Hubungan Persepsi Terhadap Budaya Organisasi Dengan Psychological Ownership (skripsi dan tesis)

Mengacu pada pernyataan Pierce (2001), terdapat beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi Psychological Ownership, salah satunya yaitu knowing intimately
atau pemahaman yang mendalam mengenai suatu objek. Hal ini membuat individu
menemukan makna sosial dari objek tersebut. Makna suatu objek yang diberikan oleh
lingkungan sosial dapat digunakan individu sebagai identitas diri hingga dapat
dikenal dan dihargai. Objek yang terintegrasi dengan self-identity menandakan
asosiasi diri terhadap objek. Dengan adanya makna sosial dalam lingkungan
seseorang, akan dapat memunculkan perasaan nyaman terhadap lingkungan tersebut.
Dalam hal ini, budaya organisasi dapat dianggap sebagai suatu hal yang dapat
menumbuhkan makna sosial individu. Seperti yang telah dijabarkan sebelumnya,
budaya organisasi dijelaskan sebagai suatu identitas sebuah perusahaan yang
membedakannya dengan perusahaan lain. Identitas tersebut berisi peraturan-peraturan
dan nilai-nilai yang mengatur sikap dan perilaku anggota perusahaan.
Persepsi terhadap budaya organisasi memiliki dua variasi, yaitu persepsi positif dan
negatif. Seseorang dikatakan memiliki persepsi yang positif terhadap budaya
organisasi apabila ia mampu memahami dan memaknai secara positif, serta menerima
budaya organisasi yang berlaku. Sebaliknya, apabila seorang karyawan memiliki
persepsi negatif terhadap suatu budaya organisasi, maka ia akan cenderung memaknai
secara negatif dan sulit untuk menerima budaya organisasi tersebut. Dengan
memahami dan menerima budaya organisasi, seseorang biasanya akan mampu
menyesuaikan diri, memiliki rasa identitas, merasa menjadi bagian dari organisasi
dan mematuhi aturan-aturan yang ditetapkan dalam perusahaan sebagai anggota
organisasi. Robbin (2002) menjelaskan bahwa tujuan terbentuknya budaya organisasi
sendiri yaitu sebagai pembawa suatu rasa identitas serta perekat sosial bagi anggota
organisasi.