Impulsive Buying Behavior (skripsi dan tesis)

Impulsive buying (pembelian impulsif) adalah suatu pembelian yang tidak terencana, yang dicirikan dengan keputusan pembelian yang relatif cepat, dan keinginan untuk segera memiliki barang tersebut. Tipe pembelian ini juga diikuti dengan adanya dorongan emosional. Dorongan emosional tersebut terkait dengan adanya perasaan yang intens, yang ditunjukkan dengan melakukan pembelian karena adanya dorongan untuk membeli suatu produk dengan segera, merasakan kepuasan, dan mengabaikan konsekuensi negatif (Rook, 1987). Menurut Beatty dan Ferrell (1998), pembelian impulsif merupakan suatu pembelian yang tiba-tiba dan langsung tanpa ada niat belanja sebelumnya, baik untuk membeli suatu produk tertentu atau untuk memenuhi suatu kewajiban tertentu. Bayley dan Nancarrow (1998) dalam Muruganantham dan Bhakat (2013) mendefinisikan pembelian impulsif sebagai suatu pembelian yang tiba-tiba, dan mendesak di mana kecepatan dalam mengambil keputusan menghalangi berbagai pertimbangan bijaksana dan pencarian pilihan alternatif lain. Keputusan membeli dalam pembelian impulsif sangatlah cepat, karena waktu yang dibutuhkan dari melihat produk sampai membeli adalah pendek. Menurut Rook dan Fisher (1995), kecenderungan untuk membeli sesuatu secara spontan atau tanpa terencana ini umumnya dapat menghasilkan pembelian ketika konsumen percaya bahwa tindakan tersebut adalah hal yang wajar. Berdasar 7 penelitian – penelitian yang telah dilakukan, maka perilaku pembelian impulsif dapat dideskripsikan sebagai perilaku yang spontan, intens, bergairah, kuatnya keinginan membeli, dan biasanya pembeli mengabaikan konsekuensi dari pembelian yang dilakukan. Menurut Peter dan Olson (2000: 20) perilaku (behavior) mengacu kepada tindakan nyata konsumen yang dapat diobservasi secara langsung. Pada awalnya, kegiatan belanja yang dilakukan oleh konsumen dimotivasi oleh motif yang bersifat rasional, yakni berkaitan dengan manfaat yang diberikan oleh suatu produk. Akan tetapi, saat ini kebanyakan konsumen di Indonesia lebih berorientasi pada nilai hedonis dimana konsumen banyak yang mementingkan aspek kesenangan, kenikmatan, dan hiburan saat berbelanja. Sebagian orang menganggap kegiatan belanja dapat menjadi alat untuk menghilangkan stres, dan dapat mengubah suasana hati (Semuel, 2005). Beatty dan Ferrell (1998) mengatakan, sebanyak 27% – 62% pembelian di department store merupakan pembelian yang tidak direncanakan.

 Survei yang dilakukan AC Nielsen pada tahun 2007 juga menyebutkan bahwa 85% konsumen ritel di Indonesia cenderung berbelanja sesuatu yang tidak direncanakan (Sekarsari, 2013). Produk-produk yang pada umumnya sering dibeli tanpa terencana (produk impulsif) adalah produk baru dengan harga murah yang tidak terduga. Selain itu, produk yang yang dekat dengan diri sendiri dan juga penampilan seperti pakaian, perhiasan, dan aksesoris juga dilaporkan menjadi produk yang paling sering dibeli tanpa terencana (Semuel, 2005). Berbagai faktor diketahui memiliki pengaruh terhadap terjadinya perilaku pembelian impulsif. Karbasivar dan Yarahmadi (2011) memaparkan bahwa 8 perilaku pembelian impulsif seseorang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berkaitan langsung dengan individu yang membuat mereka terlibat dalam perilaku pembelian impulsif seperti keadaan emosional, faktor demografi, dan kepribadian seseorang. Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar individu, biasanya merupakan stimulus yang diciptakan dan dikontrol oleh pemasar. Contoh dari faktor eksternal ini adalah lingkungan di dalam toko, window display, dan kegiatan promosi seperti potongan harga dan produk gratis