Uji Bell-Doksum (skripsi dan tesis)

Metode pengujian pengaruh perlakuan tetap pada reancangan acak lengkap dapat juga dilakukan dengan uji Bel Doksum, yaitu uji Bell- Doksum untuk beberapa contoh saling bebas atau sering juga dinyatakan sebagai uji Bell-Doksum untuk k contoh saling bebas. Metode pengujian uji Bell-Doksum ini juga menggunakan prinsip pemeringkatan pada data pengamatan yang asli. Akan tetapi dalam proses perhitunganstatistik uji digunakan bantuan nilai deviasi normal baku. Seperti diketahui bahwa dengan menggunakan deviasi normal baku, dapat diperoleh distribusi pasti dari statistik uji. Dalam pengujian ini digunakan juga hubungan antara distribusi normal baku dan distribusi kai-kuadrat. Misalkan, data terdiri dari k contoh acak yang saling bebas dengan ukuran dapat berbeda. Misalkan juga, j j n j j X1 , X2 ,…X merupakan variabel-variabel acak contoh ke- j yang berukuran nj . Jika N merupakan total keseluruhan ukuran contoh, maka berikan peringkat semua pengamatan pada setiap contoh dengan peringkat dari 1 sampai N seperti pada pemeringkatan Kruskal-Wallis. Peringkat pengamatan Xij dilambangkan dengan ( ) R Xij . Ambil N bilangan dari deviasi normal baku dapat dilakukan dengan pembangkitan atau melihat tabel. Nilai deviasi normal baku ini juga diperingkatkan dari 1 sampai N . Gantikan data pengamatan dengan nilai deviasi normal baku yang memiliki peringkat yang sama. Jika data pengamatan ada yang kembar, maka peringk

Uji Kruskal-Wallis (skripsi dan tesis)

Uji Kruskal-Wallis merupakan perluasan dari uji Mann-Witney dengan contoh independen lebih dari dua. Misal, diketahui Xij adalah pengamatan ulangan ke-i contoh ke- j , k banyaknya contoh acak yang diamati, dengan i = 1,2..,r dan j = 1,2,…, k . Kemudian N adalah banyaknya keseluruhan pengamatan, merupakan penjumlahan dari banyaknya pengamatan masing-masing contoh nj , atau dapat dirumuskan menjadi: ∑= = k j j N n 1 (18) Peringkatkan semua pengamatan untuk seluruh contoh dari data terkecil sampai terbesar, sehingga peringkat data terkecil adalah 1 dan N adalah peringkat data terbesar. Peringkat masing-masing pengamatan dilambangkan dengan ( ) R Xij . Perlu diperhatikan bahwa dalam pemeringkatan, data yang sama atau kembar peringkatnya dirata-ratakan. Rata-rata peringkat ini merupakan peringkat untuk masing-masing pengamatan yang kembar. Keadaan ini yang membedakan uji Kruskall-Wallis terhadap uji Median sebelumnya. Uji Kruskall-Wallis mempertimbangkan pengamatan yang kembar, sedangkan uji Median tidak mempermhatikan informasi tersebut. Setelah data diperingkatkan, kemudian dihitung jumlah peringkat keseluruhan pengamatan pada masing-masing contoh. Jumlah peringkat keseluruhan pengamatan pada contoh ke- j dilambangkan dengan Rj , perhitungannya menggunakan ∑ ( ) = = k j Rj R Xij 1 (19) Kemudian hitung statistik uji Kruskal-Wallis dengan rumus (20) atau (21).

Conover (1971) menyatakan bahwa asumsi-asumsi yang diperlukan untuk melakukan pengujian dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis adalah: 1. Semua contoh merupakan contoh acak dari populasinya. 2. Sebagai tambahan dari independensi dalam tiap contoh, juga ada independensi antar contoh. 3. Semua peubah acak Xij kontinu (sejumlah nilai kembar masih diperbolehkan). 4. Skala pengukurannya minimal skala ordinal. 5. Fungsi sebaran k populasi identik atau beberapa populasi cenderung memiliki nilai yang lebih besar dari populasi lainnya. Sedangkan, hipotesis uji Kruskal-Wallis dapat dinyatakan dengan : H0 Semua fungsi sebaran k populasi identik : H1 Sedikitnya ada satu populasi cendrung memiliki nilai yang lebih besar dari populasi lainnya. Uji Kruskal-Wallis sensitif terhadap perbedaan diantara rata-rata k populasinya, sehingga hipotesis alternatifnya dapat juga ditulis menjadi :

 H1 k populasi tidak memiliki rata-rata yang sama Kajian Uji Nonparametrik Pengaruh Perlakuan Tetap pada RAL
 Distribusi pasti dari H dapat ditentukan, tetapi untuk contoh dan pengulangan yang sedikit karena perhitungannya akan menjadi rumit untuk yang lebih besar. Kruskal-Wallis mengusulkan untuk menggunakan tabel Kruskal-Wallis untuk ukuran contoh kurang dari atau sama dengan lima dan dan banyaknya contoh sama dengan tiga. Jika tidak demikain, maka digunakan distribusi Kai-Kuadrat sebagai pendekatan. Adapun aturan pengambilan keputusan pengujian dengan menggunakan statistik uji Kruskal-Wallis adalah 1. Jika dalam pengujian digunakan k = 3 dan n j k j ≤ 5, =1,2,…, , maka daerah kritis pasti berukuran α dapat diperoleh dari tabel Kruskal-Wallis pada lampiran. Jika nilai H lebih besar dari H pada pada tabel Kruskal-Wallis yang bersesuaian, maka tolak hipotesis nol pada taraf pengujian tertentu. 2. Untuk k > 3 dan n j k j > 5, =1,2,…, , digunakan pendekatan dengan distribusi kai-kuadrat dengan derajat bebas k −1. Jika nilai H lebih besar atau sama dengan kai-kuadrat dengan derajat bebas k −1, maka tolak hipotesis nol pada taraf nyata α tertentu.

Uji Median (skripsi dan tesis)

Untuk melakukan pengujian dengan uji Median, diperlukan beberapa asumsi. Asumsi-asumsi tersebut adalah sebagai berikut (Conover,1971): 1. Setiap contoh adalah contoh acak. 2. Contoh-contoh acak tersebut saling bebas. 3. Skala pengukurannya minimal skala ordinal. 4. Jika setiap populasi memiliki median yang sama, semua populasi memiliki peluang yang sama p dari sebuah pengamatan lebih besar dari median keseluruhan yang sama pula. Hipotesis yang diuji pada uji Median adalah apakah semua contoh yang diambil berasal dari populasi-populasi yang memiliki median-median yang sama.. Hipotesis dapat dituliskan menjadi: H0 H1 : : Semua k populasi memiliki median yang sama Minimal ada satu median populasi yang berbeda

Uji Nonparametrik (skripsi dan tesis)

Uji nonparametrik perlakuan tetap menggunakan data tidak normal. Namun, data yang diproses dalam pengujian atau yang dihitung menggunakan masing-masing statistik ujinya bukan data asli hasil pengamatan, akan tetapi merupakan data ordinal. Data ordinal ini merupakan data baru yang diperoleh dari pemberian pringkat pada data pengamatan asli. Uji nonparametrik perlakuan tetap ini semuanya menggunakan distribusi kaikuadrat sebagai pendekatan, kecuali untuk uji Bell-Doksum. Pada uji Bell-Doksum distribusi kai-kuadrat bukan distribusi pendekatan tetapi merupakan distribusi pasti uji tersebut. Distribusi kai-kuadrat digunakan sebagai pendekatan untuk contoh besar karena kesulitan memperoleh distribusi pasti masing-masing uji. Distribusi kai-kuadrat yang digunakan dalam pembahasan ini menggunakan parameter yang sama yaitu derajat bebasnya k −1. Oleh karenanya, pemahaman mengenai distribusi kai-kuadrat merupakan hal mendasar yang perlu dikenal sebelum melakukan pengujian dengan menggunakan uji-uji nonparametrik ini

Uji Pengaruh Perlakuan Perlakuan Tetap pada RAL (skripsi dan tesis)

Model RAL merupakan model rancangan percobanan yang sederhana. Total variasi pada RAL dibagi menjadi dua, yaitu variasi perlakuan dan variasi galat. Atau dapat dituliskan menjadi Total variasi = variasi perlakuan + variasi galat (1) Dapat juga dituliskan dengan model linier menjadi Yij j ij = μ +τ + ε untuk n j i = 1,2,…, dan j = 1,2,…, k (2) dengan asumsi ( ) 2 ε ij ~ NID 0,σ dan ∑= = k j n j j 1 τ 0 . Banyaknya k perlakuan yang digunakan pada RAL didefinisikan sebagai sebuah himpunan dari k perlakuan populasi yang memiliki rata-rata μ μ μ k , , , 1 2 ” sering disebut rata-rata perlakuan. Dimana rata-rata inilah yang akan diuji pada rancangan acak pengaruh tetap. Apakah semua rata-rata perlakuan tersebut semuanya sama atau tidak. Uji pengaruh perlakuan tetap tetap pada RAL yaitu menguji serentak kesamaan rata-rata perlakuan atau menguji pengaruh perlakuan sama dengan nol. Hipotesis nol ditulis: H0 : μ1 = μ 2 = ” = μ k atau H0 : Semua rata-rata perlakuan sama atau H0 : 0 τ j = , untuk setiap j Jika hipotesis nol diterima, maka rata-rata perlakuan masing-masing populasi sama. Ini mengindikasikan bahwa pengaruh perlakuan tetap pada masing-masing populasi. Pengujian pengaruh perlakuan tetap pada RAL dapat dilakukan dengan metode parametrik maupun metode nonparametrik. Untuk metode parametrik dapat digunakan Analisis Varian (ANAVA) atau uji F , sedangkan untuk uji nonparametrik dapat digunakan uji Median, uji Kruskal-Wallis, dan uji Bell-Doksum.

Uji Kolmogorov-Smirnov Dua Sampel (skripsi dan tesis)

Fungsi Pengujian : Pengujian Satu Sisi adalah untuk menguji perbedaan nilai tengah (median), sedangkan pengujian Dua Sisi untuk menguji berbagai jenis/sembarang perbedaan {(nilai tengah (median), kemencengan (skewness), pemencaran (dispersi)} dua buah populasi yang tidak berpasangan. Persyaratan Data : Data setidak-tidaknya memiliki skala ordinal.
Prosedur Pengujian :
1. Tentukan sebaran frekuensi kumulatif Sn1(x) dan Sn2(x) dalam interval-interval. Jika memungkinkan interval dibuat sebanyak mungkin.
 2. Susun skor hasil pengamatan dalam sebaran frekuensi kumulatif Sn1(x) dan Sn2(x).
3. Untuk tiap interval, hitung selisih Sn1(x) dan Sn2(x).
4. Hitung harga D maksimum dengan memakai rumus (5.7).
 5. Bila n1 = n2 = N dan jika N ≤ 40, gunakan Tabel L (Siegel, 1997). Tentukan harga p untuk harga KD atau pembilang D maksimum bagi pengujian dua sisi atau satu sisi. Jika KD ≥ KDTabel L, maka tolak Ho.
 6. Seandainya n1 dan n2 > 40 dan perlu dilakukan Uji Dua Sisi (n1 dan n2 tidak harus berjumlah sama), gunakan rumus yang ada pada Tabel M (Siegel, 1997) untuk menghitung harga D bagi pengujian dua sisi gunakan rumus (5.8). Jika D ≥ DTabelM, tolak Ho.
 7. Seandainya n1 dan n2 > 40 dan perlu dilakukan Uji Satu Sisi, hitung harga χ 2 berdasarkan harga D maksimum, dengan memakai rumus (5.9). Selanjutnya gunakan Tabel C (Siegel, 1997) untuk harga χ 2 pada db = 2. Jika p yang diamati ≤ α , maka tolak Ho.

Uji U Mann-Whitney (skripsi dan tesis)

Fungsi Pengujian : Untuk menguji perbedaan nilai tengah (median) skor dua buah populasi berdasarkan dua sampel yang tidak berpasangan. Persyaratan Data : Data paling tidak memiliki sakala ordinal.

Prosedur Pengujian :

 1. Tentukan jumlah n1 dan n2. Dalam pengertian ini n1 adalah jumlah sampel yang berukur lebih kecil dari n2.

2. Gabungkan n1 dan n2, berikan rangking kepada skor-skornya dengan memperhatikan tanda + dan -. Skor disusun dari mulai 1 – k (=n1+n2). Untuk rangking kembar cari ratarata rangkingnya.

3. Untuk 3 ≤ n1 dan n2 ≤ 8. Perhatikan frekuensi skor n1 dan n2 dalam urutan skor gabungan. Hitung jumlah frekuensi skor n1 yang mendahului n2 atau sebaliknya. Jumlah seluruh frekuensi skor yang mendahului = U. Selanjutnya gunakan Tabel J (Siegel, 1997). Tentukan probabilitas (p) yang dikaitkan dengan terjadinya suatu harga sebesar U menurut n1 dan n2. Seandainya harga U tidak ditemukan dalam Tabel J, buat modifikasi dengan memakai rumus (5.4). Harga-harga p tersebut dipakai untuk pengujian satu sisi, sedangkan untuk melakukan pengujian dua sisi harga p = 2 x pTabel . Jika p ≤ α, maka tolak Ho.

 4. Untuk 9 ≤ n2 ≤ 20. Perhatikan frekuensi skor n1 dan n2 dalam urutan skor gabungan. Hitung jumlah frekuensi skor n1 yang mendahului n2 atau sebaliknya. Jumlah seluruh frekuensi skor yang mendahului = U. Selanjutnya gunakan Tabel K (Siegel, 1997). Tentukan probabilitas (p) yang dikaitkan dengan terjadinya suatu harga sebesar U menurut n1 dan n2. Seandainya harga U tidak ditemukan dalam Tabel K, buat modifikasi dengan memakai rumus (5.4). Harga-harga p tersebut dipakai untuk pengujian satu sisi, sedangkan untuk melakukan pengujian dua sisi harga p = 2 x pTabel . Jika p ≤ α, maka tolak Ho.

 5. Untuk n2 > 21. Perhatikan frekuensi skor n1 dan n2 dalam urutan skor gabungan. Hitung jumlah frekuensi skor n1 yang mendahului n2. Jumlah seluruh frekuensi skor n1 yang mendahului n2 = U. Hitung Harga z dengan memakai rumus (5.5). Selanjutnya gunakan Tabel A (Siegel, 1997). Tentukan probabilitas (p) yang dikaitkan dengan terjadinya suatu harga z. Hargaharga p tersebut dipakai untuk pengujian satu sisi, sedangkan untuk melakukan pengujian dua sisi harga p = 2 x pTabel . Jika p ≤ α, maka tolak Ho.

Uji Chi Kuadrat (χ 2 ) Dua Sampel Tak Berpasangan (skripsi dan tesis)

 Fungsi Pengujian : Hampir sama dengan Uji Fisher, yaitu untuk menguji perbedaan proporsi dua buah populasi berdasarkan proporsi dua sampel yang tidak berpasangan. Kelebihan Uji χ 2 bisa dipakai untuk dua atau lebih kategori. Uji χ 2 sebaiknya digunakan jika n > 40. Untuk 20 < n < 40 dengan frekuensi kategori-kategorinya (Oij ≥ 5) bisa digunakan Uji χ 2 , namun jika ada salah satu frekuensi < 5 Uji χ 2 tidak boleh digunakan. Untuk n < 20 pilihlah Uji Fisher.
Persyaratan Data : Dapat digunakan untuk data berskala nominal dengan dua atau lebih dari dua kategori. Prosedur Pengujian :
1. Buat Tabel Silang (k x r), k adalah kolom = 2 dan r adalah baris ≥ 2. Kolom dipakai untuk dua pasangan sampel yang tidak berpasangan, sedangkan baris disediakan untuk berbagai kategori.
2. Masukan frekuensi-frekuensi hasil pengamatan (Oij) ke dalam Tabel.
3. Hitung dan masukan ke dalam Tabel, frekuensi-frekuensi yang diharapkan (Eij) yang dihitung dengan cara mengalikan jumlah baris dan jumlah kolom pada posisi Eij kemudian membaginya dengan total frekuensi (N).
 4. Hitung harga χ 2 memakai rumus (5.2). 5. Untuk k=2 dan r=2, hitung dengan rumus (5.3). Pengertian dari notasi yang ada dalam rumus ini. . Gunakan Tabel C (Siegel, 1997). Tentukan probabilitas (p) yang dikaitkan dengan terjadinya suatu harga sebesar χ 2 pada db = (r-1)(k-1). Harga-harga p tersebut dipakai untuk pengujian dua sisi, sedangkan untuk melakukan pengujian satu sisi harga p = ½ pTabel

Uji Fisher (skripsi dan tesis)

Fungsi Pengujian : Untuk menguji perbedaan proporsi dua buah populasi yang hanya memiliki dua kategori berdasarkan proporsi dua sampel tidak berpasangan. Jumlah n untuk tiap kelompok sampel tidak harus sama.
Persyaratan Data : Dapat digunakan untuk data berskala nominal dengan dua kategori

Prosedur Pengujian :
 1. Buat Tabel Silang
 Baris adalah kelompok sampel, dan kolom – dan + untuk menunjukkan kategori yang bersifat muttualy exclusive.
2. Masukan frekuensi-frekuensi hasil pengamatan ke dalam baris dan kolom yang tepat.
 3. Hitung jumlah frekuensi ke arah baris dan kolom, N adalah jumlah keseluruhan frekuensi pengamatan.
4. Untuk uji signifikansi ( 6 ≤ n ≤ 30), gunakan Tabel I (Siegel, 1997) yang merupakan pengujian satu sisi, sedangkan untuk pengujian dua sisi harga p = 2 x p  Untuk uji signifikansi yang lebih cermat (eksak), gunakan rumus  yang menghasilkan harga p uji satu sisi, sedangkan untuk pengujian dua sisi harga p dikalikan 2. Praktis digunakan jika n tidak terlampau besar. Meskipun demikian bisa dipakai untuk n > 30, tetapi kemungkinan di daerah penolakan tidak terlampau banyak
6. Jika p yang dihasilkan dari perhitungan ternyata ≤ α, maka tolak Ho

Uji Tanda Wilcoxon (skripsi dan tesis)

Fungsi Pengujian : Untuk menguji perbedaan median dua populasi berdasarkan median dua sampel berpasangan. Uji ini selain mempertimbangkan arah perbedaan, juga mempertimbangkan besar relatif perbedaannya. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa Uji Tanda Wilcoxon memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan Uji Tanda yang dibahas sebelumnya. Persyaratan Data : Data paling tidak berskala ordinal.
Prosedur Pengujian :
1. Urutkan nilai jenjang/skor setiap pasangan dari anggota kelompok sampel pertama dan kedua.
2. Hitung nilai beda (di) untuk setiap pasangan anggota kelompok sampel pertama dan kedua.
 3. Buat ranking untuk setiap di tanpa memperhatikan tandanya (positif atau negatif). Rangking ke-1 diberikan terhadap harga mutlak di terkecil. Jika ada ranking kembar buat rata-rata rankingnya
. 4. Pada ranking di , cantumkan tanda + dan -, sesuai dengan tanda + dan – pada nilai beda (di).
 5. Pisahkan ranking di yang memiliki tanda + atau – paling sedikit.
 6. Tentukan nilai T, dengan cara menjumlahkan nilai rangking di yang memiliki tanda + atau – paling sedikit tanpa memperhatikan tandanya (nilai harga mutlak rangking di).
 7. Tentukan pula nilai N, dengan cara menghitung frekuensi di yang memiliki tanda + dan -, sedangkan frekuensi di yang memiliki tanda 0 jangan dimasukan ke dalam hitungan.
8. Jika N ≤ 25, lihat Tabel G (Siegel, 1997) yang menyajikan kemungkinan satu sisi/one tailed dan dua sisi/two tailed untuk harga T dari pengamatan di bawah Ho. Jika harga T dari pengamatan ≤ TTabel , maka tolak Ho untuk tingkat signifikansi tertentu.
 9. Jika N > 25 , gunakan rumus (4.3). Sedangkan tabel yang digunakan adalah Tabel A (Siegel, 1997) yang menyajikan kemungkinan satu sisi/one tailed untuk kemunculan harga z pengamatan di bawah Ho. Uji satu sisi digunakan apabila telah memiliki perkiraan skor kelompok sampel tertentu akan lebih besar atau lebih kecil dari skor kelompok sampel yang lainnya. Jika belum memiliki perkiraan, harga p dalam Tabel A dikalikan dua (harga p = p-Tabel x 2). Jika p diasosiasikan dengan harga z yang diamati ternyata ≤ α, maka tolak Ho.

Uji Tanda (skripsi dan tesis)

 Fungsi Pengujian : Untuk menguji perbedaan/perubahan ranking (median selisih skor/ranking) dua buah populasi berdasarkan ranking (median selisih skor/ranking) dua sampel berpasangan. Persyaratan Data : Data paling tidak berskala ordinal.
Prosedur Pengujian : 1. Urutkan nilai jenjang setiap pasangan dari anggota kelompok sampel pertama dan kedua. 2. Kepada masing-masing pasangan berikan tanda + (plus) dan – (minus) sebagai kode/tanda selisih jenjang dari setiap pasangan. 3. Tentukan harga N, yaitu jumlah semua pasangan yang memiliki tanda + dan -.Tentukan pula nilai x, yaitu jumlah pasangan yang memiliki kesamaan tanda lebih sedikit. 5. Jika N ≤ 25 , lihat Tabel D (Siegel, 1997) yang menyajikan kemungkinan satu sisi/one tailed untuk kemunculan harga x dari pengamatan di bawah Ho. Uji satu sisi digunakan apabila telah memiliki perkiraan ranking kelompok sampel tertentu akan lebih besar atau lebih kecil dari ranking kelompok sampel yang lainnya. Seandainya kita belum mempunyai perkiraan, harga p dalam Tabel D dikalikan dua (harga p = p-Tabel D x 2). 6. Jika N > 25 , gunakan rumus (4.2). Sedangkan tabel yang digunakan adalah Tabel A (Siegel, 1997) yang menyajikan kemungkinan satu sisi/one tailed untuk kemunculan harga z pengamatan di bawah Ho. Uji satu sisi digunakan apabila telah memiliki perkiraan ranking kelompok sampel tertentu akan lebih besar atau lebih kecil dari ranking kelompok sampel yang lainnya. Jika belum memiliki perkiraan, harga p dalam Tabel A dikalikan dua (harga p = p-Tabel A x 2). 7. Jika p diasosiasikan dengan harga x atau z yang diamati ternyata < α , maka tolak Ho.

Uji Chi Kuadrat (χ 2 ) Mc. Nemar (skripsi dan tesis)

Fungsi Pengujian : Untuk menguji perbedaan atau perubahan proporsi dua buah populasi yang hanya memiliki dua kategori berdasarkan proporsi dua sampel berpasangan. Uji ini banyak dipakai untuk mengetahui apakah ada perbedaan atau perubahan proporsi sebelum dan sesudah kelompok sampel tertentu yang hanya memiliki dua kategori diberi perlakuan, dimana anggota kelompok sampel tersebut merupakan kontrol terhadap dirinya sendiri.
Persyaratan Data : Dapat digunakan untuk data berskala nominal dengan dua kategori. Prosedur Pengujian : 1. Buat Tabel Silang 2 x 2, seperti contoh pada Tebel 4.1 di bawah ini. Tanda + dan – dipakai untuk menunjukkan adanya perubahan.  Tentukan frekuensi-frekuensi harapan (E) dari sel A dan sel D, E = ½ (A+D). Frekuensi harapan harus ≥ 5. 3. Jika E ≥ 5, hitung harga χ 2 menggunakan rumus (4.1). Tetapi jika E < 5, Uji χ2 Mc. Nemar tidak boleh gunakan, dan untuk penggantinya dapat dipakai Uji Binomial. 4. Gunakan Tabel C (Siegel, 1997). Tentukan probabilitas (p) yang dikaitkan dengan terjadinya suatu harga sebesar χ 2 untuk harga db =1, untuk pengujian dua sisi. 5. Jika p yang diamati ternyata ≤ α , maka tolak Ho.

Uji Kolmogorov-Smirnov Sampel Tunggal (skripsi dan tesis)

Fungsi Pengujian : Untuk menguji perbedaan proporsi populasi, yaitu antara data yang diamati dengan yang telah ditentukan menurut Ho, berdasarkan proporsi data yang berasal dari sampel tunggal. Persyaratan Data : Dipakai untuk data berskala ordinal namun dapat digunakan juga bagi data berskala nominal.

Prosedur Pengujian : 1. Tentukan sebaran frekuensi kumulatif teoritis Fo(x), yaitu sebaran frekuensi kumulatif di bawah Ho. 2. Susun skor hasil pengamatan dalam sebaran frekuensi kumulatif pengamatan Sn(x) yang sesuai dengan Fo(x). 3. Untuk tiap jenjang/rank, hitung selisih harga mutlak Fo(x) – Sn(x). 4. Hitung harga D maksimum dengan memakai rumus (3.3). 5. Gunakan Tabel E (Siegel, 1997). Tentukan harga p untuk harga D maksimum (pengujian dua sisi). 6. Jika p yang diamati ternyata ≤ α , maka tolak Ho

Uji Chi Kuadrat (χ2) Sampel Tunggal (skripsi dan tesis)

Fungsi Pengujian :
Untuk menguji perbedaan proporsi populasi, yaitu antara data yang diamati dengan data yang diharapkan (expected) terjadi menurut Ho, berdasarkan proporsi yang berasal dari sampel tunggal.

Persyaratan Data :
Dapat digunakan untuk data berskala nominal dengan dua atau lebih dari dua kategori.
Prosedur Pengujian :
1. Tentukan n = jumlah semua kasus yang diteliti.
2. Tentukan jumlah frekuensi dari masing-masing kategori (k). Jumlah frekuensi seluruhnya= n.
3. Berdasarkan Ho , tentukan frekuensi yang diharapkan (Ei) dari k. Jika k = 2, frekuensi yang diharapkan minimal 5. Jika k > 2 dan (Ei) < 5 lebih dari 20%, gabungkanlah k yang berdekatan, agar banyaknya (Ei) < 5 dalam k tidak lebih dari 20%.
4. Hitung harga χ
2 dengan menggunakan rumus (3.2).
5. Tentukan derajat bebas, db = k – 1.
6. Gunakan Tabel C (Siegel, 1997), tabel ini untuk pengujian dua sisi. Tentukan probabilitas
(p) yang dikaitkan dengan terjadinya suatu harga sebesar χ
2 untuk harga db yang bersangkutan.
7. Jika p yang diamati ternyata ≤ α , maka tolak H

Uji Binomial (skripsi dan tesis)

Fungsi Pengujian :
Untuk menguji perbedaan proporsi populasi yang hanya memiliki dua buah kategori berdasarkan proporsi sampel tunggal.
Persyaratan Data :
Dapat digunakan untuk data berskala nominal yang hanya memiliki dua kategori.
Prosedur Pengujian :
1. Tentukan n = jumlah semua kasus yang diteliti.
2. Tentukan jumlah frekuensi dari masing-masing kategori.
3. Jika n ≤ 25 dan jika P=Q=½, lihat Tabel D (Siegel, 1997) yang menyajikan kemungkinan satu sisi/one tailed untuk kemunculan harga x yang lebih kecil dari pengamatan di bawahHo. Uji satu sisi digunakan apabila telah memiliki perkiraan frekuensi mana yang lebihkecil. Jika belum memiliki perkiraan, harga p dalam Tabel D dikalikan dua (harga p =pTabel x 2).
4. Jika n > 25 dan P mendekati ½, gunakan rumus (3.1). Sedangkan tabel yang digunakan adalah Tabel A (Siegel, 1997) yang menyajikan kemungkinan satu sisi/one tailed untuk kemunculan harga z pengamatan di bawah Ho. Uji satu sisi digunakan apabila telah memiliki perkiraan frekuensi mana yang lebih kecil. Jika belum memiliki perkiraan,
harga p dalam Tabel A dikalikan dua (harga p = pTabel x 2).
5. Jika p diasosiasikan dengan harga x atau z yang diamati ternyata ≤ α , maka tolak Ho

Hipotesis Statistik (skripsi dan tesis)

Adalah pernyataan mengenai parameter dari populasi yang didasarkan pada statistik dari sampel. Bentuk pernyataannya bisa didasarkan atas kesamaan-kesamaan atau perbedaanperbedaan, ada tidaknya asosiasi maupun hubungan-hubungan antar variabel, juga penaksiran-penaksiran nilai populasi. Dari hipotesis yang dicontohkan di atas, berarti peneliti menduga usaha ternak ayam ras lebih menguntungkan dibandingkan usaha tani padi. Pernyataan yang menyiratkan adanya perbedaan tersebut secara statistik dapat ditulis sebagai berikut : Ho : µa ≤ µp H1 : µa > µp H1 berarti rata-rata keuntungan yang diperoleh peternak ayam ras lebih besar jika dibandingkan dengan petani yang berusaha tani padi. Sedangkan Ho menyatakan, rata-rata keuntungan yang diperoleh peternak ayam ras sama dengan atau lebih kecil dari petani yang melakukan usaha tani padi. Ho dan H1 merupakan pasangan hipotesis statistik yang akan dipakai sebagai titik tolak untuk menduga parameter. Pada uji hipotesis statistik, pengujian diarahkan untuk menduga Ho apakah bisa diterima atau harus ditolak.

Hipotesis Nol (skripsi dan tesis)

Adalah kebalikan atau hipotesis yang menolak pernyataan hipotesis penelitian. Dalam konteks penyangkalan terhadap contoh hipotesis penelitan tadi, pernyataan hipotesis nol bisa menjadi: rata-rata keuntungan dari usaha ternak ayam ras sama dengan atau lebih kecil dari usaha tani padi. Dalam statistika hipotesis yang menyatakan penolakan terhadap hipotesis penelitian diberi lambang Ho

Hipotesis Penelitian (skripsi dan tesis)

Merupakan suatu pernyataan yang dibuat berdasarkan pada fenomena dan teori-teori, yang dirangkaikan secara logis dalam sebuah kerangka pikir. Oleh peneliti, hipotesis penelitian “dianggap” benar dan bisa diterima secara logika. Tetapi karena sesungguhnya teori itu merupakan dalil dari sifat yang “sebenarnya”, maka hipotesis penelitian pun hanya bisa dipandang sebagai dugaan sementara yang masih memerlukan pengujian. Contoh dari hipotesis penelitian adalah: rata-rata keuntungan dari usaha ternak ayam ras lebih besar jika dibandingkan dengan keuntungan usaha tani padi. Dalam statistika hipotesis penelitian diberi lambang H1

Statistika Parametrik dan Nonparametrik (skripsi dan tesis)

Pada perkembangan statistika inferensial, metode-metode penafsiran yang berasal dari generasi awal, menetapkan asumsi-asumsi yang sangat ketat dari karakteristik populasi yang diantara anggota-anggota populasinya diambil sebagai sampel. Di bawah asumsi-asumsi tersebut, diharapkan angka-angka atau statistik dari sampel, betul-betul bisa mencerminkan angka-angka atau parameter dari populasi. Oleh karena itu, dikenal dengan istilah Statistika Parametrik. Asumsi-asumsi tersebut antara lain: data (sampel) harus diambil dari suatu populasi yang berdistribusi normal. Seandainya sampel diambil dari dua atau lebih populasi yang berbeda, maka populasi tersebut harus memiliki varians (δ 2 ) yang sama. Selain itu, statistika parametrik hanya boleh digunakan jika data memiliki nilai dalam bentuk numerik atau angka nyata. Ketatnya asumsi dalam statistika parametrik, secara metodologis sulit dipenuhi oleh peneliti-peneliti dalam bidang ilmu sosial. Sebab dalam kajian sosial, sulit untuk memenuhi asumsi distribusi normal maupun kesamaan varians (δ 2 ), selain itu banyak data yang tidak berbentuk numerik, tetapi hanya berupa skor rangking atau bahkan hanya bersifat nilai kategori. Oleh karenanya, statistika inferensial saat ini banyak berkembang kepada teknikteknik yang tidak berlandaskan pada asumsi-asumsi di atas, yang dikenal sebagai Statistika Nonparametrik.

Menafsirkan Parameter Berdasarkan Statistik (skripsi dan tesis)

Telah diuraikan terdahulu, terdapat metode-metode tertentu yang bisa dipakai untuk menginterpretasikan data dalam kondisi ketidakpastian (uncertainty), yaitu statistika inferensial. Fokus kajian statistika inferensial adalah untuk menafsirkan parameter (populasi) berdasarkan statistik (sampel) melalui pengujian hipotesis. Dalam pengujian hipotesis, titik tolaknya adalah menduga parameter yang dinyatakan oleh pasangan hipotesis statistik, misalnya: Ho; µ1 = µ2 dan H1; µ1 ≠ µ2. Masalah umum yang dihadapi dalam menafsirkan parameter dari populasi yang berdasarkan satistik dari sampel adalah, adanya faktor kesempatan/kebetulan (chance) dalam pengambilan data. Kemudian bisa timbul pertanyaan, apakah hasil pengamatan tentang adanya persamaam atau perbedaan parameter dalam populasi atau antar populasi, juga disebabkan oleh faktor kebetulan dalam pengambilan data? Untuk itu statistika inferensial menyediakan berbagai prosedur yang memungkinkan untuk menguji, apakah adanya persamaan atau perbedaan tadi disebabkan karena faktor kebetulan atau tidak

Statistika Deskriptif dan Inferensial (skripsi dan tesis)

Pada proses pengumpulan data di atas, tentu saja tidak bisa dilakukan secara sembarangan tetapi ada tahapan-tahapan dan cara-cara atau teknik-teknik tertentu sebagai pedomannya yang kita sebut sebagai metode. Metode ini dikenal sebagai statistika. Dalam statistika, ada metode-metode tertentu sebagai pedoman untuk menyajikan data sehingga secara ringkas dapat dengan mudah dipahami. dan sebagainya. Metode penyederhanaan data sehingga mudah dipahami dikenal sebagai statistika deskriptif. Statistika deskriptif pada awalnya merupakan bidang kajian yang sangat penting, walaupun saat ini bukan merupakan bidang kajian pokok dalam statistika. Tujuan utama statistika saat ini adalah menginterpretasikan atau menafsirkan (inference) data, yang dikenal dengan istilah statistika inferensial. Misalnya dengan melihat grafik rata-rata pemilikan lahan berdasarkan status sosial ekonomi petani, melalui angka-angkanya kita bisa melihat bahwa rata-rata pemilikan lahan petani dengan tingkat sosial ekonomi tertentu lebih luas dibandingkan dengan status ekonomi lainnya. Tapi untuk melakukan interpretasi lebih jauh, kita harus menyadari bahwa statistik yang tersaji berasal dari suatu sampel bukannya populasi, sehingga belum tentu menggambarkan kondisi yang sebenarnya, atau dengan kata lain masih berada dalam suatu kondisi ketidakpastian

Statistika, Statistik, dan Parameter (skripsi dan tesis)

Dalam perbincangan sehari-hari kita sering mendengar kata statistik maupun statistika. Namun penggunaan dari dua kata tersebut masih simpang siur. Adakalanya pengertian yang seharusnya statistik ditulis atau disebut dengan istilah statistika, demikian pula sebaliknya pengertian statistika sering ditulis atau disebut dengan istilah statistik. Walaupun penulisannya sangat mirip antara statistik dengan statistika, tetapi memiliki arti yang sangat berlainan. Pengertian statistik (statistic) adalah bilangan yang diperoleh melalui proses perhitungan terhadap sekumpulan data yang berasal dari sampel. Sedangkan pengertian statistika (statistics) adalah konsep dan metode yang bisa digunakan untuk mengumpulkan, menyajikan, dan menginterpretasikan data dari kejadian tertentu untuk mengambil suatu keputusan/kesimpulan dalam suatu kondisi adanya ketidakpastian. Misalnya kita ingin mengetahui rata-rata luas lahan yang dimiliki petani di suatu propinsi. Untuk menghitung seluruh luas lahan pertanian di propinsi tersebut membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit, sehingga diputuskan untuk mengambil sampel dari beberapa kabupaten. Dari kabupaten sampel diperoleh data berapa luas lahan dan berapa jumlah petaninya, dengan demikian kita bisa menghitung rata-rata luas lahan yang dimiliki petani. Angka rata-rata luas lahan yang diperoleh disebut statistik. Seandainya data tersebut diperoleh dari seluruh propinsi, angka rata-ratanya tidak bisa disebut statistik, tetapi disebut parameter karena tidak diperoleh dari sampel melainkan diperoleh dari populasi

Teknik Sampling (skripsi dan tesis)

Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel. Untuk
menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai
teknik sampling yang digunakan (Sugiyono, 2013). Pada dasarnya teknik
sampling dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu probability sampling dan
nonprobability sampling. Probability sampling meliputi, simple random,
proportionate stratified random, disproportionate stratified random, dan area
random. Sedangkan nonprobability sampling meliputi sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental/insidental, purposive sampling, sampling
jenuh, dan snowball sampling.

Sampel (skripsi dan tesis)

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari
semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan
waktu, maka peneliti dapat menggunakan sample yang diambil dari populasi itu.
Apa yang dipelajari dari sample itu, kesimpulannya akan dapat diberlakukan
untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul
representatif (Sugiyono, 2013).
Menurut Yusuf (2014), ciri-ciri sampel yang baik adalah sebagai berikut :
a. Sampel dipilih dengan cara hati-hati, dengan menggunakan cara tertentu
dengan benar.
b. Sampel harus mewakili populasi, sehingga gambaran yang diberikan
mewakili keseluruhan karakteristik yang terdapat pada populasi.
c. Besarnya ukuran sampel hendaklah mempertimbangkan tingkat kesalahan
sampel yang dapat ditoleransi dan tingkat kepercayaan yang dapat diterima
secara statistik.

Populasi (skripsi dan tesis)

Menurut Sugiyono (2013), populasi adalah wilayah generalisasi yang
terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan bendabenda
alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada
obyek atau subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik atau
sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu.
Yusuf (2014) menyatakan, secara umum dapat dikatakan beberapa
karakteristik populasi, yaitu :
a. Merupakan keseluruhan dari unit analisis sesuai dengan informasi
yang akan diinginkan.
b. Dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda atau objek
maupun kejadian yang terdapat dalam suatu area/daerah tertentu
yang telah ditetapkan.
c. Merupakan batas (boundary) yang mempunyai sifat tertentu yang
memungkinkan peneliti menarik kesimpulan dari keadaan itu.
d. Memberikan pedoman kepada apa atau siapa hasil penelitian itu
dapat digeneralisasikan.

Statistik (skripsi dan tesis)

Menurut Sugiyono (2014) dalam arti sempit statistik dapat diartikan
sebagai data, tetapi dalam arti luas statistik dapat diartikan sebagai alat, alat
untuk analisis, dan alat untuk membuat keputusan. Statistik dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu :
a. Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menggambarkan
atau menganalisis suatu statistik hasil penelitian, tetapi tidak digunakan
untuk membuat kesimpulan yang lebih luas.
b. Statistik inferensial adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data
sampel, dan hasilnya akan digeneralisasikan untuk populasi di mana sampel
diambil. Selanjutnya statistik inferensial dapat dibedakan menjadi statistik
parametris dan non parametris. Statistik parametris digunakan untuk
menganalisis data interval atau rasio, yang diambil dari populasi yang
berdistribusi normal. Sedangkan statistik non parametris, digunakan untuk
menganalisis data nominal dan ordinal dari populasi yang bebas distribusi

Uji Beda Rata-Rata Sampel Berpasangan (skripsi dan tesis)

Untuk menguji adanya perbedaan antara dua rata-rata, kita harus memilih apakah menggunakan a one-tailed test atau a two-tailed test. Apabila pengujiannya terkait ada perbedaan atau tidak ada perbedaan maka menggunakan a twotailed test untuk mengukur apakah satu rata-rata berbeda dengan yang lain (lebih tinggi atau lebih rendah) (Levin, 1998). Paired sample t test bertujuan untuk menguji ada tidaknya perbedaan mean untuk dua kelompok yang berpasangan. Subjeknya sama, namun mengalami dua perlakuan atau pengukuran yang berbeda (Nisfiannoor, 2009). Untuk melakukan uji beda rata-rata berpasangan harus memenuhi syarat sebagai berikut: 1. Data sampel merupakan data dependen 2. Sampel diambil secara acak sederhana 3. Salah satu atau kedua syarat berikut terpenuhi: a. Pasangan sampel data berjumlah besar (n>30) b. pasangan sampel berasal dari populasi yang memiliki distribusi yang mendekati normal (Triola, 2015). Dalam melakukan uji beda rata-rata, apabila data tidak berdistribusi normal maka digunakan uji statistik nonparametrik yang dapat menggunakan teknik Wilcoxon signed ranks test (Nisfiannoor, 2009).
Cara yang lebih baik untuk membandingkan prosedur pengujian t-test dan Wilcoxon signed ranks test adalah dengan melihat perkiraan tingkat kesalahan Tipe I dan Tipe II. Jelas bahwa prosedur Wilcoxon signed ranks test melindungi lebih baik terhadap kesalahan Tipe I karena rata-rata tingkat kesalahan Tipe I selalu lebih rendah daripada uji-t. Sementara rata-rata tingkat kesalahan Tipe II menggunakan uji-t lebih rendah daripada yang menggunakan uji Wilcoxon signed ranks test untuk setiap set perbedaan rata-rata (Meek et al., 2007). Saat menguji hipotesis nol, kita sampai pada kesimpulan menolak atau gagal untuk menolaknya. Kesimpulan semacam itu terkadang benar dan terkadang salah (bahkan jika kita menerapkan semua prosedur dengan benar). Terdapat dua jenis kesalahan, yaitu Kesalahan Tipe I dan Tipe II. a. Kesalahan Tipe I: kesalahan menolak hipotesis nol ketika pada kenyataannya benar. b. Kesalahan Tipe II: kesalahan tidak menolak hipotesis nol ketika pada kenyataannya salah (Triola, 2015). Banyak metode analisis statistik diturunkan setelah membuat asumsi tentang distribusi data yang mendasarinya (misalnya, normalitas). Namun, kita juga dapat mempertimbangkan metode nonparametrik untuk menarik kesimpulan statistik di mana tidak ada asumsi yang dibuat tentang populasi atau distribusi yang mendasarinya. Untuk nonparametrik setara dengan uji t parametik satu-sampel dan dua-sampel, Wilcoxon signed ranks test (satu sampel) digunakan untuk menguji hipotesis bahwa perbedaan median antara nilai absolut perbedaan berpasangan positif dan negatif adalah 0 (Harris & Hardin, 2013). Wilcoxon signed ranks test digunakan untuk membandingkan dua kondisi ketika peserta yang sama ikut serta dalam setiap kondisi dan data yang dihasilkan tidak terdistribusi secara normal. Tes ini diterapkan pada sampel berpasangan yang didasarkan pada perbedaan antara skor dalam dua kondisi yang berbeda. Setelah perbedaan-perbedaan ini dihitung, kemudian diberi peringkat tetapi tanda perbedaannya (positif atau negatif) ditetapkan ke peringkat tersebut. Dalam hal menggunakan program SPSS terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: a. Lihat baris berlabel Asymp. Sig. (2- tailed). Jika nilainya kurang dari 0,05 maka kedua kelompok berbeda secara signifikan. b. Lihat peringkat positif dan negatif (dan catatan kaki yang menjelaskan apa artinya) untuk memberi tahu Anda bagaimana perbedaan kelompok (semakin banyak peringkat di arah tertentu memberi tahu Anda arah hasilnya). c. SPSS hanya memberikan nilai signifikansi dua sisi; jika Anda ingin signifikansi satu sisi cukup bagi nilainya dengan 2 (Field, 2005).

Analisis Regresi Spline (skripsi dan tesis)

Spline merupakan model polinom yang tersegmen atau terpotong-potong yang mulus dan dapat menghasilkan fungsi regresi yang sesuai dengan data. Polinomial tersegmen tersebut memiliki peranan penting dalam teori dan aplikasi statistika. Mengestimasi spline tergantung pada titik knot. Titik knot merupakan suatu titik perpaduan yang terjadi karena perubahan pola perilaku dari suatu fungsi pada selang yang berbeda. Fungsi 𝑓(𝑥𝑖) pada persamaan (2.5) nonparametrik merupakan fungsi regresi yang tidak diketahui bentuknya dan sifat pemulusnya, maka untuk mengestimasi 𝑓(𝑥𝑖) tersebut dapat digunakan model regresi spline. Fungsi spline pada suatu fungsi f dengan orde p dapat dinyatakan sebagai berikut: 𝑓(𝑥𝑖 ) = 𝛽0 + 𝛽1𝑥𝑖 1 + ⋯ + 𝛽𝑝𝑥𝑖 𝑝 + ∑ 𝛽(𝑝+𝑙)(𝑥𝑖 − 𝑘𝑙)+ 𝑟 𝑝 𝑙=1 𝑓(𝑥𝑖 ) = ∑ 𝛽𝑗𝑥𝑖 𝑗 + ∑ 𝛽(𝑝+𝑙)(𝑥𝑖 − 𝑘𝑙)+ 𝑟 𝑝 𝑙=1 𝑝 𝑗=0 (2.6) dengan k menyatakan banyaknya titik knot dan (𝑥𝑖 − 𝑘𝑙)+ 𝑝 menyatakan fungsi potongan (truncated) yang dapat dijabarkan sebagai berikut: (𝑥𝑖 − 𝑘𝑙)+ 𝑝 = { (𝑥𝑖 − 𝑘𝑙) 𝑝 , 𝑥𝑖 ≥ 𝑘𝑙 0, 𝑥𝑖 < 𝑘𝑙 (2.7) Bentuk matematis dari fungsi spline pada persamaan (2.6), dapat dinyatakan bahwa spline adalah potongan-potongan polinom yang berbeda digabungkan bersama titik knot 𝑘1, 𝑘2, 𝑘3, … . , 𝑘𝑟 untuk menjamin sifat kontinuitasnya.

Analisis Regresi Nonparametrik (skripsi dan tesis)

Regresi nonparametrik merupakan suatu metode statistika yang digunakan untuk mengetahui pola hubungan antara variabel prediktor dengan respons ketika tidak diperoleh informasi sebelumnya tentang bentuk fungsi regresinya atau tidak diketahui bentuk kurva regresinya. Fungsi dari model regresi nonparametrik dapat berbentuk apa saja, baik linear atau nonlinear. Misalkan variabel respons adalah y dan variabel prediktor adalah x untuk n pengamatan, model umum dari regresi nonparametrik adalah 𝑦𝑖 = 𝑓(𝑥𝑖 ) + 𝜀𝑖 ; 𝑖 = 1,2,3, … , 𝑛 (2.5) dengan 𝑦𝑖 adalah variabel respons, 𝑥𝑖 adalah variabel prediktor, 𝑓(𝑥𝑖) adalah fungsi regresi yang tidak diketahui bentuknya, dan 𝜀𝑖 adalah sisaan yang diasumsikan bebas dengan nilai tengah nol dan varians σ2 . Metode regresi nonparametrik dapat digunakan dengan mengabaikan asumsi-asumsi yang melandasi metode regresi parametrik. Fungsi regresi nonparametrik f diasumsikan mulus sehingga memiliki fleksibilitas yang tinggi dalam mengestimasi fungsi regresinya. Ada beberapa teknik dalam mengestimasi regresi dalam nonparametrik yaitu deret Fourier, spline, dan kernel. Pada subbab berikutnya akan dibahas analisis regresi spline

Analisis Regresi Parametrik (skripsi dan tesis)

Analisis regresi merupakan sebuah alat statistika yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel respons dengan satu atau lebih variabel prediktor. Analisis regresi pertama kali dikemukakan oleh seorang antropolog dan ahli meteorologi terkenal di Inggris yaitu Sir Francis Galton (1822-1911). Dalam model regresi terdiri atas dua variabel yaitu variabel independent (variabel bebas) disebut juga variabel prediktor yang biasanya dinotasikan dengan variabel 𝑥, dan variabel dependent (variabel tak bebas) disebut juga variabel respons yang biasanya dinotasikan dengan variabel 𝑦. Variabel 𝑥 dan 𝑦 tersebut merupakan dua variabel yang saling berkorelasi. Misalkan terdapat data berpasangan (𝑥𝑖 , 𝑦𝑖) untuk n pengamatan, maka hubungan antara variabel 𝑥𝑖 dan variabel 𝑦𝑖 dapat dinyatakan sebagai berikut: 𝑦𝑖 = 𝑓(𝑥𝑖 ) + 𝜀𝑖 ; 𝑖 = 1,2, … , 𝑛 (2.1) dengan 𝑦𝑖 adalah respons ke-i, 𝑓(𝑥𝑖) adalah fungsi regresi atau kurva regresi, serta 𝜀𝑖 adalah sisaan yang diasumsikan independent dengan nilai tengah nol dan variansi σ 2 . Regresi parametrik merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui pola hubungan antara variabel respons dan prediktor apabila bentuk kurva regresinya diketahui Model regresi dengan variabel prediktor lebih dari satu (𝑥1, 𝑥2, 𝑥3, … , 𝑥𝑝) secara umum dapat dituliskan sebagai berikut: 𝑦𝑖 = 𝛽0 + 𝛽1𝑥𝑖1 + 𝛽2𝑥𝑖2 + 𝛽3𝑥𝑖3 + ⋯ + 𝛽𝑝𝑥𝑖𝑝 + 𝜀𝑖 ; 𝑖 = 1,2,3, … , 𝑛 (2.2) dengan 𝛽0, 𝛽1, 𝛽2, 𝛽3, … , 𝛽𝑝 adalah koefisien regresi. Model dapat pula disajikan dalam bentuk matriks yang dituliskan pada persamaan sebagai berikut: [ 𝑦1 𝑦2 ⋮ 𝑦𝑛 ] = [ 1 1 ⋮ 1 𝑥11 𝑥21 ⋮ 𝑥𝑛1 𝑥12 𝑥22 ⋮ 𝑥𝑛2 … … ⋱ … 𝑥1𝑝 𝑥2𝑝 ⋮ 𝑥𝑛𝑝] [ 𝛽0 𝛽1 ⋮ 𝛽𝑝 ] + [ 𝜀1 𝜀2 ⋮ 𝜀𝑛 ] atau 𝒚 = 𝒙𝜷 + 𝜺 (2.3) dengan 𝒚 = [ 𝑦1 𝑦2 ⋮ 𝑦𝑛 ], 𝒙 = [ 1 1 ⋮ 1 𝑥11 𝑥21 ⋮ 𝑥𝑛1 𝑥12 𝑥22 ⋮ 𝑥𝑛2 … … ⋱ … 𝑥1𝑝 𝑥2𝑝 ⋮ 𝑥𝑛𝑝], 𝜷 = [ 𝛽0 𝛽1 ⋮ 𝛽𝑝 ], dan 𝜺 = [ 𝜀1 𝜀2 ⋮ 𝜀𝑛 ] (2.4) dengan 𝒚 adalah vektor kolom untuk variabel respons berukuran 𝑛 × 1, 𝑥 adalah matriks konstanta berukuran 𝑛 × 𝑝, 𝜷 adalah vektor parameter berukuran 𝑝 × 1, dan 𝜺 adalah vektor peubah acak normal bebas dengan nilai harapan 𝐸{𝜺} = 0 dan matrik ragam 𝜎 2 {𝜺} = 𝜎 2 yang berukuran 𝑛 × 1

Uji Chi-Square (skripsi dan tesis)

Chi-square atau kai kuadrat (X2 ) merupakan salah satu jenis uji komparatif nonparametrik yang dilakukan pada dua variabel, dimana skala data kedua variabel adalah nominal atau ordinal. Dasar dari uji chi-square adalah membandingkan perbedaan antara frekuensi observasi dengan frekuensi ekspektasi atau frekuensi yang diharapkan. Frekuensi observasi adalah frekuensi yang nilainya didapat dari hasil percobaan. Sedangkan frekuensi harapan adalah frekuensi yang nilainya dapat dihitung secara teoritis. Perbedaan tersebut untuk meyakinkan apabila harga dari chi-square sama atau lebih besar dari suatu harga yang telah ditetapkan pada taraf signifikan tertentu. Uji chi-square sangat bermanfaat dalam melakukan analisis statistik apabila asumsi-asumsi yang  dipersyaratkan untuk penggunaan statistik parametrik tidak dapat terpenuhi. Syarat-syarat dalam menggunakan uji ini adalah frekuensi responden atau sampel yang digunakan besar, karena ada beberapa syarat dimana chi-square dapat digunakan yaitu: a. Tidak ada cell dengan nilai frekuensi kenyataan (actual count) sebesar nol. b. Apabila bentuk tabel kontingensi 2×2, maka tidak boleh ada satu cell saja yang memiliki frekuensi harapan (expected count) kurang dari lima. c. Sedangkan apabila bentuk tabel lebih dari 2×2, maka jumlah cell dengan frekuensi harapan yang kurang dari lima tidak boleh lebih dari 20%. Adapun kegunaan dari uji chi-square sebagai berikut: a. Untuk mengetahui ada tidaknya asosiasi antara dua variabel. b. Untuk mengetahui homogenitas antar-sub kelompok. c. Untuk uji kenormalan data dengan melihat distribusi data. d. Untuk menganalisis data yang berbentuk frekuensi. e. Untuk menentukan besar kecilnya korelasi dari variabel-variabel yang dianalisis. Bentuk distribusi chi-square tergantung dari derajat kebebasan atau yang biasa dilambangkan d.f. (degree of freedom). Chi-square memiliki masing-masing nilai derajat kebebasan yaitu distribusi (kuadrat standard normal) yang merupakan distribusi chi-square dengan d.f. = 1 dan nilai variabel tidak bernilai negatif. Karakteristik dari chi-square yaitu nilainya selalu positif karena nilai chi-square adalah nilai kuadrat.

Crosstabs (skripsi dan tesis)

Crosstabs atau tabulasi silang merupakan suatu metode analisis deskriptif yang berbentuk tabel, dimana menampilkan tabulasi silang atau tabel kontingensi yang digunakan untuk mengidentifikasi serta mengetahui apakah ada korelasi atau hubungan sebab-akibat antara satu variabel dengan variabel yang lainnya ke dalam suatu matriks. Hasil crosstabs disajikan ke dalam suatu tabel dengan variabel yang tersusun sebagai kolom dan baris serta berisi nilai frekuensi dan persentase. Tabel yang dianalisis pada crosstabs ini adalah hubungan antara variabel dalam baris dengan variabel dalam kolom. Penyajian data pada umumnya adalah data kualitatif. Ciri dari penggunaan crosstabs yaitu data input yang pada umumnya berskala nominal atau ordinal. Pembuatan crosstabs dapat disertai dengan pengolahan atau perhitungan tingkat keeratan hubungan (asosiasi) antar variabel pada crosstabs. Alat statistik yang sering digunakan untuk menguji ada tidaknya hubungan antara baris dan kolom dari sebuah crosstabs adalah uji chi-square. Selain uji chi-square, ada beberapa alat uji lainnya yang dapat digunakan seperti kendall, kappa, dan lain sebagainya

Uji Tanda (Sign Test) (skripsi dan tesis)

Uji tanda atau sign test merupakan uji non-parametrik yang digunakan untuk menguji ada tidaknya perbedaan dari dua buah populasi yang saling berkorelasi, dimana datanya memiliki skala pengukuran ordinal. Metode analisis ini menggunakan data yang dinyatakan dalam bentuk tanda (+) positif dan (-) negatif dari perbedaan antara pengamatan yang berpasangan. Sedangkan nilai 0 tidak diikut sertakan dalam analisis karena nilai 0 berarti tidak terdapat perubahan sebelum dan sesudah perlakuan. Pada prinsipnya, uji tanda memiliki tujuan untuk menghitung selisih nilai dari kedua pasang sampel. Apabila Ho diterima, maka jumlah selisih pasangan data yang positif kurang lebih akan sama dengan pasangan data yang negatif, sehingga sangat diharapkan jumlah selisih pasangan data yang positif dan negatif adalah setengah dari total sampel yang ada. Sedangkan Ho ditolak, jika jumlah selisih pasangan data yang negatif dengan data yang positif memiliki perbedaan nilai yang sangat tingg

Ciri-Ciri Statistik Non-Parametrik (skripsi dan tesis)

Dalam menganalisis data tentunya harus mengetahui ciri-ciri dari statistik yang akan digunakan agar dapat lebih mudah dalam menentukan uji yang cocok untuk digunakan pada kasus tersebut. Berikut ciri-ciri dari statistik non-parametrik: a. Data tidak berdistribusi normal b. Umumnya data berskala nominal dan ordinal c. Umumnya dilakukan pada penelitian sosial d. Umumnya jumlah sampel kecil

Pengelompokan Kategori Statistik Non-Parametrik (skripsi dan tesis)

Dalam statistik non-parametrik terdapat pengelompokan yang didasarkan dari kriteria sampel yang diambil pada saat penelitian yaitu sampel tunggal, sampel independen, dan sampel dependen. Adapun penjelasan dari masing-masing kriteria sampel adalah sebagai berikut: a. Sampel Tunggal Sampel tunggal digunakan untuk menduga dan menguji hipotesis dari parameter yang ada, contohnya pengukuran nilai sentral. Pada statistik nonparametrik uji yang digunakan untuk menduga nilai sentral, seperti uji tanda (sampel tunggal) dan uji Wilcoxon. Selain itu, terdapat juga prosedur nonparametrik lainnya, antara lain uji binomial yang digunakan untuk pengukuran proporsi populasi, uji Trend untuk mengetahui kencenderungan dari populasi yang ada, dan uji Cox-Stuart untuk menguji data berdasarkan waktu. b. Sampel Independen Sampel independen memiliki kegunaan untuk membandingkan antara dua variabel yang terukur dari sampel yang bebas. Pengambilan sampel ini berasal dari dua populasi. Pada statistik parametrik dapat menggunakan uji t untuk membandingkan nilai mean dari dua kelompok independen, sedangkan alternatif pengujian dalam statistik non-parametrik dapat menggunakan uji, antara lain Wald-Wolfowitz Runs test, Mann-Whitney U-test, dan KolmogorovSmirnov Two-Sample test.
Namun, apabila ingin membandingkan lebih dari dua populasi maka digunakanlah analisis satu arah bertingkat dengan Median test dan Kruskal-Wallis test. c. Sampel Dependen Sampel dependen pada dasarnya digunakan untuk membandingkan dua variabel yang terukur dari sampel yang berhubungan. Dalam statistik nonparametrik, misalnya untuk mengetahui perbedaan produktivitas kerja, dengan melakukan pengukuran pada sampel pekerja sebelum mendapatkan pelatihan dengan sampel pekerja sesudah mendapatkan pelatihan. Hal seperti ini dapat dilakukan dengan menggunakan pengujian Sign Test dan Wilcoxon’s Matched Pairs Test. Namun jika variabel memiliki sifat yang dikotomi, maka dapat digunakan pengujian McNemar’s Chi-square Test. Selain itu, apabila ternyata terdapat lebih dari dua variabel yang diteliti maka pengujian yang tepat digunakan yaitu Friedman’s two-way analysis of variance dan Cochran Q test

Dasar Statistika (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya statistika terbagi menjadi dua yakni stastika deskriptif dan statistika inferensial. Statistika inferensial terbagi menjadi dua yaitu statistik parametrik dan statistik non-parametrik. Statistik non-parametrik merupakan analisis yang tidak menggunakan parameter seperti yang terdapat pada statistik non-parametrik, misalnya: mean, standar deviasi, dan variansi. Statistik nonparametrik juga sering disebut dengan metode distribusi bebas. Statistik nonparametrik menjadi alternatif dari statistik parametrik ketika asumsi-asumsi yang mendasari dalam statistik parametrik tidak dapat terpenuhi, sebab metode ini tidak memerlukan asumsi atau mengabaikan asumsi-asumsi yang menjadi landasan metode statistika parametrik terutama yang berkaitan dengan distribusi normal. Selain itu, statistik non-parametrik digunakan pada data yang berskala nominal dan ordinal serta populasi yang bebas distribusi. Semua permasalahan statistik sebenarnya dapat diselesaikan dengan statistik non-parametrik. Namun harus dipahami bahwa tidak semua permasalahan statistik dapat diselesaikan dengan menggunakan statistik parametrik sehingga harus menggunakan statistik non-parametrik.

Software IBM SPSS (skripsi dan tesis)

Santoso (2010) berpendapat bahwa software SPSS dapat dijadikan sebagai alternatif pengguna untuk mengolah data dan menginterpretasi output dengan mudah dalam menyelesaikan permasalahan pada metode non-parametrik. SPSS (Statistical Product and Service Solution) merupakan program aplikasi bisnis yang berguna untuk melakukan perhitungan atau menganalisa data statistik dengan menggunakan komputer. Dalam SPSS yang perlu dilakukan untuk memulai menganalis data yaitu mendesain variabel yang akan dianalisis, memasukkan data, dan melakukan perhitungan sesuai dengan tahapan yang ada pada menu yang tersedia. SPSS memiliki berbagai macam fitur yang ditawarkan untuk mengolah data dalam berbagai kasus, seperti: a. IBM SPSS Data Collection : untuk pengumpulan data b. IBM SPSS Statistics : untuk menganalisis data c. IBM SPSS Modeler : untuk memprediksi trend d. IBM Analytical Decision Management : untuk pengambilan keputusan SPSS banyak diaplikasikan serta digunakan oleh pengguna di segala bidang bisnis, perkantoran, pendidikan, dan penelitian. Secara spesifik, pemanfaatan program ini digunakan untuk riset pemasaran, penilaian kredit, peramalan bisnis, penilaian kepuasan konsumen, pengendalian, serta pengawasan dan perbaikan mutu suatu produk. Keunggulan dari SPSS dibandingkan dengan program yang lainnya adalah kemudahan dalam memasukkan data, kemudahan dalam mengolah data dengan hanya memilih uji statistik yang sudah tersedia, cepat dalam menampilkan output, dan output mudah untuk dipahami, dibaca, dan dicetak. Selain itu, SPSS mampu mengakses data dari berbagai macam format data yang tersedia seperti base, lotus, access, text file, spreadsheet, bahkan mengakses database melalui ODBD (Open Data Base Connectivity) sehingga 18 data yang berbagai macam format dapat langsung terbaca SPSS yang selanjutnya untuk dianalisis. SPSS dapat menguji data yang berjenis data kualitatif maupun data kuantitatif. Informasi yang diberikan oleh SPSS sangatlah akurat, hal ini dapat dilihat dengan memperlakukan missing data secara tepat yaitu dengan memberi alasannya misalnya pernyataan atau pertanyaan yang tidak relevan dengan kondisi responden, pernyataan atau pertanyaan tidak dijawab oleh responden, maupun ada pernyataan atau pertanyaan yang memang harus dilompati. Statistik yang termasuk software dasar SPSS, yakni: a. Statistik Deskriptif (Frekuensi, Deskripsi, Tabulasi Silang, Penelusuran, dan Statistik Deskripsi Rasio) b. Statistik Bivariat (Rata-Rata, ANOVA, t-test, Korelasi (Bivariat, Persial, Jarak), dan NonParametrik Test) c. Prediksi Hasil Numerik (Regresi Linear) d. Prediksi untuk mengidentifikasi kelompok (Diskriminan, Analisis Cluster (Two-Step, K-means, Hierarkis), dan Analisis Faktor)

Sumber Data (skripsi dan tesis)

 Berdasarkan sumbernya, data penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu:
a. Data Primer Merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber data utama. Data primer biasa disebut juga data asli yang memiliki sifat up to date. Teknik yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data primer dengan cara seperti wawancara, observasi, dan penyebaran kuesioner.
b. Data Sekunder Merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti dari berbagai sumber yang telah ada. Data sekunder dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti pusat statistik, buku, laporan, makalah, jurnal, dan lain sebagainya

Metode Pengambilan Sampel (skripsi dan tesis)

Sampling adalah cara pengumpulan data dengan hanya elemen sampel yang diteliti, hasilnya merupakan data perkiraan atau estimate, bukan data sebenarnya. Sedangkan teknik sampling adalah suatu teknik pengambilan sampel (Sugiyono, 2013). Alasan teknik sampling lebih sering digunakan karena lebih menghemat waktu, biaya, serta tenaga, terkadang tidak diketahui objek secara keseluruhan, dan sering terjadi kesalahan dalam pengumpulan data dikarenakan banyak objek atau elemen yang harus diteliti. Suatu keputusan yang didasarkan atas data perkiraan hasil penelitian sampel akan selalu menimbulkan resiko. Resiko ini tidak dapat dihindari namun hanya dapat diperkecil dengan jalan memperkecil kesalahan sampling yaitu dengan memilih sampling yang tepat yang dapat mewakili populasi dari sampel yang diambil. Pada dasarnya teknik sampling dapat dikelompokkan menjadi dua macam yaitu probability sampling dan non-probability sampling. a. Metode dalam probability sampling i. Simple Random Sampling ii. Proportionate Stratified Sampling iii. Disproportionate Stratified Random Sampling iv. Cluster Sampling 13 b. Metode dalam non-probability sampling i. Sampling Sistematis ii. Sampling Kuota iii. Sampling Insidental iv. Sampling Jenuh v. Purposive Sampling vi. Snowball Sampling

Kuesioner (skripsi dan tesis)

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi suatu pernyataan atau pertanyaan tertulis kepada responden (Sugiyono, 2013). Kuesioner berdasarkan bentuknya terbagi menjadi dua jenis, yaitu: a. Kuesioner Tertutup Kuesioner yang menyajikan pertanyaan dan alternatif pilihan jawaban sehingga responden hanya dapat memberikan tanggapan yang terbatas pada pilihan yang telah diberikan. Contoh dari kuesioner tertutup ini yaitu penilaian pelayanan pada sebuah cafe dan diberikan beberapan alternatif pilihan jawaban seperti sangat baik, baik, cukup, dan buruk. b. Kuesioner Terbuka Kuesioner yang memberikan kebebasan bagi responden untuk memberikan jawaban atau tanggapan atas pertanyaan yang telah diberikan, biasanya responden dapat menulis sendiri jawabannya berupa uraian. Contoh dari kuesioner terbuka yaitu “menurut anda seberapa pentingkah penggunaan smartphone?”. Penggunaan kuesioner banyak digunakan oleh peneliti karena dianggap lebih efektif dan efisien untuk mengumpulkan data dari responden yang jumlahnya besar dan dalam ruang lingkup wilayah penelitian yang luas

Penentuan Ukuran Sampel (skripsi dan tesis)

Ukuran sampel merupakan banyaknya individu, subjek, atau elemen dari populasi yang diambil sebagai sampel. Menurut Sugiyono (2013) mendefinisikan populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subyek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan. Sedangkan sampel adalah bagian dari beberapa anggota yang dipilih dari populasi (Sekaran dan Bougie, 2010). Apabila ukuran sampel yang diambil terlalu besar atau terlalu kecil maka akan menjadi masalah dalam penelitian. Sampel yang baik yaitu sampel yang memberikan pencerminan optimal atau dapat mewakili terhadap populasinya (representative). Berikut pendapat para ahli tentang ukuran sampel: a. Gay dan Diehl (1992) mengasumsikan bahwa semakin banyak sampel yang diambil maka akan semakin representative dan hasilnya dapat di genelisir atau dapat diterima, namun akan sangat bergantung pada jenis penelitiannya. i. Penelitian bersifat deskriptif maka sampel minimumnya sebesar 10% dari populasi. ii. Penelitan yang bersifat korelasional maka sampel minimumnya 30 subyek. iii. Penelitian kausal-perbandingan maka sampelnya sebanyak 30 subyek per grup. iv. Sedangkan penelitian ekperimental maka sampel minimumnya sebanyak 15 subyek per grup. b. Roscoe (1975) menentukan ukuran sampel yang tepat yaitu sebesar ≥30 dan ≤500 sampel dan jika sampel dipecah ke dalam sub-sampel maka ukuran sampel minimum 30 untuk setiap kategori yang ada. Sugiyono (2013) menambahkan bahwa untuk penentuan jumlah sampel dari populasi tertentu yang dikembangkan dari Isaac dan Michael untuk tingkat kesalahan sebesar 1%, 5%, dan 10%.

Ekspektasi dan Kepuasan Pelanggan (skripsi dan tesis)

Ekspektasi pelanggan adalah suatu bentuk kepercayaan dari pelanggan dengan memiliki standar tersendiri dalam menilai suatu produk sebelum membelinya (Olson dan Dover, 1979). Menurut Rust dan Chung (2006), bahwa terdapat tiga tingkatan ekspektasi pelanggan, yaitu: a. Will Expectation, adalah suatu jenjang rata-rata dan kualitas yang diprediksi berdasarkan dari seluruh informasi-informasi yang didapat. Ketika pelanggan mengucapkan “jasa ini dapat memenuhi segala keinginan saya”, hal ini berarti jasa tersebut lebih baik dari prediksi mereka sebelumnya. b. Should Expectation, adalah segala sesuatu yang dirasakan oleh pelanggan sepantasnya mereka dapatkan sehingga akan timbul proses transaksi. c. Ideal Expectation, adalah segala sesuatu yang akan terjadi pada saat keadaan terbaik. Sehingga dapat dikatakan jika ekspektasi pelanggan telah terpenuhi maka kepuasan pelanggan akan tercapai. Kepuasan dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu yang diinginkan. Kata kepuasan atau satisfaction berasal dari bahasa latin yaitu satis (cukup baik atau memadai) dan facio (melakukan atau membuat). Ditinjau dari perspektif perilaku konsumen, istilah kepuasan pelanggan telah menjadi konsep sentral dalam teori pemasaran dalam memberikan suatu produk dan menjadi salah satu tujuan bagi aktivitas bisnis. Kepuasan pelanggan dapat memberikan kontribusi ke sejumlah aspek krusial, seperti menciptakan loyalitas pelanggan, meningkatkan reputasi para pelanggan,   berkurangnya elastisitas harga dan biaya transaksi, serta dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas tenaga kerja (Anderson dkk, 1997)

Penjelasan Jasa (skripsi dan tesis)

 Jasa merupakan kegiatan yang dilakukan oleh suatu pihak kepada pihak lain dengan cara menawarkan produk, namun produk tersebut tidak memiliki wujud (intangible) serta tidak adanya penetapan kepemilikan (Kotler, 2003). Sedangkan Fitzsimmon (1982) menyatakan bahwa jasa adalah layanan yang memberikan produk paket yang saling terintegrasi, dimana terdiri dari dua jasa yaitu jasa eksplisit dan implisit yang diberikan dalam bentuk fasilitas pendukung, Jasa biasanya hanya dapat dikonsumsi atau dirasakan pada saat jasa tersebut dihasilkan yang dapat berupa kepuasan, kenyamanan, kesenangan, hiburan, kesehatan, dan lain sebagainya (Zeithaml dan Briner, 1996). Jasa memiliki beberapa karakteristik yang membedakan antara jasa dengan barang serta berdampak pada cara memasarkannya (Tjiptono, 2014). Adapun macam-macam karateristik jasa sebagai berikut: a. Tidak Memiliki Wujud (Intangibility) Produk jasa tidak dapat dirasakan melalui panca indra manusia sebelum dibeli dan dikonsumsi. b. Tidak Dapat Terpisahkan (Inseparability) Pembelian produk jasa hingga mengkonsumsinya hanya dapat dilakukan pada saat bersamaan. c. Memiliki Macam-Macam Variasi (Variability) Jasa bersifat non-standardized output, artinya bahwa banyak variasi layanan, kualitas, fasilitas, dan jenisnya tergantung pada siapa, kapan, dan dimana jasa tersebut diproduksi. d. Mudah Hilang (Perishability) Produk jasa tidak dapat disimpan dalam waktu jangka panjang. e. Tidak Memiliki Kepemilikan (Lack of Ownership) Produk jasa hanya dapat dirasakan dalam waktu yang singkat. Hal ini mengakibatkan konsumen tidak memiliki hak penuh terhadap kepemilikan, penggunaan, dan manfaat produk yang telah dibelinya.
Contoh dari produk jasa, antara lain: bioskop, kamar hotel, jasa transportasi, dan lain sebagainya. Berdasarkan macam-macam kriterianya, jasa memiliki kriteria seperti tingkatan wujud, segmen pangsa pasar, keterampilan atau layanan penyedia jasa, tujuanorganisasi, intensitas tenaga kerja, serta tingkat kontak penyedia jasa dengan konsumen. Pada umumnya pelanggan sangat mementingkan kualitas jasa yang diberikan. Wyckoff (2002) menyatakan kualitas jasa merupakan kesesuaian tingkat pelayanan yang diberikan dengan keingginan yang diharapkan oleh pelanggan. Terdapat dua faktor utama yang dapat mempengaruhi kualitas jasa yakni expected service dan perceived service (Parasuraman dkk, 1985). Apabila perceived service lebih tinggi daripada expected service, maka kualitas layanan yang bersangkutan akan mendapat penilaian baik atau positif begitu juga sebaliknya. Namun pada implikasinya, penilaian baik buruknya kualitas jasa bergantung pada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi harapan pelangganya secara konsisten

Online Shop (skripsi dan tesis)

Online shop atau bisnis online merupakan suatu proses pembelian barang atau jasa dari retail-retail yang menjual barang atau jasanya melalui media internet. Dengan adanya transaksi melalui internet, konsumen lebih dimudahkan untuk bertransaksi dimana saja dan kapanpun. Namun, disisi lain transaksi melalui internet juga memiliki kekurangan yaitu pada proses jual-beli yang dilakukan, penjual dan pembeli tidak melakukan kontak secara fisik atau bertemu yang dimana barang yang diperjualbelikan akan ditawarkan melalui display berupa foto/gambar yang ada di suatu website atau toko maya. Hal ini membuat tingkat kepercayaan konsumen pun menjadi cukup rendah untuk melakukan transaksi melalui internet.
Granito (2008) berpendapat bahwa untuk menghindari rendahnya tingkat kepercayaan dari konsumen, maka owner online shop harus melakukan informasi produk secara jelas dan cukup rinci, harga yang komparatif, memfasilitasi dalam proses pemilihan jasa pengiriman, serta membuat jasa kurir sendiri untuk melayani pengiriman lokal, misalnya hanya di Kota Yogyakarta saja. Dalam proses jual-beli pada online shop, setelah konsumen memilih barang yang akan dibeli, maka proses pembayaran kepada penjual dapat dilakukan dengan melalui rekening bank yang bersangkutan. Pada umumnya transaksi yang sering terjadi di Indonesia adalah dengan melakukan transfer di bank. Hal ini ditunjukkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Veritrans dan Dailysocial yang menyatakan bahwa transfer bank adalah metode pembayaran e-commerce (Prasetyo, 2012).
Apabila proses pembayaran telah diterima, selanjutnya penjual akan mengirim barang pesanan ke alamat tujuan konsumen. Dalam pengoperasian online shop terdapat tingkatan-tingkatan, seperti: a. Suplier, pihak yang menyediakan, menyalurkan, serta memasarkan produk. b. Reseller, pihak yang menjual kembali produk dari suplier atau orang lain. 8 c. Dropshipper, pihak yang memamerkan atau memajang foto/gambar kepada konsumen. Dropshipper tidak melakukan stock barang. Kotler dan Armstrong (2001) serta Hawkins dkk (2007) mengungkapkan bahwa terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi berbelanja secara online yaitu kenyamanan, kelengkapan informasi, tidak terikat waktu dan tempat (selama 24 jam dan dimana saja), dan kepercayaan konsumen. Kelebihan dari berbelanja secara online adalah banyak pilihan toko online yang menyediakan beragam produk yang diinginkan, menghemat waktu dan tenaga dalam berbelanja, tidak terikat waktu dan tempat, dapat membandingkan produk dan harga dengan toko online lainnya, serta proses berbelanja yang cukup mudah dengan hanya memesan, membayar (melalui mobile banking atau ATM), dan tinggal menunggu barang pesanan sampai ditujuan. Namun, ada juga kekurangan dalam berbelanja secara online seperti terjadinya penipuan barang (barang tidak dikirim), fisik dan kualitas barang tidak sesuai, adanya biaya tambahan pengiriman, tidak dapat mencoba barang yang dipesan, dan membutuhkan waktu proses pengiriman. Saat ini di Indonesia, telah memiliki UU yang mengatur tentang transaksi elektronik, yakni yang tercantum pada UU RI. No. 11 Tahun 2008 mengenai informasi dan transaksi elektronik. Selain itu, juga terdapat UU RI. No. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen (Prasetyo, 2012).
Online shop yang baik adalah yang memiliki sistem aplikasi dan sistem pelayanan yang baik, dimana konsumen difasilitasi untuk dapat memilih secara lebih bebas dalam melakukan pembelian barang. Menurut Poon (2008), terdapat beberapa bentuk yang merupakan indikator ketersediaan fitur pada suatu sistem yaitu kemudahan dalam mengakses informasi produk dan jasa, keberagaman layanan transaksi, keberagaman fitur yang disediakan, dan inovasi produk. Goodwin (1987), Silver (1998), dalam Adam dkk (1992), menyatakan bahwa intensitas penggunaan dan interaksi antara pengguna dengan sistem dapat menunjukkan kemudahan dalam penggunaannya. Karakteriksik kemudahaan dalam penggunaan sistem, antara lain: sistem memiliki fleksibelitas yang tinggi, mudah dipahami, dan mudah dalam pengoperasiannya adalah sebagai karakteriksik kemudahaan dalam penggunaan. Dari menjaga kepercayaan dan kenyamanan berbelanja konsumen, maka minat untuk menggunakan lagi jasa tersebut akan semakin besar dan kuat. Minat merupakan suatu perasaan senang dan rasa keterikatan 9 terhadap suatu objek, tanpa ada yang menyuruh untuk menggunakan objek tersebut kembali (Slameto, 2003).

Statistik Nonparametrik (skripsi dan tesis)

  1. Pengertian

Statistik Non-Parametrik, yaitu statistik bebas sebaran (tidak mensyaratkan bentuk sebaran parameter populasi, baik normal atau tidak). Selain itu, statistik non-parametrik biasanya menggunakan skala pengukuran sosial, yakni nominal dan ordinal yang umumnya tidak berdistribusi normal.

  1. Syarat statistik non-parametrik
  2. Data tidak berdistribusi normal
  3. Umumnya data berskala nominal dan ordinal
  4. Umumnya dilakukan pada penelitian social
  5. Umumnya jumlah sampel kecil
  6. Contoh metode statistik non-parametrik :
  7. Uji tanda (sign test)
  8. Rank sum test (wilcoxon)
  9. Rank correlation test (spearman)
  10. Fisher probability exact test.
  11. Chi-square test, dll
  12. Keunggulan dan kelemahan statistik non-parametrik
  13. Keunggulan :

1)   Tidak membutuhkan asumsi normalitas.

2)   Secara umum metode statistik non-parametrik lebih mudah dikerjakan dan lebih mudah dimengerti jika dibandingkan dengan statistik parametrik  karena ststistika non-parametrik tidak membutuhkan perhitungan matematik yang rumit seperti halnya statistik parametrik.

3) Statistik non-parametrik dapat digantikan data numerik (nominal) dengan jenjang (ordinal).

4) Kadang-kadang pada statistik non-parametrik tidak dibutuhkan urutan atau jenjang secara formal karena sering dijumpai hasil pengamatan yang dinyatakan dalam data kualitatif.

5) Pengujian hipotesis pada statistik non-parametrik dilakukan secara langsung pada pengamatan yang nyata.

6) Walaupun pada statistik non-parametrik tidak terikat pada distribusi normal populasi, tetapi dapat digunakan pada populasi berdistribusi normal.

  1. Kelemahan

1)    Statistik non-parametrik terkadang mengabaikan beberapa informasi tertentu.

2) Hasil pengujian hipotesis dengan statistik non-parametrik tidak setajam statistik parametrik.

3)  Hasil statistik non-parametrik tidak dapat diekstrapolasikan ke populasi studi seperti pada statistik parametrik. Hal ini dikarenakan statistik non-parametrik mendekati eksperimen dengan sampel kecil dan umumnya membandingkan dua kelompok tertentu

Statistik Parametrik (skripsi dan tesis)

  1. Pengertian

Statistik Parametrik, yaitu ilmu statistik yang mempertimbangkan jenis sebaran atau distribusi data, yaitu apakah data menyebar secara normal atau tidak.

Statistik parametrik digunakan untuk menguji hipotesis dan variabel yang terukur. Dengan kata lain, data yang akan dianalisis menggunakan statistik parametrik harus memenuhi asumsi normalitas. Pada umumnya, jika data tidak menyebar normal, maka data seharusnya dikerjakan dengan metode statistik non-parametrik, atau setidak-tidaknya dilakukan transformasi terlebih dahulu agar data mengikuti sebaran normal, sehingga bisa dikerjakan dengan statistik parametrik.

  1. Syarat-syarat statistik parametrik :
  2. Data dengan skala interval dan rasio
  3. Data menyebar/berdistribusi normal
  4. Contoh metode statistik parametrik :
  5. Uji-z (1 atau 2 sampel)
  6. Uji-t (1 atau 2 sampel)
  7. Korelasi pearson,
  8. Perancangan percobaan (one or two-wayanova parametrik), dll.
  9. Keunggulan dan kelemahan statistik parametrik
  10. Keunggulan

1)   Syarat syarat parameter dari suatu populasi yang menjadi sampel biasanya tidak diuji dan dianggap memenuhi syarat, pengukuran terhadap data dilakukan dengan kuat.

2)   Observasi bebas satu sama lain dan ditarik dari populasi yang berdistribusi normal serta memiliki varian yang homogen.

  1. Kelemahan

1)   Populasi harus memiliki varian yang sama.

2)   Variabel-variabel yang diteliti harus dapat diukur setidaknya dalam skala interval.

3)   Dalam analisis varian ditambahkan persyaratan rata-rata dari populasi harus normal dan bervarian sama, dan harus merupakan kombinasi linear dari efek-efek yang ditimbulkan.

Kelemahan Tes Statistik Non Parametrik (skripsi dan tesis)

  • Jika data telah memenuhi semua anggapan model statistik parametrik, dan jika pengukurannya mempunyai kekuatan seperti yang dituntut, maka penggunaan tes statistik non parametrik akan merupakan penghamburan data. Misal : kita ingat bahwa bila suatu tes statistik non parametrik memiliki kekuatan efisiensi besar, katakanlah 90%, ini berarti bahwa kalau semua syarat tes statistik parametrik dipenuhi, maka tes statistik parametrik yang sesuai akan efektif dengan sampel yang 10% lebih kecil daripada yang digunakan dalam tes statistik non parametrik.
  • Belum ada satupun metode statistik non parametrik untuk menguji interaksi-interaksi dalam model analisis varian (ANOVA), kecuali kita berani membuat anggapan-anggapan khusus tentang aditivitas.

Contoh penggunaan statistik non parametrik seperti pada uji t pada parametrik digantikan menjadi uji Mannn Whitney ataupun Wilcoxon pada non parametrik dan uji F pada parametrik digantikan oleh uji Kruskal Wallis pada non parametrik, dll.

Keuntungan Tes Statistik Non Parametrik (skripsi dan tesis)

 

  • Pernyataan kemungkinan yang diperoleh dari sebagian besar tes statistik non parametrik adalah kemungkinan-kemungkinan yang eksak, tidak peduli bagaimana bentuk distribusi populasi yang merupakan induk sampel-sampel yang kita tarik.
  • Jika sampelnya sekecil N = 6, hanya tes statistik non parametrik yang dapat digunakan kecuali kalau sifat distribusi populasinya diketahui secara pasti.
  • Terdapat tes statistik non parametrik untuk menggarap sampel-sampel yang terdiri dari observasi-observasi dari beberapa populasi yang berlainan. Tidak ada satupun di antara tes parametrik dapat digunakan untuk data semacam itu tanpa menuntut kita untuk membuat anggapan-anggapan yang nampak tidak realistis.
  • Tes statistik non parametrik dapat untuk menggarap data yang pada dasarnya merupakan ranking dan juga untuk data yang skor-skor keangkaanya secara sepintas kelihatan memiliki kekuatan ranking. Jika data pada dasarnya berupa ranking atau bahkan data itu hanya bisa diikategorikan sebagai plus (+) atau minus (-), data tersebut dapat digarap dengan menggunakan statistik non parametrik.
  • Metode statistik non parametrik dapat digunakan untuk menggarap data yang hanya merupakan klasifikasi semata, yakni yang diukur dalam skala nominal.

 

Pengertian Statistik Non-Parametrik (skripsi dan tesis)

Tes statistik non parametrik adalah tes yang modelnya tidak menetapkan syarat-syarat mengenai parameter-parameter populasi yang merupakan induk sampel penelitiannya. Tes non parametrik tidak menuntut pengukuran sekuat yang dituntut tes statistik parametrik. Sebagian besar tes non parametrik dapat diterapkan untuk data dalam skala ukur ordinal dan beberapa yang lain dapat diterapkan untuk data dalam skala ukur nominal.

Meskipun semua anggapan tes parametrik mengenai populasi dan syarat-syarat mengenai kekuatan pengukuran dipenuhi (5 poin syarat parametrik), kita ketahui bahwa dengan memperbesar ukuran sampel dengan banyak elemen yang sesuai dapat menggunakan suatu tes non parametrik sebagai ganti tes parametrik dengan masih mempertahankan kekuatan yang sama untuk menolak H0.

Statistik Parametrik (skripsi dan tesis)

Pengujian data melalui statistik parametrik disyarati dengan adanya sejumlah anggapan-anggapan yang kuat yang mendasari penggunaanya. Manakala anggapan-anggapan itu terpenuhi, pengujian-pengujian parametrik inilah yang paling besar kemungkinannya untuk menolak H0 ketika H0 salah. Artinya, kalau data penelitian dianalisis secara tepat dengan pengujian parametrik, pengujian tersebut akan lebih kuat dari pengujian mana pun dalam hal penolakan terhadap H0 jika H0 salah. Oleh karenanya dalam penggunaan pengujian statistik parametrik perlu dipenuhi beberapa unsur-unsur dari model pengujian dengan statistik parametrik, diantaranya :

  • Objek pengamatan harus saling independen. Artinya pemilihan sembarang kasus dari populasi untuk dimasukan dalam sampel tidak boleh menimbulkan bias pada kemungkinan-kemungkinan bahwa kasus yang lain akan termasuk juga dalam sampel tersebut dan juga skor yang diberikan pada suatu kasus tidak boleh mempengaruhi skor yang diberikan kepada kasus lainnya.
  • Objek pengamatan harus ditarik dari populasi yang berdistribusi normal.
  • Populasi-populasi di mana objek pengamatan ditarik harus memiliki varians yang sama.
  • Variabel-variabel yang terlibat harus setidaknya dalam skala interval, sehingga memungkinkan digunakannya penanganan secara ilmu hitung terhadap skor-skornya (menambah, membagi, menemukan rata-rata, dst)
  • Rata-rata populasi normal dan bervarians sama itu harus juga merupakan kombinasi linier dari efek-efek yang ditimbulkan. Artinya, efek-efek itu harus bersifat penjumlahan. (khusus dalam analisis varians atau uji F)

Kalau kita cukup mempunyai alasan untuk percaya bahwa persyaratan tersebut terpenuhi oleh data yang sedang dianalisis, tentu kita akan memilih suatu tes statistik parametrik, untuk menganalisis data. Pemilihan ini adalah paling baik, sebab tes parametrik akan merupakan tes paling kuat untuk menolak H0 manakala H0 memang harus ditolak.

Contoh penggunaan statistik parametrik seperti pada uji t dan F, yang aplikasinya banyak diterapkan semisal pada analisi regresi, path analisis, rancangan percobaan, analisis faktor (CFA), struktural equation modeling (SEM), dll.

Hubungan Sikap dan Niat Untuk Memilih (skripsi dan tesis)

Dari penjelasan Theory of Reasoned Action (TRA), dapat dilihat bahwa ada dua hal yang mempengaruhi niat perempuan dalam memilih. Pertama, sikapnya terhadap seorang calon, serta kedua, norma subjektifnya terhadap calon tersebut. Kedua hal tersebut ditentukan oleh keyakinan berperilaku (behavior beliefs) dan keyakinan normatif (normative beliefs). Keyakinan berperilaku adalah keyakinan perempuan terhadap Hal | 3 tindakan yang akan diambilnya terkait dengan seorang calon, sedangkan keyakinan normatif adalah keyakinan perempuan terkait persepsinya terhadap lingkungan sosial jika dia melakukan tindakan tersebut. Secara sederhana, keyakinan berperilaku bisa diartikan sebagai faktor personal atas tindakan yang akan diambil oleh pemilih perempuan, sementara keyakinan normatif dapat diartikan sebagai tekanan sosial atas tindakan yang akan diambil oleh pemilih perempuan. Sikap berperilaku didefinisikan sebagai penilaian menyeluruh seseorang atas dampak dari sebuah tindakan yang akan dilakukan (Zhang, 2007) atau pendirian (keyakinan) dan perasaan seseorang terhadap sebuah tindakan tertentu (Ramayah et al, 2004). Dengan demikian, sikap berperilaku dapat diartikan sebagai hasil evaluasi menyeluruh dari sebuah tindakan yang akan dilakukan, serta membentuk pendirian (keyakinan) seseorang terhadap tindakan yang akan diambilnya. Artinya, semakin kuat hasil evaluasi tersebut, maka semakin kuat niat seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Menurut TRA, semakin kuat sikap berperilaku seseorang terhadap sesuatu akan mengakibatkan orang tersebut berniat melakukan hal yang disikapinya tersebut. Dalam hal ini, semakin kuat sikap berperilaku pemilih perempuan terhadap seorang calon, maka semakin kuat niatnya untuk memilih calon tersebut. Sebagai tambahan, dukungan empiris dari hubungan ini misalnya ditunjukkan oleh Zhang (2007) yang menunjukkan bahwa sikap berperilaku berpengaruh positif pada niat untuk memilih.

Theory of Reasoned Action (TRA) (skripsi dan tesis)

Han et al (2009) berpandangan bahwa inti dari TRA adalah konsep tentang niat (intention). Ajzen (1985) dalam Han et al (2009) mendeskripsikan niat sebagai motivasi seseorang secara sadar dalam rencana atau keputusannya untuk menggunakan suatu usaha dalam melaksanakan suatu perilaku yang spesifik. Secara sederhana didefinisikan sebagai keinginan untuk melakukan perilaku. Ajzen & Fishbien (1980) dalam Han et al (2009) berpendirian bahwa sebagian besar perilaku manusia mampu diprediksi berdasarkan niat, karena perilaku-perilaku tersebut adalah kehendak atau kemauan dan di bawah kendali niat. Zhang (2007) memaparkan, TRA berpandangan bahwa perilaku manusia secara langsung dimotivasi oleh niat untuk berperilaku. Penegasan atas teori tersebut dijelaskan oleh Ben Natan et al (2009) yang berargumen bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh niat orang tersebut untuk melakukan (atau menghindari untuk melakukan) suatu perilaku tertentu. Zhang (2007) menambahkan bahwa menurut TRA, terdapat dua faktor yang mengarah pada pembentukan niat berperilaku; sikap berperilaku (attitudes toward behavior) dan norma subjektif (subjective norm)

Hubungan Antara stress sosial pada orang tua dan verbal abuse pada anak (skripsi dan tesis)

Stres merupakan suatu reaksi fisik dan psikis terhadap setiap tuntutan yang menyebabkan ketegangan dan menganggu stabilitas kehidupan seharihari, menurut WHO stress adalah reaksi / respon tubuh terhadap stressor psikososial (Priyoto, 2014:2). stress adalah suatu reaksi fisik dan psikis yang  dapat menyebabkan ketegangan pada tubuh dan akan berdampak pada psikis, sel, jaringan dan organ tubuh. Sumber stress itu banyak sekali dan ada dimana-mana. Segala sesuatu yang dapat mengganggu kedamaian hati dan kesenangan kita, yang pada giliran berikutnya dapat mengganggu kesehatan kita, dapat dipandang sebagai sumber stress. (Colbert, 2011:6). Akibatnya pada kehidupan sosial dan kelompok minoritas dengan dukungan sosial terbatas juga dalam mengatasi jaringan kekeluargaan dan sosial mereka lebih menderita dengan peristiwa kehidupan negatif atau mendapat tekanan sosial, tekanan fisik dan mental (Emaj, 2010). Bahkan penderita stress sosial ditambah dengan pengkonsumsi minuman beralkohol akan berdampak pada kehidupan social dan berbuat tanpa kesadaran penuh. Stress sosial ditimbulkan oleh berbagai kondisi sosial meningkatnya resiko kekerasan terhadap anak dalam keluarga. Kondisi-kondisi sosial ini mencakup: pengangguran, penyakit, kondisi perumahan buruk, ukuran keluarga besar dari rata-rata, kelahiran bayi baru, orang cacat dirumah, dan kematian seseorang anggota keluarga (Huraerah, 2007:53-54).
 Kekerasan terhadap anak seringkali diidentikkan dengan kekerasan kasatmata, seperti kekerasan fisikal dan seksual, padahal kekerasan yang bersifat psikis dan sosial juga dapat membawa dampak buruk terhadap anak. Istilah child abuse adalah yang paling sering di dengar dari dunia kesehatan atau pada orang awam sering disebut kekerasan pada anak. Child abuse ini adalah kesimpulan dari kekerasan terhadap anak yaitu yang bersifat fisik (physical abuse), seksual (sexsual abuse), psikis (mental abuse), social (social abuse) dan ucapan atau kata-kata (verbal abuse) (Huraerah, 2007:47). 48 Salah satu kekerasan yang paling sering terjadi adalah verbal abuse yaitu kekerasan dengan kata-kata. Banyak pihak yang mendidik anak dengan membentak dan memarahi mereka.Verbal abuse yaitu kekerasan dengan katakata. Dalam buku Huraerah, 2007 dijelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mendukung terjadinya verbal abuse pada anak. Salah satunya adalah stress social yang berasal dari keadaan lingkungan. Dalam penelitian Emaj, 2010 juga dijelaskan dampak dan akibat dari stress social sendiri bisa mempengaruhi lingkungan sosial tersebut dan ditambahnya dengan mengkonsumsi minuman-minuman beralkohol

Hak- Hak Anak (skripsi dan tesis)

Hak anak secara universal telah ditetapkan melalui sidang umum PBB pada tanggal 20 November 1959, dengan memproklamasikan hak-hak anak, dengan deklarasi tersebut diharapkannya suatu undang-undang adalah “untuk mengatur hal-hal yang tidak diatur dalam UUD 1945 maupun ketetapan 46 MPR” . Maka dari itu tujuan disahkannya UU No. 23 Tahun 2002 adalah untuk mengatur dan melengkapi pengaturan mengenai HAM khususnya mengenai perlindungan hak anak yang ada dalam UUD 1945 bab XA, khususnya pasal 28B ayat (2) yaitu, “setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi” dan pasal 34 UUD 1945 dalam Bab XIV mengenai perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial : 1. Hak atas kelangsungan hidup, menyangkut hak atas tingkat hidup yang layak dan pelayanan kesehatan. 2. Hak untuk berkembang, mencakup hak menerima pendidikan, informasi waktu luang, kegiatan seni dan budya, kebebasan berpikir, keyakinan beragama serta hak cacat atas pelayanan. 3. Hak perlindungan, mencakup perlindungan atas segala bentuk eksploitasi, perlakuan kejam, tindakan kekerasan apapun, dan diperlakukan sewenang-wenang 4. Hak partisipasi, meliputi kebebasan untuk berpendapat, berkumpul dan berserikat, serta hak ikut serta dalam pengambilan keputusan.

Efek dan Dampak Kekerasan (skripsi dan tesis)

Sayang sekali bahwa masyarakat kurang menyadari dampak dan efek dari kekerasan ini, dan bahkan diungkap dalam buku Huraerah (2007:56-57) ada beberapa hal di dalamnya yaitu: 45 1. Usia yang lebih pendek 2. Kesehatan fisik dan mental yang buruk 3. Masalah pendidikan (termasuk drop out dari sekolah) 4. Kemampuan yang terbatas Bahkan menurut YKAI (Yayasan kesejahteraan Anak Indonesia) menyimpulkan bahwa kekersan tersebut berdampak sangat serius dalam kehidupan masa depannya, antara lain: 1. Cacat tubuh dan mental secara permanen 2. Kegagalan belajar 3. Gangguan emosional 4. Konsep diri yang buruk dan ketidak mampuan untuk mempercayai dan mencintai seseorang 5. Pasif dan menariki diri dari lingkungan, takut membina hubungan baru 6. Agresif dan kadang melakukan tindakan criminal 7. Menjadi penganiaya ketika dewasa sesuai yang didapatkan semasa anakanak 8. Menggunakan obat-obatan atau alcohol 9. Kematian misterius

factor yang mempengaruhi orang tua melakukan verbal abuse (skripsi dan tesis)

Beberapa factor yang mempengaruhi orang tua melakukan verbal abuse diantaranya : a) faktor intern yaitu factor pengetahuan orang tua kebanyakan orang tua tidak begitu mengetahui atau mengenal informasi mengenai kebutuhan perkembangan anak dan pengalaman orang tua yang sewaktu kecilnya mendapat perlakuan salah merupakan situasi pencetus terjadinya kekerasan pada anak, b) faktor ekstren yaitu faktor ekonomi sebagian besar kekerasan rumah tangga dipicu faktor kemiskinan, dan tekanan hidup dan faktor lingkungan juga munculnya masalah lingkungan yang mendadak juga turut berperan pada timbulnya kekerasan verbal (Fitriana, Pratiwi dan Vita, 2015:83). Sedangkan menurut Huraerah (2007:51-52) dikatakan ada beberapa faktor yaitu: a. Faktor orang tua atau keluarga Faktor orang tua mempunyai peranan penting terjadinya kekerasan pada anak faktor yang menyebabkan ialah praktik budaya negative, dibesarkan dengan penganiayaan, gangguan mental, belum mencapai kematangan fisik secara emosi maupun social, pecandu minuman keras dan obat-obatan. b. Faktor lingkungan Kondisi lingkungan sangatlah berpengaruh bisa berasal dari kemiskinan dalam masyarakat dan tekanan matrealistis, kondisi social ekonomi yang rendah, status wanita yang dipandang rendah, sistem keluarga patriakal, masyarakat yang individualis. c. Faktor anak itu sendiri Yaitu penderita gangguan mental, mengalami kecacatan, mengalami gangguan perkembangan dan perilaku menyimpang.

 Sedangkan Richard J. Gelles mengemukakan bahwa kekerasan terhadap anak terjadi karena beberapa faktor, diantaranya didefinisikan dari faktor penyebab ada 4 yaitu : a. Pewaris kekerasan antar generasi banyak anak yang belajar dari perilaku kekerasan dari orang tuanya dan ketika tumbuh menjadi dewasa mereka 44 melakukan tindakan kekerasan terhadap anaknya juga. Dengan demikian perilaku kekerasan diwarisi dari generasi kegenerasi. b. Stress sosial ditimbukan oleh berbagai kondisi sosial meningkatnya resiko kekerasan terhadp anak dalam keluarga. Kondisi-kondisi sosial ini mencakup: pengangguran, penyakit,kondisi perumahan buruk, ukuran keluarga besar dari rata-rata, kelahiran bayi baru, orang cacat dirumah, dan kematian seseorang anggota keluarga. Sebagian besar kasus dilaporkan tentang tindak kekerasan terhadap anak yaitu dari keluarga yang hidup dalam kemiskinan (poverty). Tindakan kekerasan terhadap anak juga terjadi pada keluarga kelas menengah dan kaya, tetapi tindak kekerasan yang terjadi lebih sering dilaporkan oleh keluaraga miskin. c. Isolasi soaial dan keterlibatan masyarakat bahwa orang tua dan pengganti orang tua yang melakukan kekerasan terhadap anak cenderung terisolasi secara sosial. Kurangnya kontak dengan masyarakat menjadikan para orang tua kurang memungkinkan mengubah perilaku mereka sesuai dengan nilai-nilai dan standar masyarakat. d. Struktur keluarga tipe-tipe keluarga tertentu memiliki resiko yang meningkat untuk melakukan tindakan kekerasan dan pengabdian kepada anak (Huraerah, 2007:51-55)

Bentuk-bentuk kekerasan verbal terhadap anak (skripsi dan tesis)

Kekerasan ini sering disebut juga sebagai kekerasan verbal, kekerasan mental dan kekerasan psikologikal. Contoh kekerasan yang sering dilakukan terhadap anak adalah sebagai berikut : a. Tindakan intimidasi, seperti, berteriak, menjerit, mengancam, menggeretak anak. b. Tindakan mengecilkan atau mempermalukan anak, seperti : merendahkan anak, mencela nama, membuat perbedaan negative antar anak, mengatakan bahwa anak “tidak baik, tidak berharga, jelek atau sesuatu yang didapat dari kesalahan”. c. Tidak sayang dan dingin, seperti menunjukkan sedikit atau sama sekali tidak rasa sayang kepada anak (seperti pelukan) atau kata-kata sayang (pujian, kata “aku sayang kamu”, dll)   d. Kebiasaan mencela anak, seperti mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah kesalahan anak. e. Tidak mengindahkan atau menolak anak, seperti tidak memperhatikan anak, memberi respon yang dingin, tidak peduli dengan anak. f. Hukuman ekstrim, seperti mengurung anak dalam kamar mandi atau kamar gelap, mengikat anak di kursi untuk waktu yang lama atau meneror anak (menakuti anak). g. Mengekspos kekerasan, seperti menunjukkan tindakan kekerasan pada anak, termasuk didalamnya kekerasan fisik yang dilakukan orang lain. h. Mengekplotasi anak, seperti memanfaatkan anak untuk tujuan tertentu, termasuk dialamnya memperkerjakan anak dibawah umur. i. Penculikan anak, seperti : trauma dari membawa lari anak, termasuk didalamnya penculikan yang dilakukan oleh orang tua sendiri, dan beberapa kekerasan lainnya (Fitriana, Pratiwi dan Vita, 2015:82)

Perbedaan sexsual abuse, physical abuse, mental abuse, emotional abuse dengan verbal abuse (skripsi dan tesis)

1. Emotional Abuse Perlakuan yang dilakukan oleh orang tua seperti menolak anak, meneror, mengabaikan anak, atau mengisolasi anak. Hal tersebut  akan membuat anak merasa dirinya tidak dicintai, atau merasa buruk atau tidak bernilai. Hal ini akan menyebabkan kerusakan mental fisik, sosial, mental dan emosional anak. Indikator fisik kelainan bicara, gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan. Indikator perilaku – kelainan kebiasaan (menghisap, mengigit, atau memukul-mukul). 2. Physical Abuse adalah Cedera yang dialami oleh seorang anak bukan karena kecelakaan atau tindakan yang dapat menyebabkan cedera serius pada anak, atau dapat juga diartikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh pengasuh sehingga mencederai anak. Biasanya berupa luka memar, luka bakar atau cedera di kepala atau lengan. Indikator fisik – luka memar, gigitan manusia, patah tulang, rambut yang tercabut, cakaran. Indikator perilaku – waspada saat bertemu degan orang dewasa, berperilaku ekstrem seerti agresif atau menyendiri, takut pada orang tua, takut untuk pulang ke rumah, menipu, berbohong, mencuri.
3. Mental abuse adalah kegagalan orang tua untuk memberikan kebutuhan yang sesuai bagi anak, seperti tidak memberikan rumah yang aman, makanan, pakaian, pengobatan, atau meninggalkan anak sendirian atau dengan seseorang yang tidak dapat merawatnya. Indikator fisik – kelaparan, kebersihan diri yang rendah, selalu mengantuk, kurangnya perhatian, masalah kesehatan yang tidak ditangani. Indikator kebiasaan – Meminta atau mencuri makanan, sering tidur, kurangnya perhatian pada masalah kesehatan, masalah kesehatan yang tidak ditangani, pakaian yang kurang memadai (pada musim dingin), ditinggalkan.
 4. Sexual Abuse Termasuk menggunakan anak untuk tindakan sexual, mengambil gambar pornografi anak-anak, atau aktifitas sexual lainnya kepada anak. Indikator fisik – kesulitan untuk berjalan atau duduk, adanya noda atau darah di baju dalam, nyeri atau gatal di area genital, memar atau perdarahan di area genital/ rektal, berpenyakit kelamin. Indikator kebiasaan – pengetahuan tentang seksual atau sentuhan seksual yang tidak sesuai dengan usia, perubahan pada penampilan, kurang bergaul dengan teman sebaya, tidak mau berpartisipasi dalam kegiatan fisik, berperilaku permisif/ berperilaku yang menggairahkan, penurunan keinginan untuk sekolah, gangguan tidur, perilaku regressif (misal: ngompol).

Definisi Verbal Abuse (skripsi dan tesis)

 Kekerasan terhadap anak seringkali diidentikkan dengan kekerasan kasatmata, seperti kekerasan fisikal dan seksual, padahal kekerasan yang bersifat psikis dan sosial juga dapat membawa dampak buruk terhadap anak. Istilah child abuse adalah yang paling sering di dengar dari dunia kesehatan atau pada orang awam sering disebut kekerasan pada anak. Child abuse ini adalah kesimpulan dari kekerasan terhadap anak yaitu yang bersifat fisik (physical abuse), seksual (sexsual abuse), psikis (mental abuse), social (social abuse) dan ucapan atau kata-kata (verbal abuse) (Huraerah, 2007:47). Salah satu kekerasan yang paling sering terjadi adalah verbal abuse yaitu kekerasan dengan kata-kata. Banyak pihak yang mendidik anak dengan membentak dan memarahi mereka. Kekerasan kata-kata (verbal abuse) atau biasa diebut dengan emosional child abuse adalah tindakan lisan atau perilaku yang menimbulkan konsekuensi emosional yang merugikan. Salah satu bentuk tindakan lisan tersebut yaitu dalam bentuk bentak-bentak (Arsih, 2010: 6). Emotional abuse merupakan salah satu bentuk kekerasan selain physical abuse atau kekerasan yang bersifat fisik. Emotional abuse seringkali menjadi pendahulu sebelum akhirnya terjadi physical abuse. Emotional abuse sering kali dianggap setara dengan verbal abuse dan saling tumpang tindih satu sama lain. Definisi verbal abuse adalah kata-kata yang dipakai untuk merendahkan, meremehkan atau memfitnah dan menyakiti orang lain sedangkan emotional abuse adalah manipulasi, penipuan atau perampasan yang dilakukan untuk menlanggar integritas emosional atau psikologis.
Tumpang tindih antar kedua definisi ini terjadi ketika verbal abuse dilakukan dengan muatan emosional ataupun emotional abuse yang dilakukan dengan menggunakan kata-kata yang merendahkan (Paramita, 2012 : 255). Dijelaskan pada Pasal 13 dan 69 UU no. 23 tahun 2002 mengatakan bahwa ada perlindungan hukum bagi anak terhadap kekerasan. Pasal 78 dan 80 juga mengatakan bahwa ada sanksi hokum bagi para pelaku tindak kekerasan pada anak, termasuk didalamnya kekerasan verbal. Padahal, dengan memarahi dan membentak tidak menyelesaikan masalah ada pada anak tersebut. Perlu diketahui bahwa pelecehan verbal didefinisikan dalam penelitian ini sebagai komunikasi apapun melalui perilaku, nada, atau katakata yang untuk mempermalukan, merendahkan seorang individu, dan pada penerima kekerasan verbal meninggalkan perasaan emosional sakit hati (Judkins – Cohn, 2010)

Usia Anak-Anak (skripsi dan tesis)

1. Anak dengan usia 0 – 1 tahun Anak dengan usia 0 sampai 1 tahun adalah anak yang mulai mengenal lingkungan dan sekitarnya, (mengenal ayah, ibu, kakak, kakek, nenek). Anak dengan usia ini dapat melihat sekelilingnya dengan detail dan lebih peka dalam pendengaran dan penglihatan. 2. Anak dengan usia 1 – 3 tahun Anak dengan usia 1 sampai 3 tahun adalah anak yang sudah mengenal bahasa, motoric, dan social. Anak dengan usia ini dapat menggerakkan seluruh tubuh termasuk berlari berjalan dan mengikuti perintah orang tua dan mempunyai kemampuan bicara semakin hari semakin baik. 3. Anak dengan usia 3 – 6 tahun Anak dengan usia 3 sampai 6 tahun adalah anak yang menarik atau bisa di sebut golden periode dengan kata lain anak dapat menyerap semua hal yang diterimanya yaitu hal negative dan positif dari lingkungannya, anak dengan usia ini akan cenderung mengikuti perilaku orang tua di sekitarnya dan mulai meningkatkan rasa percaya dirinya dengan belajar makan dan berpakaian sendiri dan anak dengan usia ini memiliki perbendaharaan kata yang di serapnya lebih dari 900 kata dan sudah menggunakan kalimat lengkap. 4. Anak usia 6 – 12 tahun Anak dengan usia ini adalah anak dengan usia berbahaya karena sudah melakukan personal social yaitu berbagi, meniru, mengajak,  mempunyai kebutuhan pribadi, dll. Begitupula dengan mentalnya yang semakin kuat, kemudian dapat mengikuti lebih dari 3 perintah sekaligus dan berperilaku adaptif terhadap keseharian dan budaya sekitar(Adriana,2013:64-65)

Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan anak (skripsi dan tesis)

Masalah yang sering timbul dalam pertumbuhan dan perkembangan anak meliputi gangguan fisik, perkembangan motoric, bahasa, emosi dan perilaku. 1) Gangguan pertumbuhan fisik Meliputi gangguan pertumbuhan di atas normal dan gangguan pertumbuhan di bawah normal, pemantau berat badan menggunakan kartu menuju sehat dapat dilakukan secara mudah untuk mengetahui pola pertumbuhan anak.   2) Gangguan perkembangan motoric Perkembangan motoric yang lambat dapat disebabkan oleh beberapa hal salah satunya adalah kelainan tonus otot atau penyakit neuromuskuler, anak dengan kelainan serebral palsi dapat mengalami keterbatasan perkembangan motoric sebagai akibat spastisipas, athetosis, ataksia, atau hipotonia. Faktor lingkungan sangat berpengaruh pada kepribadian anak juga dapat mempengaruhi keterlambatan dan perkembangan motoric seperti gangguan emosional orang tua akibat stress, ikut campurnya yang bukan keluarga kandung, dll. 3) Gangguan perkembangan bahasa Kemampuan berbahasa melibatkan kemampuan motoric, psikologis, emosional, dan perilaku gangguan perkembangan bahasa pada anak dapat di akibatkan oleh berbagai factor, yaitu factor genetic, gangguan pendengaran, intelegensi rendah, kurangnya interaksi anak dengan lingkungan. 4) Gangguan emosi dan perilaku Selama masa perkembangan dan pertumbuhan anak juga dapat mengalami berbagai gangguan yang terkait dengan psikiatri, kecemasan adalah salah satu yang menjadi penyebab gangguan psikiatri anak dan memerlukan suatu intervensi khusus apa bila mempengaruhi interaksi social anak, gangguan lingkungan yang menyangkutpautkan terhadap emosi juga bisa menjadi salah satu penyebab (sering dibentak, dijauhi teman, mendapat perilaku kekerasan) di karenakan mendapat tekanan orang tua tanpa sebab (Adriana, 2013:12-14).

Faktor-faktor Pertumbuhan dan Perkembangan Anak (skripsi dan tesis)

1. Factor Internal a) Ras etnik atau Bangsa Anak yang dilahirkan atau dibesarkan di negaranya memiliki heriditer seperti negaranya. b) Keluarga Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh lebih tinggi, pendek, gemuk atau kurus. c) Umur Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun pertama kehidupan, dan masa remaja. d) Jenis kelamin Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat dari pada laki-laki akan tetapi setelah melewati masa pubertas, pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat. e) Genetik Adalah bawaan anak itu sendiri yaitu potensi yang akan menjadi ciri khasnya ada beberapa kelainan genetic yang berpengaruh pada perkembangan anak. 35 f) Kelainan kromosom Kelainan kromosom umumnya di sertai dengan kegagalan pertumbuhan seperti pada sindroma down’s dan sindroma tumer’s. 2. Faktor internal a) Faktor prenatal Berasal dari gizi, mekanis, toksin, zat kimia, endoktrin, radiasi, infeksi, kelainan iminologi, anoksia embrio, psikologi ibu. b) Faktor persalinan Kompilasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat menyebabkan kerusakan otak. c) Faktor paska persalinan Berasal dari gizi, penyakit kronis, lingkungan fisik dan kimia, psikologis, endoktrin, social ekonomi, lingkungan pengasuhan, stimulasi, obat-obatan (Adriana, 2013:9-12)

Perkembangan dan Pertumbuhan Anak (skripsi dan tesis)

Pertumbuhan adalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran, atau
dimensi tingkat sel, organ, maupun individu yang bisa di ukur dengan ukuran
berat, ukuran panjang, umur tulang, dan keseimbangan metabolic.
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan
fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat
diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan, di sini menyangkut adanya
proses diferensiasi sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ
yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi
fungsinya, termasuk juga perkembangan emosi, intelektual, dan tingkah laku,
sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya (Santrock, 2011).
Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita,
karena pada masa ini pertumbuhan dasar akan mempengaruhi dan
menentukan perkembangan anak selanjutnya, pada masa balita,
perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas kesadaran sosial, emosional
dan intelegensia berjalan dengan cepat dan merupakan landasan
perkembangan selanjutnya, perkembangan moral dan dasar kepribadian di
bentuk dalam masa ini.
Dalam perkembangannya anak terdapat masa kritis dimana
diperlukan rangsangan atau stimulasi yang berguna agar potensi berkembang
sehingga hal ini perlu mendapatkan perhatian perkembangan psiko sosial
sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan interaksi antara anak dengan orang
tuanya atau orang dewasa lainnya. Kecerdasan anak dapat mengembangkan
berbagai kecerdasan pada masa tumbuh kembangnya karena faktor keturunan dan berbagai rangsangan dari dan oleh lingkungan secara terus menerus, diperlukan tiga kebutuhan pokok untuk perkembangan anak yaitu kebutuhan fisik, emosi, verbal dan stimulasi dini (Adriana, 2013:8).

Pengertian Anak (skripsi dan tesis)

Anak-anak merupakan asset yang sangat berharga, sehingga masa
anak-anak dinamakan “masa emas” (golden age). Bentuk rasa sayang kepada
anak dapat diwujudkan dengan kepedulian dan tanggung jawab dalam
menyukseskan tumbuh kembang anak (Adriana, 2013). Secara umum
dikatakan anak adalah seorang yang dilahirkan dari perkawinan antara seorang
perempuan dengan seorang laki-laki dengan tidak menyangkut bahwa
seseorang yang dilahirkan oleh wanita meskipun tidak pernah melakukan
pernikahan tetap dikatakan anak. Satu langkah awal mendampingi
pertumbuhan dan perkembangan anak dilakukan melalui pemantauan
dilanjutkan dengan stimulasi. Keadaan tiap anak yang dilahirkan dengan
kondisi fisik, mental dan psikologis yang berbeda-beda membuat orang tua
ingin mendeteksi kelainan atau penyimpangan pada anak, apakah anak
tersebut normal dan ingin mengembangkan bakat serta kecerdasan lainnya
atau membutuhkan bantuan atau intervensi lainnya baik secara fisik dan
ataupun psikologis dengan harapan dapat tumbuh berkembang optimal
fisiknya, mentalnya dan sosialnya sehingga akan menjadi manusia yang
produktif bagi keluarga, lingkungan sekitar dan bangsa (alifiani dan Maharani,
2010).

Peran Orang Tua (skripsi dan tesis)

Setiap orang tua dalam menjalani kehidupan berumah tangga tentunya
memiliki tugas dan peran yang sangat penting, ada pun tugas dan peran orang
tua terhadap anaknya dapat dikemukakan sebagai berikut (1) melahirkan, (2)
mengasuh, (3) membesarkan, (4) mengarahkan menuju kepada kedewasaan
serta menanamkan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku. Disamping itu
juga harus mampu mengembangkan potensi yang ada pada diri anak,
memberi teladan dan mampu mengembangkan pertumbuhan pribadi dengan
penuh tanggung jawab dan penuh kasih sayang. Anak-anak yang tumbuh
dengan berbagai bakat dan kecenderungan masing-masing adalah karunia
yang sangat berharga, yang digambarkan sebagai perhiasan dunia.
Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat Al Kahfi ayat 46.
Artinya : “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi
amanah amanah yang kekal lagi soleh adalah lebih baik pahalanya di sisi
Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. Al Kahfi ayat 46).

Pengertian Orang Tua (skripsi dan tesis)

Orang tua adalah orang-orang yang melengkapi budaya mempunyai
tugas untuk mendefinisikan apa yang baik dan apa yang dianggap buruk.
Sehingga anak akan merasa baik bila tingkah lakunya sesuai dengan norma
tingkah laku yang diterima di masyarakat (gershoff, 2002).
Orang tua atau biasa disebut juga dengan keluarga, atau yang identik
dengan orang yang membimbing anak dalam lingkungan keluarga. Meskipun
orang tua pada dasarnya dibagi menjadi tiga, yaitu orang tua kandung, orang
tua asuh, dan orang tua tiri. Tetapi yang kesemuannya itu dalam bab ini
diartikan sebagai keluarga. Sedangkan pengertian keluarga adalah suatu ikatan
laki-laki dengan perempuan berdasarkan hukum dan undang-undang
perkawinan yang sah. Orang tua adalah orang yang mempunyai amanat dari
Allah untuk mendidik anak dengan penuh tanggungjawab dan dengan kasih
sayang. Orang tua (keluarga) yang bertanggung jawab yang paling utama atas
perkembangan dan kemajuan anak. Dalam keluarga orang tua sangat
berperan sebab dalam kehidupan anak waktunya sebagian besar dihabiskan
dalam lingkungan keluarga apalagi anak masih dibawah pengasuhan atau anak
usia sekolah dasar yaitu antara usia (0-12 tahun), terutama peran seorang ibu
(Mansur, 2005).

Dampak Stres (skripsi dan tesis)

Stress dapat berpengaruh buruk terhadap otak dan perilaku, gangguan
ini menyebabkan ketidakseimbangan kimiawi di dalam tubuh dan
menimbulkan berbagai macam penyakit berbahaya, selain itu stress juga akan
berdampak pada memori, focus, dan konsentrasi biasanya cendrung membuat
seseorang tidak bisa tenang dan banyak marah (Aizid, 2015:20).
Dampak stress dibedakan dalam 3 kategori, yaitu :
1) Dampak fisiologi
Gangguan pada organ tubuh menjadi hiperaktif dalam salah satu
system tertentu. Contohnya : muscle myopathy pada otot tertentu
mengencang / melemah, tekanan darah naik terjadi kerusakan jantung
dan arteri, system pencernaan terjadi maag, diare. Gangguan pada system
reproduksi. Seperti : amenorrhea / tertahannya menstruasi, kegagalan
ovulasi pada wanita, impoten pada pria, kurang produksi semen pada pria,
kehilangan gairah seks. Dapat terganggunya sekresi hormone seksual.
Peningkatan sekresi kortisol berkaitan dengan menurunnya kadar
progesterone dan testosterone. Selama menderita stress kronis,
progesterone diubah menjadi kortisol, yang dapat menyebabkan
terjadinya defisiensi progesterone. Hal ini berakibat timbulnya gangguan
siklus menstruasi dan PMS. Gangguan pada system pernafasan : asma,
bronchitis. Gangguan lainnya, seperti pening (migrane), tegang otot,
jerawat, dan rasa bosan.
2) Dampak psikologi
a) Kelebihan emosi, jenuh, mudah menangis, frustasi, kecemasan, rasa
bersalah, khawatir berlebihan, marah, benci, sedih, cemburu, rasa
kasihan pada diri sendiri, serta rasa rendah diri.
b) Terjadi deporsonalisasi dalam keadaan stress berkepanjangan, seiring
dengan keletihan emosi, ada kecenderungan yang
30
c) Pencapaian pribadi yang bersangkutan menurun, sehingga berakibat
pula menurunnya rasa kompeten dan rasa sukses.
3) Dampak perilaku
a) Manakala stress menjadi distress, prestasi belajar menurun dan sering
terjadi tingkah laku yang tidak diterima oleh masyarakat.
b) Level stress yang cukup tinggi berdampak negative pada kemampuan
mengingat informasi, mengambil keputusan, mengambil langkah
tepat.
c) Stress yang berat seringkali banyak membolos atau tidak aktif
mengikuti kegiatan pembelajaran (Priyoto, 2014:9-10)

Tingkatan dan Bentuk Stress (skripsi dan tesis)

Tingkatan dan bentuk stress menurut priyoto (2014:8-9) tingkatan stres yaitu :
1) Stress ringan
Stress ringan adalah stressor yang dihadapi setiap orang secara
teratur, seperti terlalu banyak tidur, kemacetan lalu lintas, kritikan dari
atasan. Situasi ini biasanya berlangsung beberapa menit atau jam. Stressor
ringan biasanya tidak disertai timbulnya gejala. Ciri-ciri yaitu semangat
meningkat, penglihatan tajam, energi meningkat namun cadangan
energinya menurun, kemampuan menyelesaikan pelajaran meningkat,
sering terasa letih tanpa sebab, kadang-kadang terdapat gangguan system
seperti pencernaan, otot, perasaan tidak santai. Stress yang ringan berguna
karena dapat memacu seseorang untuk berpikir dan berusaha lebih
tangguh menghadapi tantangan hidup.
2) Stress sedang
Berlangsung lebih lama dari beberapa jam sampai beberapa hari.
Situasi perselisihan yang tidak terselesaikan dengan rekan, anak yang sakit
atau ketidakhadiran yang lama dari anggota keluarga merupakan penyebab
stress. Ciri-cirinya yaitu sakit perut, mulas, otot-otot terasa tegang,
perasaan tegang, gangguan tidur dan badan terasa ringan.
3) Stress berat
Adalah situasi yang lama dirasakan oleh seseorang dapat
berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan, seperti perselisihan
perkawinan secara terus menerus, kesulitan financial yang berlangsung
lama karena tidak ada perbaikan, berpisah dengan keluarga, mempunyai
penyakit kronis dan termasuk perubahan fisik, psikologis, social pada usia
lanjut. Makin sering dan makin lama situasi stress, makin tinggi resiko
kesehatan yang ditimbulkan. Stress yang berkepanjangan dapat
mempengaruhi kemampuan untuk menyelesaikan tugas perkembangan.
Ciri-cirinya sulit beraktivitas, gangguan hubungan social, sulit tidur,
negativistik, penurunan konsentasi, keletihan meningkat, tidak mampu
melakukan pekerjaan sederhana, gangguan system dan perasaan takut
meningkat.
Pada buku Colbert (2011) ada tingkatan stress berdasarkan stadiumnya:
1. stadium 1: reaksi peringatan
Ketika kita tiba-tiba mengalami stress, misalnya saat mengalami
kecelakaan lalulintas, menjadi korban kejahatan sadis atau dari faktor
lainnya reaksi tersebut pada umumnya dapat menyebabkan melonjaknya
sekresi hormone adrenalin dalam jangka waktu singkat.
2. stadium 2: resistensi
Seseorang dengan stadium ini berusaha beradaptasi dengan situasi
negative yang terjadi. Tubuhnya tidak merespon melawan atau lari tetapi
menunjukan reaksi yang mengelola situasi negative tersebut secara
berhasil dan tubuhnya akan terus berlanjut menghasilkan hormone stress
yaitu hormone kortisol.
3. stadium 3: kepayahan
Pada stadium ini tubuh mulai rontok dan meningkat secara drastis
resiko terkena penyakit kronis. Stadium ini menunjukan secara teknis
merujuk kepada terjadinya kepayahan kelenjar adrenalis. Kelenjar
adrenalis biasanya menyebabkan gangguan psikis, ganguan mental, fisik,
dan emosional pada setiap organ serta system dalam tubuh akan
terpengaruhi (Colbert, 2011:20-27)

Tahapan stress (skripsi dan tesis)

Gejala-gejala pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena
perjalanan awal tahapan stress timbul secara lambat. Dan baru dirasakan
bilaman tahapan stress timbul dan mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari
baik di rumah, di tempat kerja ataupun di pergaulan lingkungan sosialnya.
Dalam penelitiannya membagi tahapan-tahapan stress sebagai berikut:
1. Stress Tahap 1
Tahapan ini merupakan tahapan stress yang paling ringan, dan
biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut:
a) Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting)
b) Pengelihatan tajam tidak sebagaimana biasanya
c) Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya, namun
tanpa disadari cadangan energy di habiskan (all out) disertai rasa gugup
yang berlebihan.
d) Merasa senang dengan pekeriaanya itu dan semakin bertambah
semangat, namun tanpa disadari cadangan energi semakin tipis.
2. Stress tahap 2
Dalam tahapan ini dampak stress yang semula “menyenangkan”
sebagaimana diuraikan pada tahap I diatas mulai menghilang, dan timbul
keluhan yang timbut akibat energy tidak cukup sepanjang hari karena
tidak ada waktu uatuk istirahat. Keluhan-keluhan yang sedang
dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stress tahap II adalah:
a) Merasa letih sewaktu bangun pagi, yang seharusnya merasa segar
b) Merasa mudah lelah sesudah makan siang
c) Lekas merasa capai menjelang sore hari
d) Sering mengeluh lambung atau perut tidak nyaman
e) Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar)
f) Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang
g) Tidak bisa santai (marah-marah)
3. Stress Tahap 3
Bila seseorang itu tetap memaksa diri dalarn pekerjaannya tanpa
menghiraukan keluhan-keluhan sebagaimana diuraikan pada stres tahap II
tersebut di atas, maka yang bersangkutan akan menunjukkan keluhankeluhan yang semakin nyata dan mengganggu yaitu:
a) Gangguan lambung dan usus semakin nyata
b) Ketegangan otot semakin terasa
c) Perasaan ketidaktenangan dan ketegangan emosional semakin
meningkat
d) Gangguan pola tidur (insomnia)
e) Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa oyong dan serasa mau
pingsan).
f) pelampiasan diri pada orang lain atau keluarga
4. Stress tahap 4
Gejala stress tahap IV akan muncul:
a) Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat sulit
b) Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan mudah
diselesaikan menjadi membosankan dan terasa amat sulit.
c) Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan
kemampuan untuk merespon secara memadai
d) Tidak mampu melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari
e) Gangguan pola tidur
f) Daya konsentrasi dan daya ingatan menurun
g) Timbul perasaan ketakutan dan cemas yang tidak dapat dijelaskan
penyebabnya
5. Stress tahap 5
Keadaan lebih lanjut, maka seseorang itu akan jatuh dalam stress
tahap lima yang ditandai dengan hal-hal berikut :
a) kelelahan fisik dan mental yang semakin dalam
b) ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang
ringan dan sederhana
c) Gangguan system pencernaan semakin berat (mules, maag, dll)
d) Timbul perasaan ketakuran dan kecemasan yang semakin meningkat,
ditambah mudah bingung dan panik.
6. Stress tahap 6
Tahap ini merupakan tahap akhir atau klimaks, seseorang
mengalami serangan panik (panic attack) dan perasaan takut mati. Tidak
jarang orang yang mengalami stress tahap 6 ini berulang kali di bawah ke
unit gawt darurat bahkan ICCU, meskipun di pulangkan karena tidak
ditemukan kelainan fisik pada organ tubuh. Di tandai dengan sebagai
berikut :
a) Debaran jantung teramat keras
b) Susah bernafas (sesak dan megap-megap)
c) Sekujur badan gemetar, dingin dan keringat bercucuran
d) Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan
e) Pingsan atau kolaps (Priyoto, 2014:6-8)

Gejala Stres (skripsi dan tesis)

Secara umum gejala stress di bagi menjadi 2 (dua) yaitu : 1. Gejala fisik Beberapa bentuk gangguan fisik yang sering muncul pada stress adalah nyeri dada, diare selama beberapa hari, sakit kepala, mual, jantung berdebar, lelah, susah tidur dan lain-lain. 2. Gejala psikis Sementara bentuk gangguan psikis yang sering terlihat adalah cepat marah, ingatan melemah, tak mampu berkonsentrasi, tidak mampu 23 menyelesaikan tugas, perilaku impulsive, reaksi reaksi berlebihan terhadap hal sepele, daya kemampuan berkurang, tidak mampu santai pada saat yang tepat, tidak tahan terhadap suara atau gangguan lain, dan emosi tidak terkendali (Priyoto, 2014:3).

Sumber Stres (skripsi dan tesis)

Sumber stres itu banyak sekali dan ada dimana-mana. Segala sesuatu yang dapat mengganggu kedamaian hati dan kesenangan kita, yang pada giliran berikutnya dapat mengganggu kesehatan kita, dapat dipandang sebagai sumber stres (Colbert, 2011:6). Kondisi stress dapat disebabkan oleh berbagai penyebab atau sumber, dalam istilah yang lebih umum disebut stressor. Stressor adalah keadaan atau situasi, objek atau individu yang dapat menimbulkan stress secara umum, stressor dapat di bagi menjadi tiga yaitu stressor fisik, social dan psikologis.
1. Stressor fisik Bentuk dari stressor fisik adalah suhu (panas dan dingin), suara bising, polusi udara, keracunan, obat-obatan (bahan kimia).
 2. Stressor sosial a) Stressor sosial, ekonomi dan politik, misalnya tingkat inflasi yang tinggi, tidak ada pekerjaan, pajak tinggi, perubahan teknologi yang cepat, kejahatan. b) Keluarga, misalnya peran seks, edukasi, iri, cemburu, kematian anggota keluarga, masalah keuangan, perbedaan gaya hidup dengan pasangan atau anggota keluarga yang lain. c) Jabatan dan karir, misalnya kompetisi dengan teman, hubungan yang kurang baik dengan atasan atau sejawat, pelatihan, aturan kerja. d) Hubungan interpersonal dan lingkungan, misalnya harapan social yang terlalu tinggi, pelayanan yang buruk, hubungan social yang buruk.
3. Stressor psikologis a) Frustasi adalah tidak tercapainya keinginan atau tujuan karena hambatan. b) Ketidakpastian apabila seseorang sering berada dalam keraguan dan merasa tidak pasti mengenai masa depan atau pekerjaannya atau merasa selalu bingung dan tertekan, rasa bersalah, perasaan khawatir dan inferior (Priyoto, 2014:2-3)
Dari tiga sumber diatas dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori pemicu stress yang umum terjadi sebagai berikut :
 1. Stress kepribadian (personality stress) Yaitu, stress yang di picu oleh problem pribadi. Pemicu stress ini berhubungan dengan cara pandang terhadap masalah dan kepercayaan atas dirinya. Orang yang selalu menyikapi suatu masalah secara positif, maka resiko terkena stress jenis ini akan sangat kecil, sebaliknya orang yang menanggapi secara negative memiliki potensi lebih tinggi terserang jenis stress tersebut.
 2. Stress psikososial (pyskososial stress) Stress yang di picu oleh hubungan relasi dengan orang lain atau akibat situasi social lainnya, misalnya stress adaptasi lingkungan baru,  masalah cinta, atau keluarga, stress karena macet di jalan, di olok-olok, dan lain-lain.
3. Stress bioekologi (bioecological stress) Stress ini di picu dua hal yakni, pertama, keadaan ekologi (lingkungan), seperti polusi udara atau cuaca yang buruk. Kedua di picu kondisi biologis, seperti akibat dating bulan, demam, asma, jerawat, tambah tua, dan sebagainya akibat penyakit serta kondisi tubuh lainnya.
4. Stress pekerjaan (job stress) Stress yang di picu oleh pekerjaan, misalnya, persaingan jabatan, tekanan pekerjaan, deadline, terlalu banyak kerjaan, ancaman di pecat, target tinggi, usaha gagal, persaingan bisni, dan lain-lain. Semua itu merupakan hal yang umum dapat memicu stress. Stress yang dipicu oleh pekerjaan ini adalah stress yang paling sering terjadi, banyak orang stress karena di timpa berbagai macam persoalan social (Aizid, 2015:23-24)

Sosioekonomi dan Stressor ekonomi (skripsi dan tesis)

 Menurut Emanualsen & Rosenlicht, stressor merupakan faktor internal maupun eksternal yang dapat mengubah individu dan berakibat pada terjadinya fenomena stress. Dapat disimpulkan stress adalah dampak dari stressor (penyebab stress) yang dianggap sebagai tekanan oleh individu sehingga membuatnya terpaksa untuk terus memikirkan hal tersebut dan akhirnya akan mengganggu kesehatan psikologinya. Faktor 19 ekonomi merupakan salah satu penyebab terjadinya kasus-kasus rumah tangga yang bisa berakibat buruk bagi kehidupan anak-anaknya. Factor sosial dan ekonomi secara bermakna mempengaruhi status kesehatan dan pelayanan kesehatan mengetahui kualitas suatu populasi yang memepengaruhi kesehatannya, penyakitnya, dan kematiannya adalah berguna jika menilai kebutuhan kesehatan sekarang merancang fasilitas dan program untuk di masa depan. Badan kesehatan dunia ( WHO) mendifinisaikan kesehatan sebagai kesehatan fisik, mentanl, dan social yang lengkap dan bukan semata-mata tidak adanya penyakit. Penekanan sekarang ini terhadap perawatan kesehatan adalah pencegahan dan promosi. Masalah sosial ekonomi yang utama dalam pelayanan kesehatan yaitu gaya hidup dan kebiasaan pribadi adalah factor utama dalam penyebab penyakit kematian baik dari mental maupun fisik. Kemudian dari status sosial ekonomi seseorang tidak di dasarkan sematamata pada penghasilan tetapi juga termasuk factor tertentu seperti pendidikan pekerjaan dan gaya hidup insidensi penyakit mental atau steres di pengaruhi oleh status sosioekonomi.
Orang dalam status sosioekonomi yang rendah kemungkinan menderita berbagai macam penyakit akibat stres. Orang dengan status sosioekonomi rendah mempunyai harapan hidup yang lebih rendah, karena panjangnya umur secara positif berhubungan dengan tingkat status sosioekonomi. Terdapat hubungan yang positif anatara status sosioekonomi dengan kesehatan mental demikian dengan orang berstatus sosioekonomi yang tinggi mempunyai kesehatan mental yang lebih baik di bandingkan orang dengan 20 status sosioekonomi rendah. Selanjudnya kemiskinan berhubungan dengan banyak masalah jangka panjang seperti kesehatan yang buruk dan meningkatnya mortalitas, gangguan mental, gagal sekolah, tindakan criminal, dan penyalagunaan zat (Kaplan, Sadock dan Grebb, 2006 : 311-312).

Definisi Stres Sosial (skripsi dan tesis)

 Stres sosial adalah stres yang di timbulkan oleh berbagai kondisi sosial. Kondisi-kondisi sosial ini mencakup : pengangguran (unemployment), penyakit(illness), kondisi perumahan buruk (poor housing condition), ukuran keluarga besar dari rata-rata (a larger-than-average family size), kelahiran bayi baru (the presence of a new baby), orang cacat dirumah (disabled person), dan kematian (the death) seseorang anggota keluarga (Huraerah, 2007:53-54). Stress sosial sebagai keadaan bio-psikologis gairah yang dihasilkan baik dari kehadiran socioenviron mental termasuk tuntutan dari perilaku adaptif setiap individu atau dari kesusahan untuk berfikir dan tidak mencapai hasil akhir (Emaj, 2010:361-362). Definisi stres sosial bisa berbagai macam dapat dilihat dari kondisi-kondisinya akan tetapi stres sosial yang sering dihadapi individu ialah permasalahan lingkungan (perekonomian) karena stress merupakan bentuk interaksi Antara individu dengan lingkungan, yang dinilai individu sebagai sesuatu yang membebani atau melampaui kemampuan yang dimilikinya, serta mengancam kesejahteraannya (Lubis, 2009 : 17).
Hambatan stres sosial ada berbagai macam yaitu : kondisi perekonomian yang tidak bagus, kemiskinan, persaingan hidup yang keras, perubahan tidak pasti dalam berbagai aspek kehidupan (Ardani, 2013 :78). 18 Stres merupakan suatu reaksi fisik dan psikis terhadap setiap tuntutan yang menyebabkan ketegangan dan menganggu stabilitas kehidupan seharihari, menurut WHO stress adalah reaksi / respon tubuh terhadap stressor psikososial (Priyoto, 2014:2). Stres adalah faktor fisik, kimia, atau emosional yang dapat menyebabkan ketegangan pada tubuh atau mental dan yang dapat bertindak sebagai faktor penyebab penyakit jadi semua bentuk dan jenis stress akan menghasilkan reaksi pada tubuh dan diketahui lebih dari 1400 reaksi fisik dan kimiawi dan melibatkan lebih dari hormon dan neurotransmitter berbeda dilepaskan atau dieksresikannya hormone stress secara berlebihan dapat merusak sel, jaringan, dan organ tubuh. (Colbert, 2011:5-6). Disimpulkan dari beberapa pendapat tersebut stress sosial adalah keadaan dimana seorang individu yang sedang mengalami frustasi dan konflik yang dialami individu yang dapat berasal dari berbagai bidang kehidupan manusia (Ardani, 2013 :78)

Hubungan Antara Kesehatan Sosial−Emosional dan Stres Akademik pada Siswa (skripsi dan tesis)

Furlong (2013) memaparkan empat aspek kesehatan sosial−emosional,
aspek yang pertama adalah belief in-self yang berarti kesehatan
sosial−emosional ditandai dengan individu yang memiliki kepercayaan
terhadap dirinya sendiri. Belief in-self ditandai dengan individu yang
memiliki kesadaraan diri (self awareness), efikasi diri (self efficacy) dan
kegigihan (persistence). Efikasi diri dan kegigihan yang dialami individu
berkaitan dengan kemapuan intelektual individu yang merupakan aspek dari
stres akademik. Individu yang memiliki kemampuan intelektual yang baik
mampu mengorganisir dan menggunakan segala sumber yang ada pada
dirinya untuk menghadapi segala tantangan yang dihadapi dan
melakukannya secara tekun dan gigih. Menurut penelitian Wulandari dan
Rachmawati (2014), efikasi diri memiliki hubungan negatif yang signifikan
terhadap stres akademik. Hal ini menunjukkan bahwa individu yang
memiliki efikasi diri yang tinggi akan memiliki stres akademik yang rendah.
Hal ini dikarenakan individu yang memiliki efikasi diri tinggi mampu
memandang situasi dan lingkungan yang menekan sebagai sesuatu yang
dapat diahadapi dan dikontrol. Sehingga, ketika terdapat tekanan akademik
di sekolah, individu dengan efikasi diri tinggi mampu menjadikan tekanan
tersebut sebagai sesuatu yang menantang.
Aspek kedua dari kesehatan sosial−emosional adalah belief in-others
yaitu kemampuan individu untuk mempercayai orang lain. Belief in-others
ditandai dengan kemampuan individu untuk memiliki hubungan erat dan
baik dengan keluarga, teman sebaya dan masyarakat serta memiliki
dukungan yang positif dari mereka. Hubungan erat dengan orang lain atau
belief in-others berkaitan dengan aspek interpersonal dari stres akademik.
Penelitian yang dilakukan oleh Ernawati dan Rusmawati (2015) mengatakan
bahwa dukungan sosial orang tua berhubungan negatif dengan stres
akademik. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial
orang tua semakin rendah stres akademik individu. Dukungan sosial orang
tua yang mempengaruhi stres akademik adalah penghargaan. Individu yang
mendapat penghargaan dari orang tuanya akan memiliki stres akademik
yang rendah, karena individu merasa orang tuanya tidak memberikan
tekanan kepada diri individu tersebut.
Aspek ketiga adalah emotional competence yaitu kemampuan untuk
mengolah emosi. Emotional competence ditandai dengan self control
individu yang baik, memiliki rasa empati serta mampu melakukan regulasi
emosi. Hal ini berkaitan dengan aspek stres akademik yaitu aspek
emosional. Individu yang mampu mengolah emosi mampu menghadapi
masalah dengan baik dan terhindar dari perubahan mood yang cepat.
Penelitian Kartika (2015) mengatakan bahwa kecerdasan emosi memiliki
hubungan negatif dengan stres akademik. Dengan demikian, diketahui
apabila kecerdasan emosi seorang individu tinggi maka stres akademiknya
akan rendah. Hal ini dikarenakan individu yang memiliki kecerdasan emosi
yang baik dapat mengatasi tuntutan dan tekanan di dalam hidupnya, dengan
demikian, individu yang mengalami stres akademik tidak mampu
mengontrol dan mengatasi tuntutan di akademik.
Aspek terakhir dari kesehatan sosial−emosional adalah engaged living
yaitu kemampuan individu untuk terlibat secara utuh dan langsung terhadap
kehidupannya. Engaged living ditandai dengan individu yang memiliki
optimisme tinggi dalam hidup, mampu bersyukur dan bersemangat dalam
menjalani hidup. Aspek ini berkaitan dengan aspek intelektual dan
emosional dari stres akademik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Mukhlis (2015) diketahui bahwa pelatihan kebersyukuran (gratitude) dapat
menurunkan tingkat kecemasan menjelang ujian nasional. Hal ini
dikarenakan individu yang memiliki rasa syukur yang tinggi memiliki
perasaan, perkataan dan pikiran yang benar sehingga mampu melihat situasi
yang menekan dan mencari solusi dari situasi tersebut. Hal ini dapat
diartikan bahwa pelatihan kebersyukuran mampu mengurangi tekanan
akademik menjelang ujian nasional yang akan berdampak pada penurunan
tingkat stres akademik siswa. Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan
di atas dapat disimpulkan bahwa kesehatan sosial−emosional memiliki
hubungan dengan stres akademik.

Aspek-aspek Kesehatan Sosial−Emosional (skripsi dan tesis)

Menurut Furlong (2013), terdapat empat aspek kesehatan
sosial−emosional yaitu:
a) Percaya Diri (Belief in self )
Individu yang memiliki kesehatan sosial−emosional yang baik akan
memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Individu yang memiliki
kepercayaan diri yang baik dikatakan apabila individu tersebut
memiliki efikasi diri (self efficacy), kegigihan (persistence) dan
kesadaran akan diri sendiri (self awareness).
b) Percaya pada Orang Lain (Belief in others)
Individu yang memiliki kesehatan sosial−emosional yang baik
mampu percaya pada orang lain. Seseorang dikatakan mampu
percaya pada orang lain apabila memiliki koherensi keluarga (family
coherence), dan memiliki dukungan (support) dari sekolah dan
teman sebaya (peer).
c) Kompetensi Emosional (Emotional competence)
Individu yang memiliki kesehatan sosial−emosional yang baik
memiliki kompetensi emosional yang baik. Seseorang yang memiliki
kompetensi emosional berarti mampu untuk mengontrol diri sendiri
(self control), memiliki empati (empathy) dan regulasi emosi
(emotion regulation).
d) Terlibat dalam Hidup (Engaged living)
Individu yang terlibat dalam kehidupannya berarti memiliki
optimisme dalam hidup (optimism), artinya selalu berpikir optimis
akan hidup dan mampu menyusun masa depan, selalu bersyukur
(gratitude), serta bersemangat (zest) dalam menjalani segala
tantangan hidup.
Menurut Weare dan Gray (2003), terdapat enam aspek kesehatan
sosial−emosional, yaitu:
a) Harga Diri (Self−esteem)
Harga diri yang positif merupakan fondasi dari keseharan mental,
emosional dan sosial. Sebuah studi menemukan bahwa kurangnya
harga diri akan menimbulkan masalah pada kemampuan dan
kompetensi diri individu, seperti, tidak mau ikut serta
(unassertiveness), mengkritik diri sendiri (self−criticism), dan
adanya perasaan tidak berdaya (powerless) yang akan menimbulkan
stres dan masalah psikologis.
b) Kesejahteraan Emosional (Emotional well−being)
Kesejahteraan emosional merupakan bagian penting dari kesehatan
sosial−emosional. Individu yang memiliki kesehatan
sosial−emosional yang baik mampu memahami emosi yang ada pada
dirinya, mampu mengekspresikan diri dan meningkatkan emosi
positif.
c) Berpikir Jernih (Thinking clearly)
Berpikir jernih merupakan bagian dari kesehatan sosial−emosional.
Individu yang memiliki kesehatan sosial−emosional yang baik maka
memiliki kemampuan untuk berpikir jernih, mengolah informasi,
memecahkan masalah, membuat keputusan, menentukan tujuan dan
memiliki sense of reality (rasa akan kenyataan).
d) Kemampuan untuk Tumbuh (The Ability to grow)
Kesehatan sosial−emosional tidak bersifat statis tapi berkembang.
Individu yang memiliki kesehatan sosial−emosional yang baik
memiliki kemampuan untuk tumubuh (grow) baik secara fisik,
psikologis, emosional, intelektual dan rohani.
e) Resiliensi
Aspek penting dari kesehatan mental, emosional dan sosial adalah
kemampuan untuk memproses pengalaman yang sulit atau
menyakitkan, mampu belajar dari pengalaman tersebut dan
melanjutkan hidup (move on), tidak berlarut−larut dalam masa lalu
yang akan menahan diri dari masa depan.
f) Kemampuan untuk membangun hubungan dengan orang lain
Kemampuan untuk membangun sebuah hubungan merupakan
kompetensi utama dan penentu penting dalam kesehatan
sosial−emosional. Kemampuan untuk membangun sebuah hubungan
dengan orang lain yaitu seperti mampu untuk membentuk kelekatan
(attachment), mampu membentuk ikatan dan terhubung dengan
orang lain, mengelola konflik, menunjukan dan merasakan
penerimaan (acceptance), mampu menoleransi perbedaan,
menghargai pendapat orang lain dan memiliki rasa tanggung jawab.
Berdasarkan aspek-aspek yang telah dipaparkan di atas. Peneliti
menggunakan aspek-aspek kesehatan sosial−emosional menurut
Furlong (2013). Hal ini dikarenakan Furlong (2013) menjelaskan
aspek-aspek kesehatan sosial−emosional secara detail dan mudah untuk
dipahami. Selain itu, aspek-aspek yang dijelaskan mampu menjelaskan
kesehatan sosial−emosional

Definisi Kesehatan Sosial−Emosional (skripsi dan tesis)

Kesehatan sosial−emosional adalah kemampuan individu untuk
membentuk hubungan yang kuat dengan orang lain, mampu
mengekspresikan dan mengelola emosi serta menjelajahi dunia di
sekitar individu dan memecahkan masalah (Mackrain, Weelden &
Marciniak, 2009). Furlong (2013) mendefinisikan kesehatan
sosial−emosional sebagai kemampuan individu untuk tumbuh dan
berkembang secara positif yang ditandai dengan kemampuan untuk
berbaur dengan orang lain, mengetahui jati dirinya, mengatur emosi dan
terlibat dalam semua kejadian di dalam hidupnya. Elias mengatakan
bahwa kesehatan sosial−emosional adalah kemampuan individu untuk
mengerti, mengelola dan mengekspresikan aspek sosial dan emosional
di dalam hidupnya, dengan cara mengelola tugas, membentuk
hubungan dengan orang lain, memecahkan masalah, dan beradaptasi
dengan tutuntan pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks
(Weare, 2000).
Berdasarkan pengertian dari para ahli di atas, dapat disimpulkan
bahwa kesehatan sosial−emosional merupakan kemampuan individu
untuk tumbuh dan mengembangkan aspek sosial dan emosional secara
positif dan mampu membentuk hubungan yang erat dengan orang lain
serta mampu terlibat langsung di dalam hidupnya

Faktor yang mempengaruhi Stres Akademik (skripsi dan tesis)

Menurut Yumba (2008) terdapat dua faktor yang mempengaruhi
stres akademik, yaitu:
a) Hubungan dengan Orang Lain
Hubungan dengan orang lain yang dapat mempengaruhi stres
akademik adalah adanya konflik antara individu dengan teman di
sekolah, masalah keluarga dan frustrasi. Teman di sekolah mencakup
teman sekamar (room mate) dan teman dekat (girlfriend/boyfriend).
b) Faktor Personal
Faktor personal mencakup hal−hal yang bersifat personal oleh
individu. Hal tersebut berupa pola tidur, pola makan, kesulitan
keuangan, masalah kesehatan, tanggung jawab yang harus dilakukan,
dan tekanan serta jenis kelamin.
c) Faktor Akademis
Faktor akademis yang mempengaruhi stres akademik adalah beban
tugas sekolah yang bertambah, nilai yang rendah, waktu belajar yang
banyak, kesulitan dalam memahami bahasa, ujian dan ketinggalan
pelajaran.
d) Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi stres akademik berupa
kurangnya liburan atau waktu istirahat, kondisi tempat tinggal yang
kurang baik, perceraian orang tua serta pindah ke kota baru.
Menurut Fink (2016) terdapat dua faktor yang mempengaruhi stres
akademik yaitu:
a) Faktor Biologis
Menurut Fink (2016), stres disebabkan oleh aktivitas atau kerja otak
yang berlebihan. Respon biologis terhadap stres melibatkan aktivasi
tiga sistem utama di dalam otak yang saling terkait. Sistem otak yang
berpengaruh adalah sesnori otak, homeostatis, dan hormon adrenalin.
b) Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang menyebabkan stres adalah status sosial,
peran sosial dan lingkungan sekitar. Semakin tinggi status dan peran
sosial seseorang semakin tinggi beban dan tekananyang harus
ditanggung oleh seseorang tersebut. Seperti seorang siswa, semakin
tinggi jenjang pendidikannya semakin tinggi pula tugas dan
tanggung jawab yang harus dihadapi yang dapat memicu stres
akademik.
Berdasarkan faktor-faktor yang dijelaskan di atas, dapat dikatakan
bahwa kesehatan sosial−emosional dapat mempengaruhi stres
akademik. Faktor personal mencakup hal-hal yang bersifat personal dan
faktor ini berkaitan dengan aspek kesehatan sosial-emosional yaitu
percaya pada diri sendiri, dimana individu yakin dapat mengatasi
tekanan dan tanggung jawab yang dipikul oleh individu tersebut (self
efficacy). Dengan memiliki keyakinan tersebut dapat mengurangi
individu dalam mengalami stress akademik.

Aspek-aspek Stres Akademik (skripsi dan tesis)

Menurut Sun, Dunne dan Hou (2011) terdapat lima aspek stres
akademik, yaitu:
a) Tekanan Belajar
Tekanan belajar berkaitan dengan tekan yang dialami individu ketika
sedang belajar di sekolah dan di rumah. Tekanan yang dialami oleh
individu dapat berasal dari orang tua, teman sekolah, ujian di sekolah
serta jenjang pendidikan yang lebih tinggi
b) Beban Tugas
Beban tugas berkaitan dengan tugas yang harus dikerjakan oleh
individu di sekolah. Beban yang dialami individu berupa pekerjaan
rumah (PR), tugas di sekolah dan ujian/ulangan.
c) Kekhawatiran terhadap Nilai
Aspek intelektual berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk
memperoleh ilmu pengetahuan baru. Aspek ini juga berkaitan
dengan proses kognitif individu. Individu yang sedang mengalami
stres akademik akan sulit untuk berkonsentrasi, mudah lupa dan
terdapat penurunan kualitas kerja.
d) Ekspektasi Diri
Ekspektasi diri berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk
memiliki harapan atau ekspektasi terhadap dirinya sendiri. Seseorang
yang memiliki stres akademik akan memiliki ekspektasi yang rendah
terhadap dirinya sendiri seperti merasa selalu gagal dalam nilai
akademik dan merasa selalu mengecewakan orang tua dan guru
apabila nilai akademis tidak sesuai dengan yang diinginkan.
e) Keputusasaan
Keputusasaan berkaitan dengan respon emosional seseorang ketika
ia merasa tidak mampu mencapai target/tujuan dalam hidupnya.
Individu yang mengalami stres akademik akan merasa bahwa dia
tidak mampu memahami pelajaran serta mengerjakan tugas−tugas di
sekolah.
Menurut Hardjana (2002) terdapat empat aspek stres akademik,
yaitu:
a) Fisikal
Aspek fisikal berkaitan dengan hal−hal yang bersifat fisik dan
tingkah laku individu yang dapat dilihat dan diamati. Seperti
berkeringat, penaikan tekanan darah, kesulitan untuk tidur dan buang
air besar, tegang pada urat dan sakit kepala.
15
b) Emosional
Aspek emosional berkaitan dengan perasaan individu sebagai respon
terhadap sesuatu. Aspek emosional yang berkaitan dengan stres
akademik adalah mudah merasa sedih, depresi dan marah, mood
yang berubah dengan cepat serta terjadi burn out.
c) Intelektual
Aspek intelektual berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk
memperoleh ilmu pengetahuan baru. Aspek ini juga berkaitan
dengan proses kognitif individu. Individu yang sedang mengalami
stres akademik akan sulit untuk berkonsentrasi, mudah lupa dan
terdapat penurunan kualitas kerja.
d) Interpersonal
Aspek interpersonal berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk
melakukan hubungan atau komunikasi dengan orang lain. Individu
yang sedang mengalami stres akademik akan kesulitan untuk
bersosialisasi. Hal ini dikarenakan individu mengalami kehilangan
kepercayaan baik dengan diri sendiri maupun orang lain, mudah
menyerang orang lain dan tidak mau disalahkan.
Berdasarkan aspek-aspek yang telah dipaparkan di atas. Peneliti
menggunakan aspek-aspek stres akademik menurut Sun, Dunne dan
Hou (2011). Hal ini dikarenakan Sun, Dunne dan Hou (2011)
menjelaskan aspek-aspek stres akademik secara detail dan mudah untuk
dipahami. Selain itu, aspek-aspek yang dijelaskan mampu menjelaskan
stres akademik.
Perbedaan aspek stres akademik Sun, Dunne dan Hou (2011) adalah
lebih menjelaskan stres akademik dari sisi sumber-sumber stress
akademik sedangkan aspek Hardjana (1994) lebih menjelaskan stres
akademik dari sisi kognitif dan emosional individu

Definisi Stres Akademik (skripsi dan tesis)

Secara umum stres adalah reaksi psikologis seseorang terhadap tantangan dalam hidup yang membebani kehidupan seseorang dan tidak sesuai dengan harapan seseorang tersebut sehingga mengganggu kesejahteraan hidup (Mumpuni & Wulandari, 2010). Santrock (2003) mengatakan bahwa stres merupakan respon seseorang terhadap suatu kejadian yang memicu stres yang tidak dapat dihadapi oleh individu. Kemudian, stres akademik merupakan stres yang ditimbulkan dari tuntutan akademik yang melampaui kemampuan adaptasi dari individu yang mengalaminya (Wilks, 2008). Desmita (2010) mengatakan bahwa stres akademik merupakan respon peserta didik terhadap tuntutan sekolah yang menekan yang menimbulkan perasaan tidak nyaman, ketegangan dan perubahan tingkah laku. Stres akademik merupakan respon yang muncul karena terdapatnya ketegangan yang disebabkan oleh tuntutan akademik yang harus dikerjakan oleh individu (Olejnik & Holschuh, 2007). Berdasarkan pengertian dari para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa stres akademik merupakan suatu respon yang muncul yang ditimbulkan oleh stimulus−stimulus yaitu tantangan dan tuntutan  akademik yang menimbulkan ketegangan, perasaan tidak nyaman dan perubahan tingkat laku

Definisi Operasional Locus Of Control (skripsi dan tesis)

Locus of control didefinisikan sebagai kondisi dimana individu bisa mengendalikan lingkungan internal dan eksternalnya. Untuk mengukur variabel locus of control, digunakan instrumen yang digunakan Rotter (1996) dalam Chi Hsinkuang et al (2010),   yang diuraikan sebagai berikut : 1) External locus of control 2) Internal locus of control

Definisi Operasional Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)

Kepuasan kerja merupakan keadaan emosi yang yang bersifat menyenangkan sebagai hasil presepsi seseorang terhadap pekerjaanya, apakah pekerjaan trsebut dapat memenuhi atau memfasilitasi tercapainya nilai pekerjaan yang penting bagi orang tersebut. Penelitian ini menggunakan indikator dari Robbins dan Judge (2008)  , mereka merasa puas dikarenakan beberapa hal yang diuraikan sebagai berikut : 1. Kerja yang menantang : 2. Penghargaan yang sesuai 3. Kolega yang support 4. Perilaku atasan

Definisi Operasional Tekanan Sosial (skripsi dan tesis)

Tekanan sosial dalam penelitian ini adalah suatu keadaan psikologi dimana individu mengalami tekanan yang dapat menghambat suatu kinerja dan karir individu. Penelitian ini menggunakan indikator dari Price (2001) karena lebih terpusat pada fenomena di lapangan yang dialami oleh karyawan PDAM Surya Sembada kota Surabaya, mereka merasa tertekan dikarenakan beberapa hal yang diuraikan sebagai berikut : 1. Ambigutas peran. 2. Konflik peran. 3. Beban kerja. 4. Sumber daya yang tidak mencukupi.

Hubungan Tekanan Sosial terhadap Kepuasan Kerja yang dimosderasi Locus Of Control (skripsi dan tesis)

Damai Nasution dan Ralf Ostermark (2012) menyatakan bahwa penilitian terhadap tekanan sosial dan keputusan auditor dapat dimoderasi variabel locus of control. Dengan memahami berbagai hubungan variabel kepribadian locus of control terhadap tekanan sosial, keputusan auditor, penelitian ini tergolong penelitian baru karena Tekanan sosial sebagai variabel independen dan kepuasan kerja sebagai variabel dependen yang dimoderasi oleh locus of control sebagai variabel moderator. Maka diharapkan dapat menghasilkan wawasan yang berharga dalam kaitannya dalam rekuitmen, pembinaan, dan pengelolaan karyawan oleh perusahaan

Hubungan Locus Of Control dengan Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)

 

Menurut Spector (1997) kepuasan kerja dapat divisualisasikan sebagai kondisi orang mengenai pekerjaan mereka dan aspek dari pekerjaan mereka. Robins (1973) mendefinisikan kepuasan kerja merujuk pada “Suatu perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan hasil dari evaluasi karakteristiknya”. Locus of control memiliki hubungan dengan kepuasan seseorang. Seseorang yang memiliki Locus of control internal akan mempunyai kepuasan kerja yang lebih tinggi dibanding dengan mereka yang memiliki locus of control eksternal.

Hubungan Tekanan Sosial dengan Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)

Dari beberapa riset yang dilakukan oleh peneliti yang telah mengkaji hubungan antara tekanan sosial dan kepuasan kerja. tekanan yaitu kondisi tekanan yang dapat mempengaruhi proses berpikir, emosi serta kondisi dari seseorang. Sedangkan kepuasan kerja itu sendiri adalah kondisi seorng merasa senang dengan hasil dari pekerjaan itu sendiri. Keduanya saling berhubungan seperti yang dikemukakan Robbins (2003) bahwa salah satu dampak dari stres itu adalah menurunya kepuasan kerja karyawan. Milgram dalam Nasution (2012), menyatakan bahwa tekanan berhubungan dengan orang yang memiliki otoritas dalam konteks hirarkis yang disangkutkan dengan pekerjaan dapat menimbulkan ketcemburuan sosial yang berkaitan dengan pekerjaan dan memang itulah efek psikologis yang paling sederhana dan paling jelas dari tekanan tersebut

Locus Of Control (skripsi dan tesis)

 

Locus of control yakni istilah dalam psikologi yang menunjukkan kepercayaan seseorang mengenai apa penyebab hal baik atau buruk dalam kehidupannya, baik dalam hal umum maupun hal khusus seperti kesehatan atau akademik. Pemahaman konsep tersebut dikembangkan oleh Julian B. Rotter pada tahun 1954 dan sejak itu menjadi aspek penting dalam studi personalitas. Locus of control menunjukkan kepercayaan seseorang bahwa seseorang dapat mengendalikan hal -hal yang mempengaruhi kehidupan. Secara garis besar pengembangan locus of control berasal dari budaya, keluarga dan pengalaman masa lalu. Kebanyakan seseorang dengan locus of control internal berasal dari keluarga yang fokus terhadap usaha (effort), pendidikan (education) dan tanggungjawab (responsibility). Disisi lain, kebanyakan seseorang dengan locus of control eksternal berasal dari keluarga dengan status sosio-ekonomi yang rendah dengan pengendalian hidup yang kurang.

Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)

Kepuasan kerja menurut robbins (2003) merupakan bentuk prilaku seseorang terhadap pekerjaanya sebagai hasil penilaian kepada perbedaan antara jumlah kelakuan positif yang ia terima dengan jumlah yang ia percaya seharusya ia terima. Menurut Greenber and Baron (2003) kepuasan kerja merupakan sikap fundamental yang berkaitan dengan pekerjaan didalamnya tiga komponen sikap, yaitu : a. Komponen evaluasi, terpusat pada sasaran suka atau tidak suka terhadap seseorang. b. Komponen kognisi, merupakan hal-hal yang diyakini berkaitan dengan objek sikap c. Komponen tingkah laku, merupakan prilaku dalam cara yang konsisten dengan keyakinan dan kepercayaan mengenai objek sikap

Tekanan Sosial (skripsi dan tesis)

 

Milgram dalam Nasution (2012), percaya bahwa perilaku yang diadopsi oleh seseorang adalah karena pengaruh tekanan sosial. Ada dua jenis tekanan sosial: tekanan ketaatan dari atasan dan tekanan dari teman sebaya. (Milgram dalam Nasution, 2012) menyatakan bahwa ketaatan dan kesesuaian untuk kembali pada pengunduran diri dari inisiatif untuk sumber eksternal. Penelitian ini berfokus pada ketaatan (obedience pressure) dan kesesuaian (conformity pressure)sebagai dua tipe tekanan sosial (social influence pressure) yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan. Obedience pressure muncul dari perintah yang dibuat oleh individu yang mempunyai otoritas (Kassin dan Brehm, 1990). Dasar teoretikal dari teori obedience menyatakan bahwa instruksi atau keputusan atasan dalam suatu organisasi mempengaruhi perilaku bawahan karena atasan memiliki kekuatan otoritas

Definisi Komitmen Organisasi (skripsi dan tesis)

Mowday, Steers dan Porter dalam Sopiah (2008, p155) mendefinisikan komitmen organisasi sebagai daya relatif dari keberpihakan dan keterlibatan seseorang terhadap suatu organisasi. Berdasarkan pendapat Mathis dan Jackson dalam Sopiah (2008, p155) memberikan definisi, ”Organizational Commitment is the degree to which employees believe in and accept organizational goals and desire to remain with the organization”. (Komitmen organisasional adalah derajat yang mana karyawan percaya dan menerima tujuan-tujuan organisasi dan akan tetap tinggal atau tidak akan meninggalkan organisasi). Steers dan Porter dalam Sopiah (2008, p156) mengatakan bahwa suatu bentuk komitmen yang muncul dalam diri karyawan tidak hanya bersifat loyalitas yang pasif, tetapi juga melibatkan hubungan yang aktif dengan organisasi yang memiliki tujuan memberikan segala usaha demi keberhasilan organisasi yang bersangkutan. Hal inilah yang membedakan komitmen dengan attachment (keikatan/keterikatan). Attachment merupakan bentuk komitmen yang rendah, dimana individu dalam  bergabung dan membantu organisasi sangat tergangung adanya imbalan (umpan balik) yang diterima. Keikatan menunjuk pada keanggotaan yang bersifat pasif. Meyer dan Allen dalam Sopiah (2008, p157) merumuskan suatu definisi mengenai komitmen dalam berorganisasi sebagai suatu konstruk psikologis yang merupakan karakteristik hubungan anggota organisasi dengan organisasinya dan memiliki implikasi terhadap keputusan individu untuk melanjutkan keanggotaannya dalam berorganisasi. Dari definisi-definisi di atas, diketahui bahwa komitmen organisasi merupakan sebuah proses terus menerus berlanjut dimana partisipan organisasi mengungkapkan perhatian untuk organisasi, dan sikap tentang loyalitas karyawan kepada organisasi mereka dan keinginan untuk bertahan menjadi karyawan dalam organisasi tersebut

Manfaat OCB (skripsi dan tesis)

Menurut Organ, et al (2006, p199) OCB dapat membawa manfaat bagi perusahaan, yaitu: 1. OCB meningkatkan produktivitas rekan kerja. Karyawan yang menolong rekan kerja lain akan mempercepat penyelesaian tugas rekan kerjanya, dan pada gilirannya meningkatkan produktivitas rekan tersebut. 2. OCB menungkatkan produktivitas manajer. Karyawan yang menampilkan perilaku civic virtue akan membantu manajer mendapatkan saran dan umpan balik yang berharga dari karyawan tersebut untuk meningkatkan efektivitas kerja. 3. OCB menghemat sumber daya yang dimiliki manajemen dan organisasi secara keseluruhan.  a. Jika karyawan saling tolong menolong dalam menyelesaikan masalah dalam suatu pekerjaan sehingga tidak perlu melibatkan manajer, konsekuensinya manajer dapat memakai waktunya untuk melakukan tugas lain, seperti membuat perencanaan. b. Karyawan yang menampilkan conscentioussness yang tinggi hanya membutuhkan pengawasan minimal dari manajer sehingga manajer dapat mendelegasikan tanggung jawab yang lebih besar kepada mereka, ini berarti lebih banyak waktu yang diperoleh manajer untuk melakukan tugas yang lebih penting. c. Karyawan yang menampilkan perilaku sportmanship akan sangat menolong manajer tidak menghabiskan waktu terlalu banyak untuk berurusan dengan keluhan-keluhan kecil karyawan. 4. OCB dapat menjadi sarana efektif untuk mengkoordinasi kegiatan -kegiatan kelompok kerja. Menampilkan Perilaku civic virtue (seperti menghadiri dan berpartisipasi aktif dalam pertemuan di unit kerjanya) akan membantu koordinasi diantara anggota kelompok, yang akhirnya secara potensial meningkatkan efektivitas dan efisiensi kelompok. 5. OCB meningkatkan kinerja organisasi dan kemampuan organisasi untuk menarik dan mempertahankan karyawan yang baik. a. Perilaku menolong dapat meningkatkan kebersamaan serta perasaan saling memiliki diantara anggota kelompok, sehingga akan meningkatkan kinerja organisasi dan membantu organisasi menarik dan mempertahankan karyawan yang baik. 24 b. Memberi contoh pada karyawan lain dengan menampilkan perilaku sportmanship (misalnya tidak mengeluh karena permasalahan-permasalahan kecil) akan menumbuhkan loyalitas dan komitmen pada organisasi. 6. OCB meningkatkan stabilitas kinerja organisasi. Membantu tugas karyawan yang tidak hadir di tempat kerja atau yang mempunyai beban kerja berat akan meningkatkan stabilitas dari kinerja organisasi.

Dimensi OCB (skripsi dan tesis)

 Dimensi organizational citizenship behavior (Organ, et al. 2006, p120) adalah sebagai berikut: 1. Altruism Perilaku Pegawai dalam menolong rekan kerjanya yang mengalami kesulitan dalam situasi yang sedang dihadapi baik mengenai tugas dalam organisasi maupun masalah pribadi orang lain. Dimensi ini mengarah kepada memberi pertolongan yang bukan merupakan kewajiban yang ditanggungnya. Seperti menggantikan rekan kerja yang tidak masuk atau istirahat, membantu pelanggan dan para tamu jika mereka membutuhkan bantuan, membantu orang lain yang pekerjaannya overload, membantu proses orientasi karyawan baru meskipun tidak diminta, meluangkan waktu untuk membantu orang lain berkaitan dengan permasalahan pekerjaan. 2. Conscientiousness Perilaku yang ditunjukkan dengan berusaha melebihi yang diharapkan perusahaan. Perilaku sukarela yang bukan merupakan kewajiban atau tugas Pegawai. Dimensi ini menjangkau jauh diatas dan jauh ke depan dari panggilan tugas. Seperti patuh terhadap peraturan yang berlaku diperusahaan, tiba lebih awal sehingga siap bekerja pada saat jadwal kerja dimulai dan berbicara  seperlunya dalam percakapan di telepon, mempergunakan waktu kerja dengan baik tidak menghabiskan waktu untuk pembicaraan diluar pekerjaannya. 3. Sportmanship Perilaku yang memberikan toleransi terhadap keadaan yang kurang ideal dalam organisasi tanpa mengajukan keberatan-keberatan. Seseorang yang mempunyai tingkatan yang tinggi dalam spotmanship akan meningkatkan iklim yang positif diantara pegawai, pegawai akan lebih sopan dan bekerja sama dengan yang lain sehingga akan menciptakan lingkungan kerja yang lebih menyenangkan. Seperti kemauan untuk bertoleransi tanpa mengeluh dengan menahan diri dari aktivitas mengeluh dan mengumpat dan tidak membesarbesarkan permasalahan di luar proporsinya 4. Civic virtue Perilaku yang mengindikasikan tanggung jawab pada kehidupan organisasi Dimensi ini mengarah pada tanggung jawab yang diberikan organisasi kepada seorang untuk meningkatkan kualitas bidang pekerjaan yang ditekuni. Seperti mengikuti perubahan-perubahan dan perkembangan dalam organisasi dan membuat pertimbangan dalam menilai apa yang terbaik untuk organisasi, dan memberikan perhatian terhadap kegiatan yang membantu image perusahaan. 5. Courtessy Perilaku meringankan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan yang dihadapi orang lain. Seperti: Menjaga hubungan baik dengan rekan kerjanya agar terhindar dari masalah-masalah interpersonal, membantu teman kerja mencegah timbulnya masalah sehubungan dengan pekerjaannya dengan cara memberi konsultasi dan informasi. Seseorang yang memiliki dimensi ini adalah orang yang menghargai dan memperhatikan orang lain.
Beberapa pengukuran lain mengenai ke lima dimensi organizational citizenship behavior menurut Luthans (2006) adalah : 1. Altruism – Menolong teman kerja ketika sakit. 2. Conscientiousness – Pulang telat untuk menyelesaikan pekerjaan. 3. Sportmanship – Menceritakan kegagalan tim project dan mendengarkan saran dari anggota yang mungkin dapat membuat sukses. 4. Courtesy – Mampu mengerti dan berempati kepada keadaan perusahaan meskipun dihasut. 5. Civic Virtue – Menjadi sukarelawan untuk program komunitas perusahaan.

Definisi OCB (skripsi dan tesis)

Organizational citizenship behavior (OCB) merupakan perilaku pekerja diluar dari apa yang menjadi tugasnya. Organizational citizenship behavior lebih banyak ditentukan oleh kepemimpinan dan karakteristik lingkungan kerja daripada oleh kepribadian kerja (Wibowo, 2007, p328). Menurut Robbins, (2006, p31) OCB adalah perilaku yang tidak menjadi bagian dari kewajiban kerja formal seseorang pegawai, namun mendukung berfungsinya organisasi tersebut secara efektif. OCB merupakan perilaku yang berdasarkan kesukarelaan yang tidak dapat dipaksakan pada batas-batas pekerjaan dan tidak secara resmi menerima penghargaan tetapi mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan produktivitas dan keefektifan organisasi (Organ, et al, 2006). Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa organizational citizenship behavior merupakan: Perilaku yang bersifat sukarela, bukan merupakan  tindakan yang terpaksa terhadap hal-hal yang mengedepankan kepentingan organisasi, perilaku individu sebagai wujud dari kepuasan berdasarkan performance, tidak diperintahkan secara formal dan tidak berkaitan secara langsung dan terangterangan dengan sistem reward yang formal.

Faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja (skripsi dan tesis)

Menurut pendapat Smith, et al dalam Luthans (2006, p. 244) menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, yaitu :
1. The work itself “The work itself is the extent to which the job provides the individual with interesting tasks, opportunities for learning, and the chance to accept responsibility”. Pekerjaan itu sendiri, yaitu tingkat dimana suatu pekerjaan dapat memberikan pekerjanya tugas yang menarik, kesempatan untuk belajar, dan kesempatan untuk menerima atau memperoleh tanggung jawab. Dari pekerjaan itu sendiri merupakan sumber utama lain dari kepuasan kerja. Secara umum, pekerjaan dengan jumlah pekerjaan yang moderat akan menghasilkan kepuasan kerja yang relatif. Pekerjaan dengan variasi yang sangat kecil menyebabkan karyawan merasakan kejenuhan dan keletihan. Sebaliknya, pekerjaan yang terlalu banyak variasi dan terlalu cepat menyebabkan para karyawan merasa tertekan secara psikologis.
Sebagian besar karyawan menginginkan pekerjaan yang memberikan ketenangan, tetapi  mereka tidak menginginkan patah semangat beberapa hari setelah bekerja. Pekerjaan yang menyediakan sejumlah otonomi kepada karyawan akan memberikan kepuasan kerja yang tinggi. Sebaliknya, kontrol manajemen atas metode dan langkah-langkah kerja yang berlebihan akan mengarah kepada ketidakpuasan kerja.
 2. Pay
Berkenaan dengan pemberian kompensasi yang berupa imbalan uang yang diterima dan sejauh mana seimbang bila dibandingkan dengan rekan yang lain dalam organisasi. Luthans (2006, p. 244) menyatakan bahwa gaji merupakan faktor signifikan dalam kepuasan kerja. Uang tidak hanya membantu karyawan untuk memperoleh kebutuhan dasar mereka tetapi juga kebutuhan mereka yang lebih tinggi. Karyawan sering melihat gaji sebagai cerminan memperhatikan kontribusi mereka pada organisasi. Pemberian gaji harus adil, dalam hal ini pengertian adil adalah sesuai dengan pertimbangan: berat atau ringannya pekerjaan, besar kecilnya pekerjaan, dan perlu tidaknya ketrampilan dalam pekerjaan.
3. Promotion Opportunities
 Luthans (2006, p. 244) menyatakan bahwa promosi adalah proses pemindahan karyawan dari satu jabatan ke jabatan lain yang lebih tinggi. Promosi akan selalu diikuti oleh tugas, tanggung jawab dan wewenang yang lebih tinggi dari jabatan yang diduduki sebelumnya. Dikatakan bahwa kesempatan promosi tampaknya mempunyai pengaruh yang bervariasi dalam kepuasan kerja. Hal ini disebabkan promosi dapat berperan dalam bentuk yang berbeda. Sebagai contoh, individu yang dipromosikan berdasarkan senioritas sering merasakan  kepuasan kerja yang tidak sebesar individu yang dipromosikan berdasarkan kinerja.
 4. Supervision
 Luthans (2006, p. 245) menyatakan adanya dua gaya pengawasan yang berperan dalam kepuasan kerja karyawan. Pertama, perhatian terhadap karyawan. Pengawasan yang befokus pada karyawan yang di ukur berdasarkan seberapa besar seorang pengawas mementingkan kepentingan individu memperhatikan karyawan melaksanakan pekerjaan, memberikan nasehat, membimbing dan berkomunikasi dengan karyawan baik secara informal maupun secara formal. Kedua, partisipasi karyawan. Bila pihak manajemen memberikan kesempatan pada karyawan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai pekerjaan mereka sendiri dalam banyak kasus membawa karyawan ke tingkat kepuasan kerja yang lebih tinggi. Contohnya, dengan memperhatikan karyawan melaksanakan pekerjaan, memberikan nasehat, membimbing dan berkomunikasi dengan karyawan baik secara informal maupun secara formal. Kedua, partisipasi karyawan. Bila pihak manajemen memberikan kesempatan pada karyawan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai pekerjaan mereka sendiri dalam banyak kasus membawa karyawan ketingkat kepuasan kerja yang lebih tinggi. Dalam pengawasan kemauan atasan dalam memberikan petunjuk dan dukungan kepada bawahan merupakan hal penting yang tak dapat dilupakan.
5. Coworkers
 Tingkat kerjasama dan saling mendukung antar rekan kerja merupakan faktor yang dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Luthans (2006, p. 245) menyatakan bahwa rekan kerja yang ramah dan mudah diajak kerja sama 19 merupakan sumber sederhana dalam kepuasan kerja. Kelompok kerja yang “baik” membuat pekerjaan menjadi lebih menyenangkan.
6. Kondisi kerja
Bekerja dalam ruangan kerja yang sempit, panas, cahaya lampu, kondisi kerja yang tidak mengenakan dan menimbulkan keengganan untuk bekerja. Dalam hal ini perusahaan perlu menyediakan ruang kerja yang terang, dan peralatan kerja yang nyaman untuk digunakan. Dalam kondisi seperti ini, kebutuhankebutuhan fisik yang terpenuhi akan memuaskan tenaga kerja

Definisi Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)

Koesmono dalam jurnal Brahmasari dan Suprayetno (2008) mengemukakan bahwa kepuasan kerja merupakan penilaian, perasaan atau sikap seseorang atau karyawan terhadap pekerjaannya dan berhubungan dengan lingkungan kerja, jenis pekerjan,kompensasi dan hubungan antar teman kerja serta hubungan sosial ditempat kerja dan sebagainya. Sehingga dapat dikatakan bahwa kepuasan kerja adalah  dipenuhinya beberapa keinginan dan kebutuhannya melalui kegiatan kerja atau bekerja. Menurut Fathoni (2006, p.128) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaan. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja. Menurut Robbins (2007, p73) kepuasan kerja dapat didefinisikan sebagai perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang dihasilkan berdasarkan evaluasi terhadap karakteristik-karakteristik pekerjaan tersebut. Seseorang dengan kepuasan kerja tinggi memiliki perasaan positif terhadap pekerjaannya, dan seseorang yang tidak puas memiliki perasaan negatif terhadap pekerjaannya. Malthis dan Jackson (2006, p.243) mendefinisikan kepuasan adalah “ a positive emotional state resulting from evaluating one’s job experience”. (Artinya emosi yang positif sebagai hasil dari evaluasi pengalaman kerja). Menurut Gibson dalam Wibisono (2007) menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah sikap yang dimiliki pekerja tentang pekerjaan. Sedangkan Luthans (2006,p.243) menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah hasil dari persepsi karyawan mengenai seberapa baik pekerjaan karyawan memberikan hal yang dinilai penting. Secara komprehensif kepuasan kerja didefinisikan oleh Locke yang dikutip oleh Luthans (2006, p. 243) yang mengemukakan bahwa “Job satisfaction is a result of employees perception of how well their job provides those things which are viewed as important”. Pernyataan tersebut menjelaskan sebagai suatu keadaan emosi yang menyenangkan atau bersifat positif yang muncul/dihasilkan dari penilaian terhadap suatu kerja atau pengalaman. Berdasarkan hal tersebut, tiga dimensi kepuasan kerja: 1. kepuasan kerja merupakan suatu tanggapan emosional terhadap situasi kerja 2. kepuasan kerja seringkali menentukan seberapa besar hasil yang akan dicapai atau diharapkan 3. kepuasan kerja mencerminkan sikap yang berhubungan dengan pekerjaan itu sendiri

Dimensi POS (skripsi dan tesis)

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Rhoades dan Eisenberger (2002) mengindikasikan bahwa 3 kategori utama dari perlakuan yang dipersepsikan oleh karyawan memiliki hubungan dengan perceived organizational support. Ketiga kategori utama ini adalah sebagai berikut: 1. Keadilan Keadilan prosedural menyangkut cara yang digunakan untuk menentukan bagaimana mendistribusikan sumber daya di antara karyawan. (Greenberg, dalam Rhoades & Eisenberger 2002). Shore dan Shore (dalam Rhoades & Eisenberger, 2002) menyatakan bahwa banyaknya kasus yang berhubungan dengan keadilan 13 dalam distribusi sumber daya memiliki efek kumulatif yang kuat pada perceived organizational support dimana hal ini menunjukkan bahwa organisasi memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan karyawan. Cropanzo dan Greenberg (dalam Rhoades & Eisenberger, 2002) membagi keadilan prosedural menjadi aspek keadilan struktural dan aspek sosial. Aspek struktural mencakup peraturan formal dan keputusan mengenai karyawan. Sedangkan aspek sosial seringkali disebut dengan keadilan interaksional yang meliputi bagaimana memperlakukan karyawan dengan penghargaan terhadap martabat dan penghormatan mereka. 2. Dukungan supervisor Karyawan mengembangkan pandangan umum tentang sejauh mana atasan menilai kontribusi mereka dan peduli terhadap kesejahteraan mereka (Kottke & Sharafinski, dalam Rhoades & Eisenberger, 2002). Karena atasan bertindak sebagai agen dari organisasi yang memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan dan mengevaluasi kinerja bawahan, karyawan pun melihat orientasi atasan mereka sebagai indikasi adanya dukungan organisasi (Levinson dkk., dalam Rhoades & Eisenberger, 2002). 3. Penghargaan Organisasi dan Kondisi Pekerjaan Bentuk dari penghargaan organisasi dan kondisi pekerjaan ini adalah sebagai berikut: a. Pelatihan. Pelatihan dalam bekerja dilihat sebagai investasi pada karyawan yang nantinya akan perceived organizational support (Wayne dkk., dalam Rhoades & Eisenberger, 2002). 14 b. Gaji, pengakuan, dan promosi. Sesuai dengan teori dukungan organisasi, kesempatan untuk mendapatkan hadiah (gaji, pengakuan, dan promosi) akan meningkatkan kontribusi karyawan dan akan meningkatkan perceived organizational support (Rhoades & Eisenberger, 2002). c. Keamanan dalam bekerja. Adanya jaminan bahwa organisasi ingin mempertahankan keanggotaan di masa depan memberikan indikasi yang kuat terhadap perceived organizational support (Griffith dkk., dalam Eisenberger and Rhoades, 2002). d. Peran stressor. Stress mengacu pada ketidakmampuan individu mengatasi tuntutan dari lingkungan. Stres terkait dengan tiga aspek peran karyawan dalam organisasi yang berkorelasi negatif dengan perceived organizational support, yaitu: tuntutan yang melebihi kemampuan karyawan bekerja dalam waktu tertentu (work-overload), kurangnya informasi yang jelas tentang tanggung jawab pekerjaan (role-ambiguity), dan adanya tanggung jawab yang saling bertentangan (role-conflict) (Lazarus & Folkman, dalam Rhoades &Eisenberger, 2002).

Aspek-aspek yang Mempengaruhi POS (skripsi dan tesis)

Sigit (2003, p19-21) menjelaskan beberapa faktor kompleks yang masuk dalam persepsi di antaranya: – Hallo Effect ialah memberikan tambahan penilaian (judgement) kepada seseorang atau sesuatu yang masih bertalian dengan hasil persepsi yang telah dibuat. Halo effect juga dapat diartikan adanya atau hadirnya sesuatu, sehingga kesimpulan yang dibuat tidak murni. – Attribution, Atribusi mengacu pada bagaimana orang menjelaskan penyebab perilaku orang lain atau dirinya sendiri. Atribusi adalah proses kognitif dimana orang menarik kesimpulan mengenai faktor yang mempengaruhi atau masuk  akal terhadap perilaku orang lain. Ada dua jenis atribusi yaitu atribusi disposisional, yang menganggap perilaku seseorang berasal dari faktor internal seperti ciri kepribadian, motivasi, atau kemampuan, dan atribusi situasional yang menghubungkan perilaku seseorang dengan faktor eksternal seperti peralatan atau pengaruh sosial dari orang lain. – Stereotyping ialah memberi sifat kepada seseorang semata-mata atas dasar sifat yang ada pada kelompok, rasa tau bangsa secara umum sebagaimana pernah di dengar atau diketahui dari sumber lain. Stereotip menghubungkan ciri yang baik atau tidak baik pada orang yang sedang dinilai. – Projection , ialah suatu mekanisme meramal, apa yang akan dilakukan oleh orang yang dipersepsi, dan sekaligus orang yang mempersepsi itu melakukan persiapan pertahanan untuk melindungi dirinya terhadap apa yang akan diperbuat orang yang di persepsi

Definisi POS Perceived organizational support (skripsi dan tesis)

(POS) dapat didefinisikan sebagai persepsi karyawan mengenai sejauh mana organisasi memberi dukungan kepada karyawan dan sejauh mana kesiapan organisasi dalam memberikan bantuan saat dibutuhkan. Menurut Eisenberger dan Rhoades (2002) dalam jurnal Wu Wann Yih dan Sein Htaik (2011) bahwa perceived organizational support mengacu pada persepsi karyawan mengenai sejauh mana organisasi menilai kontribusi mereka dan peduli pada kesejahteraan mereka. Perceived organizational support juga dianggap sebagai sebuah keyakinan global yang dibentuk oleh tiap karyawan mengenai penilaian mereka terhadap kebijakan dan prosedur organisasi yang dibentuk berdasarkan pada pengalaman mereka terhadap kebijakan dan prosedur organisasi, penerimaan sumber daya, interaksi dengan agen organisasinya (misalnya supervisor) dan persepsi mereka mengenai kepedulian organisasi terhadap kesejahteraan mereka. Berdasarkan penelitian Eisenberger et al dalam jurnal Wu Wann Yih dan Sein Htaik (2011) menyatakan bahwa karyawan menganggap pekerjaan mereka sebagai hubungan timbal balik yang mencerminkan ketergantungan relatif yang melebihi kontrak formal dengan organisasinya yang berarti bahwa karyawan dan organisasi  terlibat dalam hubungan timbal balik. Karyawan melihat sejauh mana organisasi akan mengakui dan menghargai usaha mereka, mendukung kebutuhan socioemotional mereka dan sebagai karyawan mereka akan memperlakukan organisasinya dengan baik. Sedangkan Menurut Robbins (2008, p103) dukungan organisasional yang dirasakan adalah tingkat sampai dimana karyawan yakin organisasi mengahargai kontribusi mereka dan peduli dengan kesejahteraan mereka. Kecuali jika manajemen tidak mendukung bagi karyawan, karyawan dapat melihat tugas-tugas tersebut sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan dan memperlihatkan hasil kerja yang tidak efektif untuk organisasi. Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa POS adalah sejauh mana dukungan organisasi yang dirasakan karyawan atas kontribusi mereka terhadap organisasi dan kepedulian organisasi terhadap kesejahteraan karyawan yang akan mempengaruhi dukungan karyawan terhadap organisasinya

Perceived Organizational Support (skripsi dan tesis)

 

Perceived organizational support (POS) merupakan keyakinan karyawan mengenai sejauhmana organisasi menghargai kontribusi karyawan dan peduli terhadap kesejahteraan dirinya (Rhoades dan Eisenberger, 2002). POS menjelaskan apakah organisasi menilai kontribusi karyawan mereka dan perhatian terhadap kehidupan mereka. Ketika organisasi memberikan dukungan yang cukup terhadap karyawan, organisasi mendapat sebuah tingkat penerimaan dan keinginan terhadap kinerja yang dihasilkan (Karavadar, 2014). Sabri (2014) mendefinisikan perceived organizational support (POS) sebagai harapan dan persepsi karyawan terhadap organisasi untuk kesejahteraan mereka. Perceived organizational support (POS) berhubungan dengan bagaimana karyawan mempersepsikan organisasi mereka. Konsep dari POS mengacu pada kontribusi karyawan dan kepedulian tentang kehidupan mereka. Arshadi (2011) berpendapat POS merupakan bagaimana organisasi menilai kontribusi karyawan dan peduli terhadap mereka. POS juga merupakan kepercayaan karyawan tentang tingkat komitmen organisasi terhadap karyawan mereka. Karyawan dengan tingkat kepercayaan POS bahwa organisasi mempertimbangkan kehidupan mereka, mengapresiasi kontribusi dan akan membantu mereka apapun masalah yang 13 mereka hadapi. Di sisi lain, karyawan dengan tingkat POS yang rendah menunjukkan bahwa organisasi tidak memperhatikan kepentingan karyawan dan mungkin akan mengambil keuntungan dari mereka (Mohamed dan Ali, 2015). Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan sebelumnya perceived organizational support merupakan suatu keyakinan karyawan pada organisasi tempat bekerja yang selanjutnya akan mendukung persepsi karyawan mengenai sejauhmana organisasi menghargai kontribusi karyawan dan peduli terhadap kesejahteraan mereka.

Teori Pertukaran Sosial (skripsi dan tesis)

 Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori pertukaran sosial (social exchange theory). Gunawan (2017) menyatakan bahwa dalam sebuah hubungan sosial terdapat unsur ganjaran, pengorbanan, dan keuntungan yang saling mempengaruhi. Saripurnama (2017) menambahkan teori pertukaran sosial pun melihat antara perilaku dengan lingkungan terdapat hubungan yang saling mempengaruhi (reciprocal). Karena masing-masing orang dipandang mempunyai perilaku yang saling mempengaruhi, dalam hubungan tersebut terdapat unsur imbalan (reward), pengorbanan (cost) dan keuntungan (profit). Banyak orang memiliki standar pembanding yang tinggi dengan banyak rewards dan sedikit costs. Jika apa yang diterima dalam hubungan tidak sesuai dengan standar pembanding, maka individu akan kecewa dalam hubungan. Sebaliknya bila standar pembanding rendah, maka individu cenderung bahagia dengan berbagai hubungan yang dijalin (Widyarini,2017). Teori pertukaran social (social exchange theory) menjelaskan tentang hubungan timbal balik karyawan dengan organisasi yang berpengaruh pada perilaku dan kebiasaan karyawan (Setton dan Bennet, 1996). Organisasi yang memberikan dukungan kepada karyawan dan mengakui kontribusi karyawan akan menimbulkan hubungan yang timbal balik berupa kerelaan bekerja dengan tulus ikhlas sekalipun di luar job description. Setelah karyawan merasa mendapat dukungan dari organisasi, mereka termotivasi untuk membalas melalui hasil kerja yang berkualitas (Puspitasari, 2014).
 Pemberdayaan karyawan memberikan dampak terhadap kemandirian dan tanggung jawab karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan. Chiang dan Hsieh (2012) menyatakan dukungan dan pemberdayaan terhadap karyawan dapat meningkatkan kesesuaian antara peran kerja dan kepercayaan diri dalam kemampuan individu untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan mendorong karyawan untuk memiliki peran ekstra dalam organisasi dengan menerapkan perilaku organizational citizenship behavior yaitu inisiatif membantu rekan kerja dan mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi sehingga berpengaruh kepada produktifitas dan kinerja karyawan

Dimensi Kinerja (skripsi dan tesis)

 Terdapat beberapa pengukuran dimensi kinerja yang diperoleh dari beberapa referensi tentang dimensi kerja. Bernardie & Russell (1988) mengungkapkan enam dimensi kinerja yaitu: 1. Kualitas: tingkatan dimana proses atau hasil dari kegiatan yang sempurna dengan kata lain melaksanakan kegiatan dengan cara yang ideal atau menyelesaikan sesuatu sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. 2. Kuantitas: besaran yang dihasilkan, dalam bentuk biaya, sejumlah unit atau sejumlah kegiatan yang diselesaikan. 3. Ketepatan waktu: tingkatan dimana kegiatan diselesaikan atau hasil yang diselesaikan dengan waktu yang lebih cepat dari yang ditetapkan dan menggunakan waktu yang tersedia untuk kegiatan lain. 4. Efektivitas biaya: tingkatan dimana penggunaan sumber-sumber (antara lain SDM, biaya, teknologi, materi) dimaksimalkan untuk mendapatkan target yang tertinggi.  5. Membutuhkan pengawasan: tingkatan dimana seorang karyawan dapat melakukan pekerjaan tanpa harus ditemani oleh pengawas atau tanpa harus mengikutsertakan intervensi pengawas untuk menghasilkan hasil kerja yang baik. 6. Pengaruh interpersonal: tingkatan dimana karyawan menunjukkan harga diri, menjaga nama baik dan dan mampu bekerja sama dengan rekan kerja.
Untuk mencapai atau menilai kinerja, ada dimensi yang menjadi tolak ukur, menurut Sudarmanto (2015) yaitu: 1. Kualitas, yaitu tingkat kesalahan, kerusakan, kecermatan 2. Kuantitas, yaitu jumlah pekerjaan yang dihasilkan 3. Penggunaan waktu dalam bekerja yaitu tingkat ketidakhadiran, keterlambatan, waktu kerja efektif/ jam kerja yang hilang. 4. Kerjasama dengan orang lain dalam bekerja. Dimensi kinerja berdasarkan Edison dkk. (2016) adalah sebagai berikut: 1. Target Target merupakan jumlah yang harus diselesaikan atau dicapai. 2. Kualitas Kualitas merupakan mutu yang dihasilkan, baik berupa kerapian kerja dan ketelitian kerja atau tingkat kesalahan yang dilakukan karyawan. Kualitas merupakan elemen penting, karena kualitas yang dihasilkan menjadi kekuatan dalam mempertahankan loyalitas pelanggan. 29 3. Waktu Penyelesaian Waktu penyelesaian merupakan penyelesaian pekerjaan sesuai dengan waktu yang direncanakan. Penyelesaian yang tepat waktu membuat kepastian distribusi dan penyerahan pekerjaan menjadi pasti. Ini merupakan modal untuk membuat kepercayaan pelanggan. 4. Taat Asas Taat asas berarti bekerja dengan cara yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Berdasarkan penjelasan dimensi kinerja berdasarkan Bernardie & Russell (1988), Sudarmanto (2015) dan Edison dkk. (2016), Sudarmanto (2015) menekankan pada waktu terhadap kehadiran pegawai/karyawan dan menyatakan kerja sama dengan orang lain dalam bekerja mempengaruhi kinerja karyawan, sedangkan Bernardie & Russell (1988) dan Edison dkk. (2016) menekankan dimensi kinerja pada waktu penyelesaian produk. Edison dkk. (2016) menekankan target yang harus dicapai dan taat asas merupakan bagian yang penting dari kinerja. Di sisi lain, Bernardie & Russell (1988) mengemukakan efektivitas biaya, pengawasan dan pengaruh interpersonal mempengaruhi kinerja karyawan. Dalam penelitian ini menggunakan dimensi berdasarkan Edison dkk. (2016), karena unsur dimensi yang dijelaskan relevan terhadap subjek penelitian (karyawan bank). Karyawan bank bekerja berdasarkan ukuran target yang ditetapkan setiap tahunnya yang dituangkan dalam rencana bisnis bank, bekerja mengedepankan 30 kualitas dan menyelesaikannya dengan tepat waktu untuk membentuk profil perusahaan yang unggul serta menjaga profesionalisme dalam bekerja dengan bekerja berdasarkan prosedur yang telah ditetapkan