Faktor –faktor yang mempengaruhi resiliensi (skripsi dan tesis)

Menurut Everall, Allrows dan Paulson (2006) faktor-faktor yang
mempengaruhi resiliensi tersiri dari empat faktor, yakni faktor individu, keluarga,
komunitas dan faktor resiko.
a. Faktor Individu
Yang dimaksud faktor individu adalah faktor-faktor yang berasal dari
dalam diri yang mampu membuat sesorang menjadi resilien. Hal-hal yang
termasuk dalam faktor individu ini antar lain :
1) Fungsi kognitif atau intelegensi
Individu dengan intelegensi yang baik memiliki kemampuan resiliensi
yang lebih baik. Levin (2002) menyetakan kecerdasan yang dimaksud tidak selalu
IQ yang baik, namun bagaimana seseorang dapat mengaplikasikan kecerdasannya
untuk dapat memahami orang lain maupun diri sendiri dalam banyak situasi.
2) Strategi coping
Penelitian mengindikasikan bahwa remaja yang resilien memiliki
kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik dan menggunakan problem
focused coping atau fokus terhadap permasalahn sebagai strategi mengatasi
masalahnya.
3) Locus of Control
Locus of control yang membuat individu menjadi resilien adalah yang
cenderung ke dalam diri yaitu internal locus of control, dimana dengan begitu
individu memiliki keyakinan dan rasa percaya, cenderung memiliki tujuan,
harapan, rencana pada masa depan dan ambisi bahwa dirinya memiliki
kemampuan.
4) Konsep Diri
Beberapa penelitian juga menemukan bahwa konsep diri yang positif dan
harga diri yang baik membuat individu menjadi resilien.
b. Faktor Keluarga
Beberapa penelitian serupa menjelaskan bahwa individu yang menerima
secara langsung arahan dan dukungan dari orang tua dalam keadaan yang buruk
akan lebih merasa termotivasi, optimis dan yakin bahwa individu tersebut mampu
untuk menjadi sukses
c. Faktor Komunitas atau Eksternal
Pada situasi yang buruk, individu yang resilien lebih sering mencari dan
menerima dukungan juga kepedulian dari orang dewasa selain orang tua, seperti
guru, pelatih, konselor sekolah, kepala sekolah dan tetangga. Begitupula dengan
memiliki hubungan yang positif dengan orang lain, juga lingkungan yang baik.
d. Faktor Resiko
Herman, dkk (2011) menyebutkan beberapa faktor yang ada dalam faktor
resiko sebagai stressor atau tekanan. Faktor tersebut berupa keadaan kekurangan,
kehilangan, peristiwa negatif dalam hidup, perperangan, bencana alam dan
sebagainya. Penelitian yang sama juga menyebutkan faktor-faktor yang
mempengaruhi resilensi selain faktor yang telah disebut diatas, yaitu regulasi
emosi, emosi positif, spiritualitas, harapan, optimisme, kemampuan beradaptasi,
faktor demografis (usia, gender, jenis kelamin, ras dan etnik) ataupun faktor lain
yang mampu meningkatkan resiliensi seperti tahapan kehidupam yang telah
dilalui sebagai fase perkembangan hidup. Dengan demikian, secara garis besar
terdapat tiga faktor yang mempengaruhi resiliensi yaitu faktor individu, keluarga
dan eksternal (kominutas). Penelitian ini memiliki variabel bebas yaitu
kebersyukuran yang temasuk dalam faktor individual atau faktor yang berasal dari
dalam diri individu yang disampaikan oleh Herman, dkk (2011), yaitu spritualitas,
karena perilaku bersyukur terkait dengan hubungan manusia dan keyakinannya
terhadap Allah SWT, begitu pula dengan spritualitas yang menjelaskan mengenai
perihal keyakinan secara lebih luas.
Dari teori teori diatas maka dapat disimpulkan bahwa resiliensi dapat
ditimbulkan melaui tiga faktor yaitu faktor individu, keluarga dan komunitas.
Salah satu faktor utama yang berasal dari dalam individu adalah rasa
kebersyukuran.