Citra Merek (skripsi dan tesis)

Citra Merek merupakan representasi dari keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi maupun pengalaman dari masa lalu terhadap merek tersebut. Citra terhadap sebuah merek bersangkutan dengan sikap yang berupa kepercayaan dan preferensi terhadap sebuah merek. Merek bisa dideskripsikan dengan karakteristik-karakteristik tertentu laksana manusia, semakin positif pemaparan tersebut semakin kuat citra merek dan semakin tidak sedikit kesempatan untuk pertumbuhan citra itu (Davis, 2000) Menurut Kotler (2000) citra merek adalah seperangkat ide dan kesan yang dimiliki oleh seseorang terhadap suatu merek. Oleh karna itu tindakan konsumen terhadap suatu merek sangat ditentukan oleh citra merek tersebut, apa yang difikirkan konsumen tentang citra suatu produk, sehingga citra merek mengacu pada skema akan memori sebuah merek, yang berisikan interpretasi konsumen atas atribut, kelebihan, pemakaian, situasi, semua pemakai dan ciri khas pemasar dan/atau ciri khas pembuat dari produk/merek tersebut. Sedangkan Hawkins (1998) menyatakan bahwa citra merek adalah apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh konsumen ketika mendengar atau melihat nama suatu merek. Menurut Buchori dan Alma dalam bukunya mengartikan citra merek adalah bagaimana masyarakat mengartikan semua tanda-tanda yang dikeluarkan atau disampaikan oleh merek melalui barang-barang, jasa-jasa dan program komunikasinya dengan perkataan lain citra adalah reputasi. (Buchori & Alma, 2009). Sego Njamoer memiliki citra seperti produk yang terbuat dari bahan dasar jamur sehingga mempunyai reputasi sebagai produk yang alami dan sehat, logo pada sego njamoer menjadikan merek “sego njamoer” merepresentasikan merek nya sehingga mempunyai reputasi atau pandangan tersendiri di benak konsumen. Menurut penelitian dari Noor Azura et.al mendefinisikan citra merek sebagai persepsi konsumen tentang produk, “Brand image is defined as consumers perceptions of products which reflect their memory about the product”. (Adzharuddin, 2017). Menurut Joseph Plummer (2007) citra merek terdiri dari tiga komponen yaitu: a) Product Attributes (Atribut Produk): yang merupakan hal-hal yang berkaitan dengan merek tersebut sendiri seperti, kemasan, isi produk, harga, rasa dan lain-lain. b) Consumer Benefits (Keuntungan Konsumen): yang merupakan kegunaan produk dari merek tersebut. c) Brand Personality (Kepribadian Merek): merupakan asosiasi yang membayangkan mengenai kepribadian sebuah merek apabila merek tersebut seorang manusia. Menurut Kotler dan Keller (2012) ada 3 faktor yang dapat membentuk citra merek yaitu: a) Kekuatan asosiasi merek (strength of brand association) Tergantung pada bagaimana informasi masuk ke dalam ingatan konsumen dan bagaimana informasi tersebut bertahan sebagai bagian dari brand image. b) Keuntungan asosiasi merek (Favourability of brand association) Kesuksesan sebuah proses pemasaran sering tergantung pada proses terciptanya asosiasi merek yang menguntungkan, di mana konsumen dapat percaya pada atribut yang diberikan konsumen dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. c) Keunikan asosiasi merek (Uniqueness Of brand association) Suatu merek harus memiliki keunggulan bersaing yang menjadi alasan bagi konsumen untuk memilih merek tertentu. Keunikan asosiasi merek dapat berdasarkan atribut produk, fungsi produk atau citra yang dinikmati konsumen. Menurut Shimp dalam Bastian (2014) indikator citra merek terdiri dari : a) Atribut. Atribut adalah ciri-ciri atau berbagai aspek dari merek yang diiklankan. Atribut juga dibagi menjadi dua bagian yaitu hal-hal yang tidak berhubungan dengan produk (contoh: harga, kemasan, pemakai, dan citra penggunaan), dan hal-hal yang berhubungan dengan produk (contoh: warna, ukuran, desain). b) Manfaat. Manfaat dibagi menjadi tiga bagian yaitu fungsional, simbolis, dan pengalaman. c) Evaluasi keseluruhan Evaluasi yaitu nilai atau kepentingan subjektif di mana pelanggan menambahkannya pada hasil konsumsi.