Gaya Kepemimpinan Demokratis (skripsi dan tesis)

Gaya kepemimpinan demokratis adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan ditentukan bersama antara pimpinan dan bawahan. Kepemimpinan demokratis memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan dari semua bawahan atau karyawan dengan penekanan rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik (Kartono, 1983). Gaya kepemimpinan dimana para pemimpin memperoleh beberapa masukan dari bawahan tapi umumnya menggunakan wewenangnya untuk mengambil keputusan. Gaya ini memerlukan komunikasi yang sering kali diadakan antara para manajer dan karyawan. Gaya kepemimpinan ini mengizinkan para karyawan untuk menyatakan pendapat mereka akan tetapi tidak mewajibkan para karyawan untuk membuat keputusan yang besar (Madura, 2001).   Hasibuan (2002) berpendapat ”kepemimpinan demokratis adalah apabila dalam kepemimpinannya dilakukan dengan cara persuasif, menciptakan kerjasama yang serasi., menimbulkan loyalitas dan partisipasi para bawahan. Pemimpin memotivasi agar merasa ikut memiliki perusahaan. Pemimpin akan selalu membina bawahan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar nantinya”. Heidjracman dan Husnan (1995) mengemukakan pendapatnya tentang kepemimpinan demokratis (participative leader) sebagai berikut, apabila seseorang pemimpin menggunakan gaya partsipatif ia menjalankan kepemimpinannya dengan konsultasi dan ia tidak mendelegasikan wewenangnya untuk membuat keputusan akhir dan untuk memberikan pengarahan tertentu kepada bawahannya, tetapi ia mencari berbagai pendapat dan pemikiran dari para bawahan mengenai keputusan yang akan diambil. Gaya kepemimpinan demokratik adalah gaya kepemimpinan dimana pengambilan keputusan untuk kepentingan organisasi, seorang pemimpin mengikutsertakan atau bersama-sama dengan para bawahannya (Mohyi, 1999). Gaya kepemimpinan demokratik ini lebih menekankan pada partisipasi anggotanya daripada bertindak dan menetukannya sendiri. Peranannya selaku pimpinan dalam organisasional adalah sebagai koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi sehingga bergerak sebagai suatu totalitas, dan terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan dengan penekanan pada rasa tanggung 34 jawab pada diri sendiri dan pekerjaan yang tinggi serta kerja sama yang baik. Lewis B.Sappington dan C.G.Brown (dalam Sutarto, 1991) gaya kepemimpinan demokratis ditunjukkan dengan gambar sebagai berikut: Gambar 1.2 Gaya Kepemimpinan Demokratis = pemimpin = bawahan = arah hubungan Ciri gaya kepemimpinan demokratis antara lain: 1. Wewenang pemimpin tidak mutlak 2. Pemimpin bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan 3. Keputusan dan kebijaksanaan dibuat bersama antara pemimpin dan bawahan 4. Komunikasi berlangsung timbal balik, baik yang terjadi antara pemimpin dan bawahan maupun antara sesama bawahan 5. Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para bawahan dilakukan secara wajar 6. Prakarsa dapat datang dari pemimpin maupun bawahan 35 7. Banyak kesempatan bagi bawahan untnk menyampaikan saran, pcrtimbangan atau pendapat 8. Tugas kepada bawahan diberikan dengan lebih bersifat permintaan daripada instruktif 9. Pujian dan kritik seimbang 10. Pemimpin mendorong prestasi sempurna para bawahan dalam batas kemampuan yang seimbang 11. Terdapat suasana saling percaya, saling hormat dan saling menghargai 12. Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul bersama pemimpin dan bawahan Siagian (2002) mengemukakan ciri-ciri tipe kepemimpinan demokratis sebagai berikut: 1. Mengakui harkat dan martabat manusia 2. Menerima pendapat yang mengatakan bahwa sumber daya manusia merupakan unsur yang paling strategik dalam organisasi meskipun sumber daya dan lainnya tetap diakui sebagai sumber daya yang penting, seperti uang, mesin, materi, metode kerja, waktu dan informasi yang kesemuanya hanya bermakna apabila diolah dan digunakan uleh manusia. 3. Para bawahan adalah insan dengan jati diri yang khas dan karena itu harus diperlakukan dengan mempertimbangkan kekhasan itu. 4. Tangguh membaca situasi yang dihadapi dan dapat menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan situasi tersebut. 36 5. Rela dan mau melimpahkan wewenang pengambilan keputusan kepada para bawahannya sedemikian rupa tanpa kehilangan kendali organisasional dan tetap bertanggnng jawab atas tindakan para bawahannya itu. 6. Mendorong para bawahan mengembangkan krealifitasnya untuk diterapkan secara inovatif dalam pelaksanaan berkarya berupa ide, teknik dan cara baru serta didorong agar tidak puas bekerja secara rutinistik atau mekanistik 7. Tidak ragu-ragu membiarkan para bawahan mengambil resiko dengan catatan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh telah diperhitungkan dengan matang 8. Bersifat mendidik dan membina, dalam hal bawahan berbuat kesalahan dan tidak serta merta bersifat menghukum atau mengambil tindakan punitive