Aspek-aspek Kesehatan Sosial−Emosional (skripsi dan tesis)

Menurut Furlong (2013), terdapat empat aspek kesehatan
sosial−emosional yaitu:
a) Percaya Diri (Belief in self )
Individu yang memiliki kesehatan sosial−emosional yang baik akan
memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Individu yang memiliki
kepercayaan diri yang baik dikatakan apabila individu tersebut
memiliki efikasi diri (self efficacy), kegigihan (persistence) dan
kesadaran akan diri sendiri (self awareness).
b) Percaya pada Orang Lain (Belief in others)
Individu yang memiliki kesehatan sosial−emosional yang baik
mampu percaya pada orang lain. Seseorang dikatakan mampu
percaya pada orang lain apabila memiliki koherensi keluarga (family
coherence), dan memiliki dukungan (support) dari sekolah dan
teman sebaya (peer).
c) Kompetensi Emosional (Emotional competence)
Individu yang memiliki kesehatan sosial−emosional yang baik
memiliki kompetensi emosional yang baik. Seseorang yang memiliki
kompetensi emosional berarti mampu untuk mengontrol diri sendiri
(self control), memiliki empati (empathy) dan regulasi emosi
(emotion regulation).
d) Terlibat dalam Hidup (Engaged living)
Individu yang terlibat dalam kehidupannya berarti memiliki
optimisme dalam hidup (optimism), artinya selalu berpikir optimis
akan hidup dan mampu menyusun masa depan, selalu bersyukur
(gratitude), serta bersemangat (zest) dalam menjalani segala
tantangan hidup.
Menurut Weare dan Gray (2003), terdapat enam aspek kesehatan
sosial−emosional, yaitu:
a) Harga Diri (Self−esteem)
Harga diri yang positif merupakan fondasi dari keseharan mental,
emosional dan sosial. Sebuah studi menemukan bahwa kurangnya
harga diri akan menimbulkan masalah pada kemampuan dan
kompetensi diri individu, seperti, tidak mau ikut serta
(unassertiveness), mengkritik diri sendiri (self−criticism), dan
adanya perasaan tidak berdaya (powerless) yang akan menimbulkan
stres dan masalah psikologis.
b) Kesejahteraan Emosional (Emotional well−being)
Kesejahteraan emosional merupakan bagian penting dari kesehatan
sosial−emosional. Individu yang memiliki kesehatan
sosial−emosional yang baik mampu memahami emosi yang ada pada
dirinya, mampu mengekspresikan diri dan meningkatkan emosi
positif.
c) Berpikir Jernih (Thinking clearly)
Berpikir jernih merupakan bagian dari kesehatan sosial−emosional.
Individu yang memiliki kesehatan sosial−emosional yang baik maka
memiliki kemampuan untuk berpikir jernih, mengolah informasi,
memecahkan masalah, membuat keputusan, menentukan tujuan dan
memiliki sense of reality (rasa akan kenyataan).
d) Kemampuan untuk Tumbuh (The Ability to grow)
Kesehatan sosial−emosional tidak bersifat statis tapi berkembang.
Individu yang memiliki kesehatan sosial−emosional yang baik
memiliki kemampuan untuk tumubuh (grow) baik secara fisik,
psikologis, emosional, intelektual dan rohani.
e) Resiliensi
Aspek penting dari kesehatan mental, emosional dan sosial adalah
kemampuan untuk memproses pengalaman yang sulit atau
menyakitkan, mampu belajar dari pengalaman tersebut dan
melanjutkan hidup (move on), tidak berlarut−larut dalam masa lalu
yang akan menahan diri dari masa depan.
f) Kemampuan untuk membangun hubungan dengan orang lain
Kemampuan untuk membangun sebuah hubungan merupakan
kompetensi utama dan penentu penting dalam kesehatan
sosial−emosional. Kemampuan untuk membangun sebuah hubungan
dengan orang lain yaitu seperti mampu untuk membentuk kelekatan
(attachment), mampu membentuk ikatan dan terhubung dengan
orang lain, mengelola konflik, menunjukan dan merasakan
penerimaan (acceptance), mampu menoleransi perbedaan,
menghargai pendapat orang lain dan memiliki rasa tanggung jawab.
Berdasarkan aspek-aspek yang telah dipaparkan di atas. Peneliti
menggunakan aspek-aspek kesehatan sosial−emosional menurut
Furlong (2013). Hal ini dikarenakan Furlong (2013) menjelaskan
aspek-aspek kesehatan sosial−emosional secara detail dan mudah untuk
dipahami. Selain itu, aspek-aspek yang dijelaskan mampu menjelaskan
kesehatan sosial−emosional