Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba (skripsi dan tesis)

Ukuran perusahaan merupakan nilai yang menunjukkan besar kecilnya
perusahaan. Semakin besar perusahaan akan mengakibatkan pemilik tidak bisa mengelola sendiri perusahaannya secara langsung. Hal inilah yang memicu munculnya masalah keagenan. Perusahaan yang berukuran besar memiliki kecenderungan melakukan tindakan manajemen laba lebih kecil dibandingkan perusahaan yang lebih kecil karena perusahaan besar dipandang lebih kritis oleh pihak luar, baik oleh investor, kreditor, pemerintah maupun masyarakat. Sri Sulistyanto (2008:208) menyatakan bahwa:
“Perusahaan besar akan lebih diperhatikan oleh pihak luar dibandingkan
perusahaan-perusahaan yang lebih kecil. Para manajer yang mengelola
perusahaan besar tidak termotivasi untuk melakukan rekayasa dalam laporan
keuangannya dan memilih untuk mengutamakan kepentingan pemegang
saham, sedangkan perusahaan kecil lebih leluasa untuk mengubah laporan
keuangannya karena kurangnya perhatian dari pihak luar”.
Santi (2008) dalam Restu Agusti dan Tyas Pramesti (2009) menyatakan
bahwa:
“Perusahaan yang besar mempunyai insentif yang cukup besar untuk
melakukan manajemen laba, karena salah satu alasan utamanya adalah
perusahaan besar harus mampu memenuhi ekspetasi dari investor atau
pemegang sahamnya. Semakin besar perusahaan, semakin banyak estimasi
dan penilaian yang perlu diterapkan untuk tiap jenis aktivitas perusahaan yang
semakin banyak”.
Menurut Watts & Zimmerman (1978) dalam Restu Agusti dan Tyas Pramesti
(2009) menyatakan bahwa:
“Dukungan maupun penentangan terhadap suatu rencana standar akuntansi
bergantung pada ukuran perusahaan (menurut nilai aktiva) dan dampaknya
terhadap peningkatan atau penurunan laba yang dilaporkan”.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Restu Agusti dan Tyas Pramesti (2009)
dan Desmiyawati, Nasrizal dan Yessi Fitriana (2009) menyatakan bahwa ukuran perusahaan mempunyai hubungan negatif dengan manajemen laba.