Dimensi Tourist roles (skripsi dan tesis)

Mo (dalam Jiang, Havits dan O’Brein, 2000) menyatakan bahwa dibutuhkan
batasan-batasan yang jelas sebagai sumber indikator dari pola perilaku wisata
dalam membedakan wisatawan berdasarkan kebutuhannya terhadap familiarity
dan novelty. Oleh sebab itu, konsep tipologi Cohen (1972) perlu dilengkapi
dengan dimensi-dimensi tourist roles yang menjadi dasar dalam mengetahui
perbedaan pola perilaku wisata terbentuk berdasarkan perbedaan antara tingkat
kebutuhan atas familiarity dan novelty. Berikut adalah penjelasan dari dimensidimensi
tourist roles (Mo dalam Jiang, Havits dan O’Brein, 2000):
1. Dimensi destination oriented
Menurut Mo (dalam Jiang, Havits dan O’Brein, 2000) destination oriented
merupakan dimensi yang menjelaskan sejauh mana tujuan wisata didasari oleh
keinginan untuk memperoleh pengalaman wisata yang baru dan berbeda, dalam
konteks budaya, masyarakat, bahasa maupun kemapanan pariwisata di daerah
tujuan wisata. Wisatawan dengan kebutuhan familiarity tinggi akan
memprioritaskan daerah tujuan wisata yang memiliki kemapanan industri
pariwisata, serta mengunjungi tempat-tempat yang telah populer. Sementara
wisatawan dengan kebutuhan novelty tinggi lebih tertarik untuk menjelajah ke
daerah yang semakin asing dan jarang dikunjungi. Mereka juga tertarik untuk
pergi ke daerah yang makin terpencil dan jauh dari kemapanan industri pariwisata.
Semakin besar perbedaan latar belakang budaya yang ada justru semakin
menambah rasa ingin tahu wisatawan (Mo dalam Jiang, Havits dan O’Brein).
2. Dimensi travel service
Menurut Mo (1993) travel service merupakan dimensi yang menjelaskan sejauh
mana wisatawan melakukan perencanaan perjalanan dan menginginkan pelayanan
dari institusi pariwisata seperti agen atau biro perjalanan wisata ketika akan
berpergian. Cohen (1972) berpendapat bahwa wisatawan dengan kebutuhan
novelty tinggi menyukai perjalanan dengan pengaturan yang lebih independen.
Mereka juga jarang atau tidak menggunakan pelayanan dari biro perjalanan
wisata. Beberapa wisatawan dengan kebutuhan novelty yang tinggi terkadang
memutuskan untuk melakukan perjalanan secara tiba-tiba tanpa melakukan
perencanaan terlebih dahulu. Mereka berani mengambil risiko untuk berpergian
tanpa perencanaan dan menggunakan dana yang terbatas. Sementara wisatawan
dengan kebutuhan familiarity tinggi menginginkan pelayanan institusi dan
perencanaan perjalanan yang terjamin. Mereka ingin berada dalam lingkungan
mikro yang familiar ketika berpergian ke lingkungan makro yang asing (Cohen
dalam Jiang, Havits dan O’Brein, 2000, hal. 967).
3. Dimensi social contact
Menurut Mo (dalam Jiang, Havits dan O’Brem, 2000) yang dimaksud dengan
social contact merupakan dimensi yang menjelaskan sejauh mana wisatawan
melakukan kontak sosial dengan penduduk lokal. Kontak sosial merupakan model
interaksi yang terjadi antara wisatawan dengan penduduk lokal yang
menunjukkan sejauh mana wisatawan memiliki keinginan untuk dapat
mengalami, mengerti, dan beradaptasi dengan budaya yang berbeda (Cohen,
1972). Kontak sosial dapat dilihat dari seberapa jauh keterlibatan wisatawan untuk
menjalin hubungan pertemanan dengan penduduk lokal, mempelajari bahasa
hingga keinginan untuk berbagi dan terlibat dalam kehidupan penduduk lokal
(contohnya keinginan untuk berbagi tempat bemaung), “mengadopsi” kebudayaan
lokal hingga menjadi bagian dari penduduk lokal (Mo dalam Jiang, Havits &
O’Brein, 2000, hal. 967). Wisatawan dengan kebutuhan familiarity tinggi lebih
menyukai untuk menghindari kontak atau membatasi interaksi dengan penduduk
lokal. Mereka lebih nyaman dengan hanya melakukan observasi terhadap
penduduk lokal tanpa menjalin kontak sosial tertentu. Sementara wisatawan
dengan kebutuhan novelty tinggi lebih tertarik untuk dapat melakukan kontak
sosial baik secara fisik maupun emosional dengan penduduk lokal. Mereka juga
tertarik untuk terlibat dalam kehidupan sehari-hari dengan penduduk lokal
(Cohen, 1972)