Hubungan Antara Kesehatan Sosial−Emosional dan Stres Akademik pada Siswa (skripsi dan tesis)

Furlong (2013) memaparkan empat aspek kesehatan sosial−emosional,
aspek yang pertama adalah belief in-self yang berarti kesehatan
sosial−emosional ditandai dengan individu yang memiliki kepercayaan
terhadap dirinya sendiri. Belief in-self ditandai dengan individu yang
memiliki kesadaraan diri (self awareness), efikasi diri (self efficacy) dan
kegigihan (persistence). Efikasi diri dan kegigihan yang dialami individu
berkaitan dengan kemapuan intelektual individu yang merupakan aspek dari
stres akademik. Individu yang memiliki kemampuan intelektual yang baik
mampu mengorganisir dan menggunakan segala sumber yang ada pada
dirinya untuk menghadapi segala tantangan yang dihadapi dan
melakukannya secara tekun dan gigih. Menurut penelitian Wulandari dan
Rachmawati (2014), efikasi diri memiliki hubungan negatif yang signifikan
terhadap stres akademik. Hal ini menunjukkan bahwa individu yang
memiliki efikasi diri yang tinggi akan memiliki stres akademik yang rendah.
Hal ini dikarenakan individu yang memiliki efikasi diri tinggi mampu
memandang situasi dan lingkungan yang menekan sebagai sesuatu yang
dapat diahadapi dan dikontrol. Sehingga, ketika terdapat tekanan akademik
di sekolah, individu dengan efikasi diri tinggi mampu menjadikan tekanan
tersebut sebagai sesuatu yang menantang.
Aspek kedua dari kesehatan sosial−emosional adalah belief in-others
yaitu kemampuan individu untuk mempercayai orang lain. Belief in-others
ditandai dengan kemampuan individu untuk memiliki hubungan erat dan
baik dengan keluarga, teman sebaya dan masyarakat serta memiliki
dukungan yang positif dari mereka. Hubungan erat dengan orang lain atau
belief in-others berkaitan dengan aspek interpersonal dari stres akademik.
Penelitian yang dilakukan oleh Ernawati dan Rusmawati (2015) mengatakan
bahwa dukungan sosial orang tua berhubungan negatif dengan stres
akademik. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial
orang tua semakin rendah stres akademik individu. Dukungan sosial orang
tua yang mempengaruhi stres akademik adalah penghargaan. Individu yang
mendapat penghargaan dari orang tuanya akan memiliki stres akademik
yang rendah, karena individu merasa orang tuanya tidak memberikan
tekanan kepada diri individu tersebut.
Aspek ketiga adalah emotional competence yaitu kemampuan untuk
mengolah emosi. Emotional competence ditandai dengan self control
individu yang baik, memiliki rasa empati serta mampu melakukan regulasi
emosi. Hal ini berkaitan dengan aspek stres akademik yaitu aspek
emosional. Individu yang mampu mengolah emosi mampu menghadapi
masalah dengan baik dan terhindar dari perubahan mood yang cepat.
Penelitian Kartika (2015) mengatakan bahwa kecerdasan emosi memiliki
hubungan negatif dengan stres akademik. Dengan demikian, diketahui
apabila kecerdasan emosi seorang individu tinggi maka stres akademiknya
akan rendah. Hal ini dikarenakan individu yang memiliki kecerdasan emosi
yang baik dapat mengatasi tuntutan dan tekanan di dalam hidupnya, dengan
demikian, individu yang mengalami stres akademik tidak mampu
mengontrol dan mengatasi tuntutan di akademik.
Aspek terakhir dari kesehatan sosial−emosional adalah engaged living
yaitu kemampuan individu untuk terlibat secara utuh dan langsung terhadap
kehidupannya. Engaged living ditandai dengan individu yang memiliki
optimisme tinggi dalam hidup, mampu bersyukur dan bersemangat dalam
menjalani hidup. Aspek ini berkaitan dengan aspek intelektual dan
emosional dari stres akademik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Mukhlis (2015) diketahui bahwa pelatihan kebersyukuran (gratitude) dapat
menurunkan tingkat kecemasan menjelang ujian nasional. Hal ini
dikarenakan individu yang memiliki rasa syukur yang tinggi memiliki
perasaan, perkataan dan pikiran yang benar sehingga mampu melihat situasi
yang menekan dan mencari solusi dari situasi tersebut. Hal ini dapat
diartikan bahwa pelatihan kebersyukuran mampu mengurangi tekanan
akademik menjelang ujian nasional yang akan berdampak pada penurunan
tingkat stres akademik siswa. Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan
di atas dapat disimpulkan bahwa kesehatan sosial−emosional memiliki
hubungan dengan stres akademik.