Aspek Resiliensi (skripsi dan tesis)

Aspek-aspek resiliensi menurut Connor dan Davidson (2003) terdiri dari
lima aspek, berikut adalah aspek-aspek tersebut :
a. Personal competence, high standards, and tenacity
Merupakan faktor yang mendukung seorang untuk terus maju terhadap
tujuan saat orang tersebut mengalami tekanan atau adversity.
b. Trust in one’s instincts, tolerance of negative affect, and strengthening
effects of stress
Aspek ini berfokus pada ketenangan, keputusan dan ketepatan saat
menghadapi stres.
c. Positive acceptance of change, and secure relationships.
Hal ini berkaitan dengan adaptasi yang dimiliki seseorang.
d. Control
Aspek ini berfokus pada kontrol dalam mencapai tujuan dan kemampuan
untuk mendapatkan bantuan dari orang lain ataupun dukungan sosial.
e. Spiritual influences
Merupakan kepercayaan seseorang pada Tuhan atau nasib.
3
Aspek-aspek resiliensi menurut Connor dan Davidson (2003) dan telah
dimodifikasi oleh Yu dan Zhang (2007) terdiri dari tiga aspek utama, yaitu:
a. Tenacity (Kegigihan)
Menggambarkan ketenangan hati, ketetapan waktu, ketekunan, dan
kemampuan mengontrol diri individu dalam menghadapi situasi yang sulit dan
menantang
b. Strength (Kekuatan)
Menggambarkan kapasitas individu untuk memperoleh kembali dan
menjadi lebih kuat setelah mengalami kemunduran dan pengalaman di masa lalu.
c. Optimism (Optimisme)
Merefleksikan kecenderungan individu untuk melihat sisi positif dari setiap
permasalahan dan percaya terhadap diri sendiri dan lingkungan sosial. Aspek ini
menekankan pada kepercayaan diri individu dalam melawan situasi yang sulit.
Menurut Reivich dan Shatte (2002) resiliensi terdiri dari tujuh aspek, berikut
adalah aspek-aspek tersebut :
a. Regulasi emosi
Kemampuan untuk mengelola sisi internal diri agar tetap efektif dibawah
tekanan individu yang resilien mengembangkan keterampilan dirinya untuk
membantunya mengandalikan emosi, perhatian, maupun perilakunya dengan baik.
b. Pengendalian dorongan
Kemampuan untuk mengelola bentuk perilaku dari impuls emosional
pikiran, termasuk kemapuan untuk menunda mendapatkan hal yang dapat
memuaskan bagi individu. Kemampuan mengendalikan dorongan juga terkait
dengan regulasi emosi.
c. Analisis kausal
Kemampuan untuk mengidentifikasi penyebab dari masalah secara akurat.
Individu yang resilien memiliki gaya berfikir yang terbiasa untuk
mengidentifikasi penyebab yang memungkinkan dan mendapatkan sesuatu yang
berpotensi menjadi solusi.
d. Efikasi diri
Efikasi diri merupakan keyakinan individu dapat memecahkan masalah
dan berhasil individu tersebut yakin bahwa dirinya telah efektif dalam hidupnya.
Individu yang resilien yakin dan percaya diri sehingga dapat membangun
kepercayaan dengan orang lain, juga menempatkan dirinya untuk berada di tempat
yang lebih baik dan lebih banyak memiliki kesempatan.
e. Realistis dan optimis
Kemampuan yang dimiliki individu untuk tetap positif tentang masa depan
yang belum menjadi terealisasi dalam perencanaan. Hal tersebut terkait dengan
self esteem, tetapi juga memiliki hubungan kausalitas dengan efikasi diri juga
melibatkan akurasi dan realisme.
f. Empati
Kemampuan untuk membaca isyarat perilaku orang lain untuk memahami
keadaan psikologis dan emosional mereka, sehingga dapat menbangun hubungan
yang lebih baik. Individu yang resilien mampu membaca isyarat-isyarat non
verbal orang lain untuk membangun hubungan yang lebih dalam dan cenderung
untuk menyesuaikan keadaan emosi mereka.
g. Keterjangkauan
Kemampuan untuk meningkatkan aspek positif dari kehidupan dan
mengambil suatu kesempatan yang baru sebagai tantangan. Mejangkau sesuatu
yang terhambat oleh rasa malu, perfeksionis, dan self handicapping.
Berdasarkan uraian mengenai aspek-aspek resiliensi diatas, penelitian ini sesuai
dengan teori Connor dan Davidson (2003) yang telah dimodifikasi oleh Yu dan
Zhang (2007) melihat dari kondisi atau kriteria subjek yang digunakan yaitu
pasien penderita penyakit kronis, sehingga dapat disimpulkan bahwa penelitian ini
menggunakan tiga aspek utama resiliensi yang terdiri dari tenacity, strength, dan
optimism.