Consumer’s esteem (skripsi dan tesis)

Self-esteem merupakan aspek evaluatif dari konsep diri yang merupakan pandangan keseluruhan bahwa diri sendiri berharga atau tidak (Baumeister et al., 2003). Evaluasi menggambarkan bagaimana penilaian individu tentang dirinya sendiri, menunjukan penghargaan dan pengakuan atau tidak, serta menunjukkan sejauh mana individu tersebut merasa mampu, sukses dan berharga. Self-esteem merupakan salah satu kebutuhan manusia. Berdasar Maslow’s hierarchy of needs, manusia memiliki lima tingkat kebutuhan dalam hidup, yaitu:
 1) Kebutuhan fisiologis,
2) Kebutuhan akan rasa aman,
3) Kebutuhan sosial,
4) Kebutuhan akan penghargaan, dan
5) Kebutuhan aktualisasi diri.
 Kebutuhan akan penghargaan oleh Maslow dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri, yang merefleksikan kebutuhan individu akan penerimaan terhadap diri sendiri (selfacceptance), menghargai diri sendiri (self-esteem), kesuksesan, dan kepuasan pribadi.
2. Penghargaan dari orang lain, meliputi kebutuhan akan status, reputasi, gengsi, dan pengakuan dari orang lain
Ketika kebutuhan yang paling dasar sudah terpenuhi (kebutuhan fisiologis), maka manusia akan berusaha memenuhi kebutuhan yang ada di tingkat selanjutnya (Schiffman dan Wisenblit, 2015: 91). Dalam perilaku pembelian impulsif, rangsangan untuk membeli atau memiliki barang terkadang menimbulkan konflik emosional. Konsumen ingin memenuhi kebutuhan emosionalnya, yaitu kesenangan, namun di sisi lain tidak ingin dipandang negatif. Menurut Rook dan Fisher (1995), konsumen berusaha menahan kecenderungan impulsif mereka karena mereka ingin dihargai oleh orang lain dan tidak ingin dipersepsikan sebagai orang yang tidak dewasa atau irasional. Sikap spontan dan pengeluaran uang yang tidak terkontrol dalam pembelian yang tidak terencana akan dianggap sebagai sesuatu yang negatif.
Di sisi lain, usaha untuk memenuhi kebutuhan akan penghargaan dan aktualisasi diri telah mendorong konsumen untuk berperilaku impulsif. Dalam penelitian yang dilakukan Hausman (2000), para responden mengekspresikan penghargaan diri dengan cara tetap sadar mode. Hal ini mengindikasikan bahwa orang lain menilai mereka dari penampilan, terutama pakaian. Pakaian telah menjadi hal yang sangat penting, dan banyak dari responden yang membeli pakaian secara impulsif atau di luar rencana. Adanya perbedaan pendapat pandangan tersebut, menurut Harmancioglu et al. (2009) dapat dijelaskan karena adanya perbedaan antara niat beli dan perilaku pembelian, di mana perasaan ingin dihargai yang ada pada seseorang telah mendorong niat untuk impulsif, tetapi menunda perilaku pembelian impulsif. Hasrat seseorang untuk memenuhi penghargaan diri dapat menjadikan seseorang berniat membeli, namun harga diri seseorang juga dapat menghalangi seseorang dari melakukan pembelian yang tergesa-gesa