Aspek-Aspek Resiliensi (skripsi dan tesis)

Connor dan Davidson (2003), mengemukakan lima aspek yang
membangun resiliensi, antara lain:
a. Kompetensi personal, standar yang tinggi dan keuletan (tenancity) Keuletan
menggambarkan sikap optimis, tidak mudah putus asa dan berani atau
mampu mencapai tujuan walaupun dalam situasi yang penuh dengan
tekanan.
b. Percaya pada diri sendiri, toleransi pada emosi negatif dan tegar
menghadapi stres. Aspek ini menggambarkan seseorang yang resilien adalah
orang yang mampu tetap fokus pada pekerjaan atau tugas walaupun sedang
mengalami masalah dan meyakini kemampuannya mengatasi masalahnya
tersebut.
c. Penerimaan yang positif terhadap perubahan dan menjalin hubungan yang
aman dengan orang lain. Hal ini menggambarkan perlunya kemampuan
beradaptasi terhadap situasi baru dan menjalin serta saling memberikan
dorongan motivasi dengan orang lain.
d. Kontrol diri, kemampuan dalam mengatur perilaku dan perasaan atau emosi
ketika menghadapi masalah. Seseorang yang memiliki kontrol diri yang
baik mampu untuk mengendalikan perasaan emosinya meskipun dalam
keadaan sulit
e. Spiritualitas, meyakini adanya Tuhan dan mampu mengambil hikmah dari
bencana atau permasalahan yang dialami.
Resiliensi menurut Reivich & Shatte (Amalia, 2015) mencakup tujuh
aspek, yaitu:
a. Regulasi emosi, adalah kemampuan untuk tetap tenang dalam kondisi yang
penuh tekanan. Individu yang memiliki kemampuan meregulasi emosi
dapat mengendalikan dirinya apabila sedang kesal dan dapat mengatasi
rasa cemas, sedih, atau marah sehingga mempercepat dalam pemecahan
suatu masalah. Pengekspresian emosi, baik negatif ataupun positif,
merupakan hal yang sehat dan konstruktif asalkan dilakukan dengan tepat.
Pengekpresian emosi yang tepat merupakan salah satu kemampuan
individu yang resilien.
b. Pengendalian impuls, merupakan kemampuan mengendalikan keinginan,
dorongan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri seseorang.
Individu dengan pengendalian impuls rendah sering mengalami perubahan
emosi dengan cepat yang cenderung mengendalikan perilaku dan pikiran.
Individu mudah kehilangan kesabaran, mudah marah, impulsif, dan
berlaku agresif pada situasi situasi kecil yang tidak terlalu penting,
sehingga lingkungan sosial di sekitarnya merasa kurang nyaman yang
berakibat pada munculnya permasalahan dalam hubungan sosial.
c. Optimisme, individu yang resilien adalah individu yang optimis. Individu
memiliki harapan di masa depan dan percaya dapat mengontrol arah
hidupnya. Dibandingkan dengan individu yang pesimis, individu yang
optimis lebih sehat secara fisik, tidak mengalami depresi, berprestasi lebih
baik di sekolah, lebih produktif dalam kerja, dan lebih berprestasi dalam
olahraga. Optimisme mengimplikasikan bahwa individu percaya dapat
menangani masalah-masalah yang muncul di masa yang akan datang.
d. Empati, menggambarkan bahwa individu mampu membaca tanda-tanda
psikologis dan emosi dari orang lain. Empati mencerminkan seberapa baik
individu mengenali keadaan psikologis dan kebutuhan emosi orang lain.
e. Analisis penyebab masalah, yaitu merujuk pada kemampuan individu
untuk secara akurat mengidentifikasi penyebab penyebab dari
permasalahan individu. Jika individu tidak mampu memperkirakan
penyebab dari permasalahannya secara akurat, maka individu akan
membuat kesalahan yang sama.
f. Efikasi diri, merupakan keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk
menghadapi dan memecahkan masalah dengan efektif. Efikasi diri juga
berarti meyakini diri sendiri mampu berhasil dan sukses. Individu dengan
efikasi diri tinggi memiliki komitmen dalam memecahkan masalahnya dan
tidak akan menyerah ketika menemukan bahwa strategi yang sedang
digunakan itu tidak berhasil. Individu yang memiliki efikasi diri yang
tinggi akan sangat mudah dalam menghadapi tantangan. Individu tidak
merasa ragu karena memiliki kepercayaan yang penuh dengan kemampuan
dirinya. Individu ini akan cepat menghadapi masalah dan mampu bangkit
dari kegagalan yang dialami.
g. Peningkatan aspek positif. Resiliensi merupakan kemampuan yang
meliputi peningkatan aspek positif dalam hidup. Individu yang
meningkatkan aspek positif dalam hidup, mampu melakukan dua aspek ini
dengan baik, yaitu: (1) mampu membedakan risiko yang realistis dan tidak
realistis, (2) memiliki makna dan tujuan hidup serta mampu melihat
gambaran besar dari kehidupan. Individu yang selalu meningkatkan aspek
positifnya akan lebih mudah dalam mengatasi permasalahan hidup, serta
berperan dalam meningkatkan kemampuan interpersonal dan pengendalian
emosi.