Pengertian Teori Wirausaha (skripsi dan tesis)

Menurut Kasmir (2006:16), wirausahawan adalah orang yang berjiwa
berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan.
Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. Wirausahawan dalam pikirannya selalu berusaha mencari serta memanfaatkan peluang usaha yang dapat memberi keuntungan. Resiko kerugian merupakan hal yang biasa karena memegang prinsip bahwa faktor kerugian pasti ada. Bahkan semakin besar resiko kerugian yang kemungkinan dihadapi, semakin besar pula peluang keuntungan yang dapat diraih. Tidak ada istilah rugi selama seorang melakukan usaha dengan penuh keberanian dan penuh perhitungan. Inilah yang disebut dengan jiwa wirausaha.
Menurut As’ad (2009:149) mendefinisikan wirausaha adalah orang yang
menerapkan kemampuannya untuk mengatur, menguasai alat-alat produksi dan menghasilkan hasil yang berlebihan yang selanjutnya dijual atau ditukarkan dan memperoleh pendapatan dari usahanya tersebut.
Wirausaha adalah orang yang menciptakan kesejahteraan untuk orang lain,
menemukan cara-cara baru untuk menggunakan sumber daya, mengurangi
pemborosan, dan membuka lapangan kerja yang disenangi masyarakat. Seorang wirausaha adalah mereka yang melakukan usaha-usaha kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide dan meramu sumber daya untuk
menemukan peluang dan perbaikan hidup (Suryana, 2009:16).
Menurut Zimmerer (2005:3), seorang wirausaha adalah seseorang yang
menciptakan sebuah bisnis baru dengan mengambil resiko dan ketidakpastian
demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi
peluang dan menggabungkan sumber daya yang diperlukan untuk mendirikannya.
Menurut Scarborough dalam Zimmerer (2005:4), profil kewirausahaan
digambarkan sebagai berikut:
a. Menyukai tanggung jawab
Wirausahawan merasa bertanggung jawab secara pribadi atas hasil
perusahaan tempat terlibatnya usaha, serta lebih menyukai untuk dapat
mengendalikan sumber-sumber daya sendiri dan menggunakan sumber-sumber daya tersebut untuk mencapai cita-cita yang telah ditetapkan sendiri.
b. Lebih menyukai resiko menengah
Wirausahawan bukanlah seorang pengambil resiko liar, melainkan selain
seorang yang mengambil resiko yang diperhitungkan. Wirausahawan melihat
sebuah bisnis dengan tingkat pemahaman resiko pribadinya. Wirausahawan
biasanya melihat peluang di daerah yang sesuai dengan pengetahuan, latar
belakang dan pengalamannya yang akan meningkatkan kemungkinan
keberhasilannya.
c. Keyakinan atas kemampuan mereka untuk berhasil
Wirausahawan pada umumnya memiliki banyak keyakinan atas kemampuan
untuk berhasil. Seorang wirausahawan cenderung optimis terhadap peluang
keberhasilan dan optimisme mereka biasanya berdasarkan kenyataan. Salah satu penelitian dari National Federation of Independent Business (NFIB) menyatakan bahwa sepertiga dari wirausahawan menilai peluang untuk berhasil mencapai 100 persen. Tingkat optimisme yang tinggi kiranya dapat menjelaskan bahwa kebanyakan wirausahawan yang berhasil juga pernah gagal dalam bisnis sebelum akhirnya berhasil.
d. Hasrat untuk mendapatkan umpan balik langsung
Wirausahawan ingin mengetahui sebaik apa dalam bekerja dan terus-
menerus mencari pengukuhan
e. Tingkat energi yang tinggi
Wirausahawan lebih energetik dibandingkan orang kebanyakan. Energi ini
merupakan faktor penentu mengingat luar biasanya bisnis yang diperlukan untuk mendirikan suatu perusahaan. Kerja keras dalam waktu yang lama merupakan sesuatu yang biasa.
f. Orientasi ke depan
Wirausahawan memiliki indera yang kuat dalam mencari peluang. Melihat
ke depan dan tidak mempersoalkan apa yang telah dikerjakan kemarin, melainkan lebih mempersoalkan apa yang dikerjakan besok. Bila manajer tradisional
memperhatikan pengelolaan sumber daya yang ada, wirausahawan lebih tertarik mencari dan memanfaatkan peluang.
g. Keterampilan mengorganisasi
Membangun sebuah perusahaan “dari nol” dapat dibayangkan seperti
menghubungkan potongan-potongan sebuah gambar besar. Para wirausahawan harus mengetahui cara mengumpulkan orang-orang yang tepat untuk menyelesaikan suatu tugas. Penggabungan orang dan pekerjaan secara efektif memungkinkan para wirausahawan untuk mengubah pandangan ke depan menjadi kenyataan.
Menurut Hendro (2011:61) ada beberapa faktor yang mempengaruhi
keinginan seseorang untuk memilih jalur wirausahaship sebagai jalan hidupnya. Faktor-faktor itu adalah faktor individual, suasana kerja, tingkat pendidikan, personality (kepribadian), pretasi pendidikan, dorongan keluarga,
lingkungan/pergaulan, ingin lebih dihargai (self-esteem), serta keterpaksaan dan keadaan