempunyai naluri dasar dari hewan. Naluri dasar yang dimaksud adalah naluri binatang untuk mengikuti arah yang sama dengan kawananya, maka muncul istilah herd yang berarti sekumpulan. Herding menurut Saasta Moinen (2008) adalah perilaku investor menjual atau membeli saham tanpa menghiraukan alasan yang mendasarinya untuk melakukan investasi. Menurut Devenow (1996), herding terjadi saat investor mengabaikan keyakinan pribadinya dan lebih meyakini keyakinan investor lain tanpa berfikir panjang ditinjau dari sisi psikologis.

Behavior Finance (skripsi dan tesis)

Menurut Shefrin (2002) perilaku keuangan merupakan hasil dari interaksi dari psikologis dengan tingkah laku keuangan dan performa dari semua tipe kategori investor. Pembahasan terkait perilaku keuangan juga dilakukan oleh Tilson (2005) menyatakan bahwa perilaku keuangan adalah suatu teori yang didasarkan atas ilmu psikologi yang berusaha memahami bagaimana emosi dan penyimpangan kognitif mempengaruhi perilaku investor. Ritter (2003) berpendapat bahwa perilaku keuangan adalah perilaku yang didasarkan atas psikologi yang mempengaruhi proses keputusan yang tunduk kepada beberapa ilusi kognitif. Ilusi ini dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu ilusi yang disebabkan karena proses keputusan yang bersifat heuristik dan ilusi yang diadopsi dari mental frame yang ada pada teori prospek. Bodie, Kane, dan Marcus (2009), menjelaskan ada dua pemikiran, bahwa investor tidak selalu dapat memproses data dengan cara yang benar sehingga menciptakan probabilitas distribusi yang salah terhadap prediksi imbal balik masa depan. Kedua, jika distribusi dalam keadaan sebenarnya, investor cenderung juga membuat keputusan yang tidak optimal. Dua pemikiran ini menguatkan bahwa investor dapat mengambil keputusan secara irasional. Behavior finance dimasukkan dalam pengambilan keputusan karena bisa menjadi faktor penggerak harga pasar.

Behavior Finance (skripsi dan tesis)

Menurut Shefrin (2002) perilaku keuangan merupakan hasil dari interaksi dari psikologis dengan tingkah laku keuangan dan performa dari semua tipe kategori investor. Pembahasan terkait perilaku keuangan juga dilakukan oleh Tilson (2005) menyatakan bahwa perilaku keuangan adalah suatu teori yang didasarkan atas ilmu psikologi yang berusaha memahami bagaimana emosi dan penyimpangan kognitif mempengaruhi perilaku investor. Ritter (2003) berpendapat bahwa perilaku keuangan adalah perilaku yang didasarkan atas psikologi yang mempengaruhi proses keputusan yang tunduk kepada beberapa ilusi kognitif. Ilusi ini dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu ilusi yang disebabkan karena proses keputusan yang bersifat heuristik dan ilusi yang diadopsi dari mental frame yang ada pada teori prospek. Bodie, Kane, dan Marcus (2009), menjelaskan ada dua pemikiran, bahwa investor tidak selalu dapat memproses data dengan cara yang benar sehingga menciptakan probabilitas distribusi yang salah terhadap prediksi imbal balik masa depan. Kedua, jika distribusi dalam keadaan sebenarnya, investor cenderung juga membuat keputusan yang tidak optimal. Dua pemikiran ini menguatkan bahwa investor dapat mengambil keputusan secara irasional. Behavior finance dimasukkan dalam pengambilan keputusan karena bisa menjadi faktor penggerak harga pasar.

Metode Analisis Laporan Keuangan (skripsi dan tesis)

Menurut Kasmir (2012:69), dalam praktiknya terdapat dua macam metode analisis laporan keuangan yang biasa dipakai, yaitu: 1. Analisis Vertikal (Statis) Analisis vertikal merupakan analisis yang dilakukan terhadap hanya satu periode laporan keuangan saja. Analisis dilakukan antara pos-pos yang ada  dalam satu periode. Informasi yang diperoleh hanya untuk satu periode saja dan tidak diketahui perkembangan dari periode ke periode. 2. Analisis Horizontal (Dinamis) Analisis horizontal merupakan analisis yang dilakukan dengan membandingkan laporan keuangan untuk beberapa periode. Dari hasil analisis ini akan terlihat perkembangan perusahaan dari periode satu ke periode yang lain

Tujuan dan Manfaat Analisis (skripsi dan tesis)

Menurut Kasmir (2012:68), ada beberapa tujuan dan manfaat bagi berbagai pihak dengan adanya analisis laporan keuangan. Secara umum dikatakan bahwa tujuan dan manfaat analisis laporan keuangan adalah: 1. Untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan dalam satu periode tertentu, baik harta, kewajiban, modal, maupun hasil usaha yang telah dicapai untuk beberapa periode. 2. Untuk mengetahui kelemahan-kelemahan apa saja yang menjadi kekurangan perusahaan. 3. Untuk mengetahui kekuatan-kekuatan yang dimiliki. 4. Untuk mengetahui langkah-langkah perbaikan apa saja yang perlu dilakukan ke depan yang berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan saat ini. 5. Untuk melakukan penilaian kinerja manajemen ke depan apakah perlu penyegaran atau tidak karena sudah dianggap berhasil atau gagal. 6. Dapat juga digunakan sebagai pembanding dengan perusahaan sejenis tentang hasil yang mereka capai

Pengertian Analisis Laporan Keuangan (skripsi dan tesis)

Menurut Munawir (2010:35), “analisis laporan keuangan adalah analisis laporan keuangan yang terdiri dari penelaahan atau mempelajari daripada hubungan dan tendensi atau kecenderungan (trend) untuk menentukan posisi keuangan dan hasil operasi serta perkembangan perusahaan yang bersangkutan”. Menurut Sofyan Syafri Harahap (2009:190), analisis laporan keuangan yaitu: “Menguraikan akun-akun laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang mempunyai makna antara yang satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif maupun data non kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat.” Menurut Leopold A. Bernstein dikutip oleh Dwi Prastowo (2011:56), analisis laporan keuangan yaitu: “Suatu proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan utama untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang.” Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa analisis laporan keuangan merupakan proses untuk mempelajari data-data keuangan agar dapat dipahami dengan mudah untuk mengetahui posisi keuangan, hasil operasi dan perkembangan suatu perusahaan dengan cara mempelajari hubungan data keuangan serta kecenderungannya terdapat dalam suatu laporan keuangan, sehingga analisis laporan keuangan dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

Jenis Laporan Keuangan (skripsi dan tesis)

Menurut Sukrisno Agoes dan Estralita Trisnawati (2012:3), laporan keuangan terbagi menjadi seperti berikut ini: 1. Laporan Laba Rugi Laporan laba rugi adalah laporan keuangan yang menggambarkan hasil usaha perusahaan dalam suatu periode tertentu. Laporan ini menunjukkan pendapatan dan beban selama periode waktu tertentu, misalnya sebulan atau setahun. Jika jumlah pendapatan lebih besar dari jumlah biaya, perusahaan dikatakan laba. Sebaliknya bila jumlah pendapatan lebih kecil dari jumlah biaya, perusahaan dikatakan rugi. 2. Laporan Perubahan Ekuitas Laporan perubahan ekuitas adalah laporan yang menunjukkan perubahan ekuitas pemilik yang terjadi selama periode waktu tertentu, misalnya sebulan atau setahun. Laporan ini dibuat setelah laporan laba atau rugi, tetapi sebelum  neraca, karena jumlah ekuitas pemilik pada akhir periode harus dilaporkan dalam neraca. 3. Neraca Neraca adalah suatu daftar aset, kewajiban, dan ekuitas pemilik pada tanggal tertentu, misalnya pada akhir bulan atau akhir tahun. Ada dua bentuk neraca, yaitu bentuk akun dan bentuk laporan. 4. Laporan Arus Kas Laporan arus kas adalah laporan yang menunjukkan penerimaan dan pembayaran kas selama periode waktu tertentu, misalnya sebulan atau setahun. Laporan arus kas terdiri dari tiga bagian, yaitu: a. Arus kas dari aktivitas operasi, merupakan arus kas dari transaksi yang memengaruhi laba bersih. b. Arus kas dari aktivitas investasi, merupakan arus kas dari transaksi yang memengaruhi investasi dan non aset lancar. c. Arus kas dari aktivitas pendanaan, merupakan arus kas dari transaksi yang memengaruhi ekuitas dan kewajiban jangka panjang. 5. Laporan Catatan Atas Laporan Keuangan Laporan catatan atas laporan keuangan merupakan laporan yang memberikan informasi apabila ada laporan keuangan yang memerlukan penjelasan tertentu

Pengguna Laporan Keuangan (skripsi dan tesis)

Menurut Werner R. Murhadi (2013:6), laporan keuangan dibuat karena adanya kebutuhan dari berbagai pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. Beberapa pihak yang membutuhkan informasi mengenai kondisi keuangan perusahaan antara lain: 1. Pemegang Saham dan Investor Pemegang saham dan investor merupakan pihak utama yang membutuhkan informasi mengenai kondisi keuangan perusahaan. Pihak-pihak ini membutuhkan informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli, mempertahankan atau menjual suatu saham perusahaan, tetapi juga waktu untuk melakukan tindakan pembelian atupun penjualan tersebut. 2. Manajer Pihak manajer juga membutuhkan informasi laporan keuangan terutama terkait kinerja dan adanya batasan-batasan dalam kontrak kredit yang harus mereka taati. Manajer membutuhkan informasi terkait kinerja perusahaan dalam rangka menentukan kelayakan paket kompensasi bagi pihak manajemen dan karyawan dalam suatu perusahaan. Manajer juga menggunakan informasi laporan keuangan untuk membuat keputusan yang terkait investasi, pembiayaan, dan operasional perusahaan. 3. Karyawan Informasi laporan keuangan tidak hanya berisi informasi mengenai kondisi keuangaan perusahaan saat ini, namun juga mampu menggambarkan potensinya dimasa mendatang. Karyawan membutuhkan informasi kondisi keuangan perusahaan tidak hanya untuk keperluan kompensasi, namun juga terkait dengan masa depan mereka termasuk pensiun didalamnya. 4. Supplier dan Kreditur Pemasok bahan baku berkepentingan dengan informasi kondisi keuangan perusahaan. Hal ini terkait dengan material yang telah mereka berikan kepada perusahaan dan kelangsungan pembayaran utang perusahaan kepada pemasok tersebut. Hal ini juga sama dengan kreditur perusahaan, dimana pihak kreditur seperti bank telah memberikan dananya kepada perusahaan yang harus dapat memastikan bahwa kredit yang telah diberikan tersebut akan kembali dengan lancar. Untuk itu biasanya kreditur akan mengikat perusahaan dengan perjanjian kredit yang akan memberikan batasan-batasan yang harus dipenuhi oleh perusahaan. 5. Pelanggan Pelanggan merupakan pihak yang harus dijaga hubungannya karena akan memberikan manfaat bagi perusahaan. Pelanggan membutuhkan informasi mengenai kondisi keuangan perusahaan, terkait dengan kelangsungan produk yang telah dibeli dari perusahaan seperti garansi. Pelanggan tidak akan membeli suatu produk yang ditawarkan dari perusahaan yang akan mengalami masalah dimasa mendatang. 6. Pemerintah Kebutuhan informasi keuangan oleh pemerintah adalah terkait dengan pajak yang dibayarkan oleh perusahaan. Pemerintah tidak hanya membutuhkan informasi tentang besarnya pajak yang dibayarkan, namun sebagai regulator pemerintah juga perlu informasi mengenai besarnya pajak yang akan dikenakan ke dunia usaha.

Keterbatasan Laporan Keuangan (skripsi dan tesis)

Menurut Kasmir (2012:16), setiap laporan keuangan yang disusun pasti memiliki keterbatasan tertentu. Berikut ini beberapa keterbatasan laporan keuangan yang dimiliki perusahaan yaitu: 1. Pembuatan laporan keuangan disusun berdasarkan sejarah (historis), dimana data-data yang diambil dari data masa lalu. 2. Laporan keuangan dibuat umum, artinya untuk semua orang bukan hanya untuk pihak tertentu saja. 3. Proses penyusunan tidak terlepas dari taksiran-taksiran dan pertimbanganpertimbangan tertentu. 4. Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi situasi ketidakpastian. Misalnya dalam suatu peristiwa yang tidak menguntungkan selalu dihitung kerugiannya. Sebagai contoh harta dan pendapatan nilainya dihitung dari yang paling rendah. 5. Laporan keuangan selalu berpegang teguh kepada sudut pandang ekonomi dalam memandang peristiwa-peristiwa yang terjadi bukan kepada sifat formalnya.

Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan (skripsi dan tesis)

Menurut Dwi Prastowo (2011:7), karakteristik kualitatif laporan keuangan merupakan ciri khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan berguna bagi para pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Karakteristik kualitatif laporan keuangan ini meliputi: 1. Dapat Dipahami Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk dapat dipahami oleh para pemakai. Dalam hal ini, para pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar. 2. Relevan Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan para pemakai dalam proses pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan apabila informasi tersebut dapat memengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan (predictive), menegaskan atau mengoreksi, hasil evaluasi mereka di masa lalu (confirmatory). 3. Keandalan Agar bermanfaat, informasi juga harus andal (reliable). Informasi mempunyai kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus dan jujur (faithful representation) dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan. Agar dapat diandalkan, informasi yang disajikan dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan materialitas dan biaya (kelengkapan). Kesengajaan untuk tidak mengungkapkan (omission) dapat mengakibatkan informasi menjadi tidak benar dan menyesatkan. 4. Dapat Diperbandingkan Para pemakai laporan keuangan harus dapat memperbandingkan laporan keuangan perusahaan antarperiode untuk mengidentifikasi kecenderungan (trend) posisi keuangan dan kinerja perusahaan. Selain itu, pemakai juga harus dapat memperbandingkan laporan keuangan antarperusahaan untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan secara relatif.

Tujuan Laporan Keuangan (skripsi dan tesis)

Menurut Sofyan Syafri Harahap (2011:126) menjelaskan bahwa APB
statement No. 4 menggambarkan tujuan laporan keuangan dengan membaginya
sebagai berikut.
1. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari laporan keuangan adalah untuk menyajikan laporan posisi
keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi keuangan lainnya secara wajar dan
sesuai dengan GAAP.
2. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum laporan keuangan disebutkan sebagai berikut.
a. Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber-sumber ekonomi,
dan kewajiban perusahaan dengan maksud:
Untuk menilai kekuatan dan kelemahan perusahaan.
Untuk menunjukkan posisi keuangan dari investasinya.
Untuk menilai kemampuannya untuk menyelesaikan utang-utangnya.
Menunjukkan kemampuan sumber-sumber kekayaannya yang ada untuk
pertumbuhan perusahaan.
b. Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber kekayaan bersih
yang berasal dari kegiatan usaha dalam mencari laba dengan maksud:
Memberikan gambaran tentang dividen yang diharapkan pemegang
saham.
Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban
kepada kreditor, supplier, pegawai, pajak, mengumpulkan dana untuk
perluasan perusahaan.
Memberikan informasi kepada manajemen untuk digunakan dalam
pelaksanaan fungsi perencanaan dan pengawasan.
Menunjukkan tingkat kemampuan perusahaan mendapatkan laba dalam
jangka panjang.
c. Menaksir informasi keuangan yang dapat digunakan untuk menaksir potensi
perusahaan dalam menghasilkan laba.
d. Memberikan informasi yang diperlukan lainnya tentang perubahan harta dan
kewajiban.
e. Mengungkapkan informasi relevan lainnya yang dibutuhkan para pemakai
laporan.
3. Tujuan Kualitatif
Adapun tujuan kualitatif yang dirumuskan APB Statement No. 4 adalah
sebagai berikut.
a. Relevance (Relevan)
Memilih informasi yang benar-benar sesuai dan dapat membantu pemakai
laporan dalam proses pengambilan keputusan.
b. Understandability (Dapat Dipahami)
Informasi yang dipilih untuk disajikan bukan saja yang penting tetapi juga
harus informasi yang dimengerti para pemakainnya.
c. Verifiability (Dapat Diperiksa)
Hasil akuntansi itu harus dapat diperiksa oleh pihak lain yang akan
menghasilkan pendapat yang sama.
d. Neutrality (Netral)
Laporan akuntansi itu netral terhadap pihak-pihak yang berkepentingan.
Informasi dimaksudkan untuk pihak umum bukan pihak-pihak tertentu saja.
e. Timeliness (Tepat Waktu)
Laporan akuntansi hanya bermanfaat untuk pengambilan keputusan apabila
diserahkan pada saat yang tepat.
f. Comparability (Dapat Dibandingkan)
Informasi akuntansi harus dapat saling dibandingkan, artinya akuntansi
harus memiliki prinsip yang sama baik untuk suatu perusahaan maupun
perusahaan lain.
g. Completeness (Lengkap)
Informasi akuntansi yang dilaporkan harus mencakup semua kebutuhan
yang layak dari para pemakai.

Pengertian Laporan Keuangan (skripsi dan tesis)

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 1 Ikatan Akuntan Indonesia (Revisi 2009) mengatakan bahwa: “Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas, yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi”. Menurut Kasmir (2012:7), “Laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu”. “Laporan keuangan terdiri dari neraca dan perhitungan laba-rugi serta laporan perubahan ekuitas dimana neraca menunjukkan atau menggambarkan jumlah aset, kewajiban dan ekuitas dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu, sedangkan perhitungan laporan laba rugi memperlihatkan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan serta beban yang terjadi selama periode tertentu, dan laporan perubahan ekuitas menunjukkan sumber dan penggunaan atau alasanalasan yang menyebabkan perubahan ekuitas perusahaan” (Munawir, 2010:5) Berdasarkan definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan dan kinerja perusahaan dalam suatu periode tertentu, terdiri dari neraca, laporan laba rugi 9 serta perubahan ekuitas yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai posisi keuangan dan kinerja keuangan bagi pengguna laporan dalam pengambilan keputusan.

Teori Manajemen Likuiditas (skripsi dan tesis)

Menurut Veitzhal (2007: 387) Ada empat teori likuiditas yang dikenal yaitu sebagai berikut: 1. Commercial Loan theory Teori ini dianggap paling kuno, nama lian dari teori ini adalah real bills doctrine. Teori ini mulai dikenal sekitar 2 abad lalu. Kajian teori ini dilakukan oleh Adam Smith dalam bukunya yang terkenal The Wealth of Nation yang diterbitkan tahun 1776. teori ini beranggapan bahwa bank hanya boleh memberikan pinjaman dengan surat dagang jangka pendek yang dapat dicairkan dengan sendirinya (self liquiditing). Self Liquiditing berarti pemberian pinjaman mengandung makna untuk pembayaran kembali. 2. Shiftability Theory Shiftability theory teori tentang aktiva yang dapat dipindahkan dan teori ini beranggapan bahwa likuiditas sebuah bank tergantung pada kemampuan bank memindahkan aktivanya ke pada orang lain dengan harga yang dapat diramalkan, misalnya dapat diterima bagi bank utnuk berinvestasi pada pasar terbuka jangka pendek dalam portofolio aktivanya. Jika dalam keadaan ini sejumlah depositors harus memutuskan untuk menarik kembali uang mereka, bank hanya tinggal menjual investasi tersebut, mengambil yang diperoleh (atau dibeli), dan membayarnya kembali kepada depositornya. 3. Anticipated Income Theory Sebagai teori yang dikenal tahun 1940 yang menonjol di Amerika Serikat, yaitu teori pendapatan yang diharapkan (the anticipated income theory) ini berarti semua dana yang dialokasikan atau setiap upaya mengalokasikan dana ditunjukkan pada sector yang feasible dan layak akan menguntungkan bagi bank. 4. The Liability Management Theory Maksud teori ini adalah bagaimana bank dapat mengelola pasivanya sedemikian rupa sehingga pasiva itu dapat menjadi sumber likuiditas.

Tujuan Manajemen Likuiditas (skripsi dan tesis)

Manajemen likuiditas memiliki beberapa tujuan yaitu (Leon dan Ericson, 2007:70): 1. Menjaga posisi likuiditas perusahaan agar selalu berada pada posisi likuid. 2. Mengelola alat-alat likuid agar selalu dapat memenuhi semua kebutuhan cash flow, termasuk kebutuhan yang tidak diperkirakan, misalnya penarikan yang tiba-tiba terhadap sejumlah giro atau deposito berjangka yang belum jatuh tempo. 3. Sedapat mungkin memperkecil adanya dana yang menganggur (idle funds) .

Manajemen Likuiditas (skripsi dan tesis)

Manajemen likuiditas adalah kemampuan manajemen perusahaan dalam menyediakan dana yang cukup untuk memenuhi semua kewajiban-kewajiban. Perusahaan yang likuid memiliki akses dana yang memadai untuk membayar tagihan-tagihan saat jatuh tempo. Manajemen likuiditas melibatkan manajemen aktiva dan kewajiban jangka pendek untuk memastikan kecukupan likuiditas. Kebanyakan perusahaan memiliki batas kredit dengan satu atau lebih bank, yaitu kesepakatan dengan bank yang memberikan akses dana pinjaman sesuai permintaan kepada perusahaan selama jangka waktu tertentu (Jeff Madura, 2007:657).

Faktor-faktor Yang Menentukan Likuiditas (skripsi dan tesis)

Faktor yang dapat mempengaruhi likuiditas adalah unsur pembentuk likuiditas itu sendiri yakni bagian dari aktiva lancar dan kewajiban lancar (syafrida Hani, 2015:121). Riyanto (2011:25) menyatakan faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan likuiditas dapat dibagi dalam 3 bagian yaitu besarnya investasi pada harta tetap dibandingkan dengan seluruh dana jangka panjang, volume perusahaan, pengendalian harta lancar.