Budaya Organisasi (skripsi dan tesis)

Setiap organisasi memiliki budayanya yang tercermin dalam perilaku anggota, para
karyawan, kebijakan-kebijakan dan peraturannya (Munandar, 2001). Secara
sederhana, budaya organisasi dapat diungkapkan sebagai cara berfikir, cara bekerja,
cara laku para karyawan suatu perusahaan dalam melakukan tugas pekerjaan mereka
masing-masing (Munandar 2001).
Budaya merupakan suatu nila-nilai yang dipercaya, sehingga menjadi karakteristik
yang diberikan anggota kepada suatu organisasi (pratama 2012). Menurut Pratama
(2012), budaya organisasi adalah suatu pola dari dasar asumsi-asumsi untuk
bertindak, menentukan atau menggambarkan anggota organisasi dalam mengatasi
persoalan dengan mengadaptasikannya dari luar dan mengintergrasikannya dalam
organisasi. Budaya organisasi merupakan suatu sistem pengertian bersama yang
dipegang oleh anggota-anggota suatu organisasi yang membedakan organsiasi
tersebut dengan organisasi lainnya (Robbins, 2002)
Budaya organisasi memiliki 7 ciri-ciri menurut Robbins (2002), yaitu Inovasi dan
pengambilan resiko, perhatian terhadap detail, orientasi keluaran, orientasi ke orang,
orientasi tim, keagresifan dan stabilitas. (1) Inovasi dan pengambilan resiko yaitu
sejauh mana karyawan didukung untuk menjadi inovatif dan berani mengambil
resiko. (2) perhatian terhadap detail, yakni sejauh mana karyawan diharapkan
menunjukkan kecermatan, analisis dan perhatian terhadap hal detail. (3) Orientasi
keluaran, sejauh mana manajemen lebih berfokus pada hasil dan pengeluaran dari
pada teknik dan proses dalam mencapai hasil. (4) orientasi ke orang, sejauh mana
keputusan-keputusan yang diambil manajemen ikut memperhatikan dampak dari
pengeluarannya terhadap karyawan. (5) orientasi tim, yaitu sejauh mana kegiatakegiatan lebih diorganisasi seputar kelompok-kelompok dari pada seputar
perorangan. (6) keagresifan, sejauh mana orang-orang lebih agresif dari pada santai.
(7) stabilitas, sejauh mana kegiatan-kegiatan keorganisasian lebih menekankan status
quo dibandingkan dengan pertumbuhan.
Dalam suatu organisasi, peran dan fungsi budaya organisasi menurut Robbin (2002),
adalah (1) menciptakan pembeda yang jelas antara satu organisasi dengan organisasi
yang lain. (2) budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi.
(3) budaya mempermudah tumbuhnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas dari
pada kepentingan diri individual seseorang. (4) budaya merupakan perekat sosial
yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standar-standar
yang tepat untuk dilakukan oleh karyawan. (5) budaya sebagai mekanisme pembuat
makna dan kendali yang memantau dan membentuk sikap serta perilaku karyawan.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa persepsi tehadap budaya
organisasi adalah bagaimana seseorang memaknai dengan menyeleksi,
mengorganisasi dan menginterpretasi terkait budaya organisasi yang diterapkan di
tempat ia bekerja. Budaya perusahaan berhubungan dengan bagaimana karyawan
mempersepsikan karakteristik dari budaya suatu perusahaan, dengan demikian cara
karyawan memandang atau mempersepsikan perusahaan berdasarkan nilai dan norma
yang dimiliki akan membentuk persepsi tertentu mengenai perusahaannya (Munizu
2010). Apabila karyawan dalam suatu perusahaan memiliki persepsi yang positif
terhadap budaya organisasi yang ada, maka ia akan dapat menerima, menyesuaikan
diri dan mematuhi aturan-aturan yang ditetapkan dalam perusahaan sebagai
karyawan. Hal ini dapat berdampak pada ketahanan, kenyamanan dan performa yang
dimiliki karyawan untuk bekerja. Begitu pula sebaliknya, apabila karyawan memiliki
persepsi negatif terhadap budaya yang diterapkan organisasi, maka ia akan merassa
tidak nyaman hingga cenderung tertekan saat berada dalam perusahaan tersebut.