Gaya Kepemimpinan Otoriter, Otokratis, Diktator (skripsi dan tesis)

 

Gaya kepemimpinan otoriter, otokratis, diktator adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan cara segala kegiatan yang dilakukan diputuskan oleh pimpinan semata-mata (Sutarto, 1991). Gaya kepemimpinan dimana pemimpin memiliki kekuasaan penuh untuk mengambil keputusan. F.S. Haiman (dalam Jarmanto, 1983) mempunyai pandangan bahwa tradisi otoritarisme berupa suatu proses sosial yang memberikan tempat kepada seorang yang dianggap lebih mengetahui daripada yang lain (pemimpin) untuk membuat keputusankeputusan yang dimiliki oleh kelompoknya. Faktor yang memberikan ciri khas otoritarisme adalah bahwa pemimpin memegang ”kunci” dalam pembuatan keputusan atau kebijakan sedangkan bawahan hanya menerima siapa saja tanpa bertanya. Beehr (1978) mengemukakan ”gaya otoriter menganggap kepemimpinannya merupakan hak pribadinya dan berpendapat bahwa ia dapat menentukan apa saja dalam organisasinya, tanpa mengadakan konsultasi dengan bawahan-bawahannya yang melaksanakan”. Menurut Hasibuan (2002), berpendapat tentang gaya kepemimpinan otoriter sebagai berikut, kepemimpinan otoriter adalah jika kekuasaan atau wewenang, sebagian besar mutlak tetap berada pada pemimpin atau kalau pemimpin 30 itu menganut sistem sentralisasi wewenang. Pengambilan keputusan dan kebijaksanaan hanya ditetapkan sendiri oleh pemimpin, bawahan tidak diikutsertakan untuk memberikan saran, ide, dan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan. Gaya kepemimpinan ini mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak harus dipatuhi. Pemimpin seperti ini selalu ingin berperan sebagai seorang pemain tunggal, egoismenya sangat besar dan cenderung mengandung nilai-nilai organisasional yang berkisar pembenaran segala cara yang ditempuh untuk mencapai tujuannya. Karena sifat egoismenya sangat besar, pemimpin seperti ini cenderung memperlakukan karyawan/bawahan sama dengan alat-alat lainnya dalam organisasi dan kurang menghargai harkat dan martabat manusia, lebih berorientasi pada pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa memperhatikan kepentingan dan kebutuhan para karyawannya. Lewis B. Sappington dan C.G. Brown (dalam Sutarto, 1991) menunjukkan gaya kepemimpinan otoriter dengan gambar sebagai berikut: Gambar 1.1 Gaya Kepemimpinan Otoriter = pemimpin = bawahan = arah hubungan 31 Ciri gaya kepemimpinan otoriter, antara lain: 1. Wewenang mutlak terpusat pada pemimpin 2. Keputusan dan kebijaksanaan selalu dibuat oleh pemimpin 3. Komunikasi berlangsung satu arah dari pemimpin kepada bawahan 4. Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para bawahannya dilakukan secara ketat 5. Prakarsa harus selalu datang dari pemimpin 6. Tiada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan saran, pertimbangan atau pendapat 7. Tugas-tugas bawahan diberikan secara instruktif 8. Lebih banyak kritik daripada pujian 9. Pemimpin menuntut prestasi sempurna dan kesetiaan mutlak dari bawahan tanpa syarat 10. Cenderung adanya paksaan, ancaman dan hukuman 11. Kasar dalam bertindak serta kaku dalam bersikap 12. Tanggung jawab keberhasilan organisasi hanya dipikul oleh pemimpin Siagian (2002) berpendapat tentang gaya kepemimpinan otoriter sebagai berikut, seorang pemimpin yang tergolong sebagai orang yang otoriter memiliki ciri-ciri yang umumnya negatif. Ciri-ciri yang menonjol adalah: 1. Penonjolan diri yang berlebihan sebagai simbol keberadaan organisasi 2. Kegemaran menonjolkan diri sebagai penguasa tunggal 3. Biasanya dihinggapi penyakit megalomaniac, dalam arti gila hormat 32 4. Tujuan pribadinya identik dengan tujuan organisasi 5. Loyalitas para bawahan merupakan tuntutan yang sangat kuat. Demikian kuatnya sehingga mengalahkan kinerja, kejujuran, serta penerapan norma-norma moral dan etika 6. Menerapkan disiplin organisasi yang kuat 7. Menerapkan pengendalian dan pengawasan yang ketat