Brand Loyalty (skripsi dan tesis)

Manusia sebagai pembeli pasti menggunakan berbagai pertimbangan dalam membeli atau tidak membeli suatu produk tertentu. Dengan adanya minat pada seseorang akan menunjukkan kecenderungan untuk memuaskan pada suatu objek yang menariknya. Pada dasarnya minat seseorang timbul karena pengaruh dari dalam dan luar dirinya, yaitu lingkungan dimana individu berada. Suatu hal yang penting bagi suatu perusahaan untuk memiliki pelanggan yang loyal pada produk mereka. Pelanggan yang loyal akan memberikan pemasukan yang besar bagi perusahaan, sedangkan kehilangan pelanggan yang loyal maka akan menjadi suatu hal yang merugikan perusahaan, karena mereka harus mencari pelanggan lagi untuk mengganti pelanggan yang telah hilang. Menurut Griffin (1995) loyalitas pelanggan adalah mesin penggerak kesuksesan suatu bisnis. Kotler menunjukkan bahwa pengalaman kepuasan pelangganatau ketidakpuasan pelanggan setelah membeli produk atau jasa, dan perubahan psikologis internal pelanggan mempengaruhi perilaku berikutnya. Jika pelanggan merasa puas, itu lebih cenderung memiliki keinginan untuk membeli lagi, yaitu mengulangi untuk membeli atau merekomendasikan. Loyalitas mempunyai pola pembelian ulang pada merek lokal yang merupakan loyalitas sesungguhnya atau loyalitas pada merek tunggal. Pelanggan yang loyal biasanya tidak lagi mempertimbangkan faktor-faktor yang berpengaruh dalam penentuan pilihan seperti tingkat harga, kualitas, jarak dan atribut lainnya, karena telah tertanam dalam dirinya bahwa produk/jasa yang akan dibeli telah memenuhi kebutuhan dan harapan. Brand loyalty telah menjadi perhatian peneliti dalam beberapa tahun terakhir. penelitian terhadap loyalitas itu sendiri telah banyak dilakukan, namun faktor yang menentukan loyalitas pelanggan terhadap sebuah brand belum dapat dipahami (Agustin dan Singh 2005; Morais, dkk., 2004). Pembelian yang berulang dan sistematis dapat dikaitkan dengan bagaimana pikiran dan perasaan serorang konsumen terhadap brand tersebut (Belaid dan Behi, 2011; Hartel, Bennet dan Russel, 2008). Agar terciptanya Brand Loyalty, konsumen harus membentuk ikatan emosional (Liu, Li, Mizerki dan Soh, 2012, p.924), dan berkomitmen terhadap brand tersebut (Wilson, Zeithaml, Bitner dan Gremler, 2012, p. 41). Brand loyalty merupakan syarat untuk perusahaan dalam daya saing dan pendapatannya (Aaker, 1995, 1997; Reicheld, Markey, and Hopton, 2000) Brand loyalty merupakan rasa yang muncul dari kualitas hubungan yang baik antara pelanggan dengan brand dan adanya pengalaman pelanggan mengenai brand produk/jasa yang digunakan (Lee dan Kang, 2012). Oliver (1997) Brand Loyalty didefinisikan sebagai komitmen yang dipegang pelanggan untuk kembali membeli produk pilihan atau jasa secara konsisten di masa mendatang meskipun pengaruh situasional dan upaya pemasaran memiliki potensi dalam mempengaruhi berahlihnya perilaku konsumen. Youl-ha (2008) memberikan definisi bahwa Brand Loyalty dimana adanya perilaku tanggapterhadap suatu produk atau layanan jasa yang digemari di masa mendatang. Dan definisi lain yang dikemukakan oleh Jensen dan Hansen (2006) bahwa brand loyalty merupakan pembelian yang dilakukan secara berulang dan sebagai fungsi psikologis yang dimiliki pelanggan. Loyalitas dalam artian luas dibagi menjadi dua konsep, behaviour loyalty (perilaku loyalitas) dan attitudinal loyalty (sikap loyalitas). Perilaki loyalitas didefinisikan sebagai keinginan konsumen untuk membeli kembali suatu merek. sedangkan, sikap loyalitas adalah tingkatan komitmennya konsumen pada suatu merek (Hou dan Wonglorsaichon, 2014), salah satu faktor yang mempengaruhi loyalitas merek adalah brand trust (kepercayaan merek). dampak kepercayaan terhadap loyalitas sangat penting dalam keputusan yang diambil untuk mengubah merek karena tingkat resiko yang dirasakan (Gecti dan Zengin, 2013). Kepercayaan merek mengarah pada loyalitas merek. kepercayaan merek mampu meciptakan hubungan antara merek dan konsumen yang bernilai tinggi (Kbadayi dan Alan, 2012) Para pakar riset telah melaporkan dampak iklan terhadap loyalitas baik itu positif ataupun negatif, dengan keadaan kosnumen yang terlihat oleh mereka. Menurut Yoo et al. (2000) menemukan bahwa iklan berdampak positif terkait dengan loyalitas merek karena memperkuat hubungan sikap antara suatu brand dengan konsumen. Selain itu, loyalitas merek juga didasarkan pada interaksi pelanggan dengan perusahaan (Palmatier et al., 2007). Hubungan ini bisa langsung atau dimoderasi oleh nilai yang diterima konsumen.