Self compassion (skripsi dan tesis)

Self compassion merupakan karakter kasih sayang untuk diri sendiri. Karakter self compassion memberikan kasih sayang dan cinta yang dibutuhkan diri sendiri dengan meningkatkan harapan untuk bahagia dan bebas dari penderitaan. Self compassion dapat mencegah seseorang terjatuh dalam kondisi yang lebih buruk di saat mengalami situasi yang tidak diharapkan. Pada umumnya akan dipertanyakan kemungkinan dampak negatif self compassion, yaitu berkurangnya motivasi, menjadi pasif, dan menjadi terlalu memanjakan diri. Ada kecemasan ketika menerapkan self compassion, mereka menjadi lemah. Namun penelitian membuktikan keadaan sebaliknya.. Penelitian membuktikan bahwa orang dengan self compassion yang tinggi memiliki target yang tinggi terhadap diri, tetapi tidak menyiksa diri saat kurang berhasil mencapai target tersebut. Dengan memiliki self compassion justru seseorang akan mencapai kesehatan dan kesejahteraan individu. Self compassion tidak hanya dibutuhkan ketika seseorang mengalami suatu masalah yang berat, tetapi juga dalam situasi dan kondisi apapun.

 Penelitian Neff & Vonk (2009) menemukan hasil bahwa self compassion berperan secara unik dalam emosi-emosi positif seperti sense of coherence dan feeling of worthy and acceptable. Selignman & Csikzentmihalyi (dalam Neff et al., 2011) menyatakan bahwa individu dengan self compassion menunjukkan kekuatan psikologis yang terkait dengan perkembangan psikologi positif seperti kebahagiaan, optimisme, kebijaksanaan, keingintahuan, motivasi bereksplorasi, inisiatif pribadi, dan emosi positif. Lebih lanjut Neff (2011) menjelaskan bahwa self compassion tidak menggantikan emosi negatif menjadi positif secara langsung, melainkan emosi positif tersebut dihasilkan dengan cara merangkul emosi negatif yang ada. Emosi positif dari kasih sayang dan perasaan terhubung satu sama lain dirasakan bersamaan dengan perasaan kesedihan. Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang dengan self compassion cenderung memiliki kecerdasan emosi lebih tinggi. Data penelitian psikologi lainnya mendukung temuan tersebut dengan menyatakan bahwa orang-orang dengan self compassion memiliki kemampuan koping emosi lebih baik (Neff, 2011). Neff (2011) juga melakukan kajian tentang self compassion yang dihubungkan dengan kesejahteraan hidup. Self compassion yang tinggi membuat seseorang merasa aman dan nyaman sehingga meningkatkan kondisi kesehatan dan kesejahteraan hidup (well being), baik secara subjektif maupun psikologis. Selain itu self compassion juga berkorelasi positif secara signifikan dengan kepuasan hidup, penerimaan diri, penginterpretasian pengalaman hidup secara positif, dan kebahagiaan yang merupakan aspek-aspek dari variabel kesejahteraan hidup (Barnard & Curry, 2011). Penelitian ini sejalan dengan penelitian Leary et al., (2009) yang menemukan bukti terhadap 102 mahasiswa sebagai responden diminta untuk melihat video tentang diri mereka dalam adegan yang memalukan.
Mahasiswa yang memiliki self compassion yang tinggi, menunjukkan lebih sedikit emosi negatif dibandingkan dengan mahasiswa dengan level self compassion lebih rendah. Penelitian yang sama juga dilakukan pada 69 subjek pendeta nasrani, didapatkan hasil yang menyatakan bahwa self compassion berkorelasi negatif dengan kelelahan emosional dan evaluasi diri negatif. Hasil tersebut menunjukkan bahwa keberadaan self compassion sangat efektif dalam mengendalikan emosi-emosi negatif yang muncul dalam diri individu. Self compassion juga terasosiasi dengan besarnya inisiatif personal yang diperlukan untuk mengubah diri sendiri menjadi lebih baik. Di samping itu penelitian membuktikan bahwa individu dengan self compassion termotivasi untuk meraih prestasi yang lebih tinggi, tetapi bukan disebabkan oleh keinginan untuk meninggikan citra diri, melainkan lebih disebabkan oleh keinginan untuk memaksimalkan potensi diri dan kesejahteraan. Self compassion membuka kesadaran pada individu saat mengalami keadaan yang tidak diinginkan, sehingga individu mampu menerima dan tidak menghindar dari keadaan yang harus dihadapi. Self compassion juga meliputi pemahaman diri tanpa penilaian atas kegagalan atau ketidakmampuan diri sendiri. Pengalaman penderitaan dilihat sebagai bagian dari pengalaman manusia pada umumnya (Neff, 2003). Selanjutnya Neff (2011) menjelaskan beberapa manfaat yang diperoleh dengan adanya self compassion dalam diri individu. Self compassion menjadi media paling kuat untuk menghadapi situasi dan emosi yang menyulitkan sehingga individu terhindar dari emosi yang destruktif (Neff, 2011). Secara alamiah, informasi negatif menghasilkan sinyal bahaya pada otak sehingga secara otomatis akan menghasilkan respon fight-or-flight (bertahan atau melarikan diri). Di samping itu, Neff (2011) melakukan penelitian terhadap sejumlah subjek yang diberi pelatihan self compassion dengan mengukur perbedaan level kortisol (hormon stres) dan variabilitas detak jantung sebagai indikator kemampuan beradaptasi secara efektif terhadap stres. Subjek yang mendapatkan pelatihan self compassion, maka mengalami penurunan hormon kortisol mereka, dan meningkat variabilitas detak jantungnya.