Brand Preference (skripsi dan tesis)

Mengacu pada penelitian Aakar (1991) dan Keller (1993), brand preference merupakan bagian dari brand aset dan kewajiban yang menyatu ke brand dan Penilaian subjektif dan tidak berwujud pelanggan terhadap merek. Brand preference merupakan hal yang esensial dalam memahami pemilihan brand oleh konsumen; maka dari itu hal ini mendapat perhatian yang banyak dari pemasar. Brand preference mewakili kecondongan konsumen dalam menyukai suatu merek tertentu (Overby and Lee, 2006). Hal ini mengacu pada kecenderungan perilaku yang memperlihatkan sejauh mana konsumen menyukai satu  brand dibandingkan brand lainnya (Hellier et al., 2003; Zajonc and Markus, 1980). Brand pereference sangat dekat dengan praktiknya dalam hal mencerminkan evaluasi konsumen terhadap brand. Di pasaran, konsumen sering menghadapi situasi memilih dari beberapa pilihan (Dhar, 1999). Brand pereference untuk brand mencerminkan tiga tanggapan: kognitif, afektif, dan konatif atau perilaku (Grimm, 2005). Komponen kognitif mencakup kepercayaan utilitarian elemen merek (Bagozzi, 1978; Grimm, 2005: Zajonc dan Markus, 1982). Tanggapan afektif mengacu pada tingkat keinginan atau keinginan yang mencerminkan persaan konsumen terhadap brand (Grimm, 2005; Hsee et al., 2009; Zajonc dan Markus, 1982; Zajonc, 1980). kecenderungan konatif atau perilaku dilambangkan dengan Zajonc dan Markus (1982) sebagai tindakan yang diprediksi atau didekati konsumen terhadap objek. Ini adalah preferensi terungkap yang dipamerkan dalam pilihan konsumen (Hsee et al., 2009). Chernev dkk., (2011) mengansumsikan bahwa asosiasi hasil perilaku, seperti kemauan untuk membayar dan brand preference. Ini diasumsikan terkait dengan kecenderungan perilaku (Chernev et al., 2011). Keputusan pembeliaan merupakan hasil perilaku yang keluar karena diferensiasi antara alternatif yaitu keputusan pembelian; hasil dari preferensi konsumen (Dhar et al., 1999). Preferensi memudahkan pemilihan konsumen dengan meningkatkan niat mereka terhadap suatu brand yang disukai. Perilkau pembelian sesungguhnya selaras dengan niat; mekanisme pembentukan niatnya merupakan bukti preferensi konsumen yang berkelanjutan (Van Kerckhove et al., 2012). Kosistensi antara pilihan konsumen dan preferensi yang diberikan menambah validitas prediktif dari pernyataan preferensi akan sikap (Bither dan Wright, 1977; Hellier et al. 2003). Posisi bias konsumen dibentuk terhadap brand tertentu, yang dibuat melalui pertimbangan pemilihan antar alternatif, yang juga mencerminkan kekuatan merek (Biel, 1992). Dengan begitu, perubahan akan Brand prefrensi konsumen tercermin pada kinerja merek dan pangsa pasar (Sriram et al., 2006). Selain itu brand prefrence menggabungkan atribut dan persepsi konsumen yang diinginkam: dengan begitu, hal ini menawarkan cara tidak langsung dan tidak mencolok untuk menilai atribut yang penting (Keller, 1993; O’Connor dan Sullivan 1995; Schoenfelder dan Harris, 2004). Oelh karenanya, mengungkap brand prefrence konsumen dianggap merupakan masukan yang penting dalam merancang keberhasilan strategi merek, brand positioning, dan memberikan wawasan tetntang pengembangan produk (Alamro dan Rowley, 2011; Alamro, 2010; Horsky et al., 2006). Karenanya, pemahaman akan brand preference berkontribusi dalam membangun brand yang kuat yang dapat membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen. Faktor faktor yang menentukan akan prefrensi merek terbagi menjadi dua yaitu faktor ekonomis dan non-ekonomis. Faktor-faktor yang bersifat ekonomis meliputi nilai dari pengorbanan dan manfaat yang didapat, sedangkan yang bersifat non-ekonomis meliputi kebutuhan aktualisasi dan penghargaan dari lingkungan. Preferensi merek merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya loyalitas merek. Menurut schiffman dan kanuk (2004), loyalitas merek merupakan preferensi konsumen yang secara konsisten untuk melakukan pembelian pada merek yang sama pada produk yang spesifik atau kategori pelayanan tertentu. Kotler (2001) mengatakan bahwa konsumen memproses informasi tentang pilihan merek untuk membuat keputusan terakhir. pertama, kita melihat bahwa konsumen mempunyai kebutuhan. Konsumen akan mencari manfaat tertentu dan selanjutnya mengevaluasi atribut produk sesuai dengan kepentingannya. Kemudian konsumen mungkin akan mengembangkan himpunan kepercayaan merek. Konsumen juga dianggap memiliki fungsi utilitas, yaitu bagaimana konsumen mengharapkan kepuasan produk bervariasi menurut tingkat alternatif tiap ciri. Preferensi merek, adalah tingkatan yang mana konsumen menghendaki produk ataupun jasa yang disediakan oleh sebuah perusahaan dengan berbagai pertimbangan. Hellier et al. (2003) menjelaskan dalam penelitiannya, bahwa terdapat hubungan kasual antara diposisi konsumen terhadap pilihan akan merek dan keinginan konsumen untuk kembali membeli produk dari perusahaan / supplier yang sama. Beliau pun menjelaskan bahwa semakin tinggi prefernsi akan merek oleh konsumen maka semakin tinggi loyalitasnya terhadap merek yang sama namun dengan kualitas yang berbeda maka dapat ditarik kesimpulan bahwa brand preference berpengaruh positif terhadap brand loyalty.